Salaam E dostana Bab 2

Siang hari,Saat makan siang,Tiga sekawan ini sudah menyelesaikan makan siangnya. Niel menyalakan handphonenya untuk memeriksa Apakah ada pesan masuk.

Marvin menghabiskan minumannya perlahan. Arjun kembali bengong setelah selesai makan. Tatapan sayunya menjadi pertanda Ia sangat merasa kelelahan.

Sepintas ,Niel melirik Arjun yang bengong. Ia tahu apa yang terjadi pada Arjun. Niel menaruh Hpnya di atas meja.

“ Aku yang akan mentraktir kalian Siang ini,Teman - teman “,

“ Oh terima kasih,Niel. Aku hampir saja meminta transferan Uang Ayahku untuk bulan ini”,Kata Marvin bernafas lega.

Nie merangkul Arjun. Ia mengusap lengan Arjun,dan berharap bisa memberi sedikit hiburan.

“Aku tahu Kau sudah berjanji untuk mentraktir kami untuk makan siang kali ini. Tapi karena Sesuatu yang di luar dugaan terjadi, Aku saja yang memenuhi janjimu kali ini,

Ngomong - ngomong,Apa makananmu terlalu asin ? Sehingga membuatmu tak terlalu menikmati makan seperti ini ? 

Atau Kau kecewa Marvin tak duduk di sampingmu karena kau bisa lihat tempat ini sangat ramai ?”,

“ Niel, perhatikan keadaan Arjun !”,

“ Kau tak keberatan Jika aku sekali saja mengeluh padamu,Niel ?”,tanya Arjun dengan perasaan yang masih gundah.

“ Oh Ayolah,Teman. Aku dan Marvin merasakan Apa yang kau rasakan. Kami selalu mengadukan masalah kami padamu. Tapi kau selalu bersedia mendengarkan kami.

Katakan Apa yang mau kau katakan. Tak ada salahnya,dan ini bisa menjadi saat yang tepat”,

Marvin tergerak menggeser kursinya,beralih ke samping Arjun.“ Akan ada saatnya Seseorang kehilangan Sedikit daya dan gairah hidupnya saat menghadapi masalah. Aku melihatmu tak bersemangat dari tadi,Arjun “,

“Aku lelah,Teman - teman “, Mata arjun berkata - kaca 

Niel merangkul Arjun lebih erat.
“ Kakak Indra ?”, Tanya Niel melirihkan suaranya tanpa menghentikan Usapan tangannya pada lengan Arjun.

“ Ya. Aku tidak tega melihat keadaannya,sebenarnya.
Seumur hidup baru kali ini Kami mendapat musibah seperti ini “, Arjun mengedipkan Matanya,berusaha menurunkan rasa sedihnya,

“Ini di luar dugaan kita “, Kata Niel masih terdengar lirih 

“ Semoga Kakak lekas membaik. Semoga Duka ini segera berakhir,Aku juga tak bisa mengeluarkan diriku sendiri dari Rasa duka ini “, Marvin menepuk bahu Arjun,

“Aku merasa lega Kakakku bisa tertidur pulas tadi malam. Aku menunggunya semalaman di ruang IGD,bersama Ibu”,

“ Aku khawatir Kau akan lemas Jika kau tak menghabiskan makananmu. Kau mau aku suap ? Atau Marvin yang akan menyuapimu ?”, Niel berusaha ikut menurunkan Rasa sedih Arjun dengan sedikit melontarkan Canda.

Arjun menoleh ke Arah Wajah Niel. Niel tersenyum dan mengangkat alisnya.Mata Arjun masih berkaca - kaca. 

“ Waktu akan berhenti berputar Jika Kesedihanmu dengan ajaibnya membesar, merasuki jiwa setiap orang hingga menyelimuti Bumi ini. Aku tahu saat ini adalah Saat - saat sulit “, Niel mengubah mimik wajahnya”, Aku sangat merasa bersalah padamu di saat itu. 

Aku tak ingin melihat Kau mendapat Kesedihan lain yang melemahkanmu,meski sebentar saja. Kita ke rumah sakit setelah ini”,

Arjun kembali ke piring makanannya. Arjun terkejut melihat Marvin yang telah siap dengan Sesendok nasi. Hampir sendok menyerempet Bibirnya. Marvin berniat menyuapi Arjun.

“ Buka mulut. Kereta bersiap masuk tenggorokan “, Marvin menyuapi Arjun seperti menyuapi Anak Balita.

Perlahan Arjun melahap suapan Marvin. Marvin merasa lega Arjun bersedia kembali makan.

“ Syukurlah,,Niel. Kupikir Kita tak perlu memberinya Sirup penambah Nafsu makan “, Marvin sedikit mendekatkan Wajah Arjun. Arjun tersenyum haru.

“Aku akan membelikan minuman lagi untuk Kita “,

Niel berdiri kemudian pergi ke Stand Penjual minuman.

“ Bilang padaku Jika makanan ini terlalu Asin atau Manis,Aku akan komplain kepada Penjualnya. Aku juga perlu punya keberanian seperti itu,Seperti yang biasa kau lakukan untuk Kami “,

Arjun merasa sedikit lebih baik menerima perlakuan dari Sahabatnya “ Kau juga bersedia belajar tentang Kecerewetanku ?”,

“ Oh jangan. Niel akan menghadapi dua masalah.. Aku melihat dirinya terkadang kewalahan mengatasi dirimu “,

“ Tapi Kau tak pernah berpikir tentang Seberapa keras Aku membantu Kalian berpikir mencari solusi untuk setiap masalah kalian ?”, Tanya Arjun merendahkan Suaranya,

“ Aku merasa itu di luar kemampuanku. Kami merasa beruntung punya Sosok teman seperti dirimu”, Marvin kembali menepuk Bahu Arjun “,Sepertinya Kau sudah merasa lebih baik ?”,

“ Jauh lebih baik Saat Aku sadar Aku berada di antara kalian. Terima kasih “, Arjun mengangguk pelan sebagai tanda rasa hormat untuk Sahabatnya. 

Panggilan masuk membuat Telepon Arjun berdering. Ia segera menjawab Panggilan itu. Niel kembali dengan Tiga Gelas minuman dingin. Marvin merapikan piring dan meja yang ada di atas Meja.

“ Arjun,Kau di mana ?”, Tanya Pak Yudi,Ayah Arjun di seberang telepon.

“Aku sedang bersama teman - teman,Ayah. Ada Apa ?”,

“ Jika kau tak sedang sibuk,Tolong ke Rumah Sakit sekarang “,

“ Apa Kakak sudah siuman,Ayah ?”,

“ Iya. Tapi keadaannya sekarang “, Pak Yudi tak kuasa menjelaskan Keadaan,yang terjadi pada Indra,kepada Arjun ”, Kumohon cepat datang ke Rumah Sakit sekarang”,

Arjun mendapat firasat buruk dari Apa yang Ayahnya sampaikan. Setelah mematikan telepon,Arjun meminta Marvin dan Niel mengantarnya ke Rumah Sakit.

“ Kakak sudah siuman. Ayahku memintaku ke Rumah Sakit sekarang . Aku takut, Niel. Aku merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Jika tak keberatan …”,

“ Tidak perlu meminta pada Kami lagi,Teman. Kami sudah siap,selalu dan kapanpun “, Niel membantu Arjun berdiri 

 “ Kita ke Rumah Sakit,secepat Mungkin “, Marvin juga ikut berdiri,

Tiga sekawan ini segera bergegas ke Rumah Sakit. Arjun berusaha mengatasi Ketakutan yang kembali dirasakannya. Mereka memacu laju motor mereka dengan kencang.

Tiba di Parkiran Rumah Sakit, Arjun langsung berlari ke Ruang IGD. Indra baru saja dipindahkan ke Ruang Rawat Inap setelah Ada salah satu Pasien lama yang keluar. Arjun bertanya ke mana Kakaknya dipindahkan.

Arjun segera berlari ke Ruangan tempat di mana Kakaknya dirawat. Niel dan Marvin mengikuti Arjun. Ketskutsn Arjun semakin memuncak,seperti menyesakkan dadanya.

Saat sudah mendekat Ruangan dimana Indra dipindahkan,Arjun mendengar kegaduhan dan teriakan Seseorang. Ini adalah teriakan kakaknya.

Ketakutannya benar terjadi. Ia mendapati Pemandangan yang kacau disebabkan oleh Kakaknya. Indra mengamuk di Ruangan ini. Tiga Orang perawat Pria ini hampir kewalahan menangani Indra yang sedang mengamuk karena depresi Akibat Kecelakaan kemarin. 

