"Tomorrow May Never Come"


...

" Terkadang,Manusia tak memperhatikan Jejak Langkahnya saat melalui suatu Jalan. Manusia  mengabaikan Jarum Jam yang berdetik sejalan Waktu. Manusia tak merasakan bagaimana Aliran nafas yang melalui Hidungnya setiap saat. Ini bisa saja menjadi Gambaran betapa Keras dan Apatisnya Hati Seorang Manusia,terkadang,mesti tidak semua.

Ini bukan tentang Kau menyiram bunga setiap hari dan suatu Saat Kau merasakan Bagaimana Wangi di setiap kuntumnya. Ini bukan tentang Kau meniupkan Udara dengan bibirmu kemudian datang Angin sejuk menerpa dirimu. 

Ini tentang Kau memberikan Sesuatu,sebagai ungkapan rasa hatimu karena satu perasaan,kemudian tak sekedar terbalaskan Oleh sebuah Kata Terima Kasih,Namun lebih dari itu,Perasaan yang terbalaskan.

Semua telah terjadi dan dijalani bersama,Perasaan yang sama menjadi pengikatnya. Namun,ketika Semuanya berubah,semuanya sirna sudah.

Hati bisa saja ibarat Bendera berkibar yang tak tentu arahnya Angin. Waktu memang berjalan pada satu arah,namun arah dan kemauan hati tak bisa ditebak.

Perubahan Perasaan menjadi bayang - bayang menakutkan bagai senja yang siap bersambung dengan gelapnya malam. Kegelapan dan Kesunyian bagai atmosfer seluas luasnya yang siap memeluk diri.

Cinta bagai diri kita sendiri,Bila Hati tak bisa ditetapkan arahnya,Bila Perasaan berubah tak seperti yang diharapkan,Mustahil rasanya membayangkan untuk bisa menghentikan waktu sejenak,atau bahkan memutar ulang.

Kemarin menjadi Kenangan,Hari ini menjadi Penentuan,dan Esok menjadi misteri...",

Ia menyudahi waktu renungannya sore ini,Ia menghapus air yang menggenangi matanya,sementara perasaan bergejolak mulai reda.Ia meletakkan satu bungkus kado di atas Ranjang.

Malam hari. Seseorang masuk ke kamarnya,Ibunya. Ibu melihat kado yang tergeletak di atas ranjang,sementara Ia termangu di jendela.

"Keva,kau tidak jadi memberi kado itu kepada Zian ?",

Keva berbalik dan menggeleng. Ia berusaha menyembunyikan wajah beratnya.

"Kenapa ?",

Keva mengajak ibunya duduk di atas ranjang. 
Ibunya tetap tenang,meski bertanya - tanya.

Keva tersenyum samar sejenak",sebelumnya aku ingin tanya sesuatu pada Ibu...",

"Apa itu ?",

"Apa yang ibu rasakan ketika Ibu menghadapi suatu perpisahan ?",

Ibu sudah tahu maksud Keva bertanya hal ini. Dan ini menyangkut keadaan Hubungan Keva dan Zian.

"Aku tahu apa yang terjadi denganmu,anakku. Tapi,baiklah,aku menjawab pertanyaanmu dulu.

Berpisah dengan suatu hal rasanya seperti berat dan tidak menyenangkan,karena merasa nyaman terbiasa dengan keadaan yang telah lengkap,namun suatu saat,aku harus kehilangan salah satu pelengkap hidupku. Aku selalu bertanya dalam hati,apa yang bisa aku lakukan jika aku telah tidak memiliki hal yang aku miliki sebelumnya,tentu akan terasa kurang.

Beradaptasi pada sekian lama waktu berjalan belum tentu mudah dilakukan,terlebih kau berpisah dengan hal yang kau benar benar sayangi dan cintai,
Semua orang berhak memiliki,namun Jangan sampai pada keadaan Posesif,karena berpengaruh pada hati dan egomu".

"Lalu,Bagaimana sikap Ibu jika menghadapi satu perpisahan atau bahkan kehilangan ?",
Ibu menggenggan tangan Keva.

"ketika seseorang bertanya padaku tentang sikapku menghadapi perpisahan inilah yang aku lakukan,berusaha mencari harapan untuk menepis perpisahan meski belum terlambat.
Kau perlu tahu,Keva,Anakku. 

Aku sangat berterima kasih dan bersyukur atas apa yang selalu aku terima,Kehidupan ini,Keadaan dan Nasib hidup ini,Keluarga ini,Kau dan Adik - adikku,orang - orang yang menyayangiku di luar sana,dan...",Ibu menghela Nafas,sejenak,Suasana menjadi Haru",...Ayahmu,tentunya,meski sekarang kamu tidak bisa bersama.

Aku menyayangi segalanya,aku mencintai semuanya,aku berusaha membuat nyaman dia,orang yang dengan siapa pun aku berada,Sebenarnya sederhana dan mudah dilakukan.

Aku selalu membangun rasa ikhlas dalam diriku,itu kunci utama untuk menghadapi segala keadaan. Begitu juga Sabar,Sabar adalah kaitannya mengendalikan waktu yang terkadang mengacaukanmu.

Setiap aku memberi apapun pada siapa saja,aku berusaha untuk ikhlas,tanpa mengharap imbalan dan balasan apa pun,kecuali sikap saling menghargai dan menyayangi. Kau juga tahu pastinya tentang Kasih Ibu,Hanya Memberi tak Harap kembali,begitulah aku membuat semuanya terjadi,

Salah satu contohnya ketika aku berpisah dengan Ayahmu,dan aku tahu ternyata ia telah berpindah pada lain hati. dia telah menerima apa yang aku berikan selama ini,Cinta,kasih sayang dan bahkan kebencian,tapi selama ini aku ikhlas melakukannya,dan selama ini,aku merasa apa yang aku berikan telah ia balas semuanya,

Namun,ketika aku berusaha memberikan lebih apa yang aku punya untuknya agar ia benar - benat tak meninggalkanku dan kalian,sayangnya terlambat,Hatinya telah diambil oleh orang lain",Mata itu mulai berkaca - kaca. Keva merangkul dan mengusap lengan ibunya",aku merasa Aku telah mendapat ketidak adilan,Sikap dan Usahaku tak terbalaskan,Sia - Sia,Keva.

Aku memang tidak pandai berbasa - basi dan membuat sandiwara yang mungkin memperburuk keadaan,Waktu mungkin akan terbuang dan yang paling buruk,kalian bisa ditelantarkan,aku tidak mau semua itu terjadi,
Kegagalanku jangan sampai memperburuk keadaan dan mempengaruhi Jiwa dan Mental kalian. Meski aku harus berusaha keras membangun kekuatan untuk Bersabar dan lebih Ikhlas.

Masalah hati yang terluka,aku abaikan,berlarut - larut dalam kesedihan tentu akan membuang -buang waktu dan tenaga. Kalianlah yang harus aku lebih perhatikan. Maka,Ayahmu aku lepaskan,meski tidak mudah dilakukan",Keduanya meneteskan Air mata",Terkadang hidup sangat kejam,itu memang menjadi bagian perjalan hidup kita. jadi,sekali lagi,aku harus ikhlas menerimanya...",

"Lalu,apa yang ibu lakukan ketika hari esok tiba ?",

"Aku tidak berharap Mukjizat atau keajaiban ada dan terjadi di hidup kita kemudian segalanya menjadi baik - baik saja,kembali seperti semula begitu saja,
Semua butuh waktu untuk memperbaikinya,mengabaikan keadaan yang tidak memungkinkan tidak setidaknya tidak 
akan memberi gangguan.

Ambil sisi positifnya,aku jadi bisa belajar untuk memberi kasih sayang yang lebih untuk kalian. Untuk lebih bersemangat membuat hidup baru bersama kalian,meski sempat tertatih - tatih,aku sadar akan suatu hal,yakni Manusia diciptakan untuk Tidak gampang bertekuk lutut pada keadaan.

