Salaam - E - Dostana Bab 4 ( Remake Bag. 1 )
Di suatu sore,Indra membuka lemari pakaiannya. Ia mengambil satu kotak kayu berwarna Coklat tua. Ia mengeluarkannya dan menaruh kotak itu di meja belajar.
Ia membuka gembok kecil sebagai Pengunci kotak ini. Kotak ini digunakan Indra sebagai tempat menyimpan uang tabungan dari sisa uang saku yang diberikan oleh Ibunya setiap hari.
Indra rajin menabung sisa uang sakunya. Terkadang Uang yang terkumpul Ia gunakan untuk membeli Barang keperluan sekolah,alat tulis,Perlengkapan sekolah,bahkan Ia pernah membeli Jaket untuk dirinya pergi ke sekolah.
Indra menata lembar demi lembar uang yang telah ia kumpulkan. Setelah Merasa cukup,Indra menyimpan kembali kotak itu. Indra bergegas keluar rumah,menuju suatu tempat.
Indra berlari menuju salah satu Distro yang berada di sebelah Pasar. Tak berapa lama kemudian,Ia kembali dari distro dengan membawa satu paper bag kecil,berisi sesuatu. Ia menyimpan paper bag itu di lemari.
Saat Malam hari,indra menemui Arjun di kamarnya. Ia mengendap - endap masuk ke kamar Adiknya.
Arjun sedang menata buku - buku yang Ia siapkan untuk belajar di bangku SMP besok. Lampu Meja belajar dengan cahaya kekuningannya. Tiba - tiba Indra mengejutkan Arjun.
“ DOR !!!”, Indra menepuk kedua bahu Arjun,
“ Ah Kakak ! Aku kaget”,
“ Ahaha ! Aku berhasil,Yes ! “, Indra melihat meja Arjun yang telah rapi,Ia bisa melihat arjun telah menyiapkan Segala barang untuk keperluan Pendaftaran masuk SMP besok pagi”, Wah ! ternyata semua sudah siap rupanya. Adikku masuk SMP. Adikku Masuk SMP”, Indra tampak girang,
“Sekolah yang kita tuju besok sekolah kakak juga,bukan ?”,
“ Ya benar ! Aku bahagia sekali kau bisa bersekolah di sekolahku “,
“ Kakak,apa Gurunya galak - galak di sana ?”,
“ Apa yang kau bayangkan,Arjun ? sekolah bukan tempat yang menyeramkan ! Sekolah untuk menuntut ilmu agar Kita menjadi lebih pintar.
Dan aku jamin guru – guru di SMPku semuanya baik dan ramah “,
“ Tapi,Kakak pernah curhat padaku bahwa kau pernah terkena lemparan penghapus dari guru Fisikamu,Kakak ? Apa itu salah satu tanda Guru di sana baik dan ramah ?”,
“ Oh tentang itu”, Indra menuntun Arjun mendekati ranjang tidur”, itu hanya lemparan yang meleset. Ternyata temanku,yang membuat Guruku marah,berhasil mengelak.
Alhasil Penghapus itu terkena dadaku. Uff ! Debu kapur itu sampai membuatku batuk.
Aku sampai malu karena insiden ini sampai membuat teman satu kelasku mentertawakanku “,
Arjun tertawa ringan mendengar cerita ini“ Lalu,Apa kakak mendapat permohonan maaf dari Guru dan teman kakak ?’,
“ Tentu. Setelah Pak Guru membantu membersihkan seragamku,”
Indra mengajak Arjun duduk di atas ranjang” Kakak,Apa kau akan ikut bersama Ibu besok untuk mendaftarkanku sekolah besok ?”,
“Ya Ya ! aku akan menjelaskan padamu tentang sekolahku padamu besok “,
“ Apa kakak mau memboncengkanku besok ?”,
“ Kau akan aku naikkan sepeda mini milikmu,dan Aku akan menarikmu dengan tali rafia yang aku kaitkan di sepeda motor milik Ibu. Dan Aku akan membonceng Ibu “, Indra meledek Arjun,
“ Ah Kakak “,Arjun merengek,
Indra tertawa kemudian merangkul Arjun,Indra membenturkan dahinya dengan halus ke dahi Arjun” Kau akan terus bertanya tanpa segera tidur,Adikku. Ayo Kita tidur ! jangan sampai kita bangun terlambat besok,
Tenang,Aku akan memboncengkanmu besok menggunakan motor milik ayah”,
“ Emh”, Arjun langsung mendekap badan kakaknya “ Terima kasih Kakak”,
“ Sama - sama Adikku. Semangat !”, Indra mendekap Adiknya dengan erat,
***
Esok paginya,Semuanya telah selesai sarapan. ibu Nawang telah siap dengan penampilannya. Ia memeriksa Putra keduanya yang telah berdiri di teras. Bu Nawang merapikan Penampilan Arjun. Ia juga merapikan Rambut Arjun.
Indra muncul dari dalam Rumah. Ia menunjukkan Paper Bag,yang Ia dapatkan dari Distro kemarin,kepada Arjun. Ia mengeluarkan isi di dalamnya.
satu Jaket Kerudung berwarna abu - abu. Ternyata Indra membelikan Jaket itu untuk Arjun.
Indra memakaikan Jaket ini ke Badan Arjun. Indra tampak bersemangat dan hati - hati dalam memasukkan tangan Arjun ke setiap lengan jaket ini.
“Dan,Yup ! Selesai, Arjun jaket ini aku beli untukmu kemarin. Ternyata ini cocok saat Kau pakai ! Apa kau menyukainya ?”,
Arjun mengangguk dengan wajah Ceria” Terima Kasih,kakak”,
Bu Nawang tampak bahagia melihat kerukunan Kedua Putranya ini. Mereka segera berangkat menuju ke sekolah,di mana Indra bersekolah dulu.
***
Ibu Nawang dan Indra menemani Arjun mendaftar di sekolah itu.Jam setengah tujuh Arjun berangkat bersama Ibu dan Kakaknya menggunakan Dua Sepeda Motor .Pagi itu begitu cerah dengan hawa yang masih dingin.
Jarak sekolah yang dituju tidak begitu jauh.Waktu setengah jam Mereka sampai di gedung Sekolah.Dan pertama kali tiba di tempat itu,Lapangan bola yang hijau dan luas.
Bau rumput yang segar di pagi hari menyambut Arjun.Setelah menaruh Sepeda Motor di tempat Parkir,Arjun bersama Kakak dan Ibunya masuk ke gedung untuk bergegas mengambil tempat.Di sebuah ruangan Arjun berhasil mendapat nomor pendaftaran.
Ruangan itu dan gedung sekolah itu penuh dengan Anak dan orang tuanya yang akan mendaftar sebagai siswa di sekolah itu.Hari mulai siang dan panas.
Indra mendudukkan Arjun di satu Kursi Meja di satu ruangan kelas ini. Indra melihat Adiknya tampak kegerahan. Ia pun berinisiatif mencarikan Adiknya minuman Dingin.
Indra berlutut di hadapan Arjun “ Uh ! Panas sekali di sini. Arjun, Kau mau minum Es ? Aku carikan sebentar di luar “,
“ Iya Kakak “, Arjun mengipas - ngipaskan Stopmap yang Ia pegang” Aku gerah sekali,”
“ Tunggu sebentar Aku Cari minuman di Luar. Ibu sedang menemui temannya yang ternyata sama - sama mendaftarkan Anaknya di sekolah ini “,
“ Oh Ya”,
Indra segera bergegas menuju satu Toko yang berada di seberang Lapangan Sekolah ini.
Arjun masih duduk menunggu pengumuman.Lalu datang dua orang di samping Arjun.Seorang bapak dan Anak laki - anak yang juga hendak mendaftar.