Indra memberontak ingin melihat Ivana terakhir kali, Ia sampai turun dari ranjang dan kembali mengamuk. Indra ingin melihat proses Pemakaman Ivana. Namun tidak bisa karena keadaan. Bu Nawang berusaha menahan tangis kesedihannya melihat ulah Putra sulungnya.

Arjun hampir merasa lunglai melihat keadaan Kakaknya. Ayahnya tak bisa berbuat apa - apa. Indra berusaha mencoba mencopot selang Infusnya. Ia mengabaikan Rasa nyeri yang terasa di sekujur badannya. 

Para Perawat mencoba mencegah Indra,,tapi Indra malah gelap mata memukul tangan perawat yang berusaha mencegahnya.

Mata Arjun spontan membasah. Namun dalam dirinya,Ia membangun kekuatan. Indra mendorong sekuat tenaga dua Orang Perawat ini. Arjun merasa inilah saatnya. Ia mengusap kedua Matanya sejenak.

Ia secepat kilat masuk ke Ruangan ini. Ia menyingkirkan dua orang Perawat yang berhasil berdiri. Semua orang terkejut melihat kehadiran Arjun. Tanpa Pikir panjang Arjun langsung mendekap Badan Indra,Bagaimanapun Keadaannya. 

Indra masih memberontak. Indra masih gelap mata. Tanpa memandang Siapa yang menahannya kali ini,Ia tetap melakukan perlawanan. Indra memukuli Badan Siapa Orangnya yang menahan dirinya.  

Arjun sekuat tenaga menahan Rasa Sakit dari Pukulan Kakaknya.

“ Kakak,Hentikan !”, Arjun berusaha meredam kekacauan yang terjadi pada Kakaknya. Arjun mengusap Punggung Kakaknya,dengan harap Indra bisa tenang. 

Hujaman Siku Indra ke Punggung Arjun membuat Arjun menggeliat kesakitan. Namun Arjun tetap menahan Rasa Sakitnya. Bu Nawang memecah tangis melihat Pergolakan kedua Putranya.

Arjun mempererat dekapannya. Namun tenaga Indra seolah - olah tak ada habisnya. Arjun merasakan tangan Kakaknya masih bergerak tak terarah. Arjun melepas dekapannya sejenak. Arjun memegang kedua tangan kakaknya. 

Tak sengaja mata Indra terbuka. Tak sengaja Ia mendapati Wajah Adiknya. Wajah Arjun yang basah.

“ Hentikan Kakak ! “, Arjun mendudukkan Indra di atas ranjang,dengan masih mencengkram kedua tangan kakaknya”, Aku disini,Kakak. Jangan membuatku ketakutan “,Arjun menyatukan Kedua tangan Indra dengan badannya. Ia kembali mendekap badan Kakaknya.

Arjun bisa merasakan Jantung Indra berdegup kencang. Arjun menggosok - gosokkan Kepalanya ke dada Kakaknya. Bayangan Wajah Arjun yang basah menjadi sugesti kuat untuk Indra menghentikan ulahnya. Tatapan Indra tampak kosong.


Arjun merasa kehabisan tenaganya. Badannya terjatuh,Namun Ia masih bisa menguasai badannya dengan berlutut di hadapan Kakaknya. Kesadaran Indra mulai kembali. Ia melihat Arjun dengan tatapan Sayunya.

“ Kakak,Aku disini,Kakak. Kakak, ingat adikmu ini, Kakak. Aku tidak akan meninggalkanmu,Kakak “, dengan Kata yang terbata - bata Arjun tetap berusaha menyadarkan Kakaknya. Indra Akhirnya bisa tenang.

Indra melihat Arjun berlinang Air mata. Tangan lemahnya perlahan menghapus lelehan Air mata itu. Indra berusaha mengangkat badan Arjun. Namun tidak bisa.

Kedua perawat ini dengan sigap menopang Arjun berdiri. Indra memandang wajah Arjun lama. Tangan Indra menghalau tangan - tangan Perawat yang menopang Arjun . Kedua Perawat ini melepas Arjun . Arjun terisak - isak dengan bayang - bayang Rasa cemas. 

Indra membuka kedua tangannya “” Kemari Arjun,kemari “, Sikap Indra kali ini membuat Arjun dan Semua Orang merasa lega.

Arjun memeluk badan Kakaknya. Ia memecah tangis ketakutannya. Indra mendudukkan Adiknya di sebelahnya tanpa melepas dekapannya. Bu Nawang sedikit mendekat ke Arah ranjang dengan perasaan lega.

Marvin yang larut dalam suasana haru ini spontan memeluk Niel dari samping. Niel menepuk perut Marvin dengan rasa Risih. Tapi mengusap lengan Marvin kemudian.

Indra mengusap kening Arjun “Ssh,Ssh,Ssh. Sudah Arjun. Sudah. Maafkan Aku”, Indra menyibak rambut Arjun kemudian mencium kening Adiknya “, Maafkan kakak “, 

Arjun masih enggan untuk melepas dekapannya“ Kakak sudah baik - baik saja ?”, tanya Arjun mendapati suasana Wajah Kakaknya dengan binar - binar trauma yang tersamar.

“ Ya. Jika itu bisa membuatmu tenang “,

“ Aku berharap Kakak benar - benar sudah merasa tenang “, Kata Arjun sedikit merengek ketakutan.

Indra menggenggam Tangan kiri Arjun,kemudian mencium tangan itu. Ini adalah tindakan Indra,sejak mereka kecil, untuk menenangkan Adiknya.

“ Aku tak sepenuhnya bisa. Kau tahu apa yang aku rasakan “,

“ Setidaknya kakak berhenti memberontak,bisa membuat semua orang tenang “,

Indra mendapati Ibunya berdiri di ujung ranjang. Ia melihat Bu Nawang dengan pakaian serba hitam. Bu Nawang mencemaskan dirinya.

Indra berusaha berdiri. Kedua perawat ini berjaga - jaga. Arjun menopang badan Kakaknya.

“ Ibu “, Panggilan dari putra sulung terdengar lemah. Dengan berjalan tertatih,indra berjalan mendekati Ibunya. Sesekali menahan Nyeri di kakinya. Indra menghadap Ibunya.

Indra perlahan menghapus air mata Bu Nawang. 
“ Ibu,aku sudah membuatmu dan Arjun ketakutan. Aku merasa berdosa dengan ulahku bosan. Ibu,jangan marah padaku,Ibu. Aku gagal membawa Ivana pulang ke rumah.

Dia sudah meninggal Ibu”, Kata Indra dengan mimik wajah datar,tatapan Mata Sayu dan Perasaan yang telah hancur “, Jika ini kesalahanku,aku ttak melarang Ibu untuk menghukumku “,

“ Tidak Anakku. Jangan Bicara seperti itu “, Bu Nawang langsung memeluk Indra.

Bu Nawang dan Arjun mengantar kembali ke ranjang. Bu Nawang mengusap wajah Indra. 

“ Ibu,biarkan Arjun menemanikuu di sini. Aku tak ingin Arjun pergi”, 

“ Aku akan ke rumah Ivana“,

Indra membuang muka “ Jika Orang tua Ivana berniat menghukumku dengan membawaku Polisi, Aku bersedia Ibu. Ini kesalahanku “, Indra berusaha menghadirkan Rasa Ikhlas dalam dadanya.

“ Aku akan membujuk mereka,Anakku. Jika memang sulit dilakukan, Aku akan berdo’a pada Tuhan. Semoga Yang Maha Kuasa berkenan meluluhkan hati Orang tua Ivana . Tidak Ada yang bisa menghalangi do’a Seorang Ibu “,

“Aku pasrah pada keputusan Ayah dan Ibu “, Indra menepuk paha Arjun “, Arjun, temani Aku di sini “,

Niel dan Marvin masuk ke ruangan ini. Indra mengetahui Kehadiran mereka,

“ Kalian mengantar Arjun kemari ?”,

“ Ya. Kakak. Arjun sangat mengkhawatirkanmu,Kakak. Begitu Juga kami “,

“ Aku akan memulihkan diriku pelan - pelan. Kalian temani Aku di sini. Aku tak mau sendiri di ruangan ini”, 

“ Baik Kakak “, Jawab Marvin melepas Tas ranselnya kemudian menaruhnya di sofa yang ada di belakangnya.