Lakukan apa yang kau ingin lakukan,singkirkan hal yang mengganjal fikiran,kemarin mungkin kau sesalkan,hari ini kau yang tentukan,esok hari harus kau baik - baik rencanakan...",Ibu menghapus lelehan air mata di kedua pipi Keva.

Keva pun mengaku",Aku telah mendapat ketidak adilan seperti apa yang ibu rasakan dari Zian,Bu. Zian mengakhiri hubungan ini,dan kado itu,tak mampu mempertahankan Hati Zian",Keva menunduk dan kembali meneteskan Air mata.

"ibu tahu apa maksudmu mengajukan pertanyaan - pertanyaan itu barusan,dan ini yang terjadi ternyata...",

Keva mengangguk. Ibu memeluk Keva untuk menenangkan hati Keva.

"aku tahu Ibu juga menyayangi Zian,tapi aku takut kegagalanku ini membuatmu kecewa Bu",Keva mengangkat wajahnya. Keva mengutarakan kekhawatirannya.

Ibunya tersenyum,Hal terindah di hidup ini adalah Senyum tulus yang diberikan Ibu.

Tangan halus ini menghapus Air matanya dan menyibak wajahnya"Semua hal bisa terjadi,kau berpikir aku tidak akan ikhlas untuk kegagalanmu ini,aku merasa kecewa dengan hal ini,tidak,aku tidak ingin terlalu menaruh perhatian dan perasaanku pada suatu hal.

ibu tidak kecewa padamu Anakku,ibu akan kecewa jika kalian akan saling membenci dan tidak saling  menhargai dan menghormati setelah ini,aku tidak hal buruk sedikit pun terjadi di hidup kita,hidup putriku meski itu sedikit kebencian terhadap seseorang...",

Keva akhirnya merasa lega mendengar jawaban ini. Ia memeluk ibunya. Suasana haru ini kental terasa. Malam semakin larut. Keva menutup jendelanya. Ibunya telah banyak memberi 
nasihat dan hiburan.

***
Terjadi ketegangan di Kafe milik Ibu Jeni,Ibunya Keva siang ini. Ibu Jeni menghadapi Dua orang Pria dan Seorang Wanita. Orang - orang ini menawarkan kerja sama kepada Ibu Jeni.

Setelah melewati Beberapa topik pembicaraan,Sampailah pada Penawaran untuk Menjual Kafe ini kepada Pihak pengusaha ini. Alasan Sepi pengunjung Mereka berusaha membujuk Bu Jeni supaya mau menjual kafe ini.

Namun,Bu Jeni menolak Penawaran ini. Pihak Pengusaha pun mencari jalan lain untuk membujuk Bu Jeni. Sepi pengunjung,Suasana yang membosankan,Perabotan yang mulai ketinggalan jaman dan Prospek yang buruk kedepannya.

"Bagaimana pun saya tidak akan menjual tempat ini kepada siapa pun !...",Ibu Jeni bersikeras

"Tolong ibu pertimbangkan lagi penawaran kami ini,saya rasa sudah tidak ada harapan lagi untuk Anda dari Kafe ini...",Pria dengan tubuh tegap ini tak mau menyerah

"Maaf Ibu,saya tahu Ibu juga membutuhkan Dana untuk pengobatan Putri,jadi kami Mohon...",

Bu Jeni memotong Pembicaraan yang terkesan mengganggu ini dengan memukul meja cukup keras. Mereka terkesiap.

"Sudah saya katakan Saya tidak akan melakukan hal apa pun terhadap tempat,bagaimana pun keadaannya saya akan tetap menjaganya karena ini adalah kepercayaan keluarga saya",Tatapan Tajam Bu Jeni untuk setiap pasang mata orang yang ada di hadapannya,Mereka tampak Ciut Nyalinya",

Anda tidak perlu menyinggung privasi saya,Anda tidak berhak menentukan apa yang terjadi nantinya tentang tempat ini...",

Sementara itu,Seorang Pemuda masuk ke kafe ini,Ia melihat - lihat suasana kafe ini. Ada beberapa pengunjung yang berada di sini.

Ia melihat Bu Jeni mengusir orang - orang yang telah mengganggu harinya ini. Bu Jeni sangat marah. Ia ingin mendekati Bu Jeni,namun ia tahan sejenak niatnya,membiarkan Keadaan tegang ini mereda.

Ibu Jeni mempersilakan Pemuda ini duduk di hadapannya. Pemuda ini menanyakan Keva. dia adalah teman SMP Keva dulu. ketika menginjak kelas 2,dia diajak Pindah ke Luar Negeri. 

Pemuda ini teman Keva namun tidak begitu Akrab,dan ia pernah mengunjungi Kafe ini.
Rasa Penasaran dan ingatan tentang Keva mendorongnya untuk datang ke tempat ini,datang untuk menemui Keva.

Ibu Jeni memberi tahu bahwa Keva sedang dirawart di rumah sakit.Keva menderita Penyakit Hati. Ibu Jeni tampak sedih dan terbebani selama menjelaskan apa yang dialami oleh Keva.

Timbul rasa iba dan kasihan pada diri Pemuda ini. Ia pun meminta pada Ibu Jeni untuk bisa mengantarnya menjenguk Keva. Ibu Jeni menyanggupinya dan sedikit bahagia karena ada teman Keva yang masih mengingatnya.

***
Hari mulai beranjak siang. Keva akhirnya terbangun dari tidurnya. Ia masih merasa lemah. Membuka Matanya,sudah tampak satu Vas bunga beserta beberapa tangkai di dalamnya.

Ibu Jeni memergoki Keva bangun. Kemudian Ia masuk bersama Pemuda yang datang kemarin. Pemuda berbadan tegap,Wajah Bersih dan tampak jambang tipis di kedua sisi pipinya.
Wajah Pucat itu berusaha menyambut kedatangan tamu yang bersama ibunya. Keva menebak - nebak siapa dia,Seperti tak asing baginya.

Ibu Jeni memeriksa keadaan Keva. Ibu Jeni memperkenalkan Pemuda itu,teman SMP Keva.

"Hai,Kev. Gimana ?Udah mendingan ?",Senyum tegas dan menghadirkan kagum pada diri Keva.

"Sorry,kayaknya aku agak lupa siapa kamu,aku tahu kamu temen SMP aku,dulu kita pernah belajar kelompok sama - sama...",
Pemuda itu membuka tangan ke arah Keva"...Aku Hadid,Keva. masak kamu lupa ?",

"Oh iya,Hadid yang dulu pernah jatuh dari Pohon depan rumahku itu ya",
Pemuda itu,Hadid mengangguk. Keva menjabat tangan Hadid.

"aku udah mendingan,Did. Thanks ya udah jenguk aku,O ya ,kamu dulu kan pindah ke Luar Negeri ya ?",

"Iya,aku pindah ke Mumbai,India. udah berapa tahun ya,lama banget kayaknya...",

"trus sekarang ini kamu balik ke Indonesia lagi liburan ?",

"nggak Kev,Papa aku udah selesai tugas di sana,So kami kembali ke Indonesia...",

"Ooh,kamu pasti seneng ya punya pengalaman tinggal di luar negeri ?",

"ya,seneng sekali,banyak banget pengalamannya...",

Rona - rona Bahagia yang terpancar dari Wajah Keva membuat Ibu Jeni ikut merasakannya. Ibu Jeni melihat Keakraban dua anak Muda ini,Bu Jeni membiarkan Keva dan Hadid melepas rindu dahulu.

***
Setelah pulih dari Masa Opnamenya di Rumah Sakit,Keva kembali masuk kuliah lagi. Ia juga kembali membantu Ibunya mengelola Kafe milik Keluarganya.

Seperti pagi ini,Keva datang ke Kafenya dengan membawa Sarapan untuk Ibu dan teman Karyawan Kafe di situ. Namun,ada pemandangan lain pagi ini,Ia melihat Seorang laki - laki yang membersihkan meja,tentunya dia karyawan dari di Kafe ini.

