Salaam - E - dostana Bab 16


Suatu malam,Marvin mengajak Arjun singgah ke suatu kafe. Marvin memesan Secangkir Kopi hangat dan satu porsi kue brownis. Arjun memesan susu hangat dan satu porsi kentang goreng untuk camilan.

Saat yang tepat bagi Marvin untuk membicarakan sesuatu hal bersama Arjun. hal itu tak lain adalah Malika. Marvin merasa aneh pada sikap Malika pada saat acara resepsi pernikahan Indra dan Indira. Sikap Malika berubah 180 derajat,Marvin mengira perubahan sikap Malika itu ada kaitannya dengan saa saat Malika menemuinya dulu di stasiun.

"aku ingin bertanya padamu Arjun",marvin memotong kue brownisnya dengan ujung sendok.

"ada apa Marvin ?",Arjun mencelupkan sebatang kentang gorengnya ke saus tomat.

"Malika ternyata punya nomor baruku,aku yakin seseorang telah memberinya,dan aku mengira kau yang...",Ekspresi muka Marvin agak serius.

"aku yang memberinya,Marvin",Arjun memotong kata - kata Marvin dengan nada sedikit direndahkan",sebelumnya,aku mohon maaf,kawan. Aku terpaksa melakukannya karena Malika memaksaku. Keadaan yang tak biasa terjadi pada Malika. Dia pasti berhasil menyusul di Stasiun...",

"Ya,aku bahkan tak mengira jika dia sampai menemuiku....",

"Apa yang terjadi sebenarnya di antara kalian,Marvin ?",tanya Arjun sedikit meminum susunya Aku merasa terjadi sesuatu hal yang tidak beres di antara kalian",
"Memang,"Marvin mengangkat kedua bahunya",Memang terjadi sesuatu yang tidak beres. Dan dia menempatkan diriku pada posisi yang salah,posisi yang benar - benar menempatkan diriku pada keadaan yang semestinya aku tidak berada di sana...",

"Ketika Seseorang membakar sesuatu dengan Api,Pasti kau juga  terkena Asapnya. Bisa diibaratkan seperti itu ?",

"Tidak hanya merasakan seberapa parah asap itu membuat sesak,namun aku juga merasa seberapa panas bara api yang tengah menyala ini,panas yang mungkin sulit untuk dihindari",

"Terlalu buruk,masalah ini benar - benar mengganggumu dan menguji kesabaranmu,Kawan. Aku bisa merasakannya",

"Aku belum merasa masalah ini mulai mengusik kesabaranku,hanya saja mulai membuatku muak",Marvin sedikit menaikkan nada suaranya dengan sedikit tekanan.

"Pada Malika ?",

Marvin terdiam. Kuenya telah tersisa setengah potong. Ia hanya mengetuk ngetukkan ujung sendoknya di atas kue ini.

"Okey,Marvin...",Arjun melepas nafasnya menghadapi Marvin yang sedikit tegang",aku tidak  ingin membuang buang waktu saja dengan kata kataku ini. Ini ada kaitannya dengan Mantan Pacar Malika",

"Malika lah yang mengaitkan diriku dengan Masalahnya dengan mantan pacarnya. dia hanya datang padaku hanya untuk menceritakan semua masalah Mantan Pacarnya",Nada Bicara Marvin terdengar semakin naik.

"Kali ini dia malah membuatmu yang akan berhadapan dengan Laki - lakinya...",

"Itu maksud akhirnya ia menangis - nangis di peron stasiun waktu itu,dia membuatku malu,semua orang melihat kami saat itu",

"Apa yang dia lakukan ?",

"Dia menahanku,dia menarik tanganku,dia seperti seorang pengemis yang sangat mengharap satu keping koin uang",

"Itu sedikit perhatian darimu,Marvin",

"Tapi ketika dia berhasil membujukku dia akan membuatku dalam keadaan dilema",

"Dilema ?",

"Kau selalu mendukung hubungan kami,Arjun. Aku menyukai Malika,bahkan..aku",Kata - kata Marvin berada di posisi Anti klimaks ceritanya",Mencintainya Arjun. 