Sang Bapak menyuruh anaknya duduk,dan Ia duduk di samping Arjun.Arjun masih diam melihat seisi ruangan kelas yang masih penuh.
Arjun melihat anak yang duduk di sampingnya.Begitu pun Ia.
“Hai,Selamat Pagi”,Arjun menyapa Anak muda yang duduk di sebelahnya,
“ Hai,Selamat Pagi”, Anak Muda dengan Potongan Rambut Gaya “ Comma “ itu menyapa balik Arjun,
“ Apa kamu sudah mendapat Nomer Pendaftaran ?”,
“ Sudah “,Jawab Anak itu tersenyum pada Arjun.
Arjun melihat Stopmap Ijazah yang dipegang Anak itu,
“ Namamu Daniel,Ya ?”,
“ Ya,Tapi Aku biasa dipanggil Niel. Lalu,Namamu Siapa ? Coba kulihat Ijazahmu”,
Arjun memperlihatkan Ijazahnya,
“ Namamu Arjun,ternyata”,
“ Ya,kenyataannya “,
“ Kenyataannya ? Apa Maksudmu ?”,
“ Kenyataan seperti yang kau lihat,Namaku Arjun “,
“ Oh begitu. Apa kau punya nama panggilan lain ?”,
“ Tidak. Cukup panggil Namaku dengan Arjun saja “,Arjun menyodorkan tangan ke arah Niel,
Niel menjabat tangan Arjun” Baiklah “,
“ aku harap kau berhasil mengerjakan tes seleksi besok. Sepertinya kau berharap bisa bersekolah di sini “,
“ Bukan Aku tapi Kita,Arjun. Mari berdo’a agar Kita berhasil mengerjakan tes seleksi besok. Kau juga pasti berharap bisa bersekolah di sini”,
“ Iya Niel. Tapi Kakakku sangat berharap Aku diterima di sekolah ini,karena Ia adalah Alumni Sekolah ini “,
“ Oh begitu “,
Arjun dan Niel melanjutkan Obrolannya. Dan Hari itu berlalu. Arjun menceritakan Pengalamannya berkenalan dengan Niel pada kakaknya. Indra tampak antusias mendengar Cerita Adiknya.
Dan esok harinya,Arjun sudah tiba di sekolah,diantar oleh Indra. hari ini akan dilaksanakan Ujian seleksi. Arjun turun dari Motor,kemudian mencium tangan kakaknya.
“ Ingat Apa yang aku ajarkan aku semalam,Arjun “, Indra membelai Kepala Adiknya” Jangan gugup, Tetap semangat,Percaya diri dan Aku percaya bahwa Kau akan berhasil mengerjakan tes seleksi nanti “,
“ Siap !”,Arjun bersikap Hormat pada Kakaknya”, Tapi,kakak “,
“ Apalagi,Arjun ?”,
“ Belikan Aku Jus Alpukat setelah Aku pulang Tes Nanti,kakak “,
“ Oh !”, Indra mencubit pipi Arjun dengan Rasa Gemas “ Baik,Bocah ! Aku akan menjemputmu setengah Jam sebelum Tes selesai “,
“ Terima Kasih. Do’akan Aku supaya berhasil Kakak “,
Indra menekan dahi Arjun dengan telunjuknya “ Aku percaya Kau akan lolos ujian Seleksi ini,Arjun. Ucapan adalah Do’a !”,
Arjun pun beranjak masuk ke Ruangan kelas yang sama Saat ia bertemu dengan Niel kemarin. Karena Ruang kelas ini masih sepi, Arjun tergerak keluar menuju lapangan.
Niel tiba diantar oleh Ibunya. Niel melihat Arjun telah tiba lebih dulu dan berdiri di sebelah Pintu Gerbang ini.
“Hai,Arjun. kau sudah tiba rupanya ?”,
“Niel ! Ya sudah,beberapa menit yang lalu “,
“Sekolah masih sepi,Kau sudah datang pagi sekali “,
“Aku takut kalau Aku terlambat,Niel “,
“Padahal waktunya sudah diumumkan lewat Surat Edaran “,
“Iya. Sebenarnya Ibuku yang khawatir kalau Aku sampai terlambat. Jadi,Ia membangunkanku lebih awal “,
“Tunggu. Kenapa Ibumu seperti Ibuku ? Hanya saja Ibuku lebih galak. Ibuku sampai menggedor - gedor pintu untuk membangunkan Aku”,
“Oh Begitu”,
“Yah,Andai Ibuku seperti Ibumu”,
“kau bisa main ke rumahku Jika Kau ingin bertemu Ibuku”,
“Apa Ibumu bersedia Jika Aku meminta Beliau untuk mengangkatku menjadi Anaknya ?”, Tanya Niel merangkul Arjun,
“Sepertinya ini sebuah lelucon ?”,
“Ya. Aku dibesarkan oleh Ayah dengan sifat Humoris dengan Ibu yang,sayangnya,Hasrat ingin menjadi Polwan-nya tak terpenuhi “,
“Jadi kau seolah - olah terdidik secara militer. Mungkin setiap Orang tua punya cara didiknya masing - masing “,
“Tapi,Seandainya satu pagi saja,Aku bisa bangun tanpa teriakan Ibuku dan tabiat keras ibuku”,
“Mungkin kau perlu menginap di Rumahku suatu saat “,
“Benarkah ? Aku mau !”,
Mereka masuk ke dalam Ruangan kelas ini. Tes Ujian seleksi dilaksanakan. Arjun dan Niel keluar ruangan ini paling dulu. Indra telah menunggu di dekat Tiang bendera. Arjun mengajak Niel menemui Kakaknya. Arjun mengenalkan Nie pada Indra.
Karena Cuaca mendung sangat gelap dan gerimis tipis telah turun,Indra segera mengajak Arjun pulang. Sementara itu,Niel masih menunggu jemputan Ibunya. Tak lama kemudian,Hujan turun dengan sangat deras .
***
Pagi berikutnya,Pengumuman hasil Tes Ujian Seleksi. Halaman Sekolah ini tampak ramai dan sesak dengan Anak - anak yang melihat Papan pengumuman. Anak - anak ini tampak antusias mencari namanya di daftar nama siswa yang diterima.
Tampak beberapa Anak berwajah lesu dan murung yang tak menemukan nama mereka di salah satu daftar nama itu. Tampak beberapa Anak berteriak bahagia merayakan keberhasilannya, Mereka yang berhasil lolos tes seleksi.
Niel mencari keberadaan Arjun di kerumunan Anak - anak ini. Niel menemukan Arjun berdiri di belakang kerumunan Anak yang menghadap Papan,yang terpasang di sebelah jendela Ruangan yang mereka pakai Tes Kemarin.
“Arjun “, Niel mendekati Arjun,
“Niel “,
“Aku berhasil ! “, Niel menerobos kerumunan dan lalu - lalang Anak ini,
“Kau berhasil ? Selamat !”,
Niel telah tiba di hadapan Arjun “Lalu,Bagaimana denganmu ? Apa Kau juga berhasil ?”,
Arjun mengajak Niel melihat Papan Pengumuman ini,Ia segera menunjukkan keberadaan Namanya di daftar nama yang diterima,
“Ini Namaku,Niel ! Aku berhasil,kau lihat. Dan Aku juga sudah menemukan namamu,ternyata Peringkatmu berada jauh di depanku. Ternyata Kau pintar ! Aku telah bertemu dengan Anak yang pintar “,
Niel tampak tersipu malu “Ah ! Biasa saja,Arjun. Jangan merasa minder di hadapanku. Aku juga bekerja keras mengerjakan Tes kemarin”,
“Aku ingin kau ikut denganku,Niel “,
“Ke Mana ?”,
“Masuk ke Ruangan ini,sebentar. Tasku ada di dalam. Temani Aku mengambil Tas sebentar”,
“Okey,Baiklah “,
Arjun menyerahkan Sesuatu pada Niel. Niel terperangah melihat Apa yang diberikan oleh Arjun. Niel seolah - olah tak percaya Arjun hendak memberi Jaket kerudung warna merah ini.
