Salaam-E-Dostana 2 ( Armaan & Avantika ) Bag. 1


Ia duduk di kursi panjang ini. Lalu lalang Pejalan kaki trotoar yang luas ini. Nuansa hari dengan langit mendung muram. Pohon - pohon Beringin dengan daun - daun yang masih lembab. Ia menghela nfasnya. Pandangan tertuju pada arus lalu lintas jalan raya,tak jauh darinya. Secepat matanya berkedip,Secepat itu pula meori - memori Masa lampaunya muncul di benaknya.

Matanya kembali tergenang air mata. Fokus matanya tertuju pada satu bulir air yang hendak jatuh pada ujung satu daun. Ia belum bisa melepas perasaannya. Sekali lagi,Orang - orang yang berlalu lalang ini mengacuhkan keadaannya. Bahkan Dunia seakan tak mau memberi pertolongan padanya.

Ia membuka buku Diary yang Ia dekap. Ada satu buah kartu,tampak seperti Kartu member. Ada satu tiket untuk menonton Pertandingan Sepak Bola. Kali ini dua buah benda ini membawa dirinya kembali pada Momen Wisuda satu tahun yang lalu.

Saat itu …

Kekasihnya menyempatkan waktu untuk menemui dirinya. Ia sangat bahagia. Namun, Ia merasa kuang puas,karena pertemuan ini berlangsung sebentar.

“ Ini kartu member tim Sepak Bolaku. Tunjukkan pada Agastya nanti,Jika kau ingin menonton Pertandingan Liga Sepak Bola tingkat Nasionalku pada beberapa bulan yang akan datang. Kuharap kau bisa datang, hadir di antara Ribuan Orang di Tribun. Aku yakin kau akan antusias menyemangatiku”, Tangan itu menggenggamkan Kartu ini.

“Baik Dev. Beruntung Aku bisa Wisuda sekarang, Jadi Aku akan datang di setiap jadwalmu bertanding”,

Tanga itu mengusap pipinya “ Bagus. Aku ikut bahagia,Semuanya berjalan dengan lancar. Hasil kerja kerasmu terbayarkan”, Devyan mencium keningnya “, Kuharap ini juga membuatmu bertambah Bahagia,Avantika “,

“ Kehadiranmu dengan Bunga - bunga ini sudah lebih dari cukup. Aku tahu kau lelah. Kuharap kedatanganmu ke sini tidak mengacaukan Jadwalmu”,

“ Rizwan sudah mengatur jadwalku sebaik mungkin,Sayang. Setelah ini,Aku akan ke Tokyo untuk melangsungkan Pertandingan Persahabatan. Ya Lumayan untuk pemanasan menghadapi Liga Nasional nanti “,

“ Aku yakin kerja kerasmu akan terbayarkan. Percayalah dan tetap semangat “, Avantika mengusap pipi kanan Devyan. Ia masih mengenakan Baju Toganya.

“ Yah aku sellau percaya diri. Aku selalu hidup dengan percaya diri. Aku juga selslu bersemangat”, Devyan mendekatkan mukanya”, terlebih dengan adanya kehadiranku di hidupku setiap saat”.

Avantika langsung memeluk Devyan. Begitu juga Devyan. Panggilan Suara Seorang Pria paruh baya,ternyata Ayah Avantika mengakhiri momen berpelukan ini. Avantika tampak sedikit panikl.

“ Ayah memanggilku Devyan. Maaf aku tak bisa lebih lama lagi. Kuharap Perjalananmu ke Tokyo menyenangkan. Aku selalu mencintaimu”, Avantika sekejap mencium Devyan.
“ Iya sayang. Rizwan juga sudah meneleponku “,
“ Baiklah Sampai Jumpa “,

Devyan menggenggamkan Satu tiket ke tangan Avantika. Ia bertanya - tanya.
“ Apa maksudmu ini Dev ?”,
“ Jadikanlah Tiket ini sebagai Pengingat di setiap do’amu untukku. Aku akan berjuang keras bersama Do’a yang kau panjatkan untukku. Aku juga selalu mencintaimu “.

Avantika terharu. Ia menerima Tiket itu. Ia sempat mencium Devyan. Bahkan Mereka kembali berpelukan sebagai Tanda Perpisahan. Avantiks menyimpan Tiket dan Kartu member itu. Devyan bergegas meninggalkan Avantika. Keduanya saling melambai tangan. Daun - daun di sepanjang jalan mereka berjalan berpisah.

Di sisi lain,kembali pada saat ini …

Ada panggilan masuk di Handphonenya. Ia menjawab panggilan itu.
“ Halo, Selamat Sore. Apa benar Saya berbicara denagn Saudara Arman ?’’ Suara Seorang laki - laki di seberang telepon,
“ Halo,Selamat Sore. Iya benar dengan saya sendiri. Panggilan dari mana ini ?’’,
“ Saya Arjun dari Kafe ‘ Sahabat ‘. Saya sudah menerima dan membaca Surat lamaran yang Anda ajukan kepada staff kafe saya beberapa waktu lalu. Saya mengundang Anda untuk datang ke Kafe milik saya. Saya ingin melakukan pembicaraan lebih lanjut “,
“ Ya baiklah. Terima Kasih kakak “,

Kabar baik ini membuatnya berjalan lepas fokus. Tanpa memperhatikan jalannya. Karena terlalu bersemangat,Arman tersandung kaki Kursi Panjang ini hingga terjatuh. Seorang gadis yang duduk di kursi itu terkejut. Ia sampai melempar Apa yang Ia pegang hingga mengenai Muka Arman.

“ Ah ! Apa ini ? Apa ?’’,

Arman mematikan teleponnya. Ia memungut Buku Diary dan dua benda itu. Kakinya terasa sakit. Ia memberikan buku itu pada Gadis yang duduk. Gadis itu ternyata Avantika. Avantika itu menerima buku Diarynya.
 “ Maaf maaf Aku terlalu asyik menerima telepon barusan. Sampai sampai aku tak melihat apa yang ada di depanku”,
“ Tidak apa - apa. Kuharap kau baik - baik saja “,
“ Kakiku sepertinya sedikit terkilir. Maaf boleh aku duduk di sini ?’’,
“ Ya boleh, silahkan “,

Arman duduk agak jauh di samping Avantika “ Sekali lagi aku mohon maaf untuk insiden ini. Aku sampai membuatmu terkejut”,
“ Tidak apa - apa. Segala sesuatu bisa terjadi secara tak terduga,bahkan sampai mengejutkan “,
“ Aku baru saja menerima Kabar tentang panggilan wawancara kerja di salah satu kafe di kota ini …”,

Arman tampak malu - malu dan masih merasa bersalah. Avantika sudah tampak tenang. Ia tak membuat dirinya kaku dan terkungkung oleh masalah dan keadaanya. Sesekali Arman memijit pergelangan kakinya. Avantika membuat suasana mengalir begitu saja. Ada Rasa simpati dalam dirinya. Percakapan keduanya tak menampakkan kecanggungan. Segala sesuatu bisa terjadi secara tak terduga,bahkan mengejutkan. Sikap Avantika mencairkan kegrogian Arman.

****
Taman kota di suatu pagi. Suasana tak begitu sepi,kicauan burung terdengar menyelingi tiupan Angin. Bunyi gesekan dedaunan yang menambah nuansa rimbun dan sejuk. Bau semerbak Rumput Taman terasa segar.

Jalan Taman yang terbuat dari bebatuan halus berwarna putih. Diatur sedemikian rupa di seluruh taman. Gelak tawa Anak - anak PAUD yang sedang bermain. Beberapa lansia yang sedang menikmati waktu.

Untuk ke sekian kali,Avantika datang kembali ke Taman ini. Ia datang dengan tujuan yang sama,dan masih dengan harapan yang sama. Menanti kembalinya Devyaan.

Pada kerinduan yang sama, gejolak rindu semakin menggoyahkan Jiwa. Ketika Kerinduan tak kunjugn mendapatkan Obatnya,keadaan mengharuskan untuk Bersabar. 

Pakaian yang sama pada waktu itu. Blus dan Rok panjang yang sama pada saat itu. Blus Warna putih dan rok warna krem. Kali ini Ia mengenakan Syal. Syal ini diberikan oleh Devyaan setelah pulang dari Turnamen Sepak Bola di Negara Perancis.

Rasa Sabarnya terasa semakin menipis. Kerinduan ini membuatnya mulai tak berdaya.Harus sampai berapa lama ? Apakah Turnamen yang di Tokyo kali ini harus berlangsung selama satu musim ? Berapa lama lagi ?

Avantika berjalan menyusuri Jalan setapak di tengah taman ini, mengelilingi Taman ini. Ini Ia lakukan untuk mengulur kesabarannya agar bisa lebih lama lagi. Dengan begitu Ia bisa membangun kekuatan Jiwa kembali,membangun semangat menjalani hidup lagi. 

Berulang - ulang Ia kehilangan daya dan kesabaran. Kenapa di setiap kepergian Devyaan selalu memakan waktu lama ? Ia berulang kali harus mengalami jatuh bangun keadaan dirinya karena kerinduan. Pernah hampir sekali Ia tumbang. Dia bisa saja lemah karena kerinduan. Namun,Tidak dengan Rasa Cintanya yang masih terjaga.

Ketika ia sampai di tengah - tengah Taman,Seseorang hadir di hadapannya. Matanya terbelalak seakan tak percaya. Waktu seolah - olah berhenti berjalan. Namun Nafas dan kehidupannya tak berhenti. Bagaikan Mu’jizat terjadi, ia tak percaya bahwa Penantian itu berakhir hari ini. Devyaan kembali.

Senyum Devyaan meluluhkan segala kegalauan yang terakumulasi dalam hatinya. Namun, entah kenapa Ia seakan tidak bisa memeluk Raga Devyaan. Keanehan apa ini ? Avantika merasa badannya tertahan. Sedih tak bisa memeluk Badan Devyaan. Avantika meneteskan Air mata.

“ Apakah Kau badan yang nyata atau fatamorgana atau wujud khayalan dari fikiranku yang terlanjur dimabuk kepayang ? Kau merasakan Apa yang aku rasakan ,Bukan ?”, Satu tetes Mata Sarat kerinduan menjejal Kelopak Mata Avantika.

Devyaan menatap mata Avantika. Senyum itu malah menghadirkan sensasi rasa yang lain. Tangan Devyaan menjamah Pipi Avantika. Sentuhan ini Apakah nyata atau Fantasi sugesti dari Otak Avantika karena Rasa rindu pada Devyaan.

Antara terlena dan tersadar,Avantika merasa nyaman dengan sentuhan ini. Sensasi sentuhan setidaknya mampu mengurangi Gejolak Perasaan dalam hatinya. Mata Avantika basah.

“ Entah kau saat ini Kau nyata atau khayalan. Kau di mana pun berada,pasti merasakan hal yang sama. Aku sangat merindukanmu Devyaan. 
Jangan terlalu lama kau melemahkan aku dengan keadaan ini. Kembalilah,datang dan temui diriku,Aku masih menjaga cintaku untukmu.
Kembalilah segera ! Datanglah padaku, Aku masih menyimpan Rasa Cinta yang sama “, Avantika melihat Devyaan mendekat. Devyaan seolah - olah hendak memeluk Avantika. Terpaan Angin hangat memberi Sensasi yang sama dengan hangatnya Pelukan Devyaan.

Secepat matanya berkedip,secepat itu pula sosok Khayalan Devyaan sirna. Syal ini masih terasa hangat. Momen sedetik yang lalu masih pekat terasa.

Avantika berbalik badan,Namun seseorang dari belakang tak sengaja menabraknya. Beruntunglah keduanya tidak jatuh.

“ Ah ! Maaf ,maaf,Aku tidak lihat jalan “,ternyata Arman. Ia masih berada dalam panggilan telepon.
“ Tidak apa - apa. Lho,kamu ? Kamu yang waktu itu jatuh di depan aku ?”,
“ Oh ya. Maaf ya,Aku tak memperhatikan langkahku “,
“ Apa kau selalu begitu ? Apa hal ini sering terjadi dengan Orang lain ?”,
“ Sifat burukku salah satunya terburu - buru. Aku harap kau mau memakluminya. Aku melakukan dua kali kesalahan padamu. Kuharap kau tak enggan memaafkan diriku “,
 
Sikap Arman mulai mengalihkan perhatian Avantika “ kau sudah mengungkapkan sebabnya, Tidak ada kesalahan tanpa sebab. Tidak ada kesalahan yang mungkin tidak bisa dimaafkan. Untuk masalah ini,hanyalah masalah sepele “,

Arman mengajak Avantika duduk di kursi panjang yang berada di dekat mereka. Avantika menghapus bekas - bekas Airmata. Keadaan Avantika menyita perhatiaan Arman. Arman mengantongi Hpnya.

“Sekali lagi Aku mohon maaf. Akhir - akhir ini Aku sering terburu - buru karena Pekerjaan baruku. Aku masih beradaptasi dengan jadwal pekerjaanku”,
“Tidak apa - apa.Entahlah Apakah ini satu kebetulan ? Pertemuan ini. Aku sering mengunjungi Taman ini,Aku mulai hafal siapa saja yang sering datang ke Taman ini. Dari mana mereka datang,Anak - anak PAUD dan Guru mereka di Taman bermain sebelah sana.

Aku sesekali menyapa para Lansia yang berjalan - jalan di taman ini. Kami sempat berkenalan. Tapi kau “, Avantika melihat wajah Arman. Angin tipis bertiup menabrak wajah Arman “,sepertinya orang baru di kota ini

Apa kau bukan orang asli kota ini ? Apa kau Seorang Perantau ? “, beberapa helai rambut Avantika tertiup angin lalu.
“Sepertinya Taman ini sudah menjadi tempat favorit bagimu. Kau sudah akrab dengan suasana Taman ini. Dan,ya benar ! Aku bukan asli orang kota ini. Aku merantau ke kota ini untuk berkuliah. Dan Aku bersyukur Aku sudah mendapat pekerjaan paruh waktu “,
“Kuliah sambil bekerja. Kau seorang pekerja keras.Orang tuamu pasti bangga”,
“Belum. Aku belum memberi Rasa bangga itu pada mereka. Justru Orang tuaku yang bekerja keras agar aku bisa berkuliah “,
“Mereka akan mendapat apa yang mereka perjuangkan.kau tidak akan mengecewakan mereka,bukan begitu ?”,
“ Tentu . Aku akan berjuang juga “,

Keduanya membisu sejenak. Keadaan wajah Avantika yang pucat dan sembab,menumbuhkan Rasa keingin tahuan Arman.
“Cuaca pagi ini bagus sekali. Cahaya matahari terasa hangat, Tiupan angin pagi ini sudah tak membuat badan menggigil. Aku sudah berani mandi dengan air dingin biasa”,
“ Air biasa ? Air dingin ? Jadi kau biasa mandi dengan hangat setiap pagi ?”,
“ Ya “,
“ Kau Seorang Pemuda dengan Mandi Air hangat setiap mandi pagimu ?”,
“ Ya,udara pagi hari yang dingin menjadikanku seorang Pengecut. Entah kenapa setiap menyentuh air,kulitku seolah - olah menjadi tipis,kehilangan daya tahannya “,
Avantika tertawa ringan “ Apa kau punya alergi ? Kata - katamu di luar dugaan “,
“Tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan tubuhku ini ?Entah alergi ? Kondisi medis yang aku tidak tahu istilahnya? Atau dengan bertambahnya umur ,tubuhku ikut berubah rasanya ? Atau aku tidak peka dengan siklus cuaca yang terjadi di alam ?”,
“Tubuh berkembang dan berubah seiring Pertumbuhan badan, Kita perlu belajar beradaptasi untuk mnyeimbangkan keadaan tubuh dengan keadaan alam “,
“Tepat sekali ! Ngomong - ngomong,apa kau juga punya alergi yang sama dengan aku punya ? Karena kulihat sepertinya kau sedang tidak baik - baik saja “,

Ekspresi Avantika kembali muram seperti semula. Tapi hatinya mendorongnya untuk tetap berusaha ramah terhadap Arman.
“ Aku sedang beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada Alam.Namun,Peristiwa yang terjadi di dalam hidupku membuatku harus berusaha lebih keras dengan tantangan berbeda.
Aku tahu saat ini jam setengah sembilan,saat di mana Cahaya matahari mulai terasa hangatnya. Namun, Rasa hangat itu belum begitu aku rasakan karena keadaanku yang belum benar - benar bisa merasakannya.

Kau mungkin sudah merasakan hangatnya mentari ini,tapi otakku masih memberi sugesti bahwa dingin yang terasa turun dari rimbunan pohon - pohon itu dan Uap - uap embun dari rumput itu,bercampur menjadi satu memberi rasa dingin yang seolah - olah mendorongku untuk menggigil kedinginan.

Entah kenapa ini terjadi ? Mungkin Perasaanku belum bisa berdamai dengan keadaan jiwaku yang masih bergejolak,karena keadaan hidupku belum membuat pikiran dan hatiku menjadi seimbang dan selaras”,

“ Jadi kau sedang ada masalah ?”,

“ Tidak ada setiap Insan yang tak memiliki masalah. Pada akhirnya,setelah melewati Perjuangan pergolakan selama ini,membuat Aku berpikir bahwa Tuhan memberiku masalah dengan suasana seperti ini sebagai Ujian.

Aku belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Karena Hidupku selalu baik - baik saja,selalu dalam kendaliku,aku selalu berusaha menempatkan diriku pada Zona nyaman”,

“ Aku juga belum pernah mengalami hidup model seperti ini sebelumnya. Memilih Hidup merantau,meninggalkan kedua Orang tuaku,karena Aku seorang Anak manja yang tidak bisa jauh dari sentuhan dan Pelayanan Seorang Ibu.

Aku pergi meninggalkan tanah kelahiranku,menyebrangi lautan,Tiba di Pulau baru dan menghadapi Adat budaya baru. Entah seberapa keras hidupku ke depannya,Aku juga akan menghadapinya dan berjuang untuk menaklukkan tantangan yang datang”,

Angin bertiup cukup kencang,membuat Rambut Avantika terhempas. Pemandangan yang membuat Arman merasakan desiran dalam hatinya,terlebih ketika Avantika merapikan rambutnya.

“ Aku berharap Tuhan membuatku kuat. Aku ingin belajar dan tahu seberapa besar Kapasitas kemampuanku,seberapa tangguh diriku. Tuhan tidak akan mengakhiri kehidupan semesta ini secepat mungkin “,kata Avantika perlahan membangun kekuatan jiwanya,
“ Luar biasa ! Aku salut padamu “,Tiba - tiba Hp Arman berdering,maksud panggilan telepon ini adalah panggilan salah satu teman ingin menemuinya “, Maaf,sepertinya Aku harus meninggalkanmu. Tapi,apa yang kau utarakan padaku barusan membuatku berempati “, Arman berdiri memegang Hpnya,
“ Tidak apa - apa. Kalau harus berpisah sekarang. Aku juga minta maaf Jika Aku sudah menyita waktumu “, Avantika ikut berdiri.
“ Jangan terburu - buru berkata tentang Perpisahan. Tuhan tidak akan mengakhiri semesta ini setelah kita berpisah “, kata - kata Arman seperti memberi harapan lain bagi Avantika”,Hanya saja Aku sedikit mengkhawatirkanmu. Meski Aku orang Asing bagimu “,

Avantika mengulurkan tangannya. Arman tahu maksud tindakan ini. Keduanya berjabat tangan.

“ Aku Avantika Kirana,Aku mengunjungi Taman ini di hari - hari menjelang Akhir pekan”, tatapan Avantika tampak teduh,
“ Aku Arman Permana,Jika AKu sempat tak ada kesibukan,Aku akan melewati Taman ini”,gestur TUbuh Arman yang membuat Avantika nyaman”, Jika menjelang paakhir pekan. Aku harap kita bertemu di lain kesempatan”, Arman melepas tangan Avantika,
“ Senang berkenalan denganmu,Arman. Semoga harimu menyenangkan “,
“Senang berkenalan denganmu,Avantika.Semoga Kau lekas membaik”,

Avantika mengangguk pelan “Ya,terima kasih “,

Arman meninggalkan Avantika. Avantika enggan membalikkan badan. DAun - daun berguguran mengiringi langkah Arman. Entah kenapa,tanpa sadar,tangan Avantika melepas syal milik Devyaan.
Kali ini angin bertiup membawa sensasi rasa hangat.tatapan Avantika tak kunjung lepas pada kepergian Arman,meski Arman sudah sampai di gerbang Taman.

Barulah Avantika beranjak meninggalkan kursi panjang ini. Setiap momen percakapan dengan Arman barusan seperti terputar kembali dalam pandangannya. Langkahnya terasa ringan.

Avantika berbalik badan sejenak. Kursi panjang itu telah ada dua helai daun yang gugur di atasnya. Inilah kenangan yang akan menjadi momen tak terlupakan. 

.....

Sincerely,
Dunia Di Kala Fajar
Fajar Adi


Salaam E Dostana 2

Komentar

Postingan Populer