Najm-E-Akhri





Langit malam ini tampak indah dihiasi bintang - bintang di setiap penjuru dan di setiap ke mana arah mata memandang.Tak sebersit awan tampak di sana.

Pemandangan Langit yang sangat menakjubkan dengan kerlipan bintang - bintang.Dan,Ia merasa senang melihat pemandangan langit saat ini,ia takjub akan betapa luar biasanya ciptaan Tuhannya ini.Sungguh,Lukisan yang jelas menampakkan kesempurnaan ciptaan Tuhan yang Agung.

Lalu,ia melihat sebuah cahaya yang melintas cepat dari arah barat ke timur,sebuah bintang jatuh,Ia menyaksikan benar - benar cahaya ini.Ia lalu memejamkan mata.Ia masih berdiri di depan jendela kamarnya.Malam dengan hawa yang tidak begitu dingin.Sesekali angin halus masuk menerpa wajahnya dan menerpa tirai jendelanya.

Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh  lewat dua puluh menit.Ia belum mau beranjak tidur.Ia masih ingin menikmati pemandangan langit malam ini.Seseorang masuk ke kamarnya.

"Kakak...kenapa belum tidur ?ini sudah larut malam, apa kamu tidak merasa capek setelah bekerja hari ini....",Mamanya mendekat dan membelai rambutnya",pasti kau mendapat pasien yang sangat banyak hari ini ?...",

"Belum Maa...yah,hari ini cukup melelahkan,namun dengan melihat pemandangan bintang - bintang malam ini sudah membuat capekku hilang...",

"Emmmhhh...kau  masih suka melakukan kebiasaan  sejak kecilmu itu,suka melihat bintang sampai lama sekali.Mama pikir kau ingin bercita - cita menjadi astronot tapi ternyata kau malah menjadi seorang dokter...tak masalah menjadi apapun dirimu,Anakku.mama selalu bangga pada dirimu...",

"Iya Maa...aku akan menjadi kebanggaan mama dan keluarga ini...",

"Ini yang akhirnya mama harapkan darimu anakku,kata - kata ini membuat mama merasa memiliki sesuatu yang nilainya melebihi perhiasan yang paling mahal sekalipun...",Mamanya membelai Pipinya.

***

Pagi ini ia mendapat tugas untuk menangani seorang pasien yang sedang kritis.Ia tampak sibuk di ruangan gawat darurat.Bersama dokter lain,ia menangani satu pasien wanita muda ini.Dua jam berjalan,akhirnya ia bisa menyelesaikan tugasnya hari ini.ia beristirahat di kantor sejenak.Ia sudah memesan makan siang untuk dirinya dan teman - teman perawatnya.

Lalu seorang perawat hadir ke ruangannya,ia membawa laporan dari diagnosa penyakit wanita muda yang barusan ia tangani ini.Ia membaca laporan ini.Pasiennya terkena gagal ginjal.Entah apa yang terjadinya hari ini,Ia merasa kasihan pada wanita muda tadi.Tak biasanya ia menaruh rasa kasihan pada pasiennya seperti ini.Ia merasakan satu perasaan yang lain,melebihi dari rasa kasihan.

Ia menyerahkan laporan itu.Perawat itu kembali ke tempatnya.Ia duduk termenung.Ia membayangkan wajah lemah pasiennya tadi.rasa yang tak biasa hadir di dalam hatinya.entah mengapa ia seperti melihat bulan ketika melihat wajah putih dan bersih  pasiennya barusan,dia seorang muslimah dan mengenakan jilbab sewaktu tak sadarkan diri tadi.
***
Hari ini ia pulang kerja jam setengah delapan malam.Di perjalanan pulang,ia singgah di sebuah kafe.Ia memesan beberapa kue dan minuman di situ.Dan beruntung sekali,temannya yang melayaninya sendiri kali ini,si pemilik kafe.Ia bercerita banyak hal tentang hari ini pada si pemilik kafe ini.

"...beberapa pasienku hari ini mengalami sakit Demam berdarah,cuaca yang ekstrim akhir - akhir ini membuat orang gampang terserang demam berdarah.Kakak harus hati - hati ya,,jangan sampai Narendra juga terserang demam berdarah....",

"Baiklah Pak Dokter...bagaimana dengan papanya,pak dokter ?aku harus memperingatkannya soal ini....semalem dia demam,untuk setelah aku kompres dahinya,demamnya bisa turun...",

"Beruntunglah Kak Indira,Kak Indra bisa  sampai turun demamnya,jangan lupa suruh dia minum vitamin ya...",

"Iya Pak Aditya...aku selalu merasa tenang jika kamu selalu memberi nasihat seperti ini padaku saat kamu singgah ke sini,jadi aku tahu dan update masalah kesehatan...oh,pesananmu belum juga datang?kenapa Arjun lama sekali ?",

"Santai saja Kak,,aku masih agak kenyang kok...",

Seseorang datang mengantar pesanan miliknya.Ia menyajikan makanan dan minuman pesanan Aditya.

"Arjun,kenapa kamu lama sekali membuatkan pesanan pak dokter ?apa yang kamu lakukan ?",

"Kakak,Narendra sempat terbangun tadi,dia menangis,jadi aku harus menenangkannya dulu,aku tidak mau mengganggu kakak yang sedang melayani tamu kakak ini.dan Ibu akhirnya datang,jadi aku serahkan Rendra ke Ibu...anak - anak sudah istirahat kak...",

"Oh...begitu,lalu mana kakakmu ?",

"Kakak sedang berdandan di kamarnya...",
Indira melihat jamnya",Astaga,dua jam lalu ia bilang padaku mau mandi,tapi sekarang dia masih dandan ?",gumam Indira pelan",perasaan hari ini ia tidak mendapat undangan ke sebuah acara,",

"padahal aku sudah menyuruh kakak untuk cepat - cepat...",

"dan bilang lagi pada Kakakmu kalau ada tamu yang ingin bertemu dengannya,jika kau memberitahukan siapa tamunya kali ini pasti ia akan dandan dalam waktu setengah menit...",

"baiklah kakak...",

Arjun melihat Aditya,ia menyapa Aditya dengan ramah.Aditya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

***

Waktunya menunaikan Sholat 'Asar,ketika di perjalanan menuju sebuah rumah sakit lain untuk urusan tugas,Aditya singgah di sebuah Masjid.Ia segera masuk ke halaman masjid ini,Masjid Raya di kota ini,ia segera mengambil air wudlu kemudian melaksanakan sholat 'Asar.

Ketenangan ia rasakan setelah selesai memanjatkan doa,ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya seraya berkata Amin.


Ia keluar masjid untuk melanjutkan perjalanan.Namun,ia.bertemu pasiennya yang waktu itu,wanita muda yang divonis gagal ginjal.Ia melihat wanita itu dari kejauhan.hati kecilnya terasa menggerakkan dirinya untuk mendekati wanita itu.Ia kembali seperti melihat bulan pada wajah wanita itu.

Aditya mendekati wanita itu,Wanita memakai kerudung jingga dengan pakaian putih,ia hendak menunaikam sholat 'Asar juga.bersama kedua teman wanitanya.

"Assalamu'alaikum...",sapa Aditya

"wa'alaikumusalam...",Wanita itu melihat Aditya.wanita itu tak lupa tersenyum pada Aditya.