Malam Harinya,Indra merasa keadaan tubuhnya berangsur membaik. Matanya terbuka setengah jam yang lalu. Ia berusaha untuk bangkit duduk. Meski di bagian Bahu dan Punggung masih lumayan Nyeri,tak menghalangi niatnya untuk duduk.

Ia duduk di tepi ranjang. Udara luar masuk melalui ventilasi udara,terasa sama dinginnya dengan temperatur AC yang mendinginkan ruangan ini. Seiring kesadarannya kembali penuh, terasa rasa trauma tak mau memberi celah untuk Indra merasakan ketenangan.

Memori Kronologi kecelakaan terulang di benaknya,Teriakannya mendapati Ivana yang telah kehilangan Nyawa, Rasa bersalah yang mendalam kembali menyesakkan Rongga dadanya. Ruangan ini terasa Sepi, hanya Indra sendiri.

Sesekali terdengar derap langkah orang - orang menyusuri koridor rumah sakit. Rasa trauma seperti memutar ulang tragedi yang baru saja ia alami, membuatnya tak biisa apa - apa. Sekujur kedua kakinya masih terasa lemah. Ia masih belum yakin menggunakan kakinya untuk berjalan.

Indra hanya terdiam. Memang tatapan ciri khasnya adalah Tatapan Mata yang sayu. Tapi baru kali ini tatapan seperti itu menggambarkan dirinya seperti tanaman layu. Ia merasa tak perlu lagi untuk meneriakkan kesedihannya, Penyesalannya dan Rasa bersalahnya. 


Indra dibuat lemah untuk meratapi nasibnya sekali lagi. Ia benar - benar tak berdaya dan pasrah. Ia hanya bisa diam,tapi tidak dengan Batinnya yang terasa berteriak - teriak,  mencoba untuk memberikan dorongan dirinya untuk meratap. Kesedihan tetap ada di hati.

Pikirannya membuat Khayalan tentang Pemandangan Orang - orang menggotong Peti Mati dengan Jasad Ivana terbaring sudah tak bernyawa di dalamnya. Diikuti Orang - orang mengantar Ivana ke Peristirahatan terakhir.

Tragedi ini sudah ditakdirkan terjadi dan berhasil mengguncang dirinya. Mata Indra membasah dengan Penyesalan,tak bisa mengiringi Pemakaman Ivana.

Dalam lubuk hatinya berharap, Jika Ada satu Dzat saja yang bisa mampu mendengar harapannya, Jika Bumi yang belum bisa Ia pijak,berkenan mendengar Harapannya.

Jika Udara di atmosfer langit itu bisa mendengar Harapannya,tapi karena ketidak berdayaannya belum bisa merasakan segarnya udara. Jika saja Semesta mau mendengar Harapannya,Ia hanya ingin sekali saja Ruh Ivana bisa menemui dirinya setidaknya untuk memberi salam perpisahan.

Jika ada Satu Dzat saja bisa mendengar Harapannya. Tapi Tuhan Maha Mendengar !

Seseorang masuk ke dalam ruangan ini,Arjun mendapati Indra sudah bisa duduk di ranjang. Ia merasa senang.

Arjun masuk membawa satu Tas berisi Makanan dan Minuman yang diantar Marvin di Halaman Rumah Sakit.

Arjun menuang teh dari Termos kecil ini. Indra tetap bergeming dengan tatapan kosongnya. Arjun menyiapkan dua cangkir teh. 

“ Aku gagal. Aku gagal menemui Ivana untuk terakhir kali “, Kata - Kata Indra membuyarkan Prasangka Baik Arjun bahwa Kakaknya sudah membaik “, Usahaku gagal untuk datang ke Pemakaman Ivana “,

Arjun duduk di samping Indra dengan secangkir teh untuk Indra “ Ayah dan Ibu sudah mewakili Kakak Ke Rumah duku “,

“ Apakah Rasa duka di rumah sana sama dengan Apa yang kau rasakan sekarang ? Aku tak bisa merasakan apa - apa lagi selain membiarkan diriku tak berdaya “,

Arjun tertunduk lesu,tapi Ia tak mau larut dalam keluhan Indra “ Minum teh,Kakak ? Ini buatan Ibu yang diantar Marvin “,

Indra menghela nafas “ Yah. Setidaknya Aku bisa merasakan secangkir teh hangat “, Indra melihat Adiknya. 

Indra menerima teh ini kemudian meminumnya dibantu oleh Arjun. Kehangatan Teh ini memberi sugesti  positif untuk Indra tersenyum samar. 


“ Mintalah Apa saja yang bisa membuatmu lebih baik,Kakak. Aku Adikmu. Aku tidak bisa menolak Permintaanmu “,

“ Aku tidak mungkin memintamu untuk membuat Ivana hidup kembali. Aku merasa lancang Jika Aku menganggap Adikku sebagai Tuhan,

Bahkan Aku tidak bisa meminta permintaan itu dihadapan Tuhan sekalipun ? Bagaimana Dia menghancurkan hidupku setelah Aku mendapatkan Perasaanku yang telah hancur ?”,

Arjun menghapus titik Air mata di kedua  Ujung Mata Indra “ Jangan berkata seperti itu,kakak. Jangan berkata yang mungkin membuat Tuhan akan meninggalkan dirimu, sementara Dia masih membiarkanmu bernafas. Masih memberimu kehidupan.

Aku takut sekali Jika Aku sampai kehilangan dirimu,Kakak. Jika Ayah dan Ibu nanti sudah tiada,Aku akan bersama siapa ? Aku tidak mau lancang menyela Rasa Duka kehilangan Kakak Ivana dengan membuatmu memikirkan perkataanku ini

Tapi “, Arjun mengusap Punggung tangan Indra “,Aku takut musibah kali ini akan menghancurkan dirimu selamanya. Tuhan Maha Kuasa, Kita bisa berdo’a pada-Nya untuk memberi kekuatan Pada KIta “,

Kata - kata ini membuat Rasa bangga dalam hati Indra “ Aku sudah merasa kuat,Arjun “, Indra merangkul Arjun “, Aku sudah merasa kuat sejak dulu. Sejak Aku mulai merasakan cinta dari Ivana.

Sejak Aku melihat Kehadiran Ivana diterima baik di antara keluarga Kita “, Indra menatap Mata Arjun “, bahkan Aku merasa kuat saat Aku terpaksa mengakhiri Rasa cintaku pada Ivana dan mengubahnya Rasa Sayang pada Ivana sebagai Sahabatnya,bukan sebagai Kekasihnya lagi.

Aku merasa Tuhan tak pernah meninggalkan diriku. Tidak untuk sebelum bersama Ivana. Tidak untuk waktu setelah lima tahun bersama Ivana. Lima Tahun bukan waktu yang singkat.

Tuhan tidak pernah meninggalkanku di berbagai keadaan “,

“ Bahkan ,Andai saja Kau Kehilangan Adikmu,pergi dari dunia ini ?”, Arjun membangun keberanian untuk mengalihkan Kesedihan Indra karena kehilangan Ivana “,  Apa kau juga akan berpikir Tuhan menghancurkan hidupmu dengan mengambil diriku darimu,Kakak ?”,


Indra membelai pipi Arjun “ Kau bermaksud memberiku pilihan sulit di tengah suasana duka ini ?”,Indra sedikit merendahkan Pandangannya.

“ Aku hanya ingin menghiburmu walau sedikit saja,kakak. Meski Aku tak bisa merubah perasaanmu sepenuhnya dalam suasana duka ini dengan sekejap “,

“ Kau bertanya tentang perasaan kakakmu ini, Arjun ?”.

Arjun mengangguk pelan dengan perasaan sedikit putus asa.

“ Aku tahu Tuhan sedang mengujiku dan Kau bertanya tentang Perasaanku setelah lima tahun Aku jaga dan terpaksa Aku ubah menjadi Rasa yang tak lebih baik dari sebelumnya hingga mendapat Musibah ini ?”, Indra menghelas nafas “, Oh ini tentang waktu lima tahun lamanya.

Aku menjadi Anak Tunggal Ayah dan Ibu sampai Umurku lima tahun. Aku merasa menjadi Orang paling bahagia saat Aku menyaksikan Ibu hendak menyusuimu saat kau menangis,beberapa jam setelah kau lahir.

 Aku membayangkan, Apa Aku seperti itu juga saat Aku baru lahir di dunia ini  ? Tapi, Jangan kau minta padaku untuk menghapus perasaanku pada memori hidup selama lima tahun bersama Ivana “.

