Hayat
"Aku akan kembali di malam Eid nanti,untuk menemui dirimu.....",
Malam dengan Purnama di tengah - tengah Langit malam ini. Cahaya yang selalu akan menerangi Bumi,tidak membiarkan kegelapan menghampiri setiap jengkal tempat di Bumi. Angin bertiup halus mengiringi gemericik bunyi gelang - gelang kaki Gadis - gadis ini. Mereka tampak mengejar seorang Gadis dalam rasa keinginan tahuan yang mereka.
Gadis yang dikejar berlari sangat kencang dan lihai berbelok pada setiap gang - gang Pemukiman ini. Gemericik bunyi gelang kaki mereka membelah kesepian yang terasa di sepanjang gang ini. selendang - selendang yang mereka kenakan sebagai kerudung,melambai - lambai terhempas ke belakang.
Gadis itu berhenti pada sebuah balai,sebuah tempat tampak seperti panggung menghadap ke halaman yang luas,pilar - pilar tinggi dan putih mengelilingi setengah dari Balai itu,Kain - kain yang dipasang seperti tirai yang lebar namun lemas di setiap sela pilar itu.
gadis itu tertawa karena bahagia,bahagia karena kabar baik yang ia terima.
Ia menggenggam selembar surat dari Pemuda yang beberapa waktu lalu berkenalan dengannya di tempat ini,seorang pemuda asing yang tak diketahui asalnya. namun,ia telah mencuri hatinya.
"Aku akan kembali di malam perayaan Ied nanti,tunggulah....Aaliya...",kalimat pertama yang terlihat saat ia membuka kembali lembar surat ini.
"Aku akan kembali di malam perayaan Ied nanti,tunggulah....Aaliya...",kalimat pertama yang terlihat saat ia membuka kembali lembar surat ini.
Ia kembali merasakan bunga - bunga bermekaran di hatinya,Matanya tertuju pada purnama bercahaya terang malam ini.
Gadis - gadis itu,temannya bisa mengejarnya dan langsung menyerbunya dengan pertanyaan - pertanyaan. Apa yang membuatmu sebahagia ini ?tak seperti biasa. Salah seorang dari mereka melihat apa yang Aaliya genggam,selembar surat.
"Coba lihat....",Jameela merenggut surat itu dari tangan Aaliya dan membacanya", Waah,sebuah surat dari pemuda asing itu untuk Aaliya..",teman - teman yang lain pun ikut menengoknya. Sementara Aaliya masih tersenyum - senyum membayangkan Pertemuannya dengan Pemuda pengirim surat itu.
"jadi ini yang membuat Gadis ini berlagak seperti orang gila,di luar kewajarannya ?", Ameeran,sahabat karib Aaliya menoleh balik ke arah Aaliya",dia sedang dimabuk cinta rupanya...",
"kalian heran melihat apa yang sedang terjadi padaku rupanya,kalian akan merasakan hal sama jika kalian sedang meraskan cinta dan dirundung kerinduan pada pemuda yang sudah mengambil hati kalian....",Aaliya menarik tangan Saheeba dan merangkulnya",bukan begitu temanku? kau tidak usah berbohong,bahwa kau sudah merasakan rindu pada Izaat yang sedang bergelut di tengah luas samudra di sana...",
"sama seperti keadaannya,Aaliya. setiap saat terombang - ambing dalam gelombang rindu dan harapan yang tak kunjung terwujudkan. aku selalu mendoakan keselamatannya di belahan samudra mana pun ia berada...",
"sama sepertiku Saheeba,setiap kesunyian malam menjadi saksi setiap uraian lafaz doa yang aku panjatkan untuk dia,Pengembara...",
"Pengembara. apa yang Ia cari dalam pengelanaannya hingga ia tiba di tempat ini ?",Saheeba menyangga pipinya dengan ujung lututnya. ia memandang Purnama yang masih bercahaya terang.
"Yang ia cari adalah cinta sejati. dan cinta sejati itu adalah diriku. Bukan begitu ?",
"tentu Aaliya,sama seperti Izaat dengan diriku...",Saheeba menaruh kepalanya di bahu Aaliya. Semilir angin menerpa setiap kerudung mereka",kau tahu kenapa Purnama selalu muncul dan bercahaya sangat terang di langit setiap malamnya ?"
"karena Purnama tahu tentang keinginan manusia dalam pencarian sebuah cinta,mungkin cinta yang datang kepada kita tidak mengenal siang atau malam,bayangkan bila Purnama tak memberikan cahaya dalam waktu yang cukup lama saja,apakah di dalam kegelapan tanpa cahaya purnama itu kita akan menemukan jalan yang terang,yang mengantar kita pada pertemuan tujuan cinta kita,seseorang yang akan mencintai kita ?",
"kita tak bisa berharap lebih pada sedikit nyala pelita atau kunang - kunang yang memberikan tak banyak cahaya untuk kita berjalan di setiap jalan mana pun,atau arah untuk seseorang,cinta sejati kita...",
"Emh....Oh,Purnama,bila tidak ada nikmat Tuhan lewat Purnama dengan cahaya terang,apa jadinya pada Bumi di malam hari ?",
Aaliya dan Saheeba tertawa,keduanya masih menikmati pemandangan langit malam ini. sementara temannya yang lain masih berebut untuk bisa membaca surat milik Aaliya dari Pengembara itu.
***
"Pertemuan kami pertama kali terjadi pada saat malam itu,saat perjalanan pulang dari rumah Bibi Rukayya. terlalu larut malam itu,aku perkirakan waktu di mana Lonceng tengah malam di Menara besar sebentar lagi tiba. malam yang sial bagiku,ketika aku melewati Bar,, tiga pria mabuk mencegatku. merek dalam keadaan kepayang hingga mereka berhalusnasi.
aku memaki jubah dan selendangku yang aku jadikan sebagai kerudung,namun di mata mereka aku tak ubahnya wanita penghibur di Bar yang dengan bebasnya menunjukkan kemolekan tubuhnya. aku terpaksa kembali dan berputar haluan untuk menghindari mereka. aku berlari untuk menjauh dari mereka.
aku ketakutan hingga hampir saja lentera yang aku genggam itu lepas. Pria pemabuk itu bisa berlari memburuku meski dalam keadaan setengah sadarnya. Tiba - tiba aku terjatuh beserta lenteraku,lenteraku padam dan kulihat mereka semakin mendekat. aku berusaha berdiri,namun pergelanganku terasa sakit,sepertinya gelang kakiku menggores kulit kakiku.
aku berusaha berdiri dengan sekuat tenaga. aku bisa berdiri,kemudian berusaha melangkah. di tengah kesunyian dan kegelapan gang,aku kembali berusaha untuk lari. sayangnya,rasa sakitku memperlambat langkah.
tenaga yang kukumpulan tak membuat langkahku jauh,aku kehilangan tenagaku dan ingin menjatuhkan diri,memasrahkan diri pada nasib buruk malam itu. Tiba - tiba Seseorang menangkap tubuhku ketika tubuh terayun jatuh. aku terkejut melihat orang itu,pemuda itu.
Pemuda itu melihatku kesakitan dan ketiga pria mabuk yang mengejarku dari kejauhan. tanpa berpikir panjang dia mengangkatku dan menyembunyikanku di salah satu Gang yang berada di sebelah kiriku. aku pasrah pada pemuda itu,aku mengira pemuda ini tak sama dengan pria itu.
berkat pemuda itu akhirnya aku selamat,aku berterima kasih padanya. namun,pemuda itu terus memandang wajahku dan sekujur tubuhku,tanpa kulihat roman - roman birahi pada wajahnya. aku selalu menyembunyikan mukaku di balik kerudung dan merasa malu - malu. aku masih merasa takut.
ia bertanya padaku apa yang terjadi,aku menjelaskan semua padanya. dia bertanya tentang tempat tinggalku,dia lalu pergi dariku sebentar. aku terkejut saat melihatnya kembali dengan menunggangi seekor kuda putih. Ia ingin mengantarku pulang,ia pun menaikkanku ke atas pelana,pelana dengan bantal yang sangat empuk dan nyaman.
aku hafal seluruh pemuda di tempat ini,dan pernah bertemu setiap dari mereka. namun,baru kali ini aku bertemu dengannya,aku mengira dia bukan salah satu pemuda penghuni tempat ini. aku yakin dia orang asing.
tiba di depan pintu rumah,aku berterima kasih padanya sekali lagi. aku hendak menjabat tangannya namun ia menolak,ia mengatupkan tangannya di hadapanku dan mengucapkan salaam.
sebelum beranjak,dia berkata padaku "suatu keberuntungan bisa bertemu dan menolong Gadis menawan hati laksana Bidadari sepertimu,tetap pertahankan kerudung yng menutupi wajahmu karena ia pelindung dirimu,tatapan mata sajamu begitu menggoda dan menawan,apalagi kau menyingkap seluruh kerudungmu kemudian tampaklah seluruh wajah,seperti Gerhana yang berlalu menutupi Bulan...", dia pun meninggalkanku dengan pesan yang susah lekang dalam fikiranku....",
Cahaya lilin - lilin itu memberi cahaya pada wajah Aaliya. dia sedang menceritakan pemuda pengembara itu kepada sepupunya,Aaliza",
dan pertemuan kedua kalinya adalah saat kembali pulang dari berlatih menari di Balai bersama teman - teman. aku kembali berjalan sendiri seperti saat itu. aku membuat kerudung dengan selendangku kembali. aku menutupi sebagian mukaku. berjalan di sepanjang gang yang sepi dalam kewaspadaan dengan lentera di tanganku.
nyala lentera yang agak redup karena minyaknya yang aku lalai mengisinya.
sayangnya,di tengah perjalanan,lenteraku padam. aku harus benar - benar berhati - hati berjalan. rasa takutku karena gelap dan sunyinya jalan membuatku berpikir bahaya akan lebih mudah mengancamku dari segala arah. sekali lagi,aku terjatuh pada lubang jalan yang tak begitu dalam.
kemudian,datang cahaya lentera yang sangat terang mendekatiku bersama uluran tangan seseorang. kulihat siapa dia, ternyata pemuda malam itu. dia berkata " Purnama tak muncul malam ini,sepanjang jalan terasa gelap seperti ini. aku bertemu dirimu saat kau terjatuh,kembali.
bangkitlah bersama tanganku,bila rasa nyeri terasa di kakimu katakanlah padaku,aku tidak segan untuk menggendong. bila tidak,aku akan menjamin keselamatanmu hingga kau tiba di depan pintu rumahmu...",aku kembali menyembunyikan mukaku dan berdiri dengan bantuannya. bersamanya aku melanjutkan perjalanan pulang.
sesekali kami saling memandang,dia selalu tersenyum dengan rasa yakin bahwa ia bisa menjagaku. aku berterima kasih lagi padanya. tiba di depan pintu,ia mengangguk padaku sejenak dan berkata "
Bidadari tidak akan kunjung kehilangannya meski dunia seluruhnya gelap sekali pun,begitu juga pesona dan kecantikan pada dirinya....",Oh,bahasanya yang indah,mungkinkah dia seorang pujangga ?
selanjutnya,saat acara penyambutan Tuan Perdana Menteri yang datang ke kota ini,aku dan bersama teman - teman menari di hadapan Tuan Perdana Menteri, di atas Panggung Balai. Semua orang menyaksikan kami,beberapa pemuda dan anak kecil tampak mengikuti gerakan kami. mereka bertepuk tangan mengiringi penampilan kami.
namun,ada satu hal yang menyita pandanganku,sesuatu yang berada di balik barisan orang yang menonton itu. Senyuman dari wajah tampan Pemuda itu,mungkin penampilanku membuatnya kagum dan terpana. setiap kali aku melirik ke arahnya,ia tidak menghilangkan senyumnya,bahkan ia sesekali bertepuk tangan padaku,dan berteriak memujiku.
ia mendatangiku dan mengajakku untuk berkeliling kota mengarungi sungai yang ada di tengah kota dengan sampan. aku ragu dan ingin menolakknya,namun hasratku menghapus keraguan itu dan membuatku berani.
"Ali....", Ia menyebut namanya saat Ia menyambutku naik ke atas sampan. Aku memandangnya sejenak.
"Aaliya...",aku mengenggam tangnnya dengan mantap kemudian duduk di atas sampan,ia sudah menyiapkan sampan itu seindah mungkin,aku duduk di atas permadani dengan dua bantal di atasnya.
Purnama muncul malam ini. aku bisa melihatnya sepanjang perjalanan kami mengarungi sungai.
dia,Ali terus memandang wajahku,aku tidak perlu menyembunyikan wajahku,karena ia telah melihat wajahku seutuhnya saat aku tampil di atas balai tadi. suasana tenang dan romantis dengan terangnya lentera yang Ali taruh di kedua sisi sampan.
Pada Wajah ini aku terdiam dalam kekaguman dan kebingungan,
Manakah yang lebih indah di hadapanku saat ini,
Purnama itu atau wajahnya yang terpulas cahaya lentera,
atau cahaya Purnama yang terpantul pada mempesona wajahnya....
Menatap wajahnya bagai mendapat sesejuk angin lalu,
Menatap wajahnya bagai melihat mentari pagi yang terbit di ufuk timur,
Menatap wajahnya bagai menyaksikan seberkas cahaya surga,
Menatap wajahnya bagai menyaksikan KeAgungan Tuhan,
begitu sempurna Ciptaan-Nya,di hadapanku saat ini,Masha Allah....
Tatapan Mata yang menggambarkan luas semesta alam,
Tatapan Mata yang melayangkan diri dalam khayalan,
Tatapan Mata yang hampir membuat mabuk kepayang,
Tatapan Mata seterang bintang,
Segenap bersama Wangi badannya,Bidadari ini kembali
kembali di sisiku,andai Ia menjadi milikku...
ini akan menjadi Nikmat terbaik bagiku,Masha Allah....
Pemuda Asing ini telah membuatku jatuh hati padanya setelah ia membacakan puisi tersebut untukku di sepanjang perjalanan,hingga aku kembali pulang.
suatu ketika Ali mengajakku ke atas Istana lama dengan bangunannya yang sangat tinggi. aku takut mengunjungi tempat ini karena kesunyiannya dan rasa yang mencekam ketika kita tiba di depan pintu utama.
tapi,Ali membujukku dan meyakinkanku tidak akan terjadi apa - apa. aku pun mengikuti Ali naik e istana lama.
sampai di atas Istana,Ali menunjukkan pemandangan yang belum pernah aku lihat sekali pun dalam hidupku.
Menakjubkan,Purnama yang cahayanya memantul pada permukaan samudra yang luas,kali ini Purnama tampak lebih besar dari biasanya. kampung - kampung nelayan,kapal yang berlayar dan bersandar,serta kehidupan dermaga malam hari yang belum pernah aku temukan.
"hanya purnama yang menyaksikan kita berdua saat ini. hanya purnama yang tahu apa yang aku rasakan saat ini. hanya ingin kau tahu,hanya wajahmulah yang ada di khayalanku setiap kali aku menatap Purnama semakin lama. aku selalu berkata pada purnama itu,andai saja aku bisa menyampaikan perasaanku pada pemilik wajah yang selalu tercipta pada Purnama itu,maka aku akan segera mengakhiri pengembaraanku.....",
"hanya purnama yang menyaksikan kita berdua saat ini. hanya purnama yang tahu apa yang aku rasakan saat ini. Purnama selalu berkata padamu,'ada seseorang yang diam - diam mencintaimu,diam - diam mengagumi wajahmu. andai saja kau tahu,siapa pemuda itu,kau akan segera bisa mengakhiri kegundahanmu,dan menambatkan cintamu pada pemuda itu' ialah dirimu,pemuda yang Purnama maksud....",
Ali mencium tanganku sebagai ungkapan perasaan cintanya padaku. aku menikmati pemandangan malam itu bersamanya sepanjang malam. Ali mencintaiku,begitu juga diriku. siapa yang menyangka pemuda asing ini datang bertemu denganku pada akhirnya menjadi cinta sejatiku.
Ali,aku belum tahu tentang jati dirinya,siapa sebenarnya dirinya,aku yakin dia bukan pemuda biasa,karena sikapnya yang ia tampilkan padaku. begitu ia mencintaiku,sikap dan adabnya yang sangat ia jaga,mungkin dia seorang ksatria....",Aaliya mengusap air mata yang ada di ujung kelopaknya. Air mata yang muncul sebab kegundahan dan kerinduannya pada Ali.
***
Di suatu senja,Seorang Pemuda menemui Aaliya. Seorang pemuda yang menjadi Prajurit mata - mata pada Perang yang sedang berlangsung saat ini. Pemuda itu,Nafiz memberi tahukan satu kabar tentang Ali,tentang siapa sebenarnya Pemuda yang sedang ditunggu Aaliya itu,Pemuda yang menjadi cinta sejati Aaliya itu.
Faizal Ali Maliki,ternyata Ali adalah Seorang Pangeran termuda dari kerajaan seberang,salah satu Putra Raja Sulaiman. seakan tak percaya pada kenyataan yang sudah ia ketahui,Aaliya tak bisa berkata apa - apa. rupanya Pemuda pujangga yang sudah mencintainya itu adalah seorang pangeran yang mengembara dan pasti ia sedang mencari seorang gadis yang ingin ia jadikan pasangannya,akhirnya pada dirinyalah hati Ali tertambat.
Aaliya pun memberi tahu teman - temannya. hatinya semakin tak sabar untuk menahan kerinduannya. dalam hatinya Aaliya terus memanjatkan puji syukur karena Gadis jelata sepertinya bisa menjadi seorang kekasih dari Pangeran kerajaan yang besar.
Teman - teman Aaliya pun heboh mendengar kabar ini. Saheeba berkata " sungguh luar biasa,Cahaya purnama menerangi jalanmu menuju sosok cinta sejati yang luar biasa,seorang Pangeran muda dari kerajaan seberang,...",
Keesokan harinya,saat matahari masih berada di ufuk timur,terdengar sangkakala yang membahana ke seluruh Kota ini,itu adalah tanda bahwa Prajurit - prajurit perang yang terpilih dari kota ini telah kembali. Aaliya pun melihat apa yang terjadi.
Aaliya terkejut saat melihat Bendera putih berada di barisan paling depan diiringi Beberapa tandu yang mengusung Mayat para Prajurit yang gugur di medan perang.
Pemuda yang masih belia hingga Orang tua yang sudah lanjut usia,mereka masuk gerbang kota denagn tertunduk lesu.
Nafiz kembali menemui Aaliya dan memberi kabar tentang kepulangan Para Prajurit yang menjadi sekutu Kerajaan raja Sulaiman. ini Perang yang ketiga kalinya,kali ini pasukan gabungan kerajaan dan beberapa sekutu kalah menghadapi serangan mendadak saat subuh tadi.
Aaliya pun bertanya pada Nafiz tentang Ali. Nafiz menjelaskan Pengeran Ali yang memimpin sendiri Pasukan gabungan ini,dan saat ini masih menahan serangan musuh di medan perang agar bisa memberikan jalan untuk memulangkan Prajurit yang gugur kembali ke asal masing - masing.
Aaliya berpikir tentang keadaan perang yang sedang berlangsung. Ali pasti sedang bertarung dengan sangat gigih dan pantang menyerah. Nafiz mengatakan beruntung Pengeran Ali adalah seorang Pemimpin Perang yang tangguh dan hebat. mungkin jika orang lain yang memimpin pasukan ini,pasti semuanya sudah dilibas habis karena serangan mendadak ini.
Namun,prasangka dan fikiran - fikiran buruk segera menghantui Aaliya. Ia sangat ketakutan jika suatu saat Ali bernasib sama dengan Prajurit - prajurit yang pulang ini. sejak itu,Aaliya merasa sangat cemas dan khawatir. tidak pada malam hari maupun siang hari.
Gadis - gadis itu,temannya bisa mengejarnya dan langsung menyerbunya dengan pertanyaan - pertanyaan. Apa yang membuatmu sebahagia ini ?tak seperti biasa. Salah seorang dari mereka melihat apa yang Aaliya genggam,selembar surat.
"Coba lihat....",Jameela merenggut surat itu dari tangan Aaliya dan membacanya", Waah,sebuah surat dari pemuda asing itu untuk Aaliya..",teman - teman yang lain pun ikut menengoknya. Sementara Aaliya masih tersenyum - senyum membayangkan Pertemuannya dengan Pemuda pengirim surat itu.
"jadi ini yang membuat Gadis ini berlagak seperti orang gila,di luar kewajarannya ?", Ameeran,sahabat karib Aaliya menoleh balik ke arah Aaliya",dia sedang dimabuk cinta rupanya...",
"kalian heran melihat apa yang sedang terjadi padaku rupanya,kalian akan merasakan hal sama jika kalian sedang meraskan cinta dan dirundung kerinduan pada pemuda yang sudah mengambil hati kalian....",Aaliya menarik tangan Saheeba dan merangkulnya",bukan begitu temanku? kau tidak usah berbohong,bahwa kau sudah merasakan rindu pada Izaat yang sedang bergelut di tengah luas samudra di sana...",
"sama seperti keadaannya,Aaliya. setiap saat terombang - ambing dalam gelombang rindu dan harapan yang tak kunjung terwujudkan. aku selalu mendoakan keselamatannya di belahan samudra mana pun ia berada...",
"sama sepertiku Saheeba,setiap kesunyian malam menjadi saksi setiap uraian lafaz doa yang aku panjatkan untuk dia,Pengembara...",
"Pengembara. apa yang Ia cari dalam pengelanaannya hingga ia tiba di tempat ini ?",Saheeba menyangga pipinya dengan ujung lututnya. ia memandang Purnama yang masih bercahaya terang.
"Yang ia cari adalah cinta sejati. dan cinta sejati itu adalah diriku. Bukan begitu ?",
"tentu Aaliya,sama seperti Izaat dengan diriku...",Saheeba menaruh kepalanya di bahu Aaliya. Semilir angin menerpa setiap kerudung mereka",kau tahu kenapa Purnama selalu muncul dan bercahaya sangat terang di langit setiap malamnya ?"
"karena Purnama tahu tentang keinginan manusia dalam pencarian sebuah cinta,mungkin cinta yang datang kepada kita tidak mengenal siang atau malam,bayangkan bila Purnama tak memberikan cahaya dalam waktu yang cukup lama saja,apakah di dalam kegelapan tanpa cahaya purnama itu kita akan menemukan jalan yang terang,yang mengantar kita pada pertemuan tujuan cinta kita,seseorang yang akan mencintai kita ?",
"kita tak bisa berharap lebih pada sedikit nyala pelita atau kunang - kunang yang memberikan tak banyak cahaya untuk kita berjalan di setiap jalan mana pun,atau arah untuk seseorang,cinta sejati kita...",
"Emh....Oh,Purnama,bila tidak ada nikmat Tuhan lewat Purnama dengan cahaya terang,apa jadinya pada Bumi di malam hari ?",
Aaliya dan Saheeba tertawa,keduanya masih menikmati pemandangan langit malam ini. sementara temannya yang lain masih berebut untuk bisa membaca surat milik Aaliya dari Pengembara itu.
***
"Pertemuan kami pertama kali terjadi pada saat malam itu,saat perjalanan pulang dari rumah Bibi Rukayya. terlalu larut malam itu,aku perkirakan waktu di mana Lonceng tengah malam di Menara besar sebentar lagi tiba. malam yang sial bagiku,ketika aku melewati Bar,, tiga pria mabuk mencegatku. merek dalam keadaan kepayang hingga mereka berhalusnasi.
aku memaki jubah dan selendangku yang aku jadikan sebagai kerudung,namun di mata mereka aku tak ubahnya wanita penghibur di Bar yang dengan bebasnya menunjukkan kemolekan tubuhnya. aku terpaksa kembali dan berputar haluan untuk menghindari mereka. aku berlari untuk menjauh dari mereka.
aku ketakutan hingga hampir saja lentera yang aku genggam itu lepas. Pria pemabuk itu bisa berlari memburuku meski dalam keadaan setengah sadarnya. Tiba - tiba aku terjatuh beserta lenteraku,lenteraku padam dan kulihat mereka semakin mendekat. aku berusaha berdiri,namun pergelanganku terasa sakit,sepertinya gelang kakiku menggores kulit kakiku.
aku berusaha berdiri dengan sekuat tenaga. aku bisa berdiri,kemudian berusaha melangkah. di tengah kesunyian dan kegelapan gang,aku kembali berusaha untuk lari. sayangnya,rasa sakitku memperlambat langkah.
tenaga yang kukumpulan tak membuat langkahku jauh,aku kehilangan tenagaku dan ingin menjatuhkan diri,memasrahkan diri pada nasib buruk malam itu. Tiba - tiba Seseorang menangkap tubuhku ketika tubuh terayun jatuh. aku terkejut melihat orang itu,pemuda itu.
Pemuda itu melihatku kesakitan dan ketiga pria mabuk yang mengejarku dari kejauhan. tanpa berpikir panjang dia mengangkatku dan menyembunyikanku di salah satu Gang yang berada di sebelah kiriku. aku pasrah pada pemuda itu,aku mengira pemuda ini tak sama dengan pria itu.
berkat pemuda itu akhirnya aku selamat,aku berterima kasih padanya. namun,pemuda itu terus memandang wajahku dan sekujur tubuhku,tanpa kulihat roman - roman birahi pada wajahnya. aku selalu menyembunyikan mukaku di balik kerudung dan merasa malu - malu. aku masih merasa takut.
ia bertanya padaku apa yang terjadi,aku menjelaskan semua padanya. dia bertanya tentang tempat tinggalku,dia lalu pergi dariku sebentar. aku terkejut saat melihatnya kembali dengan menunggangi seekor kuda putih. Ia ingin mengantarku pulang,ia pun menaikkanku ke atas pelana,pelana dengan bantal yang sangat empuk dan nyaman.
aku hafal seluruh pemuda di tempat ini,dan pernah bertemu setiap dari mereka. namun,baru kali ini aku bertemu dengannya,aku mengira dia bukan salah satu pemuda penghuni tempat ini. aku yakin dia orang asing.
tiba di depan pintu rumah,aku berterima kasih padanya sekali lagi. aku hendak menjabat tangannya namun ia menolak,ia mengatupkan tangannya di hadapanku dan mengucapkan salaam.
sebelum beranjak,dia berkata padaku "suatu keberuntungan bisa bertemu dan menolong Gadis menawan hati laksana Bidadari sepertimu,tetap pertahankan kerudung yng menutupi wajahmu karena ia pelindung dirimu,tatapan mata sajamu begitu menggoda dan menawan,apalagi kau menyingkap seluruh kerudungmu kemudian tampaklah seluruh wajah,seperti Gerhana yang berlalu menutupi Bulan...", dia pun meninggalkanku dengan pesan yang susah lekang dalam fikiranku....",
Cahaya lilin - lilin itu memberi cahaya pada wajah Aaliya. dia sedang menceritakan pemuda pengembara itu kepada sepupunya,Aaliza",
dan pertemuan kedua kalinya adalah saat kembali pulang dari berlatih menari di Balai bersama teman - teman. aku kembali berjalan sendiri seperti saat itu. aku membuat kerudung dengan selendangku kembali. aku menutupi sebagian mukaku. berjalan di sepanjang gang yang sepi dalam kewaspadaan dengan lentera di tanganku.
nyala lentera yang agak redup karena minyaknya yang aku lalai mengisinya.
sayangnya,di tengah perjalanan,lenteraku padam. aku harus benar - benar berhati - hati berjalan. rasa takutku karena gelap dan sunyinya jalan membuatku berpikir bahaya akan lebih mudah mengancamku dari segala arah. sekali lagi,aku terjatuh pada lubang jalan yang tak begitu dalam.
kemudian,datang cahaya lentera yang sangat terang mendekatiku bersama uluran tangan seseorang. kulihat siapa dia, ternyata pemuda malam itu. dia berkata " Purnama tak muncul malam ini,sepanjang jalan terasa gelap seperti ini. aku bertemu dirimu saat kau terjatuh,kembali.
bangkitlah bersama tanganku,bila rasa nyeri terasa di kakimu katakanlah padaku,aku tidak segan untuk menggendong. bila tidak,aku akan menjamin keselamatanmu hingga kau tiba di depan pintu rumahmu...",aku kembali menyembunyikan mukaku dan berdiri dengan bantuannya. bersamanya aku melanjutkan perjalanan pulang.
sesekali kami saling memandang,dia selalu tersenyum dengan rasa yakin bahwa ia bisa menjagaku. aku berterima kasih lagi padanya. tiba di depan pintu,ia mengangguk padaku sejenak dan berkata "
Bidadari tidak akan kunjung kehilangannya meski dunia seluruhnya gelap sekali pun,begitu juga pesona dan kecantikan pada dirinya....",Oh,bahasanya yang indah,mungkinkah dia seorang pujangga ?
selanjutnya,saat acara penyambutan Tuan Perdana Menteri yang datang ke kota ini,aku dan bersama teman - teman menari di hadapan Tuan Perdana Menteri, di atas Panggung Balai. Semua orang menyaksikan kami,beberapa pemuda dan anak kecil tampak mengikuti gerakan kami. mereka bertepuk tangan mengiringi penampilan kami.
namun,ada satu hal yang menyita pandanganku,sesuatu yang berada di balik barisan orang yang menonton itu. Senyuman dari wajah tampan Pemuda itu,mungkin penampilanku membuatnya kagum dan terpana. setiap kali aku melirik ke arahnya,ia tidak menghilangkan senyumnya,bahkan ia sesekali bertepuk tangan padaku,dan berteriak memujiku.
ia mendatangiku dan mengajakku untuk berkeliling kota mengarungi sungai yang ada di tengah kota dengan sampan. aku ragu dan ingin menolakknya,namun hasratku menghapus keraguan itu dan membuatku berani.
"Ali....", Ia menyebut namanya saat Ia menyambutku naik ke atas sampan. Aku memandangnya sejenak.
"Aaliya...",aku mengenggam tangnnya dengan mantap kemudian duduk di atas sampan,ia sudah menyiapkan sampan itu seindah mungkin,aku duduk di atas permadani dengan dua bantal di atasnya.
Purnama muncul malam ini. aku bisa melihatnya sepanjang perjalanan kami mengarungi sungai.
dia,Ali terus memandang wajahku,aku tidak perlu menyembunyikan wajahku,karena ia telah melihat wajahku seutuhnya saat aku tampil di atas balai tadi. suasana tenang dan romantis dengan terangnya lentera yang Ali taruh di kedua sisi sampan.
Pada Wajah ini aku terdiam dalam kekaguman dan kebingungan,
Manakah yang lebih indah di hadapanku saat ini,
Purnama itu atau wajahnya yang terpulas cahaya lentera,
atau cahaya Purnama yang terpantul pada mempesona wajahnya....
Menatap wajahnya bagai mendapat sesejuk angin lalu,
Menatap wajahnya bagai melihat mentari pagi yang terbit di ufuk timur,
Menatap wajahnya bagai menyaksikan seberkas cahaya surga,
Menatap wajahnya bagai menyaksikan KeAgungan Tuhan,
begitu sempurna Ciptaan-Nya,di hadapanku saat ini,Masha Allah....
Tatapan Mata yang menggambarkan luas semesta alam,
Tatapan Mata yang melayangkan diri dalam khayalan,
Tatapan Mata yang hampir membuat mabuk kepayang,
Tatapan Mata seterang bintang,
Segenap bersama Wangi badannya,Bidadari ini kembali
kembali di sisiku,andai Ia menjadi milikku...
ini akan menjadi Nikmat terbaik bagiku,Masha Allah....
Pemuda Asing ini telah membuatku jatuh hati padanya setelah ia membacakan puisi tersebut untukku di sepanjang perjalanan,hingga aku kembali pulang.
suatu ketika Ali mengajakku ke atas Istana lama dengan bangunannya yang sangat tinggi. aku takut mengunjungi tempat ini karena kesunyiannya dan rasa yang mencekam ketika kita tiba di depan pintu utama.
tapi,Ali membujukku dan meyakinkanku tidak akan terjadi apa - apa. aku pun mengikuti Ali naik e istana lama.
sampai di atas Istana,Ali menunjukkan pemandangan yang belum pernah aku lihat sekali pun dalam hidupku.
Menakjubkan,Purnama yang cahayanya memantul pada permukaan samudra yang luas,kali ini Purnama tampak lebih besar dari biasanya. kampung - kampung nelayan,kapal yang berlayar dan bersandar,serta kehidupan dermaga malam hari yang belum pernah aku temukan.
"hanya purnama yang menyaksikan kita berdua saat ini. hanya purnama yang tahu apa yang aku rasakan saat ini. hanya ingin kau tahu,hanya wajahmulah yang ada di khayalanku setiap kali aku menatap Purnama semakin lama. aku selalu berkata pada purnama itu,andai saja aku bisa menyampaikan perasaanku pada pemilik wajah yang selalu tercipta pada Purnama itu,maka aku akan segera mengakhiri pengembaraanku.....",
"hanya purnama yang menyaksikan kita berdua saat ini. hanya purnama yang tahu apa yang aku rasakan saat ini. Purnama selalu berkata padamu,'ada seseorang yang diam - diam mencintaimu,diam - diam mengagumi wajahmu. andai saja kau tahu,siapa pemuda itu,kau akan segera bisa mengakhiri kegundahanmu,dan menambatkan cintamu pada pemuda itu' ialah dirimu,pemuda yang Purnama maksud....",
Ali mencium tanganku sebagai ungkapan perasaan cintanya padaku. aku menikmati pemandangan malam itu bersamanya sepanjang malam. Ali mencintaiku,begitu juga diriku. siapa yang menyangka pemuda asing ini datang bertemu denganku pada akhirnya menjadi cinta sejatiku.
Ali,aku belum tahu tentang jati dirinya,siapa sebenarnya dirinya,aku yakin dia bukan pemuda biasa,karena sikapnya yang ia tampilkan padaku. begitu ia mencintaiku,sikap dan adabnya yang sangat ia jaga,mungkin dia seorang ksatria....",Aaliya mengusap air mata yang ada di ujung kelopaknya. Air mata yang muncul sebab kegundahan dan kerinduannya pada Ali.
***
Di suatu senja,Seorang Pemuda menemui Aaliya. Seorang pemuda yang menjadi Prajurit mata - mata pada Perang yang sedang berlangsung saat ini. Pemuda itu,Nafiz memberi tahukan satu kabar tentang Ali,tentang siapa sebenarnya Pemuda yang sedang ditunggu Aaliya itu,Pemuda yang menjadi cinta sejati Aaliya itu.
Faizal Ali Maliki,ternyata Ali adalah Seorang Pangeran termuda dari kerajaan seberang,salah satu Putra Raja Sulaiman. seakan tak percaya pada kenyataan yang sudah ia ketahui,Aaliya tak bisa berkata apa - apa. rupanya Pemuda pujangga yang sudah mencintainya itu adalah seorang pangeran yang mengembara dan pasti ia sedang mencari seorang gadis yang ingin ia jadikan pasangannya,akhirnya pada dirinyalah hati Ali tertambat.
Aaliya pun memberi tahu teman - temannya. hatinya semakin tak sabar untuk menahan kerinduannya. dalam hatinya Aaliya terus memanjatkan puji syukur karena Gadis jelata sepertinya bisa menjadi seorang kekasih dari Pangeran kerajaan yang besar.
Teman - teman Aaliya pun heboh mendengar kabar ini. Saheeba berkata " sungguh luar biasa,Cahaya purnama menerangi jalanmu menuju sosok cinta sejati yang luar biasa,seorang Pangeran muda dari kerajaan seberang,...",
Keesokan harinya,saat matahari masih berada di ufuk timur,terdengar sangkakala yang membahana ke seluruh Kota ini,itu adalah tanda bahwa Prajurit - prajurit perang yang terpilih dari kota ini telah kembali. Aaliya pun melihat apa yang terjadi.
Aaliya terkejut saat melihat Bendera putih berada di barisan paling depan diiringi Beberapa tandu yang mengusung Mayat para Prajurit yang gugur di medan perang.
Pemuda yang masih belia hingga Orang tua yang sudah lanjut usia,mereka masuk gerbang kota denagn tertunduk lesu.
Nafiz kembali menemui Aaliya dan memberi kabar tentang kepulangan Para Prajurit yang menjadi sekutu Kerajaan raja Sulaiman. ini Perang yang ketiga kalinya,kali ini pasukan gabungan kerajaan dan beberapa sekutu kalah menghadapi serangan mendadak saat subuh tadi.
Aaliya pun bertanya pada Nafiz tentang Ali. Nafiz menjelaskan Pengeran Ali yang memimpin sendiri Pasukan gabungan ini,dan saat ini masih menahan serangan musuh di medan perang agar bisa memberikan jalan untuk memulangkan Prajurit yang gugur kembali ke asal masing - masing.
Aaliya berpikir tentang keadaan perang yang sedang berlangsung. Ali pasti sedang bertarung dengan sangat gigih dan pantang menyerah. Nafiz mengatakan beruntung Pengeran Ali adalah seorang Pemimpin Perang yang tangguh dan hebat. mungkin jika orang lain yang memimpin pasukan ini,pasti semuanya sudah dilibas habis karena serangan mendadak ini.
Namun,prasangka dan fikiran - fikiran buruk segera menghantui Aaliya. Ia sangat ketakutan jika suatu saat Ali bernasib sama dengan Prajurit - prajurit yang pulang ini. sejak itu,Aaliya merasa sangat cemas dan khawatir. tidak pada malam hari maupun siang hari.
Hingga kecemasan dan ketakutannya pada keadaan Ali di medan perang memuncak dalam dirinya,di malam dengan suasana mendung beserta suara gemuruh yang sesekali menggelegar Aaliya nekad keluar rumah dan secara diam - diam hendak mencari Ali di medan perang. ketika gerimis mulai turun,Aaliya segera memakai jubahnya dan mengenakan cadarnya. Ia mulai bergerak secara diam - diam.
Sayangnya,tindakan Aaliya ini diketahui oleh salah satu temannya,Ameeran. Ameeran pun segera memberi tahu Ibu Aaliya dan Aalizaa. Ameeran memberi tahu seluruh orang tentang usaha Aaliya ini.
Ameeran segera meminta seseorang untuk berlari ke arah gerbang kota dan meminta penjaga untuk segera menutupnya agar Aaliya bisa dicegah. merasa aksinya diketahui,Aaliya pun begerak lebh cepat. hingga Akhirnya ia hampir mencapai gerbang kota,namun terlambat,gerbang mulai tertutup sepenuhnya.
Aaliya berlari sekencang mungkin dan meneriakkan nama Ali. sekali lagi terlambat,Aaliya terhenti saat gerbang sudah tertutup dengan rapat. aksinya pun dapat dicegah. Aaliya segera memecah tangis dan meratap di gerbang itu. Ia menjulurkan tangannya ke arah luar gerbang sambil terus meneriakkan nama Ali. terus begitu tak peduli hujan semakin deras.
seakan - akan merasa Ia akan kehilangn Ali,Aaliya terus meneriakkan nama Ali hingga suara pada pita suaranya habis di tengah hujan yang deras ini. Para penjaga melihat gadis yang nekad ini,mereka beruasah untuk tega menahan gerbang ini. demi keselamatan gadis ini meski apa yang ia inginkan tidak tercapai.
usahanya sia - sia,Aaliya kembali pulang dalam keadaan yang lesu dan lunglai. Badannya serasa kehilangan segenap tenaga dan daya. Bagai harapannya sirna begitu saja di hadapannya. Sedih,Putus asa dan kecewa seperti memberinya akhir dari riwayat kisah cinta dan hayatnya. Manusia yang tiada daya bila hidup tanpa cinta,Ruh yang tiada bahagia bila tiada bisa merasakan cinta.
Hingga Aaliya jatuh dan tak sadarkan diri di kamarnya,Ia tidak kuasa membayangkan hal buruk yang akan menimpanya jika cinta hilang dan pergi dari dirinya. dan semenjak itu,Aaliya memutuskan tetap berada di dalam rumahnya,Ia memingit dirinya sendiri,menutup diri dari kehidupan dunia luar.
Dalam hatinya berjanji,Ia baru berkenan keluar bila suatu saat Ali datang padanya,benar - benar menemuinya. yang ada hanyalah,setiap hari,kebisuan Aaliya,dalam batin meratap sejadi - jadinya,begitu Ia menyayangkan cintanya,berat dan sulit untuk menerima kenyataan bila takdir memang harus kehilangan cinta sejatinya,Ali.
bayang - bayang suasana perang selalu tergambar di benak Aaliya,sesekali persitiwa mengerikan menimpa Ali,seperti Ali terhunus pedang,Ali mendapat tebasan pedang,Ribuan Anak panah yang tiada ampun menghujam badan Ali,ketidak berdayaan Ali menghadapi lawan,yang paling menyedihkan adalah Ali sampai tertangkap dan mendapat siksaan dalam tahanan. Air mata Aaliya selalu begitu saja keluar ketika puncak kesedihan terjadi dalam batinnya saat membayangkan kejadian yang demikian.
sebagai salah satu sarana hiburan dan pengungkapan kerinduannya pada Ali,kini Aaliya mulai melakukan hal baru,yakni melukis. Aaliya mulai menekuni kegemarannya melukis. dan sebagian besar lukisannya adalah ilustrasi wajah Ali. begitu rindunya Aaliya pada Ali,sudah sekian kain dan kanvas tertuang lukisan wajah dan sekujur badan Ali. Ada lukisan Ali menunggang kuda pula.
jadi Aaliya sekarang tahu untuk tujuan apa Ali pergi meninggalkan dirinya,dan memintanya untuk menunggu kedatangannya di Malam Ied nanti. Ali pergi ke medan perang untuk berperang merebut daerah - daerah yang telah dikuasai penjajahan,mengusir dan menumpas habis mereka.
suatu ketika Saheeba dan Ameeran datang menemui Aaliya. keadaan Aaliya sungguh menyedihkan,badan kurus dan lemah tiada daya,wajah kusam dan kehilangan rona - rona cantiknya.
"Cahaya Purnama tidak seindah saat kau turut serta bermain bersama kita,bagai Cahaya purnama yang meredup,tak seterang biasanya. aku khawatir suatu saat terjadi Gerhana dan itu berlangsung lama,hingga hal itu tidak membuat kami nyaman,begitu juga ketiadaan dirimu di antara kami dan kawan - kawan. seperti Purnama dan dirimu terdapat keterkaitan dan hubungan....",
Aaliya menolak ajakan Ameeran dan Saheeba untuk keluar bermain bersama. Ia sudah berpegang teguh pada janjinya. Ameeran dan Saheeba mengkhawatirkan keadaan Aaliya.
"Purnama dan diriku tidak ada keterkaitan,bila cintaku berada di ambang kemusnahan. Purnama dan diriku saling berjauhan,bila harapan dan kebahagiaan cintaku tak kunjung aku dapatkan...",itulh kata - kata Aaliya menolak Ajakan Ameeran dan Saheeba.
***
Tiba waktunya pada Bulan Ramadhan,Bulan yang penuh berkah dan kebahagiaan,semu bersuka ria menyambut kedatangannya. Namun,tidak dengan Aaliya,karena Ali belum kunjung menemui dirinya.
tentu saja Aaliya melaksanakan ibadah Puasa,dan ibadahnya kali ini Ia mohonkan untuk keselamatan Ali di mana pun Ia berada. sajadah yang tergelar,sujud dan rukuk telah dilaksanakan,waktu yang tepat saja untuk bermunajah pada Tuhan.
perlahan Purnama mengintip dalam awan kelam,cahayanya mulai merambat mencapai ujung sajadah Aaliya. hingga menerangi seluruh Wajah Aaliya. khusyuk dalam do'a,kedua mata yang tiada surut dengan Air mata. Hati yang tak surut beribu do'a.
tangannya menyingkirkan tirai yang menjadi tabir antara wajahnya dan Purnama yang bersinar terang itu. Aaliya memandang Purnama di antara awan - awan yang berarak. dalam bisunya,hatinya menjerit lantang.
Ali,Andai kau tahu
Sinar Purnama itu
Menembus apapun mampu
Namun,tidak dengan hasratku...
Seakan berteriak Namamu,
Namun Cadarku dan tabir kesedihan ini
tak buatku mampu...
Ali,Andai kau tahu
Hanya Namamu
Ada di Lafal Do'aku
Pada Permintaan itu
Waktu untuk bertemu
Aku dan dirimu...
Angin malam menerpa badannya,hawa dingin yang memeluk raganya. sepanjang malam mengurai gundah. Purnama tidak akan beranjak sebelum semuanya mulai terasa tersamar kecuali dengan Perasaan dan Cintanya.
di tempat lain,di Perkemahan,di salah satu Tenda di mana Ali saat ini berada. Setelah mendapat Pengobatan pada lengan kanannya,Ia duduk beristirahat. kemudian datang sebuah firasat,firasat yang membuatnya merasa tidak nyaman. Hawa yang begitu dingin ini.
Ali pun keluar dari Tenda. Matanya langsung menangkap pemadangan langit penuh awan kelam sementara Purnama dan sinarnya terhalang. Melihat Purnama itu,firasat itu semakin terasa jelas.
rintik hujan pun turun sejenak, suara gemericiknya menyampaikan satu rintihan. Ali berpikir suara siapa ini yang terdengar samar,Ia akhirnya ingat. Ia kembali melihat Purnama. Rintik Hujan berlalu begitu juga awan kelam. Ali melihat wajah seseorang pada Purnama itu,seseorang yang terkurung dalam kerinduan dan kerisauan, seseorang yang menjaga cinta dan harapan pada dirinya,Aaliya.
Seseorang menghampiri Ali dan menepuk bahunya,tampak seperti wajah Nafiz.
"esok kita kembali ke kerajaan,semua sudah terselesaikan....Allahu Akbar wal lillahi hamd...",benar dialah Nafiz. Ali mengenggam tangan Nafiz. Ali tersenyum puas dan bahagia pada Nafiz.
***
Hari - hari di Ramadhan kali ini terasa berat untuk dijalani karena kabar dari kekasihnya yang jelas dan pasti. Seperti ujian kesabaran baginya kali ini terasa lebih berat,namun dengan ini akan menjadi bukti tentang seberapa kuat dan baik dirinya dala menjaga kesetiaanya kepada Kekasihnya.
Tak lupa setiap malam Ia berdoa dan bermunajah pada Allah,Tuhan Semesta Alam agar mendapat jalan yang terbaik untuk dirinya dan kekasihnya.
"Aku akan kembali di Malam Iedmu nanti,tunggulah....",kalimat ini terdengar semakin kuat saat hari - hai terakhir ramadhan tiba.
Hingga tibalah Satu hari terakhir di Ramadhan ini. Setiap orang bersiap - siap untuk menyambut kedatangan hai raya ini,hari besar ini,Iedul fitri. seperti yang terlihat di tengah - tengah kota,di depan balai saat ini,orang - orang sedang mengamati dan menanti datangnya Hilal.
tidak hanya di tengah kota,terjadi
pemandangan yang tak biasa di depan rumah Aaliya,semua orang berpakaian putih bekumpul di situ,mereka juga menanti datangnya hilal dan kemunculan Seseorang. wajah - wajah Asing dan beberapa penduduk setempat yang berbaur menjadi satu. ada apa ini ?
langit yang tampak gelap dengan awan - awan gelap yang berarak. Seseorang Pemuda muncul dari tengah - tengah orang ini,ia melihat Purnama tampak samar - samar di balik awan besar yang menggumpal itu.
Ameeran,Saheeba,dan kawan - kawan Aaliya yang lain tampak hadir bersama Nafiz. binar - binar kebahagiaan dan keceriaan tampak di setiap wajah mereka menyaksikan kehadiran Pemuda ini.
Pemuda tadi mengajak semua orang menari untuk melakukan penyambutan sekaligus penarik perhatian dari seseorang,mungkinkah dari empunya murah yang ada di hadapan mereka,Aaliya.
lalu,siapa Pemuda itu ?
Saheeba dan kawan - kawan segera berlari masuk ke rumah Aaliya lewat Pintu belakang. Mereka menemui Aaliya di dalam kamarnya. Saheeba mengatakan Orang yang kau tunggu sudah datang,keluar dan coba lihatlah.
Seakan tak percaya,dan merasa teman - temannya bercanda,Aaliya pun tergerak keluar dan melihat siapa yang datang di depan rumahnya bersama banyak orang. Aaliya memakai kerudungnya dan menutupi sebagian mukanya.
Aaliya naik lantai paling atas rumahnya diikuti teman - temannya. bersamaan keluarnya Aaliya,awan - awan kelam itu bagai tersingkirkan di langit. tampaknya wajah Aaliya di malam ini membuat awan yang menggumpal itu memudar.
Aaliya mengintip dari benteng kecil yang berada di lantai paling atas rumahnya. Matanya terbuka lebar dan terkejut melihat kedatangan seseorang.
"Lihat Hilal telah tampak....",Pemuda itu berteriak menunjuk langit sebelah kiri mereka.
semua orang melihat ke arah kiri,namun matanya mengarah ke kanan,pada wajah seseorang yang berada di balik benteng itu. jantung Aaliya sekejap berdebar kencang,desiran semangat dan rasa bahagia itu bergetar hebat.
Aaliya kembali melihat Pemuda itu kembali dan menanggalkan kerudungnya. Pemuda itu tersenyum pada Aaliyan dan mengatupkan kedua tangannya menyampaikan salam pada Gadis yang berada di atas rumah itu.
semua orang bersorak "selamat menyambut hari raya....",kemudian mereka menari dengan gembira. Aaliya merasakan kebahagiaan dan merasa penantiannya telah berakhir. ia mendatangi teman - temannya.
"dia telah datang...", kata Aaliya bersemangat. Ia dan bersama teman - teman pun ikut menari menyambut tiba waktunya hari raya,Aaliya kembali Pemuda yang datang itu sebentar. kemudian turun menemuinya,Aaliya tak sabar untuk memandang wajahnya.
tiba di hadapan Pemuda itu dengan terengah - engah,Aaliya tampak tersenyum haru dan bahagia. begitu pun Pemuda itu.
"Aku telah kembali untukmu di malam ini.....",Pemuda itu membuka tangan untuknya.
"Yaa...Pangeran", Aaliya menggenggam tangan Pemuda itu,Ali,dengan mantap kemudian memeluknya dengan penuh rasa cinta.
Mereka,Ali dan Aaliya telah kembali bersatu. Pertemuan di malam Ied ini. Semua orang bergembira menyambut kedatangan hari raya,Aaliya bergembira menyambut kedatangan Kekasihnya,Pangeran.
kemudian Ali mengajak Aaliya ke suatu tempat,Ali mengajak Aaliya menaiki kuda menuju suatu tempat,Kuda yang masih sama. Ali memacu kudanya ke suatu tempat bersama dengan Aaliya.
Mereka menuju Perkampungan nelayan ini dan berhenti di ujung dermaga. Ali menunjukkan Bulan yang ada di Atas samudra luas. Pemandangan yang begitu indah di mata Aaliya.
"hanya Purnama yang menyaksikan kita berdua saat ini,hanya purnama yang tahu apa yang aku dan kau rasakan. jangan kau ragu dan takut,lihatlah dan sambutlah kedatanganku....Cintaku datang segenap dengan Hayatku untukmu....",Ali mengenggam tangan Aaliya. Aaliya mengangguk dengan wajah yang masih tetap haru. Kemudian Ia memasrahkan kepalanya di bahu Ali. Mereka menyaksikan Pemandangan Samudra Malam ini.
Komentar
Posting Komentar