"Maaf,boleh saya bertanya pada Anda ?",pinta Aditya dengan halus pada wanita itu

"O ya,silahkan...",

"Kalau tidak salah?anda yang beberapa bulan lalu masuk ke rumah sakit di mana saya bekerja,dan maaf anda mendapat vonis gagal ginjal,bukan ?",

"Iya,,anda benar...",

"Oh syukurlah,jadi anda yang saya tangani dulu,Bagaimana keadaan anda sekarang ?apa sudah membaik ?",

"Sebelumnya saya mohon maaf juga ya,pak dokter...setelah mendapat vonis ini,saya merasa agak sedih dan putus asa,namun mau bagaimana lagi ?Dokter lain menyarankan saya untuk mencari donor ginjal buat saya,tapi saya belum juga mendapat seorang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk saya.untuk saat ini,saya hanya rutin mencuci darah seminggu sekali...meski kondisi badan saya tidak sebugar dulu,tapi saya tetap menjaga kesehatan saya dan menjaga makanan saya,dok...",

"Dan jangan sampai terlalu lelah ya...melakukan aktifitas yang berlebihan akan cepat membuat badan anda drop...",

"Iya pak dokter...saya bersama teman - teman mau sholat 'Asar dulu,dan terima kasih banyak sudah memberi penanganan pada saya dulu,,",kata Wanita itu dengan senyum ramahnya.

"Ya ya silahkan...",

"Assalamu'alaikum...mari pak dokter",

"Wa'alaikumusalam...",

Ia kembali ke mobilnya.sementara wanita muda tadi melaksanakan sholat 'Asar.dan ia mendapat sebuah tambahan dari apa yang ia lihat barusan.Wajah putih bersinar seperti bulan dan dua mata jeli bersinar seperti bintang,sikap lembut dan ramah.

Sebuah kesan yang membuatnya sulit untuk melupakan sosok pasiennya itu.Dan,rasa itu seperti bergetar lebih kuat dari sebelumnya setelah mendapat tatapan dari kedua mata yang jeli tadi.

***

Siang ini Aditya diajak oleh Ayahnya untuk menghadiri acara pernikahan anak teman Ayahnya.Keluarganya kenal baik dengan pemilik acara ini.Aditya dan Pak Lukman disambut dengan ramah oleh seluruh anggota keluarga ini.Acara diselenggarakan di sebuah gedung.

Banyak tamu undangan yang datang.Dan,dekorasi pengantin yang mewah dan megah,dengan nuansa hijau,emas,dan ungu.

Aditya dan Pak Lukman memberikan selamat untuk kedua mempelai.Mereka juga diajak foto bersama mempelai.Lalu,Mereka bercengkrama dengan orang tua dan kerabat pengantin.Mereka menikmati jamuan yang disiapkan.

Di saat Aditya hendak mengambilkan minum untuk Ayahnya,Ia kembali bertemu dengan wanita muda yang kemarin di masjid.
"Oh....selamat siang,Assalamu'alaikum...kita bertemu lagi,",sapa Aditya
"Wa'alaikumsalam,Pak dokter ya ?",jawab Wanita itu dengan senyum dan tatapan mata yang teduh
"Iya benar...apa anda juga tamu di acara ini ?",
"benar pak dokter,saya tidak hanya tamu di acara ini.pak ridwan menggunakan jasa katering ibu saya untuk acaranya,jadi saya ikut membantu ibu saya menyiapkan hidangan untuk acara ini...",
"Wah...hidangan ini yang paling enak dari hidangan acara - acara hajatan yang pernah aku rasakan ",
"Syukur Alhamdulillah,,banyak yang memuji hidangan ibu,jadi ini tandanya banyak yang menikmati hidangan ibu...terima kasih pak dokter,pasti anda menikmati sekali ?",tatapan mata dan muka bahagia nun cerah itu seperti memberi hawa sejuk dalam hati Aditya.
"O ya ,ngomong - ngomong,maaf jangan panggil saya pak dokter,Nama saya Aditya...mungkin kita bisa menjadi teman selanjutnya...panggil saya Adit saja biar lebih akrab...",
"tapi,saya agak sungkan jika anda menyampaikan hal ini pada saya...saya malu...",
"tidak apa - apa...bagaimana ?",Aditya mengangkat alis dan tersenyum penuh harap.
Wanita itu diam sejenak,dan melirik ke arah lain",Baiklah,semoga kita menjadi teman yang baik,nama saya Andhita,Aditya...",dia,Andhita namanya,mengatupkan kedua tangannya ke arah Aditya.Adit membalas apa yang Andhita lakukan padanya.
"Adit,kamu ke sini dengan siapa ?",
"aku diajak Papaku...itu dia,lihat...",Aditya menunjukkan Ayahnya yang sedang bercengkrama dengan pak ridwan",oh,astaga aku lupa,kalau aku mau mengambilkan minum untuk papa...",
"Oh..minum?maafkan aku Dit,aku sampai membuatmu lupa,perkenalan kita sampai membuatmu lupa...minum,ayo aku ambilkan minumnya,berapa gelas ?mari aku antar kamu ke ibuku,dia sedang meracik es buah yang selanjutnya,khusus untukmu aku akan memintakan duluan...mari...",
"Terima kasih Andhita...mari...",

Andhita mengajak Aditya menemui ibunya di ruang dapur untuk memintakan minum.Mereka juga masih mengobrol.Mereka saling mengakrabkan diri.
***
Berawal dari perkenalan itu,Hubungan itu berjalan dengan baik.Aditya semakin akrab dengan Andhita.Sebagai seorang dokter muda,umur Aditya masih dua puluhan tahun,Aditya juga sangat memperhatikan perkembangan kesehatan Andhit.

Vonis gagal ginjal tak membuat Andhita menyerah,semenjak perkenalan dan keakraban yang mulai terjalin di antara Mereka,Andhita seolah - olah lupa akan penyakit yang ia derita.

Keberadaan dan Perhatian Aditya juga banyak membantu dalam perbaikan kesehatan Andhita.Aditya selalu membimbing Andhita.Aditya selalu menasihati Andhita tentang segala sesuatu hal yang berhubungan dengan penyakit Gagal Ginjal.Memang jalan satu - satunya adalah mencari donor ginjal.

Dalam hatinya,Aditya juga merasa khawatir jikalau Andhita tak kunjung mendapatkan donor.Ia terus bertanya - tanya tentang apa faktor utama yang menyebabkan Andhita tak cepat mendapatkan donor ginjal ?,dan pertanyaannya itu akhirnya terjawab saat Aditya mengunjungi rumah Andhita.

Di rumah Andhita,Ia melihat Bibi dan 
sepupu Andhita tinggal bersamanya .Kali ini mereka sedang memasak untuk menyiapkan sebuah pesanan.Bibi Andhita,Sakina menyambut kedatangan Aditya.Bibi sakina mengajak Aditya menemui Andhita ke dapur.


Tetesan keringat yang mengalir di wajah itu memberi kesan lain pada hati Aditya.Kesibukan yang sedang ia lihat itu memberikan kesan tersendiri pada Aditya tentang seorang Andhita.Seperti tetes demi tetes air yang muncul dari mata air,Wajah Andhita yang demikian tetap membuat Aditya terpesona dan kagum.

Tangan yang begitu cekatan dan luwes,Aditya mengamati betul - betul apa yang tengah dikerjakan Andhita saat ini.Andhita ikut membantu pekerjaan ibunya.Aditya tersenyum kagum tak bisa berkata apa - apa.

