Salaam - E - Dostana Bab 4 ( Remake Bag. 3 )


Suatu ketika Niel menemui Joni untuk mengutarakan Suatu hal. Akhir - akhir ini Niel jarang berkumpul dengan teman - temannya karena Ia tengah mengikuti kegiatan Pembinaan Siswa berprestasi di Ruang kelas Khusus dalam Beberapa hari. Niel menemui Joni di kelas pagi ini.

“Apa kabar Joni ? Sepertinya Aku sudah cukup lama meninggalkan kelas ini. Padahal hampir seminggu Aku tidak berada di kelas ini “,

“Tidak ada yang terasa lama bagiku, Semua tetap berjalan seperti biasanya. Ada Apa Niel ? Kau tampak berbeda dari biasanya, Ada yang sedang kau pikirkan ?”,

“Aku menemukan keanehan pada beberapa Anak yang berpapasan denganku. Mereka memandang diriku dengan tatapan yang aneh,Aku tidak tahu maksudnya ?”,

“Mungkin Mereka takjub dan kagum pada sosok siswa yang berprestasi ini”, Joni menepuk halus bahu kiri Niel”Reputasi dan Popularitasmu semakin baik,bukan begitu ?”,

“Bagaimana Aku bisa merasakan nuansa baiknya Popularitasku sementara Aku merasa terusik oleh beberapa siswa yang berani menegur diriku ?

Mereka mengingatkan diriku untuk tidak menjadi Anak yang sombong karena prestasiku”,
“Oh bagus kalau begitu “,
“Tapi,Ada yang menyindirku untuk mengakhiri kemarahanku pada Arjun. Aku tidak menyangka Bagaimana Semua Orang bisa tahu tentang masalahku dengan Anak Pengecut itu ?

Aku tidak terima diriku disebut bersedia menjalin Hubungan Pertemanan dengan Anak yang punya kelainan Homoseksual ! Bagaimana Berita gila ini bisa sampai tersebar luas ke sekolah ini ?

Aku yakin semua orang sudah tahu hal buruk dan memalukan ini,kemudian mengubah pandangan dan penilaian Mereka terhadap diriku.

Aku merasa untuk Apa Aku menjadi siswa berprestasi dan populer dengan harapan Aku punya imej baik dan disegani setiap orang,sementara di balik itu Semua orang mengetahui masalahku dengan Anak pengecut dan berjiwa Homo itu. Tidakkah ini menodai harga diriku ?”,
“Kau tampak tertekan dengan situasi ini,Andai Aku bisa membantumu ,Niel “,
“Andai kau tahu siapa Orang dibalik semua ini. Aku ingin kau mencari tahu siapa dia orangnya “,
“kenapa harus bingung mencari tahu siapa pembuat ulah ini ?Sementara Kau tidak pernah bereaksi sedikit pun tentang tindakan Anak pengecut itu.

Kau bahkan tidak pernah menemuinya untuk sedikit pun membalas kelakuan anak itu. Kau malah membiarkan ulah anak itu semakin menjadi - jadi dan kau akan semakin dipermalukan ,serta Harga dirimu sebagai Murid berprestasi di sekolah ini dipertaruhkan !”,

“Jadi Kau pikir Anak pengecut itu dalang di balik situasi buruk ini ? Kau tak punya bukti kuat untuk dugaan ini !”,

“Keteledoranmu,Niel ! Kesalahanmu karena kau tak membalas tindakan Anak itu. Aku sudah mengingatkanmu tentang Perasaan dan kenekatan seseorang,terlebih Anak itu.

Kau hanya mengabaikan ulah anak itu tanpa membayangkan dampak dari ulahnya. Kau selalu meremehkan Anak itu,Niel !

Kau tidak pernah berpikir bahwa ketika seseorang kehabisan kesabaran,dia akan berbuat nekat untuk melakukan segala cara memenuhi ambisinya. 

Aku tekankan sekali lagi,jika kau masih berpikir bahwa Anak itu Seorang yang lugu,tanpa mengamati dan menyelidiki gerak - geriknya yang semakin menggila,Aku jamin dia akan semakin merusak Reputasimu,Prestasimu bahkan Harga dirimu di sekolah ini !”,
“Jadi Apa ini saatnya Aku harus memberi pelajaran kepada dia ?”,
“Tergantung dari Apa yang Kau rasakan,hanya kau yang berani memutuskan. Aku hanya mengingatkanmu tentang hal ini”,
“Kau bersedia membantuku untuk memberi Pelajaran pada Anak itu ?”,
“Kau tinggal mengatakan Kapan saatnya,Aku akan membawa Anak itu ke hadapanmu.

Kalau perlu Aku akan menyeretnya ke hadapanmu “,
“Mungkin lusa Aku akan melakukannya “,
“Kapanpun Kau mau,Niel “,

***
“No Excuse,Just Execute !”,

Suatu sore, di saat Pulang Sekolah setelah jam pelajaran tambahan. Cuaca tampak mendung gelap,Angin bertiup kencang menggerakkan gumpalan awan kelam dari Arah barat. Sesekali terdengar Suara gemuruh,Pertanda akan segera hujan.

Arjun menemui Niel yang sudah menunggunya di pinggir Lapangan sekolah,di dekat Tiang bendera. Arjun merasa sangat bahagia mendengar permintaan ini yang disampaikan Joni.

Arjun merasa penantiannya telah berakhir hari ini. Ia yakin Niel akan bersedia diajak bicara dan lebih dari itu,Niel akan memberi maaf pada dirinya.

Arjun menguasai dirinya yang sedang gugup,tangannya gemetar. Arjun telah tiba di hadapan Niel. Niel berbalik badan saat menyadari kehadiran Arjun. Niel masih menahan emosinya yang bergejolak dari tadi.
“Lihat ,Aku masih memakai jaket ini,bukan ?”,tanya Niel dengan mimik muka yang datar dengan kesan dingin,

Pertanyaan Niel malah membuat Arjun terharu”Iya Iya”, Arjun mengangguk. arjun sedikit melangkah untuk mendekati Niel. Arjun perlahan mengulurkan tangan kanannya bermaksud ingin minta maaf pada Niel.

“Oeh ! Apa yang mau kau lakukan ? Tahan dirimu !”,kata - kata Niel membuat Arjun terkejut,
“Aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk minta maaf padamu,niel “,
“Maaf ? Kau ingin minta maaf padaku ?”,
“Ya “,
 Niel mulai meluapkan emosinya”Kau ingin meminta maaf padaku setelah selama ini Kau melakukan semua hal jahat ini padaku ? 

