Salaam - E - Dostana Bab 5 ( Remake )
“Sentuhan Ibu…”
Mendapat Kabar dari Indra,saat Indra menyempatkan waktu untuk pulang,Bu Nawang terkejut. Bu Nawang langsung bersiap - siap ke Rumah Sakit saat menunggu Indra sedang mandi kemudian berganti pakaian. Pak Yudhi masih berada di tempatnya bekerja.
Kembali ke Rumah Sakit,Bu Nawang merasa terpukul melihat keadaan Putra Keduanya. Indra menjelaskan Apa yang terjadi pada Arjun.
Indra juga menunjukkan Siapa yang telah diselamatkan oleh Arjun,Niel. Tak lupa Indra memperkenalkan Marvin,Anak yang selalu minta bekal Makanan buatan Bu Nawang.
“Jadi Kau yang bernama Marvin ?”, tanya Bu Nawang pelan sambil mengusap Bahu Marvin”Anak yang biasa minta bekal pada Arjun ?”,
“Iya Ibu. saya”, Marvin mengangguk,
“Arjun bercerita banyak tentangmu”,
“Ibu,Maaf,Apa Ibu merasa keberatan dengan permintaan bekal makan gratis saya pada Arjun ? Saya merasa tidak enak karena selalu meminta menu masakan pada Arjun”,
“Oh Tentu tidak,Anakku. Ibu Justru senang karena masakan Ibu bisa diminati orang lain. Jangan sungkan untuk minta pada Arjun bekal dariku.
Kau sudah sering menikmati masakanku,Kuanggap kau seperti Anakku sendiri. Terima Kasih telah menjadi Teman Baik bagi Arjun”,
Marvin langsung meraih tangan Bu Nawang kemudian menciumnya”Terima Kasih banyak,Ibu”,
“Sama - sama,Anak Tampan”,Bu Nawang mengusap kepala Marvin.
Bu Nawang beralih mendekati Niel. Niel merasa takut dan malu di hadapan Ibunya Arjun. Niel merasa menyesal atas sikapnya terhadap Arjun. Niel takut Ibu Nawang akan memarahinya.
Bu Nawang mengusap Kedua Bahu Niel dengan kedua tangannya. Sikap Bu Nawang di luar dugaan Niel. Indra menyaksikan Bagaimana Ibunya memperlakukan Niel.
“Ini jaket yang Aku beli saat Aku bertugas di suatu kota,jauh dari kota ini dua tahun yang lalu.
Ternyata masih kau pakai,ternyata masih pas dengan badanmu”, Bu Nawang menahan Rasa pilunya,Sebenarnya Ia tahu masalah putranya dan Niel. Namun Ia mengesampingkan Emosinya”Kau suka memakainya,Anak muda ?”,
Niel mengangguk malu.
“Ini tandanya kau selalu mengingat putraku setiap waktu,di berbagai keadaanmu,dan di berbagai bagaimana situasi hubunganmu dengan Putraku.
Arjun sampai merengek - rengek padaku untuk memberikan jaket ini padamu. Padahal jaket ini menjadi Hadiah Ulang Tahunnya yang ke dua belas tahun”,
Niel terkesiap dan spontan memandang Wajah Bu Nawang. Bu Nawang memegang Kedua pipi Niel, perlahan mencium kening Niel sebagai tanda sayangnya.
“Kenapa Anak Muda ? Kenapa Kau tampak sedih ?”,
“Saya tak menyangka Arjun telah menyelamatkan saya,Ibu. Dan Saya sangat menyesal telah banyak bersikap kasar pada Arjun selama ini. Maafkan Saya,Ibu”,
“Putraku telah menyelamatkanmu itu sebagai Bukti Ia masih mengingatmu dan menyayangimu. Kumohon,Kumohon Do’akan Putraku agar Ia segera siuman dan sembuh”,
“Tentu Ibu. Tentu”,
“Dan Kapan kau akan menginap ke Rumahku ? Arjun pernah bercerita bahwa temannya yang bernama Daniel ingin sekali menginap ke Rumah. Daniel,datanglah Ke Rumahku kapan saja.
Jangan takut pada Ibu. Aku mungkin tak seperti ibumu. Jika kau ingin mendambakan Sosok lain seorang Ibu,datanglah padaku. Anggaplah Aku seperti Ibumu sendiri”,
“Oh Ibu…”, Niel langsung meraih tangan Bu Nawang kemudian menciumnya”Terima Kasih”,
Bu Nawang mengusap kedua matanya sebelum membelai kepala Niel. Indra membuang mukanya yang tampak terharu namun di dalam hatinya masih terasa sedih.
***
Indra menunggu Adiknya yang masih tak sadarkan diri di Ruang IGD ini. Bu Nawang masih menunggu keputusan Pihak Rumah Sakit untuk pemindahan Arjun ke ruang rawat inap.
Indra sesekali membelai Pipi Arjun, berharap Arjun segera siuman. Tiba - tiba turun Hujan,Hujan turun dengan cukup deras. Bu Nawang. Bu Nawang berdiri dan berjalan ke pinggir teras Ruang IGD. Angin dari hujan bertiup halus menerpa badan Bu Nawang .
Bu Nawang menutup matanya seraya memanjatkan do’a di hadapan Tuhannya. Bu Nawang percaya pada Kuasa Tuhan. Salah satunya dengan turunnya hujan ini.
Tangan Indra perlahan menggenggam tangan Arjun. Indra mencium tangan Arjun,kemudian Ia memejamkan matanya. Seketika satu tetes Air mata menetes dari mata Indra,Nafas Indra sedikit tersengal saat menahan tangisnya. Ia takut akan keadaan Adiknya tak segera membaik.
Rasa kantuk Indra membuatnya berhalusinasi. ia terduduk di samping ranjang tidur ini. Tangan Kirinya mengusap - usap kepala Arjun,seperti kebiasaannya saat menidurkan Arjun.Tangan Kanannya menepuk - nepuk paha Arjun yang terselimuti. Indra pun tertidur.
Beberapa jam kemudian Arjun telah bisa dipindahkan ke Ruang rawat Inap. Pak Yudhi menyusul ke Rumah Sakit. Ayah dan Ibu Arjun ikut ke mana Arjun akan dipindahkan.
Pak Yudhi memapah Indra mengikuti ke mana Para Perawat ini memindahkan Arjun. Setelah kumandang Adzan subuh pertama terdengar,Indra tiba - tiba bangun, dikejutkan oleh sentuhan tangan seseorang di lengannya.
Arjun telah siuman dengan membuka sedikit matanya. Indra spontan merasa terharu. Indra berdiri,kemudian mengusap wajah Adiknya.
“Kakak…”, panggil Arjun pada Indra dengan nada yang terdengar,
“Iya Adik”, Indra mengusap kening Arjun.
***
“Pengakuan Silvia “
Esok harinya di sekolah, Niel datang lebih awal dari teman - teman gengnya karena Ia ingin menyiapkan pekerjaan rumahnya. Saat masuk kelas, Ia mendapati Via dan dua teman lain sedang melaksanakan piket pagi,membersihkan kelas.
Kebetulan sekali Niel hadir di kelas di saat kelas masih sepi, Via langsung mendekati Niel. Ia sempat meraih tas miliknya. Ia menemui Niel untuk menyampaikan satu hal penting.
“Selamat pagi,Daniel”,sapa Via meletakkan tasnya di meja Niel.
“Hai Via,selamat pagi,Ada Apa ?”,
“Kau baik - baik saja ?”< pertanyaan Via memancing maksud beragam bagi Niel.
“Ya. Aku baik - baik saja”,Jawab Niel dengan sikap yang dingin,
“Kudengar Arjun mengalami kecelakaan di Jalan Raya setelah Upacara kemarin. Teman - teman memberi tahuku barusan “,
“Iya benar Via”,
“Dan ternyata Arjun menyelamatkanmu dari Kecelakaan yang seharusnya menimpamu”,
Niel diam sejenak”Aku tak menyangka itu bisa terjadi “,
“Bagaimana perasaanmu Niel ?”,
“Kau ingin diriku terlihat puas dengan melihat dan mengetahui Arjun mengalami kecelakaan ?
kau ingin aku terlihat hebat dengan membuat Arjun menerima hal yang seolah - olah itu menjadi hukuman yang pantas baginya ?
Mungkin Aku telah membuat Pemirsa Drama Pertengkaran Tahunan kami puas. Padahal kenyataannya,Aku sendiri sedang merasakan penyesalan melebihi Rasa Malu yang kubayangkan”,
“Justru Akulah yang harus membuat diriku lebih pantas Apa yang kau rasakan,Niel”,
“Akulah yang paling pantas Kau salahkan,Niel. Aku seharusnya mengatakan hal ini padamu lebih awal,namun tidak bisa,karena kau terlalu sibuk dengan kegiatan perlombaanmu”,
“Tunggu Via. Apa yang terjadi ?”,
“Aku tidak menyangka bahwa perbuatanku akan berakibat separah ini terhadap sekolah,terutama terhadap dirimu dan perubahan karaktermu”,
“Apa yang kau telah kau lakukan,Via ? Kulihat kau tak pernah melakukan hal yang mencuri perhatianku atau membuat semua orang di sekolah ini tersita perhatiannya”,
“Tapi,Kumohon Daniel. Pertama, Tolong Maafkan Aku,maafkan perbuatanku yang ternyata menjadi kesalahan penyebab hal buruk yang terjadi di antara Kau dan Arjun.
Kedua, Kumohon Kau jangan langsung marah atau membesarkan Amarahmu setelah mendengar Apa yang akan Aku sampaikan padamu”,
“Baiklah Via. Silahkan mengutarakan maksudmu padamu”,
Via mengambil satu Amplop coklat berukuran sedang dan kalung salibnya. Niel melihat Apa yang Via keluarkan. Via menggenggamkan Amplop ini ke tangan Niel. Via mengeluarkan isi Amplop itu berupa tumpukan surat.
“Ini adalah surat - surat dari Arjun,Niel. Surat dengan tulisan tangan Arjun asli. Inilah saat yang tepat kau mengetahui semua kebenaran,Niel “,
Niel menerima surat - surat ini”tunggu. Aku sudah banyak menerima surat dari Arjun dan Aku sudah melempar semua surat Arjun ke wajahnya saat Aku memarahinya dulu”,
“Itu surat yang kau pikir dari Arjun,sebenarnya itu semua surat yang Aku tulis dan tersampaikan padamu,Niel. Surat dengan tulisanku yang kau lempar pada Arjun”,
“Bagaimana itu bisa terjadi ?”,
“Berjanjilah padaku untuk tidak langsung terpancing emosi,Niel. Kumohon”,
“Baik Via. Katakan semuanya”,
“Seseorang telah mengambil surat Arjun yang memang telah diselipkan di sepedamu.
Kemudian Orang ini datang padaku untuk menyuruhku menulis ulang surat Arjun sesuai dengan Arahannya”,
Aku menyanggupi Perintah orang ini begitu saja tanpa lebih dulu bertanya tentang Apa maksudnya. Begitu terjadi berulang kali,Aku tahu orang ini menyuruh menulis surat atas nama Arjun untukmu.
Awalnya kupikir dia hendak menolongmu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Arjun.
Tapi,menuruti maksud Arahannya yang tak masuk akal.Aku mulai mempelajari Apa yang sebenarnya terjadi. Surat yang kubuat malah membuatmu berubah dan semakin membenci Arjun.