"Kakak,ini ada seorang tamu yang ingin bertemu Andhita...namanya Aditya...",Bibi Sakina mendekati Ibu Andhita.
Ibu Andhita melihat kehadiran Aditya.
"Assalamu'alaikum,ibu...",sapa Aditya pada Bu Sa'diyah,Ibu Andhita.
"Wa'alaikumsalam,Nak...maafkan kami,Aditya.Kami sedang sibuk menyiapkan pesanan dari mesjid untuk acara pengajian nanti",Senyum Bu Sa'diyah inilah asal dari keindahan senyuman Andhita,senyuman yang sama indah",o ya,silahkan Nak...ada apa kamu mampir kemari ?Andhita ?",
Aditya membuang muka dan tersipu malu",tidak ada apa - apa ibu,,apa perlu saya bantu ?...",tanya Aditya menggulung lengan jaketnya..
"Oh tidak usah,Nak...terima kasih...terima kasih,,Adikku sakina akan menyelesaikannya dengan cepat...tidak usah repot - repot.O ya,Andhita ?",Bu Sa'diyah melirik ke arah Andhita",dia sedang memasak pastel,ibu menyerahkan menu ini untuknya karena semua orang sudah mengharapkan pastel buatan Dhita,,mari Aditya...",

Aditya dan Bu Sa'diyah mendekati Andhita.Aditya tak sengaja bertanya tentang Ayah Andhita,Pak Mustafa.Bu Sa'diyah berubah sedikit sedih saat menjelaskan tentang meninggalnya Pak Mustafa lima tahun yang lalu karena penyakit Paru - paru basah yang parah.

Tahu Kehadiran Aditya,Andhita tampak sungkan dan malu.Ia sudah menyelesaikan apa yang ia masak.
"Aditya,masha Allah...maafkan aku,,aku masih repot seperti ini...bajuku masih kotor",Andhita berusaha membersihkan pakaiannya dan melepas celemek yang ia kenakan.
"Tidak apa - apa,Andhita.aku juga baru pulang kerja,badanku juga masih bau.kita sama kan ?",

Andhita tersenyum sambil membereskan peralatan memasak.Bibi sakina langsung mengambil satu loyang berisi pastel masakan Andhita.
"Aditya ingin mencicipi pastel buatanmu Anakku,,ku harap rasanya sama seperti biasa kau buat...",
"Ah !!ibu...apa ibu meragukan diriku ?ibu selalu bilang pastel ini yang selalu menjadi favorit semua orang...",
Bu Sa'diyah tertawa membelai dagu Andhita",lalu bagaimana dengan Aditya ?",
"Tunggu sebentar...",Andhita langsung mengambil beberapa buah pastel di atas piring.Tak lupa ia menyiapkan saus cairnya di mangkok kecil dan beberapa cabai di sebelah mangkok.

Andhita menyajikan Pastel buatannya kepada Aditya",Ibu,,aku sudah memberikan takaran potongan daging ayam pas untuk campuram isinya.Ku harap tidak kebanyakan...O ya,silahkan pak dokter...selamat menikmati,Bismillah ya...",

Aditya memakan satu pastel.Kulit luar yang renyah dan gurih,di susul rasa isi campuran sayur dan potongan dengan bumbu yang membuat Aditya sangat menikmati hasil karya tangan yang cekatan dan luwes tadi.Aditya sangat menikmatinya.Bu Sa'diyah senang melihat ekspresi wajah Aditya.Andhita juga merasa bahagia,ia yakin Aditya akan berkata pastelnya enak.
"Bagaimama Nak Adit ?kurang apa rasanya?",Tanya Bu Sa'diyah memberikan segelas air putih untuk Aditya.
"Kenapa aku baru bisa mencicipi snack yang paling enak ini?bahkan dengan Pastel yang dijual di gerai dekat Mall itu,lebih enak ini,aku jadi lebih menyukai yang ini.Andhita,andai aku boleh membawanya pulang untuk Mama dan Papa di rumah ?",
"Oh tentu,tentu Dit.aku akan menambahnya untuk Ibu dan bapak...",Andhita membungkus Pastel yang di piring dan menambahnya beberapa biji.
"Tapi,jangan banyak - banyak,Andhita.ini kan pesanan ?aku takut nanti malah mengurangi jumlahnya...",
"Tenang Dhit,aku selalu membuat lebih dari jumlah yang dipesankan kok...",Andhita menyerahkan bungkusan Pastel ini kepada Aditya",Ini,Ibu dan bapak pasti suka dengan pastel ini,kuharap ?",Senyum dan tatapan mata yang jeli itu membuat Aditya bisa larut dalam rasa kagum yang tiada hentinya.
"Iya....",Aditya menerima Pemberian Andhtita",Terima Kasih ya...",

Setelah beberapa saat melepas lelah di rumah Adhita,mengobrol sejenak bersama Andhita dan ibunya,Aditya pamit pulang.Andhita mengantar Aditya sampai di depan Mobil milik Aditya.Dan Aditya berpesan pada Andhita untuk langsung beristirahat.Andhita selalu menuruti nasihat Aditya.Aditya pun beranjak pulang.
***
Malam ini,tampak Sajadah itu masih tergelar dan di atasnya masih ada Kitab Al Qur'an yang berada di atas meja kecil.Sementara Aditya kembali melihat langit,dan taburan bintang - bintang itu menjadi pemandangan wajib sebelum Aditya beranjak tidur.Masih mengenakan sarungnya,Aditya menikmati kerlipan bintang - bintang itu.

Dan,tampak dua bintang yang sejajar,keduanya saling berlomba - lomba untuk membuat cahaya yang berbinar - binar,Aditya melihat peristiwa ini.Tapi,kenapa dalam pandangan Aditya,ia seperti melihat kedua mata Andhita,bayangan Wajah Andhita terbentuk dalam pandangannya itu.

Beberapa rangkaian bintang di bawah kedua bintang berbinar itu seolah - olah membentuk senyuman,dan jelaslah terbentuk Wajah Andhita yang tersenyum.
Aditya terpana akan peristiwa ini.Ia tersenyum menyangga dagunya.Lama sekali ia melihat rangkaian bintang ini.Ia berharap bisa menyentuh rangkaian bintang yang membentuk wajah cantik ini.Namun tidak bisa,Ia sadar dari Khayalannya.

Aditya membereskan Sajadah dan kitabnya,lalu beranjak tidur.Jendela ia tutup tapi ia membuka tirainya.Dalam pembaringannya,Aditya masih melihat rangkaian bintang tadi. perlahan matanya sayu dan tertidur.Ia merasa ketenangan yang spesial di malam ini.ketenangan datang dari khayalan wajah Andhita.Dan,perasaan itu mulai tumbuh dalam hati Aditya.

