Salaam-E-dostana Bab 12


Pagi ini pancaran sinar kuning mewarnai batang pohon - pohon di taman kampus itu.Hawa dingin masih menemani kesepian yang ada di taman itu.sesekali tampak daun berguguran.Bau rumput juga masih segar tercium.

Waktu perlahan beranjak,Geliat kehidupan mulai terasa.Beberapa orang tampak datang melewati pintu gerbang kampus itu.Dengan berbagai suasana,mereka mewarnai pagi ini saat melewati gerbang ini.Seorang tampak berhenti dan mencari sesuatu.seorang wanita muda menebarkan pandangannya.Matanya mencari keberadaan seseorang,ia mendapatkannya.

Seseorang duduk di sebuah kursi di taman,tak jauh dari tempatnya berdiri.Ia tersenyum sembari mendekatinya.Matahari mulai memberi kehangatannya.Ia tengah asyik bermain Handphonenya.Lalu seseorang datang menutup matanya dari belakang.Ia berhenti dan tersenyum.
Tangan yang sangat halus.Ia tidak mau membuka bekapan ini dari matanya.

"Katakan padaku kenapa kau sampai menyendiri di sini ?".tanya Gadis itu masih menutup matanya.

"Katakan padaku juga kenapa kau membiarkan aku sendiri di sini ?".Pemuda itu balik bertanya.

"Kau sudah lama menunggu ya ?".tanya Gadis itu lagi,Ia melepas tangannya.Dan duduk di sampingnya.

"Sejak Aku belum mencium wangi tubuhmu mulai mengharumkan tempat ini...".Ia melihat Gadis itu dan tersenyum.

"Aku perlu waktu lama untuk memilih wangi apa yang harus aku berikan padamu pagi ini,sayang...".Gadis  itu,Nira melepas tasnya.
"dan kau memilih wangi yang tepat pagi ini...".Ia mengantongi hp nya",boleh aku tahu kau membelinya di mana ?".

"Oh Niel sayang,kau merusak suasana romantis dan puitis ini...".

"Nira,Aku benar - benar ingin tahu di mana kau mendapatkan parfum ini ?".

"Nanti aku akan mengantarmu untuk mendapatkannya.Di mana Arjun dan Marvin ?".tanya Nira melihat area parkir.

"Mereka belum datang,Aku sengaja datang lebih awal."

"Untuk apa kau datang lebih awal?".

"Untukmu Nira...".Kata - kata Niel membuat Nira tersipu.

"Oh...Kau manis sekali,tapi kau akan membuat mereka kebingungan,kau sudah memberitahu mereka ?".

"Sudah...".

Nira ingat sesuatu dan termenung agak lama.

"Hei,kenapa kau diam Sayang ?kau ada masalah ?".tanya Niel menepuk bahu Nira halus.

"Ada Niel".

"Apa itu ?"

"Bagaimana dengan tugas kita untuk parade ulang tahun kota nanti,Aku belum membuat apa - apa...".Kata Nira lesu

"Sama Aku juga belum bisa memberikan apa - apa untuk Kak Iqbal atas usaha kita..."

"Aku ingin membuat pertunjukkan,Aku ingin membuat sesuatu yang luar biasa,sesuatu yang bisa menyita perhatian dan kekaguman seluruh orang di kota ini",Nira melihat Niel",tapi kita hanya berdua Niel...".

"Arjun dan Marvin akan siap menjadi partner kita...Kita bertiga,oh berempat akan membuat pertunjukkan yang menakjubkan..".

"Yah...Aku harap mereka bisa membantu kita membuat satu pertunjukkan seperti saat di Hotel Niu Grand dulu,Niel...Marvin,Arjun,Malika,dan Kak Indra berhasil menguasai acara itu...Aku yakin kita bisa jika kau mengajak Marvin dan Arjun...".

"tentu..."

Mereka terus berbicara banyak hal lain.Sementara di sisi lain,Arjun mengamati Niel dan Nira dari kejauhan.Ia tersenyum melihat Niel,Ia bahagia ia tidak merasakan Niel sudah tidak menyimpan kesedihan.

Ia melihat Niel tertawa lepas.Ia ikut merasa bahagia.Lalu Marvin datang.

"Oh Selamat Pagi...".Marvin menyapa Arjun.Marvin ikut melihat Niel.

"Selamat pagi juga Marvin..."

