Salaam-E-dostana Bab 14
Keputusan darinya membuat Ayah dan Ibunya merasa sangat bangga dan bahagia.Indra berniat memberikan lamarannya untuk Indira.Meski tak sepenuh perasaannya yakin pada dirinya sendiri,namun Indra selalu berusaha berpikir positif dan mengambil sisi baiknya untuk hidupnya ke depan.
Sejujurnya,dirinya selalu membuat perbandingan pada dua sosok wanita yang sudah hadir dalam hidupnya ini,ia berpikir dan mengingat kembali,bertahun - tahun semenjak awal SMA mereka berkenalan hingga berpacaran,Indra sudah seperti menemukan sosok wanita yang tepat untuk ia sanding.
Namun,takdir berkata lain,sosok itu telah pergi mendahuluinya dari kehidupan ini.Rasa penyesalan dan kesedihan masih tertanam kuat pada diri dan hatinya,harapan untuk cintanya pupus.Dan kini ia masih merasakan hal itu,dan kharisma akan sosok wanita itu masih membuatnya kagum ketika ia mengingatnya.
Dan kini,waktu seolah - olah diputar kembali,sosok yang sama namun dengan suasana dan kharisma yang berbeda.Ia tak bisa berbohong pada dirinya,sosok yang pertama lebih berkesan baginya.
Namun,keadaan dan waktu seperti membujuknya untuk mengubah pandangan ini,sosok yang kedua akan lebih baik.Ia sampai berpikir,jika ia sudah melakukan kesalahan dan ia berharap ada kesempatan kedua untuknya,maka saat inilah kesempatan kedua itu.Keadaan ini selalu membuat pergolakan dalam hatinya.
Ia masih melihat dirinya di cermin.Ia melihat satu foto yang ada di dinding berdekatan dengan almarinya,senyumnya tak pernah berubah sampai sekarang,Ivana.Ia melihat foto lain yang ada di depan cermin ini,senyum ini seolah - olah menguasainya dan membuat kesan sendiri dalam hatinya,pesona yang hampir sama,Indira.
Ia mengela nafasnya,ia melihat matanya berkaca - kaca,pergolakan batin ini penyebabnya.
Seseorang masuk membawakan jas miliknya,Ia mengambil foto Indira.
"Tak biasanya aku melihat kakakku berwajah sesendu ini.Pasti ada hal yang dipikirkan ?,"Arjun melihat foto Indira,ia tersenyum",kakak ipar...",Arjun melihat Indra.Ia meletakkan jas milik Indra,mendekati Indra dan memegang kedua lengan kakaknya",Kakak Ipar...kakak ipar...akan ada hal baru di rumah ini...",
Indra melihat wajah Arjun dengan lesu",Kakak ipar...",
Arjun tahu apa yang kakaknya rasakan saat ini,ia pun bertingkah untuk menggoda kakaknya.Ia berbalik,lalu kembali menghadap kakaknya berlagak seperti perempuan.Arjun mengambil jas milik Indra.
"Oh,Indra,suamiku kenapa kamu masih bengong di depan cermin seperti itu ?bukankah semalam kamu bilang akan ada rapat penting dengan manajer?aku sudah menyiapkan semuanya dan sarapan untukmu dari tadi",Arjun berjalan mengambil dasi",kau masih betah berdiri bengong di depan cermin itu,manajermu tidak akan memberikanmu uang tambahan untuk sikapmu yang mengulur - ulur waktu ini...",
Arjun mendekati Indra dan memutar badan kakaknya",Oh lihat wajah ini,apa yang ia lakukan selama ini tadi saat aku memasak ?apakah setetes air sempat terciprat ke mukanya hingga ia masih sepucat ini ?",Arjun memakaikan dasi untuk kakaknya,dan masih berakting,,Indra tampak tak berdaya",
aku sudah membuatkanmu bubur ayam dengan saus kecap kesukaanmu sayang,"Arjun tampak cekatan memakaikan dasi",o ya,kuharap susunya bisa merubah wajahmu yang pucat ini sayang.dan lihat,akhirnya selesai,suamiku tampak...oh,tampak ?!,
kuharap suamiku bisa memberikan mimik tampannya untuk istrinya ini...",Arjun juga sudah memakaikan jas untuk Indra,Arjun membisikkan sesuatu",kakak ipar akan seperti ini nanti...",
Arjun pun meninggalkan Indra,Namun Indra menahan tangan adiknya.Arjun berbalik melihat Indra.
"Ada apa lagi,suamiku?'",,akting Arjun pun berlanjut.Indra langsung memeluk Arjun dengan perasaan haru dan lega.usaha Arjun berhasil,Ia mengusap punggung kakaknya",bawa kakak ipar ke rumah ini,kakak...",Bisik Arjun ke telinga Indra.
"Iya..Arjun,Iya...tentu..",
Indra bersama keluarganya berangkat menuju rumah Indira menggunakan mobil milik pamannya.Indra belum meminta ibunya untuk mengundang sanak saudaranya datang ke rumahnya dan mengabarkan soal lamaran ini.Ibu Nawang pun memenuhi permintaan Indra.
Di tengah perjalanan,Indra kembali merasakan hal yang membuat hatinya tidak nyaman.Perasaannya sudah yakin untuk Indira,tidak ada sedikit keraguan lagi ia rasakan.Namun,ia merasakan sesuatu terjadi pada Indira,dan seperti kesedihan yang dirasakan Indira.
"Ada apa ini Arjun ?kakak merasa tidak enak",bisik Indra menghela nafas.
Arjun menggenggam tangan kakaknya",semuanya akan baik - baik saja,Kakak.aku berharap semua akan berjalan lancar ",
"Iya Arjun",
sampai di rumah Indira,Indra tak menemui siapa pun.Tidak ada seorang pun yang ada di rumah Indira.Indra tampak kebingungan.Seseorang,salah satu tetangga Indira memberi tahu Indira bahwa Pak Bara mendadak masuk rumah sakit semalam,semua keluarga Indira berada di rumah sakit sekarang.dia juga memberi tahu rumah sakit mana Ayah Indira dirawat.
Indra pun mengajak keluarganya menuju rumah sakit yang dimaksud.Rasa khawatir ini semakin jelas terasa.Ia takut terjadi apa - apa pada Pak Bara.Ia berharap semua baik - baik saja.
***
Ia berdiri menatap ke arah luar jendela.Wajahnya tampak basah.Tubuhnya terasa kehilangan daya dan semangat.Ia tidak menyangka apa yang sudah terjadi pada hidupnya,pada keluarganya.kata - kata Ayahnya terngiang - ngiang di telinganya,membuatnya merenung dan berpikir.beberapa jam sudah berlalu.
mungkin jika ada rasa lain yang melebihi rasanya kesedihan,inilah yang sedang ia rasakan.ia berusaha untuk kuat,berusaha menahan perasaannya,kesedihannya.