Saat sarapan,Bu Rahma,Mama Aditya bertanya pada Aditya soal pastel yang dibawakan oleh Adit.
"...menurut mama,enak juga,rasa dan gurihnya pas.Siapa yang membuatnya Aditya ?temanmu ?temanmu yang mana ?",tanya Bu Rahma duduk di samping Aditya.
"namanya Andhita Ma.Kami bertemu saat acaranya om Ridwan kemarin,dia juga pernah jadi pasienku Ma,Ia kena gagal ginjal.Kasihan sekali...",jelas Aditya bersemangat.
Bu Rahma merasakan sesuatu yang dirasakan anaknya ini"Kau pasti sudah menyimpan fotonya di Hpmu bukan ?",
"Emmh iya Ma,iya...",Aditya mengambil hpnya dan memperlihatkan wajah Andhita.
"Cantik sekali,dan Mama yakin dia muslimah yang baik,dia pasti orang yang konsisten dalam memakai jilbab...",
"Bahkan ia membuat pastel ini pun mengenakan jilbab Ma,sampai jilbabnya kotor dan belepotan...",Aditya tersenyum dan tampak menyembunyikan sesuatu.
"Jadi kau sudah ke rumahnya Nak ?",
"Iya..dua kali,Ma.Ibunya juga sangat ramah,ibunya seorang pengusaha katering.namun sayangnya,Ayahnya sudah meninggal...",
"Kau sudah tahu banyak hal tentang dia rupanya ?",
Aditya kembali tersenyum dan menghabiskan sarapannya.
***
Di rumah sakit tempat Aditya bekerja,tampak seorang wanita berjalan terseok - seok menuju sebuah tempat.Ia merasakan tubuhnya sudah lemas,namun ia berusaha sekuat tenaga masuk ke rumah sakit.Tidak ada perawat yang berjalan di sepanjang lobi ini.

Jilbabnya mulai membasah karena keringat yang terus keluar dari wajahnya.Badannya kian melemah.ia mulai tidak kuat untuk melanjutkan jalannya.pandangannya mulai kabur.Ia masih harus menemui dokter.
Ia akhirnya jatuh pingsan,dan Seseorang dengan sigap menerima tubuh lemahnya yang jatuh itu.

"Andhita !!!",Aditya terkejut melihat Andhita yang jatuh pingsan.Ia langsung memanggil perawat.Lalu,seorang perawat datang membantu Aditya.Dua orang perawat lain kemudian datang membawa tandu untuk membawa Andhita.Mereka membawa Andhita ke ruang UGD.Aditya menelpon Bu Sa'diyah tentang kejadian ini.

Bu Sa'diyah tampak panik dan hendak menyusul ke rumah sakit.Ia memberitahu bahwa hari ini adalah jadwal Andhita untuk cuci darah.Mungkin Andhita lupa mengingatkan ibunya karena Andhita baru saja mengikuti sebuah pengajian di salah satu Masjid.Bu Sa'diyah bergegas menyusul Ke rumah sakit.
***
Suatu malam,Andhita membuka kitab suci Al qur'an untuk membaca surat yaasin,Ia teringat pada Almarhum ayahnya.Suaranya terdengar tartil,lembut dan menenangkan hati siapa saja yang mendengarkannnya.Ia membacakan surat ini bermaksud mengirimkan doa untuk ayahnya,agar diberi ketenangan di alam kubur dan bisa mendapat tempat di sisi Allah yang mulia.

"...Awa laisal-lażi khalaqas-samaawaati wal-arda biqaadirin 'alaa ay yakhluqa mitslahum,balaa huwal-khallaaqul 'alim(Q.S.36: 81).",Andhita menarik nafas sejenak.
"...innamaa amruhuu iżaa araada syai'a,ay yaquula lahu kun fa yakuun(Q.S.36: 82",bibir Andhita bergetar seraya hatinya bergetar.ia menutup mata sejenak,dua bulir air mata menetes dari matanya.
"...fa subhaanal-lażi biyadihii malakuutu kulli syai'iw wa ilaihi turja'un(Q.S.36:83)....Sadaqallahul 'adzim...",Ia menutup Kitabnya,kemudian memanjatkan do'a kepada Allah untuk dirinya,keluarga dan orang tuanya.

Bu Sa'diyah muncul dari dapur.Ia membawa nampan yang di atasnya ada dua teh hangat yang ia buat untuk Andhita dan dirinya.Ia menaruh nampan di atas meja,sementara Andhita menghapus bekas air matanya.Bu Sa'diyah duduk di samping putrinya itu.
"Ibu merasa ketenangan setiap mendengar kau membaca ayat - ayat dari surat Yaasin,anakku.begitu juga malam ini.Maafkan ibu Anakku,ibu harap bisa punya kesempatan membaca surat ini bersamamu.Kuharap kita juga bisa membaca surat Maryam dan Al kahfi bersama...",Bu Sa'diyah mengusap kitab Al qur'an yang ada di genggaman Andhita itu.
"iya ibu...tapi ibu sudah mendahului aku kan setelah sholat maghrib tadi ?",
"Oh kau tahu rupanya...apa kau pulang saat ibu selesai sholat maghrib tadi ?"
"Iya bu...ini untuk Ayah",Andhita menatap wajah ibunya dengan mata berkaca - kaca.
"Kau rindu Ayahmu Nak ?",
"Selalu Bu,tapi rasa rindu ini selalu mendorongku untuk membaca surat yaasin.sampai aku bisa membaca ayat - ayatnya,di situ lah aku merasa kerinduanku bisa terobati,Innallaha 'alimum-biżatis suduur,Sungguh Allah yang mengetahui segala isi hati Hamba-Nya.bukan begitu Bu ?",
"Iya anakku,Innallaha sami'ud-du'a,sungguh Allah Maha mendengar doa - doa hamba-Nya...Anak sholehah ibu ini pasti mendoakan ayah dan ibunya,aku bangga padamu ",Bu Sa'diyah membelai pipi Andhita
"dan sungguh dari rahim ibulah, aku mendapat kasih sayang luar biasa dan sangat banyak.dan belaian hangat ayah yang tidak akan pernah aku lupakan...",
"dan belaian tangan ayahmulah yang membuat ibu jatuh hati padanya...",
Andhita tampak termenung memikirkan sesuatu.
"Andhita,ada apa ?kenapa kau langsung diam ?",
"Ibu...semalam ayah datang ke mimpiku.Beliau hendak mengajakku ke suatu tempat,namun...",
"Apa ?!jangan lanjutkan,Andhita...",Bu Sa'diyah memotong pembicaraan Andhita,ia tampak cemas.
"Kenapa ibu tampak cemas seperti ini ?",
"Ibu harap ini bukan pertanda buruk untukmu dan ibu Nak...ibu sungguh menyayangimu.kehilangan Ayahmu saja ibu masih merasa belum ikhlas apalagi..",
"Aku tahu Maksud ibu.Dan aku belum selesai bercerita,Tolong dengarkan ceritaku selengkapnya,ibu...",
"Baiklah Nak...",
"Namun,dari belakang,seseorang seperti menarik tangan kananku dengan kencang.Aku tengok siapa dia,seorang laki - laki tapi sayangnya mukanya tidak jelas ku lihat.Aku melihat Ayah pergi meninggalkanku tanpa menarikku lagi.dan sosok laki - laki itu,perlahan menarikku ke arahnya.Aku masih ingin ikut ayah,namun tangan laki - laki yang menarikku itu tak bisa kuelakkan dan kulepaskan.aku tak tergerak meronta - ronta,bu.Aku hanya pasrah mengikuti tarikan tangan laki - laki itu...tapi aku masih penasaran siapa dia bu?",