Bagaimana bisa Kau merasa dengan mudahnya Minta Maaf padaku tanpa berpikir tentang akibat ulah yang kau perbuat padaku ?

Kau pikir Aku tak terusik sama sekali ? Kau pikir Aku akan baik - baik saja setelah menerima semua ulahmu itu ? 

Kau pikir Aku tidak sakit hati menghadapi semua ini ?”, Niel mencecar Arjun dengan pertanyaannya. Niel mulai mengintimidasi Arjun dengan Nada Bicaranya,

“Aku hanya ingin Minta Maaf padamu,Niel. Tapi Aku hanya bisa melakukannya dengan mengirimi surat padamu”,
“Secara diam - diam tanpa sepengetahuanku ?”,
“Iya Niel. Hanya itu yang bisa Aku lakukan karena Aku tak ingin siapa pun mengetahuinya,termasuk teman - temanmu “,
“Apa yang salah dengan teman - temanku ? Kau takut dirimu akan terganggu oleh teman - temanku ?’,

Arjun mengangguk dengan berat hati.

“Dan benar, Kau ternyata Seorang Pengecut ! Pengecut yang bersembunyi di balik rasa cemasnya ! “,

Suara gemuruh seolah - olah menyampaikan sensasi rasa tekanan dari setiap perkataan Niel kepada hati Arjun. Arjun terbelalak tak percaya Niel sampai berkata seperti itu,
“Aku tahu bagaimana tindakanku selama ini akan mengganggumu Niel, Aku tidak menyangka bahwa kau sampai merasa sakit hati.

Untuk itu Aku minta maaf padamu,Niel”, Arjun mengiba pada Niel,dengan mengatupkan kedua tangannya di dada”, Kumohon Maafkan Aku,Niel”,

“Apa setelah Aku memaafkanmu semuanya akan kembali baik - baik saja ? Apa kau tidak tahu bahwa satu sekolah memandangku aneh dan mengejekku Naif,Gila dengan bersedia menjalin hubungan Pertemanan dengan Anak yang punya kelainan sepertimu ? Konyol sekali ! Mereka berpikir Aku berteman dengan Anak Homo “, kata Niel dengan sedikit membentak,

Suara petir yang tiba- tiba kali ini terasa menghujam hati Arjun dengan keras seperti mendengar kata - kata Niel kali ini,
“Tidak Niel,Tidak. Jangan berkata seperti itu. Aku tidak bermaksud berniat seperti itu. Aku hanya ingin kita baikan kembali”, Arjun berusaha meraih tangan Niel,Namun secara refleks menampik tangan Arjun”Aku hanya ingin Kita berteman kembal i,Niel”,

“Kau tidak melihat bagaimana diriku ? Apa kau tidak berpikir tentang diriku yang berusaha menjadi siswa berprestasi untuk membuat semua orang dan sekolah bangga ,

Namun sayangnya kau malah mengusik dan mengganggu diriku dengan ulah jahatmu. Apa kau berusaha untuk menjatuhkanku di hadapan semua orang ? Katakan ! Apa kau ingin menghancurkanku dan Prestasi di sekolah ini ? Licik sekali pikiranmu ?”,

Semakin Niel mencecar Arjun,Arjun semakin merasa terintimidasi. Arjun merasa akibat ulah yang dilakukan dirinya tapi Ia tak berharap akan separah ini. Ini di luar bayangan Arjun. Arjun merasakan keanehan.

“Tidak Niel. Aku tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku benar - benar tidak bermaksud seperti itu”,

Niel menunjuk - nunjuk Arjun”Dengarkan Aku sekali saja ! Bagaimana Jika Aku melepas Jaket ini kemudian membuangnya ke kubangan air kotor itu ? Kau berharap Aku akan mengingatmu dengan memakai Jaket ini setiap hari ?”,
“Jangan Niel. Jangan. Aku hanya ingin kembali baikan denganmu “,
“Mungkin tidak untuk mulai sekarang,Aku mungkin akan mulai melupakanmu. 

Bagaimana Jika Aku benar - benar membuang jaket ini seolah - olah Aku membuang Sial yang melekat pada diriku dikarenakan ulah jahatmu ?

Konyol sekali Orang sampai berpikir Aku ingin berteman dengan Anak Homo seperti dirimu. Apa ini Obsesi yang ingin kau capai,Homo ?”,

Sekali lagi,gemuruh terdengar,kemudian Gerimis mulai turun. Arjun tak berkutik sama sekali. Niel semakin mendekati Arjun untuk lebih mengintimidasi. Mata Arjun berkaca- kaca mulai merasakan sesak di dalam dadanya.

Sementara di sisi lain,Joni tampak mengintip dari balik pagar sekolah,

“Jangan membuang jaket itu,Niel. Kumohon jangan buang jaket itu. Aku ingin kau memaafkanmu,Niel.

Andai saja Kau tak mau berteman lagi padaku”,

“Berteman denganmu membuatku sadar bahwa Aku menjadi Orang Bodoh dan tolol yang telah memujimu sebagai Anak yang bisa menghargai kebaikan seseorang”,Tatapan Niel semakin membuat Arjun takut”, 

Jika kenyataannya Kau menusukku dari belakang ! Anak macam Apa kau ini ?”, Niel merogoh saku celananya,Ia mengambil surat - surat dari Arjun yang telah Ia kumpulkan.

“Sekali lagi,Maafkan Aku sekali saja,Niel,untuk kekecewaan yang kau rasakan. 

Kumohon Niel.Aku tak tahu Apa yang harus aku lakukan ?”,

Niel langsung melempar surat - surat itu ke Muka Arjun.
“Enyah dari hadapanku ! Berhenti mengirimi surat padaku ! 

Berhenti berulah jahat terhadapku seolah - olah dengan tindakanmu itu Kau hendak membunuhku secara pelan - pelan. Berhenti mencari diriku hanya untuk memandangiku dengan pikiran kotormu ! Itu membuatku merasa jijik melihatmu ! “,

Surat - surat ini tercecer di kaki Arjun. Tindakan ini berhasil membuat Hati Arjun hancur. Niel berbalik badan dengan rasa puas setelah melampiaskan emosinya.

Arjun nekat meraih lengan Niel untuk memohon maaf pada Niel,
“Aku perlu minta maaf kali ini,Niel. Aku telah melakukan kesalahan padamu. Kumohon maafkan Aku”, Rayu Arjun kembali mengiba dengan terisak - isak.