"Mereka berdua sudah lama berada di tempat itu ?".tanya Marvin ikut melihat Niel dan Nira

"Mungkin.."Arjun masih melihat Niel dan Nira.

"Mereka tampak bahagia..."

"Ya...kau juga bisa melihatnya...".

"Dan mereka membuatku iri.."

"Bagaimana dengan Malika ?"tanya Arjun melihat Marvin.

"seperti biasa aku sudah mengantarnya,dan Kami tidak tertawa seperti mereka tadi.."

"Malika masih ngambek ?".

"Tidak keliatannya,entahlah Akhir - akhir ini ia tampak tidak bersemangat...".

Marvin mengajak Arjun beralih dari tempat itu.

"Apa ia sakit ?".tanya Arjun

"Tidak juga,ia tampak menyembunyikan sesuatu tapi entah aku tidak dan aku sudah minta maaf soal kemarin..".

"Kau tidak berani bertanya padanya ?".

"Oh Arjun,aku tidak berani untuk lancang padanya.Mungkin itu masalah pribadinya...".

"Kau harus tetap menjaga dan memperhatikannya Marvin....Kau sangat menyayanginya bukan ?".Arjun dan Marvin meninggalkan Area Parkir.

"Aku tentu sangat menyayanginya,Aku juga selalu memperhatikannya...sebagai teman...".Marvin melihat Arjun dengan sedikit tersenyum.Arjun bisa melihat maksud tersembunyi dari tatapan Marvin.

Arjun hanya terdiam.

"Dan di berbagai keadaan,di saat berada di dekat Malika,Aku selalu merasa nyaman dan tenang.entah kenapa ?",Marvin menengadah",Mungkin Orang melihat dirinya sebagai Wanita yang judes,cerewet dan jaim.Dia seorang Fashionista,yang menjaga penampilannya tetap sempurna serta terlihat Glamor.Banyak orang yang tidak nyaman melihat dirinya karena gaya hidupnya.

Namun,di pandanganku,Malika adalah seorang Gadis yang kritis dan suka memperbaiki sesuatu yang terlihat kurang nyaman dipandang mata menjadi indah.Dia seorang Perfeksionis,dan itu gaya hidupnya.

Dia seorang Gadis yang tidak sembarangan menampilkan apa yang ia pakai ke orang - orang.Ia pandai memadukan berbagai barang yang ia kenakan dengan tepat.Dengan begitu Malika selalu memikirkan sesuatunya tidak sembarangan,terlihat dari caranya berpakaian. 

Itulah hal luar biasa dari seorang Malika,meski ia terlihat seperti itu namun ia berpikir sebaik mungkin untuk membuat penampilannya bisa indah dipandang mata."

"Kau juga luar biasa Marvin...".

"Emhhh...dia selalu mengajariku bagaimana berpakaian dengan baik,serta memilih dan memadukan pakaian dengan baik...".Marvin menoleh ke Arjun

"Maka dari itu,penampilanmu sekarang berbeda.Aku lebih suka melihat Marvin yang sekarang...".

"Tapi,satu hal penting yang belum aku dapatkan dari seorang Malika...".Marvin menunduk.

"Apa itu kawan ?".

"Selama ini Aku datang untuk Malika,Mengantar dan menjaga untuk permintaan Malika,Selalu memperhatikannya,karena Aku tahu Malika butuh sosok teman yang bisa ia dapatkan setiap saat di berbagai keadaannya kapan pun.

Sosok sebagai teman Arjun...".Marvin mengangkat dagunya."Untuk Permintaannya yang ia sampaikan padaku untuk menjaganya dan memperhatikannya sebagai seorang teman.

Aku tidak mau Malika mendapat ancaman dan tekanan dari siapa pun.Dan aku selalu memenuhi permintaannya dengan baik."

"Karena Pertama kali kau bertemu Malika,setelah ia putus dari pacarnya,hingga ia dibuat syok karena tindakan pacarnya.."

"Yaah...Aku hanya ingin membuat Malika percaya bahwa aku orang yang baik dan bisa dipercaya,namun Aku ingin mengubah pandangannya yang menganggap seorang cowok mencintai seorang cewek karena hanya ingin mempermainkan perasaannya.

Cinta bukan masalah seberapa pandai kau mempermainkan perasaan seseorang.Tapi cinta adalah masalah kau menunjukkan keseriusan dan kepandaian kita memelihara perasaan seseorang.

Cinta adalah masalah dimana kau punya tujuan jelas dan benar saat kau membuatnya bersama seseorang.Dan menunjukkan keseriusan dalam menjaganya.Hingga kalian benar - benar berbagi perasaan cinta yang sejati itu sendiri."

"Cinta juga masalah dimana kalian mengerti satu sama lain,di berbagai hal...".

"Aku ingin membuat satu hubungan dengan Malika,Aku ingin memperkuat hubungan itu hingga Aku benar - benar bisa menyalurkan perasaanku pada Malika,dan memeliharanya dengan baik.

Aku ingin Malika mengerti dan menerima apa yang tengah aku rasakan padanya di saat Aku menatap kedua bola matanya.Aku ingin Malika bisa menerima isyarat yang nantinya akan aku berikan padanya dan Ia tahu maksud dari isyarat itu...".

"Isyarat dan perasaan itu adalah Cinta,Kau sudah jatuh cinta pada Malika,Marvin.bukan begitu ?".

Marvin tertawa ringan"Tapi Aku belum mendapatkannya dari Malika,Arjun.Aku masih dalam tahap kedua,tahap memperkuat hubungan pertemanan kami.Entahlah,apa kah Malika juga punya perasaan yang sama terhadapku?itu masih menjadi tebakan terbesarku terhadap dirinya...".

Arjun menepuk bahu Marvin",Kau harus berusaha lebih keras Teman untuk saat ini...Aku akan selalu ada di belakangmu untuk menopangmu...".

"Aku tidak memintamu Arjun...".

"Dalam persahabatan kita ini kau tidak perlu meminta padaku terlebih dahulu...Kau sudah lupa pada omonganmu temanmu ini ya...".
Marvin merangkul erat Arjun."ternyata temanku ini bukan orang yang suka omong kosong...".

"Karena Aku bukan tong kosong yang pandai bernyanyi,Marvin..".

***
Suatu ketika,Indra ingin mengunjungi Indira di rumahnya.Ia segera berdandan.di tengah ia berdandan,tak sengaja Ia memecahkan botol parfumnya,dan saat hendak memungut pecahan botol itu,tiba - tiba jari Indra tergores salah satu pecahannya.Seketika Ia merasakan sebuah firasat buruk.

"Arjun..Arjun...".panggil indra menekan tangannya yang tergores untuk menghentikan aliran darah yang keluar dari jarinya.

Arjun datang",Iya Kak..ada apa?".

"tolong ambilkan plester luka untuk kakak,jari kakak tergores pecahan botol ini...perih sekali...".

"Kakak selalu memecahkan parfum yang kemasannya botol...tunggu adek ambil P3k dulu...".Arjun memeriksa Tangan Indra.
sejenak Arjun mengambil P3K.Arjun lalu membalut jari kakaknya.

"Kakak akan pergi ?".tanya Arjun memotong plester luka yang ia lekatkan di jari Indra.

"Yah.menemui Indira.O ya sekalian tolong kau bersihkan pecahan parfum ini ya...".Indra berdiri.Arjun membereskan peralatan P3knya.

"Nanti Jari Arjun akan tergores seperti kakak..".

"Tidak,jika kakak pulang dengan membawa keripik untukmu...".Indra tersenyum.

"Kakak janji...".

"Oke...".

Indra langsung menuju rumah Indira.tiba di rumah Indira,tampak dari kejauhan sesuatu yang tidak beres terjadi di rumah Indira.Ia berhenti agak jauh dari depan rumah Indira.Angin bertiup sangat kencang saat ini.

Indra melihat kejadian itu.Indira tengah berjuang merebutkan sesuatu.Ia tampak menangis berusaha mempertahankan sesuatu,sebuah Amplop dari tangan dua orang berpenampilan preman.Awalnya,Indira meronta - ronta,Ia tampak beradu mulut dengan preman berbadan besar.

Indira berusaha sekuat tenaga merebut amplop itu.Ia sampai memukul tangan satu preman hingga terlepas amplop itu dari tangannya.Indira pun memasukkan Amplop itu dan melindunginya.Namun preman itu mulai melakukan kekerasan pada Indira.

Preman hendak memukul wajah Indira namun Indra langsung menangkisnya dengan tangannya.Indira selamat namun masih tampak syok.

"Kalian mau apa  di sini ?kalian mau apa ...".Indra berusaha melindungi Indira.

"Kau siapa ?beraninya menghalangiku,kau tidak ada urusan dengan dia dan kami...jadi kau minggir..".Satu preman menggertak Indra.Namun Indra tak takut.

"Urusan dia juga urusanku...kau tak perlu tahu siapa diriku...".Kata Indra dengan nada yang tinggi pula.

"Aku sedang menagih utang padanya...".

"tapi Apa harus dengan kekerasan seperti ini?".

"Itu akan membuat dia jera,dan takut pada kami,dia tidak mau membayar utangnya pada kami..."

"Oh jadi kalian ingin uang,kalian ingin uang...",Indra menjauhkan Preman itu dari Indira",Ini...ini...uang,ambil !!!".Indra menyerahkan beberapa lembar uang ratusan pada Preman itu.

"Ini kurang !!! kau mau macam - macam pada kami ya,aku juga akan menghajarmu...".

"tapi kalian bisa datang lain kali ?!Aku akan memberi kalian uang tagihan  lagi lain kali namun bukan untuk saat ini!!!...."

"Oke....seminggu lagi..oke,jika kau tidak memberi uang pada kami,aku tidak akan segan - segan menyiksa wanita itu...".

"aku juga tidak akan segan - segan menyeret kalian ke kantor polisi...".

Setelah Indra mengatasi dua preman itu.Ia berbalik ke rumah Indira.Ia melihat Indira sangat syok.Ia melihat Ikhsan babak belur yang berusaha melindungi Indira.Indra membawa Ikhsan masuk.

Ibu Indira tampak syok juga merawat bapak indira.Indra menaruh Ikhsan di Kursi.Ia segera memberikan pertolongan pertama padanya.Ia mengompres Wajah Ikhsan yang babak belur.

"Ibu..Ibu,nggak apa - apa ??"tanya Indira mendekati Ibu dan Ayahnya.Bu Harum juga syok kedatangan Dua preman yang menagih hutang pada Keluarganya.

Dan Akhirnya Preman itu berhasil diusir oleh Indra.

"Ibu tidak apa - apa Nak...".Bu Harum membelai rambut Indira,Wajahnya basah.Indira mengeluarkan Amplop yang ia sembunyikan tadi.

"Ini Uang untuk Pengobatan Ayah,Ibu...Aku tidak ingin mereka mengambilnya...",Tangan Indira gemetar saat menunjukkan Amplop itu",Aku ingin Ayah cepat sembuh...".Kata Indira terisak - isak melihat Ayahnya yang tak berdaya",Aku hanya ingin membawa Ayah berobat dan berharap Ayah bisa sembuh...Keluarga Kita sudah menderita seperti ini..".

Indra mendengar Apa yang Indira katakan semuanya.Ia menoleh ke Indira.Indra melihat Wajah Indira yang syok.Dan Tiba - tiba Ia merasakan Sesuatu dalam Hatinya,Ia merasa kesedihan yang tergambar jelas di lelehan Airmata Indira.Angin lalu halus bertiup di wajah Indra,dan membawa bisikan.

"....Kau tidak melihat seorang indira sebagai seorang wanita tegar yang pekerja keras.Ayahnya sakit,ibunya hanya mendapat nafkahnya dari hasil menjahit.

Ia punya dua adik yang harus ia biayai sekolahnya.Belum Pengobatan ayahnya.Kau tidak melihat sejeli itu kah sayang?...

Aku yakin seorang Indira adalah Wanita yang sama sepertiku,Aku tidak bisa hidup dengan keadaan keluarganya.Tapi Ia bisa dan berusaha dengan berjuang mempertahankan hidupnya.

Aku yakin Indira juga pernah merasa lelah dengan nasib hidupnya dan berat beban yang harus ia tanggung.Aku yakin Ia juga berusaha menghilangkan sifat cengengnya dengan berusaha ceria dan bersemangat menjalani hidupnya.....".Bisikan Kata - Kata Ivana malam itu terus terngiang - ngiang di telinga Indra.Perasaan berkecamuk di hatinya,Ia mulai sadar akan kesalahan perasaannya terhadap Indira.Jelas seperti yang tersirat dalam kata - Kata Ivana.

Ia berdiri.Indra sudah selesai merawat Ikhsan.Ia berjalan mendekati Indira.Ia hanya diam dengan perasaan yang masih berkecamuk.Bu Harum dan Indira melihat Indra.

Indra mengulurkan Tangannya ke hadapan Indira.Indira bertanya - tanya,Ia segera menyembunyikan Amplopnya yang berisi Uang.Indira merasa takut.Indra masih diam.

Perlahan tangannya meraih tangan Indira.Indira hanya pasrah.Indra lalu bertekuk lutut di depan Indira.Indra memandang wajah Indira.Jantung Indira berdetak cepat.

"Aku merasa sudah menjadi orang yang paling ceroboh.Aku sudah menunjukkan keteledoranku.

Aku juga turut merasa bersalah karena insiden ini...".Kata Indra menunduk di hadapan Indira dan Ibunya",Aku sampai melihat Air mata itu jatuh dari Matamu,Aku juga merasa Kesedihann dan Kekhawatiran yang kau rasakan ini.

Aku sampai merasa Masalah dan Penderitaan ini semakin menderamu..".Indra mengangkat kepalanya",Selama ini Aku mulai datang di hidupmu untuk tujuan apa,Aku belum tahu.

Aku hanya datang untuk melihatmu,hanya untuk melihat Wajahmu.Wajah yang selalu berseri,ceria dan bersemangat itu.Namun Aku tidak tahu apa yang terjadi dibalik wajah yang gembira itu.

Sekarang Aku datang dan mendapat wajah lain.Dan inilah wajah yang berada di balik wajah berseri itu.Aku merasa menjadi orang terbodoh sekarang,betapa bodohnya Aku.

Aku datang untukmu secara tidak langsung untuk meminta agar bisa menikmati kecantikann di wajah berseri itu.

Dan Aku merasa seperti orang yang tidak tahu diri,sekarang...".

"Jangan berkata seperti itu Indra...".kata Indira dengan Wajah sembab.Ia langsung menunduk menangis.Indra merasakan penderitaan yang harus ditanggung Indira.

"Dan Air mata ini keluar lagi..",Indra mengusap Air mata Indira",Aku tidak ingin menjadi orang yang teledor lagi,Aku tidak ingin menunjukkan diriku yang ceroboh lagi.

Dan sekarang Aku sudah tahu untuk tujuan apa Aku datang di hidupmu,Aku sudah tahu"Indra melihat Bu Harum"",Aku juga akan menghilangkan Kesedihan yang ditanggung keluarga ini.

Aku akan menjauhkan keluarga ini dari  Kekhawatiran ini.Aku akan menjagamu dan melindungimu,Indira...".Kata Indra dengan yakin.Genggaman tangan Indra semakin erat.Indira memandang Indra",Aku berjanji,Aku berjanji Akan melindungimu dan keluarga ini.

Aku juga ingin menanggung beban keluarga ini...".Kata - kata Indra membuat Indira gemetar.Perlahan Bu Harum tersenyum haru",Aku yakin akan janji yang aku ucapkan ini.Dan Aku bersungguh - sungguh atas janjiku ini Indira....Aku harap Kau menerima Janjiku ini...".

Indira lalu mengangguk dan tersenyum haru.Bu Harum merangkul Indira dan mendekap kepala Indra.

"Terima Kasih Anakku,Kau sangat baik sekali...Aku yakin Orang tuamu akan bangga padamu..Kau sangat baik sekali Indra...".

Indra tetap menggenggam tangan Indira.

***
Seperti pagi itu,pagi yang terasa cerah itu.Pagi dengan semilir angin yang membawa semangat.Daun -  daun jatuh yang berguguran itu.Menemani Langkahnya yang bersemangat,Pagi ini ia akan menerima raport hasil ujiannya.Sekolahnya tak begitu jauh dari rumahnya.jadi ia hanya berjalan saja menuju sekolahnya.

Ia menyapa siapa saja yang hadir di hadapannya.Ia mengenal semua orang.Ia selalu tersenyum pada semua orang.tampak beberapa murid wanita yang juga berjalan menuju sekolahnya.Ia berjalan di samping mereka.

"Indra...".panggil salah satu Anak cewek,

"Asni,ku kira kau belum berangkat,Aku tanya Papamu dia bilang kau masih sarapan,tapi ternyata kau sudah mendahuluiku...".Asni adalah tetangga sebelah rumah Indra

"Aku cepat - cepat sarapan,karena mereka ini lebih awal juga menghampiriku...O ya hari ini kita akan menerima raport kan Ndra?!".tanya Asni.

"Yah..Aku yakin akan mendapat rangking satu lagi..bagaimana denganmu ?apa paman mengancammu akan tidak memberi liburan padamu jika nilaimu jelek...".

"Kau sudah menebaknya Indra...tapi Aku akan membuat Papaku berubah pikiran 
karena Perubahan Nilaiku...".

"Kau sudah belajar lebih giat ya...kau pasti bisa menyamaiku..".

"iya Indra,Aku memutuskan untuk mengajak teman - temanku belajar kelompok...",Asni memperlihatkan temannya.Beberapa Cewek itu asyik saling ngobrol,namun ada satu cewek yang menyita perhatiannya.

Sinar Matahari menyinari wajahnya yang bersih.Indra sampai tertegun melihatnya.

"Mmmm..Ide yang bagus juga...".
Indra dan Mereka berpisah di persimpangan jalan.Mereka berbelok ke arah lain.Dan Indra tetap lurus ke sekolahnya.

Indra berbalik melihat Mereka.Sekali lagi Ia mendapat wajah cewek yang bersih berseri itu.Ia merasa bahagia dan damai melihat paras anak itu.

Dan di lain kesempatan,Tampak beberapa Anak laki - laki mengeroyok Seseorang.Seorang Cewek yang ketakutan dihadang anak - anak nakal di persimpangan jalan.Indra melihat kejadian itu.Satu Anak menjambak rambut anak cewk itu,seketika Ia pun meronta - ronta dan menangis.

Seseorang memukul tangan itu hingga rambutnya terlepas dari jambakan itu.Indra berusaha melindungi Anak itu.Mereka langsung menyerbu Indra.Indra meladeni mereka.Indra pun berkelahi melindungi Anak itu.

Indra mendapati beberapa pukulan di wajahnya,dan bagian tubuh lainnya.Namun Ia berhasil mengusir anak - anak nakal itu.Ia berbalik memeriksa anak cewek itu.Mereka masih memakai seragam putih Abu - abu.

Ia melihat Indra dengan wajah yang ketakutan.

"Kau jangan takut lagi,Anak - anak itu tidak akan mengganggumu lagi..Aku sudah mengancam mereka..Kau tidak usah takut lagi...",Indra melihat wajah cewek itu",hei kau temannya Asni bukan?".tanya Indra tersenyum.Setetes darah muncul di sudut bibirnya.

"I...Iya,terima kasih ya...kau sudah menolongku tadi...".

"Syukurlah Kau tidak apa - apa...".Indra mengajak Anak itu berteduh di sebuah kursi.

"Aku tidak apa - apa,Kau sampai 
terluka...Aku akan menangani lukamu...".Kata Anak itu mengeluarkan Sapu tangannya dan membersihkan wajah Indra.

"Tidak usah repot - repot,Melihatmu baik - baik saja Aku sudah senang..."".

"Tidak,Aku tidak mau melihat orang terluka apalagi seperti dirimu.Biarkan Aku membersihkan wajahmu,Aku juga ingin balas budi padamu...".

"Tidak usah dipikirkan...oh ya,kalau boleh tahu siapa namamu ?",Indra mengajaknya berkenalan",Kau juga baik sekali,Namaku Indra...".Indra mengulurkan tangannya.Anak cewek itu melihat Indra yang mengulurkan tangannya.

Ia tersenyum pada Indra"Namaku Ivana...".lvana menjabat tangan Indra",Kau berani sekali sampai menolonngku hingga berkelahi sama mereka...".

"berbuat baik dengan menolong itu suatu kewajiban kita sebagai sesama manusia...Dan Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu,Aku tidak ingin kau sedih hingga kau terlihat murung setiap saat...".

"Emmhh..terima Kasih Indra...".

"Alangkah baiknya jika kita berteman,Ivana...".

"Iya Indra,Kau akan menjadi teman yang baik untukku..Aku yakin...".

"Aku berjanji akan menjadi teman yang baik untukmu dan menjagamu...Aku bersungguh - sungguh...".

***

Malam ini begitu dingin,sesekali Angin malan bertiup menebarkan hawa dingin ini.Langit masih bertebaran bintang dengan awan kelam berarakan.Kesepian menguasai sekitarnya.Ia terduduk di tempat itu sendiri.

Ia terus memutar kenangan - Kenangan masa lalu dalam hidupnya.Beberapa bagian terasa menyenangkan,Beberapa terasa menyedihkan saat bagian pertama berganti.Dan perasaan yang ia rasakan menjadi saksi dalam hidupnya itu silih berganti.

Satu hal yang sudah terjadi pada hidupnya adalah Ia sudah kehilangan sosok yang ia cintai,namun sosok yang ia cintai itu seperti kembali.Ceritanya berbeda dengan nuansa yang lain pula.

Untuk kali ini,kisahnya kali ini,Ia akan belajar akan sebuah rasa tanggung jawab dan Perasaan dalam perjuangan cintanya.Ia seperti belum siap menjalani kisah yang ini.Ia takut jika tidak berhasil menjalani kisah ini dengan baik dan ia khawatir tujuan hidupnya akan berakhir sia - sia karena ketidak siapannya itu.

Namun Ia selalu berusaha yakin,Ia terima kegagalannya,Ia merasa ini barula jalan cintanya yang sebenarnya.Dalam keheningan itu ia terus merenungi hal ini,berusaha menghibur diri,membangun optimisme dan mengusir pesimisnya.

Hingga matanya berkaca - kaca,Ia memandang langit malam ini.Ia duduk.Ia mendekap lututnya dan tetap menengadahkan kepalanya.

"Andai waktu bisa diputar ulang,Aku ingin memperbaiki semuanya..",katanya lirih",sayang sekali,belum tentu aku beruntung jika hari kemarin dan esok berpihak padaku,Cinta bagai sebuah misteri...Dia datang membawa kebahagiaan,namun ia pergi membawa kepedihan...".

Seseorang menepuk bahunya,dan merangkulnya.

"Tapi Apa yang kakak bicarakan itu sedang terjadi Kak...",Arjun menaruh dagunya dibahu Indra",Cinta datang membawa kebahagiaan dan pergi membawa kepedihan,Cinta itu datang kembali pada Kakak,Adek harap kakak yakin.Saat - saat itu akan terjadi pada Kakak lagi,tergantung pada kakak yang menentukan akhirnya.

Dua sosok berbeda dengan paras yang sama,itu sebuah keberuntungan buat kakak.Tidak akan pernah datang pada orang lain.Waktu milik Kakak...",Arjun meraih tangan Indra",Tak peduli Hari kemarin atau besok,Masalahnya adalah Hari ini yang menentukan Kakak.

Keputusan Kakak yang tepat,yang akan membawa Kakak pada Kebahagiaan,Akan membuat hari yang menjadi Hari kemarin akan terasa berpihak pada Kakak.Tindakan yang tepat dari Kakak,Perencanaan yang Kakak buat di hari ini akan mengantar Kakak pada Kebahagiaan hingga hari esok dengan sendirinya juga akan berpihak pada Kakak...",Jelas Arjun dengan nada halus yang memberi Indra semangat.Arjun tersenyum pada Kakaknya.

Perlahan Awan kelam yang menyembunyikan Bulan menyingkir,dan Bulan purnama itu Akhirnya bisa kembali bersinar bersama seluruh bintang.

"Kemarin Aku melakukan ini pada Niel...".

"Apa yang kau lakukan Arjun ?".
Arjun menunjuk bulan",Kakak lihat bulan itu,Bersinar dengan terang.Seperti semangat hidup Kakak...",Indra ikut melihat bulan"Kakak juga lihat bintang - bintang yang bersinar juga di sekitar Bulan.Mereka ibarat Adik - adikmu,dan seluruh keluarga kita.

Aku,Niel,Marvin akan memberikan semangat pada Kakak.Begitu pun keluarga kita yang lain.Ketika Sinar bulan itu meredup,Bintang - bintang itu akan tetap bercahaya memberi kilauannya untuk menaungi bulan,seperti itu...".

"Dan bagaimana dengan bintang yang jatuh itu,Aku takut jika bintang itu akan jatuh semua dan Bulan akan kehilangan Bintang - bintangnya...".

"Allah menciptakan Bintang itu tak terhingga jumlahnya,Allah juga akan menciptakan semangat yang baru pada diri Makhluk-Nya yang putus asa selama Makhluk itu mengingat-Nya setiap saat dan kapan pun...".

Indra menarik Nafas lega.Ia mendekap Arjun.Ia merasa bangga dan beruntung memiliki Adik seperti Arjun.

Sincerely,
Salam-E-dostana


Fajar Adi

Komentar

Postingan Populer