Mungkin jika ada rasa lain yang sakitnya melebihi dari rasa kehilangan sosok yang paling ia sayangi,inilah yang sedang ia rasakan.Tubuhnya terpaku di tempatnya ia berdiri,setiap tarikan nafas terakhir itu masih lekat dalam ingatannya,genggaman tangan lemah dan dingin itu masih terasa di tangannya.
meski ia berusaha menghapus mimik wajah yang seolah - olah ingin melepaskan diri sebuah rasa sakit itu,namun tidak bisa.Semua terjadi begitu saja,namun proses berjalannya kejadian ini benar - benar membuatnya ingat seumur hidupnya.dan kata - kata itu,masih terngiang di telinganya.
"Aku mendapatkan mimpi melihat sebuah genggaman tangan,dan genggaman tangan itu milik anakku.Seorang pria sudah menjadi suaminya,namun sayangnya,aku melihat peristiwa ini di balik sebuah kabut,tampak seperti awan.
wajahmu tersenyum,tapi aku merasakan isyarat kesedihan dalam hatimu.Dan pria yang menjadi suamimu itu terus menggenggam tanganmu dan menopang badanmu,peristiwa ini terjadi di sebuah acara pernikahan,pernikahan putriku,Indira.
mendapat mimpi ini sudah cukup membuatku bahagia,sudah membuatku berpikir inilah saatnya aku melepas rasa sakit ini beserta ruh yang sudah merasa lelah ini,sudah cukup membuatku percaya akan kebahagiaan masa depan putriku,putri sulungku,"
dengan perlahan tangan lemah itu menghapus air mata yang merambat turun di pipi Indira",sudah cukup memberiku gambaran bahwa masa penderitaan dan masa sulit hidup putriku akan segera berakhir, tergantikan kebahagiaan dan keceriaan yang tergambar jelas pada wajahnya,bersama suaminya.
dan,ibunya bersama kedua adiknya,mendapatkan hal yang sama.
Putriku,Ikhsan akan membuatmu bangga meski setiap hari membuatmu marah karena perilakunya,namun waktu akan memperbaiki dirinya.Putriku,Indri akan senantiasa menjaga ibunya di saat kedua kakaknya membuat masa depan yang cerah,dia akan memberikan semangat pada kalian berdua,Indri akan sangat menyayangimu karena ia sangat manja pada dirimu sebelumnya
Ibu,Ikhsan dan Indri,aku titipkan pada dirimu,putriku,putri terbaikku,Indira....",sesaat kemudian,nafas terakhir itu sudah terlepas.Ya,bersama ruh yang lelah dan rasa sakit itu lepas dari sekujur badan yang lemah dan pucat itu.Tampak dua tetes air mata di tangan itu,air mata Indira.
Rombongan Indra sudah tiba di rumah sakit.Indra mencari Indira.Resepsionis rumah sakit memberi tahu tempat di mana Ayah Indira di rawat.Indra bergegas menemui keluarga Indira.
Indra mendapati Indira sedang berdiri di dekat jendela.Tubuh yang tampak lesu dengan pandangan wajah yang kosong.Ibu Nawang melihat Ibu Harum menangis di kursi dekat pintu ruangan memeluk Indri.Arjun melihat Ikhsan berdiri di dekat kursi,ia hanya menunduk dan membisu.merasakan kedatangan seseorang,ikhsan mengangkat pandangannya.
Indra berada di sisi Indira.Perlahan tangannya mengusap bahu Indira.Indira menoleh,tatapan rasa ingin tahu terpancar jelas di kedua mata Indra.Namun,Indira hanya menatap mata indra dalam - dalam,mencoba membuat gambaran tentang kesedihan yang ia alami.
Pak Yudi mencoba menengok ke arah dalam ruangan lewat kaca pintu.seorang dokter ada di situ dan beberapa perawat tampak menutupi Tubuh Pak Bara.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un....",kata Pak Yudi pelan mengusap dadanya.
Tangis Ikhsan langsung pecah di hadapan Arjun.sama apa yang dirasakan kakaknya.Kehilangan sosok seorang ayah sangat menyakitkan bagi Ikhsan.Arjun memeluk Ikhsan untuk menenangkannya.
Bu Nawang duduk di hadapan Bu Harum.Ia meraih tangan Bu Harum.Kedua ibu ini saling berbagi kesedihan.Ibu Nawang membisikkan Kata Istighfar pada Bu Harum dengan tetap mengusap lengan Bu Harum.
Indra bisa merasakan jelas kesedihan Indira.Ia pun mengajak indira ke suatu tempat.Indra meminta pamannya mengantarnya ke suatu tempat,bersama Indira.Tempat yang sudah lama tak ia kunjungi,tempat terakhir kali menatap wajah Ivana.
Tiba di tempat,Indra langsung meminta temannya,empunya kafe ini,tempat yang ia maksud.Temannya memberikan ijin dan merasa senang sekali atas kedatangan Indra,dan seseorang yang ia sangka adalah Ivana,bukan Ivana namun Indira.Keduanya memiliki wajah yang mirip.
Indra meminta Indira duduk di hadapannya,dan seperti waktu itu,duduk berhadapan dengan Ivana.Indra tersenyum pada Indira.Indira membuang muka dan berdiri,sedikit menjauhi Indra.Tangis Indira pun pecah.Tangan Indira memegang pagar balkon yang menghadap ke pemandangan kota ini.Ia menumpahkan semuanya di sini.
Indra berdiri dan hanya memandang Indira yang terus menumpahkan kesedihannya,ia merasakan kehadiran seseorang yang di dahului hembusan angin halus ini.Seseorang tampak muncul dari belakang Indra.Tangan halus yang meraba bahunya,Ivana.Indra menoleh ke samping.
Ivana melihat Indra berkaca - kaca.Indra ingat kata - kata Ivana saat Ia melihat wajah Ivana yang cerah dan bersih,seperi cahaya terpancar dari badannya.
"....kau tidak melihat indira adalah wanita tegar yang bekerja keras...aku yakin Indira adalah wanita yang sama sepertiku...cinta bukan masalah keadaanmu susah atau senang.Cinta adalah masalah mengubah susah menjadi senang di berbagai keadaan yang tengah kamu berada...",
Ivana berdiri hadapan Indra.Ia membelai pipi Indra.dan berbisik",Aku mencintaimu sayang,aku mencintaimu Indra,aku mencintaimu...",sosok Ivana menghilang berganti Indira yang memutar badannya ke arah Indra.
Perlahan Indra mendekati Indira.Indra menghapus air mata Indira.Indira menunduk menangis di hadapan Indra.Indra berlutut di hadapan Indira.Ia mengambil sesuatu dari saku celananya.
Indra menggenggamkan benda yang ia ambil itu ke tangan Indira.