“jaket ini milik Siapa,Arjun ? kenapa Kau menunjukkan padaku ?”,
Arjun meraih tangan Niel,kemudian menggenggamkan Jaket ini ke tangan Niel”Ini Milikmu,Niel ! Terima kasih,Terima kasih Niel.
Kau telah membantuku mengerjakan Tes seleksi kemarin. Meski harus mencari kesempatan,Aku bisa tahu Kode darimu untuk menjawab Soal Ujianku”,
“Tapi,Kenapa kau harus memberiku Jaket? Arjun, Aku ikhlas membantumu,bagaimana pun caranya “,
“Ini Atas Perintah kakakku,Niel. Aku sudah menceritakan semuanya pada Kakakku. Dan Kakakku merasa perlu membalas bantuanmu.
Dan”, Arjun sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Niel “Aku sudah minta ijin pada Ibuku untuk hal ini.
Ibuku terkesan pada jasamu,jadi Ia juga menyuruhku untuk memberikan ini padamu. Anggap saja ini kenang - kenangan dari Ibuku. Terimalah “,
“Benarkah ? Aku akan menerimanya ! Sampaikan Ucapan Salam dan Terima Kasihku untuk Ibu dan Kakakmu. Aku menyukainya “,
“Baik. Kau orang pertama yang mengenalku di Sekolah ini,Niel “,
“Kau juga,Arjun. Lalu,Apa yang harus kita lakukan ? Memamerkan perkenalan Kita ini pada Semua orang “Niel meledek Arjun,
“Tidak Niel. Jika Kita nanti bisa satu kelas,Aku akan merasa lebih senang. Tapi,Jika Kita berlainan kelas,Aku ingin kau selalu mengingatku”,
“Tunggu, Jadi untuk maksud ini kau berniat memberiku jaket agar Aku selalu mengingatmu ?”,
“Ini harapanku setelah Niat Ibuku membalas Jasamu. Ibuku dan kakakku selalu mengajarkanku untuk menghargai setiap kebaikan seseorang,untuk menjaga Hubungan Baik dengan sesama.
Aku hanya ingin kau selalu mengingatku meski kau berkenan atau tidak,itu terserah dirimu. Kau sudah membantuku,Niel. Aku perlu memberi Penghargaan padamu”,
Niel langsung memakai Jaket pemberian Arjun. Bahan Jaket ini tampak Bagus memberi sensasi Rasa hangat saat dipakai”Lihat,Arjun. Aku sudah memakainya. ini akan Aku pakai setiap harinya saat pergi ke sekolah”, Niel merangkul Arjun”, Aku paham maksudmu,Arjun.
Aku sudah menganggapmu sebagai Temanku,sejak Pertama kali Kita bertemu. Aku merasa senang dengan Pertemuan pertama Kita. Aku merasa senang mendapat teman yang ramah,bahkan perhatian padaku”,
“Terima Kasih,Niel “,Arjun mengangguk
“Lalu,Apa yang Kita lakukan selanjutnya ? Kita ke lapangan saja. Aku merasa sesak berada di antara Anak - anak ini”,
“Emh. Ayo ! “,
***
Tiba di Hari Pengumuman Pembagian Kelas,Seluruh Siswa yang telah lolos Tes Seleksi dikumpulkan di Halaman Parkir,yang berada di Belakang Sekolah. Arjun dan Niel berada di barisan paling belakang. Niel tampak antusias menunggu pengumuman. Arjun tampak tenang di sebelah Niel.
“Arjun,lihat ! Aku memakai jaket yang kau berikan. Warna merah !”,
“Aku tak sengaja memilih Warna Merah,Niel.Kuharap Kau suka “,
“Ini Penghargaan dari Seorang Teman,Arjun. Aku menerimanya dengan senang hati”,
“Aku senang Kau bersedia menerimanya,Niel “,
“Aku senang berteman dengan Seseorang yang bisa menghargai kebaikan seseorang”,
Nama Daniel dipanggil duluan,Niel masuk ke kelas A. Niel menepuk bahu Arjun sebelum Ia melambaikan tangan pada Arjun. Niel tampak bersemangat menuju ruang kelas di mana Ia akan dikumpulkan bersama teman sekelasnya.
Arjun masuk Ke Ruang kelas C. Ia berjalan menuju Ruang Kelas di mana Ia akan dikumpulkan bersama teman sekelasnya. Arjun duduk di bangku yang berada di Barisan tengah.
Tak lama kemudian,Seorang Anak duduk di samping Arjun. Ia duduk dengan tenang. Arjun mengajak Anak ini berkenalan. Arjun tergerak melihat Ijazah yang berada di stopmap milik Anak ini.
Arjun membaca Alamat Rumah Anak ini. Ia berusaha menebak di mana letak Alamat itu,tapi Ia tidak tahu.
“Hai,Maaf,Boleh Aku bertanya padamu ?”,Sapa Arjun,
“Hai Juga”, Jawab Anak ini dengan sikap yang dingin”, Apa yang ingin kau tanyakan ?”,
“sepertinya Rumahmu jauh ?”,
“Iya. Rumahku berada di pinggir gunung,yang berada cukup jauh ke arah selatan dari sekolah ini”,
“Bagaimana kau berangkat ke sekolah ini ?”,
“Aku diantar oleh Bapakku”,
“Oh begitu”,
“Itu saja yang ingin kau tanyakan ?”,
“senang berkenalan denganmu,Marvin”, Arjun menyodorkan tangannya,
Anak itu Marvin menjabat tangan Arjun sejenak”Aku juga”,
“Semangat ya ! belajar di kelas baru ini”,
“ ya “,
Sementara itu di kelas Niel,Seorang Anak mendatangi Niel. Niel sedang berkenalan dengan sekelasnya. Anak ini telah mengamati Niel sedari tadi. Dan untuk meyakinkan dirinya,Ia pun mendatangi Niel. Ia punya maksud saat menemui Niel saat ini.
Anak ini sedikit menggebrak meja Niel untuk mendapat perhatian. Niel spontan melihat Anak ini. Ekspresi Niek berubah saat melihat Anak ini.
“Wah lihat ! Benar,ini Daniel,atau Niel,Putra dari Pak Dwiki,salah satu orang yang dihormati di lingkungan tempat tinggalnya.Tak kusangka Aku bisa satu kelas dengannya,sekarang”, sepertinya Niel tidak menyukai kehadiran Anak ini.
Niel membuang muka. Ia tampak kesal dengan kehadiran Anak ini.
“Oh, kau masih marah padaku rupanya ? atau Kau berusaha menghindariku ? Apa kau masih menyimpan dendam padaku ?”,
Niel langsung menatap wajah Anak ini,Tatapan Mata yang tajam dengan ekspresi marah yang tersamar.
“Aku hanya berusaha untuk waspada saja. Tak kusangka juga Aku bisa satu kelas denganmu. Aku harus selalu waspada dan hati - hati selama berada di kelas ini”,
“Oeh ! Niel,Apa yang kau takutkan ? Kau takut Aku akan melakukan perbuatan yang seperti Bapakku lakukan?