Tindakan ini malah membuat Niel naik pitam. Ia secara refleks menampik tangan Arjun hingga terlepas,kemudian berbalik hendak melayangkan pukulannya ke Muka Arjun.

Namun Hati kecil Niel menahan tangannya,yang hampir menyentuh pipi Arjun. Ia menurunkan tangannya,kemudian mendorong badan Arjun hingga terjatuh ke belakang.

“Pergi sana,Dasar Pembawa Sial !”, Niel langsung berlari meninggalkan Arjun. ia mengambil sepedanya kemudian kembali pulang.

Sementara itu,Arjun bangkit kemudian memunguti surat - suratnya yang tercecer. Hatinya benar - benar hancur dan merasakan sakit.

Lembar demi lembar terkumpul di tangannya, di bawah gerimis yang semakin kerap. Arjun tampak terisak - isak menyimpan surat - surat itu di saku bajunya. Arjun berjalan pulang dengan langkah tertatih - tatih.

***
Hujan turun semakin deras,saat Indra hendak menjemput Adiknya pulang sekolah. Indra berdiri di teras rumah,tiba - tiba Perasaannya tidak enak. Apa yang terjadi pada Arjun di sekolah ? Semoga Arjun bersabar menunggu jemputannya.

Arjun nekat pulang sekolah dengan naik mini bus. Di sepanjang perjalanan raut mukanya tampak merana. Ia masih merasa syok setelah menerima sikap Niel di sekolah tadi.

Sesekali Arjun menahan tangisnya,Ia berusaha menyembunyikan kesedihan yang Ia dapat hari ini. Arjun mengambil surat yang ada di sakunya,Ia memandangi surat itu cukup lama.

Namun,Kemarahan Niel barusan seperti terputar di dalam pikirannya. Satu titik Air mata jatuh di tumpukan surat itu. Arjun menyimpan surat itu kembali.

Mini Bus ini berhenti di Perempatan yang berada di dekat Masjid Besar. Arjun pun turung di pinggir jalan,selanjutnya Arjun terpaksa berjalan menuju Rumahnya yang masih dua kilometer lagi.

Di tengah kondisi lesu dan kesedihannya,Arjun menguatkan dirinya untuk berjalan sampai rumah. Langkah Arjun tampak gontai,hujan masih turun dengan deras. Arjun tak memperdulikan hujan ini,Ia hanya ingin segera sampai rumah.

Saat hujan mulai reda,Indra mulai mengeluarkan Motornya untuk menjemput Arjun. Ia menyempatkan waktu untuk memakai jaket. Namun di saat selesai memakai jaket,Indra melihat Arjun telah sampai di depan Gerbang. 

Indra mendapati Adiknya tampak lelah dengan raut muka tampak syok. Langkah Arjun tampak masih gontai.

Arjun berhenti di depan kakaknya. Tanganya tampak gemetar mengambil surat - surat yang ada di sakunya. Arjun menggenggamkan surat itu itu ke tangan Indra. Indra tampak bergeming,Ia mendapati Mata Arjun tampak basah. 

Arjun beranjak masuk ke dalam rumah,Indra menggenggam erat surat yang diberikan Arjun. Arjun mendorong pintu ini dengan sisa tenaganya.

Namun,sedetik kemudian,Arjun jatuh pingsan,tubuhnya membentur pintu mengkagetkan Indra. Indra mendapati Adiknya terkapar di depan Pintu.Sontak Ia membopong Adiknya masuk ke dalam kamar.

***
Malam harinya, saat ini Kedua Orang Tua Arjun tengah pergi karena suatu urusan di luar kota. Di Rumah hanya Ada Arjun dan Indra,Arjun siuman sesaat setelah Adzan Isya berkumandang. Indra merawat Adiknya.

Setelah mandi dan berganti pakaian,Indra menyuapi Adiknya makan malam. Keduanya tampak duduk di tepi ranjang. 

Sayangnya,Arjun masih larut dalam kondisi traumanya.Arjun menolak Suapan yang diberikan oleh Kakaknya. Indra tak mau memaksa Adiknya untuk makan.

Perlahan tangan Arjun meraih tangan Kakaknya. Arjun bersimpuh di depan kakaknya. Indra tampak merana melihat tindakan adiknya ini.

“Maafkan Aku,kakak “, Arjun menggenggam erat tangan kakaknya,suara Arjun terdengar serak,
“Arjun …”, Indra berusaha mencegah ulah Adiknya,
“Kali ini Maafkan Aku ! Tolong Maafkan Adikmu ! “,Arjun sedikit membentak Kakaknya”Jangan menganggap Aku sedang berpikir Hal aneh lagi ! 

Aku hanya ingin mohon maaf padamu ! Jangan menganggapku sedang berpikir hal - hal aneh lagi !”, Arjun meremas dadanya,Arjun mulai berteriak karena Rasa sedihnya”, Aku sakit Kakak !

Aku sakit,Hatiku sakit ! Adikmu sedang memiliki kelainan ,Kakak ! Maafkan Aku,Kumohon Maafkan Aku ! “, Arjun tampak stress saat ini,
Indra menggeleng dan merasa sedih,mendapati keadaan adiknya seperti ini,
“Aku memaafkanmu,Arjun. Kakak memaafkan semua kesalahanmu padaku,Adikku”,

Arjun langsung mencium tangan Kakaknya dengan nafas tersengal,kemudian memecah tangis kesedihannya. Suara tangisan Arjun terdengar keras,di tengah kondisi serak yang Ia rasakn.

Arjun menumpahkan kesedihannya di hadapan Kakaknya. Perlahan Indra mengangkat badan Arjun,seperti hendak menggendong Anak kecil.

Indra mendekap Badan Adiknya di atas ranjang. Arjun menangis selama beberapa Jam. Indra terus berusaha menenangkan Adiknya.

Dengan membelai Rambut Arjun,Indra memberi sugesti Rasa Nyaman untuk menenangkan Adiknya. Arjun perlahan tertidur dengan rasa hati yang mulai lega.
 
***
Kepulangan Ibu Nawang dan Pak Yudhi esok harinya. Ibu Nawang dikejutkan oleh Cerita Indra tentang Keadaan Arjun. 

Ibu Nawang segera menemui Arjun di kamar. Arjun terbaring lemah di atas ranjang.
“Oh Anakku,Apa yang terjadi padamu ?”, Bu Nawang meraba dahi Arjun,

“Ini pasti ada hubungannya dengan teman Arjun yang ibu beri jaket dulu”, gumam Indra,

Bu Nawang berdiri mendekati Indra” Apa yang terjadi,Kakak ?”,

“Ibu,Adik sedang sakit dan sedikit mengalami stres karena insiden kemarin. Mungkin telah terjadi sesuatu padanya di sekolahnya”, Indra berbisik”, Lebih baik kita membicarakan hal ini di ruang makan Ibu.