Arjun melihat kakaknya,kemudian menggeleng satu kali.

“ Selama 5 tahun,Aku menimangmu di gendonganku saat Aku ingin bermain denganmu. Saat Aku merasa tangisanmu tak kunjung selesai,Aku meminta Ibu untuk memberikan tubuhmu untuk aku gendong.

Aku membantumu belajar berjalan. Aku takjub kau cepat bisa berjalan. Aku juga menenangkanmu setiap kau  menangis setelah terjatuh. Aku bahkan belajar pada Ibu untuk membuat susu di botol dot “, Kata - kata Indra ini malah perlahan menumbuhkan Rasa haru dalam diri Arjun. Indra merangkul Arjun “ untuk berjaga - jaga Jika Ibu tidak di rumah.

Selama 5 tahun,Aku menikmati masa - masaku bersekolah dan Aku bahagia sekali saat mengantarmu masuk TK. Kau selalu bandel Jika Aku ajak pulang, kau terlalu betah bermain perosotan saat itu “,Indra mencubit Hidung Arjun “, Aku menikmati saat - saat Aku menyuapimu di saat Kau sakit. Aku bahkan menemanimu tidur sampai kau  sembuh.

Selama 5 tahun, Ya, Aku bercerita sudah panjang lebar. Tapi Aku bangga menyaksikan dirimu bisa masuk ke salah satu sekolah Favorit di kota ini,sekolahku juga. Aku bangga bisa mengajarimu banyak Hal.

Aku bangga bisa membimbingmu mengerjakan PRmu. Tapi Ada satu saat yang tak lebih sama menyenangkan di dalam hidupku. “,

“ Apa itu,kakak ?”,

“ Kau bertanya bagaimana perasaanku Jika saja Aku kehilangan dirimu ?”,

“ Iya “,

“ Kau tak tahu perasaanku saat Aku menyaksikan tubuhmu tertabrak mini bus,saat menyelamatkan Niel dulu ? Itu terjadi di depan mataku sendiri.

Dunia seakan runtuh ! Dunia seakan berakhir ! Aku merasa takut sekali Jika Aku sampai kehilangan dirimu. Aku sudah menyaksikan Penderitaan Adikku mendapat bully-an dari Orang satu sekolah ditambah Musibah menimpa dirinya yang malang.

Kau tak pernah menebak Apakah Aku berpikir Bahwa Apa Tuhan tidak Adil padaku dan Adikku  saat itu  ?”,

Pertanyaan ini sontak membuat Arjun memeluk Indra. Dalam Rasa Haru yang tak bisa dijelaskan. Indra mengusap kepala Adiknya. Arjun menahan tangisnya.

“ Tidak Arjun. Tidak. Tuhan Maha Penyayang. Aku membesarkanmu dengan penuh Kasih Sayang. Aku akan menuai apa yang Aku tanam “,

“ Iya,Kakak. Kau benar. Jangan Khawatir. Aku akan selalu bersamamu “, Arjun mempererat pelukannya.

Indra merasa perlu mendekap Arjun dengan erat. Tapi Saat Indra mendekap badan Adiknya dengan segenap perasaan.

“ Arrgh ! “, Arjun mengerang kesakitan. Ia terlena dalam pelukan Kakaknya hingga Ia lupa menahan rasa sakitnya. Kedua tangan Indra menekan kuat punggungnya,terlebih pada bagian bekas hujaman siku Indra.

“Arjun,Ada apa ? Apa barusan Kau berteriak ?”,

Arjun merasa tak bisa berbohong pada kakaknya “ Iya Kakak”,

“ Kenapa ? Kau berteriak seperti Orang kesakitan ?”,

“ Tidak Apa - apa,kakak “,Arjun membuang muka. Ia tidak bisa menyembunyikan Rasa Nyeri yang muncul lagi.

“ Ada Orang yang sudah menyakitimu ? Bilang padaku siapa dia ? Aku akan menemuinya besok,Ia sudah berani menyakiti Adikku “,

Mata Arjun membasah,tetap bergeming sementra Rasa Nyeri di punggungnya semakin menyakitkan. Indra menghadapkan wajah Arjun padanya.

“ Kau hampir menangis. Pasti Kau menyembunyikan Sesuatu dariku ?”,

“ Kakak ingin tahu sebenarnya ?”,

“ Iya. Katakan semuanya Jika ada yang berani padamu,Aku akan memberinya pelajaran “,

“ Baiklah. Aku tiba di Rumah sakit saat kakak mengamuk di ruangan ini. Aku melihat dua perawat mencegahmu. Mereka kewalahan menanganimu. Aku melihat sendiri kakak mendorong dua perawat itu.

Aku merasa tidak ada orang lain yang mampu menenangkanmu selain Adikmu sendiri “, Kata - kata Arjun membuat Mata Indra terbuka lebar “, Aku langsung masuk ke dalam ruangan ini dan langsung mendekapmu.

Aku tak peduli Apa yang terjadi. Aku hanya berusaha semampuku untuk membuatmu tenang. Meski sulit rasanya dilakukan,tapi Aku tak menyerah.  

Rasa takutku memberi dorongan kuat untukku mengakhiri kekacauan yang kau buat. Aku tahu kau tak sadar diri, Tapi dalam pelukan kuatku,Aku selalu berdo’a pada Tuhan agar Semua kekacauan ini cepat berakhir. 

Aku tak ingin penderitaanmu berlangsung lebih lama meski Aku harus ikut menanggung resikonya. Aku takut sekali, kakak “, Arjun menunduk.

“ Jadi tubuh Orang yang aku pukuli setelah aku berhasil menumbangkan dua perawat tadi adalah Kau ?”,

Satu tetes Air mata jatuh dari kelopak mata Arjun. Arjun mengangguk dengan rasa lega tapi khawatir karena Indra  tahu semua pada akhirnya.

Indra memegang kedua Pipi Arjun kemudian melihatnya. Mata Arjun membasah “jadi orang yang aku hajar dengan Sikuku tadi kau ?”, Tanya Indra dengan mata bergetar,tangannya gemetar.

Arjun mengangguk. Indra merasa bersalah telah melukai tubuh adiknya.Arjun mulai terisak - isak merasa nyeri punggungnya tak tertahankan.

Indra menyadari keadaan Arjun. Tatapannya bergetar,Ia merasa terpukul Arjun menjadi  korban kekacauan dirinya. Korban amukannya.

“  Kenapa kau melakukan itu Arjun ?   Kenapa kau sampai mengorbankan dirimu sendiri ?  Aku tidak mau Jika kenyataannya seperti ini. Aku rasa duka ini menjadi lebih buruk setelah Aku  tahu semua ini ! “ , tanya Indra memegang Kedua lengan Arjun dan sedikit mengguncangnya. Ekspresi wajah depresi Indra  mulai muncul kembali.

Arjun hendak menenangkan Indra,namun Tangannya dipegang oleh Indra. Kemudian Indra memukul -  mukulkan 

Tangan Arjun ke wajah Indra. Perasaan Arjun semakin terasa pilu.

“ Jangan kakak. Jangan seperti ini. Aku sudah lebih baik. Kurasa rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa nyeri yg sedang kau rasakan “, Arjun menahan tangannya.

“ Untuk Apa aku sembuh kembali Jika ada Orang yang masih merasakan sakit karena penderitaan ini ?”,

Arjun menarik tangannya. Ia menghentikan ulah kakaknya.Arjun menahan tangannya.

“Aku adikmu,kakak. Kita ini saudara. Kita lahir dari darah yang sama. Tidak salah Jika kita berbagi rasa duka  karena Penderitaan. Jangan mengadu pada Orang lain yang belum tentu mau mengerti dan berempati.

Kita ini Kakak beradik,kakak “, Arjun sedikit mendekatkan wajahnya  “, Aku akan merasa berdosa Jika Aku tega mengabaikan penderitaan Saudaraku.Tuhan akan memperhitungkan baik buruk amalku dengan teliti.

Sudah kewajibanku untuk menutupi kesedihan saudaraku terutama Kakakku.Kita akan kembali pulih bersama - sam. Percayalah padaku, Semua akan baik - baik saja “,

Indra terdiam mendengar Perkataan Arjun. Ia menghentikan ulahnya.

“ Aku juga belajar untuk mempersiapkan diriku untuk menjadi tempatmu kembali meminta rasa kasih dan sayang setelah kita berdua sudah tua nanti. Cepatlah sembuh Kakak”, Arjun mengusap bahu kiri Indra “,  Do’akan Aku,Agar aku selalu diberi kekuatan “,

Indra memandang Arjun cukup lama. Ia tak percaya pada Apa yang Arjun katakan. Malam semakin larut. Indra melihat Arjun mulai kelelahan. 

“ Kau lelah Arjun ?”,

“ Demi kesembuhanmu,Aku bersedia mengabaikan Rasa lelahku,kakak. Aku akan selalu berjaga - jaga “,

Indra tersenyum samar. Ia berhati  hati dalam merangkul  Arjun. Arjun memasrahkan badannya pada Kakaknya. Arjun merasakan kehangatan pelukan Kakaknya telah kembali.

“ Maafkan Aku Arjun. Maafkan kakak “, Indra sedikit memijat lengan dan badan Arjun.

Arjun mengangguk.

“Kita ke terapis ? Setelah Aku pulang dari rumah sakit, Kau mau ?”,

Arjun mengangguk lemah,mulai dikuasai rasa Ngantuknya. Indra sedikit menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan,gerakan seperti menimang Bayi. Tangannya tak berhenti mengusap badan Adiknya.

Arjun mulia tertidur. Belaian  tangan Indra di kepalanya memberi rangsangan kuat untuk cepat tertidur.  Arjun mulai tampak  nyaman. Indra merasa  bangga pada Arjun.  Ia selalu mempunyai cara cepat dan tepat untuk mengatasi masalah Kakaknya.

Indra sedikit menyibak rambut di dahi Arjun,kemudian mencium kening itu. Sebagai pengantar Arjun untuk tertidur nyenyak. Indra melihat dua bintang bersinar di sekitar Bulan sabit di langit. Indra merasa nafasnya terasa lega.



****


Hari mulai beranjak petang,udara pun mulai dingin,bulan berbentuk sabit sudah berada di langit utara dengan beberapa saput awan yg berarak halus.Mereka berada di tempat itu sejak sore tadi,suasana begitu sunyi.Dari situ mulai terlihat pemandangan kota yang mulai menyala.

"Ada apa sayang?kau tampak begitu sedih,apa yang kau pikirkan?",tanya Indra pada ceweknya,Ivana.

"Ah tidak sayang,Aku tidak memikirkan apa - apa,aku nggak apa - apa....".Jawab Ivana agak gugup.

"Kau tampak gugup,ada yang kau sembunyikan?...atau makanannya kurang enak?".Lagi Indra bertanya pada Ivana.

"Makanannya Enak,kau sangat tahu tenang seleraku sayang,terima kasih",Ivana masih gugup dan mulai berkaca - kaca.

Indra dan Ivana saling bertatapan.Indra tampak ingin tahu apa yang terjadi pada orang yang ia sayanginya ini.Sedangkan Ivana tampak sangat gundah dan gelisah saat sesekali melihat Indra.

Perlahan Indra menggenggam tangan Ivana.Ivana pun memalingkan muka ke arah pemandangan kota di bawah sana.

"Kau lihat pemandangan kota itu Indra",Kata Ivana dengan gemetar.

"Iya"

"Aku sudah berkata untuk kesekian kali bahwa ini adalah tempat terindah untuk kita berdua menghabiskan waktu bersama.Aku selalu menikmati
saat - saat di tempat ini.

Aku sangat menyayangimu karena kau telah memilih tempat ini,Kau memilih tempat yang tepat sayang...".

"Emmh,berapa kali pun kau mengatakan kalimat ini,Aku tidak akan bosan mendengarnya.Karena Aku juga menyayangimu,kau bisa menikmati tempat ini.

Banyak orang mengharapkan bisa berada di tempat ini untuk menghabiskan waktu bersama,namun jarang ada yang bisa mendapatkan kesempatan itu,banyak orang selalu memesan tempat ini sampai mereka harus berebut untuk mendapat salah satu tempat saja.untunglah tempat ini punya temanku,

jadi kita bisa leluasa ke tempat ini kapan saja.dan khusus di kursi inilah temanku sudah memberiku hak untuk menggunakannya kapan saja,sampai ia tidak mengijinkan siapa saja yang memesan untuk kursi ini...".

"temanmu baik sekali,sayang.Karena dia kita selalu bisa menikmati sudut terbaik di tempat ini untuk melihat pemandangan seluruh kota.Aku selalu menikmatinya,tapi....".Ivana terdiam dan menunduk.

"tapi kenapa sayang?...".

"Indra,sayang,Maafkan Aku sebelumnya...".Mata Ivana masih berkaca - kaca.

"Maaf untuk apa Sayang?Kau tidak pernah berbuat kesalahan padaku...".

"Indra,entah sampai kapan lagi aku bisa menikmati keindahan tempat ini?entah sampai kapan lagi aku bisa menghabiskan saat - saat spesial di tempat ini bersamamu lagi?...".Ivana kembali memalingkan muka.

"Apa maksudmu sayang?....Memangnya kau mau ke mana?coba jelaskan semuanya,Apa kau akan pergi dari tempat ini,atau pindah tempat tinggal ke tempat lain?",



Di ufuk barat,Langit berwarna merah menyambut datangnya malam.

"Maafkan Aku Indra,Maafkan Aku...",Ivana menggenggam tangan Indra dengan sangat erat",Entah sampai kapan lagi aku bisa menikmati saat - saat menyenangkan bersamamu?entah sampai kapan?...".

Indra memegang pipi Ivana dengan halus,Ia melihat setitik air mata di sudut mata kiri Ivana"Ceritakan semuanya sayang....".

"Pulang dari Inggris sehabis tugasnya di sana,Ayahku memberi tahuku sesuatu tentang kedatangan seseorang.Seorang Pria rekan kerja Ayahku,Ia masih muda bukan seorang dari Inggris.Dia seorang pebisnis muda yang sukses.Ayah ibunya mempunyai perusahan besar di sini dan Inggris.Pria itu berhasil membawa Perusahaan Ayahnya yang di inggris ke persaingan Internasional.

Ayahku sangat salut dan kagum padanya,begitupun ibuku.Suatu hari Mereka mempertemukan Aku pada Pria itu,namanya Rangga.Dan Mereka berdua berencana menjodohkan Rangga denganku",Setitik Air mata pun mengalir begitu saja di pipi Ivana",

Rangga juga sudah bicara padaku bahwa Orang tuanya setuju tentang keputusan Orang tuaku...",Ivana menunduk",Aku sempat menolak keputusan ini dengan sehalus mungkin,karena Kuliahku yang belum selesai.

Namun,Ayahku juga berkata Beliau akan mengakhiri Kuliahku demi perjodohanku dengan Rangga.Karena Ayah akan membawaku ke Inggris bersama Rangga sebagai Jodohku....",

Ivana mulai tersedu - sedu.Indra pun terdiam.

"Aku sangat menyayangimu Indra,Aku sangat mencintaimu,Aku merasa Kau sudah menjadi bagian dari hidupku,Aku sangat berharap kita bisa bersatu namun...".

"Aku pun begitu sayang,Kau sudah seperti tulang rusukku".

"Namun,Ayahku memaksaku,Indra.Aku tidak bisa menolak keputusannya.Tapi Aku sangat takut pada keadaanmu setelah kau tahu kebenaran ini.Aku takut nanti kalau kau sampai....".

"Ivana,sayang,Aku lebih takut lagi kalau kau tidak bisa bahagia karena menolak keputusan Ayahmu.Suatu saat pasti kau akan menyesal,Mereka sangat menyayangimu dan mereka tahu bagaimana memberi kebahagiaan dengan jalan yang tepat,sayang..."

"tapi Aku tidak menyesal memilihmu sayang,Kau sangat menyayangiku...".

"Namun Aku akan menyesal jika aku jadi penghalang bagi kebahagiaan mereka untuk putrinya.Aku ingin kau bahagia,Ivana.Rangga adalah pilihan terbaik orang tuamu untuk dirimu ".

"Tidak sayang,tidak.Jujur Aku tidak bisa menerima keputusan ini,Aku hanya bisa hidup dengan dirimu dengan segenap cintamu,Indra.Aku tidak bisa hidup dengan orang lain.Aku hanya ingin hidup denganmu....".Ivana menggenggam erat kedua tangan Indra.

"Aku juga sayang,tapi Aku tidak ingin menghalangi kebahagiaan orang tuamu,Kau lebih pantas dengan 
Rangga".

"Kenapa kau bicara seperti itu Sayang?Apa kau tidak ingin bahagia bersamaku?".