Indira berhenti menangis membuka tangannya.Ia melihat Indra menatapnya penuh harap.Indira membuka apa yang ia genggam,sebuah kotak kecil berisi sepasang cincin emas dengan berlian kecil di atasnya.
Seperti mendapatkan angin segar dan sejuk,seperti mendapat cahaya matahari yang hangat dan memberikan semangat,seperti membangkitkan nadi - nadi dengan alirannya yang lemah.Indira membelai kedua pipi Indra,pertama kali belaian itu,sama rasanya belaian tangan Ivana.
Indira langsung memeluk Indra.cinta,cinta itu terhubung,cinta itu menyatu.Indra mengusap kepala Indira.Perlahan,ketenangan hadir di hati Indira.Paman Indra tampak terharu menyaksikan peristiwa ini.Indra dan Indira berdiri.
Perlahan Indra menyibak rambut Indira lalu mencium kening Indira.cinta,cinta itu sudah bersemayam pada diri mereka,dan sepasang cincin itu akan menjaganya.Indra melihat sosok Ivana hadir kembali,perlahan mendekati Indira,perlahan mendekati mereka,Ivana tampak tersenyum haru.
Ivana pun merasuk dalam tubuh Indira.Ivana dan Indira,kedua sosok ini sudah melebur menjadi satu.Indra mendapatkan Indira,cinta Indira.Tidak hanya itu,Indra juga mendapatkan Ivana dalam raga Indira,cinta pertamanya,cinta Ivana.Perlahan Senyum terbentuk di bibir Indira.
"Aku mencintaimu,sayang....",kata - kata itu terdengar seperti Ivana yang mengatakannya.Indra kembali memeluk Indira sejenak.Indra,Indira dan Ivana.Mereka pun bersatu dalam cinta.
***
Suatu sore,Malika berkunjung ke rumah Arjun untuk menanyakan sesuatu hal.tiba di depan pintu rumah,Ia mengetuknya tiga kali.Tak lama,seseorang membukakan pintu,Indira.
"Selamat sore,Kak Indira ya...",
"Selamat sore...kamu Malika kan ?",tanya Indira.
"iya kak...apa Arjun ada di rumah?aku ingin bertemu dengannya..."tanya Malika melihat ke dalam rumah,
"Ada,ayo silahkan masuk...",
Malika masuk ke dalam rumah Arjun.Indira memanggil Arjun.Arjun hadir bersama Indira.
"Aku sudah menelpon dia,Arjun.tapi nomornya sudah tidak aktif lagi.apa dia mengganti nomornya yang lama ?",
"Ya,Malika.Sebulan yang lalu ia mengganti nomornya",
"Pasti karena alasan diriku ?",tanya Malika tampak risau.
"tidak Malika,Marvin lupa saat nomornya sudah masuk masa tenggangnya hingga melewati masa aktifnya.Jadi,ia harus mengganti nomornya..",
Indira menyajikan teh untuk Malika,lalu duduk di samping Arjun.
"bisa kau memberikan nomor baru milik Marvin padaku,Arjun?.Kumohon...",pinta Malika penuh harap.
"bisa...",Arjun mengeluarkan Hpnya
"oh syukurlah,terima kasih,Arjun...",Malika mengeluarkan hpnya juga.
Arjun menyebutkan nomor Marvin sementara Malika mencatatnya ke dalam Hp.Malika yang berwajah murung sedari tadi,mulai menampakkan wajah bahagianya.Malika langsung menelpon nomor itu,namun panggilannya tidak segera di angkat.Tiga kali mencoba panggilannya tetap tak diangkat oleh Marvin.
"Arjun,aku sudah menghubungi nomor ini berkali - kali,tapi Marvin tidak menjawabnya,ada apa dengan Marvin ?ada di mana dia sekarang ?",
Arjun melihat ekspresi lain pada Wajah Malika.Sebelumnya Malika terkesan acuh tak acuh pada Marvin,hingga terakhir kali Ia ketakutan pada Marvin hingga mendorongnya.
tapi kali ini,Ia sangat ingin bertemu Marvin,berubah drastis.Malika sedang menghadapi masalah namun ia tidak mau menceritakannya pada Arjun,dan yang ia inginkan adalah Marvin ada di hadapannya saat ini.
"Marvin baru saja dari sini,Malika.Ia berpamitan padaku setengah jam yang lalu,kakeknya memintanya untuk menengoknya.Jadi,Ia mungkin sudah berada di stasiun sekarang...dia bilang keretanya satu jam lagi akan tiba,ia cepat - cepat berpamitan padaku",
"Jadi,Marvin di stasiun sekarang.Aku harus menyusulnya sekarang",Malika meraih tasnya",Arjun terima kasih sudah memberiku nomor baru Marvin.Aku akan menyusul Marvin sekarang,aku mohon pamit,Kak Indira ,permisi,terima kasih...",Malika bangkit dan merapikan jaket jeans hitamnya itu.
"Iya...",Arjun berdiri bersama Indira.
Malika langsung bergegas menuju stasiun.Ia berharap bisa menyusul Marvin.
***

Suasana stasiun tak begitu ramai,setelah hujan barusan suhunya sangat dingin.setelah Marvin mendapat tiket,ia langsung menunggu di peron stasiun.Marvin berjalan melihat suasana stasiun ini.
Ia membeli segelas kopi untuk mengusir rasa ngantuk.Ia melihat jam di tangannya,beberapa menit lagi keretanya tiba.Ia menunggu datangnya kereta dengan melihat - lihat hiruk pikuk stasiun ini.ia menyusuri peron ini hingga beberapa meter.
Sementara itu,Malika sudah tiba di stasiun.Ia langsung mencari keberadaan Marvin.rasa khawatir dan takutlah yang sebenarnya ia rasakan.Ia berpikir bahwa Marvin sajalah yang bisa mengerti dirinya.
Hanya Marvinlah yang mau mendengarkan segala keluh kesahnya.Namun,apa kah itu akan terjadi setelah Marvin mendapat perlakuan darinya saat setelah rapat panitia di kampus waktu itu ?ini yang Malika khawatirkan.
Sudah sampai di peron,Malika menebarkan pandangannya untuk melacak keberadaan Marvin.Ia mendapatkan Marvin berada tak jauh di sebelah kanannya.Marvin sedang berdiri menunggu datangnya kereta.
Perlahan Malika mendekati Marvin.Ia berharap Marvin mau mendengarkan keluhannya meski dalam waktu yang tidak lama.Ia sangat terbebani dengan masalah ini.