Aku khawatir Arjun akan kacau lagi Jika Ia sampai mendengar Pembicaraan Kita”,

“Baik Kakak. Sekarang bantu Ayahmu membereskan barangnya. Ibu akan mengurus Adikmu. Terima Kasih telah menjaga Adik,Sayang”,

“Iya Bu. Jangan tanya pada Arjun tentang Apa yang terjadi di sekolah. Lebih baik Ibu membujuk Arjun supaya mau makan”,

“Iya Anakku”, Bu Nawang kembali ke Arjun”, Adik,Ibu akan memasak sup untuk Kita makan. Nanti Kau makan ya ?”, Bu Nawang membelai Kepala Arjun,

“Apa ibu tidak lelah ? padahal Ibu baru datang “,
“Tidak sayang. Ibu tidak lelah. Anakku,Ibu Mohon padamu,Kau mau makan sedikit,Ibu punya roti sedikit di dalam tas”, Bu Nawang mengeluarkan satu potong Roti,Ia mengupas kemudian mengeluarkannya”, Adik makan roti yang Ibu bawa ini. Ibu akan menyuapimu, Mau ya ?”,

Arjun mengangguk,Ia perlahan bangkit untuk duduk. Bu Nawang duduk di samping Arjun. Bu Nawang menyuapi Putra keduanya ini sepotong demi sepotong roti yang beli dari mini markett di saat perjalanan pulang.

“Ibu…”,Panggil Arjun dengan nada lemah,
“Iya Adik “,

Arjun meraih tangan Bu Nawang “Aku belum mencium tangan Ibu,seperti biasa saat Ibu pulang ke rumah. Aku belum menyambut ibu”, Arjun mencium Ibunya,
“Oh Anakku,Ibu menyayangimu”, Bu Nawang memeluk Arjun,seraya mencium keningnya. 

Bu Nawang bisa merasa badan Arjun sangat panas. Kondisi badan Arjun tampak lesu.
“Mungkin Aku bisa kehilangan temanku,tapi tidak dengan Ibuku. Ibu akan selalu ada untukku”, Kata - kata Arjun dengan tatapan sayunya,
“Iya Anakku. Benar sekali”,

***
Indra mengantar Ibunya ke sekolah Arjun untuk bertemu Wali kelas Arjun. Bu Nawang hendak memohonkan ijin Arjun untuk Istirahat di Rumah.

Bu Nawang tak bercerita banyak pada Ibu Wali Kelas karena Indra melarangnya untuk tidak menceritakan Bagaimana keadaan Arjun sebenarnya.

Kembali Ke Rumah,Indra menemui Adiknya di Kamar. Sementara Itu Bu Nawang menyiapkan makan siang. Arjun tampak termenung dengan wajah yang masih murung. 

Indra memaklumi bahwa Adiknya belum bisa menghilangkan Kesedihannya. Indra mendekati Arjun yang sedang duduk di atas Ranjang Tidur.

Indra perlahan duduk di belakang Arjun,kemudian mendekapnya dari belakang. Budan Arjun sudah tak sepanas seperti kemarin.
“Aku hendak membeli Jus Alpukat untukmu saat perjalanan pulang,Tapi Ibu melarangku karena Kau pasti masih demam”, Bisik Indra berusaha menghibur Adiknya,

Arjun menunduk tanpa menghilangkan wajah murungnya”Aku tak ingin minum Jus Alpukat,Kakak. Aku hanya ingin kakak selalu berada di sampingku saat ini.

Maafkan Aku jika Aku belum bisa melupakan kejadian kemarin,kakak “,

“Tidak Apa -apa,Ada saatnya semua ini akan berakhir. Aku menyimpan surat - surat itu di meja belajarmu.

Aku tak mau membuangnya,Siapa tahu itu akan berguna bagimu suatu saat “,

Arjun mengangguk”Tapi Niel masih menyimpan Rasa Marah dan Kesalnya padaku. Aku takut kalau sampai Kakak marah padaku karena Aku telah mengecewakan seseorang di sekolah.

Aku takut sampai kakak marah padaku karena Aku telah membuat masalah sampai sejauh ini”,

“Mungkin untuk sekarang Niel masih menyimpan Rasa marahnya,Tapi Perasaannya akan berubah seiiring waktu berjalan. 

Justru Aku takut kalau kau sampai kehilangan fokus belajarmu di sekolah,Arjun”, Indra mencium kepala belakang Arjun untuk memberi Rasa Nyaman “Jangan sampai Prestasi belajarmu terganggu karena masalah pribadimu.

Kakak mohon Arjun,jangan sia - siakan usaha Kakak yang selalu membimbingmu Belajar setiap malam. Kesedihan ini akan berlalu secepat mungkin”,

“Tapi Semua Orang di sekolah sudah tahu masalahku dengan Niel. Dan setelah Aku menerima perlakuan Niel kemarin,Aku merasa takut untuk pergi ke sekolah lagi.

Aku takut semua orang akan mengejekku karena Aku telah membuat masalah dengan Anak yang berprestasi di Sekolah. Aku takut sekali,Kakak”,

“Kau berpikir kau akan kehilangan segalanya hanya dengan membuat Satu masalah dengan Seorang Anak ?”,

Arjun mengangguk,

“Apa kau tak punya,setidaknya seorang teman di sekolah ?”,
“Iya kakak. Marvin namanya”,
“Kau merasa bahagia saat bersamanya ?”,
“Kami satu bangku di kelas. Marvin memutuskan untuk pindah semeja denganku setelah Ia merasa sangat terganggu oleh kelakuan kedua temannya”,

“Marvin yang selalu minta bekal makanan padamu ?”,
“Iya kakak. Marvin selalu memuji masakan Ibu”,
“Bagus Arjun! Sejenak lupakan masalahmu dengan Niel.

Dan jadikanlah Marvin alasanmu untuk bersemangat ke sekolah. Marvin mungkin juga akan sedih jika dia tahu kau terus - terusan merasa terpuruk karena masalah ini.