Perasaan lega dirasakan oleh Bu Sa'diyah,ia memeluk putrinya.Mengusap kepala Andhita,ia merasa terharu mendengat cerita mimpi Andhita.Ia berbisik pada Andhita",Anakku,rasa cinta dan sayangku padamu yang melebihi berharga nyawa ibu sendiri membuat dirimu enggan lepas dari ibu.Ibu menyayangimu,sangat menyayangimu,dan Anak laki - laki yang kelak akan menjadi pasanganmu,baik cepat atau lambat,ibu akan menantinya untukmu.,Subhanal-lażii khalaqal-azwaaja kullaha mimma tumbitul-ardu wa min anfusihim wa mimma la ya'lamun (Q.S.36: 36)",

"Iya Ibu...",Andhita bangkit dari pelukam ibunya.Ia mengambil selembar tissue dan menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi ibunya",Doa seorang ibu akan dikabulkan oleh Allah,ridho seorang ibu akan mendatangkan keridhoan dari Allah pula.Aku juga menyayangi ibu...",
***
Seperti biji yang tertanam dalam tanah dan mulai menumbuhkan tunasnya,ilustrasi ini terjadi seperti bagaimana rasa itu tertanam pada hati Aditya dan Andhita.Seiring waktu berjalan,rasa itu diam - diam tumbuh,dan pelan - pelan berkembang.Di setiap pertemuan mereka,di setiap pertemuan tatapan mereka,pandangan mata keduanya yang saling bertemu.

Semenjak kejadian Andhita pingsan di rumah sakit karena kelelahan waktu itu,Aditya terdorong untuk bersedia menjadi perawat dan pemerhati kesehatan pribadi Andhita.Rasa khawatir dan Kasihan melihat keadaan Andhita yang semakin memburuk.Setiap hari,dua kali sehari Aditya datang ke rumah Andhita untuk mengecek perkembangan Kesehatan Andhita.Bukannya tanpa alasan Aditya melakukan hal ini,namun sebuah perasaan yang bersembunyi di balik rasa iba,khawatir,dan kasihan yang ia rasakan kepada Andhita.

Andhita merasa bahagia Aditya bisa menjadi dokter pribadinya,meski tidak mau diberi bayaran sepersen pun.Namun dalam hati kecil Andhita selalu bertanya,kenapa seorang seperti Aditya mau melakukan hal ini untuk dirinya apalagi tanpa meminta imbalan apapun.Ia merasa seseorang yang menjadi dokternya itu adalah Malaikat yang tulus ikhlas menolongnya.dia seorang manusia tapi berhati Malaikat.

"Famay ya'mal mitsqala Żarratin khairay yarah(Q.S.99:7)",sudah dua kali bertanya,Aditya selalu membisikkan ayat ini pada Andhita sambil tersenyum dengan tatapan mata yang dalam.

Namun ia masih merasa ragu pada dirinya sendiri,dan keraguan ini beralih pada harapan lain.harapan pribadinya yang selalu ia minta pada Tuhannya dalam do'anya,setiap malam saat melihat langit penuh bintang - bintang,setiap malam diatas gelaran sajadahnya,dalam do'anya itu ia merasa Allah sudah memberikan sebuah petunjuk lewat Ayatnya,

"Wal-lażiina yaquluna rabbana hab lanaa min azwajina wa żurriyyatiina qurrata a'yuniw waj'alna lil-muttaqina imaama(Q.S.25:74)",Andhita selalu merasakan keraguannya terjawab dengan Ayatnya yang ia sertakan dalam do'anya.

Dan setiap kali membuka kitabnya,begitu juga Aditya sama halnya dengan apa yang Andhita rasakan.Keraguan dan kerisauan yang selalu datang padanya,yang selalu membuatnya berusaha untuk berpaling,namun Tuhannya Maha Tahu dan Maha memelihara Hamba-Nya,Aditya percaya itu.

"Wa min ayatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwajal litaskunu ilaiha wa ja'la bainakum mawaddata wa rahmah,inna fi żalika li'ayatil liqaumiy yatafakkarun(Q.S.30:21)",benar !!,untuk orang - orang yang berpikir seperti Aditya,namun muara keraguan,kegelisahan dan kerisauan dalam dirinya itu adalah kepada Tuhannya sendiri,jawabannya sudah ia temukan lewat ayat ini,dan jawaban itu selalu adalah dua tatapan yang jeli dan ada binar - binar seperti bintang di dalamnya.Dan ia tahu siapa pemiliknya.

Yang ada hanya pancaran wajah bahagia dan cerah setiap kali mereka bertemu,Aditya dan Andhita,seperti terlihat hamparan bunga - bunga yang bermekaran dan angin bertiup dengan sejuknya memberikan nafas dan kehidupan di setiap kuncup mawar itu,dan hati merekalah yang menjadi ladang bagi hamparan bunga ini.Rasa sakit yang menderanya seperti tak ia rasakan setiap kali menerima penanganan dari Aditya.Ia yakin pada Aditya akan memberikan yang terbaik untuknya,hingga Aditya mencari donor ginjal untuk dirinya.sekali lagi,Ia sedang bersama Malaikat bukan seperti bersama seorang manusia.
***
Kabar bahwa Andhita kembali dirawat di rumah sakit karena kondisi tubunya yang mendadak drop sampai di telinganya.Ia pun bergegas pergi menengok Andhita.Ia tidak menyangka kenapa teman SMAnya dulu bisa mendapat penyakit seperti ini.Ia merasa sangat berempati pada Andhita.Bagaimana bisa seorang sahabat tidak merasakan sakit yang sama ketika dulu mereka dulu selalu bersama dalam suka dan duka,mereka seperti keluarga sendiri ?

Ia juga merasa khawatir pada Andhita.Ia tiba di rumah sakit.setelah mendapat alamat kamar Andhita di rawat,ia langsung bergegas.Malam ini ia menjenguk sahabatnya ini sendiri.Ketika ia membuka pintu ruangan Edelweis,ruangan Andhita dirawat,Ia merasa terpukul melihat keadaan Andhita.

Ia mendekati Andhita.selang pernafasan terpasang di hidung Andhita,muka sebersih bulan itu tampak pucat,masih mengenakan pakaian gamis.Ia melihat Andhita seorang diri.
"Assalamu'alaikum...",sapanya pelan pada Andhita.

"Wa'alaikum salam,Oh Alhamdulillah ya Allah,akhirnya Kau kabulkan do'aku dengan kedatangannya...",

Kedua wanita ini saling berpelukan,setelah sekian lamanya tak bertemu,Mereka akhirnya bisa melepas rindu malam ini,namun sayangnya di keadaan Andhita yang tidak sehat.

"Apa yang terjadi padamu,Andhita ? kenapa kau baru mengabariku sekarang ?sudah berapa lama kau sakit ?Bagaimana kau bisa hampir lupa padaku Andhita...",

Andhita menggenggam tangan Wanita itu",Maafkan aku Nira,temanku,panjang ceritanya.Musibah,penyakit,dan ujian datang pada siapa saja dan kapan saja.termasuk diriku...o ya kamu datang dengan siapa ?",

"Aku sendiri,aku tidak memberi tahu Niel sebelumnya.Yang segera kuinginkan hanya menemui dirimu,melihat keadaanmu dan ternyata...",dia,Nira tampak berkaca - kaca.

