Zikr E Khair


Azan subuh yang dikumandangkan memecah kesunyian dan atmosfir rasa dingin yang menyelimuti lereng gunung. Langit masih tampak gelap. Langit terang yang masih bertaburan bintang. Bulat sabit tampak di ujung langit sebelah barat.

Orang - orang tampak berjalan dengan cepat untuk mencapai Masjid tanpa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang dalam waktu yang tak lama. barisan makmum yang sudah terbentuk rapi. sajadah - sajadah yang mulai tergelar. Beberapa orang yang menunaikan Sholat Sunnah Tahiyatul Masjid.

Bibir yang melafalkan kalimah zikir dengan lirih. Maja terpejam memanjatkan do'a dalam kekhusyukan. kemudian Iqomah pun dikumandangkan,Barisan saf yang terbentuk rapi tanpa ada suara berisik sedikit pun,kecuali suara jangkrik yang belum berhenti terdengar di luar sana.

Shalat Fardhu Subuh di pagi yang sangat dingin kali ini. selesai,beberapa orang meninggalkan masjid setelah memanjatkan do'a bersama. tampak beberapa Gadis yang belum melepas mukenanya membuka Kitab kemudian mengaji,membaca Ayat demi ayat di dalam kitab. Mereka melakukannya secara bergantian,hingga Fajar tiba.

dia yang terakhir kali meninggalkan masjid. dia menutup dan mengunci masjid pagi ini. pagi mulai datang. embun yang tampak menguap di seluruh lereng gunung ini. Badai angin dan hujan sangat besar semalam,beberapa pohon kecil tampak tumbang,rumput - rumput tampak tak beraturan,Hawa dingin merembet turun dari arah Hutan,yang berada di atas sana.

cahaya matahari belum mampu mengusir hawa dingin di lereng gunung ini. di dalam Hutan masih terasa hawa dingin yang menggigit,namun itu tak menghentikan langkahnya untuk berjalan - jalan pagi,menyusuri hutan ini seperti biasa setiap paginya.

bersama anak - anak di kampungnya,ia selalu bersemangat menyambut pagi dan menikmati kesejukan udara hutan yang masih murni dan segar. ia mengajak anak - anak ini bermain di dalam hutan. mereka bermain kejar - kejar.

Seorang gadis dan anak - anak kampung ini,setiap minggu pagi,mereka selalu berlama - lama bermain di dalam hutan. Anak - anak meninggalkan gadis itu sendiri kali ini,mereka bersembunyi dan membuat gadis itu agar mencari mereka satu per satu.

Ia sudah menemukan dua anak,kemudian ia meminta dua anak itu untuk mencari yang lain. Gadis itu terus menyusuri hutan ini. Cahaya matahari yang menembus ke dalam hutan. titik - titik air embun yang mulai menguap.

tak sengaja gadis itu menemukan seseorang yang tergeletak tak sadarkan diri. ia terperanjat dan segera mendekati orang itu. Seorang pemuda,sepertinya seorang pendaki gunung,tak sadarkan diri. Kening yang mengucurkan darah yang telah membeku. Ia masih bernafas tipis.

Gadis itu memanggil semua anak - anak yang bersembunyi dan memberi tahu apa yang telah ia temukan. Mereka pun berkumpul. gadis itu meminta salah seorang memanggil beberapa orang untuk membantu membawa pemuda ini keluar dari hutan.

***

Gadis itu membawanya pulang ke rumah bersama beberapa Orang tua yang menggotongnya. Seorang pemuda berwajah putih,rambut yang tertata rapi. Mereka membaringkan pemuda itu di dipan yang berada di ruang tamu rumah ini. gadis itu menempatkan bantal sebelumnya.

Ia menaruh seloyang  air hangat di samping kepala Pemuda ini. ia membersihkan darah yang ada di kening itu perlahan - lahan. Tangannya tampak gemetar dan hati yang bertanya - tanya. Pemuda ini belum kunjung siuman.

setelah satu hari berlalu,pemuda ini akhirnya sadar. Ia membuka matanya perlahan. rasa pening yang luar biasa di kepalanya. Ia berusaha bangkit namun seluruh badannya terasa sakit. Ia belum bisa mengingat apa yang terjadi padanya sebelumnya.

Ia melihat seluruh ruangan dalam rumah ini. Ia bertanya - tanya di mana saat ini ia berada. ia mengumpulkan tenaga untuk bangkit duduk. ia bisa duduk. Ia pun berusaha berdiri meski tubuhnya masih terasa lemah.

ia hendak berjalan,namun ketika memijakkan kakinya,nyeri yang luar biasa terasa di pergelangan kaki kanannya. ia pun terjatuh dan berteriak. teriakannya terdengar hingga ke dapur. Si gadis mendengar teriakan ini,ia segera memeriksa keadaan pemuda ini.

ternyata pemuda ini sudah siuman dan tersungkur di lantai. Gadis itu segera membantu pemuda itu berdiri dan mengembalikannya ke dipan. gadis itu mengambil teh yang sudah ia siapkan untuk pemuda ini.

"Alhamdulillah,kamu sudah sadar....",gadis itu menaruh secangkir teh di meja kecil,bersebelahan dengan dipan ini.

"Kau siapa ?dan di mana aku saat ini ?",tanya pemuda ini tampak kebingungan

"Aku menemukanmu pingsan di hutan tadi pagi,ini rumahku...",jawab Gadis itu menuang teh

"Arggh...", Pemuda itu sedikit mengerang kesakitan,ia memegang keningnya. Ia meraba,ada kapas basah yang dilekatkan di keningnya.

"Apa kamu tidak apa - apa ?",gadis itu mengambil secangkir teh ini",aku sudah membuatkanmu teh hangat,silahkan minum...",

Pemuda itu menerimanya dan sedikit meneguknya. satu tegukan teh hangat yang sedikit mengalirkan tenaga ke dalam tubuhnya. ia merasa lebih baik sekarang.

"terima kasih,kau sudah menyelamatkanku..",

"Iya,sama - sama. oh ya,apa yang terjadi padamu hingga kau sampai seperti ini ?",

"semalam aku melakukan pendakian gunung bersama beberapa temanku,. tiba - tiba hujan deras disertai angin kencang datang. kami pun berusaha bertahan. kami berusaha melawan hujan badai ini untuk mencari tempat berteduh yang aman.
tiba - tiba angin keras menabrakku hingga aku terjungkal dan terjatuh,aku terguling turun dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi,kepalaku masih terasa sakit",

"aku sudah membersihkan darah yang keluar dari keningmu,sepertinya kepalamu terbentur pada sebuah batu cukup keras....",

"Yah,tanah gunung itu sangat licin hingga membuatku terguling dengan cepat,aku tidak bisa menghentikan badanku sendiri",

"kamu akan baik - baik saja di rumahku ini...",Gadis itu hendak bangkit.

"sekali lagi terima kasih,"Pemuda itu memberikan cangkir dan menatap gadis itu,"maaf,apa aku boleh tahu namamu ?",Ia sedikit menurunkan kepalanya.


Seorang pria separuh baya,berbadan tambun hadir. ia memanggil gadis itu.

"Almira...Almira...",

"Iya Ayah...", Gadis itu,Almira menjawab panggilan Ayahnya.

"apa pemuda itu sudah siuman ?bagaimana keadaannya sekarang ?",tanya Ayah Almira melepas jas hujannya dan menggantungnya di sebelah pintu masuk.

Almira menerima gelas itu",sudah Ayah...",
Pemuda itu tersenyum"Almira,yaah...terima kasih kau sudah merawatku dan menolongku",

Almira tersenyum sejenak,senyum yang menambah daya dalam diri pemuda itu.
"sama - sama...",

Almira menyambut kedatangan Ayahnya pulang dari kebun teh. Pemuda itu berusaha menengok ke arah Almira meninggalkannya.

***

Azan subuh kembali berkumandang. Suara Azan ini membuatnya terbangun. Pemuda itu ingin berdiri dan segera mengambil air wudlu namun tidak bisa karena rasa nyeri di kakinya belum reda. tak sengaja Almira muncul dari kamarnya.

Pemuda itu memanggilnya. Almira datang padanya. Pemuda itu memberitahukan keinginannya untuk melaksanakan sholat subuh. Almira pun memanggil Ayahnya untuk membantu pemuda itu mengambil air wudhu.

Rasa syukur ia panjatkan dalam hati karena ia masih bisa merasakan segarnya air wudlu di waktu subuh kali ini. Ayah Almira,Pak Dimara membantu Pemuda itu berwudlu. Almira sudah menyiapkan tempat untuk mereka bertiga. kemudian mereka bertiga melaksanakan sholat subuh berjamaah. pemuda itu duduk di atas kursi.

Almira kembali membuatkan teh untuk pemuda ini. waktu sudah pagi. Teh yang terasa nikmat di pagi cerah yang sama. pemandangan indah di lereng gunung ini. kebun teh yang diselimuti embun,kali - kali kecil yang terdengar gemericik airnya,bebatuan yang basah karena titik embun.

"sekali lagi teh yang sangat nikmat...",Pemuda itu memejamkan mata merasakan harumnya teh ini.

"ini akan membuatmu jauh lebih baik,kuharap keadaanmu mulai membaik...",Almira menuang teh untuknya sendiri.

"Alhamdulillah,berkat pertolonganmu,keadaanku membaik dan berkat teh ini juga...",

Almira tersenyum dengan wajah yang terpulas cahaya matahari pagi"aku menambahkan sedikit jahe di dalamnya,kuharap kau menyukainya...",

"ini teh paling nikmat yang pernah aku minum...",Pemuda itu teringat sesuatu",Oh ya,Namaku Rizwan,Almira...",Pemuda itu,Rizwan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun,Almira mengatupkan tangannya dan mengangguk.

"senang bisa menolongmu,Rizwan...",Almira mengambil cangkir teh kemudian sedikit meminumnya.

"semoga Allah membalas perbuatan baikmu ini padaku...",Rizwan sedikit mengangguk

"Amin. Famay ya'mal mitsqala dzarratin Khairay yarah...",Almira mengarahkan pandangannya ke arah kebun teh yang mulai tersinari cahaya matahari.

"emh...",Rizwan kembali meminum tehnya bersama Almira.

Mereka menghabiskan pagi ini dengan
minum Teh bersama.

***

Pak Dimara mendatangkan Tukang Urut dari kampung sebelah. Ia datangkan untuk mengobati kaki Rizwan yang terdapat nyeri. Tidak ada luka lecet pada kaki Rizwan,hanya sendi - sendi Pergelangan Kaki Rizwan yang tergeser.

Merasakan Pijatan Bapak Tukang Urut ini,Rizwan berusaha untuk tidak mengerang. sekali Bapak ini mencoba memutar kaki Rizwan,terdengar bunyi

"klethak" spontan membuat Rizwan berteriak. Almira terkejut melihat Wajah Rizwan yang kesakitan.

Akhirnya Rizwan merasa lega dan rasa nyeri pada kakinya telah hilan seketika,tidak hanya pada kaki Rizwan,pak Dimara meminta Tukang urut ini memijat seluruh Badan Rizwan. Awalnya,Rizwan menolak,Namun Pak Dimara membujuknya. Rizwan pun mau namun ia tampak segan dan malu - malu.

Beberapa Jam melewati masa pemijatan membuat Rizwan tertidur. Almira tampak tenang melihat Rizwan tampak nyenyak tidur. Almira menemui Ayahnya. Pak Dimara mengantar Bapak Tukang Urut itu sampai di halaman depan rumahnya.

"Ayah...",

"Ya...",

"Apa ayah membayar Abah Jupri untuk memijat Rizwan ?", tanya Almira memelankan suaranya.

"Emh...hanya beberapa puluh ribu rupiah saja,Anakku. aku anggap sedekah dariku untuk pemuda asing itu,tidak apa - apa. aku ikhlaskan saja...",

"Baiklah Ayah,aku akan membuatkan makan malam untuk Ayah dan Rizwan",

"Iya,Putriku...",

Almira pun berbalik dan masuk menuju dapur. Namun pak Dimara memanggilnya,Almira kembali berbalik.

"ada apa Ayah ?",

"Famay ya'mal mitsqala dzarratin khairay yarah,ayah harap kau selalu ingat itu...",

Almira tersenyum pada Ayahnya"Amin. Amin....",

Beberapa Hari kemudian,setelah keadaannya pulih,Rizwan menghubungi teman - temannya yang sudah kembali pulang ke kota. Mereka pun segera bergerak datang ke tempat di mana Rizwan berada,rumah Almira.

Rizwan tampak bahagia melihat kedatangan teman - temannya. Almira dan Pak Dimara menyambut kedatangan teman - teman Rizwan. di situ,Rizwan menceritakan semua yang telah dialaminya mulai dari pendakian hingga Almira dan
Pak Dimara merawatnya di rumah ini.

Saatnya Rizwan kembali pulang ke rumahnya,di kota bersama teman - temannya. Rizwan berpamitan. Rizwan mencium tangan Pak Dimara,Ia juga menyampaikan salam perpisahannya pada Almira. Ia mengucapkan terima kasih yang terakhir.

Rizwan dan teman - teman segera menuju Mobil. tak sengaja,Rizwan tergerak untuk melihat kembali ke arah rumah Almira. Pak Dimara masih melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. namun,Mata Rizwan menangkap wajah yang belum ia lihat pada Almira.

Wajah Almira tampak berat dan sedih,Almira yang bersandar di tiang terasnya. Raut muka yang mengisyaratkan rasa tidak relanya melihat perpisahannya ini. Hati Rizwan merasakan Isyarat ini. Ia hanya tersenyum pada Almira yang berada di kejauhan dan melambaikan tangannya.

Rizwan dan teman - teman kembali pulang
ke kota.

***

di suatu sore,Almira membersihkan dipan yang kemarin digunakan oleh Rizwan. sebenarnya,Ia masih merasa berat karena Rizwan telah meninggalkannya. Namun Ia sadar Rizwan hanya seorang Asing yang ia tolong pada saat di hutan beberapa hari yang lalu.

Entah kenapa Ia merasa senang dan bahagia ketika ada seorang pemuda yang bisa singgah ke rumahnya meski ia dalam keadaan yang kurang beruntung. Rizwan adalah pemuda pertama yang singgah ke rumahnya.

tak sengaja,Ia menemukan sesuatu di bawah bantal,sebuah Tasbih hitam kecil. butirannya berasal dari kayu yang berwarna kehitaman dengan ukiran - ukiran huruf arab yang kecil. Almira yakin ini milik Rizwan yang tertinggal.

Almira ingat saat Rizwan berzikir menggunakan tasbih ini setelah shola Isya' dalam keadaan berbaring. ia mendekap tasbih ini dengan raut muka yang berubah bahagia. ia pun menyimpan tasbih ini dan berharap suatu saat Rizwan akan kembali melakukan pendakian ke gunung dan bisa senggah sebentar singgah ke rumahnya,agar ia bisa mengembalikan tasbih ini pada Rizwan.

Setelah itu,Almira selalu mengamati orang - orang yang melakukan pendakian dan berharap salah satu di antara mereka adalah Rizwan. Ia sangat menantikan kehadiran Rizwan di antara pendaki yang tampak berjalan di jalan setapak,cukup jauh dari rumahnya.

***


suatu ketika,saat sholat subuh,Almira membawa tasbih milik Rizwan ke masjid. selesai Sholat subuh berjamaah Almira tak memakai tasbih itu untuk berzikir. Ia menghabiskan waktu setelah itu dengan mengaji hingga fajar tiba dan pagi datang.

Pagi datang dengan matahari yang bersinar cerah. Kali ini,Almira ingin berjalan - jalan ke dalam hutan sendiri. Ia masih membawa tas mukenanya dan tasbih milik Rizwan. Udara pagi di dalam hutan yang masih segar dan sejuk.

Ia bersandar di sebuah batu,kemudian mengeluarkan tasbih milik Rizwan. Ia mengamati tasbih ini. tiba - tiba bayangan wajah Rizwan berkelebat di pelupuk matanya. Almira terkesiap. ia kembali melihat tasbih ini,keanehn terjadi,semakin lama matanya memandang tasbih ini,semakin banyak pula tercipta bayang - bayang wajah Rizwan di hadapannya.
wajah Rizwan yang pucat,wajah Rizwan yang tampak tenang tertidur,wajah Rizwan yang merasakan nikmat teh buatannya.

Senyum Rizwan dan Wajah Rizwan yang kesakitan saat kakinya dipijat. yang terakhir,wajah santun Rizwan saat ia bertanya nama pada Almira.

Almira mendekap tasbih itu,Ia bernafas lega dan tersenyum. jemarinya tergerak berzikir menggunakan tasbih ini. sekali lagi,keajaiban terjadi,suara alam sekitar Almira serasa ikut berzikir bersama Almira.

Angin lalu yang hadir di sela - sela pohon ini terdengar mendesah seperti membisikkan kalimat Tasbih,Almira membiarkan hal ini terjadi dan melanjutkan berzikir.

Kicauan burung yang bersahut - sahutan terdengar seperti melantunkan kalimat Hamdalah. gemericik aliran parit dengan air yang sangat jernih tak mau ketinggalan,setiap riak suaranya seperti meneriakkan kalimat Takbir. daun - daun dan ranting yang bergesek karena tertiup angin menciptakan suara yang membuat hati merasa damai,terdengar seperti melantunkan kalimat Tahlil.

suara alam atas kekuasaan Allah ini berzikir bersama Almira. semua hal ini membuat Almira teringat pada satu sosok pemuda,ialah Rizwan.

***

Hujan telah reda petang ini. Hawa dingin mulai hadir di setiap koridor rumah sakit ini. Saat ini Almira sedang menungu proses pemeriksaan Penyakit Ayahnya. Penyakit Batu empedunya sudah sampai pada keadaan parah,dan segera harus dilakukan operasi.

Almira tampak menunggu di luar ruangan unit gawat darurat bersama bibi dan adik sepupu laki - lakinya. beberapa saat kemudian,Dokter keluar ruangan dan memberi tahukan bahwa operasi akan dilakukan lusa pagi. Almira menyetujuinya dan mempersiapkan segalanya.

Wajah Almira tampak cemas dan sedih. Ia tidak bisa membayangkan rasa sakit yang tengah dirasakan oleh Ayahnya. Pak Dimara masih belum siuman. dan malam ini,Ia menunggu Ayahnya sendirian di rumah sakit. sementara Bibi dan Sepupunya kembali pulang menyiapkan segala keperluan selama opname di Rumah sakit.

Pak Dimara dipindahkan ke ruang perawatan intensif,malam ini juga. Almira tetap menunggu Ayahnya di samping ranjang. Mata basah yang mulai meneteskan Air matanya. dalam hatinya timbul rasa takut. ketakutan akan kehilangan Ayahnya untuk selamanya.

Gerimis kembali turun. Kesunyian di ruangan ini. Setelah menunaikan Sholat Isya',Almira memanjatkan do'a untuk kesembuhan Ayahnya. Ia juga membacakan Ayat - Ayat Al Qur'an untuk ketenangan dirinya dan berharap Ayahnya senantiasa dalam perlindungan Allah Subhana Wa Ta'ala.

HIngga Ia tertidur di samping tangan Ayahnya. Bibi dan Sepupu Almir datang ke ruangan ini. Mereka juga menjaga Almira dan Pak Dimara untuk semalam ini. Almira terbangun karena Azan subuh yang sudah berkumandang.

Kali ini,Ia ingin melaksanakan Sholat Subuh di Masjid Rumah Sakit ini. Ia membawa mukena yang dibawakan oleh Bibinya dari rumah. Mata layunya mencari keberadaan Masjid. setelah sampai ke masjid,Ia segera mengambil Air wudlu dan menunaikan Sholat Subuh berjamaah.

di Masjid ini,di Sholat subuh kali ini,tampak seorang Dokter muda menjadi Imam. Suara yang terdengar halus dan merdu. Suara yang terasa menenangkan kalbu siapa saja yang mendengarkannya. Suara yang menambah kekhusyukan dalam beribadah.
selesai Sholat,Almira tak langsung meninggalkan Masjid,Ia membaca Kitab sejenak. Ia melihat jamaah Pria di depannya. tak sengaja Kedua matanya menangkap Wajah seseorang,wajah yang tak asing baginya,

Almira terkejut saat ingat Wajah itu adalah Wajah Rizwan. Ia melihat Rizwan duduk di ruang Imam,dan ia baru menyadari bahwa yang menjadi imam sholat tadi adalah Rizwan. dalam hatinya memanjatkan kalimah Hamdalah yang tiada hentinya.

Almira melhat Huruf Allah yang terlukis pada Ubin berada di atas ruang mimbar,pandangannya turun menuju Wajah Rizwan yang berbincang - bincang dengan beberapa orang. tak pernah terlewatkan olehnya senyum Rizwan.

"Subhanallah,Engkau telah mempertemukanku kembali dengan Rizwan,Allah Al 'Aziz...",katanya dalam hati. Namun,Almira bertanya - tanya apa yang dilakukan  Rizwan di rumah sakit ini ?Apakah ia bekerja di rumah sakit ini ?penampilan Rizwan tampak berbeda dari waktu itu. kali ini,Rizwan tampak bersih dan rapi.

Rasa segan menahan dirinya untuk menemui Rizwan. Almira pun kembali kle ruangan Ayahnya. roman - roman bahagia yang tampak di sepanjang waktu subuh hingga fajar ini. setelah masuk ke ruangan,Almira melihat Ayahnya telah siuman,keadaannya masih lemah. Almira kemudian memeluk Ayahnya.

***

Almira kembali ke rumah sakit setelah Ia pulang ke rumahnya.Bibinya,Bibi Hamida duduk di luar sendirian. Almira datang bersama Imran,sepupu laki - lakinya. Ia tampak heran kenapa Bibinya duduk di luar,tidak menjaga Ayahnya di dalam.
Almira bertanya pada Bibi Hamida. Bibi Hamida menjelaskan bahwa Dokter sedang melakukan pemeriksaan kesiapan Pak Dimara untuk menjalani Operasi beberapa saat lagi. Almira merasa tenang.

Dokter keluar bersama seorang perawat. Dokter Muda berwajah berwajah putih bersih. Almira terperanjat melihat Siapa doker ini. Ia tidak menyangka. Dokter ini melihat keberadaan Almira. Ia tak terkejut karena Ia sudah tahu karena Pak Dimara.

"Rizwan...kau ternyata ",Almira mendekati Rizwan

Rizwan mengangguk tersenyum "aku bekerja di sini,Almira. aku akan melakukan Operasi pada Ayahmu,"Rizwan melihat jam tangannya",sebentar lagi....",

"Iya. aku berharap semuanya akan baik - baik saja dan berlancar lancar. dan sebuah keberuntungan bagiku bisa bertemu denganmu kembali...",

"Emh...", Senyum yang menenangkan dari Rizwan",Famay ya'mal mitsqala dzarratin khairay yarrah...",bisik Rizwan membuat Almira terkesiap dengan Batin yang meneriakkan kalimah Hamdalah tanpa henti.

"aku percayakan ayahku padamu,semoga Allah membimbingmu untuk kesembuhan Ayahku...",

"Bismillahir rahmanir rahim...",Rizwan mengangguk sejenak.

"Bismillahir rahmanir rahim. terima kasih,Rizwan...",Almira mengatupkan tangannya.

Rizwan kemudian meninggalkan Almira dan bersiap untuk melakukan operasi.
akhirya operasi berjalan lancar,tanpa hambatan apapun. dalam beberapa jam yang lalu,Rizwan bersama Timnya berhasil melaksanakan Operasi pada Empedu Pak Dimara. Rizwan keluar dari ruang operasi.

Ia melihat Almira duduk dengan raut muka yang berat da cemas. Ia duduk menanti proses operasi berlangsung bersama Bibinya. Rizwan menemui Almira. Almira berdiri menyambut Rizwan. Rizwan tersenyum dan menjelaskan semuanya pada Almira.

Almira merasa lega semuanya sudah berakhir dan Ayahnya akan segera menjalani masa pemulihan. Rizwan mengajak Almira untuk iku t dirinya ke suatu tempat. Ia meminta ijin pada Bibi Hamida untuk mengajak Almira.

Almira mau mengikuti Ajakan Rizwan. Rizwan kembali ke kantornya untuk berganti seragam.

***


Hari masih siang dan terik matahari mulai menurun,Rizwan mengajak Almira ke suatu tempat. Mengunakan Motornya,Rizwan sampai pada suatu kampung. Almira tampak kebingungan Rizwan mengajak ke pinggir kampung ini.

Hamparan sawah yang baru saja ditanami benih padi. Barisan ibu - ibu yang menanam padi. beberapa Petani tampak menghalau datangnya burung pipit yang hendak memakan padi. Parit - parit dengan air bening mengalir.

Rizwan berhenti agak jauh dari suatu perempatan. Ia berkata pada Almira.

"aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,apa kau ingin melihatnya ?",Mata Rizwan menangkap sesuatu.

"Apa itu Rizwan ?",tanya Almira menyapukan pandangannya.

Rizwan menunjuk ke arah Anak - anak yang berlarian di sepanjang jalan. Anak - anak ini mengenakan pakaian muslim dan rapi. Tidak hanya berlari,ada yang bersemangat mengayuh sepeda. Ada yang membawa kantung plastik hitam berisi buku,ada yang membawa tas gendong,ada yang membawa satu buku yang digulung.

Mereka tampak bersemangat dan berlomba - lomba. Mereka menuju sebuah Masjid yang berada di Pinggir kampung ini.

"Ayo ikut aku...",Rizwan kemudian menyalakan motornya,kemudian membawa Almira mengikuti anak - anak itu. Tiba di dekat pintu gerbang Masjid ini,Ia berhenti dan turun,begitu juga Almira.

Rizwan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah Peci putih bersih yang ia kenakan di kepalanya. Ia menggulung lengan bajunya hingga siku. setelah itu,Ia mengajak Almira masuk ke halaman masjid.

Salah satu Anak yang tengah bermain ini melihat kedatangan keduanya. sontak ia pun berteriak.

"Pak Uztads datang !!!",satu teriakan yang mengarahkan perhatian semua anak - anak ini pada Rizwan dan Almira. sekejap kemudian Anak - anak ini mendatangi Rizwan,menyambut kedatangan Rizwan. Mereka berebut bercium tangan dengan Rizwan.

Rizwan dengan sabar menjabat tangan mereka. Rizwan memulai kelas pelaran Al qur'an di Masjid An Nuur sore ini. Almira duduk di antara jamaah Murid ini. ia dengan mudahnya berbaur dengan anak - anak ini. ada beberapa anak perempuan yang memandang malu - malu padanya.

Rizwan bersama Almira menjadi pengajar pembelajaran Al qur'an sore ini. seperti biasa,Anak - anak ini tampak antusias mengikutinya. mereka bertambah semangat dalam belajar menghafal Ayat - ayat Al Qur'an. Rizwan menjadi guru pengujinya.

dalam hati Almira,Ia merasa kagum pada Rizwan. Pemuda yang ia tolong waktu lalu ternyata seorang Dokter sekaligus Ustadz muda. Ia terharu bisa mengenal seorang Rizwan. Almira tak henti - hentinya menatap Wajah Rizwan yang masih menguji hafalan Anak - anak ini.

Mata Rizwan menangkap kedatangan Seorang perempuan tua bersama seorang anak perempuan kecil yang menuntunnya masuk ke dalamnya. Segera,Rizwan pun menyambutnya. ia mencium tangan perempuan itu.

Rizwan mendudukkan Peremmpuan tua itu di dekat pintu.

"Rizwan...",panggil Nenek ini meraba wajah Rizwan,ternyata Nenek ini buta.

"Iya Umi. Assaalamu'alaikum...Rizwan di sini,Umi..",Rizwan meraih tangan Nenek ini.

"Wa'alaikumsalam,agak lama kamu kembali ke masjid ini...",wajah yang keriput terbungkus kerudung putih bersih,

"iya umi,maaf,pekerjaan di rumah sakit cukup padat,berkat do'a umi,aku mendapat pekerjaan yang layak dan lancar...",

"Alhdamdulillah,Anakku...syukurlah,tidak apa - apa",Nenek ini mengusap bahu Rizwan.",Rizwan,kali ini bacakan umi Surat Sajdah sekali saja,Anakku,kumohon...",

"Tentu umi,simak baik - baik....",kemudian Rizwan mulai membacakan Surat As Sajdah hingga selesai. Nenek ini sempat sujud sekali ketika ia mendengar salah satu Ayat sajdah dari surah ini,kemudian Rizwan melanjutkannya hingga selesai.

Nenek ini berdo'a sejenak,mata butanya mengeluarkan air mata. Ia mengusap wajahnya saat selesai berdoa,kemudian mengusap kepala hingga wajah Rizwan. Rizwan menunduk di hadapan Nenek ini. Almira merasa takjub melihat serangkaian kegiatan ini.

"Umi sudah tidak bisa melihat wajahmu,Rizwan,namun ketika Umi berada di hadapanmu,Umi seperti  melihat cahaya terang. Subhanallah,andai aku bisa melihatmu,wajahmu pasti sangat tampan dan bercahaya,mungkinkah wajahmu sama tampannya dengan Nabi Yusuf,Masha Allah...",

"mungkin cahaya yang umi lihat itu adalah do'a dan kasih sayang umi yang selalu umi berikan untukku dengan mengusap wajahku setiap hari...",

"Yah,yah,mungkin saja,Allahu akbar...",
Rizwan melihat Almira. Almira tampak bertanya - tanya.

"Namanya Umi Aminah,orang - orang memanggilnya,Mak Minah. tapi,aku memanggilnya Umi,dia yang mengenalkan aku Alif,Ba,ta hingga menjadi saksi pertama kali aku khatam Al qur'an di masjid ini. dia sudah berumur delapan puluh tahun.

Umi adalah teman nenekku. nenekku sudah meninggal beberapa tahun lalu,namun Alhamdulillah Umi Minah masih diberi umur panjang. setelah menyaksikan aku khatam beberapa kali,ia memintaku untuk membacakan surat Al qur'an semaunya dan aku harus bisa.

Matanya telah buta karena tua tapi ia masih sehat. aku menyayanginya sama seperti nenekku sendiri...",

tangan Umi Minah meraba tangan Almira. Ia terkejut.

"Rizwan kau datang dengan siapa ?apa ia kekasihmu atau calon istrimu ?",
Rizwan dan Almira terkejut kemudian tertawa cekikikan,tampak guratan malu malu di wajah Almira.

"bukan Umi,ini temanku,Almira namanya. Ayahnya sedang dirawat di rumah sakit,aku baru saja melakukan operasi batu empedu padanya....",

"Masha Allah,batu empedu ?pasti sakit sekali ?jangankan batu empedu,perih karena lapar saja sudah terlalu sakit umi rasakan,bagaimana dengan batu empedu ?",

Almira tersenyum dan meraih tangan Umi Minah.

"Umi,perkenalkan,Saya Almira",Almira merabakan tangan Umi minah ke wajahnya. Umi Minah merasakan kelembutan dan seperti melihat cahaya yang cukup terang di hadapannya",teman Rizwan dari lereng gunung....",

"Astaga,lereng gunung ?! jauh sekali...",

"Iya,umi. Umi,saya mohon do'a umi,agar ayah saya cepat sembuh dan sehat kembali. Saya mohon do'a untuk ayah saya,Umi...",Almira mencium tangan Umi Minah.

"Iya,Nona. saya mohonkan pada Allah untuk ini,Insya Allah,Ayah Nona Almira segera sembuh dan sehat wal afiat...",

"terima kasih umi,terima kasih....",
Tangan Umi minah mengusap bahu Almira. Almira melihat Rizwan. Rizwan kembali tersenyum.

"aku ingin menunjukkan taman - taman surga milikku padamu,Almira...",

"apa itu Rizwan ? di mana ?",

"Lihatlah...",Rizwan menunjukkan anak - anak ini,mereka tampak khusyuk mengaji",dan Umi Minah,dan sekarang kau menjadi bagian dari taman ini...",
mendengar kata - kata Rizwan,Almira serasa menjelma menjadi seorang Bidadari yang berada di surga. melihat keindahan surga dengan penghuninya. Ia berpikir apakah Keindahan surga akan seperti ini kelak ?

ketenangan dan kedamaian yang Ia rasakan berada di antara anak - anak ini,terlebih di dekat Umi Aminah. Famay ya'mal mitsqala dzarratin khairay yarrah.

***

kembali pada pagi hari di rumah Almira. suasana rumah yang selalu sunyi. Halaman yang ditumbuhi rumput - rumput dan dibuat taman kecil dengan tanaman berbagai macam jenis bunga. Embun yang merembet turun dari gunung. Hawa yang selalu terasa dingin di pagi hari.

tiba satu Mobil di halaman Almira. seseorang keluar mobil dan memeriksa keadaan rumah Almira. sudah beberapa bulan berlalu sejak terakhir dia meninggalkan rumah ini. Rizwan mengunjungi rumah Almira. Ia berencana ingin mengajak Almira dan Ayahnya mendaki Gunung siang nanti.

Rizwan mengetuk pintu dan mengucap salam. Seseorang membuka pintu,Imran,menyambut kedatangan Rizwan. Imran memanggilkan Almira yang sedang berada di dapur.kemudian,Almira muncul dengan wajah yang cerah. tampak kabut menyelimuti seluruh pemukiman Lereng Gunung ini.

Almira menemui Rizwan.

"Assalamu'alaikum,Almira. apa kabar ?",

"wa'alaikumsalam,dokter...", jawab Almira mengangguk segan.

"jangan memanggilku dokter,tetaplah memanggilku Rizwan...",

Wajah yang berubah malu - malu"baiklah,ada apa Rizwan kau datang ke rumahku ?",

"aku mendapat libur panjang akhir pekan ini,dan aku berencana mengajak kau dan Ayahmu mendaki gunung,karena aku yakin dengan mengajak kalian,aku tidak akan tersesat dan perjalananku terjamin selamat...",Rizwan melihat Almira membuang muka. Almira tampak sedih.

"sepertinya menarik Rizwan,kau mengajakku mendaki gunung. namun,terima kasih,aku tidak bisa kali ini,apalagi kau hendak mengajak Ayahku sekalian..",Almira yang menyembunyikan
matanya yang cepat membasah.

"kenapa Almira ?kau menolak ajakanku,inikan akan menyenangkan jika kau ikut bersama ayahmu,aku juga akan mengajak beberapa temanku. apa kau takut mendaki gunung ?",

Almira melihat Rizwan. Rizwan terkesiap saat ia melihat wajah sedih Almira.

"aku tidak takut mendaki gunung,Rizwan. tapi,kau tidak akan bisa mendaki bersama Ayahku...",

"lalu,kenapa Ayahmu ?ada apa denganmu Ayahmu?oh,masha Allah,aku belum bertanya di mana Ayahmu,di mana Ayahmu ?",

Almira mengajak Rizwan berjalan ke pinggir Halamannya yang menghadap jurang yang lerengnya dibuat sawah berundak. Almira menunjukkan kompleks pemakaman yang berada di bawah sana.

"Ayah sudah tenang di sana bersama Ibuku,Rizwan",setetes Air mata menjejal di mata Almira",Ayah sudah meninggal empat puluh hari yang lalu....",

"innalillahi wa inna ilaihi roji'un...",

"jadi sebaiknya kau mengurungkan niatmu untuk mengajakku naik gunung...",

Rizwan berubah lesu. Rizwan tidak menyangka Pak Dimara telah tiada. Rizwan terpaksa membatalkan rencananya untuk mendaki gunung. Ia pun memutuskan kembali pulang. Almira ingat sesuatu. Ia meminta Rizwan untuk menunggu dirinya sebentar.

Almira masuk mengambil sesuatu. Ia kembali pada Rizwan dengan menunjukkan tasbih milik Rizwan yang tertinggal. Rizwan melihat tasbih itu kemudian melihat wajah Almira. Hatinya merasa iba dan terharu melihat keadaan Almira. Wajah Almira yang sama seperti terakhir mereka hendak berpisah. Wajah Almira yang menunjukkan mengharapkan sesuatu pada Rizwan.

Rizwan mengambil tasbih itu dan
mengucapkan terima kasih. Ia meninggalkan Almira sendirian. tapi,setelah beberapa langkah,Ia berhenti dan berbalik. Ia menggenggam erat tasbihnya. Rizwan menatap Wajah Almir cukup lama. perlahan ia mulai mendekat.

"aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diriku,jika kau tak menemukanku dan menyelamatkanku,waktu itu. bisa saja aku mati perlahan dalam keadaan sekarat.

namun Allah masih memberi umur panjang untuk diriku,dan itu lewat dirimu.
aku merasa bersyukur masih ada orang berhati mulia dan baik di tempat ini,tanpa kebaikan dan ketulusanmu merawat diriku waktu itu,mungkin aku tidak akan sebaik ini. aku bisa saja menjadi lumpuh dan tak bisa berbuat apa - apa.

dan yang paling membuatku kagum adalah masih ada seseorang yang mengingat diriku meski aku sudah meninggalkannya dan dia berada jauh dariku...",Rizwan menunjukkan Tasbih itu pada Almira",...takdir Allah telah mempertemukanmu dengan diriku...",Rizwan meraih tangan Almira,kemudian menggenggamkan tasbih itu ke tangan Almira",

aku tidak bisa membayangkan jika kau menjalani hidupmu sendirian di tempat seperti ini,aku sangat mencemaskanmu,Orang yang kau sayangi telah pergi mendahuluimu. aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya jika kau hidup tanpa orang yang kau sayangi berada di dekatmu.

bila kau mengijinkan,maka mulai sekarang,aku ingin menjadi seseorang yang akan senantiasa menjagamu di tempat ini,dan mungkin dari dirimu,aku akan mendapat rasa sayang yang sama seperti kau menyayangi dan mencintai kedua orang tuamu.

aku sungguh tidak kuasa melihat Gadis sebaik dan semulia dirimu tinggal dalam kesendirian dan  ketakutan tanpa keberadaan orang yang kau sayang. maka,sekali lagi,bila kau ijinkan...",Rizwan berlutut di hadapan Almira. Tangannya masih menggenggamkan tasbih di tangan Almira",aku akan menjagamu,dan akan menjaga kasih sayang yang sama seperti kedua orang tuamu selalu berikan....",

Kabut ini perlahan memudar. cahaya matahari menyeka Almira dan Rizwan. Hawa dingin ini berangsur hilang. rumput - rumput basah yang tampak segar dengan udara senantiasa segar. Kalimah tasbih dan Hamdalah yang saling dilantunkan dalam hatinya,sebagai rasa syukur atas apa yang baru saja Ia saksikan. Almira menangis terharu menyaksikan Rizwan mengungkapkan perasaannya.

Almira mengangguk pertanda setuju. Ia menggenggam tasbih milik Rizwan dengan erat. Rizwan mengajak Almira berziarah ke makam kedua orang tua Almira.

Rizwan mengajak Almira memanjatkan do'a untuk arwah orang tua Almira. wajah Almira yang basah dengan rasa haru dan bahagia masih lekat. Ia mengusap batu nisan milik ibunya. lalu,tangan Rizwan ikut mengusap nisan milik ibunya. Rizwan mengusap punggung tangan Almira.

Almira melhat  Rizwan. Rizwan tersenyum untuk menenangkan Almira. Ia mendekap Almira dan masih memandang kedua pusara orang tua Almira. Pagi yang mulai terasa hangat,hidup baru yang akan dimulai.

with All kindness,

Zikr E Khair.

Dunia Di Kala Fajar

 Fajar Adi

Komentar

Postingan Populer