Salaam-E-Dostana 2 ( Iqbal & Isyana ) Bab. 1

Suatu pagi di kafe “ SAHABAT “, jam menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit. Setiap orang dengan kesibukannya masing - masing. Bunyi keran Air dari dalam dapur, uap air panas dari dalam teko yang mendidih . 

Toples - toples Kopi berbagai jenis mulai terisi. Rak - Rak snack yang mulai terisi. Meja- meja yang dilap hingga mengkilap. Kipas Angin yang dibersihkan dengan hati - hati. 

Musik mulai diputar dengan Volume pelan. Kursi - kursi tampak sudah bersih ditata dengan seksama. Bunga - bunga Penghias ruangan sudah diganti dengan yang baru dan segar, 

Rama tampak sibuk merapikan meja Kasir. Ia menyiapkan uang kembalian di dalam loker uang. Tak lupa, Ia juga membuat Laporan Penjualan harian, seperti biasa di setiap paginya. 

Matanya sesekali melirik ke Arah luar. Ria tampak sibuk mengganti Bunga Penghias Ruangan di setiap sudut Ruangan. Teman lain sudah selesai mengepel lantai. 

“ Selesai sekarang ! Semuanya tampak rapi dan suasana tampak segar “, Ria kembali dari Dapur kotor, setelah membuang bunga yang lama. 

“ Wanginya tercium baru juga “, Rama memperhatikan Ria “, Oh, Romi. Bisa minta tolong kau putar papan tulisan “ OPEN “ di pintu “, 

“ Oke, Kapten “, 

“ Pilihan Bunga Kak Indira tidak salah. Para Pengunjung akan bertambah nyaman di Kafe ini”

Rama memperdalam tarikan nafasnya”Mmm, ya, harum sekali. Tapi tunggu dulu, ini benar - benar wangi bunga - bunga itu atau wangi parfummu, Ria? “, 

“ Apa Maksudmu Ram ? “, 

“ Aku tahu kebiasaanmu Ria,Aku tahu caramu memakai Parfum ,terlebih seberapa banyak kau menyemprotkan Parfum ke tubuhmu “,

“ Bukan Ram. Ini Bukan Parfum Semprot. Ini Parfum oles. Memangnya Kenapa ?”,

“ Rasanya seperti kau bukan memakai Parfum semprot atau oles. Apa kau menyiram Badanmu dengan sebotol Parfum ? Seperti Seorang Gadis menyiram sebatang tanaman “,

Ria menoleh tajam ke arah Rama. Rama terkesiap “ Apa katamu ? Kau pikir aku seperti mengguyurkan minyak Parfum ke seluruh tubuhku ?”,

“ Ya “, Rama menggaruk - garuk kepalanya,meringis ketakutan “kurasa begitu “,

“ Jadi kau pikir aku berlebihan memakai Parfum,sehingga membuatmu tak bisa mencium wangi bunga - bunga itu ?”,Tanya Ria melotot

“ Ya benar. Rasanya seperti itu “,

Ria spontan menarik Kerah kemeja Rama “ O bagus ! Kalau begitu hidungmu masih berfungsi dengan normal ! Coba bayangkan Bagaimana Jika Aku menceburkan badanku ke dalam satu bak berisi minyak parfum ?

Hidungmu pasti sudah mati rasa ! Pemuda ini konyol sekali “, Ria menghentakkan badan Rama 

“Tapi Aku bukan tipikal orang yang mudah mati rasa “,

“ Oh Ya ! Beruntung Tuhan tidak menciptakan Kau sebagai orang yang keras kepala “,

“ Ya. Tuhan yang menciptakan diriku sekaligus bagaimana watakku. Bukan kau yang membentuk bagaimana watakku “, 

Ria kembali bereaksi keras pada perkataan ini. Drama Anak - anak ini terus berlanjut. Tiada hari tanpa menggoda Ria. Rama dan Ria adalah Sahabat karib sejak Pertama kali bekerja di Kafe “ SAHABAT “

Terdengar bunyi kliningan di pintu masuk. Pertanda Ada orang yang masuk. Rama dan Ria menengok ke arah depan. Ada dua orang masuk.

“ Anak - anak,apa kalian sudah siap ?”,
“ Sudah kakak “, Romi muncul dari Arah arah kamar mandi,
“ Selamat pagi,Romi. Membersihkan kamar mandi ?”,
‘ Ya “,
“ Kerja Bagus. Jangan lupa mengganti kamper yang baru. Supaya tidak terlalu bau “,
“ Siap ! Sudah dilaksanakan “,
“ Bagus ! Tanpa disuruh, Bonus tambahan nanti saat terima gaji “,

Perhatian Rama tertuju pada Seorang Pemuda ini,begitu Juga Ria. Keduanya mendekat dengan siapa yang disambut oleh Romi.

“ Lalu, Siapa ini kakak ?”,
“ Ini Iqbal,Romi “,
“Iqbal ? Hai…”, 

‘ Rama,Ria,selamat Pagi “,
‘ Selamat pagi, Kak Arjun “, Ria membalas sapaan Arjun,
“ Siap Bos ! “, Rama menyambut Arjun.
“ Anak - anak,perkenalkan. Ini iqbal “”,

Rama, Ria dan Romi berkenalan dengan Iqbal.
“ Ini Iqbal. Adik sepupuku. Dia ,hari ini,datang ke sini bersamaku. Mulai hari ini,dia akan menjadi teman baru bagi kalian “,

“ Hai teman - teman,salam kenal. Saya Iqbal. Saya mohon bimbingannya selama bekerja di sini “,

Niat jahil Rama muncul lagi. Rama memperhatikan muka Iqbal,kemudian Muka Arjun. Begitu berulang kali untuk mencari kemiripan wajah di antara dua bersaudara sepupu ini. Ria membuang muka jengkelnya melihat tabiat Rama.

“ Kau bilang dia ini adik sepupumu,Bos ?”, tanya Rama memulai Aksinya
“ Ya betul,Ram. Ibu Nawang adalah kakak kandung dari Ibu iqbal”,
“ Tapi,aku tidak menemukan kemiripan di antara kalian. Wajah anda berdua tidak mirip sama sekali. 

Bagaimana kau bisa menyebut dia sebagai adikmu ? Apa benar dia adikmu ?”,Pertanyaan Rama lewat tingkahnya membuat semua orang heran,terutama Iqbal. Iqbal melirik Arjun. Ria menepuk dahinya,dengan tetap menahan rasa jengkelnya. 

Rama lebih mendekat ke Arah arjun “ aku tidak sepenuhnya yakin bahwa dia adikmu. Atau jangan - jangan Kau memungut seseorang di jalan,lalu kau mengangkat dan mengakuinya sebagai adikmu.

Bos,Kau tahu,belakangan ini marak aksi angkat mengangkat orang asing menjadi anggota keluarga. Entah itu menjadi Adik,Anak,Ayah atau entahlah apa itu “, Rama dengan tingkah flamboyannya

“ Memungut katamu ?! Aku pungut ujung hidungmu dengan tanganku biar kau tahu ! 

Oh Pemuda presenter Berita,Jika takdir membuatku sanggup melakukan hal itu,aku akan mengangkat setiap Pemuda yang dalam pandanganku terlihat malang sebagai saudaraku,termasuk dirimu “,

“ Kau menganggapku Pemuda malang ?”,

“ Terlihat dari bagaimana sikapmu saat ini ! Jika kau mengakui dirimu bernasib malang,aku akan minta izin pada Bapak yudi,Ayahku untuk membawamu ke kantor Catatan sipil.

Agar namamu bisa aku masukkan ke dalam daftar kartu Anggota keluargaku. Aku yakin kak Indra tidak keberatan saat mengetahui hal ini “,

“ Oh please ! Demi diriku yang malang ini,aku mengakui diri “,

“ Oh Ulahmu selalu tiada duanya ! “,

“ Jadi apa benar kalian berdua bersaudara ?Aku masih meragukannya,karena aku tidak mendapatkan kemiripan di antara kalian “,

“ Bagaimana Yang Maha Kuasa menciptakan pemuda ini ? 

Pemuda keras kepala, kami saudara sepupu,bukan kembar siam,atau kembar identik. Aku sudah bilang padamu Ibu kami Kakak beradik “,Arjun menghela nafas.

“ Tapi,kenapa takdir tidak membuat Ibu Kita menjadi kakak beradik ?”,

Arjun membuat Ram terdiam dengan menekan bibir lebar Rama menggunakan telunjuknya. Aksi ini membuat semua orang tertawa. Begitu juga Ria, Ia menepuk bahu Rama dengan sedikit keras karena gemas.

“ Tuhan tidak suka pada Hamba-Nya yang banyak bicara dan kurang mengungkapkan Rasa Syukurnya. Kau terlalu banyak bicara pagi ini,Anak Muda ! 

Buat komplainmu dan Adukan keluhanmu pada Tuhan Jika Hidupmu yang seperti saat ini tidak kau inginkan “,

“ Tapi ,kakak Bos,kau tahu. Kalau boleh jujur “, Rama merajuk pada Arjun “,Aku bersyukur karena Tuhan mempermudah jalanku saat Interview dulu di hadapanmu. 

Aku yakin dengan Kuasa Tuhan,hati Kakak Bos bisa luluh dan menerimaku Kerja kemudian mendedikasikan semangatku bekerja untuk tempat ini. Aku harap kau bangga dengan perkataanku ini “,

Arjun berpura - pura tersentuh dengan aksi ini “ Begitu rupanya ? Tingkahmu berhasil menjebakku “, Arjun membelai pipi Rama “ Aku bangga sekali padamu,bangga sekali. Terima kasih.

Tetaplah seperti ini. Kau akan tumbuh dengan tabiat seperti ini. Semoga Anak - anakku yang lain bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik.

Dan,Pemuda Malang ini,Oh Bukan. Pemuda ini mulai menunjukkan kepintarannya,siapa Gerangan yang mengajarinya ? “,

“ Bos”,Rama sedikit membentak Arjun.Rama mulai malu menerima Sikap Arjun yang seperti ini. Ia melirik ke arah setiap orang di belakang Arjun. Ria tampak muak melihat dirinya,

“ Oh ya “, Arjun melepas tangannya dari Pipi Rama 

“ Kau Orangnya ! “,Rama sedikit menekan suaranya dengan volume suara yang lirih “, kau Guru yang mengajariku seperti ini “,

“ Dan kau malu aku membentukmu menjadi Pemuda yang seperti ini ? Padahal Aku sangat bangga padamu ! Tumbuhlah dengan baik Anak Muda”, Arjun menepuk Pipi Rama ,kemudian Mengajak Iqbal masuk ke dalam kantor. 

Arjun membawa Iqbal untuk bekerja di Kafenya karena Ia ingin membantu kehidupan Bibinya. Keadaan Perekonomian Iqbal tidak sebaik keluarga Arjun. Iqbal adalah Putra sulung dari bibi Arjun.

Sebenar Ayah iqbal sedang merantau ke tempat yang sangat jauh dari rumah Iqbal.Tapi setelah sekian tahun berlalu,Keluarga Iqbal tidak kunjung menikmati hasil kerja keras dari Sang kepala keluarga. Iqbal berhasil menyelesaikan SMAnya setahun yang lalu.

Itu pun berkat Perjuangan Bibi Arjun yang bekerja sebagai Buruh Suatu Pabrik. Bibi Arjun harus menghidupi ketiga Anaknya. Hidup jauh dari Kota besar membuat Iqbal kesulitan menemukan Lowongan Pekerjaan.

Keadaan keluarga ini diperburuk dengan absennya jawaban Ayah iqbal,setiap kali Ibu Iqbal mencoba menghubungi Ayah Iqbal melalui telepon. Terakhir Nomor telepon Ayah Iqbal dihubungi ternyata sudah tidak aktif.

Hal ini terjadi berulang kali membuat Iqbal khawatir. Keluarga ini seperti kehilangan harapan.

Rama,sebagai karyawan Kafe “ SAHABAT” yang lama,menerima kehadiran Iqbal sebagai Rekan kerjanya yang baru. Pribadi rama yang supel,ramah dan mudah bergaul,membuat Iqbal tak merasakan grogi.

Rama selalu membimbing Iqbal dalam menjalani pekerjaannya. Rama tak memandang Iqbal sebagai Keluarga Pemilik Kafe ini. Keduanya bisa langsung bisa mengakrabkan diri satu sama lain. Meski Rama lebih tua tiga tahun dari Iqbal,Mereka bisa tampak akrab. Tidak ada Senioritas di Kafe ini.

Rama seperti mendapat dan dukungan saat ia meledek dan menggoda Ria di sela - sela pekerjaannya. Ia akan mendapat kemenangan Jika terjadi perdebatan di antara mereka. Tapi hal ini terjadi dalam konteks bercanda. 

Satu Pagi, Rama mendapati Arjun sedang melakukan Interview dengan satu calon Karyawan baru. Iqbal bertugas dan menata seluruh meja pagi ini.
“ Lihat, Nasib baik untuk kafe ini. Dalam waktu dua minggu,aku mendapat beberapa teman baru. Pertama,kau. Yang kedua,pemuda itu,Sepertinya kakakmu akan menerima Pemuda itu”,kata Rama merapikan meja kasir.
“ Namanya Arman,kudengar tadi. Dia mengajukan permohonan pada Kakakku,agar Jam kerjanya bisa disesuaikan dengan Jadwal kuliahnya. Dia pendatang baru di kota ini “, iqbal menyimpan kain lap dan botol cairan pembersih
“ Seorang perantau ? Kuliah ? Berani juga Pemuda ini”,
“ sepertinya kakakku akan menerima dia kerja “,
“ Dia beruntung, dia berhadapan dengan orang yang mudah berbelas kasih. Jangankan sepupunya yang kurang beruntung nasibnya sepertimu. 

Apalagi dia, Pemuda malang tapi pemberani yang datang dengan latar belakang hidupnya yang membuat kakakmu iba dengan mudahnya “,

“ Aku diajak tinggal bersamanya,satu rumah dengannya karena ia tidak mau mencarikanku Kost. Ia takut karena aku masih baru juga di kota ini “, iqbal menepuk bahu Rama,
Rama menyiapkan dua cangkir kosong di hadapan mereka “ Bos indra juga sudah tidak serumah lagi dengan keluarganya,bukan ? Jadi kau diajak tinggal serumah dengan Kakakmu Arjun ,karena dia akan merasa kesepian “, rama menuangkan teh di setiap cangkir itu,
“ Lagipula tidak ada mess di kafe ini “,
 “ Ini Kafe,Bro. Bukan resto,Rumah makan atau Pabrik “, Rama menyodorkan secangkir teh kepada Iqbal
“ Aku tahu. Tapi,aku takut Kakakku melarangku keluar malam setelah bekerja. Aku tahu dia tipikal saudara yang bagaimana. Kedua kakakku ini tidak ada bedanya “,
“Posesif, Overprotektif terkadang “,
“ Benar. Tapi aku butuh interaksi dunia luar “, iqbal meminum tehnya perlahan.

Rama merangkul iqbal “ Aku hafal kota ini. Aku tahu seluk beluk kota ini. Aku bahkan tahu tempat - tempat di mana kau bisa berinteraksi dunia luar “, Rama mengangkat alisnya,pandangan mengisyaratkan sesuatu,

Iqbal menoleh “ Maksudmu ?”
“ istilahnya kau butuh seperti seorang City Guide nantinya. Dan akulah orangnya “, rama menyodorkan tangannya,pertanda memberi tawaran. Iqbal tampak ragu menerima tawaran ini “ Dan jangan berpikir aku akan membawamu ke tempat yang tak kau harapkan.

Kakakmu punya nomerku jadi ia bisa melacak keberadaanku kapan saja,dan di mana saja . Deal ?”,

Iqbal menerima tawaran Rama,mereka berjabat tangan. Arjun memperkenalkan Arman pada Rama dan Iqbal. Arman mulai bekerja lusa setelah menyiapkan Kostnya. Ketiga Pemuda ini saling berkenalan.

Sore harinya,Rama mengajak Iqbal melihat suasana alun - alun kota. Suasana alun - alun kali ini tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak Anak - anak dari berbagai sekolah sedang melakukan suatu latihan. 

Ada yang sedang berlatih baris - berbaris. Ada yang berlatih menari tarian massal. Ada yang berlatih atraksi dan debus.

Rama dan Iqbal berhenti di salah satu sudut lapangan yang luas ini. Rama memesan minuman dingin untuk keduanya. Suasana begitu ramai menjadi pemandangan baru Iqbal.
“ Ramai sekali,sepertinya akan ada acara besar di tempat ini “,
“ Yup ! Akan ada peringatan hari Ulang Tahun Kota ini. Akan ada Upacara bendera. Itu Lihat ! Para paskibra sedang bersiap untuk latihan di sebelah timur “,
“ Tidak ada keramaian seperti ini saat aku hidup jauh dari perkotaan. Paling - paling setiap ada hajatan,Orang Menikah,itu pun Jika ada yang memakai Musik organ tunggal “,

“ Aku pernah ikut Acara seperti itu di kampung Nenekku. Saat Acara sunatan tetangga nenekku. Orang - orang kampung dan anak - anak Muda mengajakku bergoyang sampai larut malam “,

Terdengar sorak - sorak dari Arah Para gadis Penari ini. Sorakan ini menarik perhatian iqbal. Satu wajah gadis di antara Para gadis ini menyita perhatian iqbal. Wajah Lugu,manis dan Imut. Gadis ini membuat iqbal terpana.

Sesekali Ia memandang wajah gadis ini sambil menanggapi pembicaraan dengan Rama. Otaknya menghafalkan Rupa wajah gadis cantik ini. Wajah halus dengan bulir - bulir keringat. Iqbal melihat gadis ini tanpa henti. 

Keesokan harinya,Iqbal mendapat jadwal kerja masuk siang. Iqbal menyempat waktu untuk menengok alun - alun - alun. Ia bisa melihat Sosok gadis kemarin.

Iqbal mendapat Apa yang ia harapkan. Para Gadis sekitar tiga puluh orang sedang melakukan Latihan tari Tradisional. Dan beruntungnya,Gadis manis itu menjadi Pemimpin Barisan Penari itu.

Iqbal menikmati Pemandangan ini sejenak. Gerakan dan tangan badan itu tampak gemulai. Pesona Gadis berparas manis ini terbawa Angin lalu menyibak Rambut Iqbal dengan halus. Iqbal kagum dengan Sosok Bagaikan Bidadari ini. Senyum lebarnya,sebesar kekaguman dari Iqbal.

Ada Rasa desiran di setiap Pandangan pada peralihan Gerakan tangan Gadis ini. Cukup lama Iqbal menyaksikan momen latihan ini. Iqbal bergegas ke Kafe setelah Ia merasa cukup Puas.

Saat - saat tak terduga terjadi di hadapan Iqbal. Seseorang tampak berdiri di depan Pintu Kafe ini. Iqbal terbelalak,seolah tak percaya pada Siapa yang Ia lihat. Gadis Penari itu datang Ke Kafe “ SAHABAT “ !
Bunyi kliningan Pintu terdengar,Iqbal menyambut gadis itu.
“ Hai, Selamat siang. Apa benar ini Kafe “SAHABAT “ ?”,
“Hai, Selamat Siang. Ya benar ini Kafe “SAHABAT” .Ada yang bisa saya bantu ?”,
“ Beberapa temanku memintaku untuk menemui mereka di Kafe ini. Aku belum tahu di mana mereka sebelumnya,mereka memberi tahuku bahwa Mereka di Kafe ini. Setelah aku cari - cari ternyata di sini. Boleh Aku masuk menemui mereka ?”,
“ Tentu saja boleh “,

Baru satu langkah berjalan,gadis itu hampir terpeleset. Iqbal cepat bereaksi. Ia mengulurkan tangannya untuk gadis ini. Gadis itu spontan menggenggam tangan Iqbal.
“ Hati - hati. Mari saya bantu masuk dan mencari teman - teman Anda “, Iqbal masih menggenggam tangan gadis ini dengan erat,
“ Ya terima kasih”, gadis memperbaiki posisinya berdiri,
“ Maaf,kami belum sempat membersihkan teras karena baru saja selesai hujan “.
“ Ya . Mungkin kamu sibuk dan belum sempat “,

Wajah Iqbal tampak cerah . Ia bisa menggenggam tangan Sosok yang Ia kagumi ini. Tangan halus dan lentik Gadis ini. Iqbal mengantar gadis ini ke meja teman - temannya berada. Gadis itu berterima kasih pada Iqbal.


...

Sincerely,
Dunia Di Kala Fajar
Fajar Adi


Salaam E Dostana 2 

Komentar

Postingan Populer