Ayolah Niel,waktu berlalu sudah lama. Bapakku sudah menerima Hukumannya. Dan kau pikir Aku seperti ‘Buah yang Jatuh tak jauh dari Pohonnya ? “, Anak ini sampai duduk di meja,di hadapan Niel.
“Aku hanya ingin membuat diriku lebih berhati - hati. Aku sudah kehilangan sepedaku,Hadiah Ulang tahun dari Ayahku waktu itu.
Ayahmu juga pasti yang mengambilnya ? Kau tak tahu berapa banyak keluargaku kehilangan banyak barang di rumahku”,Niel tampak gusar meladeni Anak ini,
“Perlu kau tahu,Niel”, Anak ini menepuk bahu Niel “,
Hidupku telah banyak berubah dan banyak memberiku pelajaran di umurku yang masih Anak - anak ini. Bapakku telah lama mendekam di penjara karena kasus kejahatan yang lebih parah.
Ibuku langsung menceraikan Bapakku setelah perilakunya lebih menjadi sehingga merugikan keluargaku,setelah itu Bapakku kepergok melakukan Aksinya yang membuatnya dipenjara.
Ibuku selalu menasehatiku untuk bersikap baik pada siapa saja dan meminta maaf pada siapa saja yang menjadi Korban kejahatan Bapakku.
Dan kebetulan sekali,Aku bertemu denganmu “, Anak ini turun dari meja, kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Niel “Aku ingin meminta maaf padamu,Niel.
Aku masih ingat perkelahian kita di pagi itu,setelah Sholat subuh di Bulan puasa,waktu itu. Aku benar - benar tidak tahu kalau sepeda itu milikmu”, Kata - kata ini membuat Niel spontan kembali memandang wajah Anak ini “ Aku minta maaf atas nama Bapakku juga.
Ini salah satu kehendak ibuku yang harus Aku laksanakan. Kuharap kau mau mengerti. Aku tahu keluargamu sangat merasa sedih karena kehilangan barang - barang di rumah karena perbuatan bapakku.
Tapi Niel,Bagaimana dengan hidupku ? Aku hidup dalam bayang - bayang kesedihan Ibuku. Ibuku menerima kehidupan keluarga Kami yang kondisinya tak jauh lebih baik daripada orang lain”,
Niel terdiam sejenak,Ia pun tergerak menjabat tangan ini. Ia memberi maaf Anak ini.
“Terima kasih,Niel. Ini tandanya kau memaafkanku. Terima kasih. Dan untuk menebus Rasa bersalah yang menyebabkan kekecewaan dan kesedihanmu, Apa yang perlu Aku lakukan untukmu ?
Apa Aku perlu menjadi teman setiamu,Sahabatmu ? Aku akan menunjukkan Kesetiaanku padaku. kau bisa menjadi seperti Bos bagiku. Dan Aku akan menjadi seperti pelayan bagimu.
Bagaimana ? Apa kau bersedia menerima tawaran ini ?”,
Niel menghela Nafas dengan sedikit rasa ragu - ragu “Mungkin Kau tak bisa mengembalikan Sepedaku karena suatu sebab.
Memang kesalahan Bapakmu tak seharusnya dianggap seolah - olah Kesalahanmu. Kau seharusnya tidak layak menerima pandangan dan penilaian buruk orang terhadapmu disebabkan perbuatan Ayahmu”,
“Ya. Akhirnya kata - kata ini yang telah lama Aku harapkan. Aku ingin mendengar kata - kata dari Bibir Seseorang.
Dan ternyata Kau menjadi orang pertama,Anak pertama yang mengatakannya padaku. Tebakanku benar bahwa kau adalah Anak yang baik Pemaaf dan Baik hati “,
“ Dengan ini mungkin akan sedikit membantumu. Tunggu,kalau tak salah ,namamu Joni,Bukan ?”,
“Yah benar ! Kupikir kau akan melupakan namaku. ternyata tidak !”,
Niel tersenyum samar pada Anak ini. Dan sejak saat itu,Joni menjadi teman Niel. Joni menjadi teman Niel. Ke mana pun Niel pergi, Joni ada di belakang Niel. Di mana Ada Niel,Joni akan selalu ada.
***
“ Perubahan Karaktermu dipengaruhi oleh Siapa Kamu bergaul dengannya “
Sekolah memasuki Masa Orientasi Siswa. Suatu ketika Arjun melihat Niel,dari kejauhan,Niel sedang menghabiskan waktu istirahatnya bersama teman - teman sekelasnya.
Dalam Pandangan arjun,karakter teman - teman Niel ini tampak urakan,suka berkata Jorok dan Nakal. Arjun merasa kurang cocok dengan Karakter Anak - anak seperti ini.
Tapi,Niel berada di lingkaran Anak - anak seperti ini. Arjun adalah Anak remaja yang seolah - olah baru menghadapi dunia luar. Ia tengah bersiap memasuki fase baru dalam hidupnya. Ia perlu belajar beradaptasi dengan keadaan hidup barunya. Ia berhadapan dengan kehidupan yang diisi oleh Orang - orang dengan berbagai karakter.
Arjun adalah Anak remaja yang lugu dan polos. Seorang “Anak Baru Gedhe “yang sebelumnya,ia selalu hidup di bawah bayang - bayang Bagaimana karakter Kakaknya,Indra.
Ia selalu hidup dengan perlakuan Manja oleh Ibunya. Arjun adalah tipikal anak yang patuh terhadap nasihat - nasihat baik dari siapa saja,termasuk Ibu dan Kakaknya.
Arjun mulai menahan dirinya untuk menemui Niel karena Ia merasa takut akan mendapat Perlakukan tidak baik dari teman - teman Niel yang urakan.
Arjun menahan diri untuk mendekati Niel agar ia tidak terpengaruh oleh karakter teman - teman Niel. Arjun pernah memergoki Niel dan teman - temannya sedang merokok di salah satu sudut parkiran.
Satu kali Niel mendekati Arjun,bersama teman - temannya. niel menggoda Arjun dengan melakukan Aksi jahil terhadap Arjun. Bahkan ada teman Niel yang sampai berani mencubit pantan bagian bawah Arjun. Tidakkah Perbuatan ini senonoh atau pantas diberikan pada Anak seperti Arjun ?
Arjun tentu merasa kesal menerima sikap ini. Arjun juga melihat karakter Niel berubah menjadi Nakal,jahil dan Arogan. Terkadang sedikit vulgar dan toxic melalui umpatan - umpatan kata joroknya. Arjun merasa Ia perlu menjauhi Niel.
Lagi, terjadi Momen pertemuan di antara Arjun dengan Niel bersama gengnya,Saat Niel hendak masuk ke kelasnya. Niel spontan menjahili Arjun dengan menggelitiki perut Arjun dan mencubiti tangan Arjun.
Namun,Arjun bergeming menerima kejahilan Niel. Arjun hanya menampilkan wajah muram dan kesalnya.
Di Sisi lain,Joni melihat tindakan Niel barusan telah membuat Arjun kesal. Timbul satu Ide di dalam pikiran Joni untuk melakukan suatu hal terhadap Niel.
Tapi,tindakan ini tidak akan Joni lakukan dalam waktu dekat. Ia mencari waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.
***
“ Silent treatment As A Solution …”
Dan setelah mendapat perlakuan jahil Niel kemarin, Arjun memilih untuk mengacuhkan Niel. Sebenarnya terlihat sepele untuk dinamika kehidupan Anak SMP.
Namun, untuk tipikal Anak seperti Arjun yang sangat lugu,itu adalah pilihan yang Arjun ambil untuk menghindarkan dirinya dari pengaruh - pengaruh negatif dari Niel serta teman - temannya.