Adakalanya Kau menjadi Anak yang keras kepala saat Aku menasihatimu. Aku bisa melihat seberapa Kuat kau ,terkadang,menunjukkan Kebandelanmu terhadapku”,

Arjun melepaskan diri dari dekapan Kakaknya,kemudian membuang mukanya”Lalu,Bagaimana dengan ejekan - ejekan yang akan kau terima,Kakak ?”,

Indra meraih badan Arjun,kemudian merangkulnya”Aku belum selesai bicara,Arjun”Indra melirihkan Nada Bicaranya”Tunjukkan pada Mereka Bagaimana saat kau menunjukkan sikap Bandelmu terhadapku.

Mereka tidak tahu sebenarnya yang terjadi. Anggap saja Mereka hanya melontarkan omong kosong. Dan Jangan kau pikir Kakakmu ini sedang bicara omong kosong padamu”,Indra berusaha sedikit bercanda di sela - sela Nasihat yang Ia berikan,

Arjun menatap Kakaknya dengan ekspresi wajah penuh tanya.

“Emh”, Indra merangkul Arjun lebih erat”Aku hanya bercanda,Tapi kuharap Kau mengerti Apa yang kukatakan,Arjun.

Jangan terlalu memikirkan ejekan - ejekan Semua orang. Cukup langsung keluar sekolah saat Pulang,langsung pulang ke Rumah,kembali ke padaku.

Jika Kau ingin pergi ke suatu tempat,Kau tinggal bilang padaku,Aku akan mengantarmu. Kita sudah lama tidak jalan - jalan,bukan ?”,

“Iya Kakak Aku mengerti”,
“Bagus ! Jadi,Masih merasa takut kembali ke sekolah ?”,
“Tidak Kakak. Aku ingin Kakak bertemu Marvin sesekali”,
“Baik. O ya,Apa Marvin punya Request bekal lagi ?”,
“Marvin minta Bakso buatan Ibu,kakak”,
“ Bakso ? Bagus sekali ! Aku akan bilang ke Ibu sekarang juga. Tunggu di sini sebentar”,
“Baik kakak “,

 ***
Akhirnya Arjun kembali ke sekolah setelah tiga hari mengalami Sakit Demam. Meski Raut Mukanya masih tersamar rona - rona Trauma,Arjun memberanikan dirinya. Tentu saja Ia mendapat Gunjingan dari siapa pun saat Ia melewati siapa saja yang Ia temui.

Arjun mengabaikan semua gunjingan yang terdengar olehnya dari Arah belakang. Arjun memilih untuk bersikap Diam dan menunduk, Ia hanya berfokus langsung ke kelas. Di depan Pintu kelas,Arjun berpapasan dengan Marvin. Marvin merasa lega Akhirnya Arjun bisa masuk sekolah lagi.

Marvin merangkul dan menuntun Arjun ke dalam kelas. Marvin merasa Arjun telah berubah total. Arjun lebih terkesan Pendiam. Keceriaan Arjun seolah - olah hilang. Cerita - cerita lucu Arjun tak diperoleh Marvin sama seperti biasanya.

“ Kau sudah mendingan,Arjun ? Tiga hari kau tidak masuk sekolah “, Tanya Marvin pelan menyela sikap Diam Arjun,
“ Iya Marvin. Tapi Aku belum bisa melupakan apa yang terjadi sore itu “,

Marvin merangkul Arjun” Tidak Apa - Apa,Arjun. Masih Ada Aku,Bukan ? Aku mungkin tidak bisa membuatmu berubah dengan mengeluarkan dirimu dari kesedihanmu begitu saja.

Aku tak berani untuk memaksamu. Aku juga tak mau menuntutmu untuk menunjukkan kebahagiaan palsumu sebagai penutup kesedihanmu pada Semua orang. 

Hanya Kau yang bisa merubah keadaanmu sendiri. Aku hanya bisa memberikan keberadaanku di sampingmu untuk menjagamu,dan membuatmu merasa Kau masih punya seseorang untuk membagi Kesedihanmu. 

Bagaimana bisa orang satu sekolah bisa dibodohi oleh kelakuan Seorang Anak yang masih bersembunyi di balik semua ini. Percaya padaku,Arjun. Aku mulai tahu siapa Orangnya. Dan Kuharap Kau tahu Aku selalu ada untukmu”,

Arjun spontan memeluk Marvin sambil menarik nafas lega. Marvin menepuk bahu kemudian mengusap Punggung Arjun. Mereka berpelukan sejenak.
“ Kakakku benar,Marvin. Kau memang temanku. Kakakku menyuruhku untuk menjadikan dirimu sebagai Semangatku kembali ke sekolah.

Aku memang tidak bisa membuat Semua Orang berhenti mengejekku atau menggunjing tentang diriku. Aku akan berusaha menutup Kedua telinga atau menganggap semua ejekan itu sebagai Omong Kosong”,
“Emh. Lalu,Bagaimana Jika Aku yang mengejekmu Homo ? Apa kau akan marah padaku ?”,
“ Kau mengejekku Tapi kau memahami keadaanku. Tidak semua orang bisa seperti dirimu,Marvin.

Mungkin kau bisa menjadikan ejekan itu untuk semakin mengakrabkan pertemanan kita”,
“ Yah untuk itulah ! Aku masih ingat pertanyaan lugumu. ‘ Bukankah Jika Dua orang saling menyukai harus saling berdekatan ?”,

Arjun spontan tersenyum pada Marvin “ Kita satu bangku meja,Marvin”,

*** 
 
Siang hari saat jam istirahat menjelang Jam Tutor. Niel tampak berjalan terburu - buru dari Arah halaman Parkir. Raut Muka Niel tampak marah dengan selembar surat tergenggam erat di tangannya.

Tentu saja surat itu dari Arjun. Ia sangat marah mengetahui Arjun tak berhenti menghentikan ulahnya padahal Ia sudah mengancamnya.

Arjun kembali dari Lapangan. Tak sengaja tatapan Matanya menangkap kedatangan Niel tepat di depannya. Arjun melihat ekspresi geram Niel yang ditunjukkan padanya. Arjun spontan menunduk ketakutan.

Niel mencengkram lengan Arjun secara spontan kemudian sedikit mendorong Arjun hingga berada di hadapannya. Arjun bergeming namun Rasa takut luar biasa kembali muncul di dalam hatinya.

“Apa maksudmu dengan surat ini ?”, Tanya Niel menunjukkan surat yang digenggamnya”Kau tak berhenti mengirim surat yang sangat menggangguku seperti ini ?

