SALAAM - E - DOSTANA 2 ( Malam Minggu di Rumah Iqbal )


Malam minggu, setelah Iqbal dan keluarga menempati Rumah baru pemberian Indra. Iqbal meminta teman - temannya untuk makan malam sebagai bentuk ucapan Terima kasih. 

Seseorang tiba di teras Rumah. Pintu diketuk tiga kali. Sementaraitu di ruang tamu, Rama berdiri untuk membuka pintu. Ternyata Yudha yang datang. 

“ Rumah ini tidak menerima layanan COD di malam hari, Anda bisa kembali besok hari”, Rama langsung menutup pintu agak keras, Yudha sedikit terkesiap. 

“ Siapa Ram ? “, tanya Arman tanpa melepas Hp di tangannya. 

“Bukan Siapa - Siapa,Arman. Hanya Pemuda dari Toko Martabak”, sedetik kemudian Rama terkesiap dengan kesadarannya kembali. 

“ Apa kau bilang ? Siapa ? “, 

“ Ah Sial ! “, Rama langsung bergerak untuk kembali membuka pintu” Oh, Maaf. Aku berubah pikiran. Silahkan Masuk, Anda ternyata salah satu tamu di rumah ini “, 

Yudha masuk dengan raut muka kesal.

“ Ram,Apa maksudmu barusan ?”,

“ Kupikir kau kurir barang “,

“ Rama,Aku Yudha temanmu. Bukan seseorang berpakaian seperti kurir barang”,


“ O Maaf,teman. Kau tahu akhir - akhir ini Aku mendapati Orang - orang dengan pekerjaan itu datang ke rumah,mengetuk pintu rumahku, mengantar paket untukku dengan alamat tujuan yang salah. 

Itu terjadi puluhan kali, sampai- sampai membuatku depresi. Kau tahu, Apa yang lebih buruk dari itu ? “, 

“ Apa itu ? “, 

“ Aku sempat mengira kau Pencuri “, 

Yudha kesal sekali lagi. Ia menarik nafas

“ Seorang pencuri tidak mungkin mengetuk pintu tiga kali”, 

Rama merangkul Yudha “ Man, Seorang Pencuri ada yang bisa masuk suatu rumah dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. 

Tanpa menyelinap Ia bisa mendapatkan segalanya. Tapi ini bukan tentang mencuri segala macam isi rumah”, Diam- diam tangan Rama menggerayami tangan Yudha yang menggenggam tas berisi Kotak martabak”, dan…”, Rama menunjukkan Rampasannya. 

“ Martabak ? Pencuri macam Apa yang terobsesi mencuri martabak ? “ tanya Yudha dengan polosnya. 

Arman sedikit tersedak melihat tingkah dua pemuda ini saat meminum tehnya. 

“ Ini lebih dari sekotak Martabak ! Kau akan kehilangan segalanya “, 

“ Pencuri macam Apa ? Kau merampas Martabakku,kau tak sadar telah mencuri sesuatu dariku”,

“ Kau akan tahu seiring berjalannya waktu. Martabakmu membuatku tak sabar “, Rama berjingkrak mengayunkan - ayunkan Tas Martabak itu mundur mendekati Arman. 

“ Tapi, Ram, hei, Rama itu untuk teman - teman, tunggu dulu “, 

“ Apa aku bukan bagian dari teman - teman ? “, Rama meledek Yudha

“ Aku ketuk tiga kali kepalamu supaya kau tahu ! “, 

Iqbal muncul dari dapur dengan satu nampan dengan segelas Kopi dan kopi coklat hangat.

“ Semua keributan ini terjadi,itu tanda Yudha telah hadir “,Iqbal menaruh nampan itu di Meja. Rama masih kegirangan dengan Martabak. Arman tak mau ketinggalan minta bagian.

“ Oh, Iqbal,temanku”, Yudha langsung memeluk Iqbal sebagai Ungkapan Rasa Simpatinya atas Apa yang menimpa Iqbal “, Kau baik - baik saja ? Apa keadaan terasa lebih baik sekarang ?”,


“ Melebihi segalanya, Chococino Join The Club ?” Iqbal menyerahkan segelas Coklat hangat pada Yudha.

“ O please,terima kasih”, Yudha menerima minuman itu “, Sekarang Aku tahu kenapa beberapa hari Kau tak datang ke tempatku “,

“ Kau seperti merasa kehilangan salah satu pelanggan ?”,

Rama menyahut dari belakang “ Dia kehilangan Martabak “,

Arman mencicipi Sepotong Martabak “ Dan Pemuda Pencuri satu ini seperti tidak tahu terima kasih “,

Raut muka Rama berubah. Ia merasa tersindir oleh Arman “ Arman ,Apa Maksudmu ?”,

“ Yudha, temanku, terima kasih sudah membawa makanan ini untuk kami “, Arman menundukkan kepala perlahan”,

Dan Tuan Rama, terima kasih sudah membawakanku makanan ini kemari. Kalian berdua orang yang baik hati”, 

“ Setidaknya kau bisa makan kue ini berkat diriku “, 

“ Ini Aku anggap seperti berkat darimu. Terima kasih sekali lagi “, Arman menunduk santun di hadapan Rama. 


Rama tersenyum kecut. Iqbal dan Yudha terpingkal - pingkal. Arman mengunyah kuenya perlahan tanpa merasa bersalah telah membuat Rama terjebak pada perasaan yang tak bisa dijelaskan. 

“ Akhirnya ada seseorang yang bisa membuatnya terdiam”, Yudha merasa kekesalannya terbalaskan”, Dan Kakakmu memintamu dan keluargamu tinggal di Rumah ini sekarang ? “, 

“ Ya, mereka baik sekali “, Iqbal menuntun Yudha mendekati Rama dan Arman “, sekarang Silahkan duduk di antara Pria - Pria tampan yang sedang menikmati makanannya “, 

Yudha mengulurkan tangannya ke Rama “ Sorry ? “, TanyaYuda sedikit memiringkan kepalanya. 

Rama berdiri langsung memeluk Yudha “ Aku merasa tak cukup dengan meminta Maaf “, bisik Rama tanpa melepas Kuenya,

“ Oke. By the way, Apa susu coklatnya juga enak ? “, tanya Yudha lirih

“ SUSU COKLAT ?! “,Rama terkesiap melepas pelukannya “, Apa? Kau tak memakai Meses coklat malah menggantinya dengan Susu Coklat ? “, Rama meninggikan Suaranya. 

“ Oeh ! Ibra lupa memberi tahuku Kalau Meses coklatnya habis ! “, Yudha mengimbangi Rama “, Meses dan Susu tidak ada bedanya “, Yudha membuat tangan Rama memasukkan sisa kue ke mulut Rama”, Rasanya sama manisnya, bukan ? “, 

“ Kua juga manis”, Rama mengunyah kuenya. 

Rama dan Yudha duduk di tempat masing - masing. Arman meminum tehnya perlahan. 

“ Itulah sebabnya, Barang Rampasan tak seenak Barang yang didapatkan  sebagaimana mestinya”, Kata Arman dengan tenang namun memantik Reaksi Rama”, Yudha, susu coklat dan meses coklat sama enaknya. Santai saja “, 

“ Ya. Kurasa”, Yudha menoleh ke Arman. 

“ O Arman, Jangan ada debat Ronde Kedua ! Aku dan Yudha sudah baik - baik saja “, Jawab Rama belum menyelesaikan kunyahannya. 

“ Rama, minumanmu belum kau habiskan ? Lebih baik kau minum setelah makan “, 

Iqbal geleng - geleng kepala melihat sandiwara ini. Iqbal menikmati kue dari Yudha. Rama menyandarkan badannya, condong ke arah Iqbal. Ia sesekali melirik Iqbal. Rama melepas pergelangan tangan Iqbal. 

“ Tanganmu sudah lebih baik, Superhero ? Terakhir kali kulihat sedikit memar di pangkal kelingkingmu “, Rama memeriksa pergelangan tangan Iqbal “, perlu pijatan ? Supaya terasa lebih baik. 

Iqbal jadi Superhero pada hari itu, Yudha. Aku tak percaya pada yang Aku lihat “, 

“ Masih sedikit kaku, Ram. Obat penghilang nyeriku belum habis “, 

“ Superhero ?  Apa yang Iqbal lakukan ? “, 

Rama mengangkat badannya kemudian mendekatkan hadapan ke Yudha. 

“ Aku tak percaya pada Apa yang aku lihat, tapi Aku tahu perasaan Iqbal. Aku merinding melihat Iqbal menjadi sosok yang tak seperti biasanya. 

Iqbal seperti Clark Kent yang mendapat panggilan kejahatan. Tapi sayangnya, Iqbal tak punya kostum Superheronya”, 

Arman masuk ke percakapan ini” Terkadang Pahlawan tak perlu dikenal tanpa memakai kostumnya, Ram. Mereka perlu menyembunyikan identitasnya “, 

Rama menoleh ke Arah Arman “ Tapi kita bertiga punya seragam barista, kawan”, Rama terdengar menekan nada bicaranya. 

“ Oh ! Kau cerdas juga ! Lanjutkan “, Arman menepuk dahinya. 

“ Iqbal langsung mengambil kunci motor Kak Indra. Ia keluar tanpa apapun menghalanginya. Dia tancap gas, nekat dan berpikir di jalan tidak ada yang akan menghentikannya”, 

“ Itu saja  ? “, Tanya Yudha

“ Aku membayangkan Seorang pahlawan berkelahi melawan musuh utamanya. Saling mengumpat, kemudian mereka tersulut Amarah. 

Terus baku hantam “, Ekspresi Rama berapi - api sampai bertingkah seperti orang berkelahi “, pukul sana , pukul sini. Ada efek pecahan - pecahan kaca, perabot rumah, gelas! “, Rama mulai mengeraskan suaranya mendramatisir cerita supaya Yudha percaya “, Adu kekuatan, saling tendang, bergulat , berguling - guling seperti di film Action “, 

Iqbal menghela nafas dan rasa malu yang tersamar. Yudha masih menyimak cerita Rama. Rama sekali menciptakan aksi berupa pukulan dan tendangan sebagai gimmick untuk mendramatisir cerita.

Arman mulai terusik oleh ulah Rama “ Sadar diri,Ram. Jangan kelewat batas ! Ibu Risma baru saja menidurkan Lilia di kamarnya “, arman tetap menjaga ketenangan.

Rama terdiam sejenak.Iqbal sedikit bernafaas lega.

“Kita pindah ke Balkon Atas ? Iqbal,bisa Kita pindah ke atas?”,

“Tentu. Bawa gelas kalian masing - masing. Bilang padaku jika kalian ingin isi ulang “,

Ukuran Balkon dengan cukup luas dengan dua lampu Bohlam besar di setiap sudutnya. Nyala yang tak begitu terang tapi memberi kesan nyaman.

Ada satu unit meja kaca dan dua buah sofa. Mereka di posisi yang diinginkan masing - masing. Rama meminum kopinya sejenak.

“ Yudha belum mendapat ending cerita yang kau jelaskan,Tuan Sutradara. Kau jangan Lupa…”,Kata Arman sebelum meminum tehnya lagi.

“ Ternyata kau tertarik Apa yang aku bicarakan,Arman. Kupikir ocehanku membuatmu mengantuk ?”,

“ Tidak. Lanjutkan ceritamu “,Arman menyandarkan badannya. Matanya mulai sayu.

“Aku tahu perasaanmu,Arman. Teh sudah habis di gelasmu. Dan,kau enggan meminta isi ulang pada Iqbal”,

Iqbal spontan berdiri dan turun ke dapur untuk mengambil Teko berisi teh untuk Arman. Air teh yang tertuang mengepulkan Uap hangat.

"Kita masuk ke ending  saja. Aku mulai lelah membuat khayalan “,

“ Yah. baiklah. Aku tahu karena kau tak mengikuti Iqbal”, Yudha mengangguk pertanda paham

Arman mencubit halus lengan Yudha “ Isyana yang mengikuti Iqbal. itu yang selalu  terjadi pada setiiap film Superhero pada umumnya. Karakter wanita cantik sebagai peran pendukung . Isyana juga cantik.Bukan begitu Iqbal ?”, pertanyaan Arman membuat iqbal tersipu malu.

“Bisa kita masuk ending sekarang ?”,

Yudha dan Arman mengangguk,

“Endingnya tak seperti yang kita harapkan !”,

Rasa gemas Arman membuatnya memotong cerita Rama “ Endingnya tak seperti yang diharapkan. Sang Pahlawan kembali bukan dengan kondisi semuanya telah berakhir,pertempuran telah berakhir. 

Badan tetap tegap berdiri. Tak ada luka sedikit pun. Keringat dan badan yang lusuh hasil dari pertarungan yang berdarah - darah “,

Rama tak mau kalah dengan Arman dengan  gimmick yang dipaksakan” sang Pahlawan kembali dalam pelukan Orang tersayang. Mereka kembali membawa Sang Pahlawan dalam pelukan Orang tersayang “

“ Isyana ?”, tanya Yudha melirik Iqbal, lirikan bermaksud menggoda Iqbal.

“ Sang pahlawan tak berdaya dalam pelukan Kakak sepupu tersayang ! Kak Indra dan Isyana mengiringi dua Kakak beradik yang selalu menyayangi ini,masuk ke dalam Kafe “,

“ Kenyataannya begitu lebih baik. Kau membantu menenangkan Adik Iqbal,Izal. Jika tidak begitu,Kau akan menjadi Orang yang paling Sibuk untuk jadi Seorang Wartawan “, Arman menyela Perkataan Rama lagi,

“ Kau tahu diriku selalu menjadi Orang yang paling banyak bertanya. Dengan begitu,Aku bisa memberikan Perhatian lebih pada siapa saja,termasuk Kalian “,

Iqbal menepuk lutut rama “ Benar, kawan.  Kau sangat benar ! Di samping karena Intensitasmu menjadi Orang kepercayaan kakakku,Kau ulia bertingkah seperti bagaimana dia “,

“ Baik. Tidak tidak ada salahnya,bukan ?”,

“ Intinya,kita perlu belajar dari Permasalahan Keluarga Iqbal. Iqbal mengerti tentang Posisi dan Harga diri Ibunya. 

Berawal dari merasa beban didapat kemudian diredam,ditahan dari waktu ke waktu. Bahkan Keluarganya mengalami masa - masa sulit.

Aku salut pada Iqbal untuk melakukan Pengabdian pada Ibunya dengan membantu memperbaiki keadaan keluarganya terutama keuangannya. Iqbal berinisiatif mau ikut kerja di usaha Kakaknya.

Tapi, Keadaan yang tak diharapkan terjadi. Ayahnya iqbal melakukan Apa yang seharusnya tidak ia lakukan untuk keluarganya, Iqbal  bereaksi dengan tindakan yang mungkin dipandang kurang pantas untuk dilakukan,

Tapi,keadaan terkadang membuat orang mengambil keputusan secara singkat,meski eksekusinya kurang tepat.


Tapi, itu pilihan Iqbal. Ia merasa itu yang harus Ia lakukan. Kita tak perlu menilai benar atau salah. Kita menuai apa yang kita tanam “, Perkataan  Arman membuat dirinya berempati dengan menunjukkan sedikit emosi.

Iqbal  seperti melihat kondisi dirinya waktu itu. Iqbal tertegun melihat sikap Arman. Iqbal tak percaya punya pemikiran seperti itu. Seorang yang biasanya terkesan Pendiam menunjukkan Simpatinya dengan sikap yang mengejutkan.

“ Kupikir hanya Aku yang paling mempunyai Rasa pengertian,ternyata Kau Juga Arman. Kau merasakan apa yang temanmu rasakan . Salut ! “, Rama menunduk di hadapan Arman.

“ Tapi Aku tak membuat Cerita dengan bahasa dan penyampaian yang berlebihan. Aku tahu kau suka berdrama, Ada kalanya aku butuh keahlianmu seperti itu.

Aku akui kau memang Cerdas dalam bercerita. Setuju ?”, Arman mengajak Rama berjabat tangan. Rama tahu maksud Arman. 

“ Aku beruntung dikelilingi dengan orang - orang baik dan perhatian. Aku perlu memanggil Kalian dengan panggilan “ kakak “ mulai besok “,

“ Lalu bagaimana dengan Yudha ?“, Tanya Arman 

“ Untuk maksud yang sama seperti kalian,Aku datang kemari menemui kalian. Khususnya Iqbal”, Yudha merangkul Iqbal “, Aku memang tak pernah menghadapi masalah yang sama,dan semoga tidak.

Aku tahu ada yang kecewa dengan martabak yang aku bawakan “, Yudha melirik Rama “, Tapi,setidaknya itu bentuk kecil pengertian dari diriku untuk kalian “, Yudha mengedipkan mata kanannya,sedikit menggoda Rama.

“ O Man ! Jangan ada debat lagi Soal Martabak ! Aku merasa jauh di bawah Arman “, Rama menepuk dahinya

“ Eh ! Kau mengeluh seolah - olah kau mendapat potongan Martabak paling sedikit di antara yang lainnya. Kau hampir habis setengah kotak, Masih merasa Kurang ?”, Arman sedikit menggertak Rama.

Iqbal dan Yudha tertawa keras melihat Rama tak berkutik. Arman menuang teh lagi dengan ketenangan yang berubah sekejap.

“ Iqbal,minumanku habis”, Yudha menunjukkan gelas kosongnya pada Iqbal “, Mungkin ini saatnya pulang “, 

" O tidak ! Aku akan membuat kalian menginap “, Iqbal mengambil gelas Yudha “, Kak Arjun memberi kita libur satu hari. Tak ada salahnya Kalian menginap.

Yudha, Aku punya stok chococino banyak di dalam. Kita bertiga seorang Barista tahu menjaga Stok barang tanpa sampai kehabisan “,

“ Aku tak bisa menolak Permintaanmu “,



Sincerely,
Dunia Di Kala Fajar
Fajar Adi


Salaam - E - Dostana 2

Komentar

Postingan Populer