Tapi,aku belum bisa menebak Apakah Malika memiliki perasaan yang sama terhadapku,selama ini. Malika malah hendak melibatkanku dalam Masalahnya,kau bisa menebak hal ini pasti menggoyahkan diriku,apalagi perasaanmu".

"Aku tidak mau menebak,aku hanya melihat keadaan menjadi terbalik sekarang",

"Benar terbalik,tapi di luar apa yang aku harapkan",

"Dan,hal - hal yang tidak kau inginkan harus siap kau hadapi....",

"Sebenarnya aku tidak mau mengadapi semua ini,karena aku merasa ini hanya sebatas masalah Malika dan Mantannya,tapi sialnya aku dikait - kaitkan di dalamnya...",

"kemungkinan terburuk,kalian ,para laki - laki mungkin harus berduel lagi di hadapan Malika...",

"Apa ini harus aku lakukan untuk menambah keyakinan Malika terhadap diriku,Arjun ? 

Sedangkan kau berpikir aku mungkin belum yakin dengan kau memberi tahuku tentang Sikap dan Emosional Malika terhadapku,kau tahu Arjun saat detik itu barulah aku tahu bahwa Akhirnya Pertanyaan dalam hatiku terjawab,Perasaan dan maksudku terhadap Malika terjawab,

Sungguh Arjun,aku tidak ingin menghadapi resiko terburuk sekali pun,"Mata Marvin mulai berkaca - kaca",kau sahabatku,kau merasa apa yang aku rasa,dan jelas aku yakin kau merasa lelah,sekali,yang aku rasa...",
Arjun menggenggam tangan Marvin.

"Yah...Yah,Marvin. Sudah ke sekian kali aku mendengar keluh kesah seperti ini,dan aku juga perlu mengambil sikap dan tindakan.
Begini,sebuah insiden tidak akan terjadi jika selama waktu kapan pun tidak terjadi pertemuan oleh beberapa pihak. Kau tahu maksudku ?",

Marvin berpikir cukup keras. Ia diam cukup lama.
"apa maksudmu aku harus menjauhi Malika seperti Niel menjauhi Nira ?",

"Salah satu caranya seperti itu,tapi andai kau bisa,Sebisa mungkin Malika harus kau Asingkan dari Kota ini untuk dalam jangka Waktu yang panjang.

Mungkin kau tahu Marvin,Apa tak butuh waktu sebentar untuk padam,tapi Bersabar pada selama waktu itu,itulah yang akan menjadi ujian kalian...",

"Long Distances Relationship maksudmu ?".

"Tidak terlalu jauh,mungkin kau bisa mengirim Malika ke rumah Ayahnya,aku dengar Ayah Malika tengah sakit juga,Malika sangat ingin menemuinya.

Nah, kebetulan,di momen - momen ini kau bisa membuktikan dan meyakinkan di hadapan semuanya,termasuk Orang Tua Malika,
Mantan Nira mungkin hanya akan terus menerus memainkan perasaan Malika dengan ancaman - ancamannya.

Tapi,dirimu ?, tidak mungkin sama,Kesungguhanmu akan terbukti jika kau bersegara untuk ini,kau harus mengirim Malika pada Orang tuanya...",

"Jadi ,aku bisa backstreet sesekali ?",terdengar nafas lega dari Marvin.

"kalau perlu kalian harus kompak,sekali lagi berganti Nomor Telefon,Marvin...",

"Yah...Yah...Aku punya teman banyak yang bekerja di Konter...", Marvin memandang Lama Arjun,

Arjun berharap ketegangan Marvin menurun. Marvin mendekap Arjun,dan ini tanda Ketegangan Marvin menurun.

***
Pagi - pagi Arjun dikejutkan kakaknya dengan sesuatu. Indra menunjukkan Test Pack dengan dua baris biru pertanda seseorang telah positif Hamil. Terlalu bahagia Indra sampai mengguncang - ngguncang tubuh Arjun.

"Lihat Arjun,Lihat Arjun,sebentar lagi aku akan jadi Ayah dan kau segera akan jadi Paman....",

Wajah Bantal Arjun masih jelas kentara",Ya,Ya Alhamudlillah,Kakak....",

"Lalu,apa yang harus aku lakukan ?",

"apa yang harus kakak lakukan ?,Tentu saja,kakak harus benar - benar menjaga Kakak ipar selama kehamilannya...",

Indra mencubit kedua pipi Arjun",Aku sudah tahu,dan Aku akan merayakannya sebentar Malam...Pagi ini adalah pagiku paling Bahagia...",

"Dan pagi ini adalah pagi paling berisik yang pernah ada...",

"Eh Arjun,Ayolah...",

Arjun bangun dan hendak ke kamar Mandi.
"Baiklah,Baiklah,siapa saja yang kakak undang ?Teman - teman semua ?".

"Yah,Yah...semua orang,aku ingin semuanya merasakan kebahagiaanku..",

Arjun terkesiap dan tersenym jahil melirik keriuhan kakaknya,

"Semua Orang kakak ?",

"Yah..yah..",

"O Ya,ngomong ngomong aku boleh mengundang satu orang lagi...",

"Boleh Boleh,siapa dia?siapa dia ?katakan ",

"Pak Samsul ",Arjun menekan nadanya

"APA ?! Pak samsul ?".indra melihat Arjun cekikikan",dosen kamu yang genit itu " ,

"Yah,kalau kakak ijinkan  aku...",

Arjun langsung lari ke kamar Mandi,Indra sadar ternyata Arjun telah menjahilinya. Indra pun memburu adiknya ke kamar mandi.

***

Telepon berdering,datang Panggilan dari Marvin. Malika seakan tak percaya mendapatkannya. Ia pun mengangkatnya. Suara Marvin masih terdengar datar namun agak lain. Malika mengatasi Kegugupannya.
Marvin meminta Malika untuk bertemu di Taman Sebelah Jembatan.

Seperti mendapat Kejutan,Malika senang bukan kepalang. Ia merasa terharu dan Bahagia. Dalam hatinya berkata "Akhirnya....",tentu hatinya pun berbunga - bunga.

Sore hari,Malika sudah duduk di Salah satu Kursi di Taman Ini. Ia menanti Marvin dengan tenang. Cukup lama. Malika mulai merasa bosan. sedikit ada pikiran bahwa Marvin hanya akan mempermainkannya.

Namun,tidak,kehadiran Marvin tidak terasa. Tidak ada angin yang memberinya Isyarat. Tiba - tiba Marvin telah duduk di samping Malika. Sungai akan tetap mengalir tenang,seperti biasa.

Malika sedikit terkejut saat Menyadari keberadaan Marvin,kemudian dikuasai kecanggungan.

"Hai,Malika,Apa kabar ?",tanya Marvin masih enggan menatap Malika,

"Kabarku Baik,Marvin. Ada apa kau memintaku menemui di sini ?",Malika berusaha menguasai dirinya,

"Aku hanya ingin menemui saja,Malika. entah kenapa ?",

"Iya,Marvin. aku di sini sekarang,aku sudah datang untukmu. aku menunggumu dari tadi",

"Terima Kasih...",senyum samar Marvin cukup mencairkan kegugupan Malika.

"Kau juga baik - baik saja kan,Marvin ?",tanya Malika di sela - sela dinginnya suasana pembicaraan.

Marvin berdiri dan mendekati pagar pembatas sungai. Ia menarika nafas sejenak. Ia melihat tenangnya permukaan sungai ini. sudah cuku tenang rasanya.

Marvin berbalik"Ya,semua baik - baik saja,dan aku juga ingin memastikan dirimu baik - baik saja....",Kata - kata ini terdengar begitu ringan,

Malika berdiri dan tak menyangka Marvin akan berkata seperti ini. Angin bertiup menerpa menjelaskan Perasaan Marvin. Gejolak Haru dan Bahagia dalam Jiwa. Mata berkaca - kaca menjadinya buktinya.

Marvin kembali berbalik dan menggeleng"Waktu telah berlalu,aku tidak mungkin kembali pada diriku yang dulu,namun Perasaanku ?...",

Malika mendekati Marvin. Ia menenangkan dirinya.
"Apa yang telah aku ucapkan,tidak akan mungkin aku tarik kembali. 

Dan perasaan yang telah ada dalam Hatiku,rasanya enggan aku tarik ulur lagi. Terkadang Benci,terkadang sayang,membingungkan. aku sempat berpikir ,tidak selamanya aku akan menjadi sebodoh ini.

Aku tidak ingin berbohong lebih lama,aku tidak ingin mencoba menghianati diriku lagi. Bibir bisa saja mengatakan sebanyak apa pun perkataan Dusta,namun Sosok yang baik akan selalu berada di baliknya...",Marvin berbalik,Malika berdiri tepat di hadapannya. Setetes air mata mengalir di pipi kiri Malika.

Marvin sedikit memperjelas senyumnya. Hal itu semakin menguatkan rasa bahagia.

"Seorang Marvin sebagaimana sediakala akan tetap ada. Tanpa mempermainkan rasa,Tanpa ada permainan Dusta...",Perlahan Jemari Marvin meraih Jemari Malika. Malika melihat Hal ini.

"Aku rasa kau tidak akan aman lebih lama berada di tempat ini. Sebaiknya,kau meninggalkan tempat ini Malika. dia bisa menerormu kapan saja...",Marvin menggenggamkan satu bungkus Sim Caerd baru ke tangan Malika,

"Apa maksudmu Marvin ? apa kau ingin mengusirku atau...",

"Akan ada jalan lain dalam sebuah masalah. Ini untuk menghilangkan jejak. sebaiknya kau segera meninggalkan kota ini,Malika. aku sudah punya nomer barumu ini di handphoneku. Jangan mengulur waktu lebih lama lagi,Malika..",Kali ini Marvin benar - benar serius.

Malika tahu maksud Marvin"Tapi,aku harus ke mana Marvin,maaf aku tidak ingin jauh darimu ",Ia merajuk.
"aku tahu kau merindukan ayahmu,ayahmu sakit kan di rumah ?",

"Iya Marvin,pasti Arjun yang memberitahu...",

"Ya...sebaiknya kau pulang,dan aku akan bersedia mengantarmu,aku akan menemani menemui Ayahmu...",
Malika merasa berada di puncak emosinya,rasa harunya. Ia menunduk menitikkan Air mata,badannya tiba - tiba lemas,Ia berlutut begitu saja. Namun,Marvin menadah Badan Malika.

"Maafkan,aku Malika. hanya ini jalan satu - satunya yang bisa aku lakukan...",

"Justru aku yang minta Maaf,Marvin. aku sudah melakukan semua ini,hingga membuatmu terganggu,hingga kau harus repot - repot memikirkanku. kalo jadinya seperti ini,tidak usah Marvin. biarkan semua...",

"Sssshhhh...",Sentuhan pertama kali Jemari Marvin pada wajah Malika yang menghapus air mata Malika",ini demi kebaikan kita Malika,hanya ini yang aku bisa. Ini akan menjadi pengorbanan kita.

Aku sudah menyaksikan sendiri apa yang terjadi di antara Niel dan Nira,makanya aku pikir inilah bagiku saatnya...",Marvin dan Malika berdiri.

"Seorang Marvin akan menjadi Orang yang baik hati...",Malika terisak isak

"dan tidak perlu lagi membohongi diri sendiri...",
Malika menggenggam tangan Marvin"Aku akan berusaha Marvin...",

"aku yakin kau bisa...tidak perlu takut,ada orang baik di belakang kita...",

Semua sudah diutarakan,Semua sudah jelas,Semua sudah merasa lega. Beberapa Hari Kemudian,Malika pulang ke rumah orang tuanya. Marvin menemaninya.
Semua orang mengantarnya.

Nira memeluk Malika untuk menguatkan Jiwa Malika. Indra memeluk Marvin untuk selalu percaya diri dalam menjaga Malika. Kemudia,dua sahabatnya,Niel dan Arjun.

"jangan lama - lama di sana,aku bisa capek mendengar omelannya dia...",Bisik Niel bermaksud menyindir Arjun.

Arjun menepuk tangan Niel",Niel !!",

Keduanya sudah menempati tempat duduknya. Kereta melaju dengan mantap. Nira dan Indira tak berhenti melambaikan tangannya pada Malika.

Marvin merasakan perasaan yang beragam pada diri Malika. Selanjutnya,Ia akan mulai melakukan rencananya.


Sincerely,
Salaam E dostana

Fajar Adi,

Komentar

Postingan Populer