Karaktermu juga berubah seiring menanggapi dan menuruti maksud surat ini. Ternyata Orang ini bermaksud jahat terhadapmu dengan meracuni pikiranmu dengan surat yang Ia buat melalui tanganku ini.
Aku merasa keadaan semakin memburuk dengan sering mendengar kau uring - uringan tentang Apa mau Arjun,tapi itu hanyalah rekayasa Orang ini melalui Surat Arjun yang ingin menyabotase dirimu.
Dan sialnya,Aku selalu tak bisa berkutik menuruti Permintaannya. Kadang Akal orang ini bermaksud mengacaukan Pikiranmu,Emosimu dan Mood-mu sebagai Alasan Arjun penyebab utamanya.
Apa hanya Arjun sebagai biang beberapa Masalahmu ? Tidak bukan ?”,
“Tidak Via. Lalu,Bagaimana selanjutnya?,
“Aku akhirnya sadar akan perbuatanku ini adalah Perbuatan jahat. Rasa bersalahku melihat Bagaimana kondisi Arjun yang semakin terpuruk,mendorongku untuk menolak Permintaan orang ini,sekali lagi.
Aku merasa bersalah bahwa Aku merasa menjadi biang Pertengkaranmu dengan Arjun serta Kebencianmu terhadap Arjun. Aku tidak mau menyesal dengan membuat tindakan tercela ini selama bersekolah di sini menjadi Kenangan Buruk bagi Kehidupanku di Masa Depan.
Aku juga takut suatu saat Tindakanku ini akan terbongkar,Niel. Makanya Aku membuat Pengakuan di hadapanmu sebelum semuanya semakin memburuk”,
“Kau bersimpati terhadap Arjun,Via. Apa dirimu ada hubungannya dengan Arjun ?”,
‘Arjun adalah teman sekelasku saat Sekolah Dasar. Kami berteman baik. Ternyata Kami juga bersekolah di sekolah yang sama !
Selama ini Arjun sering menyapaku dan berusaha menjalin hubungan baik,meski tak sedekat saat SD dulu,dengan Ia sering menyapaku,kurasa itu cukup bagiku”,
“lalu,Sekarang katakan Nama dari Seseorang yang kau sebut dengan ‘Orang itu’ dari tadi”,
“Berjanjilah padaku untuk tidak langsung marah,Niel”,
“Baik Via”,
“Dan Kau percaya tentang Peribahasa ‘Serigala berbulu Domba ‘bisa terjadi di kehidupan nyata ?”,
“maksudmu Orang ini adalah salah satu dari Teman kelas kita ? Atau Justru salah satu teman Gengku, Via ?”,
“Joni,Daniel ! Joni adalah Orang yang berada di balik semua ini. Joni yang selalu memaksaku menulis surat Manipulasi untuk mempengaruhi dirimu,Niel ! “,
Niel terperanjat mendengar nama ini menjdi orang yang ternyata merekayasa Perselisihan dirinya dengan Arjun. Niel tak percaya bahwa Joni adalah orang jahat di balik Drama pertengkarannya dengan Arjun. Rasa Penyesalan Niel semakin terasa seperti menusuk hatinya.
“Bagaimana bisa Kau mengatakan Joni,teman dekatku sebagai Orang yang telah melakukan tindakan Jahatnya secara tidak langsung padaku ? Apa kau yakin Joni Orangnya ?”,
“Kau belum bisa menerima kenyataan,Niel. Sudah saatnya belajar tentang Kejahatan bisa datang dari sekelilingmu,datang dari orang terdekatmu”, Via menunjukkan Kalung Salibnya”, Demi Kebenaran yang perlu diungkap.Niel !
Sudah kukatakan,sudah saatnya kau mengetahui kebenaran yang terjadi . Dan perlu kau tahu, Joni sempat mengancamku bahwa Ia akan menjauhkan kau dariku.
Padahal di saat pertama kali Ia menyuruhku membuat surat,Ia mengiming - imingiku dengan janji akan membujukmu supaya kau bersedia menunjukkan Perasaan tertarik dan suka terhadapku.
Aku sudah belajar bahwa Joni tak hanya licik tapi ia juga Pembohong ! Joni tak menepati janjinya, Ia sampai mengancamku dengan sedikit kekerasan. Beruntung,Tegar bisa menjauhkan Joni dariku”,
Niel terbelalak “Ternyata Joni sejahat itu ! “,
“Jika kau masih tak percaya,kau bisa tanya pada siapa saja di kelas ini. Bahkan Yunia ada di saat JOni mengancamku”,
Seorang Gadis bernama Yunia muncul “Benar,Daniel. Semua yang dikatakan Silvia benar ! Mulai sekarang berhati - hatilah dengan Joni,atau Kalau bisa jauhilah dia”,
“Okey,Aku akan berusaha”,
“Aku membuat surat Manipulasi melebihi Jumlah Surat Arjun yang kau pegang. Joni tak kunjung menepati janjinya,bahkan terkesan mengingkari Janjinya.
Aku tak mendapat Apa - apa dari perbuatan yang kulakukan,kecuali Rasa bersalah dan menyesal”,
“Lalu,bagaimana dengan Perasaanmu terhadapku,Via ?”,
“Untuk sekarang, Kurasa tak terlalu penting untuk memikirkan perasaanku,Niel. Perbaikilah hubunganmu dengan Arjun lebih dulu.
Datanglah padanya,saling memaafkan. Lalu,Datanglah padaku dengan merangkul Arjun sebagai Pemandangan Indah yang akan menebus Rasa bersalahku.
Lagipula Kita bisa bersahabat akrab,Niel. Waktu masih panjang di sekolah ini untuk membuat momen - momen Indah”,
“Iya Via.Terima Kasih sudah mengatakan semua kebenaran ini”,
“Joni jugalah yang membuat Fitnah yang Ia sebar dengan teman - temanmu ke seluruh sekolah ini.
Ia mengarang cerita tentang kejelekanmu dan Arjun,Bagaimana buruknya Hubunganmu dan Arjun. Ia tak segan mengancam siapa pun Jika Ia mendapat bantahan”,
“Ah ! Kurang Ajar !”, Niel mengepalkan tangan kemudian menonjok meja”Sialan ! Ternyata dia mau menusukku dari belakang !”,
“Tahan dirimu,Niel “, Via tergerak mengusap lengan Niel”, Bersabarlah. Dan itu saja, Kita sudah lama berbicara, Aku takut Joni dan teman - temanmu tiba - tiba muncul.
Sekali lagi,Maafkan Aku, Niel. Kumohon”,
“Aku memaafkanmu Via”, Niel mengusap tangan Via yang menggenggam kalung salib”Aku berjanji akan membersihkan namamu. Tidak akan ada Orang yang tahu”,
“Baik Niel. Aku percaya kau Orang baik”,
***
Hari Kedua Arjun dirawat di Rumah Sakit. Saatnya sarapan,Indra mendudukkan Arjun di tepi Ranjang,Keadaan Arjun mulai membaik. Indra merasa lega,melihat keadaan Adiknya semakin membaik. Wajah Arjun masih tampak pucat dengan tatapan Sayunya.
Indra duduk di kursi plastik menghadap Adiknya” Arjun,Kau mau sarapan ?”,
Arjun mengangguk “ Iya Kakak “,
Indra mengambil tempat makan yang diberikan dari Petugas Rumah Sakit. Perlahan Indra menyuapi Adiknya. Arjun mengunyah Nasinya perlahan.
“ Dadamu masih terasa sesak ? “,
“ Tidak terlalu,Kakak “,
“ Jus Alpukat ? “,
Arjun menatap Wajah Kakaknya,kemudian tersenyum samar “ Mau kakak ? Tapi Apa Dokter sudah memperbolehkanku ?”,
Indra mengusap bekas kuah di bawah bibir Arjun dengan ujung jempolnya “ Nanti Aku akan merayu Pak Dokter supaya memperbolehkanku ?”,
“ Iya kakak “, Arjun menyelesaikan kunyahan makanannya.
“ Syukurlah Kau sudah siuman,Arjun. Aku sangat khawatir Saat Kau tak kunjung sadar”, Indra mengusap Lutut Kiri Adiknya “ Aku takut kalau kau sampai….”, Indra menahan Kata - katanya,
Arjun menatap Kakaknya dengan Keingin tahuan. Indra membuang muka sejenak. Indra menaruh tempat makan di lemari kecil yang berada di samping Ranjang.
“ Kakak takut sekali “,
“ Aku sampai Syok melihat kenekatanmu,Arjun. Kenapa kau sampai melakukan hal itu ?”,
“ Demi Niel,Kakak. Kakak tidak tahu Apa yang sedang terjadi di sekolah. Aku tidak tahu apa yang terjadi Jika saja yang tertabrak Mobil kemarin adalah Niel. Mungkin Sekolah akan kehilangan salah satu murid berprestasi “,
“ Akut tidak peduli dengan keadaan seperti itu. Sekolahmu mungkin tidak akan membuatmu kembali,Jika saja,kemungkinan terburuknya,Aku kehilangan dirimu “,
Kata - Kata Indra membuat Arjun berpikir.
“ Aku hanya berharap Niel terketuk hatinya melihat Pengorbanan yang Aku lakukan”,
Indra menatap mata Arjun dalam - dalam “ Dengar,Arjun ! Andai saja kau sampai kehilangan nyawamu,Mungkin Sekolahmu akan membuat Momen Berkabung atas Kehilanganmu dalam Beberapa Hari,atau Bahkan tidak ada Peringatan Apapun sama sekali. Mungkin Temanmu Niel itu belum tentu juga akan menyesal dan merasa berduka atas Kepergian dirimu selamanya,Mungkin Juga dia akan tetap mengabaikan Apa yang terjadi padamu “, Mata Indra mulai berkaca - kaca.
Tak terasa,Bu Nawang masuk ke dalam Ruangan ini. Ia menyaksikan Kedua Putranya ini sedang bertengkar” Tapi,Kau tidak akan tahu bahwa Kami,Aku ,Ayah dan Ibu akan merasa berduka dan berkabung atas Kepergianmu selamanya. Kami akan sangat sedih seandainya Kau benar - benar kehilangan nyawamu !
Andai Kau tahu Ibu sangat berbahagia dengan Kelahiranmu dan Kehadiranmu di tengah Keluarga Kita. Bagaimana Kau tidak bisa membayangkan bahwa Kami akan sangat sedih dan menderita karena Kesedihan Kehilanganmu ? Pikirkan itu Arjun “, Kata Indra dengan sedikit membentak Arjun,membuat Arjun menjadi Lesu dan Merana di tengah kondisinya yang masih lemah.
“ Tapi,Aku hanya ingin menolong Niel,Kakak “, Kata Arjun menahan tangisnya,Arjun membalikkan badannya. Matanya tampak basah. Ia mengusap Air matanya dengan punggung tangannya. Kata - kata Indra seolah - olah memojokkan Arjun.
Bu Nawang hadir menengahi kedua putranya “ Cukup,Anak - anakku. Kalian tidak perlu bertengkar lagi “, Kata - Kata Bu Nawang terdengar sedikit tegas” Kita sedang diuji oleh Tuhan dengan Musibah yang menimpa Arjun.
Indra,Kakak “, Bu Nawang membelai Pipi Indra “ Adikmu belum sepenuhnya bisa mengerti Apa yang kau katakan,Sayang. Ibu mohon jangan bersikap keras lagi pada Adikmu. Adikmu hanya mengikuti kata hatinya,tanpa berpikir dulu tentang Akibat yang didapat dari Perbuatannya. Aku sangat menyayangi Kalian,Anak - anakku.
Arjun,Adik “, Bu Nawang duduk di samping Arjun,Arjun spontan memeluk badan Ibunya dengan sedikit terisak - isak “ Kau lihat,Kakak sangat mencemaskanmu. Itu tandanya Kakak sangat menyayangimu dan melindungimu,Sayang”, Bu Nawang menghapus Air Mata Arjun “, Karena Ayah dan Ibu sering menitipkanmu pada Mama,Jadi yang menjadi Orang tuamu,yang mengawasimu adalah Kakakmu.
Aku bisa melihat Kakakmu sangat bertanggung jawab dalam merawat dan membesarkanmu ,Arjun. Tak salah Ia sangat mencemaskanmu hingga sedikit keras padamu.
Inilah yang Aku harapkan,Aku dapatkan dari Anak - Anakku. Seorang Putra yang lebih tua memiliki Jiwa tanggung jawab dan Penyayang. Ia selalu menyayangi Adiknya dan berani membimbing Adiknya Jika Adiknya sedikit keluar jadi jalan kebenarannya.
Dan,Adik,Arjun,Ternyata Kau punya Jiwa Belas Kasih,Sensitif dan Simpati. Kau bahkan punya Jiwa Setia kawan. Ibu sangat menghargai itu,Arjun”,
“Kakak seolah - olah menyalahkan Aku ,Ibu “, Arjun merengek pada Ibu” Aku hanya ingin menyelamatkan Niel. Siapa tahu Niel terketuk Hatinya dan Mau mengajakku Aku baikan”,
Bu Nawang menarik tangan Indra,Ia mendudukkan Indra di sebelah kanannya. Ia merangkul Putra Pertamanya” Aku bahagia sekali melahirkan Kalian,Anak - Anakku. Meski Ibu masih merasa sedih karena Keadaan Adik. Tapi setelah Ibu melihat Perdebatan Kalian,Ibu merasa perlu bersyukur bahwa Ibu memiliki Anak - Anak luar biasa”,
Bu Nawang menarik tangan Kanan Indra,dan tangan satunya meraih tangan Arjun. Bu Nawang membuat Kedua tangan ini saling menggenggam.
“ Tidak Ada yang perlu disalahkan dari Perbuatan Nekat yang didasari Kebaikan. Tidak Ada yang perlu disalahkan dari kecemasan Seorang Kakak yang didasari Kasih Sayang yang Kuat. Tidak ada yang perlu disalahkan dari Sikap Keras Kepala yang dimiliki Seorang Adik yang didasari Rasa Belas Kasih dan Simpati terhadap Sesama.
Kalian,Anak - Anakku adalah Harta yang Paling Berharga. Aku selalu berdo’a untuk Keselamatan Anak - Anakku di mana pun Aku berada ,dan Bagaimana pun keadaannya.
Sudah Cukup,Kakak “, Bu Nawang mengusap Kepala Indra “, Adik tidak akan cepat pulih Jika Ia kembali merasa sedih. Dan ,Adik,Arjun ,yang telah terjadi biarkan terjadi. Ibu akan berdo’a Semoga Apa yang telah dilakukan Putra Keduamu menjadi Amal Baik,Catatan Baik untuknya. Kalian,Anak - anakku sayang,mengerti ?”,Tanya Bu Nawang mengelus Bahu Kiri Arjun
Indra tergerak mencium tangan Arjun. Arjun menatap Indra. Indra menghapus Lelehan Air mata di bawah hidung Arjun.
“ Jus Alpukat ?”, Tanya Indra menghadirkan Senyumnya kembali,
“ Aku mau Kakak “,
“ Baiklah,Aku belikan sekarang “
***Niel pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Arjun. Niel bertemu Indra yang kembali dari suatu tempat. Indra mengajak Niel menemui Arjun yang telah siuman dan sudah jauh lebih baik keadaannya.
Niel merasa senang mendengar kabar ini,tapi Ia tak bisa memungkiri bahwa Ia merasa sangat menyesal.
Indra menahan Niel di luar Ruangan sejenak. Indra menemui Arjun.
“Adik…”,
“Iya kakak “,
“Maafkan Aku. Aku tidak bisa membawakan Jus Alpukat untukmu. Tidak Apa - apa ya ? Pak Dokter menyitanya dariku saat kami berpapasan di Koridor,kemudian membuangnya ke tempat sampah. Maafkan Kakak,Adik”,
Arjun tertunduk lesu”Tidak Apa - apa,kakak. Kakak benar. Pak Dokter tidak akan memperbolehkanku minum Jus Alpukat”,
“Yah. Sayang sekali. Mungkin di lain waktu,Aku janji. Dan Coba kutanya, Apa yang paling kau harapkan selain Jus Alpukat ?”,
“Aku ingin Marvin datang menjengukku,Bahkan kalau bisa…”,Arjun terkesiap saat melihat Seseorang masuk ke ruangan ini,Niel !
Niel hadir dengan membawa satu kantong plastik kecil berisi segelas plastik Jus Alpukat. Spontan Arjun merasa terharu mendapat kehadiran Niel yang tampak sehat.
Niel duduk di samping Arjun. Keduanya enggan melepas tatapannya satu sama lain. Mata Arjun bergetar. Indra menyaksikan momen haru ini.
Niel membuang muka Rasa bersalahnya. Arjun memandang wajah Niel dengan penuh tanya. Tangan Arjun meraba tangan Niel. Niel datang,seperti biasa memakai jaket Pemberian Arjun.
“Apa Kabar,Niel ? Terima Kasih sudah datang menjengukku. Kau ternyata masih memakai jaketku”,
Niel spontan memeluk erat badan Arjun. Ia menangis menumpahkan Rasa Sedihnya. Indra mengambil Jus Alpukat dari genggaman Tangan Niel.
Indra membiarkan momen haru ini berlanjut. Arjun memeluk badan Niel,Ia membiarkan Niel menangis sampai pada perasaan leganya.
Niel melepas pelukannya dengan masih menangis terisak - isak. Arjun memandang wajah Niel. Ia menunggu Niel mengakhiri tangisannya. Arjun mengusap paha Niel.
"Kabarku terasa seperti menjadi Orang paling sial di dunia ini. Aku tak bermaksud mengejekmu sekali lagi.
Tapi, Aku yang merasa sakit hati membuatku merasa menjadi Orang paling sial”,
"Ada Apa Niel?”, tanya Arjun dengan tatapan sayunya,
“Temanku sendiri mengkhianatiku. Ia ternyata diam - diam ingin menghancurkanku padahal Ia setiap saat berada di dekatmu”,
“Temanmu ? Siapa Niel ? “, Tanya Arjun menggenggam tangan Niel untuk menguatkan Niel.
“Joni,Anak Sialan itu,Arjun. Temanku Via,yang dulu temanmu SD,memberi tahuku semuanya.
Aku sangat sakit hati,Arjun. Bahkan Aku saat ini merasa sangat malu dan menyesal di hadapanmu”,
Dugaan Arjun dan Marvin benar ! Niel akhirnya tahu semua yang terjadi. Niel sempat bertanya pada beberapa Siswa di sekolah tentang kebenaran penyebar Fitnah tentang kejelekan dirinya. Niel mendapat Kebenaran dari setiap siswa yang ditemui.
“Kau sudah menemui Joni,Niel ?”,
“Menemui Anak itu malah akan membuatku Emosi dan semakin membuatku merasa sakit hati”,
“Akhirnya Kau menemuiku ?”,
“Aku menemuimu untuk melakukan Apa yang seharusnya Aku lakukan. Apa kau merasa cukup dengan Aku yang hanya memohon maaf padamu Sementara Aku telah bersikap kasar padamu,Arjun ?
Hukum Aku sesuai Rasa Sakit yang kau terima dariku,Arjun. Aku tahu kau sampai trauma dan ini semua ternyata …”, Niel menahan tangisnya, kepiluannya. Niel menarik nafas namun terasa berat” Sekarang Aku yang merasakan sakit,Arjun. Aku masih belum bisa menerima semua ini”,
Arjun melihat kakaknya,Indra mengangguk bersahaja”Kau kembali padaku dengan masih memakai Jaket ini sudah cukup bagiku,Niel.Kita lanjutkan Apa yang telah kita jalin.
Mungkin dengan bersamaku,Kita bisa membuat momen - momen bahagia untuk pelan - pelan menghilangkan Rasa Sakit Hatimu”Arjun merangkul Niel sambil menenangkannya”,Niel,sudah dua tahun berlalu,Apa kau tak keberatan kalau Aku memintamu cerita tentang perjuanganmu ikut olimpiade Mata Pelajaran ? Aku penasaran sekali,Niel”,
“Oh Soal itu,Ya Tentu”, Niel mengusap air matanya”Dari mana Kita harus mulainya ?”,
“Terserah padamu,Niel. Yang terpenting kau bisa mengurangi rasa sakit hatimu. Kita tidak perlu sedih lagi”,
Tiba - tiba Marvin muncul, Marvin tampak terengah - engah karena berlari agar bisa segera melihat Arjun. Indra menyambut Marvin.
Marvin mendekati Arjun dan Niel yang tampak rukun kembali.
“Lihat ! Pasangan Homo ini akhirnya bersatu ! Pemandangan Indah sekali”, Kata Marvin menggoda Arjun,
Niel merasa tersinggung”Kurasa Kita tidak perlu mendengar kata - kata jorok ini. Aku sudah baikan dengan Arjun.Kau tidak perlu marah lagi padaku”,
“Aku tidak marah padamu. Aku hanya menggoda Arjun. Dia tak keberatan Aku mengajaknya bercanda begitu.
Dia justru yang berkata padaku bahwa Aku bisa mengejeknya Homo untuk mengakrabkan Pertemanan kami”,
Niel melihat Arjun”Kenapa Begitu Arjun ?”,
“Kami sudah bisa berdamai dengan diri kami masing - masing. Ejekan itu tak berarti Apa - apa bagiku selama Marvin selalu mengerti keadaanku”,
Marvin berdiri di samping Arjun”Oh Juara Sekolah ! Bagaimana Aku bisa menjawab Pertanyaannya?
Ia dengan lugunya bertanya ‘Bukankah dua orang saling menyukai akan saling berdekatan ‘?
Pikiranku tak bisa mencapai nalar pikiran temanmu ini. Aku hanya meng’iya’kan Apa yang Ia katakan selama Kami masih bisa menjaga Pertemanan Kita “,
“Homo ?”, Niel mulai ikut - ikutan menggoda Arjun”Homo ! Homo ! Homo ? Oh,Lama - lama Aku merasa diriku menjadi orang idiot ! “, Arjun tertawa melihat tingkah Niel.
“Seperti itulah yang Aku rasakan ! Maka kita perlu mengikuti Bagaimana Cara Arjun memperlakukan Kita”,
Niel mengulurkan tangan ke arah Marvin,bermaksud minta maaf. Marvin menjabat tangan Niel. Niel berdiri kemudian memeluk Marvin sejenak.
“Cukup mengganti kata Homo menjadi kata Teman. Arjun tak meminta hal - hal aneh pada kita.