"aku baik - baik saja,Nira...insya Allah...",

"Tapi,hatiku merasakan kau tidak baik - baik saja,hati sesama sahabat tidak bisa dibohongi,bukan begitu,Andhita ?kau selalu menasihatiku begitu...",

"aku selalu berusaha sabar,Nira...kumohon tenangkan dirimu,aku tidak ingin kau merasa sedih...aku selalu berusaha bahagia dan tersenyum meski rasa sakit ini semakin mendera tubuhku Nira",senyum Andhita mulai menurunkan kekhawatiran Nira.

"Kau tampak lemah,Andhita...aku disini,kuharap kau bisa kuat menghadapi cobaan ini,Andhita...",

"Alhamdulillah,Banyak yang menyayangiku sekarang,bahkan sahabatku sendiri,kedatanganmu membuatku merasa kuat....yakinkan dirimu,Nira.doakan aku Nira,aku akan sembuh,aku mohon doamu Nira...",kata - kata yang lembut namun lemah,Andhita menggenggam tangan Nira lebih erat dengan tatapan penuh harap.

"Tentu Andhita,tentu...",Nira kembali memeluk Andhita.Ia tidak menyangka temannya bisa setegar itu.Rasa kagumnya pada Andhita sebagai Sahabatnya selalu ada dalam hati Nira.

"Aku bahagia Nira,karena ada seorang dokter yang selalu memperhatikanku.Ia selalu memperhatikan kesehatanku dengan datang dua kali sehari ke rumahku,ia juga bekerja di rumah sakit ini.Ia sangat baik,bahkan menyamai Malaikat sekalipun,ia menolongku tanpa pamrih...aku sangat bersyukur Allah mendatangkan dia untukku,ia sangat memperhatikan detil perkembangan diriku,makananku,dan apa saja yang harus kuhindari agar tidak memperparah keadaanku...",

"beruntung sekali dirimu,Andhita...aku agak tenang kau menceritakan hal ini,ku harap aku bisa bertemu dengannya...",

"besok Nira,kau akan bertemu dia...",Andhita mengambil kitab,nya dan membuka sebuah surat",Ijinkan aku membaca Al qur'an sebentar Nira...",

"Iya,silahkan...aku akan menyimaknya....",Nira meletakkan tasnya di ujung ranjang Andhita.

Andhita mulai membaca surat ini.meski suaranya terdengar lemah namun ia masih bisa mentartilkan bacaannya.bukan hanya kali ini saja Nira menyimak Andhita membaca Al qur'an,dulu ia sering menyimaknya saat bermain ke rumah Andhita di malam hari.
Ruangan terasa hening sekali,hanya suara Andhita yang terdengar.Nafas demi Nafas,Ayat demi Ayat,Andhita terus membaca surat ini.

"Fa bi'ayyi ala'i rabbika tatamara ?(Q.S.53:56)...",Andhita berhenti dan tersenyum melihat Nira.Mata Andhita tampak basah dan hatinya terasa sejuk saat ia sampai ayat ini.

"Andhita,ada apa ?kenapa kamu berhenti ?",tanya Nira

"apa kamu masih ingat Nira?apa kamu masih ingat surat yang selalu aku baca dan kau selalu bertanya apa nama surat ini??kau selalu bilang ketika kau membaca dan melantunkan surat ini,aku akan berkata suaramu lebih indah dan bagus dari penyanyi paling bagus di dunia ini...",

Nira tersenyum dan kesejukan hati itu Ia rasakan juga",Surat An Najm....Fa bi'ayyi ala'i rabbika tatamara ?maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kau ragukan?dengan ayat ini kau mengajariku untuk selalu berusaha bersyukur Andhita,aku tetap yakin padamu dan Allah.Dan aku masih mengingatnya dengan baik,bukan ?",

Andhita mengangguk pelan,lalu melanjutkan bacaannya.Tanpa disadari,seorang yang lewat di depan kamar Andhita mendengar lantunan ayat Al qur'an,ia berhenti dan menyimak lantunan surat ini,sedari tadi,Aditya.

Hatinya bergetar,relung hatinya seperti hadir sebuah ketenangan,dan sesuatu yang tetap tinggal di relung hatinya itu.Ia benar - benar mengingatnya,dalam lantunan suara yang halus dan tartil.Telinganya seolah - olah terus memutar lantunan ayat - ayat ini.

"Wa annahu khalaqaz-zaujainiż-żakara wal untsa (Q.S.53:45)...",Ayat ini enggan beranjak dari telinga Aditya,terus terngiang - ngiang,membuat Aditya merenung.sejenak kemudian,Aditya melanjutkan jalannya,ia hendak pulang.

Namun,sekali lagi,suara tartil itu enggan lenyap dari telinganya dan terus mengisi relung hatinya dengan ketenangan dan kesejukan.Ia pulang dengan laju yang pelan.

Esok harinya,Bu Sa'diyah datang menemui anaknya dengan membawa kabar bahwa ia sudah mendapat seseorang yang bersedia mendonorkan ginjalnya.Andhita merasa sangat bahagia dan berharap keinginannya itu terwujud.Si pendonor ginjal akan menemui Andhita besok.Kabar ini pun sudah sampai ke Aditya.
***
Malam ini,Aditya sedang berada di rumah Indra.Indira memanggilnya untuk memeriksa keadaan Indra.Indra terbaring sakit di tempat tidurnya.Ia tampak lemah.
Arjun menemani Mereka menggendong Narendra.Narendra meronta - ronta ingin mendekati Ayahnya.Namun tidak bisa,karena Ia sedang sakit.Ia tersenyum melihat Narendra,senyum lemah.Arjun duduk di seberang Aditya.Tangan Indra meraba tangan kecil Narendra yang melambai - lambai padanya.

"Aku yakin kakak hanya kelelahan...",bisik Arjun pada Indra.

Indra mengangguk",Apa ibu sudah datang,Arjun ?aku baru saja mengirim sms.pasti Ayah juga ikut ke sini..",

"Akan kulihat dulu Kak...",

"Serahkan Rendra pada Ibu,dek.Kakakmu sedang melayani pelanggan yang sedang memesan tempat untuk sebuah acara...",

"Baik kak...",Arjun lalu membawa Narendra pergi.

Aditya menuliskan resep untuk Indra.
"Kak Indra,kakak hanya kelelahan saja.Pasti tamu kakak akhir - akhir ini banyak ya.hingga membuat kakak lupa istirahat",

"Iya Pak dokter.aku juga lupa minum vitaminku yang disiapkan Indira",
Aditya terseyum",Ini resep untuk Kakak.Serahkan Kak Indira untuk dicarikan di apotik nanti...",
Indra menerima resep dari Aditya.

Lalu,teleponnya berdering.Ia mengangkatnya.Seseorang mengabarinya bahwa keadaan Andhita kritis.Kondisinya benar - benar lemah.Ia harus segera menemui Andhita di rumah sakit.

Aditya minta pamit pada Indra.Lalu,Ia juga menemui Indira.Indira sudah menyelesaikan pekerjaannya.Kali ini,Bu Sa'diyah memberi kabar buruk.Si pendonor ginjal sebelumnya malah membatalkan niatnya.Bu Sa'diyah menangis saat menelpon Aditya.Ia sudah tidak bisa berbuat apa - apa lagi.Namun,Andhita harus segera mendapat pertolongan.

Aditya pun bingung dan khawatir.Keadaan Andhita,Andhita sampai tidak tertolong,dan Kehilangan Andhita,ketakutan seperti ini jelas menguasai dirinya.Meski ia belum menyatakan perasaannya pada Andhita.Ia merasa sangat ketakutan.Ia juga ikut berpikir untuk memberi solusi dari masalah ini.Ia berusaha menenangkan dirinya.

