Sebatas Rasa 3
...
Mereka tiba di Bandara Madinah saat pagi,di sambut Matahari terbit yang memberikan cahayanya yang hangat. Suasana lain yang terasa di Bumi Para Khalifah ini,Tanah Yatsrib tempat di mana Badan Insan paling Mulia yang pernah hidup di atas muka bumi ini,Uswatun Hasanah,Rasulullah,Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam bersemayam.
Pertama kali menginjakkan tanah Madinah,Zayn merasakan hawa tersendiri. Ia menghirup udara segar Madinah pagi ini,dan berbisik Kalimat takbir. Langit yang biru dengan awan - awan kecil berarakan seakan - akan menyampaikan Salam dan sambutan untuknya.
senyum bahagia dengan menebarkan pandangan ke seluruh arah. Ia sudah tidak sabar untuk menemui seseorang. seseorang yang sudah lama ia dambakan ,sudah lama impi - impikan. Seseorang yang telah memberi hidup padanya. Sosok yang Ia cintai namun Ia belum pernah menemuinya,Ibunya tercinta.
Kakek farhat segera mengajak Zarina dan Zayn ke suatu tempat. wajah semangat Zayn sedikit memberikan tenaga untuk kakek Farhat. sementara Zarina tampak sedikit lebih baik. Ia berjalan dengan tenang,tanpa berbicara pada Zayn sesekali.
Di suatu tempat rumah,yang berada tak jauh dari komplek Masjid Nabawi,rumah yang cukup besar. Masuk ke dalam rumah,ruang tamu dengan suasana yang tenang,sofa dan meja yang seluruhnya berwarna putih dan emas,dinding berwarna coklat muda dengan hiasan kaligrafi di beberapa sisi.
Tampak dua orang wanita paruh baya sedang bekerja,satu orang sedang membersihkan dan menyapu lantai ruangan keluarga,tampak di atas televisi layar datar itu terpajang foto sebuah keluarga,ada satu foto kakek Farhat di situ.
Satu wanita lain sedang sibuk membuka tirai dan jendela agar ruangan mendapat sinaran cahaya matahari di dalamnya.
Lalu,pintu terdengar diketuk,terdengar seseorang mengucap salam. segera wanita yang menyapu tadi membuka pintu dan menyambut siapa yang datang. sementara itu,Seorang wanita yang lebih muda,si pemilik rumah ini muncul dari ruang makan.
"Bibi Zubaida,siapa itu ?siapa yang datang ?",tanya si tuan rumah ini,dialah Fatimah,Putri kedua dari Kakek Farhat,sekaligus Bibi Zayn.
Fatimah terhenti dan terkejut saat melihat Ayahnya datang.
"Masha Allah,Alhamdulillah.....",Fatimah segera menyambut Kakek Farhat
"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh....",Kakek Farhat mendekati
Fatimah,
"Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh...", Fatimah segera mencium tangan Kakek Farhat",selamat datang Ayah,akhirnya kau datang ,aku bahagia sekali",Mata Fatimah melihat dua orang pemuda,satu laki - laki dan satu perempuan. Zarina menganggukkan kepalanya sebagai tanda salam,Zayn juga mengikuti Zarina",dengan siapa ayah datang kali ini ?dua orang anak muda ?siapa mereka ?",
"Oh,perkenalkan",kakek Farhat menarik tangan Zarina dan mendekatkannya pada Fatimah",dia adalah Zarina,salah satu personil utama Symphoni cinta orkestra,dia menjadi bintang baru di Berliner Philharmoni kemarin,"Zarina tampak tersipu malu mendengar pujian ini.
Zarina menjabat tangan Fatimah dan saling berkenalan. Lalu,pemuda berikutnya,fatimah mengamati betul siapa dia,
"Lalu,Pemuda ini siapa Ayah ?Pemuda ini tampan sekali,Astaghfirullah,aku hampir saja terlena dan khilaf",tanya Fatimah tampak gugup.
Mata Kakek Farhat berkaca - kaca melihat Fatimah,Ia melihat foto seseorang di sebelah foto keluarga,yang terpajang di atas Televisi tadi. Kakek Farhat meraih tangan Zayn dan Fatimah. Kakek Farhat mengajak keduanya mendekati foto yang baru saja Ia lihat.
Fatimah tampak kebingungan,sesekali Ia melihat wajah Zayn. terlintas sedetik kemudian satu prasangka dalam benak Fatimah,apakah dia ?. Kakek menghadapkan Zayn ke foto Ibunya,Farida.
"Zayn...",
"Iya,kakek...",
Fatimah terkejut saat mendengar pemuda ini memanggil kakek pada Ayahnya.
"sekarang,barulah,kau bisa melihat foto ibumu sedekat ini,kau bisa melihat wajah Ibumu sedekat ini",Kakek Farhat mengambil foto itu",kau bisa melihat senyum ibumu lewat foto ini sedekat ini,"Ia menyerahkan foto itu pada Zayn. Mata Fatimah membasah dan menggeleng, seakan tak percaya siapa yang ia lihat",di rumah ini...."
"Allahu Akbar...Allahu akbar...Allahu Akbar...",teriak Fatimah mendekati Zayn dengan cepat,"Allahu Akbar...kau...kau...kau...",Fatimah merebut foto kakaknya dari tangan Zayn,Zayn terhenyak. Fatimah langsung mengusap Wajah Zayn",habibi...habibiku...",Fatimah melihat sekujur badan Zayn",kau habibiku,kau....Masha Allah....Ya benar ,kau habibiku...",Fatimah langsung memeluk Zayn dengan rasa bahagia dan syukur.
Fatimah menangis terharu dipelukan keponakan laki - lakinya itu.
Zarina tampak terharu menyaksikan Pertemuan ini.
"Ayah,lihat,kau sudah membawa habibiku,dia habibiku...terima kasih,Ayah. terima kasih,kau sudah berhasil menemukannya,Alhamdulillah...",
Kakek farhat mendekat",Namanya Zainal,fatimah. Habibi Zainal...",
Fatimah memandang Zayn sekali lagi.
Beribu rasa bahagia dan syukur Ia panjatkan dalam hatinya. Fatimah meraih tangan Zayn.
"Mungkin kau bingung kenapa aku memanggilmu habibi pemuda ?",tanya Fatimah dengan wajah yang basah
Zayn tersenyum dan menggeleng"Mungkin anda sangat menyayangiku,dan sangat menanti kedatanganku,Bibi..."
Fatimah serasa ingin bersujud syukur saat mendengar pertama kali keponakannya memanggilnya Bibi. Fatimah menyerahkan foto kakaknya pada Zayn.
"Habibiku telah datang,dia pemuda yang gagah dan juga tampan. Habibiku telah datang,dia pasti pemuda sholeh dan berakhlak karimah. habibiku telah datang,dan kebahagianku telah datang. Mari Anakku,aku sangat menunggu kedatanganmu,rumah ini anggaplah seperti rumahmu sendiri...", Fatimah mengajak
Zayn melihat seluruh ruangan.
Lalu muncul seorang pemuda dari satu kamar. Ia melihat kehadiran seseorang,kakek farhat. Pemuda itu mendekatinya.
"Assalamu'alaikum...", terdengar seseorang mengucap salam padanya dari belakang. Kakek Farhat berbalik dan melhat.
"Wa'alaikumsalam,Oh,kau sudah bertambah besar dan beranjak dewasa juga,rupanya...",
Kakek farhat memeluk Pemuda itu,Anak pertama Fatimah.
"Tentu,kakek. Alhamdulillah,kakek bisa datang ke sini lagi...",
"kali ini aku datang membawa
seseorang,Zaki. coba lihat,siapa yang bersama Ibumu itu ?",kakek Farhat menunjuk Fatimah dan Zayn. Zaki melihat pemuda yang bersama ibunya.
"Siapa dia kakek ?",
"Kakakmu,Zaki ",
"kakak ?Oh,apa dia Anak Ummi Farida,kakek ?",
"benar,ayo temui dia...",
Kakek Farhat bersama Zaki mendekati Fatimah. fatimah melihat Ayahnya dan Zaki mendekat. kebahagiaan Fatimah bertambah saat melihat pertemuan dua pemuda bersaudara ini. Fatimah menyatukan tangan Zayn dan Zaki.
"Ummi..",
"ya,anakku...',
"apa dia kakakku ?",
"kakekmu pasti sudah memberitahumu...",
"Ummi..",
"Ya,anaku..",
"kau pasti juga menyayangi,kakakku,sama halnya kau menyayangi diriku ?",
"dan,aku katakan sekarang,aku mempunyai dua anak muda yang sama tampan dan gagahnya...",
"Ummi...",
"ya anakku..",
"aku belum menyambutnya,bagaimana ?'",
"berhentilah memanggilku dan cepat peluk kakakmu.",kata Fatimah menyuruh Zaki memeluk Zayn,Kedua ini pun berpelukan dan saling berkenalan", Subhanallah,beginikah suasananya saat Benyamin bisa bertemu kembali dengan Yusuf saat itu ?".
***
Saatnya makan siang...
Kakek Farhat sudah bersama Zayn,Zarina,Zaki dan kedua adik perempuan Zaki di ruang makan. Fatimah bersama kedua pembantunya muncul dari dapur membawa menu makan siang dan menyajikannya di atas meja makan.
Fatimah membuat menu khusus masakan khas Jogja yang sangat digemari oleh Ayahnya.
sementara Zayn tampak tidak tenang,dia menebarkan pandangannya ke berbagai sisi ruangan. Ia seperti mencari keberadaan seseorang. Fatimah hadir di samping Zayn dan membelai tengkuk Zayn.
"perjalanan dari Turki pasti sangat melelahkan dan menguras tenaga ",Fatimah mengambilkan Nasi ke piring Zayn beserta lauknya",aku bisa merasakannya pada dirimu,Ayah dan Zarina.
aku membuat menu masakan khusus ini supaya bisa mengembalikan tenaga dan menghilangkan lelah. dan untukmu Zayn,aku belum tahu makanan apa yang menjadi kesukaanmu. Bibi hanya bisa menghidangkan sedikit makanan ini,aku harap kau bisa menikmatinya...",
Zayn membalikkan wajah ke bibinya,dan tersenyum"Fa bi'ayyi ala'i robbikuma tukadzdziban,Bibi ? bisa menikmati makanan khas rumah sendiri di negeri orang adalah kenikmatan tersendiri. ini pengalaman pertama dan berharga saat bisa menikmati hasil masakan dari tangan dari bibiku sendiri....Syukron Bibi...",
Sekali lagi,Zayn membuat Fatimah merasa bahagia"terima kasih,Anakku. selamat menikmati...",
"benar,Zayn. Masakan bibimu lah yang paling enak,"Kakek Farhat menyela,Bibi Zubaida melayani Zarina dan Zaki",hal inilah yang membuat aku selalu rindu dan tidak sabar untuk segera pergi ke Madinah...",
Fatimah tersipu malu. Ia mengambilkan makanan untuk kedua putrinya,Zahra dan Syifa.
"Masakan Bibi memang enak",Zayn teringat sesuatu",lalu bagaimana dengan masakan ibu,kakek,Bibi ?....",pertanyaan yang membuat Kakek Farhat dan Fatimah terhenyak kemudian terdiam. Raut muka yang berubah,keceriaan yang hilang."apa Ibu pernah memasak ?dan di mana Ibuku,Bibi ?aku belum melihat dan menemuinya dari tadi...",
Fatimah menatap Ayahnya dengan berkaca - kaca. Tatapan yang menyampaikan isyarat sebuah pertanyaan. Seperti Fatimah menyembunyikan sesuatu hal. Kakek Farhat mengangguk. Fatimah mengangguk dan bernafas lega.
Fatimah ingin memberitahukan keberadaan Ibunda Zayn namun Ia merasa tidak tega. Matanya basah. Ia membayangkan sesuatu hal.
"sebentar Anakku,nanti aku akan mempertemukanmu dengan Ibumu," Fatimah tampak gugup,Ia seperti menahan kesedihan",habiskan makananmu dulu....",Fatimah kembali ke dapur bersama Kedua Pembantunya. Zayn tampak penasaran melihat perubahan Bibinya.
Bibi Aminah melihat Tuannya menitikkan air mata ketika masuk ke dapur. Ia berusaha menghibur Fatimah,Kedua pembantu ini sebenarnya mengetahui keadaan yang terjadi sebenarnya.
Pada siang hari,Fatimah mengajak Zayn dan Ayahnya serta Zarina ke suatu tempat. Kompleks pemakaman yang berada tak jauh dari Masjid Nabawi. Zayn merasa heran kenapa bibinya mengantarnya ke tempat pemakaman. terlintas prasangka tidak baik di benaknya,dia tercengang.
bagai Jiwa yang serasa melayang beserta daya hidupnya,bagai ruh yang diambil dari jasad di kala sakaratul maut,bagai harapan yang begitu saja sirna,bagai kebahagiaan yang tiba - tiba hilang membuat tatapan matanya buram. badan dengan segenap kekuatan itu seperti lemah mendadak. Zayn berlutut tak berdaya saat menghadap pusara milik ibunya.
Nafasnya tersengal - sengal di tengah udara panas Madinah ini,tangan gemetar yang mengusap nisan yang tertancap di atas pusara itu. Zayn seakan tak percaya melihat kenyataan ini.
"Ibu....",Zayn tak kuasa menahan tangisnya. Ia menggenggam tanah pusara ibunya dan mendekapnya. Kesedihan dan kepiluan yang tidak bisa dijelaskan.
Seumur hidup dia belum merasakan jamahan dan belaian tangan Ibunya sendiri. Seumur hidup dia belum sejenak saja merasakan kasih sayang ibunya. seumur hidup dia tak sebentar saja melihat wajah ibunya secara langsung bahkan senyumnya.
Fatimah mendekap lengan kakek Farhat dan tidak kuasa menahan tangisnya. Inilah hal yang sedari tadi Ia tahan,kesedihan saat Zayn sudah melihat makam Ibunya,kakak kandungnya. Kakek Farhat menghapus air matanya. Zaki hanya menunduk melihat kakak sepupunya meratap di hadapan makam Bibinya. Mata Zarina bergetar menggugurkan tetesan air mata.
Baru kali ini Zarina melihat Zayn sesedih ini. Bagaimana tidak ? Sejak bayi,Ia ditinggalkan oleh ibunya sendiri. Bisa bertemu kakeknya dan keluarganya. kemudian bertemu ibunya,namun hanya makamnya,Zarina merasakan kesedihan yang sama. Kehilangan adalah sesuatu hal yang paling menyakitkan.
Zarina tergerak untuk mendekati Zayn. Ia berlutut di hadapan Zayn. Lelehan air mata yang menguraikan kesedihan ini tampak jelas di mata Zarina. kedua tangannya menjamah pipi Zayn.
Zayn melihat Zarina. Zarina menggeleng sambil menghapus bekas - bekas aliran air mata itu. Ia lebih mendekat kepada Zayn.Zarina merangkul Zayn,ia meraih kedua tangan Zayn dan menadahkan tangan keduanya. Zayn melihat Zarina,Zarina menutup kedua matanya dan menunduk.
"Allahumaghfirli wali walidayya war hamhuma kamma robbayani soghiro....",Zarina mengajak Zayn memanjatkan doa untuk arwah ibu Farida. Zayn pun mengikuti apa yang Zarina lakukan dengan terisak - isak.
Di bawah teriknya Panas matahari ini,di tengah - tengah kompleks pemakaman ini,dan di hadapan pusara Ibu kandungnya,yang sangat ia rindukan,Zayn merasa menjadi Insan yang tak berdaya,kehilangan harapan dan Putus asa.
Tiada daya sudah dalam dirinya,ia hanya bisa pasrah dan tawakal menerima takdir hidupnya. Tak bisa bertemu ibu kandung yang sangat ia rindukan. Zayn tak berhenti terisak - isak.
Air mata terus menetes ketika Ia menunduk. satu kali pada saat itu,ia menumpahkan kerinduannya untuk bertemu pada Ibunya,meski sayangnya pada sebuah pusara.
Tak lama kemudian,Mereka kembali ke rumah Fatimah. Zayn berjalan dengan tatapan mata yang kosong. Yang Ia bayangkan hanyalah Wajah Ibunya yang terlihat di foto di rumah Bibinya. ia membayangkan tawanya,bisikan - bisikan pujiannya,kata - kata yang memanjakannya,dan rangkaian do'a yang tulus dari seorang ibu,seperti orang lain yang masih memiliki ibu yang masih hidup.
Zarina mencemaskan keadaan Zayn. terlintas satu ide untuk menghibur Zayn.Zarina mengambil handphonenya,membuka galeri,dan mencari foto seseorang. Foto Ibu Isna,Ibu angkat Zayn yang berada di Jogjakarta.
Zarina menunjukkannya pada Zayn. Zayn melihat Zarina dengan raut muka yang berat. Zarina tersenyum sambil menggenggamkan handphonenya ke tangan Zayn.
"La Tahzan,Zayn. Innallaha ma anna,innallaha ma anta....kau pasti sangat merindukannya bukan ?", bisik Zarina sedikit memberi semangat",aku akan mengantarmu menemuinya....",
Zayn mengangguk sekali. dan perlahan - perlahan,perasaan dalam hatinya mulai tumbuh dan semakin berdebar kuat dalam dirinya saat Ia menyaksikan Zarina menghiburnya.
***
Malam Hari,ketika Zayn setelah keluar dari kamar tamu yang ditempati Zarina,Ia hendak kembali ke kamar Zaki. Namun,tiba - tiba,terdengar bisikan seorang wanita memanggil Zayn. Zayn mencari siapa yang memanggilnya.
Seluruh ruangan sudah sepi. Paman dan Bibinya pasti sudah tidur.apalagi dua pembantu rumah ini,Bibi Aminah dan Zubaedah. Zayn pun mengabaikannya.
"Zayn....Zayn...Zayn...kemarilah..",bisikan yang terdengar lewat tiupan angin halus yang sampai di telinga Zayn. Zayn berbalik dan melihat sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka.
Ia belum masuk ke ruangan ini,karena Bibinya belum menjelaskan padanya ruangan apa ini. Zayn mencoba masuk ke ruangan ini. Perlahan pintu terbuka,tampak satu meja bundar terletak di tengah - tengah ruangan dengan kursi yang berhadapan.
Tirai jendela yang melambai lemah di tiup angin malam. Cahaya lampu yang sama terang dengan ruangan lain. ada bufet berisi gelas - gelas dan barang - barang lain di sebelah kiri Zayn. ada rak buku yang berisi buku tebal,kitab Al Qur'an dan beberapa lembar kertas yang tersusun rapi.
"Mendekatlah,Zayn....",bisikan ini semakin kuat di telinga Zayn. Ia seperti terhipnotis",kemarilah
Zayn...kemarilah,Putraku....",seperti asal suara ini pada sebuah buku.
Zayn mendekati sebuah buku diari yang ada di ujung rak ini. Zayn mengambilnya. ketika dibuka,ada dua buah buah foto yang dilekatkan di halaman pertama. satu foto Ibunya,farida dan satu lagi foto seorang pria yang ia tidak kenal,namun setelah Zayn amati,wajah pria itu hampir mirip juga dengannya. jangan - jangan,dia ?
Zayn yakin buku diari ini pasti milik Ibunya. Ia membaca halaman berikutnya.
" Awalnya,aku tak tahu apa itu Cinta. Cinta ? Ya,Cinta,tak ada hal lain. Ketika bersatunya tatapan mata. Perasaan yang tersalurkan dari kedua belah jiwa. Rasa bahagia menatap wajahnya setiap masa. Ketertarikan dan rasa ingin tahu sosok dirinya. Sejatinya dia Pria,ku pikir awalnya.
Ketika Hasrat serasa mengguncang jiwa. Ketika Nafsu berkobar dalam jiwa. Mata bagai dibuat buta. Waktu terabaikan jalannya. Ketika dua badan saling berpaduan. Masih ada sedikit keraguan tentang apa itu Cinta.
Berlalu keraguan itu,timbul satu tanya,Apakah seperti ini Rasanya ?Cinta....",
Zayn membuka halaman berikutnya. sejarah kehidupan ibunya di masa lalu,Ia ketahui dari Buku diary itu. Mata Zayn bergetar. Ia berhenti pada sebuah halaman.
" Awalnya hanya Sebatas Rasa.Namun,saat mengikuti perasaan itu,seolah - olah rasa itu menghapus Batas - batas.
Di antara aku dan dia,Hanya Sebatas Rasa. Di antara akal sehat dan Nafsu,Hanya Sebatas Rasa. Di antara Cinta Buta dan Penyesalan,Hanya Sebatas Rasa. Di antara Kebahagiaan dan Rasa sakit tak terlupakan,Hanya Sebatas Rasa.Di antara Kekuatan dan Kelemahan,hanya Sebatas Rasa.
Di antara kenyataan dan Khayalan,Hanya Sebatas Rasa. Di antara Takdir dan Impian,Hanya Sebata Rasa. Cinta,tak semestinya Sebatas Rasa...."
Zayn mulai tahu segala sesuatunya tentang hubungan Ibunya dan Ayahnya. Zayn tahu kenyataan yang terjadi. Entah apa yang ia rasakan kini,sedih,menyesal,putus harapan,marah,semuanya membaur dalam dirinya.
Dari rangkaian kisah Ayah dan Ibu tahunya Zayn tahu statusnya sebagai apa. Ia tidak menyangka. Matanya mulai membasah,Kesedihanlah yang menjadi rasa terakhir ia rasakan setelah tahu bagaimana kisah masa lalu kedua orang tuanya.
Zayn membuka halaman lain. Zayn tertarik membaca sebuah halaman.
"Tidak ada yang salah dengan Takdir hidupku yang digariskan oleh-Nya.Bila aku menjadi insan yang khilaf dan ternoda,pasti Ia akan memberiku Hidayah,karena Dia,Tuhan Yang Maha Mulia.
Tak patut meratap apa yang sudah terjadi. Bila aku terjerumus dalam keadaan hina,pasti Dia akan memberi pertolongan pada Hamba-Nya,karena Dia,Tuhan Maha Kuasa.
Tak mengapa bila nanti hidup berteman malu dan mendengar banyak orang melontarkan hujat. Bila aku menjadi potret manusia paling naas dan terhina di setiap pasang mata mereka,pasti Dia tidak akan rela membiarkanku menjadi Hamba yang terperangkap dalam Kekafiran,karena Dia,Tuhan Maha Suci dan Maha Penyayang.
Bila tiada dayaku dan hartaku untuk membuat penebusan pada sebuah dosa atau kesalahanku,setidaknya, aku tidak akan menghentikan bibirku pada sebuah kalimat,Istighfar....Dia,Tuhan Maha Pengampun,Maha mengetahui lagi Maha Melihat...."
Zayn menitikkan air mata. Ia mengambil foto ibunya dari halaman pertama. senyum dengan berbagai makna.
Bahagia,rindu,sedih,dan rasa kasih. Zayn menggeleng.sampailah Zayn pada lembar terakhir.
"....satu permintaanku,sebelum Engkau memanggilku. Pertemukan aku dengan Anakku,meski sesaat saja. Atau,beritahukan tentang jati diri tentang siapa ibunya padanya. dan sampaikan padanya bahwa aku menyayanginya,sangat menyayanginya....
Inallaha Turja'ul Umr....",
Zayn mencium foto Ibunya dengan air mata yang meleleh di kedua matanya. Zayn memandang senyum ibunya.
"Ibu,bila kau mendengarku,bila ada daya pada dirimu,bila kau tahu,dengarkan permintaanku...Jemput diriku biar aku menyertaimu...aku menyayangimu,Ibu. apa yang kau rasakan,aku rasakan...jemput diriku biar aku menyertaimu,mungkin kebahagiaan kita akan menyatu...",jerit Zayn dalam hati. Zayn terus menangis dan meratap di hadapan foto ibunya sepanjang malam ini.
Hingga habis tenaganya untuk menangis,dan rasa mengantuk berat ia rasakan,Zayn mulai terasa lumpuh dan menyerah. Tapi,sebuah kejadian terjadi,bagaikan mimpi. dalam keadaan setengah sadar,Sebuah Cahaya turun menuju padanya.
Mata sayunya melihat senyum yang kentara di balik cahaya itu,senyum yang sama milik ibunya. Tangan halus mengusap kepalanya. kedua mata sebening permata.Bagai malaikat Jibril sewaktu menemui Rasulullah,apakah Ibunya sedang turun untuk menjawab do'anya ?
"Bu...",panggil Zayn lemah.
"Ya,anakku...",
"apa kau mendengarku tadi ?apa kau mendengar permintaanku tadi?apa kau...",
"Tentu...",
"aku ingin bersamamu,Ibu. ayah sudah meninggalkan ibu. aku ingin menemani ibu...",
"Tidak,sayang. kakek dan Bibimu lebih mengharapkanmu,dan dia...",
"dia ?dia siapa ibu?",
"Cinta,Zayn...",
"Cinta,siapa dia ibu ?",
"cinta,tak semestinya sebatas rasa,dia yang mengharapkan perasaanmu,sayang...",
"ibu bermaksud Zarina ?",
tangan yang membelai dagu Zayn"benar....nyatakan perasaanmu
padanya...",
"Baiklah,lalu bagaimana jika aku rindu padamu Ibu ?",
"tetaplah sepertiku,anakku...beristighfarlah dan memohon pada-Nya,katakan pada-Nya,tentang kerinduanmu padaku,semoga Dia mengabulkan do'amu,Dia Tuhan Maha Kuasa...",
Zayn tersenyum lemah dengan kelegaan dalam hatinya.
"Bu...",
"Ya,anakku...",
"temani aku malam ini,di sini....",
"Baiklah...tutup matamu,ibu akan menjagamu...",
Zayn pun memeluk foto ibunya dan mulai tertidur di atas meja. senyum itu tak kunjung hilang di wajah Zayn.
***
Siangnya,setelah Fatimah menemukan Zayn tertidur di ruangan Kakaknya selalu menghabiskan waktunya,Ia menceritakan riwayat hidup Ibu Zayn selama hidupnya di Madinah hingga meninggal,karena sebuah Penyakit dalam kurun waktu yang lama ia pendam.
Dengan wajah berat Fatimah menceritakan semuanya di hadapan Zarina dan Zayn. Di atas meja ada Buku Diary yang semalam Zayn baca.
"Zahir,nama Ayahmu,Anakku",Fatimah menunjukkan foto yang sama semalam Zayn temukan",Awalnya Ibu dan Ayahmu bertemu di stasiun Jogjakarta ketika Ibumu sedang mengantar kakekmu yang hendak menuju ke Bandung untuk suatu urusan.
Ayahmu dulu pemuda yang selalu berada di stasiun jogja,Ia begitu saja turun bekerja sebagai kuli panggul di situ. Suatu ketika aku pernah melihat Zahir mengantar Ibumu ke rumah pulang dari pasar.
Keduanya sempat berhenti dan berbicara di pagar sebelum berpisah.
Aku pernah menemani Ibumu menemui Zahir. Aku melihat keduanya mulai saling berpegangan tangan,dan bisa kubaca pada keduanya,pasti mereka saling mempunyai rasa suka bahkan mungkin Cinta.
Kau tahu,Zayn. Ayah,Kakekmu sudah menjadi seorang seniman dengan kehidupan yang berada dan elit waktu itu.
Hidup dalam batasan untuk berinteraksi dengan sembarang orang terlebih mereka yang tidak satu level dengan kehidupan kita. Keadaan ini membuat Ibumu selalu diam - diam mencuri waktu untuk menemui Zahir. Ibumu seorang Gadis pemberani dan nekad.
Ia melakukan apa yang Ia mau dengan berbagai cara dan kenekadannya,termasuk Bertemu dan Berpacaran dengan Zahir,Ayahmu. Hingga suatu ketika Ibumu kepergok pacaran di Jembatan Sayidan di suatu malam oleh Paman,Faris ,adek kakek yang sekarang tinggal di Kaliurang. Paman Faris melaporkan hal ini pada Kakek.
Tentu saja,Kakek sangat marah hebat kepada Ibumu waktu itu. Kakek sempat menghukum Ibumu dengan mencambuk Tangan dan Kakinya berulang kali. Ibuku,Nenekmu tidak bisa berbuat apa - apa hanya menangis melihat Ibumu dihukum demikian.
Bibimu Fatiyah membujuk Kakek agar tidak terlalu kejam dalam memberi hukuman dan berusaha menghentikan Kakekmu atas tindakannya hingga Ia bersujud di kaki kakek. Aku mengaku pada Nenekmu menjadi saksi pertemuan Zahir dan Ibumu.
Awalnya,Nenekmu tidak terima,tidak terima kami sudah melanggar aturan rumah dan keteledorannya mengawasi kami,tiga putrinya,namun Nenek akhirnya memaafkan aku.
Aku menyaksikan sendiri ketika Nenek berbicara dengan Ibumu. Kali ini Nenek menyidang dan bertanya banyak hal pada Ibumu. Sebenarnya Nenek juga marah besar pada Ibumu,Zayn. Namun,Ia memaklumi apa yang terjadi,di masa muda hal yang di luar kewajaran pun bisa terjadi.
Ibumu mengaku pada Nenekmu bahwa Ia sangat mencintai Zahir. Nenekmu meminta ibumu untuk mengakhiri hubungan ini,namun Ibumu keras kepala hingga berani berkata 'bila seseorang meminta padaku untuk mengakhiri hubunganku,maka lebih baik aku mengakhiri hidupku sekalian...",",Fatimah menunduk,Ia meneteskan air matanya. Zayn terperangah mendengar cerita ini,Zarina hanya diam",
"merasakan Cinta sama halnya terbakar Api membara,menemui Orang yang kau inginkan dan cintai adalah satu - satunya cara untuk memadamkan Api yang membara itu...
Api Cinta telah membakar Ibumu dengan hebat,Zayn. Seberapa besar kobaran api itu dalam dirinya hingga Ia menjadi Buta karena Cinta aku tidak tahu. Perasaan Cinta hanya Ia yang tahu,sementara aku terus merasa dalam kekhawatiran melihat keadaan Ibumu. Ibumu terpaksa hidup dalam pingitan.
Keadaan ini tidak merubah Ibumu sedikit pun,Jera,kapok,atau pun patah hati seolah - olah hilang harapan tidak terlihat padanya. Sepanjang hari dan sepanjang waktu dia hanya diam dan melamun. Pasti hanya Bayang - bayang Zahir yang hanya ada di Matanya dan menguasai pikirannya.....",lanjut Fatimah,Zarina melihat Foto Ibu Farida yang tersenyum. Ia merasa lika - liku kisah cinta sepertinya sama,tak semulus dan sebaik yang Ia harapkan,ibarat telur sudah di ujung tanduk. Zarina berempati pada Kisah Ibunda Zayn",
Semakin hari keadaan fisiknya memburuk,kurus dan mulai rentan terserang penyakit. Sayangnya,penyakit Tuberculosis menjadi penyakit yang diam - diam di derita ibumu.
Saat Acara lamaranku dengan pamanmu menjadi momen yang tidak akan pernah terlupakan oleh Kami. Saat itu,dengan gelap mata dan kenekadannya,Ibumu berhasil melarikan diri dari rumah. Hari yang berbahagiaku waktu itu menjadi Hari tersial bagi keluargaku.
Nenekmu langsung syok dan jatuh sakit hingga berbulan - bulan. Pencarian yang dilakukan pun tak membuahkan hasil. Kakekmu sempat marah hebat dan mengamuk parah di rumah saat itu. Dan sayangnya,dalam keadaan yang terpuruk saat itu...",Kedua air mata Fatimah mengalir", Ibu,Nenekmu meninggal karena terlalu memikirkan Kepergian Ibumu....",
"Innalillahi wa innaillaihi Roji'un...",Zayn mengusap lelehan Air mata.
"Ibumu datang kepada Zahir,yang pada saat itu sudah menjadi Pemimpin Preman yang menguasai beberapa pasar di Jogjakarta . Bahkan bagaimana pun keadaan Zahir waktu itu tak menyurutkan niat dan hasrat Ibumu,Zayn.
Zahir menerima kedatangan Ibumu dan mereka hidup bersama. Aku sangat terkejut suatu saat berhasil bertemu Ibumu. Aku menangis karena melihat keadaan Ibumu yang jauh tak lebih baik dari terakhir kali ia hidup dalam pingitan.
Aku membujuk ibumu untuk pulang,namun Ia menolak karena sebuah Alasan,sebuah alasan ....",
"Alasan apa itu Bibi ?sepertinya Ibu bersikeras ?",
"Dirimu,Anakku....",
"Aku ?",
"Yah,karena kau lah Ibumu menolak ajakanku,kau saat itu masih dalam kandungan ibumu....",
Zayn menunduk lesu,namun dalam hatinya terasa tercabik - cabik. Ia meratap dalam hati. Fatimah mengusap punggung tangan Keponakannya itu. Zayn mulai terisak - isak.
"Maafkan,aku,Anakku. Maafkan kelemahan Bibimu ini,Sayang. Aku sangat menyayangi Ibumu dan dirimu. Andai saja,Kau bisa lahir di antara kami saat itu,aku tidak akan membedakanmu dan adikmu Zaki sebagai anak kandungmu. Karena aku telah mendapat satu pelajaran berharga dari Ibumu...",
"Apa itu Bibi ?",tanya Zayn mengangkat kepalanya.
"Cinta yang tulus dan Kuat,Anakku. Demi kau dan Ayahmu,Ibumu memberanikan diri melepaskan diri dari kehidupan Keluarganya demi mencari jati dirinya...",
"Lalu,apa yang terjadi selanjutnya ?",
"Sempat tersiar kabar di surat kabar dan televisi saat itu tentang kerusuhan yang terjadi di suatu tempat dan penyebabnya adalah Kelompok Preman ayahmu melawan kelompok lain yang mengacaukan suasana bahkan memporak porandakan pasar waktu itu.
Banyak Aparat yang diturunkan untuk mengatasi kejadian ini. Termasuk,upaya pengejaran Ayahmu dan beberapa teman preman lainnya oleh Beberapa Pasukan Polisi dan Satpol PP.
Malang pun tak bisa dihindarkan,kejadian yang begitu Naas,Ayahmu terpaksa ditembak oleh Polisi - polisi itu tepat di hadapan Ibumu,di depan rumah,tempat mereka tinggal.
Ibumu sangat terkejut hingga syok berat melihat Ayahmu tewas bersimbah darah. Ibumu juga bercerita tentang perdebatannya di malam hari sebelum kerusuhan itu. Ibumu meminta Zahir,Ayahmu untuk berhenti menjadi Preman dan memintanya bekerja sebagai kuli stasiun atau bekerja di sembarang Pabrik.
Namun,Ayahmu menolak keras. Terjadi pertengkaran di masa kehamilan dirimu saat itu. Hingga terlontar kata - kata dari Ayahmu seperti ini "Jika kau sudah tak mau sejalan denganku,atau mau hidup seperti keadaanku,maka kembalilah pada Ayahmu dan Jilatlah ludahmu kembali,Apa kau sudah tidak mencintaiku ?",Ibumu sempat mengalah dan diam,Zayn. Namun Ia benar - benar ingin Zahir berubah,ingin hidup seperti orang lain dengan pekerjaan yang baik dan hasil yang layak.
Untuk menyambung hidupnya sendirian,Ibumu menjadi pedagang Asongan dan menjadi Tukang Cuci panggilan,sungguh keadaan yang di luar dugaan. Seminggu,setelah kematian Ayahmu,terjadi penggusuran tempat tinggal Ibumu dan warga di situ.
Ibumu pun lari dari kejaran Petugas penertiban yang mengejarnya karena ikut melakukan Perlawanan. Hingga Ia sampai di sebuah Masjid dan menumpang hidup di keluarga yang tinggal bersebelahan dengan Masjid...",
"itu rumah Ayah dan Ibu,Bibi...",
"Ayah dan Ibu ?maksdumu ?",
"Pak Hasan dan Ibu Isna,Orang tua Angkatku. Mereka merawat dan membesarkanku bersama Anak laki - lakinya,kakak angkatku,Ja'far...",
"Subhanallah Wal hamdulillah,Anakku. Kau dipertemukan dengan Keluarga yang baik hati dan mulia. Aku sangat ingin menemui Mereka jika nanti aku pulang ke Jogjakarta...",
"Iya ,Bibi. Aku juga sudah rindu pada Ibuku,Ibu Isna. Kakak angkatku bilang kalau Ibu tidur dia selalu memeluk sajadah yang biasa aku pakai sujud dan rukuk...",
"Masha Allah,itu berarti Ia sangat meyayangimu ,Zayn. Kau pun sudah menjadi Seorang Anak yang Sholeh. Aku bangga padamu...",
Zayn tersenyum sambil mengusap air matannya"Emh...apa kisahnya berakhir sampai sini Bibi ?",
"Belum,Zayn. apa kau sudah tenang dan merasa lebih baik sejauih ini ?",
"Alhamdulillah,Bibi. aku bahagia mempunyai seorang ibu yang sangat mencintai ayah dan diriku...",
"syukurlah. Pamanmu mengajakku untuk pindah ke Madinah karena pekerjaannya. aku pun mengikutinya,kakek sudah memberiku izin. di suatu pagi,sebuah kejadian mengejutkan terjadi,aku tidak menyangka Ibumu bisa menemukan tempat tinggal kami dan datang ke rumah ini.
menjadi salah satu TKI yang dibawa ke Arab Saudi untuk dipekerjakan di Mekkah,namun itu hanya sebagai batu loncatan saja untuk mempermudah baginya menemukan keberadaan kami di sini.
Badan yang kurus,wajah yang pucat dan jauh dari kata sehat,seperti itulah keadaan Ibumu pertama kali tiba di rumah ini. Ibumu meminta padaku untuk menerimanya tinggal di rumah ini. aku merasa bahagia dan bersyukur akhirnya aku bisa berkumpul lagi dengan kakakku.
Ibumu pernah bertanya padaku saat ia berdiri di depan jendela itu dan memandang kubah masjid Nabawi ' Dia telah menciptakanku dengan Rahim dan Rahman-Nya,dan menghadirkanku di dunia ini dalam keadaan yang suci,namun berjalannya waktu,aku tidak bisa menjaga kesucian dan kebaikan yang sudah Dia berikan padaku,mungkin aku sudah mengecewakan-Nya. Apakah Dia mau memaafkan dan menerima taubat dari Makhluk kotor dengan sekian kekhilafan yang ada pada diriku ?'....",
Zayn menyahut "Innallaha Ghofurur Rohim...Innallaha Ghofurur Rohim,andai aku bisa menjawab pertanyaan ibu saat itu Bibi,benar kan ?",
Fatimah mengangguk"aku mengatakan hal yang sama,anakku. namun,satu hal terjadi di luar dugaanku,"fatimah tersenyum berbinar - berbinar",satu hal yang membuatku merasa menjadi Makhluk yang paling diberkati....",
"Apa itu Bibi ?apa yang terjadi ?",
Fatimah menunjuk Masjid Nabawi yang tak begitu jauh di luar sana. Kubah berwarna hijau dengan menara - menara yang selalu menggemakan Ayat - ayat Al Qur-an.
"suatu ketika,ibumu mengajakku pergi ke Masjid Nabawi,kami sempat melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Ibumu mengatakan setelah ia berdzikir dan memanjatkan do'a 'kali ini aku bersaksi dan melihat bahwa Tuhan kita sangat dekat,Dia selalu menjaga dan memelihara Hamba-Nya,Dia selalu menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan petunjuk agar Hamba-Nya bisa keluar dalam kegelapan,kegelapan hati berpaling menuju cahaya yang terang,membimbing pada jalan yang lurus,jalan menuju Rahim-Nya.
seandainya,sekali saja aku bisa diberi keajaiban atau mukjizat,maka aku akan meminta pada-Nya,aku ingin sekali saja bisa menyaksikan Arsy,Kursi Kebesaran Tuhan kita dan sujud di hadapan-Nya dalam keadaan tawakal. mungkin inilah yang bisa membuatku mendapatkan ampunan-Nya'.
aku mengatakan 'jarak antara wajah kita dan Arsy Allah itu hanya sebatas do'a yang tulus,yang kita panjatkan di hadapan Tuhan kita,Allah Subhana wa ta'ala',
Satu hal yang aku cemaskan saat itu adalah keadaan Ibumu,Zayn. Penyakit Tuberculosisnya semakin parah,ia mulai sering muntah darah,tidak di siang hari atau pun malam hari.
Namun,dalam keadaan seperti itu,ada satu hal yang membuatku salut dan kagum pada Ibumu. Aku tidak akan pernah melupakannya dan berbangga hati menjadi Adiknya,bangga bisa bertempat tinggal di Tanah Haram ini...",terbit senyuman kembali pada Wajah Fatimah.
"Apa itu Bibi ?apa yang ibu lakukan ?aku yakin dia pasti melakukan kebaikan ?",
"Tentu,Anakku.Tentu. Rasa sakitnya tak menghalangi tekadnya untuk setiap hari datang ke Masjid Nabawi. Tidak hanya untuk melaksanakan Sholat yang menjadi kewajiban kita sebagai Seorang Muslim,Namun Ibumu selalu membantu Orang - orang lanjut usia yang kepayahan berjalan saat hendak mengunjungi Masjid.
Ibumu juga tak canggung untuk melayani mereka,orang - orang lanjut usia itu,tak peduli dari mana asal mereka.
dia pernah bercerita padaku Seorang Wanita tua dari Mesir pernah mendoakan Ibumu,ia mendoakan ibu agar menjadi seorang muslimah yang baik dan sholeha,Hidupnya senantiasa dalam naungan Rahmat Allah,dan kelak meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah.
Tidak hanya itu,salah seorang orang tua dari teman sekolah Syifa,yang sering berjamaah di Masjid Nabawi memberi tahuku jika ada seorang Wanita Indonesia yang mengumpulkan beberapa Wanita yang setiap hari ia temui di Masjid Nabawi untuk membuat kelompok taklim dan dakwah bersama,ia juga menjalin Silaturahmi dengan setiap anggota kelompok taklim ini.
Dalam kelompok dan kegiatan mereka,Ibumu belajar tentang Islam lebih banyak,ibumu mulai belajar membaca Kitab Suci,Ibumu dan mereka saling berbagi pengetahuan tentang keadaan Islam dari setiap negara asal masing - masing.
Aljazair,Tunisia,Iran,Irak,Mesir,Turki,Maroko bahkan ada yang dari Palestina. Aku tidak bisa berkata apa - apa menghadapi perubahan luar biasa ibumu ini. Aku pun turut bergabung dalam kelompok ini,mereka juga menyambut baik diriku.
Aku semakin mencintai Islam dan berkata
"Benar. Islam adalah Agama yang paling di ridhoi Allah,Islam adalah Agama yang membawa perdamaian dan Persatuan".
Anggota kelompok kami pun semakin bertambah. Aku melihat Ibumu semakin bahagia bisa menjadi bagian dari Islam di Masjid Nabawi ini.
Hingga suatu ketika ada yang memberi tahuku bahwa Ibumu tersungkur dan jatuh sakit di pelataran Masjid Nabawi. Keadaan ibumu semakin parah,Penyakitnya yang semakin ganas dan karena Kelelahan melakukan kebiasaannya di Masjid Nabawi itu. Ibumu pun masuk rumah sakit.
Sehari sebelum Ia meninggal,aku memergokinya menangis dan memanjatkan satu do'a 'satu permintaanku,sebelum Engkau memanggilku,pertemukan aku dengan anakku,meski sesaat saja. Atau beritahukan tentang jati dirinya,kebenaran tentang siapa ibunya padanya. Aku menyayanginya,sangat menyayanginya....'
Itulah saat - saat paling menyedihkan dalam hidupku. Aku menyaksikan sendiri begitu besarnya kasih sayangnya seorang Ibu dihadapkan keadaan yang sangat sulit.
Andai saja aku bisa menemukan dirimu segera saat itu,aku akan membawamu pada Ibumu dan mungkin keadaannya akan membaik,namun Takdir Allah tidak berjalan seperti yang aku harapkan.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Kakakku,Ibumu meninggal setelah Ia menunaikan Shalat Subuh. Alhamdulillah,Khusnul Khotimah.
Wajahnya sangat cerah dengan senyum yang begitu menenangkan namun masih menyisakan kesedihan yang mendalam pada diriku,karena kalian berdua tidak bisa saling bertemu....",
Zarina tanpa sadar terisak - isak mendengar bagian akhir cerita ini. Zayn hanya mengangguk dengan hati yang penuh kelegaan dan rasa tawakal setelah tahu sejarah kehidupan orang tuanya secara lengkap lewat Bibinya.
"Itulah Anakku,Aku mohon maaf karena kekuranganku dan ketidak berdayaanku selama ini. Namun,keadaan yang sulit membuat segalanya Mustahil. Kau sudah tahu siapa dirimu,Kau sudah tahu siapa dan bagaimana Ibumu sebenarnya,meski ia sudah tiada lagi",fatimah langsung menggenggam tangan keponakannya itu ",
Aku akan menjadi seorang Ibu bagimu. karena bagiku,kau dan Zakki sama saja,kau dan aku satu darah dan keturunan Haidar.
aku berjanji padamu,Zayn. aku akan berusaha menjadi ibu yang baik bagi dirimu. aku sangat menyayangi ibumu,terlebih dirimu.
mulai sekarang aku akan memberimu kasih sayang dan kebahagiaan seperti ibumu yang berada di Jogja itu. kau,Zakki,Syifa dan Zahra kalian anakku,harta yang paling berharga bagiku...",
Bekas - bekas aliran air mata yang masih tampak wajah Zayn. Zayn tersenyum bahagia melihat Bibinya. kali ini,ia mencium tangan Fatimah dengan penuh rasa syukur dan hormat.
buncahan rasa bahagia dan haru pada hati Fatimah bisa dipertemukan dengan Anak dari Kakaknya ini. Fatimah membelai rambut Zayn. Zarina menyaksikan peristiwa ini,Ia menghapus lelehan air matanya.
***
Di suatu malam,ketika Zarina hendak tidur,Ia mendapatkan sebuah pemberitahuan pada Handphonenya. Pemberitahuan tentang seseorang yang mentautkan akun facebooknya dengan akun facebook Julian,dan tautan itu berisi foto - foto dan Video Unggahan saat Acara Lamaran Julian kepada Yunia di Turki.
Seseorang sepertiya sedang menggunakan Handphone Julian untuk melakukan hal ini,hingga berani mentautkan nama Zarina di postingan ini.
Puluhan foto terunggah dan disaksikan Zarina secara langsung.Dalam keadaan Batinnya yang belum membaik,Zarina sangat terusik di foto - foto ini. Bayang - bayang Rangkaian peristiwa yang terjadi di antara dirinya dan Julian,dari awal sampai akhir terputar kembali dalam benaknya.
Mulai dari Pertengkaran Julian dan Zarina saat di taman lampion Monumen Jogja Kembali,setelah Ia memergoki Julian bermesraan dengan Yunia di Kafe waktu itu. Kemarahan Bibi Astiyani pada dirinya saat bertemu di Pasar BeringHarjo dulu. Pertemuannya kembali dengan Julian saat di Berlin,ketegangan yang terjadi saat makan malam di restoran dulu.
Kecemberuannya saat menyaksikan secara langsung kemesraan Julian dan Yunia saat ikut serta Acara Makan Malam di Restoran milik Ibu Julian. Hingga,yang tidak akan pernah Ia lupakan,pergolakan penuh emosi saat di Istana Topkapi. Rangakaian yang kembali menggerogoti Batin dan Hatinya kembali.
Mata Zarina tampak bergetar melihat foto - foto ini berulang - ulang. Guncangan hebat kembali terjadi pada Batin Zarina ketika Memutar Video Julian menyematkan Cincin lamaran ke Jari Manis Yunia. Seakan tak percaya pada apa yang Ia lihat,Hatinya selalu berteriak ini hanyalah rekaan,ini hanyalah rekayasa,tidak terjadi sebenarnya. Hati Zarina menolak mentah - mentah kenyataan yang terjadi di hadapannya.
Ia mulai kebingungan,Emosi berhasil terpancing dan Ia ingin membuat sebuah pelampiasan. Namun,Zarina tak kunjung menemukan dengan cara apa ia harus melakukannya. Ia mondar - mondir di depan ranjang. Bibirnya hanya mengatakan 'tidak mungkin,tidak mungkin ini terjadi,tidak mungkin'.
Kedua matanya terus saja bagai terbius untuk terus melihat video penyematan Cincin Lamaran untuk Yunia,dan momen Julian mencium kening Yunia dengan yakin dan mantap.
Pintu Jendela di buka dengan keras oleh Zarina. Seketika Hawa dingin dari luasnya Gurun menerobos masuk dan segera menjamah diri Zarina. Langit terang dengan Purnama bercahaya terang,Air mata yang mulai menjejal di kedua mata Zarina. Akalnya sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi,Ia benar - benar kebingungan dan kacau menghadapi keadaan ini.
Air mata yang terus menetes dalam ratapan Zarina yang lirih. Kesekian kali Ia harus memecah tangis karena merasakan luar biasa sakitnya rasa kehilangan. Cinta yang sekian lama waktu ia jaga,tak berarti apa - apa di hadapan seseorang yang telah berubah perasaannya.
Bagai sembilu yang terlumuri racun kemudian dihujamkan dalam hatinya dengan keras,lalu diiriskan secara perlahan agar racun yang dilumurkan menyebar dan sangat terasa perlahan. Zarina terus memegang dadanya.
Menatap Purnama itu pun tampak samar karena Air mata yang seluruhnya membungkus bola matanya dengan kepedihan. Daya dan tenaga ia kumpulkan perlahan seperti sirna begitu saja dalam raganya. Zarina kembali tak berdaya,Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Terlintas ingatan pada cerita masal lalu Ibu Farida mengenai kisah hidupnya. Ia mengingat betul perkataan Ibu Farida yang diceritakan oleh Bibi Fatimah. Perkataan yang mulai mendengung di kedua belah Gendang telinganya.
"bila seseorang meminta padaku untuk mengakhiri hubunganku,maka lebih baik aku mengakhiri hidupku sekalian...", Kata - kata yang terus terulang,bagai bujukan syaitan ketika manusia berada dalam keadaan lengah,tak berdaya dan putus asa,seperti apa yang dialami Zarina saat ini.
Zarina berdiri memandang Purnama membisu sedang Matanya mulai surut air mata. Pandangan kosong yang hanya diisi bisikan - bisikan syaitan itu,namun fikirannya masih berusaha kuat untuk melawan bisikan - bisikan itu.
Sepanjang malam hanya seperti ini yang dialami Zarina. Pergolakan masih terjadi dalam dirinya. kenangan - kenangan pahit yang berusaha ia lupakan pun muncuk kembali,memperparah pergolakan ini.
Mata Zarina masih tertuju pada Purnama,hingga berlutut tanpa memindahkan pandangan sedikit pun.
hingga bayang - bayang Wajah Julian muncul di pelupuk matanya,Senyum Julian yang semakin mengiris batinnya. Senyum wajah pemuda yang paling Ia cintai,senyum pemuda yang sudah menghianatinya hingga perasaan kasih dan cinta itu berubah menjadi rasa benci dan kecewa.
seperti yang ia katakan pada waktu itu,bayang - bayang kehilangan seseorang yang Ia cintai lebih menakutkan dari pada Bayang - bayang ajal yang sudah tiba waktunya.
hingga sampai pada pemikiran inilah Zarina menyerah, Bayang - bayang kehilangan seorang yang Ia cintai lebih menakutkan dari bayang - bayang ajal yang sudah tiba pada waktu nya. namun,kali ini tidak,bayang - bayang ajal yang sudah tiba waktunya adalah hal yang lebih baik dipilih untuk menghapus dan mengakhiri rasa sakit dan trauma karena bayang - bayang kehilangan rasa cintanya.
Zarina terbujuk bisikan - bisikan itu dan beranjak dari kamarnya. Zarina keluar dari kamar.
***
Zakki terbangun karena rasa hausnya. Ia pun keluar kamar dan mengambil segelas air putih di dapur. saat ia kembali ke kamar,tanpa sengaja Ia melihat pintu utama rumah sedikit terbuka. Ia pun terkejut mendapati terbukanya pintu ini,tidak biasanya Pintu rumah terbuka malam - malam.
waktu menunjukkan sudah sampai sepertiga malam terakhir dan menjelang waktu Subuh.
Ia pun membangunkan semua Ayah dan Ibunya. Fatimah dan Rafiq,Ayah Zakki, memeriksa keadaan pintu dan barang seisi rumah. Rafiq melihat tidak ada bekas - bekas Pengrusakkan pada Daun pintu ini,malah kunci Pintunya masih ada dan tertancap. pasti ada seseorang yang keluar dari rumah.
Fatimah memberi tahukan bahwa Kamar Zarina terbuka. lantas,Zakki pun segera membangunkan kakak sepupunya. Zayn bangun dan mendengar cerita Zakki. Zayn tampak panik.
Zayn masuk ke kamar Zarina. ia melihat jendela terbuka dan Handphonenya tergeletak di atas ranjangnya. Zayn pun memeriksa handphone Zarina. Ia melihat foto - foto Julian yang melamar Yunia. terlintas firasat buruk di fikirannya.
"ini pasti karena semua hal ini ?!",gumam Zayn.
"apa yang terjadi kakak ?",tanya Zakki",apakah Zarina yang melakukan ini ?',
"ya,aku yakin.",Zayn mengantongi Handphone Zarina",Zakki,kumohon pergilah bersamaku untuk mencari Zarina....",
"apa ?! ke seluruh kota ini malam - malam ?!",
"harus bagaimana lagi ?tolong ajak paman Rafiq untuk membantu kita...",
"baiklah,tapi apa kita perlu membangunkan kakek ?",
"tidak,Zakki. aku khawatir kakek akan panik dan cemas kalau sampai tahu keadaan ini. Ayo Zakki,kita bergegas...",
"Baiklah kakak....",
Berjalan pada saat malam menjelang waktu subuh di sepanjang Jalanan Kota Madinah tanpa arah yang pasti,mengabaikan hawa dingin gurun pasir yang menusuk tulang dan sendi. tatapan mata yang tetap kosong,namun fikiran dengan kemelut masalah yang masih kacau.
Rangkaian ingatan kejadian di istana topkapi saat itu kembali hadir dan memperparah keadaan batinnya. badan yang tiada daya ini hanya pasrah pada kaki ke mana pun melangkah.
" kau ?! apa yang kau ingin kau lakukan padaku? hal apa lagi yang ingin kau lakukan untuk menambah kehancuran diriku ?",
"tenang dulu,Zarina. tenang dulu,kumohon,dengarkan baik - baik,Zarina....",
"katakan saja semuanya,aku tahu banyak hal yang mengganjal fikiranmu,atau mungkin dirikulah yang menjadi ganjalan fikiranmu hingga kau merasa belum leluasa untuk lebih mencintainya...",
"terserah apa yang kau katakan,yang terpenting aku hanya ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahan dan kekhilafan yang telah aku lakukan selama ini dan memastikan dirimu baik - baik saja...",
"Maaf ?kau pernah melakukannya padaku dulu di Berlin,kau menempatkanku pada keadaan yang membuatku tak berkutik untuk meluapkan amarahku padamu malam itu. entah sulap atau halusinasi apa yang kau buat untukku hingga sekejap berhasil merubah keadaan diriku,kau berhasil menguasai diriku. Salut ! Salut !
lalu,bagaimana dengan makan malam di restoran ibumu waktu itu ?bagaimana dengan apa yang disampaikan Tuan Pegawai KBRI saat itu di hadapan semua orang ?apa kau tidak berpikir bahwa tindakan itu secara tidak langsung mencabik - cabik hati dan perasaanku,diam - diam menghancurkan diriku ?
lalu,bagaimana dengan kemesraanmu yang terang - terang kau tampikan di hadapanku ?apa kau tidak merasa seperti memegang kepalaku dan memaksa mataku terbuka lebar - lebar hanya untuk melihat tindakan yang perlahan menggerogoti batinku ?apa kau setidaknya bisa menjaga dirimu dan janji pada diriku dan pengorbananku ?
kau ingin memastikan diriku terlihat baik - baik saja ?coba fikirkan,bagaimana seandainya kau berada di posisiku saat itu ?bagaimana seandainya aku melakukan hal yang sama dengan pemuda lain di hadapanmu ? apa kau akan merasakan hal yang sama apa yang aku rasakan?akan
seberapa hancurkah perasaanmu ?
kau melakukan semua itu di belakangku bahkan secara tanpa tahu malu di hadapanku kemudian kau berpikir aku akan baik - baik saja ?bagaimana bisa kau berkata padaku bahwa aku ini tak lebih baik dari seorang musyrik,hanya dengan sulit memaafkan dirimu ?kau dengan ringannya mengataiku seorang Musyrik ?
lalu untuk apa aku menjaga perasaan dan cintaku hanya untukmu selama empat tahun kalau hanya untuk kau sia - siakan,kemudian kau hancurkan perasaanku dengan mengalihkan dirimu pada gadis lain ?apakah selama itu kau hendak mengajariku menjadi seorang musyrik,mengarahkan diriku pada tindakan yang syirik dengan menanamkan kebencian padaku setelah mendapat penghianatan darimu ?
kau ini manusia masih memiliki iman dan mengaku hamba Tuhan,tapi entah kenapa kau dengan mudahnya terpedaya oleh Syetan ?",
"Cinta,Zarina. godaan terbesar dan ujian terberat manusia,aku benar - benar tidak berdaya saat itu,keadaanku sangat rumit....",
"Cinta memang ujian terberat manusia,tapi setidaknya dia tidak lupa pada Janji dan kesetiannya,Julian. kau seolah - olah lupa untuk memegang dan menjaga semuanya dengan erat hingga kau khilaf.....",
"aku yakin kau berhasil melakukan hal itu ?",
"aku berhasil tapi aku tak mendapat apa yang aku inginkan,aku hanya mendapat penghianatan....",
"Maafkan aku Zarina,maafkan aku...",
"kau bermaksud bahwa ini adalah maaf yang terakhir kali untukku...",
"katakan padaku apa yang akan terjadi denganmu jika hal ini benar terjadi padamu ?",
"aku hanya ingin bertanya padamu apa gunanya hidupmu jika takdir mengubahmu menjadi seorang Kafir ?",
"apa maksudmu ?",
"kau ini pemuda dengan wawasan cinta yang begitu luas hingga mampu menaklukkan sekian banyak wanita. apa kau tidak berpikir bahwa cinta itu sama hal nya dengan iman?
Allah menciptakan Seorang Manusia dengan penuh rasa cinta kemudian Dia menanamkan Iman,yaitu rasa Cinta yang akan senantiasa mengingatkan Manusia itu pada Sang Pencipta. apa kau tidak berpikir seperti itu ?
seharusnya kau tahu Julian,ketika kau menerima ungkapan perasaan cinta dari seseorang,sejak itulah hatimu tertanam Iman dan kepercayaan untuk selalu mengingatnya setiap saat,itulah yang aku lakukan selama empat tahun lalu, menjaga cinta dan imanku hanya untukmu.
dan sekarang kau memintaku untuk mengakhiri semua ini,melepas cintaku,menghapus iman dan kepercayaanku darimu,kau membuatku menjadi seseorng yang gagal,gagal dalam menjaga cinta dan perasaan.
bagiku,bila hidup tak bisa menjaga cinta dan perasaan,ibarat diriku berada di ambang kekafiran. karena cinta bukan sekedar angan - angan. Karena cinta tak hanya Sebatas Rasa. Iman pada Cinta itulah yang akan menunjukkan tentang kebahagiaan seseorang yang telah mendapatkan cinta...",
Semua hal yang dikatakan oleh Zarina untuk Julian ini ketika keduanya berada di Istana Topkapi,Julian sengaja mencuri kesempatan untukmenemui Zarina,namun dengan membekap Zarina sebelumnya.
"Tunggu aku di tempat ini,setelah aku kembali dari Istanbul.....", kata - kata permintaan Julian yang terdengar berselingan namun turu mencabik - cabik perasaan Zarina.
"ketika aku mengatakan aku semakin mencintaimu,apa aku tidak akan mendapat apa - apa darimu ?",godaan Julian saat di kafe waktu itu. kedua mata yang tak kering akan air mata kesedihan yang mendalam.
langkahnya membawa dirinya mendekat pada komplek Masjid Nabawi. sudah tidak ada daya sedikit pun untuk meratap lebih lama lagi dan menahan deraan kekecawaan dan kesedihan atas Penghianatan Cintanya.
sudah tidak perlu memperpanjang waktu untuk berkompromi antara Emosi yang semakin menguasai dirinya dalam kesedihan dan Akal waras yang terus membujuknya untuk menambahan kesabaran.
Kata - kata Ibu farida yang ia dengar kembali berdengung kembali di tengah - tengah kelengahannya kali ini.
"ketika seseorang memintaku untuk mengakhiri hubungan cinta,maka lebih baik aku mengakhiri hidupku sekalian....",sejalan dengan bayang - bayang kehilangan yang terasa lebih menakutkan dari pada bayang - bayang datangnya ajal,Zarina sudah tidak bisa menemukan solusi dan cara lain untuk mengatasi keadaan ini.
Ia terhenti di depan kompleks pemakaman muslim yang tak jauh dari Masjid Nabawi ini. ia benar - benar kehilangan tenaga hingga jatuh berlutut. Sekali tarikan nafas yang terasa tersengal.
Matanya memandang tanah pekuburan yang luas,penuh kesunyian dan ketakutan yang mencekam,namun tak semencekam rasa kesedihan karena kehilangan cintanya.
Ia menyingsikan lengan jaketnya hingga tampak pergelangan tangannya. ia mengeluarkan pisau kecil yang ia ambil dari dapur tadi. dengan tangan yang bergetar dan hati yang tiada daya dan telah terputus asa,Ia memejamkan mata seraya dengan mantap menyayatkan pisau ini ke pergelangan tangannya. Ia hendak memotong Nadinya untuk segera mengakhiri hidup dan penderitaannya.
ketika telah terjadi satu sayatan yang belum bisa mengucurkan darah,tiba - tiba seseorang hadir dari belakang dan mencengkram tangannya. Ia pun berontak dan tetap nekad untuk memotong nadi di tangannya. Orang yang hadir itu pun melakukan perlawanan dengan menarik tangan itu,mencegah tindakan.
"HENTIKAN !!Zarina, hentikan !!",Zayn menarik tangan kanan Zarina.
Namun,Zarina tetap memperkuat tangannya untuk melancarkan tindakannya memotong nadi di tangannya. Zayn pun tetap mencegah Zarina. terjadi pergolakan kecil di depan Kompleks pemakaman islam di waktu menjelang subuh semakin mendekat.
"Lepaskan !!!Lepaskan !!!biarkan aku melakukannya...sudah tidak ada gunanya hidup untuknya !!", Zarina berusaha menghujamkan sikunya ke dada Zayn dengan keras. Namun Zayn tetap bersikeras.
"Tidak Zarina,tidak jangan lakukan itu....", Zayn menahan rasa sakit akibat perlawanan Zarina sementara matanya tetap tertuju pada pisau yang tak terarah.
"Lepaskan! lepaskan ! ....", Zarina semakin ganas melakukan perlawanan.
Zayn pun tak kalah menghadapi Zarina. pergolakan yang memakan waktu cuku lama.Zayn terpaksa memukul tangan Zarina hingga pisau itu terlepas dari genggaman Zarina. Zayn berhasil menguasai kedua tangan Zarina.
Zarina tak berhenti berontak. Ia seperti seseorang yang tengah kesurupan. dalam hati Zayn tidak kuasa melihat keadaan Zarina seperti karena menanggung penderitaannya.
"lepaskan ! lepaskan ! lepaskan ! biarkan aku mengakhiri semua ini...",
"Astaghfirullah hal 'adzim.... La ilaha ilallah....",Zayn memekikkan kalimat Istighfar dan Tahlil di hadapan Zarina kali ini,Ia terus mengucapkan kalimat ini untuk menenangkan Zarina. namun,Zarina tak kunjung tenang.
"Astaghfirullh hal'adzim..La ilaha ilallah...",Zayn tanpa pikir panjang memegang kepala Zarina dan berusaha menatap mata Zarina,ketika Mata Zayn berhasil memegang tatapan Zarina,Zayn tetap melafalkan kedua kalimat itu.
perlahan Zarin pun tenang. ketegangannya pun menurun. ia berhenti berontak saat mendengar Zayn mengucap di hadapannya. hingga pandangannya benar - benar melihat wajah Zayn yang ada di hadapannya, Zarina pun terdiam.
Mata Zayn berkaca - kaca. Ia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Zarina.
"Rabbana laa tuzigh Qulubanaa ba'da idz hadaitana wa hablana mil ladunka rahmah,innaka antal wahab (Q.S. 3 :8)....", dengan bibir yang bergetar Zayn membisikkan salah satu Ayat Al Qur'an itu tiga kali,di sambut Azan yang berkumandang dari arah Masjid Nabawi.
Suara Azan yang menggetarkan jiwa Zarina. Zarina memandang wajah Zayn cukup lama. kemdian Zarina pun memecah tangis di hadapan Zayn. badannya hendak jatuh sekali lagi karena tak berdaya namun Zayn segera menangkap badan Zarina.
Zarina,sekali lagi,menumpahkan kesedihannya lewat tangisan.
Zayn ingin menenangkan Zarina dengan mengusap kepalanya,namun tidak bisa,ia tampak menahan tangan dan perasaannya. Nurani Zayn pun menggerakkan tangan Zayn melakukan apa yang ingin ia lakukan,inilah saatnya yang tepat.
Zayn mengusap kepala Zarina.
di sela - sela tangisnya Zarina merasakan usapan ini. ia berhenti menangis dan melihat Zayn. Zayn menggeleng dan menunjuk Masjid Nabawi bermaksud datang ke Masjid untuk melaksanakan Sholat maghrib. Zarina pun mengangguk.
Masuk ke pelataran Masjid Nabawi,Zarina merasakan Atmosfir yang luar biasa. Ketenangan dan kedamaian yang terasa ketika ke mana pun mata memandang. Cahaya lampu yang membuat suasana Masjid tampak bersinar seperti menciptakan seberkas cahaya dalam hatinya,cahaya yang menerangi seluruh hatinya.
Ia melihat orang - orang yang bergegas masuk ke dalam masjid,terasa semangat untuk menjemput Rahmat Allah, mengambil tempat untuk berhadapan dengan Tuhan, dan kembali pada Jalan yang lurus dan terang.
hingga matanya menangkap seorang perempuan renta yang melaksanakan sholat sunat dua rokaat diluar masjid,hati Zarin tersentuh dan tak kuasa menahan harunya,ia malu dan sadar di hadapan Perempuan renta itu. dalam keadaannya yang tak lagi kuat itu,ia tetap berusaha untuk sujud dan rukuk meluangkan waktu sejenak untuk menyapa Tuhannya,Allah Subhana wa ta'ala.
lalu bagaimana dengan dirinya,hanya meratap dan merasa putus asa hingga gelap mata mengakhiri hidupnya dengan tindakan yang sia - sia.
Zarina pun menangis hingga menjatuhkan badannya dan bersujud. Zayn juga tersentuh melihat apa yang Zarina lakukan hingga meneteskan air mata. ketika manusia telah kehilangan daya untuk menghadapi ujianmu,maka ingat dan kembalilah pada Tuhanmu,Allah Ar Rahman.
Zayn dan Zarina ikut melaksanakan Sholat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi. setelah selesai,Zayn mengajak Zarina kembali pulang,namun Zarina menolak. Zarina ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi di masjid ini,ia ingin merasakan ketenangan dan kedamaian yang ada di Masjid ini. Zayn pun menuruti Zarina.
Langit sebelah timur mulai menampakkan warna kuningnya pertanda Matahari akan segera terbit,namun Zarina masih ingin duduk di pelataran Masjid dan tetap memandang ruangan Masjid Nabawi dari luar.
perlahan jemari Zayn meraba jemari Zarina. Zarina melihat Zayn seketika,sontak Zayn pun menarik tangannya dan membuang muka. Zarina tetap menatap wajah Zayn dari samping.
"kenapa kau melakukan hal ini padaku ? kenapa kau mencegahku ? kenapa kau bersikeras menahanku ?kenapa kau melakukan itu ?",kata - kata Zarina terasa berat ",
tidak ada gunanya lagi aku hidup,tidak ada lagi gunanya aku hidup jika aku akan tetap kehilangan apa yang sudah aku pelihara dan jaga selama ini.
semuanya sudah berakhir,semuanya telah hilang dariku,semuanya....",Zarina menghela nafas dan matanya kembali basah", telah menghancurkan diriku. aku tidak mendapatkan apa - apa dari pengorbananku kecuali rasa sakit dan kecewa yang merongrong hatiku,aku sudah menepati janjinya,namun ia tak melakukan hal sebaliknya.
Cinta tak hanya sebatas rasa,cinta hanya fatamorgana,datang membawa kesenagan fana namun hilang membawa kekecewaan dan penyesalan. bagiku hidup dengan berpura - pura bahagia tidak ada gunanya,lebih baik aku hilang juga seperti fatamorgana tanpa ada meninggalkan jejak kekecewaan dan penyesalan.
aku ingin melakukannya,namun kenapa
kau lancang dan memberanikan diri menggagalkan semua ini?katakan apa yang kau mau ?"Zarina mulai terisak - isak",katakan apa yang kau mau ? katakan apa yang membuatmu melakukan hal itu,itu di luar wewenangmu terhadapku ?",
Zayn tersenyum dan menggeleng,kemudian menatap kedua mata Zarina dengan tatapan yang sulit dielakkan " Cinta bukan fatamorgana,bila cinta itu fatamorgana untuk apa kau hidup memohon sebuah cinta dihadapan-Nya bahkan kau menghabiskan selama sekian waktu untuk menjaganya ?
cinta tak hanya sebatas rasa,untuk apa kau melakukan hal - hal bahagia atas dasar cinta ?bukankah kegembiraan dan kebahagiaan kau ciptakan atas dasar rasa cinta ?",
Pertanyaan Zayn membuat Zarina tercengang.
"untuk apa aku mencegahmu,menahanmu dan menggagalkan tindakanmu? Kumohon dengarkan perkataanku,perlu kau tahu tentang hal ini,tentang apa yang sebenarnya ada dalam hatiku,dengarkan baik - baik.
kau sudah melihat sendiri dengan kedua matamu bahwa aku telah kehilangan Seseorang yang sangat aku cintai,yang aku harap bisa menemuinya,namun tidak kenyataannya,aku tida bisa menemuinya,dia telah pergi sebelum aku bisa menemuinya langsung dan menatap wajahnya,merasakan kasih sayang dan cintanya,sayangnya hanya dengan pusaranya....",kata - kata Zayn yang pelan ini membuat Zarina terbelalak",dan atas dasar inilah aku melakukan tindakan untuk mencegahmu,menahanmu dan menggagalkan rencanamu.
perlu kau tahu,jujur dari dalam hatiku,aku melakukan itu semua karena aku tidak ingin kehilangan satu orang lagi yang sangat aku cintai,orang yang sangat aku kasihi.....",kata - kata Zayn membuat Zarina terkejut", kumohon mengertilah,jujur,aku sudah kehilangan Ibuku,sebagai orang yang sangat ingin aku temui dan aku cintai,dan sekali lagi...",jemari Zayn meraih jemari Zarina", aku tidak ingin kehilangan seseorang yang aku cintai,sangat aku cintai....",
Seperti Matahari yang terbit ufuk timur itu,muncul dan siap menyinari dunia dengan kehangatannya. Seperti Ayat - ayat Kitab Suci yang terdengar dilantunkan dari setiap menara masjid ini,menyusup dalam hatinya dan memberi kehidupan baru. Seperti Kuncup bunga yang siap merekah,berwaran dan memberikan keindahan yang terasa dalam hatinya,demikianlah kata - kata Zayn yang didengar secara langsung oleh Zarina di pagi ini.
Mata Zarina bergetar. ia tidak menyangka selama ini Zayn diam - diam memendam rasa cinta padanya. dan pada keadaannya yang terpuruk kali ini,barulah Zayn mengungkapkan semua isi hati dan perasaan padanya.
Zayn mengatupkan tangan Zarina dan menundukkan kepalanya ke hadapan tangan Zarina.
"Mungkin kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kau cintai sebelum kau sempat menyampaikan perasaanmu padanya ?",
kali ini Zarina menangis terharu menyaksikan Zayn mengungkapkan perasaan padanya. Zarina pun melepas tangan Zayn. Zarina memegang wajah Zayn dan menengadahkannya. wajah yang penuh harap dan mengisyaratkan harapan baru untuk Zarina.
"Ibarat Janin yang gugur sebelum merasakan hak hidupnya di dunia,terlahir merasakan nafas dalam hidupnya. terasa lebih menakutkan daripada mendapatkan sebuah kegagalan karena setelah merasakan kesusah payahan.
kau tidak akan mendapatkan hal itu,kau tidak akan kehilangan cintamu,kau akan berdiri dan menyaksikan seseorang menemui dirimu dengan segenap rasa cinta yang sama untukmu. kau tidak akan mendapat bayang - bayang ketakutan kehilangan cintamu,karena ia akan datang padamu. sambutlah dia dan jemputlah cintanya,katakan cinta tak hanya sebatas rasa,rasa yang memberimu angan - angan belaka...",
Zayn tersenyum dan menyibak rambut yang ada di kening Zarina.
"Baiklah,dan pagi ini di Madinah,aku akan menyambut datangnya Cinta,cinta hanya untuk diriku saja,dan akan kukatakan cinta tak hanya sebatas rasa....",Zayn melepas syalnya kemudian menjadikan kerudung untuk kepala Zarina. Zarina tersenyum di sela - sela tangis harunya",dan melihat perasaan yang sama akan tersatukan untuk selamanya...", perlahan Zayn mencium kening Zarina.
Hawa dingin Madinah yang belum juga hilang,Zarina pun memeluk tubuh Zayn untuk mendapatkan kehangatan dan rasa cinta sesungguhnya. Zayn pun mengajak Zarina beranjak dari pelataran Masjid Nabawi.
Di kota Madinah pagi ini,pagi yang menjadi saksi pengungkapan perasaan cinta,hati yang tumbuh rasa cinta,Zayn yang menjemput cinta Zarina.
Love Mubarak,Madinah....
***
Beberapa Tahun kemudian....
"Tunggu aku di tempat ini setelah aku kembali...",itulah kalimat yang tertulis di pesan yang ada di handphone Zarina kali ini. Ia pun melangkah menuju tempat yang ia maksud.
Masih dengan Suasana yang sama,Ketenangan Halaman Benteng Vredeburg dengan pohon - pohon Kamboja membuat pemandangan yang asri. Suara kliningan becak bersahut - sahutan menyambut pagi yang hangat saat ini.
sekali lagi,Kursi hitam yang panjang itu,tempat bersejarah bagi Zarina,menjadi salah satu bagian kisah hidup Zarina,saksi bisu yang tak akan pernah terlupakan,Kenangan yang tak akan segera hilang.
Cinta tak hanya Sebatas Rasa,CInta tak seberat saat melewati satu perpisahan,Cinta itu indah saat terjadi sekali lagi pertemuan,Cinta tak seindah mendapat mendapat penghianatan,Cinta tak semenakutkan rasa kehilangan,Cinta yang selalu ada di berbagai suasana dan perasaan.
Zarina sudah tiba di dekat kursi itu,namun ia terhenti ketika ia melihat seseorang yang duduk di sana,seseorang yang tak asing baginya,seseorang yang tak akan hilang dalam ingatannya,seseorang yang mungkin sudah tidak memelihara perasaan untuknya,Julian.
Julian merasakan kedatangan seseorang. Ia
melihat kanan kirinya. Ia melihat Zarina beberapa langkah darinya. Zarina melihatnya. Ia pun berdiri. Ia mendekati Zarina.
Senyum yang selalu menyapa"Zarina....",panggil Julian agak pelan dengan sikap yang tenang.
"Julian....",Zarina yang berusaha membalas senyuman Julian.
"Apa kabar ?apa yang kau lakukan di sini ?",
''kabarku baik",kali ini Zarina tak membawa koper biolanya,"aku sedang menunggu seseorang. dia memintaku untuk menunggunya di sini,dan ternyata kau ada di sini,sudah berapa lama kau di sini ?", Zarina tak ingin menampilkan kesan groginya di hadapan Julian.
"belum terlalu lama,aku baru saja jalan - jalan dari Alun - alun kemudian duduk di sini..",
"sendirian ?lalu Yunia di mana ?",tanya Zarina
Julia terdiam sejenak dan menengadah,Ia menggeleng.
"Yunia,dia sudah tenang berada di sisi-Nya,"Julian menunjukkan tangannya ke arah langit",Allah lebih menyayanginya hingga Dia mengambilnya dariku",Mata Julian berkaca - kaca...",
Zarina tercengang dan membuang muka sebentar"Apa yang terjadi padanya,Julian ?",
"dia mengalami pendarahan hebat saat melahirkan Putraku hingga nyawanya tak bisa tertolong,tidak ada donor dengan golongan darah yang sama waktu itu. yah,itulah yang harus terjadi padaku,namun aku bersyukur,Putraku selamat dan kini Ia bersama kakek dan neneknya di Istanbul...",
Zarina berempati mendengar cerita Julian", aku turut berduka cita padamu....",
"emh...",Julian tersenyum sambil
membuang muka ",Oh ya,ngomong siapa yang kau tunggu ?apa masih lama kedatangannya ?",
"Ah tidak,sebentar lagi dia...",
Lalu,datang Seorang Gadis kecil langsung meraih tangan Zarina",Bunda.....",Anak kecil itu memanggil Zarin'a. Julian melihat kedatangan Gadis kecil itu dan seseorang di belakangnya.
"Safira ?Uh,kau membuat Bunda menunggu agak lama...",Zarina jongkok membelai Safira,Putrinya.
"Maafkan Safira,Bunda. O ya,baru saja aku melewati ujian yang diberikan Ibu Lilian,Bunda tahu,Ibu Lilian menyuruhku bermain piano,dan aku menunjukkan pada Ibu Lilian seperti apa yang Bunda ajarkan padaku....",Safira tampak begitu bersemangat.
"dan hasilnya?",
"Ibu Lilian mengatakan menakjubkan,dia berkata padaku namun aku belum tahu maksudnya Bunda...",
"apa yang ia katakan padamu,Fira ?",Zarina mengusap kening Safira. Julian terus memandang wajah Zarina.
"Ibu Lilian bilang jika permainan pianomu menakjubkan seperti ini,bisa saja kau menemani ibumu menjadi personil utama symphoni cinta orkestra,Ibu Zarina pandai bermain Biola,Safira pandai bermain Piano dan Ayah Zayn yang akan menjadi konduktor kalian...",
Zarina tertawa di hadapan Putrinya.
"intinya permainan biola kamu bagus dan pantas menjadi salah satu personil di orkestra milik Kakek Buyut. Wow,Safira ini hal yang luar biasa untuk ukuran anak seumuran dirimu...",
"Benarkah Bunda ?",
Zarina mengangguk kemudian melihat Julian yang termenung melihatnya.
"Ayah,Ayah,benarkah apa yang dikatakan Bunda ?", Safiran mendatangi Ayahnya,Zayn.
"Benar,Sayang...",Zayn membelai kepala putrinya dengan lembut
Safira pun berjingkrak kegirangan. Safira menarik tangan Zayn mendekati Zarina.
Zayn melihat keberadaan Julian,ia mengangguk pada Julian sebagai ungkapan salam. Julian membalas sapaan Zayn dengan canggung.
"Bunda,dengarkan Safira...",
"Ya sayang...",
"hari ini ulang tahunku bukan ? tadi aku memberi tahu Ayah kalau aku ulang tahun,dan aku meminta Ayah untuk membelikan kado,namun Ayah malah berkata padaku begini 'Ayah tidak akan memberimu kado saat ini,
tapi Ayah akan mengajakmu ke beberapa tempat di Eropa bersama Kakek Hasan,Nenek Isna dan Paman Ja'far",mendengar ocehan Safira,Zarina terus tertawa bersama Zayn", Apa maksud ayah ini,Bunda ? kalau saja aku memberi tahu paman Ja'far dan meminta kado padanya,pasti ia akan memberiku kado...",
"Emh....",Zarina membelai pipi safira", Bunda yang akan memberimu kado nanti,sayang. jangan meminta pada Ayahmu...",
"Bunda ?!',Zayn menyiku lengan Zarina. Zarina menyenggol Zayn.
"Bunda akan memberimu kado tapi bukan hadiah atau boneka ",
"Apa itu Bunda ?Apa itu ?pasti bagus sekali...",
Zarina melirik Zayn. Zayn mengangguk.
"kau belum tahu kan ?Ayah Zayn akan memimpin konser di Opera House Sydney ?",
"belum Bunda ,lalu ?",Safira menggaruk kepalanya
"Ayah dan Bunda ingin membawamu tampil di panggung Opera House Sydney,Bunda akan mendampingi mu bermain piano dan Ayah Zayn akan memberi tahu semua orang di Sydney bahkan seluruh dunia,dia akan berkata 'Inilah Putri kesayanganku,Pianis kecil Symphoni Cinta...'
kau akan melakukan seperti yang Bunda lakukan saat Bunda pertama kali konser di Berlin,Jerman dulu. di usiamu yang masih kanak - kanak kau akan mendapatkan konser pertamamu di Sydney nanti,Luar biasa...",
"benarkah Bunda,Ayah ?",tanya Safira bersemangat.
''benar sayang...",jawab Zarina menyelipkan rambut Safira ke telinganya. Zayn mengangguk untuk meyakinkan putrinya.
Safira pun melonjak kegirangan. Ia memeluk Ayahnya penuh kasih sayang. sejenak kemudian Zayn dan Zarina beranjak dari tempat itu. keduanya sempat menyapa Julian yang sedari tadi mengamati keluarga kecil ini.
Julian tidak menyangka Zarina akan menjadi pasangan hidup Zayn,bahkan keduanya menikah dan mempunyai Putri.
Julian tak beranjak dari tempat itu,tak melepas pandangannya pada badan Zarina. sesekali ia mendapat senyum Zarina ketika Zarina melempar senyum pada Zayn dan putrinya.
sedikit penyesalan dalam hatinya,penyesalan yang membuatnya berkata dalam hati.
"Apa yang telah terjadi di hidupku ini ?sejatinya ini sebuah takdir,tidak ada yang patut disalahkan,sebenarnya masih ada rasa ini dalam hati yang paling dalam untuknya,dia,dia yang menderita karena penghianatan dariku dulu kala. apakah aku salah mengambil keputusan ?
sepertinya tidak,namun tetap memelihara perasaan untuknya sepertinya tidak masalah. setiap orang berhak mempunyai cinta,meski sebatas rasa.
Cinta pertama,cinta pada melodi pertama,Zarina,andai saja kau tahu tentang perasaanku,rasa ini masih ada dalam hati hanya untukmu,cinta masih ada untukmu,meski hanya sebatas rasa. cinta,tak bisa memiliki namun masih memelihara rasa dalam hati.
andai kau tahu,inginku mencintaimu,meski Sebatas Rasa...",Julian mengedipkan matanya,menghilangkan kaca - kaca pertanda hati yang sedikit merana. Ia menghela nafas.
Julian meninggalkan tempat itu. Ia akan kembali pada harapan baru,Putranya yang ada di Istanbul. sekali lagi,sebelum meninggalkan tempat ini,Ia berbalik dan melihat wajah Zarina, masih Ia dapat di ujung pandangannya.
Sebatas Rasa
Dunia Di kala Fajar
Fajar Adi,,,
Mereka tiba di Bandara Madinah saat pagi,di sambut Matahari terbit yang memberikan cahayanya yang hangat. Suasana lain yang terasa di Bumi Para Khalifah ini,Tanah Yatsrib tempat di mana Badan Insan paling Mulia yang pernah hidup di atas muka bumi ini,Uswatun Hasanah,Rasulullah,Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam bersemayam.
Pertama kali menginjakkan tanah Madinah,Zayn merasakan hawa tersendiri. Ia menghirup udara segar Madinah pagi ini,dan berbisik Kalimat takbir. Langit yang biru dengan awan - awan kecil berarakan seakan - akan menyampaikan Salam dan sambutan untuknya.
senyum bahagia dengan menebarkan pandangan ke seluruh arah. Ia sudah tidak sabar untuk menemui seseorang. seseorang yang sudah lama ia dambakan ,sudah lama impi - impikan. Seseorang yang telah memberi hidup padanya. Sosok yang Ia cintai namun Ia belum pernah menemuinya,Ibunya tercinta.
Kakek farhat segera mengajak Zarina dan Zayn ke suatu tempat. wajah semangat Zayn sedikit memberikan tenaga untuk kakek Farhat. sementara Zarina tampak sedikit lebih baik. Ia berjalan dengan tenang,tanpa berbicara pada Zayn sesekali.
Di suatu tempat rumah,yang berada tak jauh dari komplek Masjid Nabawi,rumah yang cukup besar. Masuk ke dalam rumah,ruang tamu dengan suasana yang tenang,sofa dan meja yang seluruhnya berwarna putih dan emas,dinding berwarna coklat muda dengan hiasan kaligrafi di beberapa sisi.
Tampak dua orang wanita paruh baya sedang bekerja,satu orang sedang membersihkan dan menyapu lantai ruangan keluarga,tampak di atas televisi layar datar itu terpajang foto sebuah keluarga,ada satu foto kakek Farhat di situ.
Satu wanita lain sedang sibuk membuka tirai dan jendela agar ruangan mendapat sinaran cahaya matahari di dalamnya.
Lalu,pintu terdengar diketuk,terdengar seseorang mengucap salam. segera wanita yang menyapu tadi membuka pintu dan menyambut siapa yang datang. sementara itu,Seorang wanita yang lebih muda,si pemilik rumah ini muncul dari ruang makan.
"Bibi Zubaida,siapa itu ?siapa yang datang ?",tanya si tuan rumah ini,dialah Fatimah,Putri kedua dari Kakek Farhat,sekaligus Bibi Zayn.
Fatimah terhenti dan terkejut saat melihat Ayahnya datang.
"Masha Allah,Alhamdulillah.....",Fatimah segera menyambut Kakek Farhat
"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh....",Kakek Farhat mendekati
Fatimah,
"Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh...", Fatimah segera mencium tangan Kakek Farhat",selamat datang Ayah,akhirnya kau datang ,aku bahagia sekali",Mata Fatimah melihat dua orang pemuda,satu laki - laki dan satu perempuan. Zarina menganggukkan kepalanya sebagai tanda salam,Zayn juga mengikuti Zarina",dengan siapa ayah datang kali ini ?dua orang anak muda ?siapa mereka ?",
"Oh,perkenalkan",kakek Farhat menarik tangan Zarina dan mendekatkannya pada Fatimah",dia adalah Zarina,salah satu personil utama Symphoni cinta orkestra,dia menjadi bintang baru di Berliner Philharmoni kemarin,"Zarina tampak tersipu malu mendengar pujian ini.
Zarina menjabat tangan Fatimah dan saling berkenalan. Lalu,pemuda berikutnya,fatimah mengamati betul siapa dia,
"Lalu,Pemuda ini siapa Ayah ?Pemuda ini tampan sekali,Astaghfirullah,aku hampir saja terlena dan khilaf",tanya Fatimah tampak gugup.
Mata Kakek Farhat berkaca - kaca melihat Fatimah,Ia melihat foto seseorang di sebelah foto keluarga,yang terpajang di atas Televisi tadi. Kakek Farhat meraih tangan Zayn dan Fatimah. Kakek Farhat mengajak keduanya mendekati foto yang baru saja Ia lihat.
Fatimah tampak kebingungan,sesekali Ia melihat wajah Zayn. terlintas sedetik kemudian satu prasangka dalam benak Fatimah,apakah dia ?. Kakek menghadapkan Zayn ke foto Ibunya,Farida.
"Zayn...",
"Iya,kakek...",
Fatimah terkejut saat mendengar pemuda ini memanggil kakek pada Ayahnya.
"sekarang,barulah,kau bisa melihat foto ibumu sedekat ini,kau bisa melihat wajah Ibumu sedekat ini",Kakek Farhat mengambil foto itu",kau bisa melihat senyum ibumu lewat foto ini sedekat ini,"Ia menyerahkan foto itu pada Zayn. Mata Fatimah membasah dan menggeleng, seakan tak percaya siapa yang ia lihat",di rumah ini...."
"Allahu Akbar...Allahu akbar...Allahu Akbar...",teriak Fatimah mendekati Zayn dengan cepat,"Allahu Akbar...kau...kau...kau...",Fatimah merebut foto kakaknya dari tangan Zayn,Zayn terhenyak. Fatimah langsung mengusap Wajah Zayn",habibi...habibiku...",Fatimah melihat sekujur badan Zayn",kau habibiku,kau....Masha Allah....Ya benar ,kau habibiku...",Fatimah langsung memeluk Zayn dengan rasa bahagia dan syukur.
Fatimah menangis terharu dipelukan keponakan laki - lakinya itu.
Zarina tampak terharu menyaksikan Pertemuan ini.
"Ayah,lihat,kau sudah membawa habibiku,dia habibiku...terima kasih,Ayah. terima kasih,kau sudah berhasil menemukannya,Alhamdulillah...",
Kakek farhat mendekat",Namanya Zainal,fatimah. Habibi Zainal...",
Fatimah memandang Zayn sekali lagi.
Beribu rasa bahagia dan syukur Ia panjatkan dalam hatinya. Fatimah meraih tangan Zayn.
"Mungkin kau bingung kenapa aku memanggilmu habibi pemuda ?",tanya Fatimah dengan wajah yang basah
Zayn tersenyum dan menggeleng"Mungkin anda sangat menyayangiku,dan sangat menanti kedatanganku,Bibi..."
Fatimah serasa ingin bersujud syukur saat mendengar pertama kali keponakannya memanggilnya Bibi. Fatimah menyerahkan foto kakaknya pada Zayn.
"Habibiku telah datang,dia pemuda yang gagah dan juga tampan. Habibiku telah datang,dia pasti pemuda sholeh dan berakhlak karimah. habibiku telah datang,dan kebahagianku telah datang. Mari Anakku,aku sangat menunggu kedatanganmu,rumah ini anggaplah seperti rumahmu sendiri...", Fatimah mengajak
Zayn melihat seluruh ruangan.
Lalu muncul seorang pemuda dari satu kamar. Ia melihat kehadiran seseorang,kakek farhat. Pemuda itu mendekatinya.
"Assalamu'alaikum...", terdengar seseorang mengucap salam padanya dari belakang. Kakek Farhat berbalik dan melhat.
"Wa'alaikumsalam,Oh,kau sudah bertambah besar dan beranjak dewasa juga,rupanya...",
Kakek farhat memeluk Pemuda itu,Anak pertama Fatimah.
"Tentu,kakek. Alhamdulillah,kakek bisa datang ke sini lagi...",
"kali ini aku datang membawa
seseorang,Zaki. coba lihat,siapa yang bersama Ibumu itu ?",kakek Farhat menunjuk Fatimah dan Zayn. Zaki melihat pemuda yang bersama ibunya.
"Siapa dia kakek ?",
"Kakakmu,Zaki ",
"kakak ?Oh,apa dia Anak Ummi Farida,kakek ?",
"benar,ayo temui dia...",
Kakek Farhat bersama Zaki mendekati Fatimah. fatimah melihat Ayahnya dan Zaki mendekat. kebahagiaan Fatimah bertambah saat melihat pertemuan dua pemuda bersaudara ini. Fatimah menyatukan tangan Zayn dan Zaki.
"Ummi..",
"ya,anakku...',
"apa dia kakakku ?",
"kakekmu pasti sudah memberitahumu...",
"Ummi..",
"Ya,anaku..",
"kau pasti juga menyayangi,kakakku,sama halnya kau menyayangi diriku ?",
"dan,aku katakan sekarang,aku mempunyai dua anak muda yang sama tampan dan gagahnya...",
"Ummi...",
"ya anakku..",
"aku belum menyambutnya,bagaimana ?'",
"berhentilah memanggilku dan cepat peluk kakakmu.",kata Fatimah menyuruh Zaki memeluk Zayn,Kedua ini pun berpelukan dan saling berkenalan", Subhanallah,beginikah suasananya saat Benyamin bisa bertemu kembali dengan Yusuf saat itu ?".
***
Saatnya makan siang...
Kakek Farhat sudah bersama Zayn,Zarina,Zaki dan kedua adik perempuan Zaki di ruang makan. Fatimah bersama kedua pembantunya muncul dari dapur membawa menu makan siang dan menyajikannya di atas meja makan.
Fatimah membuat menu khusus masakan khas Jogja yang sangat digemari oleh Ayahnya.
sementara Zayn tampak tidak tenang,dia menebarkan pandangannya ke berbagai sisi ruangan. Ia seperti mencari keberadaan seseorang. Fatimah hadir di samping Zayn dan membelai tengkuk Zayn.
"perjalanan dari Turki pasti sangat melelahkan dan menguras tenaga ",Fatimah mengambilkan Nasi ke piring Zayn beserta lauknya",aku bisa merasakannya pada dirimu,Ayah dan Zarina.
aku membuat menu masakan khusus ini supaya bisa mengembalikan tenaga dan menghilangkan lelah. dan untukmu Zayn,aku belum tahu makanan apa yang menjadi kesukaanmu. Bibi hanya bisa menghidangkan sedikit makanan ini,aku harap kau bisa menikmatinya...",
Zayn membalikkan wajah ke bibinya,dan tersenyum"Fa bi'ayyi ala'i robbikuma tukadzdziban,Bibi ? bisa menikmati makanan khas rumah sendiri di negeri orang adalah kenikmatan tersendiri. ini pengalaman pertama dan berharga saat bisa menikmati hasil masakan dari tangan dari bibiku sendiri....Syukron Bibi...",
Sekali lagi,Zayn membuat Fatimah merasa bahagia"terima kasih,Anakku. selamat menikmati...",
"benar,Zayn. Masakan bibimu lah yang paling enak,"Kakek Farhat menyela,Bibi Zubaida melayani Zarina dan Zaki",hal inilah yang membuat aku selalu rindu dan tidak sabar untuk segera pergi ke Madinah...",
Fatimah tersipu malu. Ia mengambilkan makanan untuk kedua putrinya,Zahra dan Syifa.
"Masakan Bibi memang enak",Zayn teringat sesuatu",lalu bagaimana dengan masakan ibu,kakek,Bibi ?....",pertanyaan yang membuat Kakek Farhat dan Fatimah terhenyak kemudian terdiam. Raut muka yang berubah,keceriaan yang hilang."apa Ibu pernah memasak ?dan di mana Ibuku,Bibi ?aku belum melihat dan menemuinya dari tadi...",
Fatimah menatap Ayahnya dengan berkaca - kaca. Tatapan yang menyampaikan isyarat sebuah pertanyaan. Seperti Fatimah menyembunyikan sesuatu hal. Kakek Farhat mengangguk. Fatimah mengangguk dan bernafas lega.
Fatimah ingin memberitahukan keberadaan Ibunda Zayn namun Ia merasa tidak tega. Matanya basah. Ia membayangkan sesuatu hal.
"sebentar Anakku,nanti aku akan mempertemukanmu dengan Ibumu," Fatimah tampak gugup,Ia seperti menahan kesedihan",habiskan makananmu dulu....",Fatimah kembali ke dapur bersama Kedua Pembantunya. Zayn tampak penasaran melihat perubahan Bibinya.
Bibi Aminah melihat Tuannya menitikkan air mata ketika masuk ke dapur. Ia berusaha menghibur Fatimah,Kedua pembantu ini sebenarnya mengetahui keadaan yang terjadi sebenarnya.
Pada siang hari,Fatimah mengajak Zayn dan Ayahnya serta Zarina ke suatu tempat. Kompleks pemakaman yang berada tak jauh dari Masjid Nabawi. Zayn merasa heran kenapa bibinya mengantarnya ke tempat pemakaman. terlintas prasangka tidak baik di benaknya,dia tercengang.
bagai Jiwa yang serasa melayang beserta daya hidupnya,bagai ruh yang diambil dari jasad di kala sakaratul maut,bagai harapan yang begitu saja sirna,bagai kebahagiaan yang tiba - tiba hilang membuat tatapan matanya buram. badan dengan segenap kekuatan itu seperti lemah mendadak. Zayn berlutut tak berdaya saat menghadap pusara milik ibunya.
Nafasnya tersengal - sengal di tengah udara panas Madinah ini,tangan gemetar yang mengusap nisan yang tertancap di atas pusara itu. Zayn seakan tak percaya melihat kenyataan ini.
"Ibu....",Zayn tak kuasa menahan tangisnya. Ia menggenggam tanah pusara ibunya dan mendekapnya. Kesedihan dan kepiluan yang tidak bisa dijelaskan.
Seumur hidup dia belum merasakan jamahan dan belaian tangan Ibunya sendiri. Seumur hidup dia belum sejenak saja merasakan kasih sayang ibunya. seumur hidup dia tak sebentar saja melihat wajah ibunya secara langsung bahkan senyumnya.
Fatimah mendekap lengan kakek Farhat dan tidak kuasa menahan tangisnya. Inilah hal yang sedari tadi Ia tahan,kesedihan saat Zayn sudah melihat makam Ibunya,kakak kandungnya. Kakek Farhat menghapus air matanya. Zaki hanya menunduk melihat kakak sepupunya meratap di hadapan makam Bibinya. Mata Zarina bergetar menggugurkan tetesan air mata.
Baru kali ini Zarina melihat Zayn sesedih ini. Bagaimana tidak ? Sejak bayi,Ia ditinggalkan oleh ibunya sendiri. Bisa bertemu kakeknya dan keluarganya. kemudian bertemu ibunya,namun hanya makamnya,Zarina merasakan kesedihan yang sama. Kehilangan adalah sesuatu hal yang paling menyakitkan.
Zarina tergerak untuk mendekati Zayn. Ia berlutut di hadapan Zayn. Lelehan air mata yang menguraikan kesedihan ini tampak jelas di mata Zarina. kedua tangannya menjamah pipi Zayn.
Zayn melihat Zarina. Zarina menggeleng sambil menghapus bekas - bekas aliran air mata itu. Ia lebih mendekat kepada Zayn.Zarina merangkul Zayn,ia meraih kedua tangan Zayn dan menadahkan tangan keduanya. Zayn melihat Zarina,Zarina menutup kedua matanya dan menunduk.
"Allahumaghfirli wali walidayya war hamhuma kamma robbayani soghiro....",Zarina mengajak Zayn memanjatkan doa untuk arwah ibu Farida. Zayn pun mengikuti apa yang Zarina lakukan dengan terisak - isak.
Di bawah teriknya Panas matahari ini,di tengah - tengah kompleks pemakaman ini,dan di hadapan pusara Ibu kandungnya,yang sangat ia rindukan,Zayn merasa menjadi Insan yang tak berdaya,kehilangan harapan dan Putus asa.
Tiada daya sudah dalam dirinya,ia hanya bisa pasrah dan tawakal menerima takdir hidupnya. Tak bisa bertemu ibu kandung yang sangat ia rindukan. Zayn tak berhenti terisak - isak.
Air mata terus menetes ketika Ia menunduk. satu kali pada saat itu,ia menumpahkan kerinduannya untuk bertemu pada Ibunya,meski sayangnya pada sebuah pusara.
Tak lama kemudian,Mereka kembali ke rumah Fatimah. Zayn berjalan dengan tatapan mata yang kosong. Yang Ia bayangkan hanyalah Wajah Ibunya yang terlihat di foto di rumah Bibinya. ia membayangkan tawanya,bisikan - bisikan pujiannya,kata - kata yang memanjakannya,dan rangkaian do'a yang tulus dari seorang ibu,seperti orang lain yang masih memiliki ibu yang masih hidup.
Zarina mencemaskan keadaan Zayn. terlintas satu ide untuk menghibur Zayn.Zarina mengambil handphonenya,membuka galeri,dan mencari foto seseorang. Foto Ibu Isna,Ibu angkat Zayn yang berada di Jogjakarta.
Zarina menunjukkannya pada Zayn. Zayn melihat Zarina dengan raut muka yang berat. Zarina tersenyum sambil menggenggamkan handphonenya ke tangan Zayn.
"La Tahzan,Zayn. Innallaha ma anna,innallaha ma anta....kau pasti sangat merindukannya bukan ?", bisik Zarina sedikit memberi semangat",aku akan mengantarmu menemuinya....",
Zayn mengangguk sekali. dan perlahan - perlahan,perasaan dalam hatinya mulai tumbuh dan semakin berdebar kuat dalam dirinya saat Ia menyaksikan Zarina menghiburnya.
***
Malam Hari,ketika Zayn setelah keluar dari kamar tamu yang ditempati Zarina,Ia hendak kembali ke kamar Zaki. Namun,tiba - tiba,terdengar bisikan seorang wanita memanggil Zayn. Zayn mencari siapa yang memanggilnya.
Seluruh ruangan sudah sepi. Paman dan Bibinya pasti sudah tidur.apalagi dua pembantu rumah ini,Bibi Aminah dan Zubaedah. Zayn pun mengabaikannya.
"Zayn....Zayn...Zayn...kemarilah..",bisikan yang terdengar lewat tiupan angin halus yang sampai di telinga Zayn. Zayn berbalik dan melihat sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka.
Ia belum masuk ke ruangan ini,karena Bibinya belum menjelaskan padanya ruangan apa ini. Zayn mencoba masuk ke ruangan ini. Perlahan pintu terbuka,tampak satu meja bundar terletak di tengah - tengah ruangan dengan kursi yang berhadapan.
Tirai jendela yang melambai lemah di tiup angin malam. Cahaya lampu yang sama terang dengan ruangan lain. ada bufet berisi gelas - gelas dan barang - barang lain di sebelah kiri Zayn. ada rak buku yang berisi buku tebal,kitab Al Qur'an dan beberapa lembar kertas yang tersusun rapi.
"Mendekatlah,Zayn....",bisikan ini semakin kuat di telinga Zayn. Ia seperti terhipnotis",kemarilah
Zayn...kemarilah,Putraku....",seperti asal suara ini pada sebuah buku.
Zayn mendekati sebuah buku diari yang ada di ujung rak ini. Zayn mengambilnya. ketika dibuka,ada dua buah buah foto yang dilekatkan di halaman pertama. satu foto Ibunya,farida dan satu lagi foto seorang pria yang ia tidak kenal,namun setelah Zayn amati,wajah pria itu hampir mirip juga dengannya. jangan - jangan,dia ?
Zayn yakin buku diari ini pasti milik Ibunya. Ia membaca halaman berikutnya.
" Awalnya,aku tak tahu apa itu Cinta. Cinta ? Ya,Cinta,tak ada hal lain. Ketika bersatunya tatapan mata. Perasaan yang tersalurkan dari kedua belah jiwa. Rasa bahagia menatap wajahnya setiap masa. Ketertarikan dan rasa ingin tahu sosok dirinya. Sejatinya dia Pria,ku pikir awalnya.
Ketika Hasrat serasa mengguncang jiwa. Ketika Nafsu berkobar dalam jiwa. Mata bagai dibuat buta. Waktu terabaikan jalannya. Ketika dua badan saling berpaduan. Masih ada sedikit keraguan tentang apa itu Cinta.
Berlalu keraguan itu,timbul satu tanya,Apakah seperti ini Rasanya ?Cinta....",
Zayn membuka halaman berikutnya. sejarah kehidupan ibunya di masa lalu,Ia ketahui dari Buku diary itu. Mata Zayn bergetar. Ia berhenti pada sebuah halaman.
" Awalnya hanya Sebatas Rasa.Namun,saat mengikuti perasaan itu,seolah - olah rasa itu menghapus Batas - batas.
Di antara aku dan dia,Hanya Sebatas Rasa. Di antara akal sehat dan Nafsu,Hanya Sebatas Rasa. Di antara Cinta Buta dan Penyesalan,Hanya Sebatas Rasa. Di antara Kebahagiaan dan Rasa sakit tak terlupakan,Hanya Sebatas Rasa.Di antara Kekuatan dan Kelemahan,hanya Sebatas Rasa.
Di antara kenyataan dan Khayalan,Hanya Sebatas Rasa. Di antara Takdir dan Impian,Hanya Sebata Rasa. Cinta,tak semestinya Sebatas Rasa...."
Zayn mulai tahu segala sesuatunya tentang hubungan Ibunya dan Ayahnya. Zayn tahu kenyataan yang terjadi. Entah apa yang ia rasakan kini,sedih,menyesal,putus harapan,marah,semuanya membaur dalam dirinya.
Dari rangkaian kisah Ayah dan Ibu tahunya Zayn tahu statusnya sebagai apa. Ia tidak menyangka. Matanya mulai membasah,Kesedihanlah yang menjadi rasa terakhir ia rasakan setelah tahu bagaimana kisah masa lalu kedua orang tuanya.
Zayn membuka halaman lain. Zayn tertarik membaca sebuah halaman.
"Tidak ada yang salah dengan Takdir hidupku yang digariskan oleh-Nya.Bila aku menjadi insan yang khilaf dan ternoda,pasti Ia akan memberiku Hidayah,karena Dia,Tuhan Yang Maha Mulia.
Tak patut meratap apa yang sudah terjadi. Bila aku terjerumus dalam keadaan hina,pasti Dia akan memberi pertolongan pada Hamba-Nya,karena Dia,Tuhan Maha Kuasa.
Tak mengapa bila nanti hidup berteman malu dan mendengar banyak orang melontarkan hujat. Bila aku menjadi potret manusia paling naas dan terhina di setiap pasang mata mereka,pasti Dia tidak akan rela membiarkanku menjadi Hamba yang terperangkap dalam Kekafiran,karena Dia,Tuhan Maha Suci dan Maha Penyayang.
Bila tiada dayaku dan hartaku untuk membuat penebusan pada sebuah dosa atau kesalahanku,setidaknya, aku tidak akan menghentikan bibirku pada sebuah kalimat,Istighfar....Dia,Tuhan Maha Pengampun,Maha mengetahui lagi Maha Melihat...."
Zayn menitikkan air mata. Ia mengambil foto ibunya dari halaman pertama. senyum dengan berbagai makna.
Bahagia,rindu,sedih,dan rasa kasih. Zayn menggeleng.sampailah Zayn pada lembar terakhir.
"....satu permintaanku,sebelum Engkau memanggilku. Pertemukan aku dengan Anakku,meski sesaat saja. Atau,beritahukan tentang jati diri tentang siapa ibunya padanya. dan sampaikan padanya bahwa aku menyayanginya,sangat menyayanginya....
Inallaha Turja'ul Umr....",
Zayn mencium foto Ibunya dengan air mata yang meleleh di kedua matanya. Zayn memandang senyum ibunya.
"Ibu,bila kau mendengarku,bila ada daya pada dirimu,bila kau tahu,dengarkan permintaanku...Jemput diriku biar aku menyertaimu...aku menyayangimu,Ibu. apa yang kau rasakan,aku rasakan...jemput diriku biar aku menyertaimu,mungkin kebahagiaan kita akan menyatu...",jerit Zayn dalam hati. Zayn terus menangis dan meratap di hadapan foto ibunya sepanjang malam ini.
Hingga habis tenaganya untuk menangis,dan rasa mengantuk berat ia rasakan,Zayn mulai terasa lumpuh dan menyerah. Tapi,sebuah kejadian terjadi,bagaikan mimpi. dalam keadaan setengah sadar,Sebuah Cahaya turun menuju padanya.
Mata sayunya melihat senyum yang kentara di balik cahaya itu,senyum yang sama milik ibunya. Tangan halus mengusap kepalanya. kedua mata sebening permata.Bagai malaikat Jibril sewaktu menemui Rasulullah,apakah Ibunya sedang turun untuk menjawab do'anya ?
"Bu...",panggil Zayn lemah.
"Ya,anakku...",
"apa kau mendengarku tadi ?apa kau mendengar permintaanku tadi?apa kau...",
"Tentu...",
"aku ingin bersamamu,Ibu. ayah sudah meninggalkan ibu. aku ingin menemani ibu...",
"Tidak,sayang. kakek dan Bibimu lebih mengharapkanmu,dan dia...",
"dia ?dia siapa ibu?",
"Cinta,Zayn...",
"Cinta,siapa dia ibu ?",
"cinta,tak semestinya sebatas rasa,dia yang mengharapkan perasaanmu,sayang...",
"ibu bermaksud Zarina ?",
tangan yang membelai dagu Zayn"benar....nyatakan perasaanmu
padanya...",
"Baiklah,lalu bagaimana jika aku rindu padamu Ibu ?",
"tetaplah sepertiku,anakku...beristighfarlah dan memohon pada-Nya,katakan pada-Nya,tentang kerinduanmu padaku,semoga Dia mengabulkan do'amu,Dia Tuhan Maha Kuasa...",
Zayn tersenyum lemah dengan kelegaan dalam hatinya.
"Bu...",
"Ya,anakku...",
"temani aku malam ini,di sini....",
"Baiklah...tutup matamu,ibu akan menjagamu...",
Zayn pun memeluk foto ibunya dan mulai tertidur di atas meja. senyum itu tak kunjung hilang di wajah Zayn.
***
Siangnya,setelah Fatimah menemukan Zayn tertidur di ruangan Kakaknya selalu menghabiskan waktunya,Ia menceritakan riwayat hidup Ibu Zayn selama hidupnya di Madinah hingga meninggal,karena sebuah Penyakit dalam kurun waktu yang lama ia pendam.
Dengan wajah berat Fatimah menceritakan semuanya di hadapan Zarina dan Zayn. Di atas meja ada Buku Diary yang semalam Zayn baca.
"Zahir,nama Ayahmu,Anakku",Fatimah menunjukkan foto yang sama semalam Zayn temukan",Awalnya Ibu dan Ayahmu bertemu di stasiun Jogjakarta ketika Ibumu sedang mengantar kakekmu yang hendak menuju ke Bandung untuk suatu urusan.
Ayahmu dulu pemuda yang selalu berada di stasiun jogja,Ia begitu saja turun bekerja sebagai kuli panggul di situ. Suatu ketika aku pernah melihat Zahir mengantar Ibumu ke rumah pulang dari pasar.
Keduanya sempat berhenti dan berbicara di pagar sebelum berpisah.
Aku pernah menemani Ibumu menemui Zahir. Aku melihat keduanya mulai saling berpegangan tangan,dan bisa kubaca pada keduanya,pasti mereka saling mempunyai rasa suka bahkan mungkin Cinta.
Kau tahu,Zayn. Ayah,Kakekmu sudah menjadi seorang seniman dengan kehidupan yang berada dan elit waktu itu.
Hidup dalam batasan untuk berinteraksi dengan sembarang orang terlebih mereka yang tidak satu level dengan kehidupan kita. Keadaan ini membuat Ibumu selalu diam - diam mencuri waktu untuk menemui Zahir. Ibumu seorang Gadis pemberani dan nekad.
Ia melakukan apa yang Ia mau dengan berbagai cara dan kenekadannya,termasuk Bertemu dan Berpacaran dengan Zahir,Ayahmu. Hingga suatu ketika Ibumu kepergok pacaran di Jembatan Sayidan di suatu malam oleh Paman,Faris ,adek kakek yang sekarang tinggal di Kaliurang. Paman Faris melaporkan hal ini pada Kakek.
Tentu saja,Kakek sangat marah hebat kepada Ibumu waktu itu. Kakek sempat menghukum Ibumu dengan mencambuk Tangan dan Kakinya berulang kali. Ibuku,Nenekmu tidak bisa berbuat apa - apa hanya menangis melihat Ibumu dihukum demikian.
Bibimu Fatiyah membujuk Kakek agar tidak terlalu kejam dalam memberi hukuman dan berusaha menghentikan Kakekmu atas tindakannya hingga Ia bersujud di kaki kakek. Aku mengaku pada Nenekmu menjadi saksi pertemuan Zahir dan Ibumu.
Awalnya,Nenekmu tidak terima,tidak terima kami sudah melanggar aturan rumah dan keteledorannya mengawasi kami,tiga putrinya,namun Nenek akhirnya memaafkan aku.
Aku menyaksikan sendiri ketika Nenek berbicara dengan Ibumu. Kali ini Nenek menyidang dan bertanya banyak hal pada Ibumu. Sebenarnya Nenek juga marah besar pada Ibumu,Zayn. Namun,Ia memaklumi apa yang terjadi,di masa muda hal yang di luar kewajaran pun bisa terjadi.
Ibumu mengaku pada Nenekmu bahwa Ia sangat mencintai Zahir. Nenekmu meminta ibumu untuk mengakhiri hubungan ini,namun Ibumu keras kepala hingga berani berkata 'bila seseorang meminta padaku untuk mengakhiri hubunganku,maka lebih baik aku mengakhiri hidupku sekalian...",",Fatimah menunduk,Ia meneteskan air matanya. Zayn terperangah mendengar cerita ini,Zarina hanya diam",
"merasakan Cinta sama halnya terbakar Api membara,menemui Orang yang kau inginkan dan cintai adalah satu - satunya cara untuk memadamkan Api yang membara itu...
Api Cinta telah membakar Ibumu dengan hebat,Zayn. Seberapa besar kobaran api itu dalam dirinya hingga Ia menjadi Buta karena Cinta aku tidak tahu. Perasaan Cinta hanya Ia yang tahu,sementara aku terus merasa dalam kekhawatiran melihat keadaan Ibumu. Ibumu terpaksa hidup dalam pingitan.
Keadaan ini tidak merubah Ibumu sedikit pun,Jera,kapok,atau pun patah hati seolah - olah hilang harapan tidak terlihat padanya. Sepanjang hari dan sepanjang waktu dia hanya diam dan melamun. Pasti hanya Bayang - bayang Zahir yang hanya ada di Matanya dan menguasai pikirannya.....",lanjut Fatimah,Zarina melihat Foto Ibu Farida yang tersenyum. Ia merasa lika - liku kisah cinta sepertinya sama,tak semulus dan sebaik yang Ia harapkan,ibarat telur sudah di ujung tanduk. Zarina berempati pada Kisah Ibunda Zayn",
Semakin hari keadaan fisiknya memburuk,kurus dan mulai rentan terserang penyakit. Sayangnya,penyakit Tuberculosis menjadi penyakit yang diam - diam di derita ibumu.
Saat Acara lamaranku dengan pamanmu menjadi momen yang tidak akan pernah terlupakan oleh Kami. Saat itu,dengan gelap mata dan kenekadannya,Ibumu berhasil melarikan diri dari rumah. Hari yang berbahagiaku waktu itu menjadi Hari tersial bagi keluargaku.
Nenekmu langsung syok dan jatuh sakit hingga berbulan - bulan. Pencarian yang dilakukan pun tak membuahkan hasil. Kakekmu sempat marah hebat dan mengamuk parah di rumah saat itu. Dan sayangnya,dalam keadaan yang terpuruk saat itu...",Kedua air mata Fatimah mengalir", Ibu,Nenekmu meninggal karena terlalu memikirkan Kepergian Ibumu....",
"Innalillahi wa innaillaihi Roji'un...",Zayn mengusap lelehan Air mata.
"Ibumu datang kepada Zahir,yang pada saat itu sudah menjadi Pemimpin Preman yang menguasai beberapa pasar di Jogjakarta . Bahkan bagaimana pun keadaan Zahir waktu itu tak menyurutkan niat dan hasrat Ibumu,Zayn.
Zahir menerima kedatangan Ibumu dan mereka hidup bersama. Aku sangat terkejut suatu saat berhasil bertemu Ibumu. Aku menangis karena melihat keadaan Ibumu yang jauh tak lebih baik dari terakhir kali ia hidup dalam pingitan.
Aku membujuk ibumu untuk pulang,namun Ia menolak karena sebuah Alasan,sebuah alasan ....",
"Alasan apa itu Bibi ?sepertinya Ibu bersikeras ?",
"Dirimu,Anakku....",
"Aku ?",
"Yah,karena kau lah Ibumu menolak ajakanku,kau saat itu masih dalam kandungan ibumu....",
Zayn menunduk lesu,namun dalam hatinya terasa tercabik - cabik. Ia meratap dalam hati. Fatimah mengusap punggung tangan Keponakannya itu. Zayn mulai terisak - isak.
"Maafkan,aku,Anakku. Maafkan kelemahan Bibimu ini,Sayang. Aku sangat menyayangi Ibumu dan dirimu. Andai saja,Kau bisa lahir di antara kami saat itu,aku tidak akan membedakanmu dan adikmu Zaki sebagai anak kandungmu. Karena aku telah mendapat satu pelajaran berharga dari Ibumu...",
"Apa itu Bibi ?",tanya Zayn mengangkat kepalanya.
"Cinta yang tulus dan Kuat,Anakku. Demi kau dan Ayahmu,Ibumu memberanikan diri melepaskan diri dari kehidupan Keluarganya demi mencari jati dirinya...",
"Lalu,apa yang terjadi selanjutnya ?",
"Sempat tersiar kabar di surat kabar dan televisi saat itu tentang kerusuhan yang terjadi di suatu tempat dan penyebabnya adalah Kelompok Preman ayahmu melawan kelompok lain yang mengacaukan suasana bahkan memporak porandakan pasar waktu itu.
Banyak Aparat yang diturunkan untuk mengatasi kejadian ini. Termasuk,upaya pengejaran Ayahmu dan beberapa teman preman lainnya oleh Beberapa Pasukan Polisi dan Satpol PP.
Malang pun tak bisa dihindarkan,kejadian yang begitu Naas,Ayahmu terpaksa ditembak oleh Polisi - polisi itu tepat di hadapan Ibumu,di depan rumah,tempat mereka tinggal.
Ibumu sangat terkejut hingga syok berat melihat Ayahmu tewas bersimbah darah. Ibumu juga bercerita tentang perdebatannya di malam hari sebelum kerusuhan itu. Ibumu meminta Zahir,Ayahmu untuk berhenti menjadi Preman dan memintanya bekerja sebagai kuli stasiun atau bekerja di sembarang Pabrik.
Namun,Ayahmu menolak keras. Terjadi pertengkaran di masa kehamilan dirimu saat itu. Hingga terlontar kata - kata dari Ayahmu seperti ini "Jika kau sudah tak mau sejalan denganku,atau mau hidup seperti keadaanku,maka kembalilah pada Ayahmu dan Jilatlah ludahmu kembali,Apa kau sudah tidak mencintaiku ?",Ibumu sempat mengalah dan diam,Zayn. Namun Ia benar - benar ingin Zahir berubah,ingin hidup seperti orang lain dengan pekerjaan yang baik dan hasil yang layak.
Untuk menyambung hidupnya sendirian,Ibumu menjadi pedagang Asongan dan menjadi Tukang Cuci panggilan,sungguh keadaan yang di luar dugaan. Seminggu,setelah kematian Ayahmu,terjadi penggusuran tempat tinggal Ibumu dan warga di situ.
Ibumu pun lari dari kejaran Petugas penertiban yang mengejarnya karena ikut melakukan Perlawanan. Hingga Ia sampai di sebuah Masjid dan menumpang hidup di keluarga yang tinggal bersebelahan dengan Masjid...",
"itu rumah Ayah dan Ibu,Bibi...",
"Ayah dan Ibu ?maksdumu ?",
"Pak Hasan dan Ibu Isna,Orang tua Angkatku. Mereka merawat dan membesarkanku bersama Anak laki - lakinya,kakak angkatku,Ja'far...",
"Subhanallah Wal hamdulillah,Anakku. Kau dipertemukan dengan Keluarga yang baik hati dan mulia. Aku sangat ingin menemui Mereka jika nanti aku pulang ke Jogjakarta...",
"Iya ,Bibi. Aku juga sudah rindu pada Ibuku,Ibu Isna. Kakak angkatku bilang kalau Ibu tidur dia selalu memeluk sajadah yang biasa aku pakai sujud dan rukuk...",
"Masha Allah,itu berarti Ia sangat meyayangimu ,Zayn. Kau pun sudah menjadi Seorang Anak yang Sholeh. Aku bangga padamu...",
Zayn tersenyum sambil mengusap air matannya"Emh...apa kisahnya berakhir sampai sini Bibi ?",
"Belum,Zayn. apa kau sudah tenang dan merasa lebih baik sejauih ini ?",
"Alhamdulillah,Bibi. aku bahagia mempunyai seorang ibu yang sangat mencintai ayah dan diriku...",
"syukurlah. Pamanmu mengajakku untuk pindah ke Madinah karena pekerjaannya. aku pun mengikutinya,kakek sudah memberiku izin. di suatu pagi,sebuah kejadian mengejutkan terjadi,aku tidak menyangka Ibumu bisa menemukan tempat tinggal kami dan datang ke rumah ini.
menjadi salah satu TKI yang dibawa ke Arab Saudi untuk dipekerjakan di Mekkah,namun itu hanya sebagai batu loncatan saja untuk mempermudah baginya menemukan keberadaan kami di sini.
Badan yang kurus,wajah yang pucat dan jauh dari kata sehat,seperti itulah keadaan Ibumu pertama kali tiba di rumah ini. Ibumu meminta padaku untuk menerimanya tinggal di rumah ini. aku merasa bahagia dan bersyukur akhirnya aku bisa berkumpul lagi dengan kakakku.
Ibumu pernah bertanya padaku saat ia berdiri di depan jendela itu dan memandang kubah masjid Nabawi ' Dia telah menciptakanku dengan Rahim dan Rahman-Nya,dan menghadirkanku di dunia ini dalam keadaan yang suci,namun berjalannya waktu,aku tidak bisa menjaga kesucian dan kebaikan yang sudah Dia berikan padaku,mungkin aku sudah mengecewakan-Nya. Apakah Dia mau memaafkan dan menerima taubat dari Makhluk kotor dengan sekian kekhilafan yang ada pada diriku ?'....",
Zayn menyahut "Innallaha Ghofurur Rohim...Innallaha Ghofurur Rohim,andai aku bisa menjawab pertanyaan ibu saat itu Bibi,benar kan ?",
Fatimah mengangguk"aku mengatakan hal yang sama,anakku. namun,satu hal terjadi di luar dugaanku,"fatimah tersenyum berbinar - berbinar",satu hal yang membuatku merasa menjadi Makhluk yang paling diberkati....",
"Apa itu Bibi ?apa yang terjadi ?",
Fatimah menunjuk Masjid Nabawi yang tak begitu jauh di luar sana. Kubah berwarna hijau dengan menara - menara yang selalu menggemakan Ayat - ayat Al Qur-an.
"suatu ketika,ibumu mengajakku pergi ke Masjid Nabawi,kami sempat melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Ibumu mengatakan setelah ia berdzikir dan memanjatkan do'a 'kali ini aku bersaksi dan melihat bahwa Tuhan kita sangat dekat,Dia selalu menjaga dan memelihara Hamba-Nya,Dia selalu menunjukkan kuasa-Nya dengan memberikan petunjuk agar Hamba-Nya bisa keluar dalam kegelapan,kegelapan hati berpaling menuju cahaya yang terang,membimbing pada jalan yang lurus,jalan menuju Rahim-Nya.
seandainya,sekali saja aku bisa diberi keajaiban atau mukjizat,maka aku akan meminta pada-Nya,aku ingin sekali saja bisa menyaksikan Arsy,Kursi Kebesaran Tuhan kita dan sujud di hadapan-Nya dalam keadaan tawakal. mungkin inilah yang bisa membuatku mendapatkan ampunan-Nya'.
aku mengatakan 'jarak antara wajah kita dan Arsy Allah itu hanya sebatas do'a yang tulus,yang kita panjatkan di hadapan Tuhan kita,Allah Subhana wa ta'ala',
Satu hal yang aku cemaskan saat itu adalah keadaan Ibumu,Zayn. Penyakit Tuberculosisnya semakin parah,ia mulai sering muntah darah,tidak di siang hari atau pun malam hari.
Namun,dalam keadaan seperti itu,ada satu hal yang membuatku salut dan kagum pada Ibumu. Aku tidak akan pernah melupakannya dan berbangga hati menjadi Adiknya,bangga bisa bertempat tinggal di Tanah Haram ini...",terbit senyuman kembali pada Wajah Fatimah.
"Apa itu Bibi ?apa yang ibu lakukan ?aku yakin dia pasti melakukan kebaikan ?",
"Tentu,Anakku.Tentu. Rasa sakitnya tak menghalangi tekadnya untuk setiap hari datang ke Masjid Nabawi. Tidak hanya untuk melaksanakan Sholat yang menjadi kewajiban kita sebagai Seorang Muslim,Namun Ibumu selalu membantu Orang - orang lanjut usia yang kepayahan berjalan saat hendak mengunjungi Masjid.
Ibumu juga tak canggung untuk melayani mereka,orang - orang lanjut usia itu,tak peduli dari mana asal mereka.
dia pernah bercerita padaku Seorang Wanita tua dari Mesir pernah mendoakan Ibumu,ia mendoakan ibu agar menjadi seorang muslimah yang baik dan sholeha,Hidupnya senantiasa dalam naungan Rahmat Allah,dan kelak meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah.
Tidak hanya itu,salah seorang orang tua dari teman sekolah Syifa,yang sering berjamaah di Masjid Nabawi memberi tahuku jika ada seorang Wanita Indonesia yang mengumpulkan beberapa Wanita yang setiap hari ia temui di Masjid Nabawi untuk membuat kelompok taklim dan dakwah bersama,ia juga menjalin Silaturahmi dengan setiap anggota kelompok taklim ini.
Dalam kelompok dan kegiatan mereka,Ibumu belajar tentang Islam lebih banyak,ibumu mulai belajar membaca Kitab Suci,Ibumu dan mereka saling berbagi pengetahuan tentang keadaan Islam dari setiap negara asal masing - masing.
Aljazair,Tunisia,Iran,Irak,Mesir,Turki,Maroko bahkan ada yang dari Palestina. Aku tidak bisa berkata apa - apa menghadapi perubahan luar biasa ibumu ini. Aku pun turut bergabung dalam kelompok ini,mereka juga menyambut baik diriku.
Aku semakin mencintai Islam dan berkata
"Benar. Islam adalah Agama yang paling di ridhoi Allah,Islam adalah Agama yang membawa perdamaian dan Persatuan".
Anggota kelompok kami pun semakin bertambah. Aku melihat Ibumu semakin bahagia bisa menjadi bagian dari Islam di Masjid Nabawi ini.
Hingga suatu ketika ada yang memberi tahuku bahwa Ibumu tersungkur dan jatuh sakit di pelataran Masjid Nabawi. Keadaan ibumu semakin parah,Penyakitnya yang semakin ganas dan karena Kelelahan melakukan kebiasaannya di Masjid Nabawi itu. Ibumu pun masuk rumah sakit.
Sehari sebelum Ia meninggal,aku memergokinya menangis dan memanjatkan satu do'a 'satu permintaanku,sebelum Engkau memanggilku,pertemukan aku dengan anakku,meski sesaat saja. Atau beritahukan tentang jati dirinya,kebenaran tentang siapa ibunya padanya. Aku menyayanginya,sangat menyayanginya....'
Itulah saat - saat paling menyedihkan dalam hidupku. Aku menyaksikan sendiri begitu besarnya kasih sayangnya seorang Ibu dihadapkan keadaan yang sangat sulit.
Andai saja aku bisa menemukan dirimu segera saat itu,aku akan membawamu pada Ibumu dan mungkin keadaannya akan membaik,namun Takdir Allah tidak berjalan seperti yang aku harapkan.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
Kakakku,Ibumu meninggal setelah Ia menunaikan Shalat Subuh. Alhamdulillah,Khusnul Khotimah.
Wajahnya sangat cerah dengan senyum yang begitu menenangkan namun masih menyisakan kesedihan yang mendalam pada diriku,karena kalian berdua tidak bisa saling bertemu....",
Zarina tanpa sadar terisak - isak mendengar bagian akhir cerita ini. Zayn hanya mengangguk dengan hati yang penuh kelegaan dan rasa tawakal setelah tahu sejarah kehidupan orang tuanya secara lengkap lewat Bibinya.
"Itulah Anakku,Aku mohon maaf karena kekuranganku dan ketidak berdayaanku selama ini. Namun,keadaan yang sulit membuat segalanya Mustahil. Kau sudah tahu siapa dirimu,Kau sudah tahu siapa dan bagaimana Ibumu sebenarnya,meski ia sudah tiada lagi",fatimah langsung menggenggam tangan keponakannya itu ",
Aku akan menjadi seorang Ibu bagimu. karena bagiku,kau dan Zakki sama saja,kau dan aku satu darah dan keturunan Haidar.
aku berjanji padamu,Zayn. aku akan berusaha menjadi ibu yang baik bagi dirimu. aku sangat menyayangi ibumu,terlebih dirimu.
mulai sekarang aku akan memberimu kasih sayang dan kebahagiaan seperti ibumu yang berada di Jogja itu. kau,Zakki,Syifa dan Zahra kalian anakku,harta yang paling berharga bagiku...",
Bekas - bekas aliran air mata yang masih tampak wajah Zayn. Zayn tersenyum bahagia melihat Bibinya. kali ini,ia mencium tangan Fatimah dengan penuh rasa syukur dan hormat.
buncahan rasa bahagia dan haru pada hati Fatimah bisa dipertemukan dengan Anak dari Kakaknya ini. Fatimah membelai rambut Zayn. Zarina menyaksikan peristiwa ini,Ia menghapus lelehan air matanya.
***
Di suatu malam,ketika Zarina hendak tidur,Ia mendapatkan sebuah pemberitahuan pada Handphonenya. Pemberitahuan tentang seseorang yang mentautkan akun facebooknya dengan akun facebook Julian,dan tautan itu berisi foto - foto dan Video Unggahan saat Acara Lamaran Julian kepada Yunia di Turki.
Seseorang sepertiya sedang menggunakan Handphone Julian untuk melakukan hal ini,hingga berani mentautkan nama Zarina di postingan ini.
Puluhan foto terunggah dan disaksikan Zarina secara langsung.Dalam keadaan Batinnya yang belum membaik,Zarina sangat terusik di foto - foto ini. Bayang - bayang Rangkaian peristiwa yang terjadi di antara dirinya dan Julian,dari awal sampai akhir terputar kembali dalam benaknya.
Mulai dari Pertengkaran Julian dan Zarina saat di taman lampion Monumen Jogja Kembali,setelah Ia memergoki Julian bermesraan dengan Yunia di Kafe waktu itu. Kemarahan Bibi Astiyani pada dirinya saat bertemu di Pasar BeringHarjo dulu. Pertemuannya kembali dengan Julian saat di Berlin,ketegangan yang terjadi saat makan malam di restoran dulu.
Kecemberuannya saat menyaksikan secara langsung kemesraan Julian dan Yunia saat ikut serta Acara Makan Malam di Restoran milik Ibu Julian. Hingga,yang tidak akan pernah Ia lupakan,pergolakan penuh emosi saat di Istana Topkapi. Rangakaian yang kembali menggerogoti Batin dan Hatinya kembali.
Mata Zarina tampak bergetar melihat foto - foto ini berulang - ulang. Guncangan hebat kembali terjadi pada Batin Zarina ketika Memutar Video Julian menyematkan Cincin lamaran ke Jari Manis Yunia. Seakan tak percaya pada apa yang Ia lihat,Hatinya selalu berteriak ini hanyalah rekaan,ini hanyalah rekayasa,tidak terjadi sebenarnya. Hati Zarina menolak mentah - mentah kenyataan yang terjadi di hadapannya.
Ia mulai kebingungan,Emosi berhasil terpancing dan Ia ingin membuat sebuah pelampiasan. Namun,Zarina tak kunjung menemukan dengan cara apa ia harus melakukannya. Ia mondar - mondir di depan ranjang. Bibirnya hanya mengatakan 'tidak mungkin,tidak mungkin ini terjadi,tidak mungkin'.
Kedua matanya terus saja bagai terbius untuk terus melihat video penyematan Cincin Lamaran untuk Yunia,dan momen Julian mencium kening Yunia dengan yakin dan mantap.
Pintu Jendela di buka dengan keras oleh Zarina. Seketika Hawa dingin dari luasnya Gurun menerobos masuk dan segera menjamah diri Zarina. Langit terang dengan Purnama bercahaya terang,Air mata yang mulai menjejal di kedua mata Zarina. Akalnya sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi,Ia benar - benar kebingungan dan kacau menghadapi keadaan ini.
Air mata yang terus menetes dalam ratapan Zarina yang lirih. Kesekian kali Ia harus memecah tangis karena merasakan luar biasa sakitnya rasa kehilangan. Cinta yang sekian lama waktu ia jaga,tak berarti apa - apa di hadapan seseorang yang telah berubah perasaannya.
Bagai sembilu yang terlumuri racun kemudian dihujamkan dalam hatinya dengan keras,lalu diiriskan secara perlahan agar racun yang dilumurkan menyebar dan sangat terasa perlahan. Zarina terus memegang dadanya.
Menatap Purnama itu pun tampak samar karena Air mata yang seluruhnya membungkus bola matanya dengan kepedihan. Daya dan tenaga ia kumpulkan perlahan seperti sirna begitu saja dalam raganya. Zarina kembali tak berdaya,Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Terlintas ingatan pada cerita masal lalu Ibu Farida mengenai kisah hidupnya. Ia mengingat betul perkataan Ibu Farida yang diceritakan oleh Bibi Fatimah. Perkataan yang mulai mendengung di kedua belah Gendang telinganya.
"bila seseorang meminta padaku untuk mengakhiri hubunganku,maka lebih baik aku mengakhiri hidupku sekalian...", Kata - kata yang terus terulang,bagai bujukan syaitan ketika manusia berada dalam keadaan lengah,tak berdaya dan putus asa,seperti apa yang dialami Zarina saat ini.
Zarina berdiri memandang Purnama membisu sedang Matanya mulai surut air mata. Pandangan kosong yang hanya diisi bisikan - bisikan syaitan itu,namun fikirannya masih berusaha kuat untuk melawan bisikan - bisikan itu.
Sepanjang malam hanya seperti ini yang dialami Zarina. Pergolakan masih terjadi dalam dirinya. kenangan - kenangan pahit yang berusaha ia lupakan pun muncuk kembali,memperparah pergolakan ini.
Mata Zarina masih tertuju pada Purnama,hingga berlutut tanpa memindahkan pandangan sedikit pun.
hingga bayang - bayang Wajah Julian muncul di pelupuk matanya,Senyum Julian yang semakin mengiris batinnya. Senyum wajah pemuda yang paling Ia cintai,senyum pemuda yang sudah menghianatinya hingga perasaan kasih dan cinta itu berubah menjadi rasa benci dan kecewa.
seperti yang ia katakan pada waktu itu,bayang - bayang kehilangan seseorang yang Ia cintai lebih menakutkan dari pada Bayang - bayang ajal yang sudah tiba waktunya.
hingga sampai pada pemikiran inilah Zarina menyerah, Bayang - bayang kehilangan seorang yang Ia cintai lebih menakutkan dari bayang - bayang ajal yang sudah tiba pada waktu nya. namun,kali ini tidak,bayang - bayang ajal yang sudah tiba waktunya adalah hal yang lebih baik dipilih untuk menghapus dan mengakhiri rasa sakit dan trauma karena bayang - bayang kehilangan rasa cintanya.
Zarina terbujuk bisikan - bisikan itu dan beranjak dari kamarnya. Zarina keluar dari kamar.
***
Zakki terbangun karena rasa hausnya. Ia pun keluar kamar dan mengambil segelas air putih di dapur. saat ia kembali ke kamar,tanpa sengaja Ia melihat pintu utama rumah sedikit terbuka. Ia pun terkejut mendapati terbukanya pintu ini,tidak biasanya Pintu rumah terbuka malam - malam.
waktu menunjukkan sudah sampai sepertiga malam terakhir dan menjelang waktu Subuh.
Ia pun membangunkan semua Ayah dan Ibunya. Fatimah dan Rafiq,Ayah Zakki, memeriksa keadaan pintu dan barang seisi rumah. Rafiq melihat tidak ada bekas - bekas Pengrusakkan pada Daun pintu ini,malah kunci Pintunya masih ada dan tertancap. pasti ada seseorang yang keluar dari rumah.
Fatimah memberi tahukan bahwa Kamar Zarina terbuka. lantas,Zakki pun segera membangunkan kakak sepupunya. Zayn bangun dan mendengar cerita Zakki. Zayn tampak panik.
Zayn masuk ke kamar Zarina. ia melihat jendela terbuka dan Handphonenya tergeletak di atas ranjangnya. Zayn pun memeriksa handphone Zarina. Ia melihat foto - foto Julian yang melamar Yunia. terlintas firasat buruk di fikirannya.
"ini pasti karena semua hal ini ?!",gumam Zayn.
"apa yang terjadi kakak ?",tanya Zakki",apakah Zarina yang melakukan ini ?',
"ya,aku yakin.",Zayn mengantongi Handphone Zarina",Zakki,kumohon pergilah bersamaku untuk mencari Zarina....",
"apa ?! ke seluruh kota ini malam - malam ?!",
"harus bagaimana lagi ?tolong ajak paman Rafiq untuk membantu kita...",
"baiklah,tapi apa kita perlu membangunkan kakek ?",
"tidak,Zakki. aku khawatir kakek akan panik dan cemas kalau sampai tahu keadaan ini. Ayo Zakki,kita bergegas...",
"Baiklah kakak....",
Berjalan pada saat malam menjelang waktu subuh di sepanjang Jalanan Kota Madinah tanpa arah yang pasti,mengabaikan hawa dingin gurun pasir yang menusuk tulang dan sendi. tatapan mata yang tetap kosong,namun fikiran dengan kemelut masalah yang masih kacau.
Rangkaian ingatan kejadian di istana topkapi saat itu kembali hadir dan memperparah keadaan batinnya. badan yang tiada daya ini hanya pasrah pada kaki ke mana pun melangkah.
" kau ?! apa yang kau ingin kau lakukan padaku? hal apa lagi yang ingin kau lakukan untuk menambah kehancuran diriku ?",
"tenang dulu,Zarina. tenang dulu,kumohon,dengarkan baik - baik,Zarina....",
"katakan saja semuanya,aku tahu banyak hal yang mengganjal fikiranmu,atau mungkin dirikulah yang menjadi ganjalan fikiranmu hingga kau merasa belum leluasa untuk lebih mencintainya...",
"terserah apa yang kau katakan,yang terpenting aku hanya ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahan dan kekhilafan yang telah aku lakukan selama ini dan memastikan dirimu baik - baik saja...",
"Maaf ?kau pernah melakukannya padaku dulu di Berlin,kau menempatkanku pada keadaan yang membuatku tak berkutik untuk meluapkan amarahku padamu malam itu. entah sulap atau halusinasi apa yang kau buat untukku hingga sekejap berhasil merubah keadaan diriku,kau berhasil menguasai diriku. Salut ! Salut !
lalu,bagaimana dengan makan malam di restoran ibumu waktu itu ?bagaimana dengan apa yang disampaikan Tuan Pegawai KBRI saat itu di hadapan semua orang ?apa kau tidak berpikir bahwa tindakan itu secara tidak langsung mencabik - cabik hati dan perasaanku,diam - diam menghancurkan diriku ?
lalu,bagaimana dengan kemesraanmu yang terang - terang kau tampikan di hadapanku ?apa kau tidak merasa seperti memegang kepalaku dan memaksa mataku terbuka lebar - lebar hanya untuk melihat tindakan yang perlahan menggerogoti batinku ?apa kau setidaknya bisa menjaga dirimu dan janji pada diriku dan pengorbananku ?
kau ingin memastikan diriku terlihat baik - baik saja ?coba fikirkan,bagaimana seandainya kau berada di posisiku saat itu ?bagaimana seandainya aku melakukan hal yang sama dengan pemuda lain di hadapanmu ? apa kau akan merasakan hal yang sama apa yang aku rasakan?akan
seberapa hancurkah perasaanmu ?
kau melakukan semua itu di belakangku bahkan secara tanpa tahu malu di hadapanku kemudian kau berpikir aku akan baik - baik saja ?bagaimana bisa kau berkata padaku bahwa aku ini tak lebih baik dari seorang musyrik,hanya dengan sulit memaafkan dirimu ?kau dengan ringannya mengataiku seorang Musyrik ?
lalu untuk apa aku menjaga perasaan dan cintaku hanya untukmu selama empat tahun kalau hanya untuk kau sia - siakan,kemudian kau hancurkan perasaanku dengan mengalihkan dirimu pada gadis lain ?apakah selama itu kau hendak mengajariku menjadi seorang musyrik,mengarahkan diriku pada tindakan yang syirik dengan menanamkan kebencian padaku setelah mendapat penghianatan darimu ?
kau ini manusia masih memiliki iman dan mengaku hamba Tuhan,tapi entah kenapa kau dengan mudahnya terpedaya oleh Syetan ?",
"Cinta,Zarina. godaan terbesar dan ujian terberat manusia,aku benar - benar tidak berdaya saat itu,keadaanku sangat rumit....",
"Cinta memang ujian terberat manusia,tapi setidaknya dia tidak lupa pada Janji dan kesetiannya,Julian. kau seolah - olah lupa untuk memegang dan menjaga semuanya dengan erat hingga kau khilaf.....",
"aku yakin kau berhasil melakukan hal itu ?",
"aku berhasil tapi aku tak mendapat apa yang aku inginkan,aku hanya mendapat penghianatan....",
"Maafkan aku Zarina,maafkan aku...",
"kau bermaksud bahwa ini adalah maaf yang terakhir kali untukku...",
"katakan padaku apa yang akan terjadi denganmu jika hal ini benar terjadi padamu ?",
"aku hanya ingin bertanya padamu apa gunanya hidupmu jika takdir mengubahmu menjadi seorang Kafir ?",
"apa maksudmu ?",
"kau ini pemuda dengan wawasan cinta yang begitu luas hingga mampu menaklukkan sekian banyak wanita. apa kau tidak berpikir bahwa cinta itu sama hal nya dengan iman?
Allah menciptakan Seorang Manusia dengan penuh rasa cinta kemudian Dia menanamkan Iman,yaitu rasa Cinta yang akan senantiasa mengingatkan Manusia itu pada Sang Pencipta. apa kau tidak berpikir seperti itu ?
seharusnya kau tahu Julian,ketika kau menerima ungkapan perasaan cinta dari seseorang,sejak itulah hatimu tertanam Iman dan kepercayaan untuk selalu mengingatnya setiap saat,itulah yang aku lakukan selama empat tahun lalu, menjaga cinta dan imanku hanya untukmu.
dan sekarang kau memintaku untuk mengakhiri semua ini,melepas cintaku,menghapus iman dan kepercayaanku darimu,kau membuatku menjadi seseorng yang gagal,gagal dalam menjaga cinta dan perasaan.
bagiku,bila hidup tak bisa menjaga cinta dan perasaan,ibarat diriku berada di ambang kekafiran. karena cinta bukan sekedar angan - angan. Karena cinta tak hanya Sebatas Rasa. Iman pada Cinta itulah yang akan menunjukkan tentang kebahagiaan seseorang yang telah mendapatkan cinta...",
Semua hal yang dikatakan oleh Zarina untuk Julian ini ketika keduanya berada di Istana Topkapi,Julian sengaja mencuri kesempatan untukmenemui Zarina,namun dengan membekap Zarina sebelumnya.
"Tunggu aku di tempat ini,setelah aku kembali dari Istanbul.....", kata - kata permintaan Julian yang terdengar berselingan namun turu mencabik - cabik perasaan Zarina.
"ketika aku mengatakan aku semakin mencintaimu,apa aku tidak akan mendapat apa - apa darimu ?",godaan Julian saat di kafe waktu itu. kedua mata yang tak kering akan air mata kesedihan yang mendalam.
langkahnya membawa dirinya mendekat pada komplek Masjid Nabawi. sudah tidak ada daya sedikit pun untuk meratap lebih lama lagi dan menahan deraan kekecawaan dan kesedihan atas Penghianatan Cintanya.
sudah tidak perlu memperpanjang waktu untuk berkompromi antara Emosi yang semakin menguasai dirinya dalam kesedihan dan Akal waras yang terus membujuknya untuk menambahan kesabaran.
Kata - kata Ibu farida yang ia dengar kembali berdengung kembali di tengah - tengah kelengahannya kali ini.
"ketika seseorang memintaku untuk mengakhiri hubungan cinta,maka lebih baik aku mengakhiri hidupku sekalian....",sejalan dengan bayang - bayang kehilangan yang terasa lebih menakutkan dari pada bayang - bayang datangnya ajal,Zarina sudah tidak bisa menemukan solusi dan cara lain untuk mengatasi keadaan ini.
Ia terhenti di depan kompleks pemakaman muslim yang tak jauh dari Masjid Nabawi ini. ia benar - benar kehilangan tenaga hingga jatuh berlutut. Sekali tarikan nafas yang terasa tersengal.
Matanya memandang tanah pekuburan yang luas,penuh kesunyian dan ketakutan yang mencekam,namun tak semencekam rasa kesedihan karena kehilangan cintanya.
Ia menyingsikan lengan jaketnya hingga tampak pergelangan tangannya. ia mengeluarkan pisau kecil yang ia ambil dari dapur tadi. dengan tangan yang bergetar dan hati yang tiada daya dan telah terputus asa,Ia memejamkan mata seraya dengan mantap menyayatkan pisau ini ke pergelangan tangannya. Ia hendak memotong Nadinya untuk segera mengakhiri hidup dan penderitaannya.
ketika telah terjadi satu sayatan yang belum bisa mengucurkan darah,tiba - tiba seseorang hadir dari belakang dan mencengkram tangannya. Ia pun berontak dan tetap nekad untuk memotong nadi di tangannya. Orang yang hadir itu pun melakukan perlawanan dengan menarik tangan itu,mencegah tindakan.
"HENTIKAN !!Zarina, hentikan !!",Zayn menarik tangan kanan Zarina.
Namun,Zarina tetap memperkuat tangannya untuk melancarkan tindakannya memotong nadi di tangannya. Zayn pun tetap mencegah Zarina. terjadi pergolakan kecil di depan Kompleks pemakaman islam di waktu menjelang subuh semakin mendekat.
"Lepaskan !!!Lepaskan !!!biarkan aku melakukannya...sudah tidak ada gunanya hidup untuknya !!", Zarina berusaha menghujamkan sikunya ke dada Zayn dengan keras. Namun Zayn tetap bersikeras.
"Tidak Zarina,tidak jangan lakukan itu....", Zayn menahan rasa sakit akibat perlawanan Zarina sementara matanya tetap tertuju pada pisau yang tak terarah.
"Lepaskan! lepaskan ! ....", Zarina semakin ganas melakukan perlawanan.
Zayn pun tak kalah menghadapi Zarina. pergolakan yang memakan waktu cuku lama.Zayn terpaksa memukul tangan Zarina hingga pisau itu terlepas dari genggaman Zarina. Zayn berhasil menguasai kedua tangan Zarina.
Zarina tak berhenti berontak. Ia seperti seseorang yang tengah kesurupan. dalam hati Zayn tidak kuasa melihat keadaan Zarina seperti karena menanggung penderitaannya.
"lepaskan ! lepaskan ! lepaskan ! biarkan aku mengakhiri semua ini...",
"Astaghfirullah hal 'adzim.... La ilaha ilallah....",Zayn memekikkan kalimat Istighfar dan Tahlil di hadapan Zarina kali ini,Ia terus mengucapkan kalimat ini untuk menenangkan Zarina. namun,Zarina tak kunjung tenang.
"Astaghfirullh hal'adzim..La ilaha ilallah...",Zayn tanpa pikir panjang memegang kepala Zarina dan berusaha menatap mata Zarina,ketika Mata Zayn berhasil memegang tatapan Zarina,Zayn tetap melafalkan kedua kalimat itu.
perlahan Zarin pun tenang. ketegangannya pun menurun. ia berhenti berontak saat mendengar Zayn mengucap di hadapannya. hingga pandangannya benar - benar melihat wajah Zayn yang ada di hadapannya, Zarina pun terdiam.
Mata Zayn berkaca - kaca. Ia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Zarina.
"Rabbana laa tuzigh Qulubanaa ba'da idz hadaitana wa hablana mil ladunka rahmah,innaka antal wahab (Q.S. 3 :8)....", dengan bibir yang bergetar Zayn membisikkan salah satu Ayat Al Qur'an itu tiga kali,di sambut Azan yang berkumandang dari arah Masjid Nabawi.
Suara Azan yang menggetarkan jiwa Zarina. Zarina memandang wajah Zayn cukup lama. kemdian Zarina pun memecah tangis di hadapan Zayn. badannya hendak jatuh sekali lagi karena tak berdaya namun Zayn segera menangkap badan Zarina.
Zarina,sekali lagi,menumpahkan kesedihannya lewat tangisan.
Zayn ingin menenangkan Zarina dengan mengusap kepalanya,namun tidak bisa,ia tampak menahan tangan dan perasaannya. Nurani Zayn pun menggerakkan tangan Zayn melakukan apa yang ingin ia lakukan,inilah saatnya yang tepat.
Zayn mengusap kepala Zarina.
di sela - sela tangisnya Zarina merasakan usapan ini. ia berhenti menangis dan melihat Zayn. Zayn menggeleng dan menunjuk Masjid Nabawi bermaksud datang ke Masjid untuk melaksanakan Sholat maghrib. Zarina pun mengangguk.
Masuk ke pelataran Masjid Nabawi,Zarina merasakan Atmosfir yang luar biasa. Ketenangan dan kedamaian yang terasa ketika ke mana pun mata memandang. Cahaya lampu yang membuat suasana Masjid tampak bersinar seperti menciptakan seberkas cahaya dalam hatinya,cahaya yang menerangi seluruh hatinya.
Ia melihat orang - orang yang bergegas masuk ke dalam masjid,terasa semangat untuk menjemput Rahmat Allah, mengambil tempat untuk berhadapan dengan Tuhan, dan kembali pada Jalan yang lurus dan terang.
hingga matanya menangkap seorang perempuan renta yang melaksanakan sholat sunat dua rokaat diluar masjid,hati Zarin tersentuh dan tak kuasa menahan harunya,ia malu dan sadar di hadapan Perempuan renta itu. dalam keadaannya yang tak lagi kuat itu,ia tetap berusaha untuk sujud dan rukuk meluangkan waktu sejenak untuk menyapa Tuhannya,Allah Subhana wa ta'ala.
lalu bagaimana dengan dirinya,hanya meratap dan merasa putus asa hingga gelap mata mengakhiri hidupnya dengan tindakan yang sia - sia.
Zarina pun menangis hingga menjatuhkan badannya dan bersujud. Zayn juga tersentuh melihat apa yang Zarina lakukan hingga meneteskan air mata. ketika manusia telah kehilangan daya untuk menghadapi ujianmu,maka ingat dan kembalilah pada Tuhanmu,Allah Ar Rahman.
Zayn dan Zarina ikut melaksanakan Sholat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi. setelah selesai,Zayn mengajak Zarina kembali pulang,namun Zarina menolak. Zarina ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi di masjid ini,ia ingin merasakan ketenangan dan kedamaian yang ada di Masjid ini. Zayn pun menuruti Zarina.
Langit sebelah timur mulai menampakkan warna kuningnya pertanda Matahari akan segera terbit,namun Zarina masih ingin duduk di pelataran Masjid dan tetap memandang ruangan Masjid Nabawi dari luar.
perlahan jemari Zayn meraba jemari Zarina. Zarina melihat Zayn seketika,sontak Zayn pun menarik tangannya dan membuang muka. Zarina tetap menatap wajah Zayn dari samping.
"kenapa kau melakukan hal ini padaku ? kenapa kau mencegahku ? kenapa kau bersikeras menahanku ?kenapa kau melakukan itu ?",kata - kata Zarina terasa berat ",
tidak ada gunanya lagi aku hidup,tidak ada lagi gunanya aku hidup jika aku akan tetap kehilangan apa yang sudah aku pelihara dan jaga selama ini.
semuanya sudah berakhir,semuanya telah hilang dariku,semuanya....",Zarina menghela nafas dan matanya kembali basah", telah menghancurkan diriku. aku tidak mendapatkan apa - apa dari pengorbananku kecuali rasa sakit dan kecewa yang merongrong hatiku,aku sudah menepati janjinya,namun ia tak melakukan hal sebaliknya.
Cinta tak hanya sebatas rasa,cinta hanya fatamorgana,datang membawa kesenagan fana namun hilang membawa kekecewaan dan penyesalan. bagiku hidup dengan berpura - pura bahagia tidak ada gunanya,lebih baik aku hilang juga seperti fatamorgana tanpa ada meninggalkan jejak kekecewaan dan penyesalan.
aku ingin melakukannya,namun kenapa
kau lancang dan memberanikan diri menggagalkan semua ini?katakan apa yang kau mau ?"Zarina mulai terisak - isak",katakan apa yang kau mau ? katakan apa yang membuatmu melakukan hal itu,itu di luar wewenangmu terhadapku ?",
Zayn tersenyum dan menggeleng,kemudian menatap kedua mata Zarina dengan tatapan yang sulit dielakkan " Cinta bukan fatamorgana,bila cinta itu fatamorgana untuk apa kau hidup memohon sebuah cinta dihadapan-Nya bahkan kau menghabiskan selama sekian waktu untuk menjaganya ?
cinta tak hanya sebatas rasa,untuk apa kau melakukan hal - hal bahagia atas dasar cinta ?bukankah kegembiraan dan kebahagiaan kau ciptakan atas dasar rasa cinta ?",
Pertanyaan Zayn membuat Zarina tercengang.
"untuk apa aku mencegahmu,menahanmu dan menggagalkan tindakanmu? Kumohon dengarkan perkataanku,perlu kau tahu tentang hal ini,tentang apa yang sebenarnya ada dalam hatiku,dengarkan baik - baik.
kau sudah melihat sendiri dengan kedua matamu bahwa aku telah kehilangan Seseorang yang sangat aku cintai,yang aku harap bisa menemuinya,namun tidak kenyataannya,aku tida bisa menemuinya,dia telah pergi sebelum aku bisa menemuinya langsung dan menatap wajahnya,merasakan kasih sayang dan cintanya,sayangnya hanya dengan pusaranya....",kata - kata Zayn yang pelan ini membuat Zarina terbelalak",dan atas dasar inilah aku melakukan tindakan untuk mencegahmu,menahanmu dan menggagalkan rencanamu.
perlu kau tahu,jujur dari dalam hatiku,aku melakukan itu semua karena aku tidak ingin kehilangan satu orang lagi yang sangat aku cintai,orang yang sangat aku kasihi.....",kata - kata Zayn membuat Zarina terkejut", kumohon mengertilah,jujur,aku sudah kehilangan Ibuku,sebagai orang yang sangat ingin aku temui dan aku cintai,dan sekali lagi...",jemari Zayn meraih jemari Zarina", aku tidak ingin kehilangan seseorang yang aku cintai,sangat aku cintai....",
Seperti Matahari yang terbit ufuk timur itu,muncul dan siap menyinari dunia dengan kehangatannya. Seperti Ayat - ayat Kitab Suci yang terdengar dilantunkan dari setiap menara masjid ini,menyusup dalam hatinya dan memberi kehidupan baru. Seperti Kuncup bunga yang siap merekah,berwaran dan memberikan keindahan yang terasa dalam hatinya,demikianlah kata - kata Zayn yang didengar secara langsung oleh Zarina di pagi ini.
Mata Zarina bergetar. ia tidak menyangka selama ini Zayn diam - diam memendam rasa cinta padanya. dan pada keadaannya yang terpuruk kali ini,barulah Zayn mengungkapkan semua isi hati dan perasaan padanya.
Zayn mengatupkan tangan Zarina dan menundukkan kepalanya ke hadapan tangan Zarina.
"Mungkin kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kau cintai sebelum kau sempat menyampaikan perasaanmu padanya ?",
kali ini Zarina menangis terharu menyaksikan Zayn mengungkapkan perasaan padanya. Zarina pun melepas tangan Zayn. Zarina memegang wajah Zayn dan menengadahkannya. wajah yang penuh harap dan mengisyaratkan harapan baru untuk Zarina.
"Ibarat Janin yang gugur sebelum merasakan hak hidupnya di dunia,terlahir merasakan nafas dalam hidupnya. terasa lebih menakutkan daripada mendapatkan sebuah kegagalan karena setelah merasakan kesusah payahan.
kau tidak akan mendapatkan hal itu,kau tidak akan kehilangan cintamu,kau akan berdiri dan menyaksikan seseorang menemui dirimu dengan segenap rasa cinta yang sama untukmu. kau tidak akan mendapat bayang - bayang ketakutan kehilangan cintamu,karena ia akan datang padamu. sambutlah dia dan jemputlah cintanya,katakan cinta tak hanya sebatas rasa,rasa yang memberimu angan - angan belaka...",
Zayn tersenyum dan menyibak rambut yang ada di kening Zarina.
"Baiklah,dan pagi ini di Madinah,aku akan menyambut datangnya Cinta,cinta hanya untuk diriku saja,dan akan kukatakan cinta tak hanya sebatas rasa....",Zayn melepas syalnya kemudian menjadikan kerudung untuk kepala Zarina. Zarina tersenyum di sela - sela tangis harunya",dan melihat perasaan yang sama akan tersatukan untuk selamanya...", perlahan Zayn mencium kening Zarina.
Hawa dingin Madinah yang belum juga hilang,Zarina pun memeluk tubuh Zayn untuk mendapatkan kehangatan dan rasa cinta sesungguhnya. Zayn pun mengajak Zarina beranjak dari pelataran Masjid Nabawi.
Di kota Madinah pagi ini,pagi yang menjadi saksi pengungkapan perasaan cinta,hati yang tumbuh rasa cinta,Zayn yang menjemput cinta Zarina.
Love Mubarak,Madinah....
***
Beberapa Tahun kemudian....
"Tunggu aku di tempat ini setelah aku kembali...",itulah kalimat yang tertulis di pesan yang ada di handphone Zarina kali ini. Ia pun melangkah menuju tempat yang ia maksud.
Masih dengan Suasana yang sama,Ketenangan Halaman Benteng Vredeburg dengan pohon - pohon Kamboja membuat pemandangan yang asri. Suara kliningan becak bersahut - sahutan menyambut pagi yang hangat saat ini.
sekali lagi,Kursi hitam yang panjang itu,tempat bersejarah bagi Zarina,menjadi salah satu bagian kisah hidup Zarina,saksi bisu yang tak akan pernah terlupakan,Kenangan yang tak akan segera hilang.
Cinta tak hanya Sebatas Rasa,CInta tak seberat saat melewati satu perpisahan,Cinta itu indah saat terjadi sekali lagi pertemuan,Cinta tak seindah mendapat mendapat penghianatan,Cinta tak semenakutkan rasa kehilangan,Cinta yang selalu ada di berbagai suasana dan perasaan.
Zarina sudah tiba di dekat kursi itu,namun ia terhenti ketika ia melihat seseorang yang duduk di sana,seseorang yang tak asing baginya,seseorang yang tak akan hilang dalam ingatannya,seseorang yang mungkin sudah tidak memelihara perasaan untuknya,Julian.
Julian merasakan kedatangan seseorang. Ia
melihat kanan kirinya. Ia melihat Zarina beberapa langkah darinya. Zarina melihatnya. Ia pun berdiri. Ia mendekati Zarina.
Senyum yang selalu menyapa"Zarina....",panggil Julian agak pelan dengan sikap yang tenang.
"Julian....",Zarina yang berusaha membalas senyuman Julian.
"Apa kabar ?apa yang kau lakukan di sini ?",
''kabarku baik",kali ini Zarina tak membawa koper biolanya,"aku sedang menunggu seseorang. dia memintaku untuk menunggunya di sini,dan ternyata kau ada di sini,sudah berapa lama kau di sini ?", Zarina tak ingin menampilkan kesan groginya di hadapan Julian.
"belum terlalu lama,aku baru saja jalan - jalan dari Alun - alun kemudian duduk di sini..",
"sendirian ?lalu Yunia di mana ?",tanya Zarina
Julia terdiam sejenak dan menengadah,Ia menggeleng.
"Yunia,dia sudah tenang berada di sisi-Nya,"Julian menunjukkan tangannya ke arah langit",Allah lebih menyayanginya hingga Dia mengambilnya dariku",Mata Julian berkaca - kaca...",
Zarina tercengang dan membuang muka sebentar"Apa yang terjadi padanya,Julian ?",
"dia mengalami pendarahan hebat saat melahirkan Putraku hingga nyawanya tak bisa tertolong,tidak ada donor dengan golongan darah yang sama waktu itu. yah,itulah yang harus terjadi padaku,namun aku bersyukur,Putraku selamat dan kini Ia bersama kakek dan neneknya di Istanbul...",
Zarina berempati mendengar cerita Julian", aku turut berduka cita padamu....",
"emh...",Julian tersenyum sambil
membuang muka ",Oh ya,ngomong siapa yang kau tunggu ?apa masih lama kedatangannya ?",
"Ah tidak,sebentar lagi dia...",
Lalu,datang Seorang Gadis kecil langsung meraih tangan Zarina",Bunda.....",Anak kecil itu memanggil Zarin'a. Julian melihat kedatangan Gadis kecil itu dan seseorang di belakangnya.
"Safira ?Uh,kau membuat Bunda menunggu agak lama...",Zarina jongkok membelai Safira,Putrinya.
"Maafkan Safira,Bunda. O ya,baru saja aku melewati ujian yang diberikan Ibu Lilian,Bunda tahu,Ibu Lilian menyuruhku bermain piano,dan aku menunjukkan pada Ibu Lilian seperti apa yang Bunda ajarkan padaku....",Safira tampak begitu bersemangat.
"dan hasilnya?",
"Ibu Lilian mengatakan menakjubkan,dia berkata padaku namun aku belum tahu maksudnya Bunda...",
"apa yang ia katakan padamu,Fira ?",Zarina mengusap kening Safira. Julian terus memandang wajah Zarina.
"Ibu Lilian bilang jika permainan pianomu menakjubkan seperti ini,bisa saja kau menemani ibumu menjadi personil utama symphoni cinta orkestra,Ibu Zarina pandai bermain Biola,Safira pandai bermain Piano dan Ayah Zayn yang akan menjadi konduktor kalian...",
Zarina tertawa di hadapan Putrinya.
"intinya permainan biola kamu bagus dan pantas menjadi salah satu personil di orkestra milik Kakek Buyut. Wow,Safira ini hal yang luar biasa untuk ukuran anak seumuran dirimu...",
"Benarkah Bunda ?",
Zarina mengangguk kemudian melihat Julian yang termenung melihatnya.
"Ayah,Ayah,benarkah apa yang dikatakan Bunda ?", Safiran mendatangi Ayahnya,Zayn.
"Benar,Sayang...",Zayn membelai kepala putrinya dengan lembut
Safira pun berjingkrak kegirangan. Safira menarik tangan Zayn mendekati Zarina.
Zayn melihat keberadaan Julian,ia mengangguk pada Julian sebagai ungkapan salam. Julian membalas sapaan Zayn dengan canggung.
"Bunda,dengarkan Safira...",
"Ya sayang...",
"hari ini ulang tahunku bukan ? tadi aku memberi tahu Ayah kalau aku ulang tahun,dan aku meminta Ayah untuk membelikan kado,namun Ayah malah berkata padaku begini 'Ayah tidak akan memberimu kado saat ini,
tapi Ayah akan mengajakmu ke beberapa tempat di Eropa bersama Kakek Hasan,Nenek Isna dan Paman Ja'far",mendengar ocehan Safira,Zarina terus tertawa bersama Zayn", Apa maksud ayah ini,Bunda ? kalau saja aku memberi tahu paman Ja'far dan meminta kado padanya,pasti ia akan memberiku kado...",
"Emh....",Zarina membelai pipi safira", Bunda yang akan memberimu kado nanti,sayang. jangan meminta pada Ayahmu...",
"Bunda ?!',Zayn menyiku lengan Zarina. Zarina menyenggol Zayn.
"Bunda akan memberimu kado tapi bukan hadiah atau boneka ",
"Apa itu Bunda ?Apa itu ?pasti bagus sekali...",
Zarina melirik Zayn. Zayn mengangguk.
"kau belum tahu kan ?Ayah Zayn akan memimpin konser di Opera House Sydney ?",
"belum Bunda ,lalu ?",Safira menggaruk kepalanya
"Ayah dan Bunda ingin membawamu tampil di panggung Opera House Sydney,Bunda akan mendampingi mu bermain piano dan Ayah Zayn akan memberi tahu semua orang di Sydney bahkan seluruh dunia,dia akan berkata 'Inilah Putri kesayanganku,Pianis kecil Symphoni Cinta...'
kau akan melakukan seperti yang Bunda lakukan saat Bunda pertama kali konser di Berlin,Jerman dulu. di usiamu yang masih kanak - kanak kau akan mendapatkan konser pertamamu di Sydney nanti,Luar biasa...",
"benarkah Bunda,Ayah ?",tanya Safira bersemangat.
''benar sayang...",jawab Zarina menyelipkan rambut Safira ke telinganya. Zayn mengangguk untuk meyakinkan putrinya.
Safira pun melonjak kegirangan. Ia memeluk Ayahnya penuh kasih sayang. sejenak kemudian Zayn dan Zarina beranjak dari tempat itu. keduanya sempat menyapa Julian yang sedari tadi mengamati keluarga kecil ini.
Julian tidak menyangka Zarina akan menjadi pasangan hidup Zayn,bahkan keduanya menikah dan mempunyai Putri.
Julian tak beranjak dari tempat itu,tak melepas pandangannya pada badan Zarina. sesekali ia mendapat senyum Zarina ketika Zarina melempar senyum pada Zayn dan putrinya.
sedikit penyesalan dalam hatinya,penyesalan yang membuatnya berkata dalam hati.
"Apa yang telah terjadi di hidupku ini ?sejatinya ini sebuah takdir,tidak ada yang patut disalahkan,sebenarnya masih ada rasa ini dalam hati yang paling dalam untuknya,dia,dia yang menderita karena penghianatan dariku dulu kala. apakah aku salah mengambil keputusan ?
sepertinya tidak,namun tetap memelihara perasaan untuknya sepertinya tidak masalah. setiap orang berhak mempunyai cinta,meski sebatas rasa.
Cinta pertama,cinta pada melodi pertama,Zarina,andai saja kau tahu tentang perasaanku,rasa ini masih ada dalam hati hanya untukmu,cinta masih ada untukmu,meski hanya sebatas rasa. cinta,tak bisa memiliki namun masih memelihara rasa dalam hati.
andai kau tahu,inginku mencintaimu,meski Sebatas Rasa...",Julian mengedipkan matanya,menghilangkan kaca - kaca pertanda hati yang sedikit merana. Ia menghela nafas.
Julian meninggalkan tempat itu. Ia akan kembali pada harapan baru,Putranya yang ada di Istanbul. sekali lagi,sebelum meninggalkan tempat ini,Ia berbalik dan melihat wajah Zarina, masih Ia dapat di ujung pandangannya.
Sebatas Rasa
Dunia Di kala Fajar
Fajar Adi,,,



Komentar
Posting Komentar