Kau tidak terima menerima perlakuanku kemarin ? Kau masih memelihara obsesi burukmu terhadapku ? atau dengan menerima kemarahanmu kemarin, Justru membuatmu berpikir Kau bisa bicara kembali padaku ?”,Niel langsung mencecar Arjun dengan kata - kata kasar,

Arju menggeleng tanpa menatap wajah Niel. Arjun masih menunduk ketakutan.

“Kau tak berani menjawab pertanyaanku ? Kau pasti menyembunyikan kebencianmu di balik Rasa takutmu,karena Kau tak suka aku berada di lingkungan teman yang urakan,nakal dan bandel,Aku tak seperti yang kau harapkan,bukan begitu ?

Oh, Mungkin Kau memiliki Rasa Posesif terhadapku,kau hanya ingin memiliki diriku sebagai temanmu seorang tanpa berharap Aku bisa berteman dengan orang lain,Bukan begitu ?”,

Itu adalah Perasaan yang dirasakan Arjun terhadap Niel. Arjun memelihara Rasa Posesif terhadap Niel.

Tapi semenjak Niel berada jauh darinya,Arjun mulai membuang Rasa Posesif itu. Rasa posesif itu hilang terganti dengan Rasa Jera setelah Arjun menerima Kemarahan Niel.

Beberapa Siswa mulai mengerumuni Niel dan Arjun dari jarak yang cukup jauh,menyaksikan pertengkaran ini,

“Apa yang sebenarnya kau ingin lakukan padaku ? Kau sudah membawa sial padaku,Apa kau benar - benar ingin menghancurkan Prestasiku di sekolah ini ? Katakan Apa maumu !”,

Arjun menggeleng sekali lagi dan beringsut dari hadapan Niel. Namun Niel berusaha untuk menahan Arjun. Niel menyadari Kehadiran kerumunan ini.

“Kau tak menjawabku ? Apa kau sudah bisu ? Katakan Apa mau ! Apa kau benar - benar ingin menjadi musuhku ?”,

Tiba - tiba telapak tangan Seseorang muncul di hadapan muka Niel. Marvin ! Marvin sedikit mendorong Niel,menjauh dari Arjun. Marvin berdiri di depan Arjun.
“Bagaimana bisa seorang yang telah kau hancurkan hatinya punya keinginan untuk memusuhimu ? 

Atau Justru kau yang ingin memusuhinya sementara Ia masih menyimpan keinginannya untuk berteman denganmu ?”, Tanya Marvin berusaha tenang untuk menghadapi Niel.

“Dia masih mengirim surat seperti ini padaku. Apa dia tak berpikir dia akan mempermalukanku ? Apa dia tak berpikir dia akan menghancurkan prestasi dan reputasiku di sekolah ini ?”,

“Memangnya seberapa besar dan bagus Prestasi dirimu hingga bisa membuatmu merasa memiliki sekolah ini ? “, Pertanyaan ini membuat Niel terkesiap”, 
Atau justru Kau yang merasa posesif atas semua yang kau miliki di sekolah ini ? 

Kau merasa takut kehilangan reputasimu di sekolah ini ? Setelah kau lulus dari sekolah ini tidak banyak orang yang akan mengingat dirimu.

Reputasi dan Prestasimu akan menjadi kenangan di sekolah ini,dan kau tak ingin akan tetap berada di masa ini dengan membuat dirimu merasa kenyang dengan rasa bangga dan gengsimu.

Setiap tahun terjadi regenerasi Anak - anak berprestasi, Akan ada sosok anak lain yang jauh berprestasi dan populer dari dirimu.

Kau bermaksud menggunakan Reputasimu yang telah dirusak sebagai alasan untuk menghukum seseorang ? 

Dia,bahkan, mungkin tak punya keinginan untuk menghabisi nyawamu di hadapan semua orang”, Marvin membuat Niel terperanjat dengan perkataannya,

“Sebenarnya ini bukan urusanmu,tapi kenapa kau berani mencampuri urusan dengan Anak pengecut itu ?”,

“Kau menyebut dia Pengecut,sementara Ia masih menyimpan rasa hormat padamu ? 

Kau tersinggung karena dia tidak memandangmu padahal kau telah melarangnya untuk memandangmu ?

Kau hendak mengejarnya padahal kau telah menyuruhnya enyah dari hadapanmu ?...”,

Niel langsung memotong perkataan Marvin dan menunjukkan surat dari Arjun.
 
“Tapi dia tetap mengirim surat padaku pagi ini ? Untuk apa Ia berulah sekali lagi “, Niel spontan melempar surat itu ke muka Arjun. Semua Anak terhenyak melihat tindakan Niel.

“Surat Apa ? surat ini ? Kau tak tahu bagaimana keadaan Arjun ! Sepanjang pagi ini dia tak bergerak ke mana pun,ke Toilet saja Arjun memintaku untuk menemaninya karena Arjun masih kesulitan berjalan.

Kau masih menuduhnya masih mengirim surat sementara Ia masih dalam Rasa Sakit ? Arjun memberanikan diri untuk kembali ke sekolah dengan langkahnya yang susah. 

Bagaimana bisa kau tega melakukan hal ini padanya ? sedikit pikirkan tentang keadaan Arjun, jangan terus menerus menampilkan kebencianmu padamu.

Kau berhak menghukumnya atas Ulahnya,tapi setidaknya untuk sekarang tunjukkan rasa belas kasihmu sedikit saja,Kau tega menunjukkan kemarahan pada dia yang sedang berusaha memulihkan dirinya ?

Jika kau berhasil menghukumnya di hadapan semua orang,Apa itu juga akan menjadi salah satu Prestasimu ? apa dengan begitu akan semakin meningkatkan Reputasimu ? “, Marvin langsung mengajak Arjun kembali ke kelas,

Arjun tergerak mengambil surat itu,kemudian mengantonginya. Niel tak bisa berkutik karena dicecar pertanyaan oleh Marvin. Arjun menatap Niel sejenak,begitu sebaliknya.

Niel melihat Mata Arjun yang basah. Sekali lagi,Niel mendapati Arjun mengatupkan kedua tangannya sebagai sikap memohon maaf sebelum meninggalkan dirinya.

Keributan kecil ini berakhir,Kerumunan ini pun bubar. Hanya tersisa Niel berdiri sejenak,tapi Pikirannya terngiang - ngiang cecaran pertanyaan Marvin. 

Pikirannya mengingat Ekspresi Wajah Arjun yang masih tampak trauma.Kata - kata Marvin telah berhasil mendobrak Egoisme dan Rasa emosi Niel,terasa Hati Kecil Niel mulai tergugah.

Marvin duduk dan menenangkan dirinya setelah melakukan Pembelaan terhadap Arjun. ia merasa tindakannya benar mengingat bagaimana keadaan Arjun. 

Marvin percaya tindakannya tidak akan sia - sia. Satu kotak bekal makanan muncul di hadapan Marvin. Bekal makanan lagi dari Arjun ! Marvin melihat Arjun,Arjun mengangguk.

Arjun mengeluarkan satu kotak lagi berisi nasi. Arjun duduk di sebelah Marvin.
“Wah ! Bakso ! Aku suka sekali,Arjun Apa ini buatan Ibumu ?”,
“Iya Marvin. Terima Kasih banyak. Kau sudah melindungiku barusan. Aku memang tak tergerak menjawab pertanyaan Niel karena Aku takut akan menjadi salah paham sekali lagi”,

“Niel dengan kemarahan dan egoismenya tidak akan bisa membuat pikirannya jernih. Dia bahkan tak memberimu celah dengan tak sedikit pun menunjukkan belas kasihannya padamu” Marvin meraih surat yang ada di dekat kotak bekal”, dan konyolnya ia berpikir kau masih mengirim surat. Coba kubaca sebentar”,

Sebelum membaca tentang Apa isi surat itu,Marvin menemukan keanehan pada surat ini. Marvin melihat tulisan yang ada di surat ini bukan tulisan Arjun. Marvin hafal bagaimana tulisan Arjun.

“Mungkin Daniel marah padamu karena tulisanmu tak serapi biasanya,Arjun”, Marvin berseloroh menunjukkan surat itu pada Arjun”, Apa kau sedang terburu - buru ?

Atau Kau sedang mencoba meniru gaya huruf orang lain ? Tulisanmu ini jelek sekali ! “,

“Ini bukan tulisanku,Marvin”, Arjun memeriksa surat ini”, dan lihat merk kertasnya berbeda. kau juga tak memakai merk buku ini,jika kau sampai berpikir aku akan mencuri selembar kertas dari bukumu “,

Marvin terkesiap “, Oh Atau jangan - jangan ?”,
“Ada Apa Marvin ?”,
“Sudah mulai ketemu titik terang ! Pertama,Tulisan di surat ini bukan tulisan tanganmu.

Yang kedua, tidak mungkin Kau mengirim surat ini hari ini, Aku selalu berada di dekatmu,tidak mungkin juga kemarin.

Yang ketiga,jelas ada orang lain di balik semua ini. telah terjadi sabotase Arjun,Aku yakin itu “,
“Kau mulai tahu siapa orang ini ?”,
“Akan ku katakan padamu setelah menghabiskan makan siang ini. Bagaimana ?”,
“Oh ya,Marvin. Ayo cepat ! Makanan Kita hampir tidak ena”,
“Sampaikan Ucapan kasihku untuk Ibumu,Arjun. Aku akan menghabiskan makanan ini”,
“Baik Marvin”,

Kedua Sahabat ini menghabiskan makan siangnya.Melihat Marvin yang lahap makan,membuat Arjun melupakan kesedihannya. Arjun merasa beruntung mempunyai teman seperti Marvin.

***
“...PENGORBANAN..”,

Kembali ke Sekolah dengan Cuaca Langit pagi yang sedikit cerah.Lingkaran Matahari menampakkan sinar terangnya di bawah gumpalan awan kelam yang memanjang dari utara ke selatan.

Angin pagi hangat bertiup,menerpa badan - badan Anak sekolah di Lapangan pagi ini. Kegiatan pagi ini hanya akan diisi dengan Upacara Bendera Peringatan Hari Nasional. Setelahnya Para Siswa akan kembali ke rumah untuk Istirahat.

Upacara berlangsung dengan khidmat dan Lancar. Di Tengah Momen mengheningkan Cipta,Marvin sedikit mengajak Arjun bercanda dengan mencubit pinggang Arjun.

Arjun bereaksi dengan menepuk tangan Marvin. Upacara selesai,Seluruh Siswa bubar meninggalkan Lapangan. Arjun berencana mengajak Marvin main ke rumahnya. 

Indra sudah siap menunggu Arjun dan Marvin di teras Pertokoan,yang berada di seberang Jalan. Sementara Niel berjalan bersama teman - temannya. 

Tak sengaja Pandangan Niel mengarah ke Arah Posisi Arjun dan Marvin berada. Niel melihat Bagaimana Interaksi Arjun dan Marvin yang tampak akrab.

Tiba - tiba Niel teringat Pertengkarannya dengan Marvin,kemudian disusul Ekspresi Wajah Arjun yang sedih. Pikiran kembali memutar kenangan dirinya bersama Arjun.

Pelampiasan Kemarahannya pada Arjun. Ekspresi tak bersalah Arjun yang Ia lihat saat Insiden Medalinya yang terbuang.

Momen Niel saat pertama kali memakai Jaket Pemberian Arjun, Jaket yang masih Ia pakai hingga saat ini. Dan terakhir,Momen Pertemuan Pertama Arjun dan Niel di saat Pendaftaran Sekolah.

Tiba - tiba Perkataan Marvin hadir membisiki telinganya,
“...Atau justru Kau yang merasa posesif atas semua yang kau miliki di sekolah ini ? …”,

“....Kau masih menuduhnya masih mengirim surat sementara Ia masih dalam Rasa Sakit ?
Arjun memberanikan diri untuk kembali ke sekolah dengan langkahnya yang susah….”,

“....Jika kau berhasil menghukumnya di hadapan semua orang,Apa itu juga akan menjadi salah satu Prestasimu ? apa dengan begitu akan semakin meningkatkan Reputasimu ?...”,

Ingatannya memutar kalimat - kalimat Pembelaan Marvin di depan Arjun.Niel Meresapi Kalimat - kalimat yang seolah - olah menghakimi dirinya. Hati Kecil Niel mulai tergugah oleh Perkataan Marvin.

“Marvin,Apa yang kau lakukan tadi ? Kau tidak boleh seperti itu saat mengheningkan cipta”,
“Kukira kau tertidur,Arjun. Kau tampak seperti Orang terlelap tidur dalam Posisi berdiri “,
“Seharusnya Aku membuat diriku tertidur tadi agar kau bisa menjaga badanku yang terlelap ?”,
“Ah ! Aku butuh Minum. Arjun, Apa kau juga mau minum ? Aku traktir !”,
“Untuk Pertama kalinya ! Aku mau ,Marvin. Apa uang sakumu lebih ?”,
“Jika Uangku kurang,kau yang akan menambahnya ! “, Marvin menyenggol badan Arjun,kemudian berlari ke Kedai Penjual Minuman.
“Ah Marvin ! Aku tunggu di seberang jalan bersama kakakku”,

Marvin melambaikan tangan ke Arjun. Arjun berhenti di pinggir jalan. Ia memastikan jalan sepi dari kendaraan. Tak sengaja pandangan Arjun mengarah ke gerombolan Niel dan teman - teman.

Niel dan teman - temannya tengah asyik bercanda di pinggir jalan. Mereka tak menghentikan candaan mereka saat menyebrang jalan.

Tiba - tiba muncul satu Mobil sedan warna hitam dari Arah belokan jalan yang berada tak jauh dari Posisi Niel dan teman - teman berada. Arjun menyadari Kehadiran Mobil yang melaju cukup kencang ini,sementara Niel tampak lengah dan mengabaikan keadaan ini.

Arjun segera berlari menuju Niel dan teman - teman untuk memperingatkan Mereka. Sopir Mobil yang terkejut akan keberadaan Niel dan teman - teman,sayangnya malah salah menginjak Pedal gas semakin keras,Justru yang seharusnya Menginjak Rem.

Arjun melihat laju kendaraan ini malah semakin kencang lewat insting refleksnya. Tidak ada waktu lagi untuk memperingatkan Niel. Arjun mencapai posisi Niel dan teman - teman,kemudian Ia sekuat tenaga mendorong Mereka,tiga orang.

“LARILAH NIEL ! CEPAT !”,Teriakan Arjun terdengar di sepanjang jalan pinggir jalan. Teriakan ini mengejutkan Indra. 

Indra terperanjat mendapati aksi Adiknya”ARJUUUN !!”, karena rem yang tak terlalu cakram membuat Mobil sedan ini menabrak Arjun. Badan Arjun terbaik naik ke atas Kap Mobil.

Di saat Mobil bisa berhenti,tubuh Arjun terpental jauh ke arah depan. Indra langsung berlari ke arah Arjun terbawa mobil ini.

Terhempas Ke permukaan Aspal dengan cukup keras membuat Arjun terkapar tak berdaya. Niel melihat kejadian tragis ini. Niel tampak syok mendapati Aksi Arjun yang telah menyelamatkan dirinya.

Marvin yang terkejut melihat insiden ini langsung membuang minuman yang Ia beli. Ia spontan berlari ke arah badan Arjun yang terkapar.

Indra meraih badan Arjun,kemudian membopongnya ke pinggir lapangan. Indra tampak syok,tak percaya Arjun akan melakukan Aksi nekat ini.

“Arjun,Arjun,bertahanlah ! Bertahanlah !”, Indra langsung memangku badan Arjun. Beberapa Siswa mendatangi Kakak beradik ini.
“Ka…kak”, Tangan Arjun bergetar membelai Pipi Indra’, Apa Niel se..la..mat ?”, Arjun pun langsung pingsan. Indra memecah tangis mendekap kepala Adiknya. Ia merasa sangat terpukul dengan kejadian ini.

Niel memberontak dari teman - temannya yang menahan badannya. Niel berhasil lepas. Niel langsung berlari mendekati Arjun.

Dari kejauhan Niel bisa melihat kondisi wajah Arjun,Pelipis Kanan Arjun terluka mengucurkan darah segar.
“... Kumohon maafkan Aku,Niel…Aku hanya ingin kita baikan kembali…”,

Niel sempat terhenti di beberapa langkah ,di dekat kerumunan siswa ini.

“...Kumohon jangan buang jaket itu..”,Kata - kata ini membuat Niel melihat dirinya yang masih mengenakan Jaket pemberian Arjun.

“...Aku perlu minta maaf kali ini,Niel. Aku telah melakukan kesalahan padamu…”,Spontan Mata Niel basah bersama Rasa menyesal hadir di dalam hatinya. Niel kembali berlari ke Arah Arjun.

Sopir Mobil sedan ini mengajak Indra untuk membawa Arjun ke Rumah Sakit. Namun karena Rasa sedih dan syok yang mendalam dirasakan oleh Indra ,membuatnya kehilangan tenaga untuk mengangkat badan Arjun.Indra tak kuasa mengangjat badan Adiknya.

Di Saat Marvin berinisiatif mengangkat badan Arjun, Niel hadir menembus kerumunan Anak - anak ini. Niel pun langsung mengangkat badan Arjun bersama Marvin. indra berdiri kemudian menyusul mereka ke dalam Mobil.

Marvin mengabaikan keberadaan Niel. Sopir Mobil itu langsung membawa Arjun ke Rumah Sakit dengan memutar balik Mobil. Marvin dan Niel memangku badan Arjun di kabin belakang. Niel tergerak membersihkan kucuran darah di pelipis Arjun dengan tangannya.

Marvin meminta sopir sedan itu mengantarnya kembali ke sekolah. Ia ingin mengambil motor Indra. Sementara niel menunggu di teras Rumah Sakit,Arjun telah masuk ruangan IGD.

Niel tertegun di samping salah satu tiang teras Rumah Sakit. Pandangannya kosong namun Pikirannya terus memutar Rangkaian kejadian tragis barusan. 

Niel tak percaya Arjun secara mengejutkan hadir untuk menyelematkan dirinya dan teman - temanya.

Satu kalimat Arjun yang muncul membisiki telinganya,

...Jika kita nanti bisa satu kelas,Aku akan merasa lebih senang. Tapi,Jika kita berlainan kelas,Aku hanya ingin kau selalu mengingatku…”,

Niel mendatangi Indra yang sedang menunggu Arjun di ruang IGD. Indra masih berusaha menenangkan dirinya. 

Sesekali Ia berusaha menahan tangisnya teringat Perjalanan Kisah Kehidupan Adiknya di sekolah.

Niel berdiri di Ujung Kursi tunggu ini. Menyadari Kehadiran Niel,Indra menyambutnya. Indra berdiri dan berusaha membesarkan hatinya menghadapi Niel.

Perlahan tangan Indra membelai kepala Niel. Niel merasa gugup.
“Terima Kasih. Terima Kasih telah memberi Banyak pelajaran pada Adikku”,

Perkataan ini memiliki Banyak Arti pada Niel. Entah itu Pujian,Ancaman atau Sindiran baginya.


***

Sincerely,

Salaam - E - Dostana

Fajar Adi



Komentar

Postingan Populer