"Bagaimana Aku bisa hidup bahagia bersamamu sementara Orang tuamu selamanya hidup dengan penyesalan mereka tidak bisa memberi kebahagiaanmu dengan jalan mereka?Apalagi kedua belah pihak sudah setuju.

Aku takut nantinya Aku menjadi sasaran kekecewaan orang tuamu sayang,dan selamanya akan membiarkanmu sendiri dengan melepas kasih sayang mereka untukmu,dan Kau jangan sampai merasa menyesal jika keadaan buruk terjadi di antara Aku dan Orang tuamu.

Sayang,Aku ingin melihatmu bahagia dengannya dan Orang tuamu akan baik - baik saja....".

"Tapi,bagaimana denganmu Indra?Perasaanmu?".

"Aku tidak apa - apa,Sayang.Aku hanya ingin kau bahagia....".

"Bagaimana dengan hubungan kita ini?sudah 5 tahun sayang,Kau selalu memberi apa yang ku minta,Kau selalu memberiku kebahagiaan dengan tulus,Bagaimana kita tidak bisa bersatu?".

"Walaupun kita tidak bisa bersatu,Aku ingin kau menganggapku sebagai Sahabat terbaikmu,atau kau bisa menganggapku sebagai bagian dari keluargamu....".kata Indra dengan mata yang basah.

Ivana memandang Indra dalam - dalam.Ivana tidak menyangka Indra akan berkata seperti itu.Ivana langsung memeluk Indra dengan erat.

"dengan menjadi keluarga kita bisa memberi kebahagiaan tanpa batas,Aku ingin kau bahagia Ivana....Kau bisa menganggapku sebagai Kakakmu.dan Hubunganku dengan Orang tuamu akan baik - baik saja...Bagaimana?".

"Kau baik sekali Sayang,Eh maaf,Kak Indra,mulai saat ini Kau kupanggil Kakak.

Besok Keluargaku akan membuat acara pertunangan kami,kuharap kau datang ke acaraku Kak.Kau harus datang..",Ivana melepas pelukannya.
"Aku pasti datang,tenang saja....".


Lalu,Indra pun mengantar pulang Ivana.Mereka berdua mengendarai Motor.Ivana sangat suka mengendarai motor.dan gerimis mulai menerpa bumi ini.Gerimis ini pun bertambah deras.Mereka tak menghiraukan hujan yang deras ini.

Namun,di sebuah tikungan menurun,tiba - tiba sebuah kendaraan dengan penuh muatan berbelok kencang dengan sorotan lampu yang menyilaukan mata.Dan naasnya,Kecelakaan diantara Mobil itu dan Motor milik Indra tak bisa dihindarkan.Benturan hebat terjadi,hingga keduanya terpental jauh.

Indra berusaha meraih tubuh Ivana yang tergeletak tak sadarkan diri.Tubuh Indra terasa hancur,Kepalanya berdarah dan darah mengalir dari bibirnya.Sekuat tenaga Indra merenggut tubuh Ivana.Ia mengangkat Ivana di pangkuannya.Keduanya basah kuyup.Indra memeriksa Ivana.

Tubuh Ivana tampak pucat lemas dan terasa dingin,Indra memeriksa hembusan nafas di hidung Ivana.Namun Ia tak mendapatkannya satu hembusan pun.

"TIDAAAAAAKKK......".Indra pun berteriak sekencang mungkin dan memeluk tubuh Ivana.Tangisnya pun tumpah.Hatinya seakan hancur seperti yang ia rasakan pada badannya saat ini.Harapannya telah sirna,begitupun cintanya.

"Aku sangat mencintaimu sayang,Aku ingin hidup bersamamu,Aku hanya ingin hidup bersamamu,Ivana.Tidak ada orang lain selain dirimu,Sayang.Dengarkan Aku sayang,Aku akan hidup bersamamu sampai mati.

Kumohon Ivana....Kumohon....".

Malam itu pun Indra kehilangan Ivana untuk selamanya.Orang yang sangat Ia cintai itu tak akan bisa kembali menikmati saat - saat di tempat yang selalu membuat Ivana tak bosan - bosan mengunjunginya.

....

"Dan seperti itulah semuanya,yang sebenarnya,Adik - adikku apa yang terjadi pada diriku".jelas Indra pada Niel,Marvin dan Arjun,"Ia telah menunggu di surga,Aku sangat mencintainya ",

"Menyedihkan sekali kakak",Marvin iba pada Indra,"Kakak yang sabar.Kakak sudah sangat bijaksana padanya ",

"Jadi Kak Ivana memilih Rangga daripada Kakak,hanya karena permintaan Kakak tentang kebahagiaanya  ? ",tanya Arjun melihat Raut wajah kakaknya yang merana

"Iya Arjun,Aku hanya ingin membuat hatinya bisa melepasku,Aku ingin memperingan bebannya.Aku mengalah untuk dirinya,Arjun".Mata Indra berkaca - kaca.

" Aku salut padamu,Kakak ", Arjun menyandarkan badannya ke Bahu kiri Indra

"Aku hanya ingin melakukan hal yang akan menjaga keadaan tetap baik - baik saja ",

"Tapi,Bagaimana dengan Hati dan perasaan kakak ? ", tanya Arjun mendekap lengan Indra

"Kau sudah melihat Kakakmu ini sudah sembuh,bukan ?",

" Iya. Tapi ...",

Niel menyela momen sentimentil kakak beradik ini " Tapi,Apa Arjun ? Ayolah,kakak sudah sembuh,pasti hati kakak juga sudah baik - baik saja. Hanya kau yang belum selesai dengan kecemasanmu,Kau terlalu banyak merasakan kecemasanmu Akhir - akhir ini ",

Arjun bangkit dari bahu Indra " Niel,Apa maksudmu ?",

" Oh,Apa kau punya maksud lain dibalik terus merasakan kecemasan terhadap Kakak ? Apa jangan - jangan Kau menyesal dan Iri karena kakak tidak mengajakmu kencan di Kafe itu ? ", tanya Niel mengejek Arjun,Indra tahu maksud Niel,Ia pun tersenyum samar.

" Apa ? Apa yang kau pikirkan,Niel ? Aku iri pada kakakku karena Ia hanya mengajak Kak Ivana kencan. Kau pikir ini Acara Piknik Keluarga ? Perlu kau tahu,Kakak diam - diam meninggalkanku saat Aku tidur siang setelah Aku menelfonmu ",

" Kenapa juga Kau harus tidur siang setelah menelfonku ? Apa ini kebiasaanmu sejak bayi yang masih kau pelihara ? ",

" Lalu,Apa maumu ? Kakak,Niel...", Arjun merengek di hadapan Indra

Marvin menepuk dahinya melihat Ulah Arjun dan Niel. Indra menutup mulutnya da menahan tawa ,tak mau ikut campur dalam Perdebatan ini.

" Lihat,Kakakmu juga mulai lelah menghadapi sifat manjamu ",

Arjun merasa gusar dan langsung duduk di sebelah Niel " Kau bilang Aku manja ? Kau terganggu dengan kebiasaan tidur siangku ? So,Katakan Apa maumu ? ",

" Ya ,Aku mengejekmu Manja ! ", Niel mendekatkan wajahnya dan menekan Nada bicara " Apa kau tidak punya kebiasaan selain tidur siang ? Aku sebenarnya ingin mengajarimu Hobi baru "*

" Hobi Baru ? apa itu ?",

" Main Game ! Sepertinya ini terdengar bagus daripada menghabiskan waktu dengan kegiatan Pasif ,Tidur siang contohnya "

" Bermain Game ? Kau tak kasihan dengan Marvin ? Kenapa kau juga tak mengajak Marvin bermain Game ?",

" Ada Apa dengan Marvin ? Ah ! Aku tak mau mengajak Marvin main game,Ia sulit menerima ajaranku bermain Game. Apa dia agak Tel-Mi ? ",

Pertanyaan Niel membuat Marvin penasaran,

" Tel-Mi ? ", Tanya Arjun mengernyitkan alisnya

" Tel-Mi ? Apa ini semacam kiasana ,bahasa gaul ,atau Akronim ? ",tanya Marvin penasaran

Niel melirik kedua Sahabatnya dengan lirikan Jahil "TELAT MIKIR !! ah,Bagaimana kalian berdua ini ? ",

Arjun menjepit leher Niel dengan sela sikunya. Niel mengerang kesakitan sambil tertawa puas. Marvin menggeleng kepala,menerima kejahilan Niel.

" Ampun,Arjun . Ampun. Aku tak bisa bernafas. Ampun tolong ",

Arjun bahkan menggelitiki Niel. Niel malah menggeliat tak karuan. Indra menarik - narik tangan Arjun,membuat Arjun menghentikan ulahnya.

" Jadi ini yang kau dapat dengan rajin bermain game ?",tanya Arjun melepas Niel dari tangannya.

" Game bisa mengajarimu untuk tidak memelihara Rasa cemasmu lebih lama Arjun. Kau mau ?",

" Tapi,Kau ternyata pintar memainkan kedua sahabatmu ,Niel",

"Aku tahu maksud Arjun,Niel ",

"Apa ?",

Arjun menyela" Berhenti Mengeluh pada Marvin setiap kau kalah bermain Game. Berhenti berhutang pada Marvin untuk top up - top up tak penting di Game-mu. 

Kau juga kadang hendak mengeluh padaku ,tapi kau selelu mengurungkan Niatmu,karena aku tahu maksud kelakuanmu itu ?",

" Tentu Arjun . Tentu ", Niel merajuk pada Arjun dengan memijit kedua bahu Arjun " Aku tidak mau menambahi beban pikiranmu dan menambah besar kecemasanmu. Ya Tuhan,Aku bersahabat dengan orang yang tak bisa lepas dari kecemasan "

" Kenapa kau tidak sekalian menambah beban Negara untuk sahabatmu ini ? ",

" Oh jangan. Kami berdua menjadi Bebanmu saja tidak membuatmu selesai dengan kecemasanmu. Apa lagi kau merasakan beban negara ini ?",

"Terlebih dengan Kau dengan Ajaibnya tiba - tiba bermain game,setidaknya akan mengurangi sedikit beban Arjun",

" Biarkan Marvin. Biarkan. Itu sudah kebiasaannya",

" Lalu bagaimana dengan Hutang Niel padaku ? Apa dengan Kau menyuruh dia berhenti bermain game dan mengajaknya tidur siang akan membuat Hutangnya padaku Lunas begitu saja ?",

Arjun dan Niel terkesiap,Mereka tak percaya Marvin akan mengeluarkan sindiran seperti ini. Marvin membuang pandangannya dengan gimmick seolah - olah tak terjadi apa - apa.

Niel merangkul Arjun " kupikir memulai kebiasaan tidur siang ada baiknya. Arjun,ingatkan aku besok untuk tidur siang. Okey ?",

" Tapi,aku tidak akan berhenti mengingatkanmu tentang hutangmu pada Marvin,setiap hari. Marvin bukan mesin ATM yang hidup bagimu. Aku juga tak sudi kau berhutang padaku. Pelajaran pentingnya adalah Sebelum Kau berhutang lebih baik kau menyediakan Agunan sebagai Jaminan ",

" Ah ! Ayolah ,teman - teman. Apa aku harus kugadaikan Hp ku untuk membayar hutang Marvin kemudian pulang ke rumah Arjun untuk tidur siang dengannya ?"

Marvin tertawa ringan " Bagus. Jarang sekali ada Gamer punya pemikiran seperti itu ",

Arjun tertawa,sedikit membenturkan kepalanya ke dahi Niel dengan rasa gemas. 

***

Siang Hari,Marvin mengajak Malika ke alun - alun untuk menghabiskan waktu Istirahat kuliahnya.Marvin menjemput Malika dari Kampusnya.Di Alun - alun kota,Mereka menikmati es buah yang Marvin belikan untuk mereka.

Mereka duduk dalam satu tenda,berhadapan.Mereka sangat menikmati cuaca panas ini dengan minum es bersama.

"Vin,jam kuliah kamu hari ini sudah selesai?".tanya Malika menyenduk esnya.

"Ya sudah sejak dua jam tadi,Aku menunggu kamu sampai jam kuliahmu selesai..".Jawab Marvin

"Kamu baik sekali,sampai repot - repot menungguku.Ada maksud apa ini?".

"Ah tidak ada apa - apa,Aku khawatir aja kalau nanti sampai ada yang mengganggumu lagi seperti kemarin petang.Aku tidak ingin melihat sahabatku ini sampai diganggu orang jahat...".

"Dan Akhirnya,Aku bisa berpikir bahwa dirimu bukan orang jahat,dan benar - benar jahat.bukan begitu?".

"Ya kalau kamu sampai beranggapan seperti itu,Aku akan berterima kasih padamu,Malika...".

"Emh,tenang Marvin.Kau orang yang baik.Aku yakin sekali kau orang yang baik....".

"Hari ini panas sekali,Bisa - bisa mukaku gosong ini...".

"Kalau muka mu gosong nanti lucu tau,biarin aja...".
"Eh....".

Lalu dua orang datang menghampiri dan mengganggu mereka.Malika tampak ketakutan,Rino dan seorang temannya yang datang.Rino marah pada keduanya.

"Ooh Bagus...Habis kau membuangku,kau sudah cari penggantiku.Dan sampai berapa lama kau menikmati anak ini...".Kata Rino membuat Malika gemetar hingga Ia mencengkram tangan Malika dengan kasar.

"Tolong Kak,jangan bersikap kasar pada cewek.Dia ketakutan ini,Kasian dia...".Marvin berusaha membela Malika.Namun Rino malah menghajar Marvin.Rino dan temannya menghajar Marvin.

Mereka pun berkelahi,Marvin berusaha membela diri sekuat mungkin.Karena Rino berbadan besar dia tidak cukup kuat untuk menandingi Rino.Malika berusaha keras memisahkan Rino.Namun sayang,Malika tak sengaja terkena ayunan tangan Rino dengan keras hingga terpental.

Dan saat Rino akan kembali melayangkan pukulannya ke arah Marvin.Tiba - tiba seorang langsung menahan tangan Rino.Orang itu Niel.Ia mendorong Rino sekuat tenaga hingga menjauh dari Marvin.

Dan teman Rino pun juga hendak menghantam Marvin,tiba - tiba Seseorang menjambak Rambutnya dari belakang dan memutar kepalanya.

"Apa yang akan kau lakukan pada Temanku ini?!!",Arjun pun langsung meluncurkan sikunya ke arah kepala temannya Rino dengan keras hingga ia kesakitan",Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya,"Langsung 
Arjun mengayunkan kepala orang itu hingga terkapar.Arjun pun menghajar orang itu.Sementara Niel berusaha menahan Rino.

Sayangnya,Rino berhasil lolos dari Niel.Dan langsung memburu Marvin dengan sempoyongan.Marvin terkapar tak berdaya.Rino pun kembali melayangkan pukulannya.Marvin pun tidak bisa berbuat apa - apa.

Dan Tangan Rino pun diblokade oleh Arjun yang mencengkram tangannya.
"Kau dendam dengan temanku ini?",Arjun membekuk tangan Rino dan meringkusnya yang tampak kelelahan",Seharusnya kau malu pada dirimu sendiri,Kau hanya pecundang yang iri pada Mantanmu,benarkan?!!",Arjun menyiku Ubun - ubun Rino dengan keras hingga tak bisa berkutik lagi",Temanku tidak bersalah,Pengecut!!.Kau tidak mampu menunjukkan ketakutanmu pada cewekmu itu,kan?".Arjun menginjak Punggung Rino hingga menempel tanah.Niel datang dengan tali rafia untuk mengikat tangan kedua pengacau itu.

Mereka langsung memanggil polisi di pos jaga yang tak jauh dari posisi mereka.Rino dan temannya berhasil diamankan.Arjun langsung menolong Marvin.Niel dan Arjun mengangkat tubuh Marvin ke atas kursi.Malika pun mendekati mereka dengan tubuh gemetar tak bisa berkata apa - apa.

Arjun berusaha memberikan pertolongan pertama pada Marvin.Niel berusaha menenangkan Malika.

"A..Ar..jun,Gimana Malika?",tanya Marvin terbata - bata.Sekujur tubuhnya terasa sakit.

"Ia tidak apa - apa bersama Niel di situ...".

"Syukurlah,Kawan".Badan Marvin pun lemas",Orang itu menghajarku...".

"mereka sudah kami amankan,Marvin."

"Bagaimana keadaan Marvin,Arjun?",Niel datang bersama Malika.

"Kita harus membawanya ke klinik,Niel...".

"Baiklah,Aku akan meminta pak polisi itu untuk membawa Marvin..".

Malika gemetar melihat Marvin.Ia tidak menyangka Marvin berani membela dirinya.Ia pun sangat yakin Marvin adalah orang yang baik.Marvin tersenyum ringan pada Malika.

"Aku senang kau tidak apa - apa Malika.Kau tidak perlu takut lagi...".

"Te te rima kasih Marvin...".


***

Arjun dan Indra menengok Marvin di rumah sore ini.Marvin belum sembuh setelah dihajar oleh Rino.Mereka masuk ke kamat Marvin dengan membawakan buah untuk Marvin.

"Bagaimana Dek keadaanmu?",tanya Indra duduk di samping Marvin.

"Dadaku masih sesak Kak,Orang itu menginjakku dengan keras...".

"Kau sangat berani,Marvin.Kakak kagum padamu.O ya Apa ia sudah menjengukmu hari ini?".tanya Indra mengusap dahi Marvin.

"Malika datang dua kali Kak hari ini"

"Baguslah Dek,kau harus banyak istirahat".

"Kak,Awalnya Malika beranggapan bahwa semua cowok itu penjahat karena Ia mendapat perlakuan dari mantannya.Setelah Aku bertanya bahwa Aku termasuk orang yang jahat kah tidak,

Ia ragu mengatakan bahwa Aku bukan orang yang baik.Namun setelah melihat kejadian ini,barulah Ia sangat yakin bahwa Aku benar - benar bukan orang jahat.Sekeras inikah aku harus meyakinkan hati seorang cewek seperti Malika?";

"Malika trauma menerima perlakuan dari Mantannya hingga ia beranggapan seperti itu,Dek.ini bukan masalah meyakinkan Seorang Malika bahwa kamu bukan seorang yang jahat,namun Kamu berjuang untuk menghilangkan trauma itu,Marvin dan memperlihatkan Malika bahwa masih ada cowok yang berbaik hati di dunia ini tak seperti mantannya kepada Malika.

Marvin,Malika cewek yang rapuh.Ia perlu seseorang yang benar - benar menjaganya tanpa mempermainkan perasaanya.Tapi Malika seorang cewek yang sangat percaya pada seseorang yang berbaik hati padanya dengan tulus,Adikku....".

"Iya Kak,Terima kasih sudah mengingatkan Adikmu ini Kak....".

"Ini sudah menjadi kewajibanku bukan?".

"Emh...".Marvin tersenyum pucat.

"istirahatlah Marvin,Kami akan menjagamu...".
"Baik Kak...".


***

Pagi itu,Niel sudah berada di stasiun kereta api untuk menjemput temannya.Ia menunggu di satu sudut stasiun.Niel datang agak awal,Suasana stasiun belum begitu ramai.Ia membeli segelas kopi untuk mengusir ngantuknya.

Kereta yang ia tunggu tiba jam setengah 8.Ia berjalan menyusuri pinggiran rel kereta api di stasiun itu.Sambil meneguk Kopinya,Ia melihat - lihat sekeliling stasiun.Niel mengamati jadwal keberangkatan kereta.Hawa udara masih dingin,Matahari mulai menampakkan sinarnya yang hangat.

Perlahan stasiun mulai ramai,Sirine sebuah rangkaian kereta dari arah timur terdengar menyela keramaian stasiun.Niel pun segera siap menyambut kedatangan temannya.Kereta pun berhenti,pintu gerbong pun dibuka.Seluruh orang pun mendekati kereta yang berhenti ini.

Banyak orang yang mulai keluar dari gerbong,Niel menelpon temannya memberitahu keberadaannya sambil melihat ke segala arah di antara banyak orang yang memenuhi stasiun ini.Ia berusaha berjalan mencari celah pelan - pelan.

Namun,tiba - tiba seseorang menabraknya hingga keduanya jatuh tepat di depan pintu gerbong.Seorang cewek dengan dua tasnya yang agak besar.

"Maaf Ya,Maaf....Aku tidak melihat jalan...".Cewek itu berusaha berdiri.

"Ah nggak apa - apa".Niel juga berdiri",Ada yang sakit nggak?".Niel memeriksa badan cewek itu.

"Aku baik - baik saja,Maaf aku buru - buru...".Cewek itu pun bergegas,Ia melihat Niel sebentar.Mereka saling berpandangan.

Namun karena lalu lalang orang yang padat,cewek itu kembali terjatuh.Niel pun menghampirinya dan menolongnya.

"Kau tidak apa - apa?",Niel berusaha membantunya.

"Ya...terima kasih,Aku nggak apa - apa".

"Barangmu banyak sekali,boleh aku membantumu?",tanya Niel menawarkan bantuan.

"Emhh,tidak usah repot - repot,terima kasih".

"Apa sudah ada yang menjemputmu?",

"Belum...".

"Oh,kalau begitu",Niel mengangkat kedua tas cewek itu dan membawanya ke pinggir,di sebuah kursi",Kau tunggu di sini saja,jangan ke mana - mana,Aku akan mencari temanku...tolong jangan pergi ke mana - mana,ya.

Kau hanya sendirian,Aku takut kalau kau sampai hilang.Jangan sampai keluargamu bingung mencarimu,Ku mohon jangan ke mana - mana".

"O ya,Baiklah...",Cewek itu melepas tasnya.Niel pun beranjak dari cewek itu.Namun Cewek itu menahannya sebentar,"tunggu,Kau baik sekali,Terima kasih sudah membantuku,Siapa Namamu?",cewek itu mengajak Niel berkenalan.

"Namaku Daniel,panggil Saja Niel,lalu namamu siapa ?",Niel menjabat tangan cewek itu.

"Namaku Nira,Kau baik sekali Niel.....".

"O yah,Nira.Aku akan mencari temanku dulu...".

"Silahkan,berhati - hatilah...".

Niel pun bergegas mencari temannya.Dalam hatinya,Ia sangat merasa senang bisa bertemu dengan seorang tanpa sengaja,dan Ia berhasil berkenalan dengannya.Bahkan Ia bisa membantu cewek itu.

Tak lama kemudian,Niel kembali bersama temannya,Arjun dan Marvin.Niel mengajak mereka menemui Nira.Nira masih duduk di kursi dengan dua tas di sampingnya.

"kelamaan ya nunggunya?",

"Ah tidak Niel,kamu sudah menemukan temanmu?",

"Yah ini mereka,Arjun dan Marvin,perkenalkan",

Nira berkenalan dengan Marvin dan Arjun.

"O ya,tujuanmu ke mana Nira?",

"Aku hendak ke nenekku,Aku akan tinggal di sana,Aku akan kuliah di salah satu Universitas di kota ini.Namun sayang Handphoneku mati karena kehabisan batre,jadi Aku tidak bisa menghubungi siapapun...".

"Mmm...kalau bagaimana kita mengantarmu ke rumah Nenek?...".

Nira terdiam sejenak

"kenapa Nira?,jangan takut,kami bukan penjahat yang akan menculikmu,atau orang yang tak bertanggung jawab yang akan menelantarkanmu,Kami juga sepertimu,Arjun dan Marvin akan berkuliah di kota ini.

Ayolah Nira,ikut bersama kami,Jangan sampai Keluarga Nenekmu bingung mencarimu...".Bujuk Niel

"Emmmh,kau sudah beberapa kali menolongku Niel,Kau baik sekali,Aku akan ikut denganmu dan temanmu Niel...".

"Sudah seharusnya kita harus saling menolong,bukan?".

"Baiklah,Niel.Ayo...".

Nira ikut Niel dan kawan - kawan untuk pergi ke kota.Pertama,Mereka mencari alamat Neneknya Nira.Barulah Niel mengajak Arjun dan Marvin ke rumahnya dulu.Hati Niel begitu senang mendapat satu kenalan cewek baru di masa - masa pertama kuliahnya ini.


****

Salaam-E-dostana
Sincerely...


Fajar Adi


Komentar

  1. Salaam Untuk Bapak Guru,Pak Wawan...

    Komentar ini menjadi Kejutan Buat saya !! 🥹🙏🙏Bapak,Saya haturkan " Terima Kasih " untuk Saran yang Anda berikan untuk membuat Blogger sebagai Media untuk mengenalkan Karya saya.

    Terima Kasih Atas Bimbingan Anda di saat Pelajaran TIK dulu. Ini menjadi Momen Bersejarah Bagi Perjalanan " Dunia Di Kala Fajar " .

    Terima Kasih untuk memberikan Komentar dan Pujian di Kisah ini. Bapak,Semoga Anda Senantiasa Sehat dan Selalu diberi Kebahagiaan dalam Perjalanan Hidup Anda.

    Sincerely,
    Fajar Adi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer