Salaam-E-dostana Bab 13
Kehadirannya sudah ditunggu oleh orang - orang.Ia sudah tiba di kampus,Ia langsung bergegas menuju tempat yang sudah diberitahukan.Ia membawa beberapa buku dan kertas yang berisi materi yang akan dibahas di rapat ini nanti.
Ia berjalan menyusuri lobi kampus ini.Rambutnya yang hitam legam terurai mempercantik penampilannya kali ini.Dan kemeja berwarna jingga yang ia kenakan itu menambah cerah wajahnya.Ia memakai celana hitam,dan itu menyempurnakan penampilannya.
Ia menyapa setiap orang yang lewat di hadapannya.Ia menengok jam tangannya.Ia tiba di ruangan rapat yang dimaksud.Ia masuk ke dalam dan semua orang sudah menunggu.
Ia berhenti lalu menaruh tas dan beberapa barang yang ia bawa.Ia menyapa semuanya dengan senyuman.Ia melihat seseorang di sebelah kiri.Orang itu tersenyum padanya,Niel.
"Oh..aku tepat waktu,syukurlah",Gumamnya",Selamat pagi teman - teman,Terima kasih sudah hadir di ruangan ini pada kesempatan pagi ini,
Kita akan membahas rencana partisipasi Kampus kita dalam Even Perayaan Ulang tahun Kota yang kita cintai ini.
Beberapa waktu lalu, Saya bersama saudara Niel sudah mengikuti Rapat Untuk Partisipasi even ini,dan ketua panitia menunjuk kami sebagai Seksi Pengisi Acara Untuk Even ini.Kami sudah membuat beberapa rencana kemarin.Dan,Kami juga membuat keputusan untuk mengajak anda - anda ikut berpartisipasi dalam acara ulang tahun ini, mewakili Kampus kita.
Dan saya mohon dukungan dan kerja sama dari teman - teman,Kita akan memberikan satu bentuk atraksi.Saya berharap dengan penampilan kita nanti,akan membuat semua orang tertarik dan terhibur,hingga memberikan kesan tersendiri pada setiap orang menyaksikan atraksi yang kita tampilkan nanti. ",Nira sangat berantusias,Ia melirik Niel lagi,"Saya kira cukup mengenai sambutan yang saya berikan",Mereka masih menyimak apa yang Nira sampaikan dengan tenang.
"Dan selanjutnya, untuk penjelasan lebih detil,waktu saya persilakan untuk saudara Niel..."
Lalu seseorang lagi datang,Seorang Wanita yang tampak tergesa - gesa karena keterlambatannya.
"Maafkan Aku Nira,Aku telat...Ada acara bersama teman - teman baru saja,"Malika melihat semua yang ada di ruangan ini dan menyapanya dengan menganggukkan kepala",
"Tidak apa - apa Malika,silahkan duduk...",
Marvin menunjukkan Kursi kosong untuk Malika.Namun Ia malah duduk di dekat Nira berdiri.Ia berusaha untuk mengabaikan Marvin.Marvin berubah resah.
Selanjutnya Niel yang mengisi rapat ini.Ia menjelaskan semua hal yang akan dilakukan dalam atraksi yang akan mereka tampilkan.
Semua terlihat Antusias mendengarkan rencana yang dibahas Niel,tidak lupa Arjun juga memberikan saran yang baik untuk rapat ini.
***
Selesai rapat,satu per satu orang meninggalkan ruangan itu.Malika pun beranjak dari tempatnya duduk.tahu akan kepergian Malika,Marvin berdiri dan melihat Malika berjalan keluar.Malika pergi tanpa menyapa dirinya terlebih dahulu.
Malika berjalan terburu - buru.Marvin mengikuti Malika.Ia berhenti di pintu ruangan rapat.Arjun berada di belakang Marvin.Marvin terus melihat Malika.
Marvin merasa penasaran apa yang terjadi pada Malika.Niel menepuk bahunya.Marvin melihat Niel.Niel mengarahkan matanya ke arah Malika.Lalu ke Arjun,Arjun mengangguk
Marvin langsung mengejar Malika.entah apa yang terjadi pada Malika,Ia tampak berbeda akhir - akhir ini.Terlebih sikapnya kepada Marvin.Ia benar - benar tak memperhatikan sedikit pun Marvin pagi ini.
"Ada sesuatu yang menyita waktumu Malika ?hingga kau terlambat datang ke rapat ini ?",tanya Marvin mengiringi langkah Malika.
"Tidak Ada...hanya jalanan macet pagi ini...",jawab Malika tanpa memperhatikan Marvin.
"Oh,kenapa kau tidak kau memintaku untuk menjemputmu ?Kau pasti tidak akan terlambat datang ke rapat ini...",
Malika berhenti dan berbalik",Nira juga hampir datang terlambat,kau tahu ?!Aku datang terlambat atau tidak, mungkin tidak akan menjadi beban untukmu.sehingga kau tidak perlu terus bertanya seperti ini ?",kata - kata Malika agak terdengar sinis.
Marvin diam.
"Setidaknya teman - teman menghargai kedatanganku,apa kau merasa tidak enak atas keterlambatanku ?..",Malika langsung meninggalkan Marvin.
Marvin hanya diam.Malika geleng - geleng kepala dan menepuk dahinya.
"Terlambat atau tidak terlambat apa kau akan berusaha bersikap beda padaku seperti waktu tadi Malika....",tanya Marvin tak mengejar Malika.
Malika berhenti dan terkesiap.
"Maafkan Aku Malika,jika ada sikapku yang membuatmu tidak nyaman...",
Malika kembali berbalik badan.Kali ini Malika berhalusinasi.Ia tampak seperti orang yang tertekan.Ia tampak ketakutan.Malika seperti melihat sosok Rino di depannya.
Rino mendekatinya. "hei,ada apa denganmu ?kau tampak seperti ketakutan?Kenapa kau takut padaku?...",
Malika mulai gemetar saat Rino semakin mendekat.
"Lihat dirimu ini,Apa aku perlu menambah rasa takutmu ini dengan tanganku ini...kau cewek yang gampangan,Kau cewek pengecut.Sampai Kapan kau akan menjadi pengecut seperti ini,selalu bersembunyi dalam kelemahanmu...",
"Lihat dirimu ini,Apa aku perlu menambah rasa takutmu ini dengan tanganku ini...kau cewek yang gampangan,Kau cewek pengecut.Sampai Kapan kau akan menjadi pengecut seperti ini,selalu bersembunyi dalam kelemahanmu...",
Senyuman sinis Rino semakin membuatnya takut.Bulu kuduknya hingga berdiri.Rino pun berdiri di hadapannya.Kedua tangan Malika digenggam.Malika pun meronta - ronta ketakutan.
Sekuat tenaga Malika menghempas cekraman tangan Rino.Lalu mendorong badan Rino hingga terjatuh.Namun apa yang terjadi di hadapannya sebuah keanehan.Sosok Rino yang mendekatinya itu sebenarnya Marvin.
Marvin terjatuh karena didorong oleh Malika yang berteriak histeris.Niel dan Arjun langsung mendekati Marvin.Malika langsung berlari meninggalkan Marvin.Ia tampak seperti orang ketakutan.
"Marvin...",Arjun membantu Marvin berdiri.
"Aku tidak apa - apa Arjun...",
"Apa yang terjadi padanya barusan Marvin ?ia seperti orang kesurupan,Ia sampai mendorongmu hingga terjatuh.Dia stres kah ?",Tanya Niel yang melihat Malika berlari keluar kampus.
"Entahlah Niel...Akhir - akhir ini sikapnya tampak berbeda.Aku tidak pernah membuat masalah dengannya..",jawab Marvin membenahi tasnya.
"Dan Marvin selalu meminta maaf pada Malika,mesti ia sudah atau belum pernah melakukan sebuah tindakan yang membuat Malika tidak nyaman,Niel...",tambah Arjun.
"Yah sudahlah.Mungkin masalah lain dan itu sangat berat sedang ia hadapi...",
"Mungkin saja Niel...",Kata Marvin membenahi bajunya.
"Sebaiknya kita pulang Niel,hari ini jadwal kita di kampus untuk rapat ini saja kan ?",ajak Arjun.
"Yah...Ayo."
***
Suasana tempat ini selalu sepi.Yah,selalu sepi.Keadaan yang selalu ia cari di saat hatinya terasa seperti ada api yang membara dalam dirinya,dalam hatinya.Api yang selalu membakar ketenangan dan keteguhan dalam dirinya.seperti terdengar di suara ranting - ranting yang patah terbakar terus mengacaukan telinganya.Bahkan mengacaukan perasaannya.
Dan keadaan sepi ini,seperti setetes air yang mampu menyirami api - api yang membara dalam dirinya tadi.Terlebih saat ia memandang telaga itu,telaga yang berada di tengah taman kota.
Matanya selalu tertuju pada riak - riak air yang tercipta di permukaan air telaga itu.Seekor Angsa berenang dengan tenang ke tengah telaga itu.Dan ia berpikir,apakah Angsa itu seperti dirinya?dan terjebak dalam keadaan yang ia alami ini?
Hatinya terus merenung dan menatap angsa itu.Ia berharap ada Angsa lain datang menyusulnya untuk menemaninya.Angin bertiup sejalan berlalunya waktu.Ia menghela nafas.
Seseorang duduk di sampingnya.Namun Ia tak mendapati Angsa lain di telaga itu.Ia menoleh ke arah orang itu.Wajahnya tampak sayu dan lesu memandang orang itu.
" Katakan Apa kau kecewa padaku atas sikapku dulu padamu saat kita sekolah SMP dulu ?katakan Apakah aku bersalah jika aku kurang memperhatikanmu dan lebih memperhatikan orang selain dirimu,padahal kau selalu memperhatikanku,kau selalu bersikap baik padaku?
Aku tidak tahu kau sampai memperlakukanku seperti ini,ku harap kau tidak menganggapku seorang yang bodoh...",tanya Marvin panjang dengan nada yang berat.Marvin memutar badan,menghadap Arjun.
Arjun tersenyum dan menggeleng.
"Katakan padaku jika Aku memang menyia nyiakan sikap baikmu padaku ?Katakan jika Aku sejahat itu ?
Katakan padaku jika Aku selalu memandang sebelah mata padamu?sementara kau setiap hari selalu melihatku dan tersenyum padaku seperti saat ini.Ku harap kau tidak menganggapku orang yang sombong....",
"Dan tolong tanya pada dirimu sendiri, Apa kau pernah melihatku menjadi seperti orang yang kau takutkan itu ?sementara aku terus berharap padamu di saat aku selalu memandang punggungmu.
Dan katakan padaku,Apa aku terlihat seperti orang yang memendam dendam atas semua yang sudah kau lakukan padaku ?sementara Aku terus bermimpi dan berharap Aku bisa menjadi salah satu sahabat baikmu. Aku hampir lupa mengucapkan terima kasih padamu atas janji yang kau ucapkan dulu padaku.Apa kau masih mengingatnya ?",
"Keadaan ini begitu rumit dan mengacaukan segalanya Arjun...",jawab Marvin membuang muka.
"Kau sudah mewujudkan impianku teman.Terima kasih.Kau sudah berjanji untuk menjagaku dan tidak akan membiarkanku sendirian.
Namun,Aku hampir menjadi seseorang yang lalai dan tidak tahu balas budi.Aku sudah memiliki semuanya.Kau,Niel,dan janji Persahabatan kita ini bahkan ikatan kita atas perjanjian itu melebihi sebuah hubungan persahabatan.
Lalu,jika Kau berjanji seperti itu,Aku juga ingin seperti dirimu.Aku selalu berusaha untuk menjaga Niel agar ia tak terlihat cacat sedikit pun.Dan sekarang untuk sahabatku Marvin,aku tidak membiarkan sahabatku merasakan cacat sedikit pun meski itu di dalam perasaannya...",Arjun tersenyum.
Marvin melihat ke telaga.Seengkor Angsa sudah menemani Angsa pertama tadi mencari makan.Marvin menunduk di hadapan Arjun.
Lalu seseorang mengusap punggungnya dengan halus,Ia mengangkat kepala dan melihat siapa orang itu,Niel.Mata Marvin berkaca - kaca.
"Begitu juga diriku teman,kau yang pertama berjanji pada Arjun.Dan kali ini Aku akan memberi janjiku padamu.Aku tidak akan membiarkan kau merasakan sedikit kesedihan.Aku juga akan menjagamu...Aku janji ",Niel menyodorkan tangan kanannya.
"kita akan saling menjaga...",Arjun dengan antusias menaruh tangannya di atas tangan Niel.Marvin melihat Keduanya.
Ia menumpukkan tangannya di atas tangan Arjun dan Niel.Niel mendekap Arjun dan Marvin.Melebihi kesepian yang ia cari untuk menenangkan hatinya,kasih sayang sahabat seperti inilah yang benar - benar memadamkan Api kekacauan yang ada pada dirinya itu.Marvin berusaha tersenyum.
Tidak hanya memadamkam api itu,Perlakuan yang ia terima dari kedua sahabatnya itu seperti Air hujan yang terus menerus menimpa bumi dan semua mulai terasa hidup dan bersemi,Kebahagiaan dan Semangat Hidupnya.Kali ini Ia tersenyum dengan sepenuh hatinya.
****
Tiba saatnya Acara yang ditunggu,Semua orang dari segala penjuru dari daerah memadati jalan protokol kota ini mulai dari Gelanggang Olahraga Kota hingga Alun - alun kota ini.Tua,muda dan anak - anak bercampur jadi satu di jalan ini.
Terlihat wajah - wajah antusias itu menyambut acara Ulang tahun Kota dengan pelaksanaan Parade yang diikuti oleh Sekolah,Kampus,Organisasi Masyarakat dan Beberapa Perkumpulan lain.
Acara di mulai dengan arak - arakan rombongan Walikota diikuti rombongan Pejabat Kantor - kantor lain dengan peragaan busana tradisional.Suasana tampak sangat meriah.Bapak Walikota melambaikan tangannya di sepanjang jalan.Bersama Ibu yang duduk di sebelah menggunakan kendaraan delman yang dihiasi dengan sangat menarik.Semua orang sangat senang melihat arak - arakan ini hingga tepuk tangan itu tak mereda.
Sementara di sisi lain,Niel tengah menyiapkan pakaiannya untuk tampil.Rombongannya mendapat urutan pertengahan.jadi Ia tidak terlalu terburu - buru.Bersama Arjun yang menyiapkan makanan untuk makanan siang.Beruntung Hari ini cerah namun tidak terasa panas karena angin selalu lewat.Dan Nira belum juga datang,ada beberapa orang yang belum datang.
Niel melihat ke arah kaca mobil sebagai cerminnya.Ia terus memakai dan melepas topinya.Ia bingung,ia akan tampak keren memakai atau tidak memakai topi.Ia masih bingung dengan pakaian yang ia kenakan
"Arjun..Arjun...",panggil Niel kepada Arjun yang tengah membuka rantang makanan.
"Ya...Niel...",
"Coba kau lihat,,menurutmu aku keren pakai topi atau tidak,aku menata rambutku dengan pomade atau aku menguraikannya seperti rambut singa...aku kebingungan...",
Arjun hadir di belakang Niel",coba kulihat, kau benar - benar sudah melihat dirimu sendiri kah belum ?",
"Maksudmu ?",Niel melihat Arjun
"Coba lihat...",Arjun memutar kepala Niel ke arah kaca mobil",apa yang akan kau lakukan nanti dengan acara ini ?kau ingin memberi penampilan yang hanya membuat semua orang terbengong melihat penampilanmu yang biasa saja atau kau ingin membuat orang hanya orang bertepuk tangan melihat penampilanmu yang setara dengan atraksi yang menarik atau bahkan kau malah akan membuat semua orang meneriaki orang gila yang tidak tahu apa yang kamu tampilkan atau kau ingin membuat semua orang tertarik padamu,antusias mengikuti apa yang kau tampilkan,berteriak kagum padamu hingga kau seorang yang menjadi titik paling menarik di antara arak - arakan yang ditampilkan ?,Aku tahu temanku ini tahu harus berbuat apa ...",Arjun tersenyum menaruh sikunya di bahu Niel.
"Pertanyaan pilihanmu terlalu panjang Arjun...",
"Tapi setidaknya aku sudah membuka ide untukmu teman...",Arjun menguyek kepala Niel",Kau tahu, jujur aku sangat kecewa padamu saat kau tidak ikut menari dan bergoyang saat acara ulang tahun bapak rektor, kau hanya cemberut menghindari rayuan - rayuan Kak Indra,Aku,Marvin,Malika bahkan Pak Samsul yang terkesan gengsi mendekati Mahasiswanya,memang pak Samsul orangnya jaim dan gengsi.kau hanya menjaga jarakmu dengan Nira
Oh ngomong - ngomong di mana Gadismu hari ini ? dia belum juga kelihatan dari tadi,dia pasti berdandan lama sekali...",
"dia lagi On The Way Arjun.tenanglah seperti aku yang tenang menunggunya...",
"Tapi kau sedang tidak tenang dengan dirimu sendiri...",
"Eheh...",Niel pun langsung mengubah penampilannya lagi",sebenarnya simpel,cukup jadi diriku sendiri dan apa adanya,aku akan membuat semua orang terbelalak,Kau lihat Arjun,Aku dan Nira akan memberikan atraksi lebih baik dari apa yang kalian lakukan dulu saat di Ultah Pak Rektor...Kau pun juga akan kagum melihat kami nanti...",
"Bersama Marvin ?",
"Marvin ?tunggu,di mana anak itu ?biasanya dia selalu bersamamu Arjun...",
"Entahlah,dia belum SMS,menelfon dan mengirim BBM dari pagi padaku...Aku seperti merasa dia masih resah Niel ",
"kejadian kemarin ?",
"tentu...apalagi Malika sampai spontan mendorong Marvin,padahal Marvin tidak melakukan apa pun kepada Malika.Karena Akhir - akhir ini Marvin bercerita tentang Malika yang menjauhinya.
Dan aku juga tidak berani menanyai Malika sendiri apa yang terjadi padanya,aku takut itu adalah masalah pribadinya di luar hubungannya dengan Marvin....",
"Tunggu...kemarin Malika tampak ketakutan,kau pasti melihatnya...",
"Aku seperti melihat adegan film yang nyata secara langsung Niel.Bagaimana aku begitu saja melewatkannya ?",sanggah Arjun",ketakutan ?,tunggu...masalah ketakutan, perkiraanku bukan datang dari Marvin,karena selama ini sebenarnya Malika belum benar - benar tertarik pada Marvin,seperti halnya Nira kepadamu,dan ketakutan inilah yang mengganjal Hati Malika.Jangan - jangan ?!"Arjun melihat mata Niel
.
"Jangan - jangan apa ?",
"Jangan - jangan apa ?",
"Masalah Masa lalu yang sedang menimpa Malika..."
"Oh preman yang kita hajar dulu itu,,hei aku kagum padamu Arjun kau sampai berani membekuknya,kupikir kau akan ketakutan seperti ayam yang baru saja tercebur kolam Air...",
"Kamu pikir mudah membekuk pria berbadan besar itu,beruntung dia sudah kehilangan tenaganya,jujur sikuku agak nyeri setelah aku hujamkan ke ubun - ubunnya...",
"Ehehe...kau pandai bela diri rupanya...dari mana kau belajar ?"
"Entahlah,semua terjadi begitu saja...",
"Lalu,Malika ?",
"Kenapa kita harus ikut memusingkan diri untuk wanita ini t ?Ah kupikir masalah dengan mantannya..."
"Apa kita perlu mengintrogasi Marvin kalau dia memang juga bermasalah ?",
"Hei,tahu apa pemuda sepolos Marvin itu Niel ?dia tahunya hanya berkumpul dengan kita,main game,menjahilimu saat kau makan,kadang ia tampak seperti orang yang memelas karena kehabisan bahan untuk diobrolkan...",
"Kau tahu sekali Anak itu...",
"Lalu kenapa tidak denganmu ?kalian selalu berkelahi saja...",
"kau tahu.tanpa dia dan perdebatan - perdebatan itu,kita berkelahi, rasanya ada yang kurang...",
"Kalian hebat dan kompak Niel!!",
Giliran rombongan dari Kampus Niel untuk tampil segera tiba.Nira sudah bersiap - siap bersama teman - teman lain.Niel juga mengumpulkan teman - teman lain.Niel langsung bergabung dengan tim Nira,Arjun menyusul Niel setelah membereskan rantang makan siang mereka.Nira sudah turun ke jalan bersama timnya,Niel juga sudah membaur bersama mereka.
Saat menyela penonton untuk menyusul Niel,seseorang menariknya ke belakang,Marvin.Arjun kaget.
"Marvin...",
"Maafkan Aku datang telat Arjun...",kata Marvin tampak lesu,
"Pertunjukkan tim kita belum di mulai,kau belun terlambat...ayo..",Arjun mengajak Marvin.
Tapi,Marvin menahan Arjun",Dan maafkan Aku Arjun,Maafkan aku,Niel pasti sudah menungguku...",
"Ya...sudah puluhan kali ia bertanya padaku...",
"Maafkan Aku Arjun,aku akan mengecewakan teman - teman pastinya,"
"Marvin belum terlambat,Ayolah..."
"Arjun,tolonglah aku,aku...",Marvin tak bisa berkata - kata.Ia merasa minder atas kejadian yang tengah ia alami.
Arjun memegang kedua Pundak Marvin",Aku tahu Marvin,Apa yang terjadi sebenarnya padamu,oh kalian ?"
"Entahlah Arjun,aku tak bersemangat...",Marvin membuang muka.Panas matahari mulai memudar.
"Marvin,aku tahu perasaanmu,coba ceritakan pelan - pelan...",pinta Arjun perlahan.
"semenjak ia mendorongku,sikapnya mulai berubah,pernah sekali aku temui,ia tampak seperti ketakutan,ia sangat ketakutan sekali,entah pada apa aku benar - benar tidak tahu.Saat aku mendekatinya,Malika langsung menjauhiku dengan terburu - buru.
Aku mencoba menemuinya di rumah.Ia tetap tidak mau menemuiku,Aku juga sudah bercerita pada Kakak perempuannya.Aku juga tidak lupa minta maaf pada semuanya jika aku pernah berbuat salah padanya.
Kakaknya sangat pengertian padaku.Memang Malika sedang mengalami gangguan,tapi Ia tidak bisa menceritakannya padaku,takut kalau sampai tahu dan membuatku juga kepikiran masalah Malika.
Aku menyampaikan perasaanku pada Kakak Malika,Mira semuanya.Kak Mira juga menerima perasaanku terhadap adiknya dengan baik.Ia mengatakan bahwa Mungkin aku adalah seorang yang tepat untuk Malika.Namun Malika masih mempunyai masalah yang berat,yang aku tidak perlu tahu.
Aku bingung Arjun,Aku harus membantunya dengan cara bagaimana ?dengan cara bagaimana aku menghiburnya sedangkan melihatku saja ia ketakutan,aku menyayanginya Arjun,Aku benar - benar menyayanginya Arjun,apa kau sependapat dengan Kak Mira melihat Kami berdua ?",Marvin menjelaskan keresahannya pada Arjun.
"Yah...yah...sama seperti Niel dan Nira,mirip sekali.Ini masalah waktu,perubahan dan Kesabaran.dulu Nira belum bisa membedakan siapakah orang yang benar - benar menyayanginya dan mencintainya,sampai Ia harus berbohong pada Niel.
Namun Niel tidak pantang menyerah,ia tetap berada di tempatnya untuk menunggu saat yang tepat,menunggu apa ?menunggu datangnya kebosanan yang akhirnya membuat Nira sadar.Nira Akhirnya tahu siapa yang benar - benar mencintainya.Dan lihat...",Arjun menunjukkan Niel dan Nira yang sedang saling mengobrol akrab",tidakkah mereka terlihat bahagia dan senyum - senyum itu adalah sesuatu yang paling indah sedang aku lihat dari sahabat - sahabatku.
Teman,Mungkin Malika masih ragu pada dirinya sendiri,kau tahu bagaimana wanita yang setiap hari kau kagumi ini kan ?Kau selalu bercerita padaku setiap hari tentang apa yang sudah terjadi di antara kalian,kau selalu tampak antusias Marvin,Aku menyukainya...",
"Namun,bagaimana dengan saat ini Arjun ?apa kau juga merasa bahagia melihatku keadaanku sekarang...",
"tentu,tentu,aku sangat bahagia.dan di saat inilah aku tahu untuk apa diriku sebenarnya,sebagai seorang yang selalu berdiri di belakang sahabatnya ketika ia hendak terjatuh karena menghadapi sesuatu masalah.aku bahagia jika kau sampai meminta pertolonganku,dan aku bisa membantu meringankan masalahmu.
Aku melihat ini ujian untuk temanku,ini bukan seperti ujian semester yang harus di hadapi secara individual,namun ini ujian kehidupan kita Marvin dan siapa saja berhak menolongnya dan meminta pertolongan,Aku berhak menolong,kau berhak meminta pertolonganku.
Lain keadaannya dalam persahabatan,Aku harus menolongmu ketika aku merasakan sahabatku tengah mendapatkan kesusahan,tanpa suatu perintah apa pun.
Karena Perasaan seorang sahabat itu adalah satu.Ketika sahabat lain mendapat masalah dan merasa ketidak nyamanan,di situlah sahabat lain akan merasakan hal yang sama.karena sesama sahabat akan saling menjaga kestabilan perasaan mereka.
Dan aku akan melakukan hal itu,Marvin bersabarlah,cepat atau lambat kita akan tahu apa yang sedang terjadi pada Malika sesungguhnya.saat Akhirnya kita tahu apa yang terjadi pada Malika,saat itulah Kau bisa tampil untuk menjadi sosok yang benar - benar meyakinkan Malika akan perasaanmu padanya.seperti Kau yakin padaku,bahwa Aku tidak akan membiarkanmu merasakan sedikit cacat,meskipun pada perasaanmu...",
"Yaa..yah...",Marvin berusaha tersenyum",Aku tidak perlu khawatir sekarang,karena ada kau dan Niel...",
"Lalu,bagaimana denganmu dan kita ?",
"Mungkin aku perlu melupakan masalahku sejenak,dan menghibur diri bersama kedua temanku ini...",
"Ayo...Marvin,kita susul Niel dan Nira...",Arjun meraih tangan Marvin.
Arjun selalu mampu menguasai keadaan sahabatnya.Marvin pun berusaha melupakan masalahnya sejenak dengan ikut membuat atraksi pertunjukkan mewakili kampusnya bersama Niel,Nira,dan Arjun.
Sementara Malika tidak hadir ke even tersebut karena masalah pribadinya.Apa yang Niel dan Nira harapkan akhirnya tercapai,Anak - anak muda ini berhasil memberikan atraksi yang benar - benar membuat penonton terhibur.Banyak tepuk tangan dan siulan pujian ditujukan pada Mereka.Arjun dan kawan - kawan merasa puas.
***
Dan sekarang,Indra mulai sering mengajak Indira datang ke rumahnya.Kedatangan Indira membawa kesan tersendiri pada keluarga Indra.Dengan sifat Indira yang ramah dan supel,ia tak menemui kesulitan untuk mengakrabkan dirinya dengan seluruh anggota keluarga Indra.
Dengan Ibu Nawang,tentunya ia sudah akrab,sudah berkali - kali Ibu Nawang datang ke rumahnya untuk menjahitkan baju miliknya dan keluarganya,bahkan Ibu Harum dan Ibu Nawang sudah akrab.Pertama kali bertemu,saat di pasar waktu itu,Indira langsung akrab dengan Ibu Nawang.
Dengan Pak Yudi,Indira seperti menemukan Bapak Kandungnya sendiri pada Sosok Pak Yudi.Indira selalu terharu ketika berbicara bersama Pak Yudi.Ia selalu melembutkan suara dan sikapnya kepada Pak Yudi seperti Ia bersikap pada Ayah kandungnya.Ia selalu berharap dalam hati,Andai Ayah kandungnya sesehat Pak Yudi,pasti ia tidak akan merasa terbebani dan selalu merasa resah karena keadaan Ayahnya.
Dengan Arjun,semenjak bertemu di acara pernikahan Sahabat Indra,Haikal,Arjun juga anak yang mudah bergaul,jadi ia bisa mudah juga mendekati Arjun.Hanya saja,Arjun sangat dekat dan manja ketika bersama Indra,itu menurut penglihatannya,Kedua Kakak Adik ini seperti tidak bisa dipisahkan.
Ia pernah merasa terharu juga ketika melihat Indra dan Arjun makan bersama,Indra selalu menggoda Arjun,namun Arjun juga membalas godaan Indra.Keadaan inilah yang selalu ia harapkan,ia berandai - andai,Ia juga punya momen seperti ini bersama Ikhsan dan Indri,kedua adiknya.
Bu Nawang membuka almarinya.Ia mengambil sebuah kotak kecil.Ia membuka kotak itu dan melihat isinya,ia tersenyum sejenak namun wajahnya berubah sedih,ia teringat sesuatu.Ia memejamkan mata,memanjatkan doa dalam hati.
Indra merebahkan dirinya di atas ranjang.Setelah makan malam,ia merasa lelah setelah seharian bekerja.Bu Nawang datang menemuinya.Bu Nawang duduk di atas ranjang.
"Emmhhh...bagaimana pekerjaanmu hari ini Anakku,Indra ?kau terlihat capek sekali...",tanya Ibu Nawang membelai dahi Indra,belaian yang begitu lembut.
"Iya ibu...aku mendapat proyek lagi di kantor,pekerjaanku semakin bertambah,dan pasti lelah akan bertambah...",Indra mengambil bantal dan menaruh kepalanya di atas bantal berdekatan dengan paha Ibu Nawang.
"Dan pasti juga rejekimu akan bertambah Anakku...syukurilah,belum tentu orang lain bisa sepertimu,itu menandakan kau memang bisa diandalkan dan prestasimu benar - benar bagus...tetap pertahankan ini...",
"Iya...selama ibu selalu datang ke kamarku setiap malam untuk membelaiku seperti ini,pasti aku tidak akan merasakan lelahku setelah bekerja...",
"kenapa kau bertanya seperti ini Nak ?setiap malam semenjak kau lahir hingga sekarang,siapa yang selalu membelai rambutmu hingga kau tertidur pulas ?...hingga ibu membuat Arjun mengalah hanya untuk membelaimu dengan kasih sayang setiap malam...",
"Oh maafkan aku ibu...",
"Kau pasti ingin mengajak ibu bercanda ?",
"hehehe....O ya,apa Arjun sudah masuk ke kamarnya ?",
"Yaa...tapi ia berpesan pada ibu untuk tidak mengunci pintu depan dulu,karena Niel akan datang menemuinya."Bu Nawang ingat sesuatu",Indra,Kau sudah menengok Pak Bara lagi.Kemarin sore,ibu mengajak Ayah untuk menjenguk beliau.Pak Bara seperti menahan rasa sakitnya yang mulai parah.Ibu sangat kasian pada Bu Harum,dan lebih kasian lagi pada....",
"Indira...",potong Indra
"Ya,tebakan yang tepat.terkadang ibu melihat dia selalu termenung ketika Ayahmu mengajaknya bicara,ia terlihat memikirkan sesuatu,dan perasaan ibu mengatakan pasti ia memikirkan Pak Bara.",
Indra duduk",Iya Ibu...Ia sangat memikirkan Pak Brama.Aku juga kasian melihat keadaan Ayahnya,terlebih keluarganya.Ikhsan dan Indri masih bersekolah.
Ia harus mencari nafkah untuk membiayai sekolah adik - adiknya.apalagi nafkah untuk hidup keluarganya.Aku tidak bisa membayangkan betapa susahnya hidup yang harus ia jalani.Andai aku di tempatkan dalam keadaan yang seperti ini,mungkin keadaanku akan lain.
Tapi,aku selalu bersyukur",Indra menggenggam tangan Bu Nawang",Ayah dan Ibu masih diberi kesehatan.Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang lebih dari cukup.Serta,Adik yang selalu bisa menghibur kakaknya saat kakaknya merasa lelah bekerja.
kehidupan kita jauh lebih baik dari hidupnya,tapi aku ingin mengubah hidupnya seperti bagaimana hidup kita ibu...aku sangat kasian pada Ibu Harum dan Indira ",
Bu Nawang tersenyum dan mengeluarkan kotak kecil tadi,Ia meletakkannya di atas tangan Indra.Indra melihat kotak itu.Ia membukanya,sepasang cincin emas,dengan permata kecil diatas nya.Indra melihat Bu Nawang.Mata berkaca - kaca Ibunya itu memberinya sebuah isyarat.
"Anakku,maafkan Ibu jika ibu tidak pernah memberitahukan hal ini untukmu...",
"ini sepasang cincin ?ini milik siapa ?apa ini milik Ibu dan Ayah yang ibu simpan?..",
Bu Nawang menunjukkan jari manisnya dengan cincin terpasang disitu",bukan milik Ayah dan Ibu,Indra.
Dengarkan ibu,dulu,Ketika melihat Ivana,ibu berpikir bahwa kalian akan cocok jika kalian bersatu dan menikah.Akhirnya ibu membelikanmu dan Ivana cincin ini,namun ibu merasa setengah yakin saat membelikan cincin ini,ibu seperti merasakan firasat tidak enak.
Dan ternyata benar...",Wajah Bu Nawang berubah sedih",Ibu sangat sedih dan sangat terpukul ketika calon mantu yang ibu idam - idamkan itu ternyata meninggal lebih dulu karena kecelakaan yang menimpa kalian.Ibu terlanjur membelikan kalian cincin ini tanpa memberitahumu dulu,Anakku.Maafkan ibu,Ibu sangat menyesal menerima musibah yang menimpa kalian itu.
Ibu pernah membawa cincin ini ke makam Ivana.Ibu sangat menyayangi Ivana,Anakku.Namun,Allah belum memberi ibu rejeki menantu saat itu.Ibu mendoakan Ivana,dan selalu mendoakannya.
Kau tahu Anakku,satu doa yang ibu selalu panjatkan pada Allah setiap malam,doa agar Allah mengirimkan sekali lagi satu sosok wanita muda seperti Ivana yang kelak akan menjadi Menantu ibu....",Bu Nawang membelai pipi Indra dengan perasaan terharu",Alhamdulillah,ibu merasa seperti doa ibu terkabul semenjak bertemu Indira,pertama kali Ibu bertemu Indira di pasar waktu itu,Ibu merasa mendapat isyarat bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa ibu,Anakku.
Kali ini perasaan ibu tidak akan salah,Ibu sangat yakin,Ibu sangat yakin,Allah telah mengganti Ivana dengan Indira.Keduanya mempunyai wajah yang hampir mirip hanya saja keduanya mempunyai sifat yang berbeda.
Tapi,Ibu merasa Indira lebih baik daripada Ivana.Kau pasti juga tahu Anakku,Allah lebih tahu apa yang kau sukai belum tentu baik bagimu,dan yang tidak kau sukai belum tentu buruk bagimu juga,Allah yang mengatur segala urusan hamba-Nya Anakku.termasuk Jodoh dan rejeki.bukan begitu Indra ?",
"Yaa ibu...ibu benar",Indra termenung mendengar penjelasan dan curahan hati ibunya yang sesungguhnya.
"Ibu sudah membicarakannya dengan Ayahmu,dan Ayah berkata Iya setuju.Sudah saatnya untukmu Indra,...",
Indra melihat cincin itu",Iya ibu...aku tahu maksud ibu dan Ayah,tenang Ibu...aku juga sudah mempersiapkan diri untuk ini.."
"Syukurlah Anakku...",Ibu Nawang pun mencium kening Indra.
"Katakan pada Anakmu ini jika Ibu dan Ayah sudah tidak sabar mendapat panggilan Nenek dan Kakek...",Indra menghapus Airmata yang ada disudut mata Bu Nawang",bukan begitu Ibuku...",
Itulah kata - kata yang ditunggu oleh Bu Nawang.Akhirnya,perasaan lega itu datang,ketika kata - kata itu sudah terucap.Haru dan bahagia hadir di hati Bu Nawang.Indra pun memeluk Ibunya.
Sincerely,
Salaam-E-dostana
Fajar Adi
Komentar
Posting Komentar