Dia akan merasa cukup Jika Kita menerima keberadaannya,dengan begitu Ia akan memberi lebih dari apa yang kita bayangkan”,
Niel melihat Arjun,kemudian merangkul Arjun”Apa yang kau minta dariku,Arjun ?”,
“Kau sudah di sampingku dan bersamaku,Niel.Kurasa ini cukup”,
Marvin duduk di samping Arjun”Arjun tahu batasannya,Daniel. Untuk itu Aku merasa dia adalah sosok yang tepat untuk dijadikan teman dekat”,
“Dia sering minta bekal dari Ibuku,Niel. Kakak sering kali mengantar bekal kami ke sekolah”,
“Jadi untuk ini kau berteman dengan Arjun ? Kau tak bermaksud memanfaatkan Arjun,bukan ?”,
“Kau berprasangka seperti itu padaku ? Arjun awalnya mengerti keadaanku saat Aku bercerita padanya.
Ia menawarkan diri untuk membawakanku bekal dari Ibunya. Lalu,kenapa tidak Aku menerimanya ? Nyatanya Pertemanan kami baik - baik saja.
Kau juga tak bermaksud memanfaatkan kesedihan Arjun untuk menaikkan reputasimu di sekolah,bukan ?”,
“Oh Tidak. Kami hanya ingin melanjutkan Pertemanan yang kami buat. Mungkin sebelum kau berteman baik dengan Arjun “,
“Jadi,Apa keberadaanku di sini diskenariokan sebagai Orang Ketiga dalam hubungan Kalian ?”, seloroh Marvin,
Arjun dan Niel spontan Marvin. Arjun tertawa mendengar ocehan Marvin.
“Aku hanya ingin Kita bertiga saling berteman,bersahabat. Untuk membuat Drama Kita pikirkan ke depan”,
***
Kembali ke Sekolah,Arjun mendapat sambutan dari Niel. Momen ini malah mengingatkan Arjun pada Masa Pendaftaran Sekolah dulu. Niel mengiringi Arjun berjalan menuju Kelas.Anak - anak yang lewat menyaksikan Dua bersahabat ini berjalan beriringan.
Bekas - bekas Nuansa Konfrontasi Dua Bersahabat ini masih cukup terasa,Cara pandang beberapa Anak ini terhadap Arjun mulai berubah sejenak satu sekolah mengetahui Aksi Heroik Arjun. Niel mengabaikan Prasangka - prasangka di setiap Pikiran Anak yang memandangnya.
Nile hanya berpikir Ia harus menjaga Arjun. Niel merasa senang dan bangga terhadap Arjun setelah tahu semua kebenarannya. Niel merangkul Arjun. Arjun memandang Niel dengan senyum lega dan Bahagia.
Marvin hadir dari arah halaman parkir,Ia berhenti di depan pintu kelas 2E. Marvin mendapati Arjun dan Niel berjalan beriringan.Marvin mendekati dua temannya ini.
“Aku seharusnya berbicara pada Ibu Kepala Sekolah untuk membuatkan Upacara Penyambutan Kedatangan Kalian ke sekolah kali ini. Tapi kurasa ini berlebihan bagi kalian?”,
Arjun dan Niel saling memandang Keheranan,
“Apa Maksudmu,Marvin ?”,Tanya Arjun,
“Penyambutan Bagi Sang Penyelamat Juara Sekolah,Arjun ! Kau tahu, Banyak Orang yang menanyakanmu.
Banyak orang yang bertanya padaku tentang banyak Hal,kronologi kecelakaan,keadaanmu,kabarmu bahkan Kapan kau akan kembali ke sekolah”,
Niel mendekati Marvin”Kenapa Kau tak mengumpulkan semua orang untuk menyambut kedatangan kami ?”,
“Kenapa kau harus membuatku repot ? Lihat ! Semua orang telah muncul dan menyaksikan kehadiran kalian”, Marvin menunjukkan kehadiran Anak - anak di sekeliling mereka bertiga”, Pemandangan Indah, bukan ?
Dua remaja saling menyayangi pada Akhirnya telah bersatu kembali. Dan pamor Sang Juara Sekolah akan berubah membaik”,
“Tapi,Jangan ada kata - kata ‘Homo’ lagi yang terdengar di antara kita “, Niel sedikit memberi ketegasan pada Marvin,
“Untuk Apa membudayakan Penggunaan kata konyol dan buruk itu sebagai Bahan Candaan ? Budaya berbagi bekal makanan terlihat menguntungkan “, Marvin hadir di hadapan Arjun” Benar kan,Arjun “,
“Iya Marvin”,
“Daniel,Kalian sudah rukun kembali. Drama kalian sudah berakhir. Ngomong - ngomong,Apa kau tak berniat membuat seri Drama lain dengan Orang lain ?”,
“Denganmu ? Misalnya”,
“Aku ? Drama Apa ?”,
“Kau sepertinya pandai berkata - kata dan mahir dalam membuat narasi. Kita pikirkan lakon Apa yang bagus untuk kita buat.
Sekarang lebih baik kalian berdua masuk” Niel berbisik pada Marvin dan Arjun”, Aku mulai gugup dilihat oleh banyak orang”,
“Reputasimu bagus di sekolah ternyata kau masih bisa merasa gugup di hadapan banyak orang seperti sekarang ?”,
“Aku tidak mau lama - lama menjadi Pusat Perhatian,Arjun. Aku akan menemuimu saat Istirahat nanti”,
Marvin berseloroh lagi”Kuharap Pelajaran Matematika dua jam di kelas kami nanti tak berjalan lama,sepertinya Perpisahan mereka ini akan cepat menumbuhkan Rasa rindu”,
Niel merasa candaan ini menyindirnya”Oh Kau cemburu,Marvin ? Arjun jaga dia baik - baik. Aku sadar, Aku ternyata salah bicara. Aku akan menemui kalian saat istirahat nanti”,
Arjun tertawa mengajak Marvin masuk kelas.
“Nah ! itu adalah kalimat yang pas,yang bisa kudengar !”,
Niel menonjok halus lengan Marvin dengan rasa gemas. Niel kembali ke kelas.
Sementara itu,Joni tampak menggerutu secara lirih di lorong Toilet. Ia merasa Ia tidakn akan bisa melakukan Aksi balas dendamnya terhadap Niel lagi lewat Arjun,karena Mereka telah rukun kembali. Joni sedikit menonjok dinding Toilet karena kekesalannya.
Joni berpikir keras untuk menemukan cara lain agar Ia tetap melancarkan aki balas dendamnya secara diam - diam. Ia merasa perlu menjaga jarak dengan Niel agar Perasaannya tidak terlalu terlihat oleh Niel. Joni pun masuk ke kelas.
***
Niel masih menahan dirinya untuk membuat Perhitungan kepada Joni. Tentu Niel merasa sangat kecewa dan marah pada Joni. Niel juga sadar bahwa Joni tengah menjaga jarak dengannya. Niel merasa perlu memberikan perhatiannya kepada Arjun lebih dulu.
Niel masih mengurangi intensitas pertemuannya dengan Arjun untuk menjaga perasaan teman - temannya. Sebagai Gantinya,Niel selalu mengunjungi rumah Arjun sejenak setelah pulang sekolah. Niel terkadang menemui Arjun di saat Jam istirahat kedua.
Arjun mengetahui keadaan ini. Arjun merasa cukup dengan Niel yang menemuinya sesekali. Tapi di luar jam sekolah, Niel mulai sering menghabiskan waktunya bersama Arjun. Arju menemani Niel yang sedang belajar untuk kembali mengikuti Olimpiade Mapel.
Pulang sekolah,Niel memboncengkan Arjun pulang ke rumah Arjun,mengendarai Motor Niel. Sampai di Rumah Arjun, Niel langsung merebahkan dirinya di atas ranjang tidur. Arjun hadir dengan dua gelas minuman dingin.
“Kudengar Kau akan berangkat besok pagi,Niel. Ini kompetisi bagimu kesekian kali, kau pasti akan memenangkannya dengan mudah. Aku percaya padamu “,
“Kau percaya padaku ? Menghadapi Kompetisi kali ini tak seperti menghadapi kompetisi - kompetisi sebelumnya,Arjun”,
“Apa yang membuatmu merasa berbeda ?”,
“Keadaan,Arjun. Pada keadaan sebelumnya Aku merasa sangat berat dalam menghadapi jalannya kompetisi.
Aku pernah hampir putus asa untuk bisa menjuarai satu kompetisi. Dan sekarang, Keadaan telah berubah dan Aku percaya diri 100 % Aku akan menjuarai Kompetisi kali ini dengan mudah”,
Arjun duduk di samping Niel. Niel bangkit untuk duduk. Arjun menyerahkan segelas minuman untuk Niel.
“Apa ada pengaruhnya dari permasalahan kita dulu,Niel ?”,
“Tentu,Arjun”, Niel menerima gelas itu”Aku sempat merenung dan mengoreksi diriku saat kau sedang di Rumah sakit. Aku tersadar bahwa Joni ternyata terlalu keras dalam memprovokasiku.
Joni terlalu mengejar diriku dalam masalah kita. Ia terus memaksaku untuk segera memberimu pelajaran”,Niel meminum minumannya” Ambisi Joni terkadang malah mengacaukan pikiranku,Arjun”,
“Tapi,Aku tidak pernah berniat mengganggumu saat kau tengah menghadapi Perlombaan Niel. Aku tidak pernah menuntutmu untuk selalu bisa menang di setiap kompetisi.
Aku hanya menulis kalimat - kalimat Penyemangat dan dukungan untukmu. Sekalipun kau tidak menjuarai suatu kompetisi,tak masalah, Aku mengerti kerja kerasmu di setiap kompetisi.
Kau adalah orang yang terpilih,Niel. Kau juga memikul beban untuk memperjuangkan nama baik sekolah”,
“Emh”, Niel menepuk tangan Arjun”, Ini yang Marvin maksudkan. Aku tahu sekarang.
Kau tahu Arjun,Joni bahkan tidak pernah berkata seperti ini padaku. Ia hanya menekan emosiku dengan terus mengungkit - ungkit masalah kita”,
Arjun meminum minumannya”Aku tidak akan membicarakan soal Joni denganmu,Niel. Lebih baik buat dirimu lebih fokus untuk Persiapan Kompetisi besok.
Ayo ! Kita lanjutkan Pembelajaranmu tentang materi besok pagi. Kita buat momen tanya jawab”,
Niel menyerahkan Gelas pada Arjun”Betul sekali. Apa kau juga masih menyimpan kekecewaanmu,Arjun ?”,
“Kita sudah baikan,Niel “, Arjun menaruh dua gelas itu di meja kecil yang berada di sebelah ranjang”Hanya itu yang kuharapkan.
Aku tidak berniat membuat masalah dengan siapa pun,termasuk Joni. Jadi,menurutku sudah tidak ada masalah lagi.
Dan Jika kau masih ada ganjalan di hatimu karena Joni,Ceritakan pelan - pelan padaku Apa yang terjadi di antara kalian dari Awal. Mungkin Aku bisa membantumu berpikir,Niel”,
“Ya Arjun. Mungkin lusa,setelah Aku menyelesaikan kompetisiku besok”,
“Kapan pun,teman. Aku siap “,
Niel tersenyum lega pada Arjun.
***Esok hari,di saat Niel hendak berangkat menuju Tempat Penyelenggaraan Olimpiade Mapel. Niel mulai melangkah keluar kelas,tak sengaja Ia melihat keberadaan Silvia di dekat Jendela. Niel tergerak mendekati Silvia.
Mengetahui Kedatangan Niel yang telah berbeda suasana hatinya, Via berusaha mengatasi kegugupannya. Beberapa Teman gadis Via tampak malu - malu menyaksikan pertemuan ini.
Niel mengulurkan tangan ke Arah Via”Aku ingin memulai lembar Nuansa Hidup baru di kehidupan sekolah ini,Via.
Aku akan mulai dengan meminta Do’a pada sosok Orang baik seperti dirimu ,salah satunya. Do’akan Perjuanganku di kompetisi kali ini,Semoga berjalan lancar”,
Via menjabat tangan Niel”Aku selalu mendo’akanmu,Daniel. Selalu mendo’akanmu. Dan,ngomong - ngomong,Apa kau sudah menjenguk,Arjun ?”,
Niel tersenyum samar dan mengangguk”Sudah,Via. Kami telah saling memaafkan. kami sudah baikan kembali.
Semoga ini jadi awal penebusan rasa bersalah bagimu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi,Via. hanya saja Aku masih menahan diriku terhadap Joni”,
“Aku turut bahagia mengetahui Kalian rukun kembali. Dan untuk urusan Joni, Kami perlu meningkatkan kewaspadaan kami padanya.
Tetaplah bersabar,Niel. Jangan merasa Kau kehilangan semua orang, di saat kau mendapat satu musuh dari salah satu teman yang selalu berada di sekelilingmu.
Kami selalu berada di belakangmu untuk mendukungmu. Kami sangat bangga menjadi teman sekelas dari Sang Juara Sekolah”,
“O Ya, Aku perlu berangkat sekarang. Kalian akan menjadi teman sekelas kebanggaanku. Dan “Niel mengusap pipi kiri Via, Via terkejut menerima perlakuan Niel ini.
Jantungnya berdegup kencang”Aku janji Aku akan membagi waktuku dengan Arjun dan Marvin kemudian memberi waktuku padamu”,
Teman - teman Via terbelalak melihat momen indah itu. Ada yang spontan berubah lunglai karena rasa harunya. Mereka tersentuh melihat Via Apa yang Ia harapkan.
Via mengedipkan matanya,menyamarkan rasa haru”Terima kasih,Niel. Aku percaya Kita akan bersahabat baik dan teman - temanku juga”,
“Tentu via. Kalian,teman - teman yang ternyata diam - diam menjagaku”, Niel tergerak menjabat tangan setiap teman sekelasnya yang ada saat ini.
“Kau akan selalu mendapat Perhatian dari Kami”,
Niel tersenyum sejenak,kemudian berlari keluar lapangan. Satu Bus telah siap sebagai Kendaraan menuju tempat Perlombaan. Beberapa Guru Pendamping telah menunggu di dekat Gerbang,bersama Peserta Lomba dari kelas lain. Niel melihat keberadaan Arjun da Marvin di sisi lain gerbang.
Niel berlari kencang menuju Arjun. Tiba di hadapan Arjun, Niel mendapat sambutan hangat dari Arjun. Niel spontan memeluk Arjun. Kedua remaja bersahabat ini sejenak berpelukan.
“Tetap tenang,Niel. Semangat. Percaya diri,Bangun keberanianmu bahwa Tantangan kali ini akan mudah kau taklukkan “, Kata Arjun menyemangati Niel,
“Oeh ! Temanmu hendak Lomba Cerdas Cermat di Gedung GOR Kota bukan hendak pergi ke medan perang,Arjun !”, seloroh Marvin menekan nada bicaranya,
“ Tapi Niel akan merasakan ketegangan yang seolah sama seperti berperang di medan perang,Marvin”,
“Kau pikir Niel akan duduk di Kursi Listrik bertegangan tinggi di sepanjang waktu lombanya ? Hingga Kau sangat mencemaskannya”,
“Kata - katamu justru membuatku takut,Marvin”, Arjun menatap Marvin dengan tatapan tajamnya. Arjun meraih satu tas berisi sebotol minuman dan beberapa snack dari tangan Marvin.
Arjun menyerahkannya pada Niel”Jangan dengarkan Marvin,Niel. Dia hanya kecewa karena Ia kemarin mendapat tempeleng dari Pak guru fisika !”,
“Apa dia mengajak bercanda Pak Guru fisika ? Bukankah penampilan beliau sekontras dengan karakter dan tabiatnya”,
“Marvin berani menguji nyalinya dengan mengikuti gaya bercanda Pak Guru Fisika yang selalu terkesan genit dan vulgar terhadap siswi - siswi di kelas”,
Niel tertawa”Salah paham ? atau Miss-understanding ? Aku selalu berpura - pura lugu saat berhadapan dengan tabiat beliau”,
“Beliau adalah sosok yang susah ditebak,yang selalu meninggalkan kesan menakutkan “,
Marvin menyela pembicaraan Niel dan Arjun”Dan untuk itulah,Aku berusaha sedikit memecah imej killer yang melekat padanya.
Tapi,sayangnya,mungkin caraku yang salah menurutnya dan pada Akhirnya,ya seperti yang Arjun bilang. kau bisa bayangkan rasanya mendapat perlakuan mengejutkan dari Guru Fisika itu ?”,
Niel langsung memeluk Marvin”Lupakan kenangan buruk barusan. Do’akan Aku agar Aku berhasil dengan mudah kali ini”,
Marvin menepuk bahu Niel”Ya ya. Aku tahu kemampuanmu,Juara Sekolah ! Bagaimana Aku memanggilmu itu menjadi do’a bagimu”,
Niel melepas pelukannya”Luar biasa ! “, Niel beralih ke Arjun”Apa ini Arjun ? Terima Kasih sebelumnya”,
“Ibu Nawang yang menyiapkannya untukmu. Satu botol berisi teh jahe hangat untuk menjaga staminamu,dan beberapa kue pastel dan Risol buatan Ibu. Kuharap kau menyukainya”,
Marvin menyerobot giliran Niel berbicara”Tentu saja Niel akan menyukainya,karena kalian telah kehilangan rintangan untuk saling berdekatan kemudian saling menyukai”,seloroh Marvin membuang Muka. Niel spontan tertawa kembali,
“Abaikan Marvin,Niel. Aku percaya kau akan pulang membawa medali lagi sebagai Juara Sekolah “,
Marvin merangkul Arjun”Jangan menyampaikan kekhawatiranmu terhadap ,Arjun. Sementara Aku telah seolah - olah menjadi Bodyguardnya di sekolah ini. Pergi dan Lanjutkan Perjuanganmu kali ini !”,
Niel memeluk Arjun lagi,sejenak,kemudian masuk ke dalam Bus. Niel melambaikan tangan ke Arah dua temannya. Arjun dan Marvin membalas lambaian Niel.
Marvin dan Arjun kembali ke kelas. Satu pertanyaan Marvin yang membuat terkesiap,
“Apa Daniel sempat berpamitan pada Sahabatnya yang lain, Joni misalnya ?”,
Arjun terdiam memandang Marvin dengan beragam maksud. Marvin paham Maksud Arjun.
“Ah Sudahlah ! Untuk Apa Aku membuatmu berpikir tentang Anak Provokator itu ?”,
Arjun tersenyum lega saat Mereka masuk ke kelas.
***Pada Suatu malam,Indra menemui Arjun di kamarnya. Sudah hampir seminggu Indra meninggalkan rumah karena kegiatan kampus bersama teman - temannya. Arjun tampak serius dalam belajar untuk persiapan tes ujian kenaikan kelas. indra masuk menemui Arjun.
‘“ Adik”, panggil Indra menyela keseriusan arjun yang sedang belajar,
“ Kakak pulang ! “, Arjun langsung menyambut Indra. Kedua kakak beradik ini berpelukan sejenak”, Kakak,apa kabar ?”,
“ Aku baik - baik saja. Bagaimana Kabarmu ? Bagaimana kabar kalian di sekolah ?”,
“ aku juga baik - baik saja,begitu juga Niel dan Marvin. Niel mengikuti Olimpiade Mapel lagi hari ini,kakak. Aku yakin dia pasti menjuarai Olimpiade itu lagi”,
“ Mm…pastinya !”, Indra menuntun Arjun mendekati ranjang tidur. Mereka duduk di tepi ranjang tidur” Aku melihat Kau sudah tidak merasakan kesedihan lagi. Tubuhmu juga sudah sehat kembali”, Indra mengusap pipi Arjun” Aku juga tak merasakan Pancaran rasa gundah dari wajahmu,Arjun.Aku sudah merasa tenang”,
“ Syukurlah Kakak. aku sudah mendapat semua yang aku inginkan. Kakak,terima kasih sudah mendampingi Adik di saat Adik melewati masa - masa sulit kemarin”, Arjun meraih tangan Indra kemudian menciumnya sebagai tanda Rasa hormat dan sayang,
“Iya adik. Semoga hari - harimu bahagia untuk ke depannya”,
Arjun tersenyum “ Kakak baru saja tiba,Apa kau sudah menemui Ibu ? Apa perlu Aku buatkan minum di dapur ?”,
“ Aku baru saja tiba, Aku sempat menemui Ibu yang sedang membersihkan Kamar. Ambilkan Air putih dingin yang ada di kulkas saja untukku”,
“ Baik Kakak. Tunggu sebentar”,
Arjun bergegas menuju dapur untuk mengambilkan Air minum. Sementara Indra mengeluarkan satu handphone kemudian meletakkan di atas bantal. Arjun hadir dengan segelas Air dingin dan sebotol Air dingin sebagai Refill,
Indra minum Air ini sejenak. Rasa Dahaga yang terobati. Arjun duduk di samping Kakaknya.
“ Adik”, panggil Indra merangkul Arjun” kakak ingin bicara sesuatu denganmu”,Indra memberi gelas kosong ini pada Arjun,
“ Ada Apa kakak ?”, tanya Arjun menerima Gelas kosong ini,kemudian menaruhnya di meja kecil,
Indra mengambil Handphone kemudian menyerahkan pada arjun. Arjun menerima Hp itu dengan penuh rasa tanya.
“ Kakak,Hp ini milik siapa ? kenapa kau menyerahkannya padaku ?”,
“ Ini milikmu,Adik. Kurasa sudah saatnya kau bisa memiliki Hp”,
Arjun terkesiap,ia pun berubah bahagia” Tapi,Apa Ibu sudah tahu tentang hal ini ? Aku khawatir kalau Aku sampai ketahuan Ibu nanti,Ibu bisa marah padaku”,
Ibu Nawang masuk ke kamar arjun” Marah untuk hal Apa,Anakku? Ibu tidak akan marah Jika Ibu tahu sebabnya”,
Indra menggeser posisi duduknya untuk memberi ruang duduk kepada Ibunya. Bu Nawang duduk di antara kedua putranya.
“ Kakak memberiku Hp Ibu,karena Ia rasa Aku sudah pantas untuk mempunyai Hp. Tapi Aku takut seandainya Ibu belum tahu,Nanti Ibu akan memarahi kami”, Arjun menunjukkan Hp itu pada Ibunya,
Bu Nawang menggenggamkan Hp itu ke tangan Arjun” Adik,sebelumnya Ibu minta maaf pada Adik karena sudah berulang kali,entah Ibu atau kakak terlambat menjemputmu saat pulang sekolah. Terkadang Ibu melihatmu ngambek saat tiba di rumah.
Jadi untuk mengantisipasi hal ini,Ibu dan kakak memutuskan untuk memberimu Hp”, BU Nawang membelai pipi Arjun”, tapi Adik,Ibu mohon gunakan Hp ini sebaik mungkin.
Ibu mohon gunakan Hp ini untuk menelpon Ibu atau kakak Jika waktu pulang sekolah telah tiba. Supaya kami tidak terlambat menjemputmu. mengerti maksud Ibu ?”,
“Emh. Aku mengerti,Ibu. Aku akan gunakan HP ini untuk menelpon saja. Aku tahu sudah mulai banyak teman - teman di sekolah membawa Hp,kemudian mereka menghabiskan waktunya untuk bermain hp.
Tapi bagiku,Aku akan gunakan Hp ini untuk menelpon Ibu atau kakak saja”,
“ Pintar sekali ! O ya ,sekarang lebih baik Kita pergi ke ruang makan untuk makan malam. Ibu sudah siapkan lauk kesukaan Kakak”,
“ Ya ya ! Aku sudah lapar sekali Ibu”, Indra berdiri meraih tangan Arjun” Ayo Arjun,kita makan malam.
Kau harus makan banyak ! Kulihat kau seperti agak kurus kutinggal pergi”,
“ Ah kakak ! Adik memang seperti ini,Jangan mengejekku kurus”,
“ Oeh ! Kau agak kurusan setelah pulang dari rumah sakit kemarin. Jadi sekarang Aku perlu memberimu makan yang banyak. Bukan begitu Ibu ?”,
Bu Nawang tersenyum melihat tingkah kedua Putarnya” Justru Kakak tampak lebih gemuk karena sering jajan bersama teman - teman kampus.
Coba katakan Siapa yang membuat penuh tempat sampah dengan bungkusan jajanan dan gelas plastik minuman dingin ?”,
“ Ehehe”, Indra menggaruk kepalanya karena malu”, Aku ibu. Tapi teman -teman sering mentraktirku makan di luar. Mereka sering membungkuskan makan untukku”,
Arjun memeluk erat perut Indra” Nah ! Ketahuan sekarang ! Jangan menutup - nutupi hal ini di depan ibu”,
“ Tapi Kau juga perlu makan banyak,Bocah !”, Indra menyentil hidung Arjun “, Ayo ! Kita makan sekarang”,
“ Ayo !”,
Mereka bertiga pergi ke ruang makan untuk makan malam.
***
Di sekolah,esok harinya,Arjun bertemu Marvin di depan kelas Mereka. Tak lama kemudian,Niel tiba di sekolah. Niel langsung berlari mendekati Arjun. Arjun dan Marvin masih belum menyadari kehadiran Niel.
“ ARJUUN !!”,Niel berteriak memanggil Arjun,Spontan Arjun mengalihkan perhatiannya pada Niel. Niel berlari menunjukkan medali kemenangan olimpiade Mapel kemarin.
Arjun menyambut kehadiran Niel dengan perasaan bahagia. Niel berhenti di hadapan Arjun. Ia mengatur nafasnya sejenak.
“ Apa ini tandanya Kau menang,Niel ?”,tanya Arjun
“ Ya Arjun”, Jawab Niel masih terengah - engah” Aku berhasil !”,
“ Oh Selamat ,Kawan ! Selamat ! Usahamu tak sia - sia “,
Niel langsung mengalungkan medali itu ke leher Arjun. Arjun merasa terharu menerima perlakuan Niel ini. Niel merangkul Arjun dengan rasa bangga.
Arjun merasa bangga saat memandangi Emas medali ini. Marvin hadir di samping Arjun.
“ Yah benar. Arjun layak menerima perlakuan ini. Betapa Indah dan mengharukannya pagi ini. Dua remaja saling menyayangi ini bertemu dalam keadaan senang hati”,seloroh Marvin berakting terharu,
“ Sikapmu seperti ini,Marvin ? atau Kau menutupi kecemburuanmu ? kau minta giliran untuk memakai medali ini ?”,
“ Medali itu tidak akan menyelesaikan kecemburuanku terhadap kalian. Oh Maaf ! Jangan berpikir seperti itu padaku ! Seorang teman perlu ikut merasakan Apa yang temannya rasakan.
lalu,dengan cara apa Kita perlu merayakan kemenangan ini,Daniel ?”,
Niel hadir di belakang Marvin dan merangkulnya” Sepulang sekolah temani Aku makan siang bersama Arjun”, Niel berbisik”, Perayaan hanya untuk kita bertiga. Jangan siarkan hal ini pada siapa saja “,
“ Untuk rencana seperti ini ,Aku perlu bersikap egois. benar ?”, Marvin langsung mendekap Niel sebagai Ungkapan Ucapan selamat” Sang Juara sekolah tetap akan mampu mempertahankan Prestasinya di sekolah.
Dan Reputasinya akan lebih baik dari sebelumnya. Lihat temanmu tampak seperti Orang udik yang tak berhenti membolak - balik Bandul medali itu.
Dia pikir benda itu seperti Permen Coklat yang dibalut dengan kertas emas yang biasa dijual di kantin sekolah”,
“ Ahaha…Lucu sekali !”, Niel tertawa
“ Ah ! Marvin diamlah ! Aku hanya tak bisa berhenti berpikir bahwa Apa ini emas sungguhan atau tidak ?Apa kita bisa menjualnya ke Toko Emas Jika suatu saat Kita membutuhkan Uang ?”,
Marvin malah tertawa geli,Niel malah berubah malu dan heran” Ahaha. Lihat Daniel ! Jadi Arjun pikir benda itu emas sungguhan atau palsu. Pemikiran yang di luar dugaan !”,
“ tapi Perjuanganku tak main - main untuk kompetisi kali ini,Marvin !”, Niel tampak sedikit gusar,
Arjun melepas medali itu,kemudian mengalungkan ke leher Niel” Ya. aku tahu perjuanganmu tak main - main,Teman. Dan sekali lagi,Selamat ! Aku turut berbahagia di pagi yang cerah ini”,
“ Terima kasih teman - teman “,
“ Yup. tapi Daniel. Tolong Jangan lupakan teman - temanmu yang lain. Mereka juga berhak menerima kabar bahagia ini.
Jangan sampai lupa pada teman - teman dekatmu,Joni misalnya”,
Arjun spontan menepuk tangan Marvin sebagai isyarat untuk tutup mulut” Marvin !”,
Niel sadar akan tingkah dua temannya ini. Ia sudah tahu Bagaimana sikap yang tepat untuk menyampaikan Kabar ini kepada Orang yang Marvin maksud.
“ Arjun,jangan seperti itu. Aku tahu kau mencemaskanku. Aku akan tetap menemui mereka bagaimana pun.
Untuk Bagaimana Reaksi mereka saat Aku menemui mereka nanti,Aku tidak ambil pusing. Aku belajar Bagaimana bersikap yang lebih pantas di hadapan mereka”,
“Maafkan aku,Niel. Aku hanya tidak ingin Marvin menyinggung perasaanmu”,
Marvin perlu bicara sekali lagi” Arjun,seorang Juara Sekolah sudah pasti bijak untuk mengambil sikap. Mungkin kita sudah tahu hal ini satu sama lain.
Jadi Biarkan Niel melakukan Apa yang seharusnya Ia lakukan terhadap Teman - temannya.
Kita menuai hasil dari Apa yang Kita tanam lewat perbuatan kita”,sikap Marvin tampak serius kali ini” kau berani mengorbankan Nyawamu untuk menyelamatkan Daniel,
Jadi Sekarang Daniel perlu membalas jasamu dengan memberi perhatian lebih padamu. Terima saja dan syukuri saja,Arjun.
Dan untuk siapa dia yang telah menjadi ‘ Serigala berbulu Domba’ yang tindakannya telah terbongkar,Aku tidak tahu Apakah Niel akan melaporkan hal ini ke Guru BP atau tidak,
Itu terserah Niel, Aku hanya selalu mengingatkan,Jangan sampai terlena dan lupa pada Apa yang telah Ia terima hingga membuat kalian bertengkar. Itu saja”,
Niel menepuk bahu Marvin” Lihat,Aku telah mendapat dua sosok yang saling melengkapi !
Arjun yang selalu menyayangi,mengasihi dan memaafkan. Marvin yang selalu tegas,waspada dan saling mengingatkan Apa yang kurang pada diri kita. Aku bangga pada diri kalian !”,
“ Emh. Aku juga bangga padamu,Niel”,Arjun merasa lega,
“ Ini Menjadi momen menyentuh ! Haruskah kita merasa melankolis seperti tiga insan yang tengah menjalin cinta segitiga ? “, seloroh Marvin membuat Niel dan Arjun terkesiap,
Arjun tertawa menepuk lengan Marvin,
“ Kau ada - ada saja,Marvin. Kata - katamu bisa membuat Orang salah paham !”, Niel sedikit mendorong bahu Marvin,
“ Salah paham ? Manusia padahal tidak pernah lepas dari rasa bersalah !”,
Niel melepas Nafas kesalnya. Arjun tak berhenti tertawa.
***
Suatu pagi,Saat hari Penerimaan Rapot, Arjun ikut Bu Nawang ke Sekolah untuk mengambil Rapot. Begitu Juga Niel, Niel menemani Ibunya mengambil Rapot. Niel menemui Arjun kemudian mengajaknya bermain di dekat Gerbang Sekolah.
Tak lama kemudian,Joni datang bersama seorang Pria paruh baya,bertubuh gempal dan berkulit hitam legam. Pria ini berpenampilan seperti Preman dengan Pakaian kemeja,dengan kancing terbuka sampai setengah dada.
Perut yang tampak buncit dengan mimik wajah yang sangar namun berkesan tenang. Rambut ikal cukup panjang diikat ke belakang,tak lupa Kacamata hitam tersemat di atas kepala bagian depan.
Menyadari Kehadiran Joni,Niel langsung menarik Arjun untuk ikut bersembunyi. Niel tahu siapa Pria itu. Pria itu adalah Bapaknya Joni. Niel teringat perkataan Joni,waktu pertama kali bertemu dulu.
Raut Muka Niel berubah geram. Niel mulai menyadari suatu hal ternyata disembunyikan oleh Joni selama ini.
Arjun heran dan bertanya - tanya melihat sikap Niel saat ini. Niel mengajak Arjun ke kantin. Arjun tak berani bertanya pada Niel kali ini. Arjun tahu Niel sempat mengetahui kedatangan Joni.
Tiba di ruangan Kantin,Niel langsung memukul meja yang ada di dekatnya sebagai pelampiasan Amarahnya.
“ Sialan ! Jadi selama ini Joni membohongiku ! Bodohnya Aku,kenapa Aku bisa percaya padanya waktu itu?”,
Arjun memberanikan diri untuk bertanya “ Ada Apa,Niel ? Apa maksudmu berkata seperti itu ?”, Tanya arjun dengan hati - hati,
“ Kau masih ingat ceritaku tentang Joni,Arjun ?”,
“ Iya Niel”,
“ Kau ingat tentang Aku bercerita tentang Bapaknya Joni yang sedang di penjara ?”,
“ Iya. Aku masih ingat Niel”, Arjun terkesiap karena kecepatannya berpikir menyimpulkan satu hal”, Jangan - jangan Pria yang bersama Joni tadi adalah bapaknya”,
Niel menatap Arjun” benar Arjun. kau benar sekali. Kurasa Joni selama ini membohongiku. Ia ternyata Ia mengelabuhiku agar bisa mendekatiku untuk diam - diam melakukan hal buruk terhadapku”,
“ Niel,bukankah kalian pernah bertengkar di masa lalu ? Kau juga bercerita bahwa Keluarga Joni harus menerima sanksi atau hukuman sosial dari Masyarakat tempat tinggalmu dan Joni.
Jadi, Bapaknya Joni pernah mencuri di Rumahmu,tertangkap ! Alhasil semua orang mengetahui tindakan ini. Dan mau tidak mau,Keluarga Joni harus menanggung malu akibat tindakan Bapak Joni.
Tentunya Mereka dikucilkan oleh Masyarakat,Mereka mendapat perundungan dari Masyarakat. Oh tunggu,Jadi Aku tahu sekarang Apa maksud Joni,Niel ?”,
“ Apa arjun ?”,
“ Joni ingin membalas dendam padamu atas apa yang diterima oleh keluarganya selama ini. Secara diam - diam. Dan salah satu tindakan Joni itu adalah memanipulasi masalah kita,merekayasa kekacauan di antara kita… “,
Niel langsung memotong perkataan Arjun” Dengan Cara menyabotase suratmu dengan memaksa Silvia menulis ulang surat ulang dengan akal busuk Joni.
Sial ! Sial ! Arjun, Aku baru menyadarinya sekarang. rapi sekali dia melancarkan aksinya terhadapku”,
“ Dan sekarang semua sudah jelaskan,Niel ? Aku tidak mau menyuruhmu langsung membalas perbuatan Joni sekarang juga”, Arjun merangkul Niel” Tetap sabar,Niel. Sekarang bukan saat yang tepat”,
“ Tapi Aku terlanjur malu dan menyesal di hadapanmu,Arjun. Aku merasa berdosa telah bersikap kasar padamu waktu itu”,
“ Niel,semua hal yang telah berlalu biarkan berlalu. Tidak usah disesali lagi. Kita sudah baikan,Aku sudah merasa senang.
Aku tidak menaruh Rasa dendam pada Joni. Aku juga paham keadaanmu waktu itu karena Aku merasakan sedikit keanehan waktu itu dan sekarang terjawab sudah Rasa penasaranku”,
“ Kenapa kau bisa bersikap seperti ini,Arjun?”,
“ Pelajarannya adalah Andai saja joni tidak menekanmu untuk segera memberiku pelajaran,kau mungkin sudah melupakanku,Niel.
Joni bisa saja punya cara keji lain untuk mengadu domba kamu dengan Orang lain. aku menerima semua yang telah terjadi padaku,karena masalah akibat ulah Joni,kau lebih memperhatikanku,Niel. Kau selalu mengingatku meski dalam Rasa Bencimu terhadapku”,
Niel malah teringat kata - kata Bu Nawang,saat di Rumah Sakit dulu” Kau benar,Arjun. aku akan lebih berhati - hati ke depannya. Aku akan lebih waspada terhadap Joni di waktu yang akan datang”,
“ Kita kembali ke lapangan,Niel. Mungkin Ibu kita sudah menerima Rapot. Lupakan sejenak masalah Joni,Niel. Aku tak ingin melihatmu emosi lagi”,
“ Baiklah arjun. Setelah aku mengantar Ibuku pulang. Aku akan main ke rumahmu. Besok sudah mulai libur”,
“ Kau jadi menginap di rumahku ?”,
“ Tentu. Aku akan membawa PS ke rumahmu. Kita bermain bersama. kau mau?”,
“ Ya apapun itu. Asalkan Kau bisa senang”,
Niel merangkul Arjun kemudian kembali ke Lapangan.
***
Suara Petir terdengar menggelegar saat Arjun berpisah dengan Marvin. Arjun melambaikan tangan pada Marvin yang telah dijemput oleh Ayahnya.
Namun perasaan tidak enak yang terasa di dalam hatinya sejak jam - jam pelajaran terakhir,belum juga hilang. Arjun bertanya - tanya. Apa rasa ini menjadi satu Firasat ?
Benar ! Kegundahan itu menjadi Firasat. Setelah mematikan telepon dengan kakaknya,Arjun menemukan seseorang tak berdaya,bersandar pada satu pohon yang berada di pojok Lapangan.
Daniel ! Niel tampak tak berdaya dengan pemandangan bekas - bekas darah yang mengalir di ujung bibir kanannya.
Arjun spontan berlari mendekati Niel. Merasakan kehadiran Seseorang,Niel berusaha berdiri dengan merambatkan tangannya pada Batang Pohon.
Niel masih merasa syok,sekaligus masih menahan Rasa Nyeri di perut dan di bagian rusuknya. Niel sesekali mengusap wajahnya,Nyeri juga terasa di wajah, Ia masih tampak terengah - engah.
Arjun tiba di hadapan Niel. Arjun terkejut melihat keadaan Niel. Baju seragam dan Jaket Niel tampak kotor. Ada beberapa jejak sepatu di celana,Jaket dan seragam Niel bagian depan.
“ Niel,Niel,Ada apa ? Apa yang terjadi padamu ?”, Tanya Arjun panik,
“ Sesuatu telah terjadi padaku,Arjun”, Niel menatap wajah Arjun dengan mata basah. Perlahan Kedua tangan Niel meraih kedua lengan Arjun” Teman - teman melakukannya padaku,barusan”, Niel tampak menahan rasa sakitnya,
“ Apa yang mereka lakukan ?”,
Niel hendak memeluk Arjun,namun ia sudah tak bisa menahan lagi Rasa Nyeri di perutnya. Badan Niel hampir terjatuh karena ketidak berdayaannya. Secara refleks Arjun menerima badan Niel.
“ Maafkan aku,Arjun. maafkan Aku”,Niel mendekap Badan Arjun” Mungkin seperti ini rasanya Rasa sakit di hatimu akibat ulahku dulu. Maafkan Aku,Arjun”,Nada bicara Niel terdengar berangsur lemah,
“ Iya Niel. Sekarang Aku akan membawamu pulang. Aku akan merawatmu,Niel”,Arjun memapah Niel dalam berjalan.
“ Terserah padamu Arjun”, Niel memasrahkan badannya pada Arjun,
Arjun dan Niel berjalan perlahan. Indra tiba di lapangan sekolah. Arjun meminta kakaknya untuk segera membawa Niel ke rumah pulang. Arjun akan pulang menggunakan Mini Bus sampai perempatan masjid Besar untuk mempersingkat waktu.
Indra menyanggupi permintaan Adiknya. Saat semuanya telah tiba di Rumah,Arjun langsung merawat Niel. Indra membaringkan Niel di atas ranjang tidur Arjun.
Arjun hadir menyiapkan sebaskom kecil Air hangat untuk menyeka keringat dan bekas - bekas darah pada bibir Niel. Niel mulai tertidur setelah keadaannya terasa lebih baik.
***
Arjun masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan dengan dua cangkir teh hangat. Indra tampak duduk termenung,memandang Jendela Kamar. Niel telah bangun dari tidurnya. Arjun meletakkan nampan itu di samping kakaknya,di atas meja belajar.
Niel berusaha bangkit untuk duduk. Arjun dengan sigap membantu Niel. Niel tampak sesekali menahan Rasa Sakit,
“ Kau tidur cukup lama,Niel. Apa badanmu terasa lebih baik ?”, Tanya Arjun membenarkan Posisi duduk Niel,
“ Sedikit lebih baik,Arjun. Tapi lengan kananku dan area tulang rusukku masih sedikit nyeri. Terima Kasih kau sudah merawatku”,
“ Ya,teman. Jadi Kira - kira,Apa besok kau bisa masuk sekolah ?”,
“ Iya. Aku masih mampu”,
Arjun menyerahkan secangkir teh hangat kepada Niel.
Beritahu diriku Jika kau sudah tiba di sekolah besok,Aku akan membantumu berjalan, Jangan khawatir”,
Niel meminum tehnya” Iya Arjun. Aku akan minta Ibuku untuk mengantarku besok “,
“ Tapi,tidak apa - apa Jika Orang tuamu sampai tahu keadaanmu begini ?”,
“ Kurasa tidak ada yang perlu ditutup - tutupi lagi,Arjun. Karena Joni sudah kelewatan. Sudah saatnya semua tahu. Seorang Penjahat perlu mendapat pelajaran atas apa yang Ia perbuat”,
Indra menyela pembicaraan mereka” Jadi selama ini Perselisihan kalian dibuat atau direkayasa oleh seseorang ? Bukan murni kesalah pahaman”,
“ Iya kakak. Teman kelasku bernama Joni,berakal busuk dan licik,berniat balas dendam padaku atas Apa yang diterima oleh Keluarganya karena Perbuatan Ayah Joni.
Tapi Kehidupan di masyarakat memang begitu,Tak semua orang menutup mata dan telinga mereka. Semua Orang mengenal keluargaku. Keluarga Dwiki Wijaya menjadi Pengayom dan panutan bagi warganya.
Aku merasa bangga menjadi bagian dari Keluarga, Untuk itulah Bagaimana Aku dibesarkan di keluargaku,Bagaimana Karakter terbentuk dan dikenal oleh Siapapun.
Sekali Keluargaku mendapat Musibah,banyak orang menolong Kami,memberi dukungan kepada Kami. Ayah Joni hanya berada di situasi yang kurang beruntung saat itu.
Tempat tinggal kami sedang ramai - ramainya dengan isu Pencurian. Otomatis Ayahku menggerakkan Warga untuk Ronda malam. Malangnya Kenekatan Ayah Joni berakhir tragis.
Para Warga memergoki Aksinya yang sedang mencongkel Jendela Ruang Tamuku. Kebetulan Ayahku pulang dari melayat saudaraku yang sedang mendapat Kedukaan Kematian.
Ayah yang menyadari tindakan ini. Secara diam - diam memanggil Warga untuk menangkap Ayah Joni. Ayahku memang mengampuni Ayah Joni,Tapi Ayahku tidak bisa menghentikan tindakan Warga untuk memberi Hukuman berupa ejekan,Perundungan dan Diskriminasi terhadap Keluarga Joni. Aku baru menyadarinya sekarang dan Aku tak bisa berbuat Apa - apa “,
“ Dan Adikku sebenarnya tidak bersalah di dalam kalian ini ?”,
Arjun mendekati Indra” Kesalahanku hanyalah memberi tahu Apa yang Aku lakukan pada Joni. Aku memberi tahu Joni bahwa Aku telah menyelipkan Surat ke sepeda Niel,Kakak”,
Indra mengambil surat - surat manipulasi yang dibuat Joni,yang disimpan di dalam lemari meja belajar Arjun” Jadi Surat - surat ini Palsu ? Ini yang menjadi Pemicu Perselisihan Kalian. Bahkan Kesedihan Arjun selama 2 tahun”,
Niel terkesiap melihat Indra meletakkan Surat - surat itu di samping nampan. Niel membuang muka malunya,
“ Iya Kak Indra. Itu adalah surat yang ditulis ulang oleh temanku bernama Silvia atas akal busuk Joni. Aku menyesal sekali,Andai sekali saja,Aku bersedia mendengar Arjun bicara “,
Indra mengusap kedua lengan Arjun” Jadi,Adik semuanya sudah terungkap sekarang”, Indra merendahkan suaranya” Kau bisa benar - benar merasa lega sekarang”,
“ Iya Kakak. Tapi Bagaimana dengan Niel ? Aku takut Ia tidak akan lepas dari Gangguan teman - temannya”,
“ Lalu Untuk Apa kau menjadi temannya Niel ? Apa kau tak tergerak melindungi Niel,menjaga Niel ? Apa keberadaanmu di samping Niel hanya sebagai status seseorang yang selalu di sekeliling NIel ?”,
“ Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Kakak. Aku akan melaporkan Joni ke Guru BP besok,atas tindakan yang Ia lakukan padaku.
Arjun akan tetap menjagaku. Aku akan mendatangi Arjun di setiap Jam istirahat. Aku telah mendapat dua sosok teman yang tepat,Arjun dan Marvin. Kami akan saling melengkapi”,
“ Ok Baiklah. Kalian telah belajar banyak hal. Aku tidak perlu merasa khawatir terhadap kalian,terutama kau,Adik”, Indra menyentil hidung Arjun secara halus,
“ Dan sekarang,Apa Kakak tidak keberatan Jika Adik minta tolong padamu mencarikan makan siang untuk Kita bertiga ? Ibu menelponku tadi. Ibu memberi tahu bahwa Ayah dan Ibu akan pulang sore nanti”,
“ Tentu Adik”, Indra berdiri “ Jangan lupa siapkan Obat Pereda Nyeri untuk Niel. Ada di dompet Plastik transparan yang ada di Kotak Obat”,
“ Baik Kakak”,
“ Terima Kasih,kakak,Arjun”,
“ Ya ! Tetaplah Jadi Anak -anak baik,kalian”,
***
Pagi ini,di Kelas Arjun mendapat Tugas mencatat Materi Pelajaran karena Ada Beberapa Guru yang sedang mengadakan Rapat di Kantor. Marvin meminta tolong Arjun menggantikan Tugasnya mencatat di Papan Tulis karena Ia ingin buang Air Kecil ke Toilet. Arjun menggantikan Marvin dengan senang Hati.
Marvin kembali ke kelas saat Arjun sudah selesai mencatat di Papan Tulis. Arjun tak hanya mencatat di Papan Tulis,Ia juga mencatatkan Materi di Buku Tulis Marvin. Marvin langsung duduk di samping Arjun.
“ Apa yang Kau lakukan di Toilet,Marvin ? Hingga membuatmu lama sekali menghabiskan Waktu di Toilet”,
“ Kau pikir Aku melakukan simulasi Orang melahirkan ? Jangan berpikir aneh - aneh terhadapku,Arjun “,
“ Kukira Kau sedang Diare ? Biasanya Orang akan berlama - lama di Toilet karena Diare atau Konstipasi “,
“ Konstipasi ? Ah ! Jangan mengarahkan Pikiran kita pada hal - hal menjijikkan,Arjun”,
“ Lalu Apa yang kau lakukan di luar tadi lama sekali ?”,
“ Aku memergoki Niel dan Joni berada di Ruang Guru,Arjun ! Mereka tampak saling diam,Sepertinya Kau perlu melihat Mereka”,Marvin melirihkan suaranya,
“ Niel melakukan Apa yang ingin Ia lakukan ,Marvin. Aku menolong Niel kemarin sore setelah Ia dihajar oleh Teman - temannya di Pojok Lapangan”,
“ Apa ? Benarkah ? “,
“ Iya Marvin. Setelah kita berpisah kemarin,Aku menemukan Niel menyandarkan badannya di Pohon dalam keadaan tak berdaya,Keadaannya menyedihkan !
Baju dan Celana Seragam Niel kotor ! Begitu juga Jaket yang Ia pakai. Aku periksa Beberapa Bagian Otot badan Niel terasa kencang,Aku khawatir akan menjadi lebam besoknya”,
“ Bukankah Niel hanya mempunyai bermasalah dengan Joni seorang ? Kenapa Niel bisa mendapat tindakan seperti itu ?”,
“ Ingat Bagaimana Tipikal Seorang Joni,Marvin ? Mungkin Joni mempengaruhi teman - temannya untuk membenci Niel”,
“ Oh ya,benar sekali ! Aku kira terjadi Kesenjangan di antara Niel dan teman - temannya,Aku juga mengira terjadi Kecemburuan di antara Mereka “,
“ Aku takut diriku menjadi pemicu kecemburuan yang terjadi di antara Mereka. Karena kurasa Niel mulai memberikan perhatiannya lebih banyak padaku “,
“ Daniel sudah melakukan hal yang benar,Jangan merasa cemas seperti itu,Arjun. Setiap Orang seharusnya punya rasa maklum pada Apa yang telah terjadi di antara kalian”,
“ Benar Marvin. Aku biarkan Apa yang terjadi pada Niel dan teman - teman sebagaimana mestinya. Aku tidak mau mencampuri urusan ini “,
“ Ya tapi kita seharusnya tetap mengawasi Niel dan mensupportnya dari belakang”,
“ Okey. Nah lihat ! Aku juga mencatatkan Materi di depan ke bukumu “,Arjun menunjukkan Buku Marvin kepada Marvin,
“ Wah ! Baik sekali, Kenapa kau sampai repot - repot melakukan hal ini padaku ?”,
“ Tidak ada Kata Repot dalam hal berbagi Kebaikan,Marvin”,
Marvin tersenyum merapikan bukunya.
***
Pulang sekolah,Niel Pulang ke rumah Arjun sebentar. Ia ingin menenangkan Pikirannya yang seharian tadi terasa kacau. Ini tentang Tindakan Niel yang melaporkan Joni dan dua temannya kepada Guru BP di sekolah.
Pembicaraannya selanjutnya Akan dilakukan bersama Orang Tua murid dari Semua pihak. Satu hal yang masih tak habis pikir oleh Niel. Kenapa Dua temannya,yang selalu setia menemaninya di kelas,malah berbalik melawannya dan ikut mendukung Aksi Joni saat menghajar dirinya sore kala itu ?
Pemandangan Langit dengan awan kelam menyembunyikan bulatan Matahari menyisakan rona warna jingga yang memulas Seluas langit ufuk barat. Niel berdiri,tertegun di pinggir jendela kamar Arjun.
Arjun hadir membawa segelas minuman Air putih dingin untuk Niel. Arjun meletakkan Gelas itu di meja belajar. Arjun membiarkan Niel menyelesaikan kegundahannya. Arjun merapikan Meja belajarnya.
Niel menarik nafas dengan tarikan nafas agak berat “ Andai Aku bisa meminta Orang Tuaku untuk bicara pada Kepala sekolah agar Aku bisa pindah kelas,Aku akan minta pindah kelas,satu kelas dengan Marvin dan dirimu,Arjun “,
Arjun menata bukunya di rak paling atas “ Jadi Kau sudah melaporkan teman - temanmu ke Guru Bp ,Niel ? Marvin tadi cerita padaku,saat ke Toilet,Ia memergokimu sedang berada di Kantor Guru”,
“ Jika tidak begitu Ulah Joni akan semakin menjadi,bisa - bisa Ia membuat teman satu kelasku memusuhiku”,Niel menunduk dengan ekspresi wajah Murung”, padahal Aku tidak pernah berniat membuat masalah dengan siapa pun. Kenapa Joni sampai memendam dendamnya padaku sejahat itu ?”,
Arjun mendekati Niel dengan membawa segelas Air minum “ Niel,Kumohon Minumlah sedikit,Agar Keadaanmu sedikit lebih baik”,Arjun menyerahkan Gelas itu pada Arjun
Niel menerima gelas itu,kemudian meminumnya
” Mungkin Ayahnya Joni mendikte Joni dengan Rasa dendam terhadap Ayahmu. Jadi ini lingkupnya sudah bukan masalah antara kau dan Joni lagi”,
“ Apa perlu Aku meminta Ayahku untuk menemui Ayah Joni untuk menasihati Mereka,terutama untuk menghentikan Ulah Joni ?”
“ Jika itu memang jalan yang baik untuk diambil,Kenapa tidak ? Demi Kebaikanmu sendiri juga,Niel. Aku pikir jika dibicarakan secara baik - baik,Semua akan berakhir dengan baik “,
“ Jadi Apa Perlu diadakan Acara Silaturahmi antara Keluargaku,Keluarga Joni dan Warga untuk menyelesaikan Masalah yang terjadi ? Mungkin itu caranya agar Semua Orang menghentikan tindakannya terhadap Keluarga Joni”,
“ Untuk Dasar Kasus Masalah berlatar belakang Pencurian yang dilakukan oleh Ayahnya Joni saja,perlu diadakan Pertemuan dalam rangka saling memaafkan,Niel.
Yang terpenting Keluargamu dan Keluarga Joni saling memaafkan. Agar Masalahmu dengan Joni,khususnya,bisa terselesaikan. Agar Joni tidak menaruh dendam lagi padamu”,
“ Baik Arjun. Akan Aku usahakan “, Niel menyerahkan Gelas kosong pada Arjun” Andai saja Aku bersedia mendengarkanmu lebih awal. Kita saling memaafkan dan baikan,mungkin Semua hal buruk ini tidak akan terjadi padaku.
Tapi,mau bagaimana lagi ? Semua telah terjadi,kita hanya bisa mengambil pelajaran,Joni akan menerima sanksi dari Guru BP,Aku tidak peduli hukuman Apa yang Ia terima. Aku masih belum terima Apa yang Joni lakukan”,
Arjun menerima gelas kosong dari tangan Niel” Sekarang Kau merasa lega,Niel ? “,
“ Ya Arjun,Aku merasa lega sekarang namun Aku masih perlu waspada terhadap Joni dan teman - teman”,
“ Dan Jangan lupakan Jasa Via,Niel. Kami pernah bertemu suatu saat di hari Kau tengah menghadapi Olimpiade Mapel. Via mengungkapkan rasa simpatinya padaku atas kecelakaan yang menimpaku dulu.
Via juga bercerita banyak hal,dia juga minta Maaf padamu atas keteledorannya meladeni permintaan Joni. Dan semenjak itu,Kami mulai sering bertemu di setiap jam istirahat,Niel”,
“ Oh Silvia,Ya ! Aku hampir lupa padanya. Aku akan menemuinya besok,Aku juga perlu membagi Waktuku padanya dengan Kalian. Aku bersyukur sekarang,karena selama ini masih ada Orang baik yang tetap mendukungku selama Aku melewati masa sulitku,Teman - teman sekelasku mendukungku dengan mengawasi perilaku Joni terhadapku selama ini”,
“ Aku percaya bahwa Sahabatku akan menjadi salah satu figur terbaik sebagai Contoh Siswa yang baik di Sekolah”,Arjun mengulurkan tangannya” Jangan pernah melupakan Jasa teman - teman sekelasmu,meski Tindakan Mereka tidak terlihat olehmu,Tapi itu penting bagimu.
Andai saja Mereka bersikap apatis terhadap Masalahmu dan Joni,Kau akan mendapat gangguan dalam Perjalanan mengukir prestasimu lewat Kompetisi dan Lomba - Lomba Olimpiade Mapel. Joni terlalu mempermainkan Emosimu.
Teman sekelasmu yang lebih memahami Kalian,terutama Kau. Aku hanya menginginkan dirimu untuk menjadi Sahabatku Seorang,Aku tak mau egois terhadapmu,Niel.Siapapun berhak berteman baik denganmu di sekolah”,
Niel menjabat tangan Arjun dengan rasa haru,kemudian Ia memeluk Arjun” Terima Kasih,Arjun. Untuk semua ini. Terima Kasih. Ini yang Aku butuhkan dari dirimu”. Niel melepas pelukannya,
“ Iya Niel. Sama - sama. Bersama Kita akan kembalikan nama baikmu di sekolah. Aku tidak ingin Perjuangan dan keberhasilanmu demi Prestasi Sekolah dipandang sia - sia oleh Semua Orang di sekolah hanya karena kau mendapat masalah kemarin akibat ulah Joni”,
“ Emh”, Niel menepuk bahu Arjun” Iya pelan - pelan,Arjun”,
***
Sincerely,
Dunia Di Kala Fajar
Salaam - E - Dostana
Fajar Adi
Komentar
Posting Komentar