Dan sejak itu,Arjun membuat dirinya sedikit tertutup. Ia juga mulai belajar untuk membaca Watak dan karakter setiap Anak atau orang yang bertemu dengannya.
Ia juga menghafal berbagai tipe karakter dan pembawaan Orang. Dan sejak saat itu,Arjun berubah menjadi Pendiam.
Satu waktu,saat Indra menjemput Arjun. Arjun tampak murung,tam bersemangat seperti biasanya. Perubahan ini mulai dirasakan oleh Indra. Arjun berjalan lebih lambat dari biasanya. Indra tergerak mendekati Adiknya.
“Arjun,kau baik - baik saja ?”, Tanya Indra mengusap dahi Arjun,
“Aku baik - baik saja,Kakak”, Spontan Arjun menghilangkan Ekspresi murungnya,
“Kukira kau sedang demam atau tidak enak badan”
“Aku lapar kakak. Bisa kita pulang sekarang ?”,
Tak sengaja Niel dan teman - temannya lewat di samping Arjun dan Indra. Niel seolah - olah mengabaikan Keberadaan Arjun. Indra merasakan kejanggalan saat melihat keadaan ini.
“Arjun, itu Niel. Kau tak menyapanya ? Kenapa ?”,
Pertanyaan ini malah membuat Arjun kembali murung. Ia bergeming,membuang muka.
“dia tak menyapaku duluan,kakak. Aku merasa sungkan Jika hendak menyapanya,terlebih saat Ia bersama teman - temannya”,
Indra mulai mengerti Apa yang terjadi,namun Ia mengabaikannya”Oke baiklah. Kita pulang saja,Kita makan siang di rumah.
***
Tindakan Arjun masih berlanjut hingga ia naik kelas dua. Ia telah melalui waktu yang lumayan lama. Ia sudah belajar banyak hal. Dengan bertambahnya Pengalaman hidup membuat Arjun belajar.
Ia masih menempatkan karakter dirinya pada karakter Seorang Anak yang Pendiam,kaku dan tertutup. Ia perlu memilih dengan siapa Ia bergaul dan berteman.
Temannya di sekolah adalah siswi yang satu kelas dengannya. Itu pun Ia tidak terlalu akrab dengan setiap dari mereka karena Arjun juga belajar dari pergaulannya dengan teman - teman gadisnya.
Arjun mulai peka terhadap lingkungan sekitarnya. Tak jarang Ia memergoki dan mendengar Beberapa teman Gadisnya sedang membicarakan Keburukannya di belakangnya. Arjun bisa belajar dan tahu lewat Gestur dan sikap dari Siapa dia Anaknya saat Arjun berbicara dengannya.
Di Rumah,di suatu saat,Hujan sedang turun dengan deras. Arjun berdiri di pinggir jendelanya,yang Ia buka lebar - lebar. Tiupan Angin Hujan besar ini menabrak badannya berulang kali. Arjun tengah termenung memandangi turunnya Air Hujan.
Pandangannya mengarah ke Halaman Rumahnya yang cukup luas. Pikiran Arjun memainkan Khayalan tentang Niel dan Arjun sedang bermain sepak bola di bawah hujan deras.
Keduanya tampak bersemangat Bahagia,Arjun larut dalam perasaan sentimentilnya. Entah mengapa rasa menyesal hadir di dalam batinnya ?
Mata Arjun sampai berkaca - kaca. Satu Percikan titik Air hujan mengenai Pipi Kanan Arjun. Momen yang seolah - olah selaras dengan keadaan Arjun yang tengah merana. Titik Air ini merembet turun membuat Pemandangan seolah - olah Arjun sedang menangis dalam diamnya.
Indra hendak masuk ke kamar Adiknya. Namun Ia tertahan Saat melihat Arjun merenung di pinggir jendela. Indra sudah lama mempelajari Hal Apa yang sedang terjadi pada Adiknya. Indra perlahan mendekati Adiknya.
Indra hadir di samping Arjun. Tangannya menghapus Lelehan Air yang ada di Pipi Adiknya. Arjun melihat Kehadiran Kakaknya. Ia tersenyum samar pada Adiknya.
Indra berharap Ia bisa memberi hiburan untuk Adiknya. Kedua kakak beradik ini saling berpandangan sejenak. indra menggelengkan kepala sebagai Isyarat untuk mengakhiri kesedihan ini.
Namun,Arjun malah menunduk. Indra pun akhirnya memeluk badan Arjun, Ia sedikit membawa badan Arjun menjauh dari jendela.
Setelah menutup jendela,Indra kembali duduk di sebelah Arjun. Hujan mulai reda. Indra merangkul Adiknya. Arjun memasrahkan kepalanya di dada Kakaknya. Indra merasa Arjun telah kehilangan semangatnya. Hanya ini yang bisa Indra lakukan untuk menenangkan Adiknya.
“Apa kakak mengkhawatirkanku ?”,Tanya Arjun dengan nada berat,
“Kupikir Kau belum makan “,
“Aku masih kenyang setelah makan bekal dari Ibu tadi saat istirahat,sebelum Jam Les Tutor dimulai “,
“Lalu,Apa yang terjadi ?”,
Arjun melepas diri dari pelukan kakaknya”Apa kakak akan merasa kecewa atau marah padaku seandainya Aku punya masalah dengan seseorang ?”,
“Siapa ? Kau sedang mempunyai masalah dengan siapa ? Niel ?”,
Arjun sedikit kaget saat tahu ternyata Kakaknya mengetahui dirinya sedang punya masalah dengan Niel. Arjun pun mengangguk kemudian membuang muka malu dan cemasnya
Perlahan tangan Indra mengusap kepala Arjun “Ternyata dugaanku Benar. Aku tidak akan marah padamu,Arjun.
Karena kurasa ini tidak akan menjadi masalah serius. Ini biasa terjadi,Aku berulang kali seperti itu dengan teman akrabku”,
“Kakak Haikal ?”,
“Yah . Dia salah satunya. bahkan Kami saling bertengkar setiap hari. Tapi,tidak sampai berkelahi. ini menjadi Bagian Perjalanan Hidup kita. Baik susah atau pun duka “,
“Tapi,Aku dan Niel tidak seakrab Kakak dengan Kakak Haikal”,
Indra meraih tangan Arjun “ Arjun,bukankah kita juga sering kali bertengkar ? Sejenak kemudian Kita rukun kembali.
Kesalahan tidak selalu dilakukan oleh siapa dia yang lebih muda. Aku bahkan sering melakukan kesalahan padamu. Dan kau pasti tahu,Apa yang Aku lakukan untuk mengakhiri Perkelahian Kita, untuk mengakhiri Masalah Kita ?”,
“Apa itu Kakak ?”,
“Maaf,Arjun “, Indra mencium tangan Adiknya” Minta Maaf,Adikku. Kakak selalu meminta maaf padamu setelah Aku menyadari kesalahanku. Ini Aku lakukan karena Aku sangat menyayangimu “,
“Jadi,Aku harus minta maaf pada Niel ?”,
“Tentu saja. Itu yang harus kau lakukan “,
“Apa Niel menyayangiku sama seperti Kakak menyayangiku ? Niel Juga mengacuhkanku di sekolah. Aku takut menemuinya “,
“ Setiap hubungan Pertemanan pasti didasari Rasa Sayang,Adikku. Kenapa ? Kenapa kau takut ?”,
“Aku tidak mau teman - teman Niel mengganggku,Aku tidak mau mereka mengajakku menjadi Anak nakal. Padahal Aku hanya ingin tetap berteman dengan Niel”,
“Ini tantangannya,Adikku. Aku juga tak mau kau terpengaruh oleh Hal Buruk dari Siapa pun.
Baiklah,Kita pikirkan Nanti,Aku akan mengamati Kondisi bagaimana kalian di sekolah . setelah itu Aku akan memikirkan solusinya. bagaimana ? Mau menerima saranku ?”,
“Apa pun itu,terserah kakak saja “,
***
“Niat yang tersampaikan lewat Surat “
Lewat Surat ! Arjun memilih cara dengan menulis surat untuk menyampaikan Permohonan Maafnya kepada Niel. Arjun berdiri memegang selembar Surat ini. Pandangannya mengarah ke Halaman Sekolah,sempat muncul rasa Ragu dan takut dalam diri Arjun. Ia merasa bimbang dengan tindakan yang Ia akan lakukan ini.
Rasa ragu bahwa Arjun berpikir Apakah tindakan yang Ia ambil ini Apakah sudah benar ? Rasa Bimbang bahwa Arjun berpikir Apakah Niel akan terbuka hatinya kepada dirinya ?
Rasa Takut bahwa Arjun sangat khawatir Jika suatu saat tindakannya ini diketahui atau kepergok teman - teman Niel,kemudian Mereka akan salah paham pada Niel,terlebih pada hubungan di antara Arjun dan Niel.
Niel sudah benar - benar berubah. Niel seolah - olah mengabaikan keberadaannya Arjun. Berulang kali Arjun mencoba untuk menatap wajah Niel,tapi Niel selalu membuang muka dengan raut kesal dan benci yang tersamarkan.
Hal ini membuat mental Arjun berubah menjadi sensitif,Arjun mulai terjebak dalam Rasa bersalah dan penyesalannya. Andai saja Ia mau beradaptasi atau belajar bergaul dengan teman - teman Niel dulu,Mungkin keadaannya tidak akan seperti sekarang.
Arjun melihat Para Siswa telah pulang melewati gerbang. Arjun bergegas keluar kelas. ia berdiri di dekat salah satu tiang teras sekolah ini.
Hari ini ada Jadwal Les tutor lagi. Untuk seluruh siswa kelas dua akan mendapatkan pelajaran tambahan dari jam dua hingga jam empat sore.
Ada Siswa yang memilih pulang sejenak untuk istirahat siang. Ada juga Siswa yang memilih tetap di sekolah dan beristirahat di kantin sekolah.
Arjun mendapati suasana kelas B dan A telah sepi. Ini kesempatan buat Arjun untuk mengirim suratnya ke kelas Niel,secara diam - diam.
Arjun hafal di mana tempat duduk Niel. Arjun sedikit mengendap - endap setelah dirasa aman,Aksinya tidak akan dipergoki siapa pun. Arjun segera masuk ke dalam kelas Niel.
Arjun bergerak cepat dalam memasukkan suratnya ke dalam laci Niel. Secepat kilat Arjun bertindak,Ia sudah muncul di pintu kelasnya. Arjun merasa senang bahwa tindakannya kali ini berhasil. Ia berharap suratnya bisa dibaca oleh Niel.
Arjun memakan bekal makanan yang disiapkan oleh Ibunya. Badannya masih gemetar setelah berhasil melakukan Aksinya. Marvin muncul bersama dua temannya, Mereka baru saja makan siang dari kantin. Arjun menyapa Marvin.
“Hai Marvin dan teman - teman”Panggilan ini membuat Mereka terhenti dan melihat Arjun “,Apa kalian sudah makan siang ?Aku sedang makan siang”,
“Ya. Aku sudah makan siang”, Jawab Marvin tak terlalu memperhatikan Arjun,
“Marvin mentraktir kami makan siang di kantin tadi. Sayangnya kau tak diajak olehnya”, Kata teman Marvin bernama Anton,Remaja berperawakan pendek dan berambut cepak,
“Aku sedang makan bekal dari ibuku. Tidak apa - apa. Mungkin lain kali Marvin akan mengajakku di kantin”,
“Makanan di kantin sepertinya lebih enak dari masakan Ibumu”, Ledek Anak berambut lebat dengan gaya berbelah tengah dan berkulit kuning,bernama Arifin.
“Dan melihat porsimu makan seperti itu,mungkin Marvin kurang berniat mentraktirmu makan di kantin.
Ibumu sepertinya berharap kau cepat tumbuh besar dengan memberimu porsi makan yang banyak”, sindir Anton sesekali melihat Wajah Marvin. Marvin tampak tersenyum sinis pada Arjun. Tatapan Mata Marvin terkesan meremehkan Arjun.
“Tidak apa - apa seandainya Marvin tidak mau mentraktirku makan. Bekal dari Ibuku sudah cukup bagiku “, Arjun tak terlalu memikirkan sikap teman - temannya ini. Marvin dan teman - temannya duduk di mejanya.
Arjun menoleh ke arah marvin. Ia memandangi Marvin sejenak,kemudian membalikkan wajahnya dengan ekspresi murung. Arjun merapikan kotak bekal yang tersisa sedikit nasi di dalamnya.,kemudian menyimpan di dalam tas.
Saat pulang sekolah,Arjun menunggu cukup lama jemputan Kakaknya. Arjun menunggu di bawah Pohon filisium sendirian. Marvin dan Anton lewat di depan Arjun menggunakan sepeda mereka.
Arjun melihat mereka,begitu juga sebaliknya. Anton tersenyum dengan tatapan meremehkan pada Arjun. Marvin melihat Arjun sejenak,kemudian Ia membuang muka seolah - olah mengabaikan Arjun.
Tak lama kemudian Indra datang menjemput Arjun bersama Haikal. Haikal menyapa Arjun,Arjun mencium tangan Haikal. Di perjalanan pulang,Haikal berhenti di salah satu Restoran siap saji.
Haikal berniat mentraktir Indra dan Arjun karena hari ini Hari Ulang Tahunnya. semua tampak senang saat ini,terlebih Arjun.
Merasa sedih tak bisa ditraktir oleh Marvin,tapi Ia malah ditraktir oleh Sahabat kakaknya sendiri.
***
Suatu ketika saat Arjun selesai buang Air kecil di Toilet Sekolah. Seorang Ibu Guru mendatanginya,Ibu ini menemui Arjun dengan kondisi wajah sedikit pucat. Sesekali Ibu ini menahan batuk yang tengah Ia derita.
“Kamu adalah Arjun ,Siswa kelas dua C,kan ?”,
“Iya benar Ibu Guru. Ada Apa Ibu Sri ? Anda Ibu Sri,Guru Pelajaran Agama Hindu,bukan ?”,
“benar sekali. Aku ingin meminta tolong padamu Arjun”,
“Iya Ibu. Apa yang bisa saya bantu,Ibu ?”,
“setelah ini,kau akan mendapat Pelajaran Agama, kan ?”,
“Iya betul Bu “,
“Yah. Ibu minta tolong Kamu panggilkan Hermawan ya ?”,
“Oh Hermawan ! Ya Ibu,dia teman sekelas saya”,
“Bilang pada Hermawan untuk menemuiku di Kantor Guru. Aku akan memberi Pelajaran Agama untuknya di Ruang Tamu Kantor kepala sekolah.
Badanku tidak enak,Arjun. Jadi Ibu minta tolong padamu untuk menyampaikan pesan ini untuk Hermawan”,
“Baik Ibu. Saya siap melaksanakannya. Saya permisi kembali ke kelas sekarang “,
“Iya,terima kasih sebelumnya”,
“Semoga Anda segera sehat kembali Ibu”, Arjun bergegas menuju ke kelasnya,
“Ya Terima kasih”,
Masuk ke kelas,Arjun segera menemui Hermawan dan menyampaikan pesan Bu Sri. Hermawan pun bergegas menemui Ibu Guru Agama Hindunya.
Arjun melihat Hermawan keluar kelas dengan satu buku yang digulung kemudian dimasukkan ke dalam celana belakangnya.
***
“Mungkin Kau sudah tidak mengingat diriku lagi ?”
Poster dengan foto Niel yang berkalung Medali terpampang di papan Mading Sekolah ini,beberapa Siswa tampak berhenti sejenak untuk melihat Poster ini.
Senyum bahagia dan semangat Niel seolah - olah mencerahkan pagi ini. Datanglah Niel bersama teman - temannya untuk memeriksa Poster ini. Joni mengusap Poster ini kemudian merangkul Niel dengan Rasa Bangga. Teman - teman lain Juga tampak Bahagia melihat Poster ini.
“Lihat ! Poster dengan fotomu itu,Niel. Dan Medali Juara pertama Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten.
Aku bangga padamu,Niel ! kerja kerasmu terbayarkan sudah “, Kata Joni menepuk Bahu Niel.
“Ini Juga berkat Kalian yang telah menyemangatiku. Terima Kasih,teman - teman “,
“Mari kita rayakan dengan makan di kantin. Kau akan mentraktir kami kan,Niel ?”,
Niel sempat ragu menjawab Pertanyaan Joni, namun dengan terpaksa ia mengabulkan permintaan Teman - temannya “Oh ya. tentu. Ayo Kita ke Kantin”,
Niel pun mengajak teman - temannya ke kantin. Sementara itu, Ajrun muncul dari balik pintu kelasnya setelah Niel dan teman - temannya berlalu. Sebenarnya Arjun telah mengamati Niel dari tadi. Arjun masih dengan Raut wajahnya yang murung.
Arjun mendekati Poster Niel di papan Mading. Tangannya tampak gemetar saat mengusap poster Niel ini. getaran tangan ini malah menumbuhkan Kegundahan dan Rasa Penyesalannya kembali. Arjun beranjak dari Papan mading ini.
Namun tak sengaja,Ia berpapasan dengan Niel yang hendak mengambil dompetnya di dalam tas. Niel dan Arjun saling menatap dalam diam. Pikiran Arjun menggerakkan dirinya untuk mengulurkan tangannya ke arah Niel,Ada keinginan Arjun untuk memberi Selamat pada Niel. Mata Arjun berkaca - kaca.
Niel melihat tindakan Arjun ini,Niel seolah - olah mengerti Apa yang Arjun rasakan. Tangan Kanan Niel tanpa sadar hendak menjabat tangan Arjun. Namun, sedetik kemudian,Niel tersadar dan secara refleks menarik tangannya dan langsung membuang muka di hadapan Arjun. Niel langsung meninggalkan Arjun.
Arjun menarik tangannya,menarik nafas untuk membuat dirinya berlapang dada. Namun Tarikan nafas ini seolah - olah malah membuatnya sesak oleh Rasa Penyesalan. Arjun pun kembali ke kelas.Di sisi lain,marvin tampak berdiri di Pinggir jendela kelas,sedari tadi Ia melihat tindakan Niel dan Arjun.
Bahkan Marvin tak mengalihkan perhatiannya Arjun yang berjalan kembali ke kelasnya dengan wajah Murung. Apakah Niel seperti ingin melupakan Arjun ?
Menjelang pulang,Marvin mengalami keseleo di pergelangan kakinya karena Ia tersandung kaki meja hingga terjatuh ke lantai. Lutut Kanan Marvin sampai terbentur ke lantai. Anak - anak di kelas ini spontan menertawakan Marvin. Marvin tampak bersusah payah dalam berdiri.
Seseorang dengan sigap menolongnya,ialah Arjun. Arjun membantu Marvin berdiri.Melihat Arjun yang telah membantunya,Marvin pun menyembunyikan Raut wajah kesakitannya.
Marvin merubah mimik wajahnya menjadi datar dan mengembalikan kesan dingin dan acuh terhadap Arjun.
“kau baik - baik saja,Marvin ? Kakimu tidak apa - apa “,
“Aku tidak apa - apa. Tanpa bantuanmu pun Aku juga bisa berdiri sendiri “,
“Oh ya. Lain kali hati - hati”,
“kau sepertinya tak perlu menasihatiku,Arjun. Aku tak selemah yang kau bayangkan”,
“Ya. Maaf Jika sikapku sampai menyinggungmu. Aku hanya ingin menolongmu”,
Arjun pun kembali duduk. Sementara Marvin maju k e depan untuk menjawab pertanyaan Guru yang ada di papan tulis,dengan langkah yang tertatih - tatih. Kedua teman Marvin menahan tawa melihat Arjun yang menerima sikap Marvin.
Saat tiba di Rumah,Indra melihat Adiknya tampak lesu. Indra mendekati Arjun. Indra melepas tas Arjun kemudian menggendong tas itu. Indra merangkul Arjun dan menuntunnya masuk ke dalam Rumah.
Indra menunjukkan satu gelas Jus Alpukat yang berada di atas meja makan. Arjun seperti mendapat Penghiburan setelah Ia mendapat perlakuan tak mengenakkan di sekolah. Raut wajah Arjun berubah terharu
“ Kakak “,
“Iya Arjun”,
“Aku minta Maaf,Jika selama ini Ada Sikapku yang telah mengecewakanmu”, Kata Arjun dengan mata basah,menatap kakaknya”Mungkin Aku perlu mulai belajar meminta maaf pada semua orang dari sekarang”,
Indra menghelas Nafas,ia merasa Arjun dari hari Ke Hari seperti dirundung kesedihan “Emh. Iya Arjun. Kita makan siang sekarang. jangan Berpikir yang aneh - aneh lagi “,
***
Tak sengaja,Arjun berpapasan dengan Joni yang baru saja keluar dari Toilet. Arjun kembali dari halaman Parkir belakang. Joni menahan Arjun dan mengajak Arjun bicara. Joni sebenarnya sudah mengetahui tindakan Arjun barusan.
“Hei,kau Arjun kan ?”,
“Iya benar. Dan Kau Joni,benar ?”,
“Ya benar. Ngomong - ngomong,kau dari mana di saat jam Pelajaran masih berlangsung kali ini ?”,
Pertanyaan ini membuat Arjun geragapan”Aku.Aku baru saja membuang sampah di belakang”,
“Buang sampah ? Tidak bisakah kau melakukannya di saat Jam istirahat ?”,
“tapi,Aku,sampahku terlalu banyak”,Bicara Arjun belepotan karena gugup. Arjun merasa takut karena tindakannya kali ini kepergok oleh Joni.
Joni memotong pembicaraan Arjun”Bilang saja Kau baru saja menaruh sebuah surat di sepeda Niel,Arjun !”, Kata Joni dengan nada lirih”Kau menyelipkannya di sadel sepeda Niel kan ? katakan saja !”,
Arjun terkejut ternyata Joni sudah tahu Apa yang Ia lakukan. Dan dari hal ini,Joni malah mendapat ide untuk melakukan sesuatu terhadap Niel. Joni merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk memulai aksinya,yang pikirkan sejak lama.
Arjun mengangguk dengan Rasa Takut dan Malu”Iya Joni. Aku mengirim Surat pada Niel dengan menjepitnya pada Rem sepeda Niel kali ini “, Kata - kata Arjun terdengar berat,
“Apa kau sedang ada masalah dengan Niel,Arjun ? kau tampak sedih kulihat. bahkan kau selalu tampak murung saat Aku melihatmu menatap Niel yang tidak mau menatapmu balik”,
“Iya Joni”,
Arjun pun menjelaskan secara singkat tentang apa yang terjadi di antara Niel dan dirinya. Joni pun akhirnya tahu. Joni menunjukkan simpatinya pada Arjun.
Namun di balik itu Niat Joni untuk melakukan tindakan terhadap Niel semakin kuat.
“Kau seharusnya jangan seperti itu,Arjun. Tindakan seperti itu tak akan membuat Niel bereaksi. Niel adalah tipe anak yang keras kepala dan kuat dalam mengabaikan seseorang.
Niel akan mengacuhkanmu terus menerus,Jika kau tidak melakukan tindakan yang bisa menyita perhatiannya”,
“Lalu,Apa yang harus aku lakukan ? Sementara hanya tindakan seperti ini yang bisa kulakukan untuk menghindari hal yang tak kuinginkan “,
“Tunggu. Apa maksudmu ?”,
“Aku hanya tidak ingin teman - teman Niel mengetahui tindakanku. Jika itu terjadi,Aku takut teman - teman Niel akan salah paham padaku dan berbuat hal yang tidak diinginkan padaku. Mungkin mereka akan mengejekku”,
“Teman - teman Niel ? Jadi,termasuk diriku ? Jadi kau berprasangka kami akan mengejekmu atas tindakanmu itu ?”,
“Iya”, Arjun tersadar Ia telah berbicara terlalu lama”, Ah ! Apa yang aku katakan ? Kurasa tidak penting untuk kalian.
Niel akan tetap seperti itu padaku”, Arjun pun berlari menuju ke kelasnya,
Joni datang ke halaman parkir untuk mengecek sepeda Niel. Dan benar,Ada Surat yang terjepit di Remnya. Joni pun mengambil surat itu,ia membacanya sejenak. Ia kembali ke kelas setelah melipat surat itu.
Di saat jam istirahat kedua,Joni mendatangi salah satu teman gadisnya bernama Via. Ia meminta tolong Via untuk melakukan sesuatu.
Joni meminta Via untuk menulis Surat sesuai arahannya. Via pun menyanggupi permintaan Joni dengan imbalan Joni akan membantu Via dalam menjalin kedekatan dengan Niel.
Joni menyimpan surat buatan Via di saku baju seragamnya. Sementara Joni meminta Via untuk menyimpan Surat yang dibuat Arjun. Joni melarang Via untuk membaca surat yang Ia titipkan padanya.
Dan saat Jam pelajaran terakhir,Joni meminta ijin pada Guru untuk pergi ke Toilet. Dan inilah saatnya bagi Joni memulai Aksinya. Joni ternyata tidak pergi ke Toilet melainkan pergi ke Halaman Parkir. Ia menyelipkan Surat yang dibuatnya ke sepeda Niel dan melakukan Suatu Hal.
Di saat sore hari, di saat jam Pulang Sekolah,Niel mendapati Ban sepedanya kempes,Ia terkejut saat mengetahui dop sepedanya telah rusak. Seseorang telah mencongkelnya menggunakan cutter yang Ia temukan di bawah pedal sepeda.
Tak sengaja pandangannya menangkap selembar surat yang terjepit di Rem. Ia pun mengambil dan membacanya.
Niel memukul sadel sepedanya sebagai Luapan emosi setelah tahu siapa yang membuat ulah ini. Niel tidak menyangka Arjun akan berbuat senekat ini gara - gara Ia tak kunjung merespon surat - suratnya.
Selama ini Niel merasa dirinya dalam dilema. Niel ingin sesekali menemui Arjun ,Namun keberadaan teman - temannya seolah - olah menyita waktunya,terlebih akhir - akhir ini Niel mulai berlatih untuk mengikuti Perlombaan Olimpiade Mata Pelajaran,dan kali ini Niel akan ikut Olimpiade setingkat Provinsi.
Niel terpaksa menuntun sepedanya menuju rumah. Niel masih memaafkan ulah Arjun kali ini. Beruntung ada salah satu tetangganya yang lewat di jalan. Niel meminta tolong pada Orang itu untuk membonceng ke Rumah sekaligus membawa sepedanya.
Niel tampak lesu di sepanjang Perjalanan. Ia masih tak menyangka Arjun bisa senekat ini pada dirinya. Niel sampai tak habis pikir.
***
Keesokan harinya,Niel meluapkan Kekesalannya di kelas. Niel tampak emosi mengingat ulah Arjun yang telah merusak sepedanya.
Joni menahan teman - teman lainnya untuk menenangkan Niel. Ia sendiri yang bertindak untuk menenangkan Niel.
Joni menahan Niel yang hendak menendang Kursi sekali lagi.
“Niel,kawan,tenang. Mengamuk di kelas malah akan menakut - nakuti teman - teman sekelasmu “,
“Hah ! Tidak peduli ! Anak itu tidak kasihan sama sekali padaku “,
“Benar sekali. dia tidak kasihan padamu ! Kenapa juga kau tidak memberinya pelajaran ? “, Joni seolah - olah semakin memancing emosi Niel,
Niel menatap tajam Joni”Untuk Apa Aku memberi pelajaran pada Anak Pengecut itu ? Salah - salah Aku malah membuat reputasiku hancur di sekolah ini”,
“Seorang Anak pengecut tidak mungkin berani berbuat senekat itu. Kau masih memandang Anak itu sebagai Anak yang lugu ?
Sementara Kita tidak tahu dia mungkin mulai bertindak melakukan hal yang akan membuatnya mendapat perhatian darimu dan malah akan mempermalukan dirimu.
Tunggu,Niel. Mungkin ada yang salah dengan Anak itu ? Jangan - jangan Ia punya Niat lain melakukan semua ini terhadapmu. Kita tak tahu tentang perasaannya”, Joni mendekatkan wajahnya ke bahu Niel”,
Atau Justru ternyata Ia punya kelainan yang membuatnya kebingungan,tidak tahu harus berbuat hal yang tepat terhadapmu ?”,
“Maksudmu ? dengan menduga dia punya kelainan ?”,
“Mungkin saja dia punya kelainan seksual dengan mempunyai Rasa Ketertarikan tak wajar padamu,Seorang “,
“Homoseksual Maksudmu ?”,
“Bisa jadi! Karena Kau tidak pernah melihat seperti apa yang kulihat. Dia selalu menatapmu dengan maksud tatapan yang aneh setiap kali menatapmu”,
“Jadi kau pikir Anak itu punya Bibit Jiwa - Jiwa Homoseksual ?”,
“Dugaan saja, Niel. Tapi dengan melihat sikap dan gesturnya saat melihat dirimu,dugaanku seolah - olah diperkuat ! dia terkadang senyum - senyum sendiri padamu,Aku takut dia membuat fantasi konyol tentang dirimu.
Dia terkadang tersenyum sendiri di awal melihatmu,kemudian berubah murung setelah selesai melihatmu “,
“Sepertinya Aku perlu percaya padamu”,
“Jadi Kau akan memberi pelajaran Anak itu secepatnya ?”,
“Aku merasa jijik pada Anak itu setelah mendengar Ceritamu barusan. Tapi Aku akan memberinya Pelajaran padanya suatu saat,tidak sekarang,Aku sedang mempersiapkan diriku untuk menghadapi Olimpiade besok”,
“betul kawan ! Tidak usah terlalu dipikirkan,Aku akan selalu siap Jika kau ingin mengajakku memberi pelajaran Anak itu”,
“Okey baiklah”,
Bel Jam pelajaran dimulai. Semua Siswa duduk di kursinya masing - masing. Joni duduk dengan raut wajah yang Bahagia dan senyum puas. Pelan - pelan Aksi yang Ia lakukan terhadap Niel mulai berhasil .
...
Sincerely,
Salaam - E - Dostana
Fajar Adi
Komentar
Posting Komentar