Ibu Jeni belum memberi tahu Keva. Keva penasaran siapa dia. Keva terperanjat ketika Pemuda itu berbalik.

"Hadid ? Kamu ngapain di sini ?",

"Oh,hai Keva,Selamat pagi...aku kerja di sini ,kerja di Kafe kamu..",

"Apa ? kerja ?di kafe aku ?",

"Yaaah,boleh kan ?",

"Tapi,"Keva heran dengan hal ini,Hadid kerja di Kafe miliknya. Ia khawatir apakah nanti ibunya bisa memberi gaji yang layak buat Hadid,mengingat Keadaan Kafenya yang mengalami naik turun omzet.

"Kev,boleh kan ?",Tanya Hadid membuyarkan lamunan Keva.

"O ya,boleh boleh saja,silahkan...aku cari ibu aku dulu ya..",

"iya,Eh ibu kamu di dapur membuat pesanan kue",

"Oh ya,thanks Did",

Di dapur,Keva langsung bertanya pada Ibunya tentang Hadid. Ibunya menjelaskan cerita panjang lebar.

Bu Jeni menceritakan Keadaan Kafe ini setelah insiden Penawaran Penjualan Kafe ini. Melewati Proses yang alot,Bu Jeni bisa mempertahankan Kafe ini. Hadid berempati dengan keadaan ini,dan keadaan hidup Keluarga Bu Jeni selama Keva dirawat.

Akhirnya,Hadid punya inisiatif untuk membantu Bu Jeni. Hadid meminta Bu Jeni agar ia bisa bekerja di kafe ini sekaligus menerapkan ilmu menejemen yang selama ini Ia pelajari di Mumbai.

Awalnya,Ibu Jeni menolak karena Keberatan dan Khawatir masalah Gaji yang nantinya untuk Hadid. Apa cukup dan layak bagi Hadid atau tidak. Namun,Hadid tidak mempermasalahkan Gaji,Ia lebih mementingkan Bagaimana Ia bisa menerapkan ilmunya selama belajar dan hidup di luar negeri.

Sekaligus,Ia juga ingin belajar bersosialisasi dengan orang - orang negaranya sendiri. Keva pun akhirnya tahu semuanya dan merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.

Hadid tengah melihat suasana Kafe ini sekaligus merancang konsep renovasi. Keva datang membawa Kue yang ia bawa dari rumah.

Mereka duduk,Keva mempersilakan Hadid makan. Tak lupa,Ia membuatkan Teh. Keva memandangi Hadid makan. Ia tak menyangka akan ada orang baik hati yang menolong keluarga,terlebih dirinya.

Terlepas dari itu semua,Perhatian Keva mulai tertuju pada Hadis. Masalah Zian yang kemarin mulai ia lupakan.

"Eh,Kev...Ayo kamu juga makan,malah ngelamun sih,"

"Ooh ya,abis ngeliat kamu makan kayaknya enak,aku jadi seneng liatnya. di Mumbai nggak ada kue begini yah ?",

"Nggak ada ,tapi ada kue jenis lain,tapi ini enak juga,kamu beli di mana ?",

"Ah,aku bikin sendiri Did,semalam sama Ibu aku,"

"Lhoh,kamu bikin sendiri ?",

"Ya...",

"Wah,enak banget,Kev. sumpah ! ini kalo kita jual di sini bakalan laku,aku liat tadi kayakanya etalase kuenya kecil banget nanggung,trus nggak ada Spanduk ato apa yang jelasin kalo di sini jual kue...",

"Ya...ibu belum sempet bikin sih,"

"Ooh,tenang nanti aku bikinin,oke...kamu tenang aja...",

Keva tersenyum lebar dengan wajah cerah.

"Hadid...",

"Yah...",

"Kamu baik banget sih sama keluarga aku ?",

"Ya...soalnya ibu kamu juga baik banget. aku kasih tahu kamu ya,kemarin sebelum aku ke sini,aku ke rumah temen - temen yang lain,tapi sambutan mereka ke aku nggak sebaik ibu kamu,

Malahan mereka pikir aku ini orang nyasar,padahal aku udah bilang kalo aku temen anak mereka,eh malah ada yang bilang anaknya sudah ada yang lupa sama aku,gimana coba ?",
Keva tertawa.

"Oh jadi gitu...",

"Yah,Ngomong - ngomong kamu juga baik banget kok...",Kata kata ini sontak membuat sedikit desiran di Hati Keva",kamu nggak berubah sejak SMP...",

"Emh...",Keva enggan melepas senyumnya 
karena masih merasa tersanjung.

***
Hadid,di bantu Ibu Jeni dan Karyawan Kafe mulai tahap Renovasi Kafe. Sedikit demi sedikit,Perubahan dan Penataan ulang mengubah suasana Kafe menjadi lebih segar dan nyaman.

Keva juga tak tinggal diam,Ia juga membantu Hadid bekerja. Ia juga turut memberikan Ide untuk konsep Renovasi Kafe ini. Tentu saja,Hadid merasa senang dengan inisiatif Keva. Keduanya sudah tampak akrab.

Keva juga mulai mempromosikan Kafenya lewat media sosial online. Keva juga meminta tolong beberapa teman akrab untuk mempromosikan Kafenya lewat akun medis sosial masing - masing.

Sempat menilik perubahan Kafe milik Keva,Teman - teman Keva kagum pada perubahan yang diberikan. kesannya lebih adem,nyaman dan bisa membuat betah,makanan dan minuman juga ada perbaikan Rasa,kebersihan dan penyajian.

Namun,ada satu hal yang menyita perhatian teman - teman Cewek Keva ialah Hadid. Mereka penasaran pada sosok Hadid.

"Serius ? dia pindahan dari India ?pantesan anaknya agak kaku,kesannya diem aja,ternyata dia belum satu bulan di Indonesia...",

"Iya,Vio...yang lebih bikin aku kaget lagi pas dia mutusin buat kerja di kafe aku,soalnya di berempati sama keluarga aku",

"Kita tahu keadaan keluarga kamu,Kev. ibu kamu berjuang mati - matian kerja supaya kamu bisa kuliah...",

"Kalian emang sahabat yang baik banget,selalu ngertiin aku walaupun keadaan aku nggak seberuntung kalian...",

"siapa bilang kita ini beruntung,Keva sayang,aku kasi tahu kamu ya,aku kuliah ini juga disuruh janji sama papa aku,kudu dapet nilai IPK yang bagus trus nantinya dapet kerjaan yang mapan dan inilah itulah,trus nanti kalo aku gagal ayah aku bakal pindahin aku ke nenek aku supaya hidup aja di kampung....iyuh,aku nggak mau banget...",

"itu Si kamu Viona sayang,kalo aku sampe gagal sukses kuliah,mama aku bakalan paksa aku bantu - bantu kerja di warungnya,padahal mama aku berharap banget bisa punya masa depan lebih baik,sukur sukur jadi pegawai apa kek,yang jaul lebih baik jadi penjual Gado - gado...",seloroh Aini,

"Eh,tapi ngomong - ngomong ,Hadid kayaknya boleh juga,dia cakep juga tuh mukanya....ya nggak",Lisa mengangkat Alisnya,
Viona tahu maksud Lisa"Nggak kalah juga sama si Zian,beneran lho kali diliat - liat ",Ia menepuk tangan Keva halus.

"iih...apaan sih maksud kalian ?trus kalo Hadid cakepan mukanya,trus aku musti suka gitu ?",

"Siapa tahu aja ,Keva sayang ....lagian Zian kan udah tega ninggalin kamu,masak kamu nggak mau Move on dari dia ?",tambah Aini
Sakit hati yang kemarin muncul tiba - tiba,secara perlahan,Keva termenung memikirkan perkataan temannya. Semua tentang Hadid,Semua mulai tersita perhatiannya oleh Hadid,

Lisa menepuk Bahu Keva,membuyarkan Lamunan Keva"Eh,Keva...bener kan kalo kamu nanti bakalan suka sama Hadid ? ngaku aja deh...",

"Aah...apaan sih kalian semua ?",Keva berusaha mengelak,

"Ciyeeee....",Lisa,Viona,Arina membully Keva.

***
Hari demi Hari,Renovasi kafe yang dilakukan mulai memberikan hasil. Kafe mulai bertambah rame. Siang hari yang biasanya sepi pelanggan,sekarang mulai ramai.

Hadid mulai merasa kewalahan. Keva juga nggak mau melihat Hadid dan teman - teman kewalahan,Ia pun turun tangan menjadi Pelayan.

Hingga suatu ketika Keva mengantar pesanan pada satu meja yang berada di dekat Pintu Masuk,Ia tetap menunjukkan keramahannya. Ia melihat dua pasang pemuda di meja yang ia tuju.

Makanan dan Minuman telah dihidangkan. Namun tak sengaja,Keva melihat siapa Empunya pesanan ini,yang berada di sebelah kirinya,Zian. Keva sedikit terkejut melihat Zian duduk sangat mesra bersama seorang Cewek,Gisela.

Zian juga kaget setelah tahu ternyata yang melayaninya ialah Keva sendiri. Keva melihat Wajah Zian yang gagap. Jadi selama ini,Gisela mendekati dirinya,jadi temannya,bahkan bertanya banyak hal sekaligus berteman dengan Zian,ini maksudnya ?

Gisela diam - diam berniat ingin merebut Zian dan akhirnya ia pun berhasil mengambil Zian. Terjawab sudah semua pertanyaan dan kegundahannya selama ini terhadap perubahan sikap Zian dan perasaan Zian.

Mundur perlahan,Keva mulai merasakan kembali gejolak emosi dalam hatinya. Rasa sakit hati kembali menjadi - jadi. Ia tetap berusaha menguasai diri. Meski hati hancur tercabik - cabik.

Hadid memergoki apa yang terjadi dengan Keva ini. Keva tampak lain. Perubahan wajahnya yang menjadi berat dan tertekan. Ia bertanya - tanya,Ia abaikan sejenak dan melanjutkan bekerja.

Tiba di dapur,Keva datang dengan wajah yang sedih. Ibu Jeni bertanya - tanya dan mendekati putrinya. Ibu Jeni bertanya namun Keva tak menjawab.

Ibu Jeni mengajak Keva keluar. Mereka pergi menuju Taman yang bersebelahan dengan jembatan dan sungai. Keva mulai meneteskan air mata saat ia duduk di kursi panjang hitam ini. Ia membelakangi Ibunya.

" aku sudah merasa cukup dengan penyakit yang aku punya ini Ibu,aku sudah cukup menderita,meski tampaknya tidak. Namun,entah semua ini maksdunya apa ?,sesuatu apa di baliknya ? aku merasa ini tak cukup menggoyahkan hidupku yang bahagia,awalnya...

aku sudah menata segalanya,dalam diriku ibu...",Keva mengusap air matanya.
Ibu Jeni mengusap lengan Putrinya,ia mendengar keluhan putrinya.

"Hingga datang suatu saat seseorang membawa berbagai macam hal yang memberi hidupku bermacam Rasa,

Seseorang datang membuatku bahagia,di awalnya. Kemudian mengutarakan perasaan dan Janjinya untuk diriku dengan maksud membuat hidupku bahagia. Ya Janji dia bilang,tapi Janji itu adalah segala hal yang ia utarakan dari dalam lubuk hatinya yang berupa cerita karangan belaka.

Ibu tahu kan mana Janji mana cerita karangan? Semua orang bisa mengarang dan menjelaskan cerita,karena setelah semua berlalu tidak akan terjadi apa - apa,

Namun,Janji ? Janji adalah perbuatan seseorang 
untuk kita yang akan terjadi di kemudian hari,Janji ini adalah hal yang baik dan memberiku kebahagiaan,bahkan ibu menyaksikan sendiri dia berjanji apa ? aku bahagia ?",Keva menengadah,ia menggeleng",dan kenyataannya,Janji itu hanyalah sebatas Cerita,semua bohong belaka...",

"Sudah cukup Keva,"Ibu Jeni meminta untuk berhenti meratap",sudah cukup...ibu juga sudah tahu semuanya...",

"aku tidak akan merasa bisa cukup ibu,aku seperti ibuku sendiri bagaimana dia,mencintai siapa pun dengan ikhlas dan sepenuh hati,hanya memberi tak harap kembali,namun ketika setelah semua ini terjadi,bagiku perasaan susah untuk diajak kompromi....",

Sementara itu,Hadid telah menemukan keberadaan Keva dan Ibu Jeni. Ia mengamati keduanya dari kejauhan. Keva tampak terisak - isak meneteskan air mata. Ibu Jeni dengan wajah yang basah.

Rasa Empati Hadid pun muncul saat melihat 
kesedihan yang jelas tergambar di wajah Keva. Entah karena apa ia belum tahu,namun rasa ibanya selalu muncul begitu saja ketika ia menghadapi seseorang dalam kesedihan,termasuk Keva kali ini.

"Sudah cukup Keva,Anakku...tidak ada yang perlu disesalkan lagi...semua pasti akan berlalu...ibu tidak ingin kau down dan membuat kondisimu memburuk...ibu khawatir penyakitmu kambuh..",

Keva berbalik"Ya benar,apa yang kau katakan ibu,Ibu telah melewati sekian masa telah berlalu karena Ayah,namun sekarang aku,untuk berapa lama waktu berlalu bagiku ?

Kebohongan terjadi dalam sekejap waktu,mungkin telah terjadi dari kemarin,Hari ini bahkan Esok seandainya aku tidak tahu.
aku sempat berpikir Tuhan itu tidak Adil,tapi tidak,justru Tuhan sangat menyayangiku dengan menunjukkan sosok sebenernya Zian,Tuhan sangat memelihara perasaanku, terluka untuk sekian lama waktu mungkin tidak akan apa - apa. itulah yang terjadi ternyata.

Namun,yang aku sayangkan adalah Ketidak adilan itu sendiri,Kebohongan itu menjadi salah satu bentuk ketidak adilan...",Keva langsung memecah tangisnya,Ibu Jeni memeluk putrinya.

Dari Kejauhan,Hadid merasa Iba melihat Keva. Ia tidak ingin merusak suasana yang pribadi ini. ia pun kembali ke Kafe.

***
Setelah kejadian kemarian seminggu yang lalu di kafe,Keva yang akhirnya tahu ternyata Zian memutuskan hubungan hanya untuk cewek lain,Keva ingat apa yang di katakan teman - temannya dulu.

Tentang Hadid dan dirinya yang suatu saat bisa punya rasa suka. sebenarnya bukan hendak memaksakan diri dan perasaan,hanya Keva ingin mencari tahu dahulu bagaimana sosok Hadid sebenarnya.

Setiap hari bertemu dan berinteraksi di kafe tak membuat Keva sulit untuk mendalami kepribadian Hadid. Kesan pertama seorang Hadid adalah Seorang yang baik dan gampang menaruh rasa kasihan dan iba.

Walaupun sudah berapa tahun di negeri orang,karakter khas Orang indonesia dalam diri Hadid tetap ada,Ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja.

"Jangan melihat seseorang itu dari luar atau penampilannya saja,jika ada ketertarikan maka dekatilah dan kenalilah dia sebenarnya dan pribadinya...",itulah Prinsip Keva

Angin bisa saja mengubah arah kibaran Bendera begitu saja. Namun,Hati Keva tidak begitu jadinya,perlahan tapi pasti,dia tak ingin terlalu memaksakan diri,agar tidak terlalu kontras terlihat oleh Hadid.

Suatu ketika setelah bekunjung Perpustakaan kota,Keva dan Lisa membicarakan Hadid dan perasaan Keva.

"udah aku bilang kan ?gini gininya apa ? akhirnya kamu punya rasa juga sama dia...",Lisa menepuk lengan Keva

"aku belom sampai pada rasa suka,beib. cuma aku masih PDKT aja,Hadid orangnya nggak jaim nggak ngrasa aneh juga kalo aku merhatiin dia,kasih apa ke dia...",

"Yeee...harusnya kamu tuh sekalian suka aja,berusaha kasih kode ke dia,siapa aja dia anaknya peka...",

"mauku juga gitu tapi aku masih ragu kalo dia juga bener bener jomblo kayak aku,nanti k4alo sampe ku jadian sama Hadid eh tahu tahu nanti ada ceweknya dateng ke Hadid,trus kesannya aku ngrebut si Hadid,kan kesannya aku ini tukang bikin Kacau ?",

"iya bener juga sih,tapi nggak ada salahnya kan kalo kamu lebih dikit lagi,lebih kepo soal kehidupan dia ?",

"Yaa...aku cuma mau kasih satu hal yang aku suka dari Hadid ",

"Apa itu ?",

"Sikap dia pas ngomong sama cewek,sikap dia pas dia bikin apa sama kita,kayak dia bilang Maaf ato sorry pas dia pernah beneran rambutan di dahi aku yang agak berantakan...",

"Ouh so sweet,keva...ya nggak ?",

"Ya...so sweet...",

Sampai di rumah jam setengah delapan malam,Waktu makan malam tiba. Keva langsung menuju ruang makan.

Di situ Ia melihat pemandangan lain dengan seseorang lain bersama ibu dan kedua adiknya,Hadid. Hadid ikut makan malam di rumahnya. Hadid memenuhi undangan makan malam dari Ibu Jeni.

Ibu Jeni masi dengan wajah bahagia menyambut kedatangan Keva. Keva tampak heran. Ibu Jeni mendudukkan Keva di kursi yang berseberangan dengan Hadid. Hadid menyapa dan mengajak Keva ngobrol.

Ibu Jeni menjelaskan perihal ajakan malam untuk Hadid ke rumahnya. Keva merasa segan dan malu - malu. Ibu Jeni menyiapkan semua masakan ini,termasuk masakan kesukaan Keva.

Hadid menikmati makan malam ini. selama makan,Ia selalu melihat wajah Keva. Yah,siapa lagi yang pantas ia pandang wajahnya di keluarga ini kalau bukan Keva.

Semakin Hari Semakin Akrab. Hadid sudah tidak tampak canggung lagi bergaul dengan Keva. Ibu Jeni mengajak Kedua adiknya untuk kembali ke kamar saat mereka sudah selesai makan.

Hanya tertinggal Hadid dan Keva. Ketika sampai di ruang tamu,Ibu Jeni mengajak Kedua adik Keva untuk mengintip Hadid dan Keva. Ibu Jeni tersenyum bahagia karena ia melihat Hadid dan Keva tampak sangat cocok,jika menjadi satu pasangan. Namun,ia belum berharap jika Hadid dan Keva bisa saling berjodoh.

Hadid tampak canggung saat hanya berduaan bersama Keva. Begitu pun Keva. Untuk mencairkan suasana,Hadid membuat candaan - candaan dari aktifitas seharian ini di kafe. Suasana menjadi tak begitu tegang.

***



Keva hendak pergi ke rumah Hadid untuk memenuhi acara ulang tahun Hadid,Sore ini. Meski Cuaca mendung,seakan - akan hujan akan segera pecah,Keva tetap pergi. Demi Hadid dan sesuatu yang telah ada di dalam hatinya,satu perasaan.

Hujan pecah saat Keva telah sampai di pintu pagar rumah Hadid. Ia bergegas masuk. Dan Hadid sendiri lah yang menyambutnya. Ruangan tamu dan keluarga hampir sesak orang. Suasana tercipta sangat meriah.

Keva bertemu dengan kedua orang tua Hadid. Keramahan Hadid berasal dari Orang tuanya yang ramah pula. Ibu Hadid menyambut Keva.
Rangkaian Acara ini dimulai. Keva menyaksikan Ekspresi paling bahagia di wajah Hadid. Ada yang sedikit membuat Keva iri ketika Ayah dan Ibu Hadid mendapat suapan potongan kue dan pelukan sayang dari Anaknya.

Namun,ada sesuatu yang tak tertahankan pada diri Keva,semenjak Keva mulai mendekati Hadid,Ya...tentang Perasaannya. Sepertinya Momen kali ini pas bagi Keva untuk mengungkapkan perasaannya. Tak Lupa Kado yang ia bawa,mungkin akan mempermanis saatnya.

Saatnya Keva menyerahkan Kado untuk Hadid. Beruntung ia bisa agak menyendiri bersama Hadid. Entah mengapa suasana menjadi kembali canggung dan gugup. Sementara Hujan di luar semakin deras.

Hadid merasa penasaran apa yang ingin disampaikan Keva. Kado sudah ia terima,namun Keva masih tampak gagap. Tak sengaja,tatapan Keva tertuju pada barisan figura foto yang ada di samping meja itu. Keva melihat satu foto,di situ ada Hadid sedang merangkul Seorang Cewek,tampak mesra.

Keva bertanya siapa cewek yang ada di foto Hadid itu,Hadid menjawab itu adalah Pacarnya. Seketika Keva pun terkejut,ia tidak menyangka,ternyata. Hadid terkesiap ingat sesuatu. Hadid menjelaskan cewek itu adalah Anya,pacarnya yang sudah lama menanti kedatangannya,selama ini keduanya menjalin hubungan jarak jauh.

Anya tak berada di kota ini,dia sedang berada di tempat lain karena urusan pekerjaan. Keva serasa tak percaya,Matanya tiba tiba tergenang air mata. Hadid menceritakan Perjalanan Hubungannya dengan Anya. Hadid menyaksikan Reaksi Keva selama ia bercerita.

Keva tampak lain,Keva tampak khawatir. Selesai bercerita,Keva berpamitan. Seakan - akan menahan tangis yang ingin pecah,Keva tak bisa berkata - kata.

"aku pamit dulu, Hadid. Semoga kalian ke depannya baik - baik saja...",Tangan Keva gemetar hendak mengusap Pipi Hadid",Bye...",Keva berbalik sambil menghela nafas untuk membangun sedikit kekuatan dalam jiwanya.

Hujan kembali pecah,Sama seperti tangis Keva yang pecah di Pintu Pagar Rumah Hadid. Ia menangis di situ sejenak,kemudian ia bertolak ke suatu tempat.

"Hujan bukan bermaksud turut menghancurkan hatimu dengan apa yang telah kau saksikan sendiri. Waktu tak bisa dihentikan sejenak hanya untuk menghentikan apa yang telah kau dengar.

Pagar ini tetap meyakinkanmu bahwa ia bisa menopang dirimu yang selalu dirundung kesedihan,kapan pun. Aliran sungai itu dengan berjuta riaknya karena air hujan siap menerima tetesan air mata entah seberapa banyaknya.

Jembatan sepanjang itu tetap kokoh berdiri seakan - akan mengajarkan bagaimana caranya menjaga kekuatan jiwa dan menjadi tolak ukur seberapa panjang kau mengulur kesabaran.

Patah hati,Harapan yang pupus,dan Kesedihan lain yang datang menjelma bagai gemuruh yang mengacaukan,badai siap meluluh lantahkan.
Kemarin kau berkompromi,Kemudian kau memutuskan untuk mengambil tindakan. Kau bangun perasaan walau sedikit memaksakan. 

Sebenarnya luka kemarin belum sembuh,namun semua bertambah perih ketika kau kembali patah hati.

Mungkin salah langkah atau terlalu berharap. Perasaan mungkin bisa dipermainkan namun cinta tetap tidak dipaksakan. Hati menjadi taruhan. Khayalan jangan kau jadikan layaknya Tuhan. Kau meminta dan memohon sesuatu sebagaimana kau harapkan harus terkabulkan.

Justru Kau harus kembali pada Tuhan ketika segala sesuatunya ternyata tidak seperti yang kau harapkan. Kemarin Kau patah dan berkompromi dengan perasaan,Sekarang Kau mendapat Kegagalan karena sebuah sebab,Besok ? Tantangannya adalah seberapa cepat bisa kau mengembalikan keadaan seperti semula...",Keva meluapkan kesedihannya di Pagar pinggir sungai ini. Hujan enggan mereda dan mengiringi jalannya gejolak kesedihan Hati Keva.

Pupus Harapan,Surut perasaan dan kembali Sakit hati tak tertahankan. Kemarin dia berharap,Sekarang ia menghadapi kenyataan,dan besok Hari - hari yang membahagiakan mungkin tak akan lagi datang. Andai saja,Hari Esok yang indah mungkin tidak akan pernah datang.

Hidupmu bukan hendak diakhirkan,namun ketetapan Tuhan menjadi misteri yang tidak terjangkau pikiran.

 ***

Kembali bekerja,kembali pada suasana Kafe. Ada perubahan yang dirasakan,terutama pada diri Keva. Sikap Keva drastis berubah,terutama pada Hadid. Sikapnya dingin dan kurang bergairah.

Bahkan terkesan Acuh,tampak menyimpan amarah atau kekecewaan. Hadid tak ingin mengganggu Keva dengan keadaannya. Namun,ada pandangan lain ketika Ia menatap diri Keva. Hadid merada ada dilema namun entah karena apa.

Suatu ketika,terjadi Insiden antara salah satu karyawan Kafe dengan satu pelanggan. Hadid berusaha menguasai keadaan. Namun,Hadid gagal dan malah tak bisa menahan amarah hingga bertengkar dengan pelanggan tersebut.

Ibu Jeni dan Keva menyaksikan insiden ini. Hanya karena salah pelayanan pelanggan tersebut mengancam akan membawa ke pihak berwenang. Ibu Jeni turun tangan dan akhirnya semua bisa terselesaikan.

Ibu Jeni terlanjur malu hati karena banyak orang mengabadikan insiden ini dengan kameranya. Mereka merekam kejadian dan pasti menggunggahnya ke media sosial.

Sebenarnya Ibu Jeni bisa memaklumi kejadian 
ini,dan memaafkan Hadid dan temannya. Namun sayangnya,Hadid terpaksa menerima surat pemecatannya dari Ibu Jeni. itu pun karena desakan dari Keva.

Pemecatan Hadid menjadi salah satu bentuk kekecewaan atas Patah Hatinya Keva. Keva kembali Dilema ketika Hadid berjalan dan tertunduk lesu keluar dari Kafenya. Apakah ini satu bentuk sebuah Balas Dendam? namun untuk kesalahan yang mana pantas ia luapkan ?
Malam hari,tangis itu belum terhenti, air mata itu masih menggenanhi kedua matanya. Tatapannya hanya tertuju langit malam yang kosong seluas - luasnya. 

Ibu Jeni masuk,Keva menyadari kehadiran ibunya. Ibu Jeni menatap Mata putrinya lama. Ibu Jeni juga tenggelam dalam Dilema. Tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Ia menyayangi Anaknya namun Ia tak bisa memaafkan dirinya karena telah memecat pemuda yang telah berjasa padanya dan memberikan Kebaikan padanya.

Ibu Jeni tak perlu lama - lama melihat Keva. Ia berbalik,namun Keva hendak menahan Ibunya.

"Aku harap kau puas melihat aku telah melakukan yang kau inginkan...",Ibu Jeni enggan menatap Keva,bahkan ia merasa ada terselip kekecewaan.

"Tapi,Bu...ibu masih menyayangiku kan ?",

"Ibu sangat menyayangimu bahkan kalian. Jangan membagi Badai pada siapa dia yang sekiranya ia tidak bisa menerimanya..",

"Tapi Hadid...dia Bu...",
Ibu Jeni berbalik,tatapannya sangat kuat.

"Jangan memaksa perasaan,Jangan memperburuk keadaan,aku tahu semuanya Keva. kau bahkan tidak pantas melakukan semua ini pada Hadid.

Apa kau bisa bayangkan bagaimana hidup kita esok harinya ? Kafe,sumber penghidupan kita menjadi taruhannya,kau pasti memikirkan segalanya...",

Keva terisak - isak,tak bisa berkata - kata. Ibu Jeni meninggalkan Keva dan kembali ke kamarnya untuk menenangkan dirinya.

***

Kini,setiap detik yang dilalui pasti ada sebagian penyesalan di dalamnya,bukan hendak larut dalam kesedihan,namun Merenung dan berpikir atas kesalahan yang telah dilakukan.

Kekecewaan Ibunya dan,mungkin,kesedihan Hadid yang ,Hadid tidak tahu ia telah menjadi salah satu bagian pelampiasan Amarah Keva. Jangan Mempermainkan Perasaan,Apalagi sampai mengacaukan pikiran.
....

Fakta baru telah terungkap,Fakta tentang siapa sebenarnya Anya,Seorang Cewek yang menjadi Pacar Hadid.

Satu waktu,Keva sedang duduk di Kasir. Datang tiga cewek yang akan membayar,Keva melihat mereka. Cewek yang di tengah Maju untuk membayar.

Keva merasa pernah melihat wajah ini,namun ia agak lupa di mana. Keva terus mengingat - ingat sambil melakukan transaksi pembayaran.
Ketika menyerahkan uang kembali,Keva bertanya.

"Terima Kasih,semoga menyenangkan....",

"Ya...sama - sama...",

"E...Maaf,Hai,kalo boleh tahu Kamu Anya kan ?",tanya Keva agak merendahkan pandangannya.

"Iya benar. Ada apa ya ?",

"Oh ya...aku cuma ingin tanya saja,Ngomong - 
ngomong kamu sama Hadid baik - baik aja kan ?",

"Ya,kami baik - baik saja...",

"seneng pastinya bisa ketemuan sama Hadid lagi?Akhirnya ya...",Keva berusaha ramah untuk menutupi Rasa ingin tahunya.

"Ya...seneng banget.."Anya merasa aneh menanggapi Keva ini",secara udah lama nggak ketemu,aku sayang banget sama dia,Karena dia kakak aku yang paling baik...",

Keva terkejut mendengar Anya menyebut Hadid sebagai Kakaknya.

"Kakak ?lhoh,kok kamu bilang Hadid itu kakak kamu,bukannya kamu pacarnya ?",

Anya dan teman - teman malah heran sekaligus heran. 

"Beib,sayang,kita udah lama nggak ketemu kan,tapi sekali ketemu kok kamu jadi orang aneh gini ?",sela Tania yang berada di kanan belakang Anya.

"iih...apaan sih?",

"Yee !kamu tuh ya udah punya pacar juga,masak mau suka sama kakak sepupu sendiri ?gimana sih ?",

"Gila apa ?! nggak mungkin lah,kualat nanti tahu ?",

Keva semakin tak menyangka ketika Tania mengungkapkan bahwa Hadid ternyata adalah Kakak Sepupu Anya.

"Ooh maafin aku ya,jadi nggak enak nih,aku kira kamu pacarnya Hadid,Maaf banget ya...",

"Lhoh,siapa yang bilang ke kamu kalo aku ini Pacarnya Kak Hadid ? gila bener itu siapa orangnya ",Anya sewot,

"Hadid sendiri yang bilang kok. Kakak kamu kan baru dateng dari India kan ? nah trus kerja di sini beberapa bulan trus berhenti...",

"Oh gitu...dia nggak cerita ke aku kalo dia udah kerja di sini..",

"Oh begitu,trus ceritanya ,dulu Hadid kan ulang tahun aku ke rumahnya buat ikutan acara,sempet ngobrol sama dia,eh nggak sengaja liat foto,ada kamu sama Hadid.

Nah,aku tanya itu siapa,kamu siapa,Hadid bilang kamu ini pacarnya,trus dia cerita soal hubungan kamu sama Hadid yang pacaran LDRan...",

"Wah ! si Kakak ini nggak bener emang,ngaco banget,ngaco parah...Kak,aku ini adik sepupunya Kak Hadid,papa kita itu kakak Hadid ya,dan itu foto pas Papa ajak aku sekeluarga jenguk kak Hadid di Mumbai,trus sama  Nenek yang tinggal sama Om,papanya kak Hadid di pajang di situ...ini kenapa ceritanya gini..",

"tapi,Anya,maaf ya sebelumnya,kalo aku nanyain semua ini ke kamu,kamu sampe tersinggung ini...",

"Ah,nggak apa - apa,kak. aku pulang ke sini juga beberapa bulan sekali kok,Kak Hadid pasti cerita kan kalo aku kerja,nah sekarang ini aku sama teman - teman lagi jalan baran,kumpul - kumpul gitu. Nanti Kak Hadid bakal aku kasih pelajaran,bikin salah paham aja...",

"Oh iya...Makasih ya udah datang ke sini...Terima Kasih lagi ya...",Keva mengangguk,namun Batinnya mulai penuh gejolak.

"Sama - sama Kak,Bye...",

Anya dan teman - teman meninggalkan Keva. Keva jadi salah tingkah dan Benar - benar bingung. Apa maksud semua ini ? Apa maksud Hadid melakukan semua ini ?

Keadaan terasa kembali Kacau. Keva mulai tertekan,perasaannya campur aduk,pikiran mulai kacau dan kalut.

Pulang ke Rumah,Ia sempat membanting pintu kamarnya,kemudian bersandar. Air mata sebagai tanda ungkapan emosi. Dadanya terasa sesak. Tubuh mulai kehilangan daya. Ia berangsur bersimpuh di lantai.

ia melempar tasnya. Menangis,tindakan apa lagi yang bisa dilakukan ? Tetes Air mata itu mulai jatuh di lantai. Matanya mencari sesuatu. 
Dinding sebelah kanannya ada di figura yang terpasang. Keva merangkak ke ujung ranjang.

Ia mengangkat wajahnya. Wajah seluruhnya basah,Batin merasa sakit yang lebih parah. Ada dua foto Cowok di hadapannya. Zian dan Hadid,satu kesan yang tergabung bagai menjelma Badai menghantam dirinya.
Tatapan yang mulai melemah menatap foto keduanya.

"Jika kalian hanya ingin mengganggu dan merusak hidupku,maka lebih baik bunuh aku saja,lebih baik aku pergi bersama rasa sakit penyakit yang aku derita...",Jerit Hati Keva mulai tak berdaya.

***
Sementara itu,Hadid berdiri di pinggir pagar pembatas sungai. Ia menyangga badannya dengan sikunya. Matanya memandang selebar sungai.

Ia mengingat kembali semua hal yang telah terjadi,semua tentang Keva dan keluarganya,terutama ibunya. Semua hal yang tidak di ketahui Keva.
....

"Keva sedang dirawat di rumah sakit. Keva menderita Penyakit Hati,Penyakitnya Parah dan penyakit itu bisa merenggut nyawanya.
dia baru saja putus dengan pacarnya,hal itu memperburuk keadaan Jiwa Keva,dan itu juga memberi pengaruh terhadap kesehatan Keva...",Waktu itu,Pertama kali Hadid bertemu dengan Ibu Jeni,

"Senang rasanya bisa melihatnya membaik,dia mulai sering tersenyum dan tertawa. Kemarin kita check up ke dokter,semua baik - baik saja,mungkin ini berkat dirimu juga...",Kata - kata Ibu Jeni yang membuatnya tersanjung,sebulan setelah pulang dari Rumah Sakit.
....

"Keva sudah tahu semua,akhirnya. aku juga tidak menyangka dan tahu siapa sebenarnya pemuda kemarin yang bersamanya,yang cintainya.

Ia benar - benar telah membuat Keva kecewa. Keva harus patah hati lagi,harus menghadapi kenyataan pahit. Sebagai Orang tuanya,aku hanya bisa sabar dan memakluminya.

Tapi,dibalik itu,aku sangat Khawatir Keva akan down dan kesehatannya terpengaruh. Namun,sepertinya tidak ? syukurlah,pasti ada sebabnya,mungkin dia telah kembali punya Sahabat,hingga ia tidak terlalu larut dalam kesedihannya. 

Kau telah menyelamatkan Keva",Wajah Haru Bu Jeni waktu itu akan tetap diingatnya,ketika Keva memergoki Zian telah menggandeng cewek lain sebagai pacarnya.
....

"Keva sedang ragu dan bingung dengan perasaannya,setiap malam dia selalu bercerita padaku. Kebahagaiaannya,Semangatnya,dan Kekhawatirannya tentang Perasaannya,terhadapmu.

aku tidak bermaksud untuk menghalangi Keva dan jujur aku merasa sama Khawatirnya sama seperti Keva,aku mengkhawatirkanmu. 

Namun,aku selalu menepis semua perasaan Keva itu,aku dan dia tidak tahu apakah kau sudah punya kekasih apa belum,
ada rasa sungkan dalam diriku ketika aku hendak mengutarakan ini,sebenarnya. 

Tapi,tidak ada salahnya,sebagai orang tua,jika seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan,aku bisa menengahi,meski mungkin saja hal ini terkesan lancang.

Kebahagiaan Keva adalah Hidupku seutuhnya,Hidupku dan Kasih sayangku untuknya adalah Nafas untuk hidupnya selamanya. Tapi,sejujurnya,aku menyayangimu juga,

Terima Kasih untuk semua yang telah kau berikan,Mungkin Malaikat telah mengantarmu untuk mengubah kehidupan kami,dan Tuhan senantiasa memelihara Kami",kata - kata dengan penuh rasa Haru ini benar - benar tidak akan terlupakan oleh Hadid.
....

Malam Hari dengan Hujan deras Waktu itu,Malam saat Hari Ulang Tahunnya,Ia menelpon Ibu Jeni ,Ia menjelaskan Semuanya dan Meminta Maaf.

"Maafkan,saya ibu. Sekali lagi Maafkan saya,saya merasa diri saya belum siap untuk Keva. Saya ingin Keva memastikan bahwa dirinya telah benar - benar baik - baik saja. Keva terkesan tergesa - gesa sepertinya ibu,saya merasa tidak nyaman, sekali lagi saya mohon Maaf...",

"Tidak apa - apa Hadid,ibu akan menanganinya,Keva akan baik - baik saja. Selamat Berbahagia Hadid,Semoga Panjang Umur ya...",

Sebenarnya tersisa rasa khawatir dalam Hatinya,namun jauh di dalam Hatinya,ada satu rasa yang telah ada tapi Hadid tidak bisa bohong pada dirinya,Rasa untuk Keva.
...

Satu hal yang paling tidak tega ia lihat adalah Tangisan Seorang Ibu. Ya,Tangisan Seoran Ibu,Ibu Jeni yang datang ke rumahnya untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya.

"aku tidak akan melupakan ini seumur hidupku. dan,ini akan menjadi salah satu kesalahan terbesarku,kesalahan terbesarku. mungkin kau mengira Keva pasti akan kecewa dan Sedih setelah kau berkata tentang hal kemarin,ya itu memang terjadi,dan Keva benar - benar sangat kecewa.

Hingga dia memaksaku untuk memberhentikanmu Kerja...",Tangis Ibu Jeni yang menunduk dengan penuh rasa malu",kekecewaan Keva ia lampiaskan dengan memaksaku untuk memecatmu dari Kafe,sekali lagi Hadid,tolong Maafkan Ibu,aku benar - benar minta maaf,aku tidak menyangka bahwa Keva akan setega ini...",

Hadid merasa Sedikit terkejut,karena ia sudah mengira suatu saat ia akan menerima konsekuensi dari tindakannya,dan nyatanya Keva ternyata memaksa ibunya untuk memecat dirinya.

Tapi,Hadid seorang yang berbesar hati dan bisa memaklumi.

"tidak apa - apa,Ibu. mungkin ini sudah menjadi konsekuensiku atas sikapku kemarin,aku tahu Keva seorang yang penyayang dan mencintai siapa pun setulus hati,namun kemarin itu adalah kecerobohanku. aku sungguh tidak mengerti perasaan Keva,aku juga sudah tega berpura - pura. Ibu,Maafkan diriku juga...",

Ibu Jeni dan Hadid saling memaafkan...

Ia mengedipkan matanya. Dilema dan menyesal. Matanya basah ketika Pelupuk Matanya menyuguhkan pemandangan Keva yang sedih dan menangis ketika kembali mengalami Patah Hati bahkan kemungkinan terburuk sekali pun,Keva kembali jatuh sakit.

Ia harus memperbaiki semuanya. Ia juga perlu menebus perasaan bersalah. dan,untuk perasaan jauh di lubuk hati,mulai tumbuh bersama rasa iba dan keberanian yang dibangun. Semua untuk Keva,hidup Keva. tak luput juga Ibu Jeni,Sosok Wanita yang baik hati selain ibu kandungnya.

Ia menghela Nafas perlahan dan mengedipkan matanya. Ia percaya ia bisa. semua akan baik - baik saja. Tiba - tiba Handphonenya berdering. Ibu Jeni memanggil.

Hadid menjawab panggilan. Ia terkesiap ketika mendengar Keva jatuh sakit. Ibu Jeni menangis selama bicara. Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk Keva. Penyakitnya semakin parah. 


***

Karena Biaya dan Masalah Keuangan memaksa Keva tidak bisa dirawat lebih lama lagi di rumah sakit. Ibu Jeni memilih untuk rawat jalan saja meski keadaan terpaksa. 

Salah satu penyesalan dan Kesedihan merupakan salah satu kelemahan Manusia. Terjadi pada Keva membuatnya enggan banyak berbicara. Keputus asaan menghantui pikirannya setiap hari,setiap detik. 

Kemarin,Hari ini selalu saja dihantui hingga membuatnya lemah dan selalu merenung terdiam,dan yang selalu ia pikirkan adalah Apakah Hari esok ,di saat setiap Matahari terbit Semua ini akan berakhir,mengakhiri hidupnya.

Wajah pucat dan Mata yang cekung. Jangan mengharapkan wajah ceria dari seorang Keva,yang hanya ada wajah datar merana karena putus asa. Setiap hari ia hanya bisa duduk dan terdiam di kamarnya saja. 

Menghitung hari dan menanti tiba saatnya.
Sudah terhitung berapa kali menangis dan meratap Ibu Jeni saat melihat keadaan Keva. Ketakutan akan kehilangan Putrunya memberatkan hidupnya. berkali - kali ia mencoba sabar dan berusaha kuat. 

Adakalanya Jiwa kuat dan mantap bagai batu karang. Adakalanya Jiwa lemah dan tak berdaya bagai ilalang layu tertiap angin tak terarah. Tapi,Ibu Jeni selalu berusaha menguasai keadaan.
...

Hadid belum punya waktu untuk menengok Keva. Ibu Jeni masih menunggu kedatangannya. dan,Keva tetap tidak bisa apa - apa.

Suatu ketika,Keva meminta adik perempuannya menemaninya ke tempat yang selalu memberinya kedamaian. Taman di dekat jembatan dan pinggir sungai. 

Tatapan Mata Keva kosong selama perjalanan. Meski sesekali ia masih berharap hadirnya Hadid. Namun,ia rasa mustahil. Perlahan Sienna,adik Keva mendudukkan Keva perlahan di kursi.

Pemandangan padat kota di seberang sungai dan lalu lintas kendaraan Jembatan. Keva duduk sebentar. Ia bangkit mendekati pagar pembatas. 

Aliran sungai tetap tenang setiap ia lihat.
Keva merasa ini mungkin kali terakhir kali melihat tempat ini,menikmati suasana tempat ini. Tanpa berbicara,Air mata menjejal kedua matanya. Perlahan jemarinya meraba besi pagar ini.

Mungkin besok atau selamanya ia tidak akan melihat tempat ini lagi. dan dirinya akan menjadi kenangan. tempat ini akan menjadi saksi sejarah.
di sisi lain..

Hadid tiba di taman yang sama. Ia ingin beristirahat sejenak sebelum lanjut ke rumah Keva. Ia kembali merenung di dalam hatinya. 

Aliran sungai yang tenang ini pasti tidak mengetahui. Kesedihan mengalir masih belum menemukan Muara.

Ia menebarkan pandangan. Tak sengaja,ia melihat seseorang di ujung pagar sebelah kirinya. Ia seakan tak percaya melihat siapa dia.
Sebuah kebetulan di tempat yang sama,tidak disangka. Perlahan Hadid mendekatinya.

Keva tak mencegah air matanya seberapa pun keluar,ini mungkin kali terakhir ia meneteskan air matanya. sesekali ia mengusapnya.

Namun,ketika Ia hendak memutar badan,ia mendapati seseorang telah mendekatinya,Hadid. Bagai Terjadinya Mukjizat,Do'a dan harapan hati yang terkabulkan.

Hadid semakin mendekat,Namun Keva tak akan menyia - nyiakan saat. Dengan tertatih - tatih Ia juga mendekat. Keduanya akhirnya saling berhadapan.

Dengan pandangan bergetar,Keva melihat Hadid dari bawah hingga atas. Mereka saling menatap,Suasan Haru mulai terasa. Senyuman untuk Keva dari Hadid ini meluluhkan segalanya yang ada pada di Batin Keva.

Hadid membuka kedua tangannya,Keva tahu maksudnya,ia pun semakin mendekat. Perlahan Tangannya mengusap lengan. Bibirnya seakan berkata - kata namun tidak bisa, air matalah yang bisa menjelaskan semunya. Hadid benar - benar merasakan apa yang Keva inginkan.

Hadid telah menemukan Muara perasaannya. Dengan pelukan,Ia pun menyampaikan perasaan. Hadid memeluk Keva sebagai tanda telah saling terhubungnya perasaan.

Keva memecah tangis dengan beragam arti di pelukan Hadid. Hadid tenggelam dalam haru yang membiru. Ia mengusap Air Mata Keva. 

"Biarkan aku hidup menjadi bagian dalam Hidupmu...",rangkaian kata ini menjadi Nafas dan Harapan yang akan memberi kehidupan baru bagi Keva untuk Hari esok dan di masa depan. 

Keva mengangguk dan kembali memeluk Hadid. Angin sore menerpa halus dua anak manusia yang disatukan dalam Cinta. Haru bersatu dengan syahdu. 

Bahagia akan tetap hidup dalam Kalbu. Cinta akan terpelihara selamanya.
Hadid menuntun Keva kembali ke Adiknya. Dan,bersatunya mereka menjadi Karunia terindah bagi Ibu Jeni di rumah. 

Esok,hari ini,dan Besok akan tetap hidup,
with whole Love
Tomorrow May Never Come


Dunia Di Kala Fajar
Fajar Adi,


















Komentar

  1. Bagus banget tulisanya. .
    Butuh berapa waktu kak untuk buat tulisan kek gini. .

    BalasHapus
  2. Salaam Untuk Pembaca yang Budiman,
    Saya merasa senang mendapat Pujian yang Anda sampaikan. Terima Kasih,Pujian ini sangat berarti bagi Saya.

    Kisah TMNC ini dibuat sekitar tahun 2017 - 2018 waktu saya masih di Perantuan dan,Maaf Kalau tidak salah,untuk kisah ini saya buat dalam waktu kurang lebih 1 bulan atau 3 bulan,dan Penggarapan langsung saya ketik lewat Hp,

    ( Tidak seperti kisah - kisah Salaam E Dostana 2 yang saya tulis dulu di Buku tulis kemudian saya inputkan di Hp )

    Sekali lagi,Terima Kasih atas Pujian Anda. Semoga Hari Anda Menyenangkan. Dan Masih ada Kisah lain yang menarik. Terima Kasih atensi Anda di Dunia Di Kala Fajar.

    Sincerely,
    Fajar Adi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer