Salaam-E-dostana Bab 11

Semakin sering mereka bertatap muka,Semakin sering mereka bertemu,Semakin sering tatapan mata mereka bersatu,di situ rasa kagum itu kian tumbuh,di situ rasa bahagia terasa berkembang,di situ satu rasa mulai hidup dan tumbuh,di situlah rasa cinta itu.Indra mulai memperhatikan Indira,lebih dari rasa simpati,Indra mulai menaruh rasa suka pada Indira.

Ia merasa apa yang ia impikan di suatu malam itu seperti terwujud dalam kehidupan nyata.Kekasih yang Ia cintai dan telah pergi darinya untuk selama - lamanya seperti datang padanya lagi.Di matanya,Ivana seperti berada di tubuh Indira.Perasaan dan getaran cinta yang dulu ia rasakan bersama Ivana tak berbeda ia rasakan saat setiap kali memandang Indira.

Dan kali ini,Bu Nawang mengajak Indra untuk mengunjungi rumah Indira.Rumah Indira begitu sederhana,namun bersih dan rindang.Indira adalah wanita yang suka menghiasi rumahnya dengan tanaman bunga.Bu Nawang sangat suka berkunjung ke rumah Indira.

Di situ,Indra dan Bu Nawang bertemu Ibu Harum,ibu Indira,Ayah Indira yang tengah menderita sakit.Bu Harum menyambut Bu Nawang dan Indra dengan sangat ramah,begitupun Indira.Bu harum bekerja sebagai penjahit di rumahnya.Indira hanya bisa membantu ibunya dengan mengantar dagangan ibunya ke pasar dan langganannya.Ayah Indira,sudah dua tahun,Ia menderita radang paru - paru,beliau memutuskan untuk pensiun.Indira adalah anak sulung dari keluarga ini,Ia mempunyai dua adik,satu laki - laki dan satu perempuan.

Niat Bu Nawang berkunjung untuk memesankan baju untuk Indra dan Untuk dirinya sendiri.Maka Bu Harum pun perlu mengukur tubuh Indra dan Bu Nawang.Bu Harum mengambil ukuran tubuh Bu Nawang.Indira pun mengambil ukuran tubuh Indra.

Lalu Seorang anak muda datang masuk ke rumah dengan berlari,membuat semua terkejut.Indira pun langsung menegur anak itu,adiknya.

"Ada apa ini Ikhsan ?kenapa kamu berlari - lari?tidak bisa kah kamu berhenti jika sudah tiba di depan pintu...kita lagi ada tamu".Indira memarahi Ikhsan,adiknya yang baru kelas 1 SMA.
"Mereka mengejarku,Kak.Aku berhasil mengerjai mereka...hahahahah..Aku memang jago membuat perangkap...".celoteh Ikhsan tanpa memperhatikan Bu Nawang dan Indra.Bu Harum hanya geleng - geleng kepala.
"kau berbuat jahil lagi pada mereka...kau memang anak yang keterlaluan jahilnya.Kau terlalu nakal.Kakak tidak suka kau berbuat itu...".Indira pun terpancing emosinya,Ia pun ingin memukul Ikhsan.Namun saat  hendak mengayunkan tangannya,Indra menahan tangan Indira.Indira melihat Indra,ia terdiam.Baru kali ini ada yang orang menahan tangannya untuk memberi pelajaran adiknya.
"Memukulinya tak akan membuatnya jera,Indira....maafkan aku,"Indra melepas tangan Indira dengan pelan.Ikhsan ikut terdiam dengan wajah yang berpeluh",semakin kau bersikap keras padanya, semakin besar pula rasa jahil adikmu ini.andai saja kau bisa berhenti bersikap kasar padanya...".Kata Indra dengan tersenyum.
Indra lalu beralih ke Ikhsan,Ikhsan menatap Indra.Ia agak gemetar ketakutan.
"Apa yang kau lakukan pada teman - temanmu...ee siapa namamu ?",tanpa canggung Indra merangkul Ikhsan dan mengajaknya berkenalan
"Aku ikhsan,kak...".Ikhsan berubah kaku.Indira melihat tindakan Indra.
"O ya,Ikhsan....kau takut?"
"ti tidak...".
"Aku juga tidak akan memukulimu...O ya,apa yang kau lakukan tadi pada mereka hingga mengejarmu ?...".
"tadi aku mengerjai mereka,Aku menaruh cuka banyak sekali di es mereka,hingga mereka keasaman meminumnya,aku langsung lari dan mereka pun mengejarku...".
Mendengar itu Indira hendak memukul Ikhsan lagi namun Indra menahannya.
"Kau sangat suka mengerjai temanmu.Temanmu banyak ya di sekolah..."
"Aduh Kak,Siapa yang nggak kenal Ikhsan?Semua kenal Ikhsan dan takut padaku...aku tiap hari mengerjai mereka,mereka setiap hari mengejarku pulang sekolah hingga mereka jera sendiri mengejarku...".
"mmm...bagaimana kalau temanmu mengerjaimu?".
"Ah!!!gak ada yang berani sama aku...aku ini anak paling lihai dan  pandai di sekolah..semua takut padaku.."
"lalu bagaimana jika semua temanmu bekerja sama untuk mengerjaimu hingga membuatmu jera ?aku kau pernah tahu?"
"Oh..e..".Ikhsan terkesiap mendengar ucapan Indra.Ucapan Indra agak membuatnya berpikir dan ia merasa takut.
"Hati - hati di sekolah ya Ikhsan...Kau tidak juga pandai di sekolah,kau juga lihai..namun kau selalu punya niat untuk mengerjai temanmu hingga ada beberapa yang merasa terganggu dengan tindakanmu,apa nanti malah teman - temanmu memandangmu sebagai anak nakal dan mungkin melihatmu bukan sebagai Ikhsan yang pandai namun Ikhsan yang bodoh ?
Hati - hati Ikhsan,jangan sampai karena kejahilanmu,semua temanmu sampai membully mu habis - habisan...".kata Indra melihat Ikhsan dengan tersenyum.
Ikhsan ketawa malu - malu,sambil menggaruk - garuk kepalanya,ia pun masui ke kamarnya.
Indira tak menyangka tindakan Indra mampu menjinakkan Ikhsan.Indra mendekati Indira.
"setidaknya Aku tidak pernah memukuli Arjun saat Ia terlalu nakal,dan sejauh ini Arjun tidak pernah membuatku jengkel..".kata Indra halus pada Indira.
"Emhhh...terima kasih Indra...Aku terlalu stress dengan adikku cowok ini...".
"tapi kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah Indira,bukan begitu?".kata - kata Indra membuat Indira tersipu malu dan mengena di hatinya.
"Emmmhhhh....Kapan kita akan mulai mengambil ukuran badan?".Indira mengambil meteran.
Indira segera mengambil ukuran badan Indra.tanpa canggung Indira melingkarkan meterannya ke setiap tubuh Indra.Indra tampak tenang namun di dalam dirinya desiran darahnya mengalir dengan deras.Getaran rasa itu berdebar dengan sangat kuat itu membuatnya merasa agak gugup.Indra selalu tersenyum setiap Indira menatapnya.
***
Suatu sore Arjun pergi ke rumah Niel untuk mengantar sesuatu.Langit tampak gelap dengan mendung menutupi matahari.Arjun bergegas agar nanti tidak kehujanan di jalan.
Tiba di rumah Niel,Arjun langsung masuk ke rumah Niel.Hujan pun langsung turun dengan deras.Niel mengajak Arjun masuk ke kamarnya.Niel tengah bermain game online lewat laptopnya.
"kau tampak serius sekali dengan permainan ini Niel ?".tanya Arjun melepas jaketnya dan meletakannya di atas ranjang tempat tidur Niel.
"Yaaah,  sudah beberapa hari aku berusaha untuk memenangkannya,butuh usaha keras...".Niel masih konsentrasi ke laptopnya.
"jangan terlalu serius dengan permainan kawan,nanti kau cepat mendapat stress.itu akan membuat emosimu terpacu...".
"Tidak apa - apa Arjun,ini malah membuatku menghilangkan stress menghadapi tugas - tugas yang menumpuk ini...".
Arjun duduk di samping Niel dan merangkulnya"Emmhh...Kau sahabatku Niel,Aku selalu menepati janji yang aku ucapkan".Arjun menyerahkan sebuah tiket",Dan ini buktinya...".
Niel berhenti bermain dan terkejut menerima tiket itu",Haaah !!...ini tiket pemesanan tempat di Cassino Cafe !!!",Niel tampak antusias menerimanya,"dan First class...."
Niel senang sekali Arjun bisa memenuhi permintaannya saat itu.Niel merangkul erat Arjun.Arjun merasa senang Niel yang girang menerima tiket ini.
***
Waktu menunjukkan jam setengah delapan,Nira bersiap - siap untuk pergi ke suatu tempat.Kemarin Arjun meneleponnya,Arjun mengundangnya untuk hadir ke sebuah Kafe,Nira awalnya agak ragu namun Ia menyanggupinya.Ia mendapat firasat baik menerima ajakan Arjun.
Ia berdandan secantik mungkin untuk menghadiri undangan Arjun.Ia tidak ingin mengecewakan Arjun.Dan kebetulan Dandi tidak datang padanya,jadi Nira bisa bebas.
Arjun juga menjemput Nira saat Nira sudah siap.Arjun mengajak Nira ke sebuah Kafe.Tiba di tempat parkir Kafe itu,Arjun langsung mengajak Nira masuk.
"Ngomong - ngomong Ada acara apa Arjun?tumben kau mengundangku...".tanya Nira penasaran.
"Aku juga tidak tahu Nira,Kak Indra yang menyuruhku untuk mengajakmu ke acara ini...".
"Oh,terima kasih sudah mengundangku ya...Kau dan Kak Indra baik sekali,pasti acara ini sangat spesial dan orang yang datang juga orang yang spesial..."
"Yaah begitulah Nira,Ayo masuk...".
Arjun mengajak Nira masuk ke Cassino Kafe.Kafe paling berkelas di kota ini,Nuansanya sangat mewah.Arjun mengantar Nira ke sebuah meja yang ia pesankan sendiri untuk Nira dan seseorang yang telah menunggunya di sana.
Tiba di dekat meja yang dimaksud,Arjun dan Nira berhenti.Arjun mempersilakan Nira menuju meja itu.Nira terdiam melihat seseorang telah berada di sana,Niel.
Ia terdiam agak lama,diam - diam Arjun meninggalkan Nira.Mengetahui kedatangann seseorang Niel berbalik dan melihat Nira.Ia melihat Nira dengan penampilan yang sangat sempurna.Nira masih berdiri di tempat,Hatinya berkecamuk.
Matanya berkaca - kaca,Nira masih menatap Niel,begitu juga sebaliknya.Nira berjalan mendekati Niel tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya ke kedua bola mata Niel.
Tiba di hadapan Niel,Nira masih diam menatapnya.Niel lalu tersenyum.Suasana begitu tenang.Mata Nira masih berkaca - kaca dengan rasa sedih,menyesal dan takut tumbuh di hatinya.
Perlahan Nira mengulurkan tangannya ke arah wajah Niel,Ia meraba Pipi Kanan Niel dan mengusapnya.Mata Nira mulai di penuhi Air mata.Niel hanya diam dan masih tersenyum pada Nira namun Niel merasakan apa yang tengah Nira rasakan.Niel merasakan usapan halus tangan Nira.
"Mungkin Aku seorang yang kasar di matamu,Mungkin Aku seorang yang egois di matamu,Mungkin Aku seorang yang...".Nira menarik nafas pelan",jahat di matamu....Dan mungkin Aku seorang yang buta,Aku memang punya sepasang mata namun aku tidak bisa menggunakannya untuk melihat.
Aku mempunyai hati namun Aku tidak tahu untuk siapa saja hati ini aku berikan,Ketika seseorang memberiku hati dengan seluruh ketulusannya aku malah membalasnya dengan rasa pahitnya empedu yang aku miliki ini dengan penuh kebohongan dan kejahatan...
Aku punya mulut,Tapi Aku tidak bisa mengatakan mana hal yang baik mana hal yang buruk,mana yang jujur dan mana yang bohong.Tapi,Aku punya Akal,Aku tidak bisa untuk menggunakannya untuk mencintai orang yang tepat...".Nira mulai terisak - isak"",tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini,tidak ada yang sempuna....".Nira menunduk,tangannya masih mengusap pipi Niel",Aku sangat jahat padamu Niel,Aku sangat Jahat padamu Niel....Aku sangat jahat padamu hingga lancang menampar pipimu..".Nira menumpahkan Kesedihannya dan penyesalannya.Niel merasakan apa yang Nira rasakan.Ia memegang kedua pipi Nira dan menengadahkannya.Kedua Mata Nira dipenuhi lelehan air mata,Niel menghapus air mata itu dengan pelan.Ia menggelengkan kepalanya dengan menatap Nira dengan tatapan yang sendu.
"Aku lelah dengan semua sandiwara ini,Aku lelah dengan semua kebohongan yang aku lakukan ini padamu,Aku lelah dengan keadaan ini.Aku lelah memendam perasaan ini...
Ketika aku sangat lelah dengan semua ini,tidak ada orang yang bisa aku jadikan tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah.Aku hanya bisa menangis,Entah sudah berapa kali aku meneteskan air mata ini menahan rasa sakit yang aku hadapi ini,entah berapa kali...
Andai Ada cowok yang bisa lebih mengerti diriku,Aku akan senang dan nyaman bersamanya...Aku akan mencintainya..Dan andai saja cowok itu ada di saat itu juga,Mungkin hatiku ini tidak akan terus merasakan sakit lagi...".Nira menarik nafas masih menatap Niel penuh harap.
Nira dan Niel bertatapan agak lama.
"Dan cowok itu telah ada di hadapanmu...Mungkin itu yang dikatakan oleh hatimu ?".kata Niel pelan.
Nira langsung memeluk tubuh Niel dan menumpahkan segala sedih dan sesalnya lewat tangisnya.Nira hanya bisa terisak - isak.Niel juga memeluk tubuh Nira,dengan membelai rambut Nira.Niel mengajak Nira duduk.Sesekali Niel menghapus Air mata Nira.Dari kejauhan Arjun melihat Niel dan Nira bisa baikan,rencana yang susun akhirnya bisa berhasil untuk sahabatnya.
Nira berusaha tersenyum untuk Niel.Niel masih membelai rambut Nira.
"Kau masih merasakan sakit Niel ?".Tanya Nira kembali mengusap Pipi Niel.
"Aku mau lagi,Nira...".Jawab Niel mengenggam tangan Nira.Mereka pun tertawa.
"Aku tahu kau sangat sakit hati menerima keputusanku Niel,Apalagi aku sampai menamparmu di hadapan Dandi,tapi aku tidak bisa berbuat apa - apa..."
"Iya,Aku sakit hati,Aku sangat sakit hati.Aku sangat sakit hati ada cowok pengecut yang hanya bisa menggunakan cewek sebagai senjata untuk melampiaskan kecemburuannya.Dan cewek itu adalah cewek  itu sangat aku sayangi..."
"Kau sampai mengamuk di rumah...".
"Tapi sebenarnya aku ingin minta ijin padamu untuk menghajarnya,tapi tidak bisa,akhirnya aku mengamuk di rumah.."
"Kau tidak kasian Arjun sampai kewalahan menenangkanmu sampai Kak Indra turun tangan..."
"Tidak peduli seberapa parah kekacauan yang aku timbulkan..."
Nira tertawa dengan bulir - bulir air mata yang sesekali menetes dari matanya.
"Bagaimana dengan Dandi ?".
"Aku mulai lelah dengannnya,Mungkin ia mulai bosan denganku?.Ku kira ia benar - benar mencintaiku,Aku tidak terima saat ia tiba - tiba marah padaku.Memangnya Aku ini siapa,seenaknya ia jadikan pelampiasan..."
"Jadi ?"
"Kau terus bertanya padaku,Niel.Kau juga membuatku capek...".
"Okey,Kita akan mencuri waktu untuk berdua saat Dandi tak menemuimu. bagaimana?".
"Jika ini jalan terbaik buat kita,Aku akan rela menjalankannya denganmu.Bagaimana ?"
"tampaknya kita saling menunggu,karena kita saling bertanya daritadi,ini sebuah cinta bukan sebuah kompromi,Nira."Niel berhenti bicara saat memergoki Indra,Indira,Marvin,Malika mengintipnya",tunggu sayang,Sepertinya mereka ingin ikut rapat kita...Mereka mau mengganggu rapat kita..Hei Kalian tidak suka kami rapat berdua...".
Mereka yang mengintip Niel dan Nira pun terjatuh di tempat.Nira tertawa melihat ulah konyol mereka.Arjun mendatangi Niel dan Nira.
Arjun melihat Nira,Lalu melihat Niel.Niel tersenyum puas pada Arjun.Niel langsung mendekap Arjun.
"Kau Pahlawan bagiku kawan...Kau sahabat baikku..".Niel melepas dekapannya.
"Kak Indra sudah menunggu,Nira ayo...Kak Indra Sudah menunggu..".Arjun mengajak Niel dan Nira bergabung bersama mereka.
Indra mengajak semuanya makan malam.Indra memesan satu meja besar untuk makan bersama.Indira duduk di sebelah Indra.Marvin duduk di sebelah Malika.Dan Niel duduk di sebelah Nira.Arjun duduk di sebelah kakaknya.ini momen yang Arjun tunggu - tunggu.Bisa berkumpul dengan orang yang mereka sayangi.Arjun senang melihat Marvin duduk bersama Malika,Arjun sangat senang dan bangga melihat Niel bisa duduk bersama Nira.Saat hidangan siap di hadapan mereka,Indra mengajak mereka makan.Makan Malam yang spesial.
***

Malam yang begitu tenang.Langit sangat terang dengan tebaran bintang - bintang yang menemani bulan yang bersinar.Malam yang tidak begitu dingin.
Indra membuka jendela kamarnya.Angin halus menerpa tubuhnya,seolah - olah menyapanya di malam ini.Ia menarik kursi dan mengambil bantal untuk bersandar di kursi itu.Ia duduk di kursi dan memandang keluar jendela menikmati pemandangan malam ini.
Dan Angin kembali menerpa halus tubuhnya,Ia pun menyadari kedatangan seseorang.Dengan bau harum ini,Ia mengingat siapa yang mempunyai keharuman yang khas ini.Seseorang membelai dadanya dengan halus.Ia merasakan seseorang memasrahkan kepalanya di atas dadanya.
"Sayang....".Panggil Wanita itu.
"Kau kesepian malam ini?hingga kau turun menemuiku...".tanya Indra lirih pada wanita itu.
"Ya....Kau pasti lelah hari ini,".Sosok Wanita itu adalah Ivana.
"Kau datang untuk menghilangkan lelahku,Ivana...Aku sangat menanti saat - saat seperti ini...".
"Kau sudah menemuinya ?".tanya Ivana.
"siapa ?".
"Kau pura - pura lupa,ya."
Indra tersenyum
"Wanita yang aku katakan,wanita yang sosoknya seperti diriku...".
"Indira..."
"Namanya Indira ?".
"Ya...tapi,"
"Tapi apa ?".
"Dia adalah Indira,bukan Ivana...".
"Maksudmu ?,Bukankah Ia sama saja...".
"Ya,kalian hampir sama secara fisik.Namun Pribadi Indira berbeda...Aku sangat mencintai Ivana...".
Ivana tersenyum dan membelai dagu Indra",Aku juga mencintai Indra,lebih dari diriku sendiri...tapi Indira lebih baik bagimu Sayang...".
"bagaimana bisa kau berkata seperti itu ?memang Indira terlihat lebih baik bagiku di matamu,tapi untuk diriku sendiri,tidak Sayang"".
"Ada yang kau tidak suka dari Indira,sayang ?".tanya Ivana halus.
"Aku agak kurang nyaman dengan sifatnya yang sedikit tomboy,kadang Aku tidak bisa berbuat apa - apa saat ia bertingkah seperti itu...Dia tidak seperti kau yang sangat feminim dan lemah lembut...".
"Semua Wanita pasti feminim dan lemah lembut..."
"Tapi Indira tidak terlalu menonjol dalam sifat itu...Aku belum menemukan sifat itu dalam dirinya..."
"Kau belum menemukannya karena kau belum mengenalnya lebih jauh dan lebih akrab.Indira anak pertama dalam keluarganya,Indra.Jadi wajar ia punya watak seperti itu,paling tidak untuk mempertegas sifat tegasnya sebagai anak pertama yang menanggung beban keluarganya...".
"Bagaimana Kau tahu ?".
"Indra,sayang,Aku sangat mencintaimu dan kau juga mencintaiku.Rasa sayangku dan Ruh ku ini sudah seperti hidup dalam dirimu.Jadi ke mana pun kau pergi dan berinteraksi dengan siapa pun aku tahu....".
"Emmmhhh...".
"Tapi Kau tidak melihat seorang indira adalah seorang wanita tegar yang pekerja keras.Ayahnya sakit,ibunya hanya mendapat nafkahnya dari hasil menjahit.Ia punya dua adik yang harus ia biayai sekolahnya.Belum Pengobatan ayahnya dann biaya sekolah adiknya.Kau tidak melihat sejeli itu kah sayang?...
Aku yakin seorang Indira adalah Wanita yang sama sepertiku,Aku tidak bisa hidup dengan keadaan keluarganya.Tapi Ia bisa dan berusaha dengan berjuang mempertahankan hidupnya.Aku yakin Indira juga pernah merasa lelah dengan nasib hidupnya dan berat beban yang harus ia tanggung.Aku yakin Ia juga berusaha menghilangkan sifat cengengnya dengan berusaha ceria dan bersemangat menjalani hidupnya.
Cinta bukan masalah keadaanmu susah atau senang.Bagiku Cinta adalah masalah mengubah Susah menjadi senang di berbagai keadaan yang tengah kamu berada,bersama.
Indira mulai menyukaimu sayang...".
"Tapi...".Mata Indra berkaca - kaca mendengar perkataan Ivana.
"Kumohon,Indra.Cinta adalah masalah memahami keadaanmu sekarang ini.Kau belum memang merasakan cinta pada Indira namun ketika kau merasakan bagaimana hidup Indira kau akan tahu dan kau akan menemukan Cintamu yang sebenarnya...".
"Tapi Aku mencintaimu Ivana,bahkann lebih dari Indira...".
"Aku juga mencintaimu,sangat mencintaimu lebih dari apapun.Namun takdir yang tidak menyatukan cinta kita dalam kenyataan.Indra,sayang,Ku mohon,Jika hingga kau mencintai Indira dengan ketulusan hatimu maka kau akan menemukan cinta sejatimu dan Kau juga akan menemukan cinta sejati dari diriku juga.Cinta yang tulus darimu akan menyatu dengan cintaku yang tulus juga lewat cinta indira untukmu...".perlahan Sosok Ivana pun menghilang,"setulus Apapun Indira mencintaimu sama rasanya aku mencintai dirimu seperti dulu...Aku mencintaimu Indra."Ivana pun menghilang.
Indra terdiam"Aku juga mencintaimu,Ivana...".
Ia melihat langit malam ini,Bulan telah hilang bersembunyi di balik awan.Badannya terasa lesu.Ia duduk dengan terus memutar ulang kata - kata Ivana di telinganya.
Arjun datang masuk ke kamar Kakaknya.Indra menoleh ke Arjun.Arjun berdiri di hadapan kakaknya.
"Kakak kenapa ?".Arjun duduk disamping Indra.
"Tidak apa - apa,Dek...".Jawab Indra lesu,Indra langsung beralih ke ranjangnya.
"Ada yang kakak sembunyikan...".Arjun menyusul Indra.
"Aku lelah Adikku...".Indra merebahkan badannya.Kepalanya jatuh diatas paha Arjun.
"Ya...Arjun bisa merasakannya..."
"Temani Kakak malam ini ya,kau jangan meninggalkan kakak...".
"Baiklah Kak...".Arjun merasakan Kakaknya tengah galau namun Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Kakaknya.

Sincerely,
Salam-E-Dostana


Fajar Adi






Komentar

Postingan Populer