Indira meminta Arjun untuk mengantar Aditya ke rumah sakit.Bersama Arjun,Aditya menuju rumah sakit menggunakan motor milik Indra.Di tengah perjalanan pun,ia terus berpikir untuk solusi masalah ini.Sebenarnya ia sudah mendapat satu solusi,namun ia ragu - ragu untuk melakukannya.

Cinta,rasa itu mengambang di atas keraguan Aditya.Kehilangan Andhita atau Berharap mendapatkan Cinta Andhita pilihan yang belum melahirkan rasa ikhlas dalam dirinya.Di sepanjang perjalanan ini.Nuraninya meyakinkannya untuk melakukan apa yang ia rasa ini akan menolong Andhita.namun ketakutan lain membuatnya terus berpikir.

Dan Arjun juga tahu kalau Aditya bergumam di sepanjang perjalanan,Aditya tampak memikirkan sesuatu.Arjun hanya mendengar kata - kata Aku lakuin ini gak ya,tapi nanti.Berkali - kali,sampai Arjun hafal kata - katanya.

Sampai di area parkir rumah sakit,Arjun masih mendengar Aditya bergumam.Ia bertanya pada Aditya.

"ngomong - ngomong ada apa pak dokter ?kok dari tadi bicara sendiri gitu kayak orang bingung?ada yang dipikirkan ya ?",tanya Arjun ringan.

Aditya merasa ia ingin mengutarakan ini pada Arjun,siapa tahu ia bisa memberikan solusi untuknya.Ia menjelaskan semuanya pada Arjun di waktu yang tidak lama ini.Arjun mendengarkan baik - baik apa yang Aditya sampaikan.

Arjun mengusap lengan Aditya pelan",Adit,o pak dokter maaf,...",

"Ah nggak apa - apa ",

"Bagiku cinta dan persahabatan sama saja.Meraih cinta dengan pengorbanan dari diri kita sendiri mungkin perlu dilakukan jika keadaannya terlihat tidak memungkinkan.

Jujur saja pak dokter,dulu saat SMP,aku memberanikan diriku sendiri dengan mengorbankan diriku sendiri untuk menyelamatkan sahabatku dari sebuah bahaya.Semua Manusia punya hati dan nurani.awalnya dia membenciku karena sebuah kesalah pahaman namun semenjak ia melihat pengorbananku untuknya,ia menjadi sahabat karibku,kami selalu saling menjaga dan membina hubungan yang sangat baik.

begitu juga mereka.Cinta,Pak dokter.Demi cinta dan semangat yang aku berikan pada mereka,setiap dari mereka sudah memiliki cinta sejatinya.Mereka hidup bahagia.Bahkan Kak Indra,Ia tahu Kakak Ipar tak seperti almarhumah pacarnya yang dulu,namun Ia harus mengalah pada keadaan untuk menerima kak indira.Akhirnya,Kak Indra mengakui bahwa Ia seperti memiliki Kak Ivana,almarhumah pacarnya yang dulu.
Allah Maha Penyayang pak dokter,Allah Maha melihat,Allah maha tahu apa yang kita rasakan saat ini.Allah akan membalas kebaikan pak dokter dengan kemuliaan dan pahala lain yang mungkin pak dokter tidak menyangkanya.Bukan begitu ?",jelas Arjun.

Kata - Kata Arjun sama dengan apa yang di katakan hati Nurani.Ia melihat ke atas.Langit dengan taburan bintang,dan dua bintang sejajar yang berbinar - binar.Ia akhirnya memantapkan niat dan hatinya.Kehilangan Andhita atau berharap mendapatkan cinta Andhita,bukan begitu,Kehilangan Andhita atau mendapat cinta Andhita.

Ia menarik nafasnya.Sebuah bisikan yang mendorongnya untuk melakukan niat baiknya.Ia semakin yakin dan semangat untuk ini.Arjun pun kembali pulang.Aditya berterima kasih pada Arjun.

Aditya masuk ke rumah sakit.Bukannya menuju ruangan Andhita,Ia menuju ruang operasi.Ia bertanya pada perawat yang menunggu ruang operasi apakah ada jadwal pembedahan atau tidak.Tidak ada untuk malam ini.

Aditya meminta pada perawat itu untuk menyiapkan tim pembedahan.Si perawat bertanya untuk siapa pembedahan ini dilakukan,Aditya menjawab untuk dirinya.Perawat itu heran dan berusaha menolak.Aditya dengan tekad yang kuat menjelaskan maksudnya.

Perawat itu merasa terharu setelah tahu maksud Aditya memintanya menyiapkan tim pembedahan untuk dirinya.Segera semuanya disiapkan.Tampak lampu sorot bedah itu menyala.Aditya pun menerima suntik bius.

"Bismillahirrahmanirrahim...".bisik Aditya yang mulai merasakan obat bius itu bereaksi dalam tubuhnya.
Para tim pembedahan mulai melakukan apa yang Aditya minta.
***
Di ruangan Andhita,Bu Sa'diyah masih menunggu anaknya yang belum kunjung siuman.Ia terus berzikir untuk keselamatan putrinya.Ia merasa takut kehilangan putrinya untuk selamanya.

Ia terus memanjatkan doa,di setiap isakan tangis lirihnya,Ia berharap Allah mengabulkan doanya.Ia merasa sudah tidak berdaya lagi.Ia tidak tega melihat keadaan Andhita.Wajahnya semakin pucat.

Lalu,Seorang perawat datang memberi kabar gembira.Seseorang sudah memberikan ginjalnya untuk Andhita.Dan,ginjal ini sudah diambil dari tubuh si pendonor.Bu Sa'diyah pun bersujud syukur.Aliran air mata bahagia itu membahasi lantai kamar ini.

Bu Sa'diyah ingin tahu orang mulia dan baik hati siapa kah yang bersedia memberikan ginjalnya untuk putrinya ini.Ia langsung pergi ke ruang operasi untuk bertemu orang itu.Perawat yang datang tadi menunggu Andhita.

Sampai di ruang operasi,Bu Sa'diyah bertanya pada perawat tentang siapa yang sudah mendonorkan ginjalnya.Namun perawat menjelaskan bahwa ia dilarang untuk memberi tahu identitasnya.Bu Sa'diyah merasa sangat berhutang budi pada orang mulia ini.Ia membujuk perawat itu.Si perawat tidak tega melihat wajah Bu Sa'diyah,karena ia juga merasakan apa yang Bu Sa'diyah rasakan.

Si Perawat meminta Bu Sa'diyah untuk menunggu selesainya proses pembedahan yang hampir selesai ini.Dengan sabar,Bu Sa'diyah duduk menunggu di dekat pintu ruang operasi.

Pintu itu dibuka,Beberapa perawat dan dokter keluar dari ruangan.Mereka melepas pakaian kerja mereka.Bu Sa'diyah samar - samar mendengar pembicaraan mereka.Mereka merasa takjub pada tindakan yang dilakukan oleh seorang dokter satu ini.

Dan di belakangnya,Seseorang yang duduk di atas kursi roda keluar dari ruang operasi didampingi beberapa perawat lain.Bu Sa'diyah melihat siapa yang ada di kursi roda itu.Ia bertanya pada salah satu perawat tentang siapa yang dioperasi baru saja dan untuk tujuan apa.

Akhirnya Bu Sa'diyah tahu siapa orang yang mulia ini,orang yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk putrinya.Ia kembali menangis terharu dan hendak bersujud di hadapan orang yang duduk di kursi roda itu,namun dia menahan Bu Sa'diyah untuk sujud.Lalu,Bu Sa'diyah memeluk orang itu.
***
Selanjutnya proses pembedahan dilakukan untuk Andhita.Penggantian Ginjal milik Andhita dengan milik si pendonor.Dan di malam ini juga.Bu Sa'diyah menunggu prosesnya berlangsung bersama Bibi Sakina.

Dalam hati Bu Sa'diyah,ia terus memanjatkan doa syukur untuk Allah atas karunianya yang Agung kali ini.Bu Sa'diyah yakin Andhita akan selamat.

"...ibu menyayangimu,ibu sangat menyayangimu,dan laki - laki yang kelak akan menjadi pasanganmu,baik cepat atau lambat...",Ia teringat kata - kata itu setelah Andhita menceritakan mimpinya.

Malam selanjutnya,Aditya menengok Andhita.Andhita sudah siuman setelah sehari mengalami proses pemulihan pasca operasi.Aditya duduk di ranjang Andhita.

"Aku bahagia kau bisa siuman Andhita,kuharap keadaanmu membaik..",

"Iya Dit,tadi ada perawat yang memberi tahuku bahwa aku sudah mendapat ginjal pengganti dan ginjal itu sudah dipasangkan di dalam tubuhku.Alhamdulillah sekali,Aditya.Aku sangat senang.Tapi dia tidak memberitahuku siapa si pendonor ginjal....Andai aku bisa tahu siapa dia ?aku harap bisa membalas budi baiknya ini,aku ingin sekali bertemu orang itu Dit,dia baik sekali,dia pasti punya hati seperti Malaikat...",

Aditya tersenyum,"mungkin nanti dia akan menengokmu,Andhita...",

Bu Sa'diyah datang.Ia melihat keberadaan Aditya.Ia melihat keadaan Putrinya,Andhita mulai membaik.Rasa haru dan bahagia itu membuat Mata Bu Sa'diyah basah.Bu Sa'diyah mendekati mereka.

"Alhamdulillah kau sudah sadar,Anakku.Kau cantik sekali..",Bu Sa'diyah membelai pipi Andhita.

"Ibu,tadi ada perawat yang memberitahuku kalau ada yang mendonorkan ginjalnya untukku.Tapi ia tidak mau memberitahu siapa orangnya ?,ibu aku ingin sekali bertemu dengan dia,aku ingin bertemu dengan orang yang mulai ini,ia pasti berhati Malaikat Bu...aku ingin bertemu dengannya...",Andhita menggenggam tangan Ibunya penuh harap.

Aditya membuang muka.Bu Sa'diyah melihat Aditya.Perlahan tangannya membelai kepala Aditya.

"Anakku,coba kamu lihat Orang yang ada di hadapanmu ini ?",

"Apa maksud ibu menyuruhku melihat Aditya ?",Tanya Andhita melihat wajah Aditya.Perlahan Aditya juga memutar pandangannya ke arah Andhita.

Mereka akhirnya saling menatap.Dan kedua mata yang jeli itu kembali,kedua mata yang berbinar,kedua mata yang berbinar -binar seperti dua bintang sejajar yang selalu ia pandangi setiap malam itu.

"Anakku,Malaikat yang kau tanyakan itu sudah bersama kita saat ini,orang yang mulia itu sudah bersama kita saat ini,jawaban dari pertanyaan yang kau tanyakan pada ibu sudah ada di hadapanmu...",jelas Bu Sa'diyah terbata - bata menahan tangis harunya.

"Apa ?!Aditya Bu?apa Aditya Orang nya?dia yang mendonorkan ginjalnya padaku",

"Allah Ar Rahman Ar Rahim,Anakku.Allah mengirimkan rasa kasih sayang-Nya lewat Aditya untukmu.Aditya sudah memberikan satu ginjalnya untukmu",

Andhita sangat terkejut",Allahuakbar,Subhanallahwalhamdulillahi,La illaha ilallah...",Andhita menangis bahagia di hadapan Aditya.

Begitu juga Aditya,matanya berkaca - kaca.Ia melihat ke arah luar jendela.Ya!dua bintang yang sejajar itu,berlomba - lomba untuk bercahaya.Bu Sa'diyah memeluk putrinya itu.

Andhita melihat Aditya dengan mata yang penuh lelehan Air mata.Aditya ingin menghapus air mata itu.Andhita tersenyum haru pada Aditya.

"Wahai Hamba Allah yang berhati mulia,temanku,Aditya,kenapa kau melakukan hal ini untukku ?dan semua yang sudah kau lakukan untukku selama ini,kau tidak meminta balasan sedikit pun dari kami,apa yang membuatmu rela dan ikhlas melakukan ini untukku ?",tanya Andhita perlahan.

Aditya mendekat.Ia menatap kedua mata Andhita dalam - dalam.

"Famay ya'mal mitsqala żarratin khairay yarah...",kata Aditya berusaha menenangkan Andhita",dan kau tahu Andhita,aku melihat sesuatu pada dirimu yang tidak dimiliki wanita lain ?",

"Apa itu ?",

"seperti saat ini,kau tahu,yang kulihat saat menatap kedua matamu ini adalah dua cahaya terang yang tak kalah terang seperti terangnya bintang,"Aditya menunjuk sepasang bintang sejajar yang selalu ia lihat,Andhita melihatnya",dan kuharap,diriku bisa memiliki mata yang seterang bintang ini...",

Kata - kata itu seperti tetesan air yang sejuk hadir di relung hati Andhita,seperti cahaya terang yang menggantikan kegelapan di hati Andhita,seperti ruh yang mengisi jasad yang mati,jasad tak berdaya seperti diri Andhita.

Andhita meraih kedua tangan Aditya.Ia mengatupkannya.Perlahan Ia menciumn tangan Aditya dengan penuh rasa syukur,kasih dan sayang.Rasa itu sudah tumbuh dan akhirnya memberikan buah,Rasa itu,Cinta.

Pengorbanan untuk Mendapat kedua mata seterang bintang itu.Kehilangan Andhita atau Mendapatkan cinta Andhita?,Aditya sudah mendapatkan Cinta Andhita.

Malam ini,Aditya merasa sangat bahagia,rasa bahagia yang hanya untuknya,paling berharga untuknya dari apapun.Cinta,Cinta yang terpancar dari Mata jeli seterang bintang itu.

Cinta pertama,dan untuk terakhir itu.Cinta yang tepancar seperti terangnya bintang.Cinta terakhir yang cahayanya akan terus menerangi keduanya.

Najm-E-Akhri....




Komentar

  1. Subhanallah, suka sama ceritanya, coba aja ka adit baca ini ya? Semoga ka adit bisa baca ini kalau ada waktu luang. Tapi sedikit aneh masa usia 20 tahunan udah jadi dokter, bukannya jadi dr itu butuh waktu seenggaknya 6 tahunan lebih ya? Oh mungkin ceritanya ka adit seorang yg jenius... Subhanallah suka ceritanya very good lah pokoknya mah. Semangat berkarya...��������

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer