Salaam - E - Dostana 2 ( Arman & Avantika ) Bag. 2

Pada seluas alam semesta ini. Pada langit senja dengan pulasan warnanya yang redup. Pada Nuansa senja yang hanya memberi rasa Lesu pada badan. Pada sepanjang jalan dan trotoar yang setiap hari menjadi saksi perjalanan kisah hidupnya. Pada awan muram yang pelan bergerak,Ia harap ia bisa mengungkapkan apa yang selama ini Ia tahan,Ia pendam dan ia rasakan. 

Kerinduan ! Kerinduan terkadang terasa membuat Raga terasa melayang,tak berdaya,Jika kita membiarkannya menguasai raga. Kerinduan terkadang terasa seperti Kumpulan sedikit rasa Nyeri yang terbentuk hari demi hari,bersemayam di hati ,lama kelamaan membuat guncangan - guncangan emosi .

Kekhawatiran mulai muncul. Kerinduan yang mulai pekat terasa akan mengikis rasa sayang dan cinta yang tetap teguh dan kuat terpelihara. Pergolakan Batin mulai terjadi. Jika jiwa masih kuasa menanggung Kerinduan,tak kau hilangkan hingga mampu melemahkan badan,sampai kapan kau akan bertahan ? Seberapa lama kau mampu menanggungnya ? Mungkin tidak akan bisa menjadi bukti seberapa besar kau memelihara kesetiaan. 

Lalu lalang Orang ini tak akan peduli akan keadaanmu. Lalu lintas kendaraan di jalan besar itu tak tahu apa yang kau sedang rasakan. Keramaian suasana Kota juga mungkin tak tahu seberapa besar Penderitaanmu. Bahkan Langit bersih yang dipandang saat ini tak memberi kesan apa - apa,hanya kekosongan.

Ia berdiri dan mengakhiri Momen renungannya kali ini. Ia mantap menggenggam buku Diary. Hanya kembali ke Rumah,Ia pasrah. Harapan Devyaan hadir lewat keajaiban,sudah kesekian kali Ia munculkan dalam benaknya,pada saat ia membalikkan badan.

Kursi hitam itu akan tetap kosong. Devyaan tidak akan datang. Akalnya mulai lelah untuk sekedar memberinya hiburan dengan berkhayal. Devyaan mungkin sudah hidup di belahan Bumi lain. Keadaan menciptakan hidupnya pada suasana kesepian dan kesendirian.

Langkah kakinya membawa dirinya menyusuri trotoar. Ia tak menemukan apa - apa di sepanjang perjalan dan tak seorang pun menemui dirinya,bahkan mengenalinya. Baru kali ini ia merasa asing,berada dimkota yang belum lama Ia kenal.

Ia masih mendekap Dairynya. Ia masih merasa hampa pada jiwanya. Pemandangan sepasang pemuda yang melewati dirinya menghadirkan kembali  kenangan masa lalu ketika Devyaan tak sesibuk seperti akhir - akhir ini. Devyaan selalu mengajak Avantika jalan - jalan di tengah kota,.

Devyaan selalu menemui Avantika di taman setelah latihan Sepak Bola. Saat - saat bahagia di mana selalu ada kebersamaan. Rasa lelah terasa setelah ia mengurai rangkaian peristiwa dan kenangan di masa lalu. 

Kini Devyaan tak jelas kabarnya. Avantika belum kunjung mendapat kabar tentang Devyaan. Sementara Rindu semakin tak tertahankan.

Suara berisik gesekan dedaunan tak akan memahami keadaannya. Avantika pasrah pada ke mana Langkah kakinya akan membawa dirinya. Matanya tertuju pada satu kafe setelah Ia menebar pandangan. Suasana Pencahayaan yang terang menarik dirinya. Terasa jiwa yang telah lesu dan harapan mulai redup. Pikiran terasa kehilangan butiran - butiran Pemantik semangat.

Ia menyebrang Jalan dengan hati - hati. Pada Nuansa terang itu,Ia percaya akan ada harapan,atau minimal di sana Ia akan mendapat sedikit hiburan. Kliningan Pintu berbunyi ketika Avantika masuk ke kafe ini.

Seorang Gadis barista,Ria menyambut kedatangannya. Ria mempersilahkan Avantika duduk. Ria mencatat pesanan Avantika,setelah itu ia kembali ke meja bar.

Avantika diarahkan Ria untuk duduk di sofa yang empuk dan Nyaman. Nuansa kafe dibuat setenang dan senyaman mungkin. Kesan ini terasa memberi Efek tenang pada diri Avantika.Musik Pop diputar agak pelan untuk menambah kesan nyaman pada kafe.

Seseorang datang mengantarkan Pesanan milik Avantika. Satu potong Roti bakar dengan selai coklat dan Secangkir Kopi Mochacino panas.

“ Permisi. Pesanan siap untuk meja atas nama “”, ternyata Pengantar Pesanan itu adalah Arman “, Avantika “, Arman deterkejut saat tahu Pesanan ini milik siapa.

“ Iya benar”, Avantika terkejut dengan Kehadiran Arman “, Wah ! Kau Arman,bukan ?”,

“ Oh ya benar. ternyata tamu baru kita kau,Avantika “, Arman menyajikan pesanan Avantika.

Pertemuan tak terduga. Apakah untuk pertemuan ini,langkahnya membawa dirinya ?

“Iya,aku tidak sengaja mampir ke sin. Dan kau ternyata kerja di sini ?”,

“ Ya benar. Aku kerja di sini”,

“ jadi panggilan kerja waktu pertemuan kita pertama dulu untuk ke kafe ini ?”,

“ Betul .Aku senang sekali Aku diterima kerja di tempat ini “,

“Syukurlah. Aku ikut senang “,

Arman memeriksa keadaan kafe ,Apakah ramai atau tidak ? Kafe biasanya sepi saat Petang tiba,

“ Terima kasih,Avantika”,Arman kembali bartender untuk menaruh nampan.

“ Aku senang bertemu denganmu,Arman “, binar - binar Bahagia terpancar pada wajah Avantika saat ia berdiri,Ia berharap Arman mau kembali ke mejanya.

Arman berbicara pada Ria sejenak,kemudian kembali ke meja Avantika. Arman menarik satu kursi sofa kecil untuk duduk di hadapan Avantika.

Kepulan Uap Kopi Mocha itu. Aroma gurih dari roti bakar. Arman merasa sedikit jantungnya berdebar sedikit kencang. Ia mendapati satu buku diary di meja itu. Avantika merasa senang Arman duduk di hadapannya.

“ Apa kabar,Avantika ? O ya silahkan dinikmati hidangan dari kafe ini. Aku harap kau menyukainya “,

Avantika mencicipi sepotong kecil roti,kemudian meminum sedikit kopi. Mata vantika seolah - olah tak bisa lepas dari wajah Arman. Untuk kenikmatan dan kebahagiaan inilah ia pasrah pada langkahnya. Bertemu dengan arman memberi suasana kebahagiaan tersendiri.

“ Kabarku baik,Arman”, jawab Avantika menaruh gelas Kopi itu perlahan “, Roti ini enak,Kopinya juga pas.Terima kasih”,

“ Darimana barusan ? Apa kau pulang bekerja ?”,

“ Aku baru saja dari taman. Hari ini  adalah hari di mana aku harus pergi ke taman “,

“ Wah ! Apa kau selalu menemui seseorang di setiap kunjungan itu ?”,

Avantika sedikit terkesiap. Kali ini ia tak mau menghadirkan keresahannya’ taman itu menjadi tempat favoritku. Aku termasuk orang baru di kota ini. Yang aku tahu,tempat terindah dan pas untuk melepaskan lelah dan penat setelah beberapa hari bekerja. Aku hanya tahu taman kota itu,tempat terbaik di kota ini”,

“ Jadi begitu. Aku juga orang baru di kota ini.tapi sejak bekerja di kafe ini,berteman dengan Rama,salah satu Pegawai Kafe ini. Ia selalu memperkenalkan tempat - tempat menarik di kota ini”,

“ Beruntung sekali dirimu. Kau baru tinggal di kota ini,sudah mendapatkan pekerjaan paruh waktu bersama orang - orang baik “,

“ Iya ,Avantika. Aku bersyukur Tuhan sudah membuka jalan untukku berjuang dengan keadaan yang baik seperti ini. Pemilik Kafe ini sangat mengerti keadaanku “,

Pembicaraan itu berlanjut. Waktu beranjak malam. Arman sempat memesankan Taksi Online untuk Avantika kembali pulang. Avantika tersentuh dengan kebaikan Arman.

***


Di Suatu pagi Kafe “ SAHABAT “ kedatangan Kurir Paket. Rama dan Arman menerima Paket ini. Mereka terperangah melihat Apa isi paket itu. Indra datang bertepatan dengan Paket dengan ukuran besar ini.

Rama dan Arman mengawal Tiga Kurir ini memasukkan barang. Mereka tampak keberatan meletakkan di tempat yang sudah disiapkan.

Rama takjub pada isi paket ini,Satu unti Piano berwarna coklat tua dan tampak mengkilat.

 “ Piano ?”, Rama bertanya - tanya “ Untuk apa Piano dikirim ke sini ?”,

Arman menggaruk halus janggutnya “ Iya ya. Untuk Apa ?Ah ! Mungkin akan ada program Live musik nantinya untuk kafe ini “,

“ Bisa  jadi. Tapi,kenapa harus Piano ?”,

Indra hadir dari belakang Rama dan Arman. Ia menepuk kedua pemuda ini.

“Benar,Anak - anak. Piano ! Aku sekali dengan Piano. Aku sudah lama memimpikannya. Indira selalu membujukku untuk membelikannya “,

“ Jadi Kakak Bos,Kau baru saja membelinya ? Kutaksir pasti mahal harganya”, Kata Rama sedikit menerawang.

“ Tidak,Ram. Ini Hadiah dari sahabat lamaku,Haikal. Ini adalah Reward darinya karena aku telah berhasil membuka Usaha,kafe ini.Kalian mendapat pekerjaan tambahan sekarang. Tolong  rawat baik - baik Piano ini “,

Rama spontan menoleh ke arah Indra. Indra tahu maksud Rama.

“Arman,kau juga siap merawat Piano ini ?”,

“ Oh siap ,siap. Ngomong - ngomong Apa para Karyawan boleh memainkan Piano ini ? Saya lihat ada beberapa teman yang punya hobi Musik”,

Indra merangkul Arman “ Termasuk Kamu ?”,pertanyaan Indra membuat Arman mengangguk malu “,Kenapa tidak ? Selama kalian mau merawat Piano ini, Silahkan ! Aku akan bilang pada Indira ternyata Anak - anak kafe ini pandai bermain Piano “,


“ O ya benar ! Arman tadi sempat berkata ‘ Mungkin akan ada program Live Musik di kafe ‘,bukan begitu Arman “,

Indra melepas rangkulannya “ Ide bagus ! Bisa dipertimbangkan, Jika salah satu diantara Anak - anakku sampai ada yang mahir bermain Piano ini,Aku akan mengajak Indira kencan di kafe ini setiap malam minggu “,Indra menatap Arman “,Akan ada tip Jika ada yang bisa memainkan lagu kesukaan Indira. Kalian mau ?”,

Arman bersemangat “ Siap ! Siap ! Saya siap kakak bos “,

“ Okey. Ram, bagaimana denganmu ?”,

“ Kita harus persiapkan seluruh alatnya dulu,Bos “,

“ Tenang saja. Aku percaya pada Kalian “,

***

Rutinitas Kerja memberinya sedikit demi sedikit rasa jenuh dan lelah. Jam terbang kerjanya sekarang tinggi. Avantika mulai menjadi salah satu Orang kepercayaan Atasannya. Dedikasi dan Semangat bekerjanya sangat tinggi.

Ia duduk dengan badan yang terasa berat. Ia menghela nafas. Rasa lelah membuatnya merasa sesak. Sorot lampu kerja mengarah pada Buku Diary. Perhatian Avantika teralihkan pada Buku itu. Ia meraih kemudian membacanya.

Hadir satu sugesti dalam pikirannya untuk pergi ke kafe “SAHABAT “. Entah kenapa Ia akhir - akhir ini lebih tertarik ke sana.

Suasana Kafe yang tenang membuatnya nyaman. Ketenangan di Kafe itu seperti memberi Cara khusus untuk Healing atau Pemulihan pada Jiwanya. Tapi Hal itu menjadi Alasan Kedua Ia merasa tertarik ke sana.

Lalu,Apa alasan Utama Avantika tertarik ke Kafe “SAHABAT “ ? Tentu saja Satu sosok Pemuda ramah yang mulai sedikit memberi Penghiburan dan selingan,Pengalih perhatian dari segala Kejenuhan dalam Hidupnya. Dialah Arman.

Tanpa pikir panjang Avantika bergegas pergi ke Kafe “ SAHABAT “. Bayang - bayang Sikap Arman yang menjadi Memori di dalam Pikirannya spontan Terputar dalam pandangannya seperti Khayalan. 

Sementara itu di dalam Kafe “ SAHABAT “,terdengar Permainan Piano yang dimainkan oleh Salah satu Pengunjung . Irama lagu Romantis dimainkan oleh Seorang Pria paruh baya yang sedang merayakan Ulang Tahun Pernikahannya.

Sang Istri tampak terpesona,menikmati Permainan Piano ini. Mereka berdua tampak bahagia. Senyum dengan makna Haru dan Bahagia tersorot oleh Lampu yang berada di atas Piano.


Arman sesekali melihat Momen Romantis itu sembari merapikan Meja Bartender. Entah Apa yang dipikirkan Arman. Rama hadir di samping Arman.

“Wah ! Pemandangan yang menakjubkan ! Setidaknya ada Hiburan gratis untuk kita dan Para Tamu yang ada sekarang “,

“Suatu saat Kau pasti punya momen yang sama seperti mereka”, Arman menoleh ke Rama,

“Tunggu,Apa kau bilang ?”,

“Suatu saat Kau juga akan melakukan hal yang sama seperti Suami Istri itu”,

“Arman,tunggu dulu. Mana yang kau maksud ? Aku bermain Piano,Aku akan menikah dan punya istri,atau Aku bermain piano untuk Istriku nanti ?

Kawan, Kau tahu diriku,Aku masih belum berani bermain Piano. Kau juga pasti sering lihat,Ria sering meledekku Jika kita membahas hal - hal tentang Piano itu.

Aku tak tahu Apa yang dipikirkan gadis rewel itu ? Apa dia sangat ingin melihat aku bisa bermain Piano atau Sebenarnya Ia punya keinginan untuk membuat Momen Romantis dengan bermain Piano ?”,

“ Tumben Kau punya pikiran sentimentil terhadap hubungan Kalian,yang tampak sedikit ekstrim . Tunggu , Apa kau punya perasaan tertentu pada Ria ? 

Atau Kalian hanya terbiasa membuat Perdebatan sepele di tempat ini setiap hari ? Apakah itu hanya gimmick untuk menghilangkan rasa jenuh kalian ? 

Oh,Mungkin saja Tipikal hubunganmu dengan Ria memang seperti itu adanya ? Tidak pernahkah kalian,satu hari saja,rukun dan tampak saling menyayangi hingga kalian tampak manis dan serasi ?”,

“Apa ini pertanyaan seperti Kuis berhadiah ? kau mungkin tak akan memberiku Hadiah bukan ?Jika aku menjawab seluruh pertanyaanmu dan Rasa Penasaranmu ,Aku hanya belum yakin pada diriku sendiri. Aku tak mau menebak perasaan apa yang akan muncul di dalam hatiku ini. 

Aku dan Ria hanya bersahabat dekat, dan Kau juga. Lagipula Kenapa kau tidak merasa risih dengan Sikap Gadis Rewel ?”,

“Kita mendapat Reaksi dan Perlakuan dari Bagaimana Kita memperlakukan Seseorang”, Arman menata gelas - gelas bersih “, Ria hanyalah gadis biasa yang penuh semangat dalam bekerja. 

Ia bersikap biasa saja padaku,Malah terkadang Ia bersikap Segan padaku”,

Rama memotong perkataan Arman“Dia segan padamu ? Oh, Arman, Apa kau tak berusaha menebak Perasaannya dari sikapnya berbicara ? Apa dia tak bersikap Manis seperti Para gadis SPG di Toko Kosmetik yang setiap sabtu sore ke Kafe ini ?”,

“ Aku tak mau menjadi orang yang sensitif dan berusaha menebak isi hati seseorang. Terlebih menaruh Prasangka pada seorang gadis seperti Ria.

Aku tekankan lagi padamu,Ram. Kita mendapat Reaksi dan Perlakuan dari Bagaimana Kita memperlakukan Seseorang “,

“Kau berharap Aku mulai merubah sikapku pada Ria ? padahal di sisi lain Kau sebenarnya tak terganggu dengan Bagaimana hubungan kami ? 

Kita sama - sama bekerja di Kafe ini,Aku adalah Sahabatmu. Kau mungkin mulai bisa memahami Bagaimana diriku. Untuk Urusan Ria dan bagaimana hubungan kami, Abaikan saja. 

Kau tak akan mendapatkan Apa - apa saat Tingkah Konyol Kami kambuh di hadapanmu. Betul ?”,

“ Ya ya. betul sekali”,


Rama melihat ke Arah Suami Istri yang bermain Piano “Man, Aku membayangkan bahwa Aku akan menikah. Tentu Aku akan menikah suatu saat. 

Arman,Kita ini seumuran,sebaya. Kita sama - sama perantau di Kota besar ini.Aku mengawali karir di Kafe ini. Menikah masih jauh dari Pikiranku. Tapi..”,

“Tapi,Apa kau belum yakin pada dirimu ? Fine ! Setidaknya Kau punya cita - cita untuk menikah. Aku hargai itu “, Arman menepuk bahu Rama”, Bagus “.

“Man,You get me at that point ! Ngomong - ngomong,Kau juga pasti punya pemikiran yang sama,Bukan ?”,

“Tentu ! Kita ini Sahabat ! Setiap hari Kita bertukar pikiran ,dan sebaiknya selalu begitu.Karena Semakin banyak hal yang perlu kita rencanakan dan pikiran,dengan begitu Pikiran kita akan terbuka dan wawasan Kita akan bertambah”,

“All Right ! “,


Tiba - tiba Hujan gerimis. Rama bergegas memunguti Piring dan Gelas Kotor yang ada di Meja luar. Arman bergegas menutup seluruh jendela. 

Air hujan seketika membasahi Jalan raya dan Pepohonan di sepanjang jalan. Tak sengaja perhatian Arman tertuju pada Seseorang di seberang Jalan. Spontan Arman mengambil payung hitam berukuran besar di tong Payung yang berada di samping Pintu. 

Kliningan Pintu berbunyi setelah Arman keluar menghampiri orang yang kehujanan di luar.Kehadiran Arman mengejutkan dirinya. Beruntung sekali Arman bergerak cepat untuk menghampirinya. Payung hitam ini menaungi keduanya.


“Arman,Kau “, Sapa Avantika yang tampak terkejut,

“Yah. Aku melihatmu kehujanan. Jadi,Aku langsung menjemputmu.Apa kau mau ke Kafe ? Ah ! Kenapa juga tiba - tiba hujan “,

“ Iya Arman. Aku mau ke Kafe. Terima Kasih sudah menjemputku. Kau baik sekali”,

“Sama - sama Avantika. Lebih baik Kita segera masuk ke Kafe”,

Hujan semakin deras. Arman mengajak Avantika menyebrang. Avantika memegang erat tangan Kanan Arman. Arman memastikan Badan Avantika tak terkena percikan air hujan sedikit pun.

Kliningan Pintu berbunyi. Ria menyambut Mereka dengan dua helai handuk kecil. Arman memberi handuk kecil,pemberian Ria, pada Avantika.

“ Terima Kasih,Arman. Terima kasih sekali lagi “, Avantika sedikit menunduk menerima handuk ini,

“Ya sama - sama Avantika. Apa semua barangmu baik - baik saja,selamat dari air hujan ?”,

“Ya Arman.Semuanya Arman. berkat kau. Oh Tuhan! Beruntung Kau cepat menjemputku”,Avantika langsung mengeringkan rambut dan mengusap seluruh badannya dengan handuk

Arman melihat Ria”Terima Kasih Ria, Kau baik sekali “,

“Oh ya, Sama - sama,Teman. Aku sudah mendapat Pujian. hari ini”,balas Ria tanpa menghilangkan keramahannya,


Avantika menyerahkan handuk itu. Ria dengan sigap menerima handuk itu.


“Avantika, perkenalkan ini Temanku,Ria “,

Ria menunduk dengan senyum ramahnya.

“Hai,Ria. Salam kenal. Aku Avantika. Terima kasih atas handuknya”, 

“Salam kenal juga,Avantika. Ini bagian dari servis ! So Arman”, Ria menatap Arman dengan tatapan bermaksud menggoda “Kau hebat ternyata ! Kau Orang baru di kafe ini dan di kota ini tapi Kau sudah “, lirikan Ria ke arah Avantika mengisyaratkan godaan pada Arman,


“Apa maksudmu ,Ria ?”,


“Bukan Apa - Apa ! “, Ria menghilangkan Niatnya untuk menggoda Arman”, Layani Tamumu,Oh Maaf,Tamu kita dengan baik ! Bye Avantika “,

“Bye Ria. Terima Kasih “,

Arman mempersilahkan Avantika duduk.Arman kembali ke meja bar untuk membuatkan minuman pesanan Avantika. 

Musik terdengar pelan namun selaras dengan nuansa di dalam Kafe yang tenang. Avantika memastikan barang bawaannya telah kering dari percikan Air hujan.

Bunyi Kliningan Pintu terdengar,tanda Seseorang masuk ke kafe. Seorang Pemuda pengantar makanan datang mendekati meja bar.

“Halo,Selamat malam “,

Rama hadir menyambut kedatangan Pemuda itu. Ia kembali dari merapikan meja - meja area belakang kafe.

“Halo,Selamat malam. Oeh,Bro,Tumben Kau sendiri yang mengantar pesanan ?”,

“Ya kebetulan hari ini agak sepi,jadi Aku antar sendiri pesanan kali ini. Pesanan Untuk Kakak Arjun “,

“O ya,tunggu Aku ambil uang untuk membayar Martabak ini dulu. Kak Arjun sudah menitipkannya padaku,Aku simpan di laci kasir”,Rama buru - buru ke meja kasir untuk mengambil uang,

“Ah ! santai saja,Ram. Aku tidak buru - buru”,

“Tumben sekali, Ada Apa Yudha ?”,

Yudha bergeser ke hadapan Rama” Cuaca hujan ini Aku tutup lebih cepat. Aku merasa lelah hari ini. 

Aku belum mengambil libur sejak dua minggu yang lalu. Mataku selalu berkunang - kunang Saat Aku melihat Adonan.Tanganku terasa berat karena terlalu lama mengaduk Adonan”,

“Oh Tunggu. Apa kau baik - baik saja ?”,

“Kepalaku sedikit berat,Ram. Akhir - akhir ini Aku tidur terlalu larut malam. ini Aku serahkan pesanan Martabaknya. Ini ada satu kotak lebih untuk kalian,Teman - teman. Gratis “,


Arman mengambilkan Kursi untuk Yudha duduk”Aku tidak tahu Apa yang kau lakukan hingga membuatmu begadang hingga larut malam”, Arman menuntun Yudha untuk duduk”Tapi kutebak, kau pasti kalah taruhan bermain PS dengan Ibra di beberapa malam kemarin ?”,


“Benar sekali,Arman”Yudha duduk melepaskan nafas beratnya. Ia mengucek matanya”Ibra menantangku bermain Game. Arman,Aku sedang gila bermain Bola “,


Arman tergerak memijit bahu,tengkuk dan kening Yudha sebentar. Ia sesekali mengawasi Avantika.

“Tapi, game tidak akan membuatmu gila,Yudha “,

“Aku pernah hampir gila ketika Aku berhadapan dengan Seorang Wanita yang membeli martabakku dengan Permintaan yang terlalu banyak.

Bagaimana jadinya Jika satu porsi martabak Ia minta penuh dengan irisan daun bawangnya tapi mengurangi porsi dagingnya ? 

Terlebih Wanita itu sampai menyuruhku untuk menambah takaran Penyedap rasanya ?”,

“Aku khawatir Ia sedang melakukan percobaan mengakhiri hidupnya. Atau dengan cara itu Ia bisa mengakhiri Rasa lelah dan keruwetan Pikirannya.

Tapi tunggu,Apa harus dengan memakan Martabak telur yang terlalu Asin ? Oh Pikiranku mulai membayangkan hal yang tidak enak “,

“Aku khawatir Ia sedang menderita Hipertensi. Aku hampir kewalahan dibuatnya. Ia cerewet sekali,bahkan Ia sesekali uring - uringan tak jelas.

Aku benar - benar hampir Gila. Uh Ya sebelah situ,Kawan “, Yudha merasa pijatan Arman membuat kepala belakangnya terasa ringan”,Arman,kau ternyata pandai memijat ? Kenapa Kau tidak mengambil pekerjaan sampingan sebagai Tukang Pijat “,

“Oh Tidak ! pekerjaan di sinilah yang menjadi Pekerjaan sampinganku”,

Rama hadir dengan segelas chococino hangat kesukaan Yudha. Yudha langsung menegakkan badan. Rama memberi minuman itu pada Yudha.

“Ah ! ini yang Aku suka dari Kalian “, Yudha menerima gelas ini “Kalian sangat pengertian padaku. 

Ram,Potong sekalian dari uang Martabak itu untuk membayar minuman ini”,Yudha mulai minum pelan - pelan.

“Pengertian sebenarnya tidak bisa dibayar dengan secangkir Chococino,Teman “,

“maksudmu ?”,

“Pengertian terkadang tidak perlu diminta atau datang dari satu perintah untuk mendapatkannya.

Apa yang kita rasakan saat Kita melihat keadaan teman kita,akan memberi sugesti dan dorongan untuk menolong Teman kita memperbaiki keadaannya. Bukan begitu ?”,

Yudha menghirup uap halus Minuman ini “Kau selalu membuat Manisnya terasa pas,Ram !”,

“Tapi, Pengertian tidak semanis minuman coklatmu,Yudha”, Sela Arman

Yudha melirik ke Arah Arman”Lihat ! Aku tidak akan pernah merasa kekurangan Pengertian dan perhatian dari kalian,Teman - teman. Terima Kasih “, Yudha menatap Rama dengan tatapan teduhnya

“Oh ! Aku tidak mau tersentuh dengan Momen ini ! Aku akan segera menyampaikan Pesanan darimu untuk kak Arjun.

Kau tahu,Aku mulai geli karena Ia terkadang memintaku banyak hal sepele untuknya. Aku merasa waktu terkadang terbuang sia - sia hanya untuk meladeni permintaan tak terlalu penting dari Bos Muda.

Apa yang Ia mau dariku ? Kurasa Ia hanya menjadikanku sebagai temannya mengusir kesepian. Oh ! Malangnya dia, Aku tahu Ia seperti saudara tua bagiku,tapi bagaimana dengan perasaannya menghadapi kesendiriannya ?

Aku seolah - olah mempunyai pekerjaan ganda “Rama beringsut meraih Kotak Martabak dari Yudha. 

“Kau orang yang paling pengertian di kafe ini. Hingga Kak Arjun merasa padamu bahwa Kau adalah orang yang bisa memberinya Perhatian,melebihi siapapun di Kafe ini “,

“Sungguh ! Aku akan datang ke Ibu Nawang supaya Ia mengangkatku menjadi Anak Angkatnya suatu saat. 

Aku seperti orang yang malang dan kurang kasih sayang.”, Rama terkesiap,tersadar “, Oh Tunggu ! Apa yang baru Aku katakan ? Ah ! Lupakan “,

Arman dan Yudha tertawa ringan.

“Rama kadang tersita waktunya untuk meladeni Bos Muda. Jika Beliau sedang berada di kafe ini”,

“ Karena Ia jadi orang kepercayaan “,

“Semua Orang yang bekerja di Kafe ini jadi Orang Kepercayaan. Kau sebentar lagi akan mendapat Kepercayaan dari Bos Muda “, Arman menekan pangkal belakang Telinga Yudha,

“Kenapa ?”,

“Kakak Indira berniat membuka Etalase Kue itu. Ngomong - ngomong Aku akan memintamu lagi untuk memijiitku di lain waktu “,

“Apa ?! Aku tidak mau”,

“Ayolah,Arman. Badanku terasa lebih nyaman “,


Yudha mengiming - imingi Arma dengan selembar Uang Seratus Ribuan. Arman berusaha untuk menolak,Tapi tatapan Matanya tampak malu - malu,

“Tidak Yudha. Aku tidak bisa menerima itu”, Arman meninggalkan Yudha,

“Ayolah Arman. Ayo”, Yudha merayu “Kumohon”,

“Ah Tidak ! Oh Tapi…”, Arman berubah pikiran. Ia secepat kilat ingin mengambil Uang dari Yudha.

Tapi Yudha bereaksi dengan menjauhkan Uang itu dari Arman,

“Tidak ,Tidak Arman. Katanya Pengertian mungkin tidak bisa dibayar dengan Uang berapa pun”,

“Tapi ?”,

“Tapi Apa ?”, Tanya Yudha memandang Arman,sambil tetap menggoda Arman”Kau pasti sungkan karena ada Rama. Ayolah !”, Yudha berbisik Kesempatan tidak akan datang dua kali”,

Arman menatap Yudha,Tapi jemarinya menggerayami tangan Yudha bermaksud mengambil uang dari genggaman tangan Yudha. Yudha tak berkutik dalam tatapan Arman.

“kau menyuruhku untuk mengambil Pekerjaan sampingan,bukan ? So ,Aku akan melakukannya”, Secara mengejutkan Arman menunjukkan keberhasilannya mengambil Uang Yudha,


“Tapi,Kau mengambil Uang secara diam - diam ?”,

“Apa ini bisa dikatakan bahwa Aku bisa menjual Pengertian untuk dibayar dengan uang ?”, Arman menepuk kedua pipi Yudha”, Aku akan ke rumahmu nanti,

Setuju dengan kesepakatan ini ? Habiskan Coklatmu,Aku akan melayani Tamuku”,

“Kau tidak hanya Pandai menipu rupanya, Kau juga pandai memanipuliasi keadaan “,

“Terima Kasihku,Karena Kau sudah memberiku Pengertian “, Arman tersenyum ringan,mengedipkan mata kanannya,

Yudha melanjutkan minumnya” Emh. Aku tidak mau melanjutkan Permainan ini,Arman “, Yudha kembali duduk menghabiskan minumannya,

Arman kembali dengan minuman pesanan Avantika. Ia menyajikan secangkir Kopi Susu Panas dan Sepotong Martabak sebagai teman minum Kopi.


“Arman,Aku hanya memesan minum. Kenapa kau memberiku sepotong Martabak ?”, Tanya Avantika menutup diarynya,

“Sengaja Aku berikan untukmu. Aku yakin Kau akan menyukainya”,

“Apa martabak ini masuk dalam daftar menu ?”,

“maksudmu ?”,

“Tidak apa - apa Jika Kau terlanjur memberikan padaku. Aku akan membayarnya,karena kupikir ini pesanan Orang lain yang salah antar”,


Arman duduk kursi sebelah Avantika,Ia menemani Avantika minum Kopi “Emh. Ini Martabak gratis yang temanku berikan untuk karyawan di sini,Yudha namanya, sering kali memberi kami Martabak Gratis. Coba saja,Aku yakin kau akan nmenyukainya”,

“Tunggu,Arman. Apa yang kau berikan ini adalah jatahmu untuk kau makan ? Aku takut kau akan tidak kebagian”,

“Tenang saja “, Senyum Arman terpulas warna lampu kekuningan” masih banyak di dalam kotak sana. Nikmatilah “,

“Terima Kasih. Aku akan menyukainya”, Avantika menunjukkan sepotong Martabak itu pada Arman,kemudian memakannya.


Titik - titik Air hujan tampak di seluruh Kafe ini. Hujan berubah menjadi partikel - partikel Uap lembut yang turun ke Permukaan Tanah. Beberapa Orang masuk ke Kafe.


Merasa cukup berada di kafe setelah satu jam,Arman sempat beberapa kali mampir menemui Avantika. Ia lakukan agar Avantika tak merasa bosan.


Bunyi Kliningan mengiringi Avantika keluar dari Kafe. Hawa dingin setelah Hujan menyambutnya. Sepanjang trotoar tampak dengan beberapa Genangan Air. Avantika terhenti setelah beberapa langkah saat merasa ia diikuti seseorang.

Arman menyusul Avantika keluar Kafe. Ia meminta Avantika berhenti sejenak.

“Avantika,Tunggu sebentar”,

“Arman,Ada Apa ?”, Tanya Avantika berbalik badan,

Arman menyerahkan Paper bag dan Satu Payung hitam pada Avantika. Lampu teras Kafe dengan cahaya kekuningannya,

“Aku merasa hawa dingin akan membuatmu tak nyaman di sepanjang perjalanan. Jadi Aku membungkuskan Mochachino panas untukmu. Terimalah”,

Avantika tersenyum samar dan mengangguk, Hatinya tersentuh dengan Perhatian ini”Terima kasih, Arman. Aku merasa tidak cukup berterima kasih dengan Perkataan atas Apa saja yang kau berikan padaku”,

“Kau menerima Apa saja yang Kuberikan padamu dengan senang hati, Itu sudah cukup bagiku. O ya, Ada beberapa Bungkus Kopi Racikan Produk Asli dari Kafe ini. Ini resep racikan Kak Indra ! Kuharap kau menyukainya,

Dan Payung ini untuk berjaga - jaga. Kilat di langit belum kunjung berhenti menyala. Hujan bisa saja turun kembali”,

“Aku terima semua ini,Arman”,

“Iya. Hati - hati di jalan,Avantika”,

“Baiklah. Aku akan mengembalikan payung ini besok”,

“Tidak Apa - apa Jika kau masih ingin memakainya,kembalikan kapan saja”,

Avantika meninggalkan Arman dengan Rona wajah Bahagia. Suara Gemuruh di Langit masih terdengar,mengundang datangnya Hujan. Arman melambaikan tangan pada Avantika.

....
Sincerely,
Dunia Di Kala Fajar
Fajar Adi

Salaam - E - Dostana 2

Komentar

Postingan Populer