"Marvin...",panggil Malika",kau mau pergi ke mana ?",
Marvin berbalik",aku mau pergi ke rumah kakekku,Beliau sakit dan ia ingin aku menengoknya",
"kau mengganti nomormu yang lama Marvin ?",
"Ya,karena aku kelupaan kalau sudah masuk masa tenggang sampai lewat batas masa aktif,jadi nomorku hangus.aku mengganti nomorku...",jawab Marvin dengan tanggapan yang dingin
"aku sudah punya nomor barumu,Marvin.aku memintanya pada Arjun,barusan.Apa kau baru saja singgah di rumah Arjun untuk pamitan ?",
"ya...jika aku akan pergi dalam waktu beberapa hari,aku selalu memberi tahu Arjun,agar Arjun memberi tahunya pada Niel...",Marvin meminum kopinya sedikit.
"Marvin,bisa kita bicara sebentar ?",Malika maju selangkah.
"bicara ?sebentar ?masalah apa ?",
"Tapi sebelumnya Maafkan aku,Marvin.apa kau marah setelah aku mendorongmu hingga jatuh waktu itu?aku ketakutan sekali waktu itu,bukan takut padamu tapi pada orang lain...",
"Aku tidak marah Malika,lupakan saja....",kata - kata Marvin tetap terdengar datar.Itu membuat Malika merasa lega.
"Lalu bagaimana sikap sinisku sebelumnya,apa kau tersinggung aku bersikap seperti itu padamu ?maafkan aku Marvin,aku sadar dan merasa tidak tenang karena sudah melakukan ini padamu.aku benar - benar tertekan mendapat masalah ini...",Mata Malika berkaca - kaca,hatinya seolah - olah menggerakkan dirinya untuk menangis di hadapan Marvin,namun Ia menahan diri.
"dan sekarang,tenangkan dirimu Malika,yang sudah berlalu biarkan berlalu.aku tidak perlu mengungkit - ungkitnya padamu...",Marvin melihat ada yang lain dengan sikap Malika.
Malika menarik nafas",dan sekarang,di waktu yang tidak lama ini,kumohon kau mau mendengarkan ceritaku Marvin,hal yang membuatku sudah berperilaku kasar padaku beberapa waktu lalu.ku mohon,Marvin...",
"ya...mungkin beberapa menit,ceritalah...",
"Baiklah.ini soal Rino,mantan pacarku,beberapa waktu lalu ia menemuiku.Kami bertemu di kafe 'Hitz' sebulan yang lalu,ia masih menyimpan dendamnya padaku,ia membuatku takut dengan kata - katanya yang sangat membuatku khawatir",
"Jadi,Masalah Mantan pacarmu ?",Marvin memutar badan ke samping.Marvin merasa tidak perlu mendengar cerita Malika kali ini,karena ia tidak mau terlibat dalam masalah Malika.
"Iya,Marvin.dan ia menyerangku dengan pertanyaan tentang laki - laki yang bersamaku sekarang ini,laki - laki yang selalu ada buat diriku ini,apakah sama dengan dirinya ?apa ia sudah memanjakan diriku seperti dia memanjakan aku dulu",kata - kata ini sangat menyinggung Marvin.
Kereta yang ditunggu Marvin akhrinya sudah tiba.Setelah berhenti,Banyak penumpang yang turun dan memenuhi peron.Penumpang yang naik dari stasiun ini lumayan banyak,tampak beberapa orang membawa barang bawaan yang berat.Marvin dan Malika masih berada di suasana ini.
"Lalu,apa yang kau katakan ?kau menjelaskan tentang diriku semuanya pada laki - laki itu",Mulai tumbuh rasa emosi dalam diri Marvin.
"Tidak,Marvin.aku hanya bilang aku belum mendapatkan seseorang",
"Lalu ?"Namun rasa emosi itu malah berubah menjadi rasa simpati.
"dia lalu mengejekku perempuan yang payah,seharusnya aku bisa mendapat beberapa laki - laki dengan mudah",Malika berharap Marvin tahu apa yang sedang ia rasakan",ia terus merendahkan dan memojokkanku Marvin.
sampai ia mendekatiku dan memegang tanganku dengan erat.Ia berkata padaku sekali lagi,cari laki - laki secepatnya atau aku akan memaksamu untuk kembali padaku.
Aku takut sekali dengan ancaman ini,Marvin.akhirnya aku terpaksa mengatakan aku sudah mempunyai laki - laki yang lebih darinya,dan aku menjawab Kamu lah orangnya,Marvin",
"Apa ?!",Marvin terkesiap dan menatap Malika dengan tatapan tajam.
"aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,Marvin.kurasa hanya kau lah yang akan mengerti masalahku ini",
"Lalu bagaimana dengan teman - temanmu?,atas dasar apa kau melibatkanku dalam masalah ini,Malika.Apa kau tidak berpikir sebelumnya bahwa aku akan senang atau tidak kau melakukan hal ini",
"Mungkin teman - teman akan membenciku,Marvin.aku khawatir mereka akan berubah sikap padaku.Maafkan aku Marvin sebelumnya,aku sangat bingung waktu itu",
Marvin merasa sudah saatnya untuk masuk ke dalam kereta.Beserta rasa kecewa atas tindakan Malika terhadapnya.Marvin melangkah meninggalkan Malika tanpa meladeni pembicaraan Malika.
Malika menahan lengan Marvin,"Kumohon Marvin,beri waktu sedikit lagi padaku untuk bicara.Maafkan aku,aku tidak bisa berbuat apa - apa waktu itu.aku takut,Marvin.
Kurasa hanya kau yang bisa mengerti masalahku,jangan pergi dulu Marvin",Malika mengatupkan kedua tangannya,memohon pada Marvin.
"kau tahu apa yang lebih ku takutkan,Malika ?",
"Apa itu,Marvin?",
"Resiko dari tindakanmu itu.Tidak cukupkah kau melihatku babak belur seperti waktu itu?,Tidak hanya dirimu,bahkan mungkin aku juga akan dipermalukan oleh laki - laki ini,laki - laki yang selalu mengganggumu",Marvin meninggalkan Malika.Namun Malika tak berdaya untuk menahan Marvin lebih lama lagi.
"Kau membelaku waktu itu Marvin,bersama Arjun dan Niel.Kumohon sekali lagi,Marvin.Coba pikirkan,jika nanti sampai Rino datang padaku dan bertindak apa yang di luar apa yang kau bayangkan,yang mungkin akan merubah diriku,perubahan yang mungkin akan membuat perasaanmu berubah terhadapku saat kau melihatku,Marvin.
bersamamu selama ini,waktu mulai memberiku isyarat,isyarat sebuah perasaan padaku.Marvin,aku tahu apa yang kau rasakan padaku,aku mulai tahu Marvin.untuk itu, aku mengatakan dirimu lah,bukan orang lain,pada Rino,Andai kau mengerti?",pertama kali Malika meneteskan air mata di hadapan Marvin.tulus dari hati yang paling dalam.Marvin berhenti sejenak,namun ia tetap masuk ke dalam kereta untuk pergi ke rumah Kakeknya.
Sampai kereta bergerak meninggalkan stasiun,Malika tetap berdiri di peron ini.Ia memikirkan apa yang akan Marvin rasakan jika ia mendengar apa yang sudah ia katakan.
Dan benar !,di luar dugaan Marvin,akhirnya saat - saat ini datang pada Marvin,dan ia sudah mendapat jawaban terhadap kebingungannya,perubahan sikap Malika.Namun,kenapa ia harus terlibat dalam masalah Malika yang benar - benar tidak ia harapkan,benar - benar tidak ia sukai?
"aku tahu apa yang kau rasakan padaku...bersamamu selama ini,waktu memberiku isyarat...isyarat perasaan,isyarat perasaan...",Marvin termenung di sepanjang perjalanan.pada apa yang ia harapkan terhadap Malika,kata - kata Malika yang terngiang - ngiang di telinganya seperti memberi harapan padanya,harapan terhadap perasaannya pada Malika.inilah mungkin saatnya.
Gerimis turun setelah Malika sampai rumah.Ia duduk di atas dipan bambu yang ada di teras belakang.Belum sempat mengganti bajunya.Ia benar - benar dikuasai masalahnya saat ini.Ketakutan dan harapan pada Marvin.keduanya bercampur dan berkecamuk dalam diri Malika.
Rambutnya basah,ia melepas tasnya.Ia membayangkan saat - saat Marvin babak belur dihajar Rino sewaktu membela dirinya.Marvin benar - benar tak berdaya waktu itu.ia merenungi semua sikap yang sudah ia lakukan terhadap Marvin.
Ia membayangkan kembali saat - saat pertama kali ia bertemu.ingatannya begitu saja memutar kembali kata - kata Marvin.
"karena aku belum tahu caranya menyakiti hati seorang cewek,dan aku belum tahu atas tujuan apa orang menjadi jahat",dan di saat inilah rasa sombong yang samar - samar ia tampilkan pada Marvin mulai memudar.
keadaannya yang seperti sekarang ini membuatnya berpikir memakai perasaan.Jujur,Malika selalu meremehkan kepolosan,ketulusan dan kebaikan Marvin,itu terlihat dari sikapnya yang menyamarkan kesombongannya dan rasa gengsinya terhadap Marvin.Dan inilah sebab dasar Malika merasa menyesal.
Dan,perkenalan Mereka lewat jabatan tangan dulu membuka mata Malika dan kata - kata Marvin yang menanyakan padanya bahwa apa dia juga termasuk orang jahat seperti apa yang Malika anggapkan bahwa semua laki - laki itu sama jahatnya.
namun,Malika membuat pengecualian untuk Marvin.Senyum di antara lelehan dua air mata itu,Malika merasa sedikit lega bisa melakukan hal ini untuk Marvin.Satu pelajaran penting buat Malika,sebuah Penghargaan dan Sikap Baik itu perlu,tidak semua laki - laki mempunyai sifat jahat.
Malika masuk ke rumah.Ia membersihkan dirinya dan mengganti pakaian.Ia duduk di depan meja riasnya.Tangannya tergerak untuk mengambil Hpnya,ia membuka galeri.Satu per satu muncul foto Marvin,cukup banyak.Terkadang,tanpa sadar,hati kecilnya menggerakkan tangannya untuk memfoto Marvin secara diam - diam.
Dan Senyuman Marvin,Senyuman pertama kali dari seorang cowok yang benar - benar meninggalkan kesan di hatinya.Ia selalu mengabaikannya namun itu malah menimbulkan sedikit konflik batin dalam dirinya.Egonya menggerakkan untuk menaruh rasa kagum pada Marvin.
Ia teringat saat - saat Marvin babak belur di hajar mantan pacarnya yang cemburu saat itu.Penyesalan mulai timbul kembali.Sekali lagi,Keadaan ini membuka mata hatinya dan meyakinkannya bahwa Marvin bukanlah orang jahat dan dia bisa dipercaya.
Dan dengan membuat pengecualian untuk Marvin akan memberinya harapan dan Firasat baik.sampai ia berpikir ulang,dia berteman dan bersama Marvin selama ini,keadaannya baik - baik saja dan aman - aman saja.Ia tidak pernah merasa sedih atau mendapat usikan keresahan sedikit pun.
Hingga akhirnya,Foto - foto Marvin itu menghiasi dinding kamar Malika.Malika mencetak dan menempatkan setiap foto dalam bingkai.Setiap senyuman Marvin yang ia tatap dalam foto itu memberikan semangat untuknya,memberikan rasa bahagia untuknya,dan mulai menyadarkan dirinya akan sebuah perasaan yang ingin Marvin tunjukkan pada dirnya lewat pengorbanan dan kebaika Marvin selama ini.
Ia mengusap foto Marvin.Terlihat sebulir air mata di ujung kelopak Mata Malika.Ia membalas senyuman foto Marvin.Ia mengucapkan kembali kata - kata itu yang dulu ia katakan di hadapan Marvin setelah perdebatannya di suatu pagi.
"Emmhhh...Kau bukan pria yang jahil.Namun,Kau tidak perlu jadi seorang gentlemen.Apa yang ada pada dirimu sudah membuatku takjub.Kau tidak perlu berlebihan Marvin.
Kau tidak harus mengambil cara yang rumit untuk membuatku tertarik padamu....".Ia mengusap dadanya,senyuman yang sudah memberikan kelegaan dalam hatinya.Senyuman milik Marvin.
***
Malam ini di rumah Arjun,Indra,Indira,Arjun,Niel dan Nira sedang membahas Persiapan Acara Pernikahan Indra dan Indira,yang akan dilaksanakan seminggu lagi.Persiapan mulai dilakukan.Orang tua Indra sudah memesan gedung untuk penyelenggaraan Acara.
Mereka membicarakan tentang Penyebaran Undangan.Setumpuk Undangan ada di hadapan Mereka.Yang mereka perbincangkan adalah Malika dan Marvin.
"...Okey,Malika menemuiku di rumah ini beberapa saat setelah Marvin berpamitan pada Arjun",Kata Indira menoleh ke Arjun.
"aku memberikan nomor milik Marvin yang baru.Keadaan Malika tampak lain saat itu.Masih dalam keadaan yang sama,sama seperti insiden Malika mendorong Marvin.
Ia stress,dan yang ia inginkan hanyalah Marvin,bagaimana cara menemui Marvin dan menghubungi Marvin",Arjun melirik Niel.Niel dan Nira duduk berdampingan.
"Masalahnya sekarang,aku khawatir pada Marvin.Keadaan yang tak terduga bisa saja terjadi padanya.Seperti aku mengamuk setelah Nira menamparku",Niel menoleh ke arah Nira.Nira tersenyum pada Niel,ia mengusap lengan Niel",dan Arjun,Kak Indra harus menenangkanku.
Aku dan Arjun benar - benar tidak tahu apa yang terjadi di antara Mereka.inti masalahnya terletak pada Malika,Marvin pergi ke rumah Kakeknya sekarang dan entah Malika sudah menemui Marvin kah belum untuk membicarakan masalah mereka ?",Niel membenahi posisi duduknya.
"Tentu saja Malika sudah menemui Marvin,Niel.Setelah ia mendapatkan Nomor barunya,Malika langsung bergegas menuju stasiun.Dan semoga Ia tidak ketinggalan keberangkatan Marvin",Tambah Indira.
Mereka terdiam.
"Aku ingin kalian bisa berkumpul dalam acaraku nanti,"Indra memandang Niel,Nira,dan adiknya",aku sangat berharap",Indra menggenggam tangan Indira",undangan untuk Malika dan Marvin harus ada dan diberikan,aku harap ada yang bisa menyampaikannya",
"Marvin akan kembali lusa,kakak.dia sudah mengirimiku SMS tadi",
"Kau yang datang menemui Marvin",
"Alangkah lebih baiknya jika Saudara Niel yang menemuinya",Arjun melihat Niel dengan sedikit menghidupkan canda.
"Oh tidak,tidak.Lebih baik anda saudara Arjun,aku yakin Marvin masih dalam keadaannya yang galau dan aku yakin anda bisa mengatasi masalahnya.Anda sudah seperti Psikiater pribadinya,bukan begitu ?,Niel tahu maksud Arjun yang ingin mencairkan suasana.
"Oh tidak,tidak.anda yang lebih baik,saudara Niel.kau adalah tetua kami.kau yang paling bijaksana diantara Kami.
Kau yang menjadi pemimpin kami.seorang pemimpin akan bisa bertindak lebih tepat",sanggah Arjun.
Indira melirik Nira,Mereka tampak heran melihat sikap konyol dua pemuda ini.
"Aku takut nanti kami malah bertengkar karena kami saling mencari kesalahan masing - masing.dan...",
potong Indra",dan jika Niel dan Marvin bertengkar adikku yang paling baik akan mendamaikan kalian",Indra menyinggung Arjun dengan senyum ringannya",seperti biasa yang ia lakukan",
Arjun tak bisa berkutik mendengar kata - kata Kakaknya.Karena ia selalu melakukan apa yang kakaknya ucapkan.Arjun dan Niel saling memandang.Arjun mengulurkan tangannya dan tersenyum.Niel menjabat tangan Arjun tersenyum juga.Mereka seperti membuat kesepakatan.
"Bagus,kalian lebih baik tampak seperti itu.Lalu,bagaimana dengan Malika ?",
"aku akan mencoba menemuinya,Kak Indra.aku akan mencoba berbicara pada Malika dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya masalah Mereka",Nira mengajukan dirinya.
"aku akan mendampingimu,sayang",tambah Indira",Orang yang lebih tua akan lebih tahu mencarikan solusi untuk masalahnya.aku juga ingin tahu masalah Malika.Boleh kan Indra ?",Indira menoleh ke Indra.
"Yah.Sudah semestinya Orang tua menjadi Penasihat",
"Dan Malik dan Nira pasti tidak akan membuat perdebatan karena kekurang pahaman masing - masing dari mereka",kata Niel ringan membelakangi Nira.
"Setidaknya ada orang yang lebih tua yang menjadi Penengah,Niel.kau jangan khawatir,Nira pasti akan berhasil membujuk Malika",Sanggah Indira dengan bahasa yang halus.
Arjun mengangkat alisnya melihat Niel.sekali lagi,ia mengajak Niel berjabat tangan.
"Sukses !!",kata Arjun lirih.
"Ya...sukses !!Ganbate !",tambah Niel.
Mereka pun tertawa bersama.Canda dan tawa itu berhasil dibuat oleh Niel dan Arjun.Indira tertawa memasrahkan kepalanya di bahu Indra.Nira menepuk tangannya setengah kuat.
***
Malam ini,Nira bersama Indira mengunjungi rumah Malika.Mereka bermaksud memberikan Undangan Pernikahan Indira dan membicarakan Masalah yang tengah di hadapi Malika.
Saat ini,Nira duduk mendampingi Malika dan Indira duduk di kursi sebelahnya.Selembar Undangan sudah ada di atas meja ruang tamu ini.Indira membujuk Malika untuk menceritakan masalah yang dialaminya dengan Marvin.
Malika pun menceritakan dengan nada yang berat.
"...aku sudah menemui Marvin malam itu,Kak Indira,Nira.Setelah aku mendapatkan nomer baru Marvin dari Arjun,aku langsung menyusul Marvin ke stasiun dan beruntung Keretanya belum berangkat.Padahal tinggal beberapa saat lagi.
Di saat yang tak lama itu,aku menjelaskan semuanya pada Marvin.Mulai dari Penyebab Perubahan sikapku,Penyebab aku hingga gelap mata mendorong Marvin,dan Kejadian yang aku alami",Mata Malika berkaca - kaca.
"Apa yang terjadi Malika ?apa Marvin berbuat satu kesalahan terhadapmu ?",tanya Indira.
"Bukan Marvin yang membuat Kak,Namun dirikulah...",Malika menunduk
"Apa yang kau lakukan Malika ?pasti masalah ini sangat berat hingga membuatmu tampak cukup tertekan seperti ini...",
"Masalahnya datang dari Mantan Pacarku,Rino.dia bertanya padaku apakah aku sudah punya seorang laki - laki sebagai penggantinya,ia juga mengancam jika aku belum mendapatkan seorang pun,maka ia akan memaksaku untuk kembali menerimanya sebagai Pacar.
Awalnya aku menjawab belum,namun ia menyindirku dengan mengatakan Cewek seperti diriku seharusnya bisa saja mendapat Beberapa Laki - laki sekaligus dengan cepat untuk menjadi pacarku.
Tidak hanya menyindirku ia juga terus memaksaku untuk mengatakan siapa laki - laki yang sudah bersamaku saat ini.
Hingga ia tega meremas lenganku
Akhirnya,dengan terpaksa,aku menyebutkan nama Marvin.Ia pun melepas tangannya dan berkata Kuharap dia bukan laki - laki pengecut yang sudah kuhajar habis - habisan waktu itu.Jika Memang dia,kuharap dia bisa membuktikan bahwa dia bukan laki - laki pengecut dan tidak tahan banting.
Aku merasa dengan menyebut nama Marvin membuatku cukup untuk menjawab rasa penasarannya.Namun,Ia merasa yakin bahwa Marvin lah orangnya.
Aku sudah menyampaikan masalah ini pada Marvin.Namun,Marvin malah kesal dan kecewa padaku.dia tidak suka aku menyebutkan namanya di hadapan Rino tanpa sepengetahuan dirinya sebelumnya.",Mata Malika berkaca - kaca",
padahal aku benar - benar dalam keadaan terdesak waktu itu",
"Apa yang membuat Marvin merasa kesal dan Kecewa,Malika ?",tanya Indira
"dia tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali,Kak.Kejadian di mana Marvin dihajar habis - habisan saat Ia membelaku dari gangguan Rino.Niel dan Arjun datang menolong Marvin waktu itu.
Aku sudah berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan jujur.Tapi Marvin hanya diam dengan rasa kecewa dan Kesalnya padaku.Ini yang aku khawatirkan,dan terjadi.
Aku sangat berharap Marvin mau mengerti keadaanku.Aku sadar selama ini aku hanya meremehkan Marvin.Dari Awal bertemu,Aku mengira Marvin adalah cowok yang sama dengan cowok lain,sama jahatnya,namun aku membuat pengecualian untuknya.Aku sudah salah menilai Marvin.
Dia adalah seorang yang polos dan tulus.Ia sempat membelaku hingga dihajar Rino.Marvin ingin membuktikan bahwa dia bukan seperti cowok pada umumnya,yang mudah menyakiti hati seorang cewek.dia selalu menemaniku,dia selalu menjemput dan mengantarku ke kampus.
Namun,sikapku selama ini adalah memandang Marvin sebelah Mata.Aku selalu bertanya dalam hati,Apa yang bisa kudapatkan dari seorang Marvin ?apa yang bisa diharapkan dari seorang Marvin yang lugu itu ?",
Indira menyela",Marvin selalu menjagamu Malika,itu yang kau dapat.lalu apa yang kau harapkan dari seorang Marvin ?",
"Apa yang kuharapkan dari Seorang Marvin adalah Marvin dia sendiri dan seutuhnya.Ketulusan,Keluguannya dan Kebaikannya sudah mengubah pandanganku terhadapnya.
Marvin selalu memandangku dalam waktu yang lama,entah apa yang ia pikirkan aku tidak tahu,awalnya aku tidak mengetahuinya.
Kami menjalin satu hubungan Persahabatan.Marvin selalu menjagaku di mana saja.dan di setiap Pembicaraan,di setiap canda yg ia ciptakan,dia setiap tatapan matanya yang selalu saja memandangku,aku mulai tahu apa yang Marvin sembunyikan dalam hatinya",Malika menoleh ke Nira",
Satu Perasaan untukku.Kebaikan Marvin itu ternyata ada satu harapan dan perasaaan untukku.Dan sekarang,baru kusadari,Perasaan yang sama muncul dalam hatiku...",
"Itulah Cinta,sayang...",Nira menggenggam tangan Malika
"Iya,Nira.Namun sayangnya,aku belum bisa menyatakan perasaanku ini pada Marvin.aku masih mengkhawatirkan keadaan ini,keadaan di mana Marvin masih kecewa padaku.aku ingin menemuinya dan menceritakan semuanya pada Marvin.
Namun,dia mungkin masih Kesal dan Kecewa padaku.Entahlah,apa dia nanti akan bicara padaku atau tidak saat aku berada di acara pernikahan Kak Indra nanti ?",
"Malika,Andai kau tahu kelebihan kita sebagai Seorang Wanita ?pasti kau tidak akan pantang menyerah melakukannya...",kata Indira.
"Apa itu Kakak ?",
"Semua manusia diciptakan untuk memiliki pasangan,karena mereka sudah memiliki perasaan yang sama di hati masing - masing.Dan kekuatan terbesar kita adalah Kesabaran untuk Menaklukan Hati Laki - laki,mungkin jika dia diliputi Emosi sekali pun.
Terlebih dengan melihat bagaimana dirimu,kau pasti akan bisa menaklukan Hati Marvin dan menyingkirkan Kekecewaan Marvin.Hanya saja,bagaimana caranya dirimu menumbuhkan semangat dalam dirimu untuk tetap menghidupkan Perasaanmu terhadap Marvin,tunjukkanlah pada Marvin bahwa Kau juga mempunyai perasaan yang sama
Malika.
Bersemangatlah...dan berbahagialah,Karena Perasaan itu telah datang padamu,dan mungkin orang lain tidak akan seperti dirimu...",
Malika diam dan memikirkan apa yang Indira katakan.Untuk Tidak pantang menyerah,Untuk tidak membohongi diri sendiri,untuk tidak lebih lama berdiam diri.Tidak ada yang perlu diragukan lagi.Jika ini saatnya,Malika akan mengikuti apa yang Indira katakan.
Semua manusia diciptakan berpasangan dengan perasaan di hati masing - masing dan kecocokan satu sama lain.Ini bukan masalah bermain dengan hati manusia,ini bukan masalah bermain dengan cinta dan perasaan seseorang.
Mungkin Jika memainkan perasaan seseorang dengan keegoisan diri sendiri,akan menghasilkan akibat yang tidak baik dan Membuatnya berpikir bahwa Cinta bisa menjadi sebuah bentuk hukuman,inilah yang sedang terjadi pada Malika.
Malika terus termenung.Ia sadar,selama ini ia hanya bermain - main dengan Marvin.Marvin selalu memperhatikannya namun Malika selalu memperlakukan Marvin seenaknya sendiri.Tanpa ada sebuah penghargaan dan rasa hormat pada diri Malika terhadap Marvin.
Ya,Dalam Persahabatan sekali pun,Rasa Hormat dari masing - masing pribadi dan penghargaan antar sesama harus selalu diingat dan diterapkan kapan pun dan di mana pun.Karena Awalnya,Kita tidak bisa hidup tanpa sahabat.
Kasih sayang dan Cinta,itulah yang membuat Satu Persahabatan dan Hubungan akan menjadi terasa Hidup dan Indah.Rasa Hormat dan Penghargaan,bagaimana caranya mewujudkannya,akan membuat satu Hubungan terasa lebih berkesan dan bermakna,mungkin tidak akan menemukan hingga kapan waktunya berakhir.
Kedua Perasaan yang sama telah ada.Namun Keduanya belum disatukan,karena belum ada Pernyataan satu sama lain.Malika merasa inilah saatnya,tak perlu menunggu Marvin merasa kecewa lebih lama padanya.
Ia akan berusaha bagaimana pun.Kata - Kata Indira juga menyemangatinya.Demi Perasaannya,Demi Harapannya,Demi Cinta yang sudah memberinya Isyarat,Malika akan bersemangat untuk meluluhkan Hati Marvin.
Malika perlahan tersenyum dan menghela Nafas",Yah.Aku mengerti sekarang Kak Indira.Terima Kasih atas Nasihat dari Kakak.Ini sangat memberiku semangat.Mungkin Marvin akan menjadi Cinta sejatiku...",
"Kau sudah menyatakannya,Sayang.Jangan membuat sebuah Kemungkinan.Perasaan itu sudah ada di hatimu dan Pasti sama halnya Marvin.Sekali lagi,Jangan terhenti pada satu keraguan karena waktu tak kan ikut berhenti juga saat itu",
"Iya,Kak.Tentu.Ini akan menjadi Kebahagiaanku,selamanya.Aku tidak akan melepaskan Marvin",
"Aku juga,Kakak,Malika",Nira menyela dengan Halus",Aku ikut bahagia melihat Malika bisa bersemangat.Andai Kau tahu hal yang terpenting untuk memantapkan Semangat itu,Malika",Malika menoleh ke Nira saat Nira menggenggam tangannya.
"Apa itu ?",
"Kepercayaan,Temanku.Aku menggenggam tanganmu,aku percaya Kau akan berhasil mendapatkan Marvin.Aku percaya dan berdoa Kalian akan bersatu.Cinta kalian akan bersatu...",Kata - kata Nira menyentuh Malika,hingga membuatnya mengusap punggung tangan Nira",
Sama halnya denganku,Aku percaya pada Niel.
Aku percaya pada Niel.Niel sangat mencintaiku,namun Awalnya aku ragu akan diriku sendiri,karena aku harus terpaksa mencintai orang lain,dan dia adalah anak dari teman ayahku.Niel mencintaiku,aku juga pada awalnya namun dia,Dandi,juga mencintaiku.
Aku dihadapkan pada pilihan yang sulit.Dengan berat hati,aku memenangkan Dandi tanpa membuat pertimbangan terlebih dahulu.
Mungkin karena keteledoranku,aku baru menyadari kebodohanku,aku sudah salah memberikan rasa cinta dan perhatianku pada Dandi.Ibarat Susu dibalas dengan Air tuba.Aku hanya mendapatkan perlakuan dan sikap kasar dari Dandi.
Sekali Ia menyakitiku,lalu ia mengatakan Cinta padaku setelah aku merasa terluka karena sikapnya.Apakah ini yang dimaksud sebuah Penghargaan dan bentuk rasa hormat untuk seorang Wanita ?
Niel sangat mencintaiku tanpa pantang menyurutkan perasaannya padaku.Kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahanku yang kedua kalinya.Aku menyadari kesalahanku pada Niel.
Andai saja Dandi akan memberikan Semua barang - barang mewah sekalipun padaku dan Niel akan memberikan Maaf untuk kesalahanku padanya,Aku akan memilih Satu kata Maaf yang keluar dari bibir Niel.
Karena itu adalah Awal dari keyakinanku,kepercayaanku dan harapanku.
Hanya saja yang menjadi ketakutanku adalah Dandi.Jika saja ia sampai memergokiku bersama Niel sekali saja,aku tidak bisa membayangkan Sikap yang bagaimana menyakitkan lagi yang akan kuterima darinya...",
"Tapi,kau bersama Niel dan Cinta kalian sudah bersatu.Kenapa Kau masih menyisihkan perhatianmu untuk ketakutan ini ?",
"ini yang sedang aku lakukan kakak.Belajar dari Keadaan ini aku mendapat pelajaran yang paling berharga yaitu Kepercayaan.
Jika ditanya apa yang paling tajam,aku akan menjawab bukan pedang,namun Lidah Manusia yang dengan mudahnya menyakiti Hati Manusia.Rasa sakit yang tak terlihat namun terasa setiap saat.
Namun,jika ditanya apa yang paling kuat dan kokoh,aku menjawab bukanlah tembok dengan beberapa lapis sekalipun,Namun Kepercayaanlah yang paling kuat.
Aku percaya pada Niel,Niel percaya padaku.Aku merasa sudah bisa mengatasi ketakutanku ini.Bagaimana pun Niel akan tetap bersamaku.",
Mereka bertiga saling memandang dan diam sejenak.Indira melirik Undangan yang ada diatas meja.
Indira sedikit memajukan Undangan itu",Dan Pernikahanku besok Lusa,Calon Suamiku berharap kalian berdua bisa hadir dan berkumpul bersama",Pinta Indira",dan Adik Iparku akan mengumpulkan Pasangan Kalian.kurasa dia akan melakukannya dengan Mudah",Indira melihat
Malika.Malika tahu maksud Indira,ia membuang muka malu - malu.
"Tentu,Kakak sudah mempercayakanku sebagai Penerima Tamu...",Kata Nira.
"Mungkin aku akan menjadi Pelayan yang akan menjamu seluruh tamu Kakak,percayalah padaku,kakak.",
"Aku percaya padamu,Sayang.Aku percaya pada Kalian.Pernikahanku akan berlangsung meriah",
Ya,Pernikahan Indra dan Indira akan dilangsungkan besok lusa.Seluruh keluarga Indra sedang menyiapkan keperluannya.Haikal,teman Indra,memberi tahukan pada Indra bahwa ia sudah memesankan gedung untuk acara Pernikahan itu.
Momen yang sangat dinantikan....
Sincerely,
Salaam E dostana
Fajar Adi.
mungkin jika ada rasa lain yang melebihi rasanya kesedihan,inilah yang sedang ia rasakan.ia berusaha untuk kuat,berusaha menahan perasaannya,kesedihannya.
Mungkin jika ada rasa lain yang sakitnya melebihi dari rasa kehilangan sosok yang paling ia sayangi,inilah yang sedang ia rasakan.Tubuhnya terpaku di tempatnya ia berdiri,setiap tarikan nafas terakhir itu masih lekat dalam ingatannya,genggaman tangan lemah dan dingin itu masih terasa di tangannya.
meski ia berusaha menghapus mimik wajah yang seolah - olah ingin melepaskan diri sebuah rasa sakit itu,namun tidak bisa.Semua terjadi begitu saja,namun proses berjalannya kejadian ini benar - benar membuatnya ingat seumur hidupnya.dan kata - kata itu,masih terngiang di telinganya.
"Aku mendapatkan mimpi melihat sebuah genggaman tangan,dan genggaman tangan itu milik anakku.Seorang pria sudah menjadi suaminya,namun sayangnya,aku melihat peristiwa ini di balik sebuah kabut,tampak seperti awan.
wajahmu tersenyum,tapi aku merasakan isyarat kesedihan dalam hatimu.Dan pria yang menjadi suamimu itu terus menggenggam tanganmu dan menopang badanmu,peristiwa ini terjadi di sebuah acara pernikahan,pernikahan putriku,Indira.
mendapat mimpi ini sudah cukup membuatku bahagia,sudah membuatku berpikir inilah saatnya aku melepas rasa sakit ini beserta ruh yang sudah merasa lelah ini,sudah cukup membuatku percaya akan kebahagiaan masa depan putriku,putri sulungku,"
dengan perlahan tangan lemah itu menghapus air mata yang merambat turun di pipi Indira",sudah cukup memberiku gambaran bahwa masa penderitaan dan masa sulit hidup putriku akan segera berakhir, tergantikan kebahagiaan dan keceriaan yang tergambar jelas pada wajahnya,bersama suaminya.
dan,ibunya bersama kedua adiknya,mendapatkan hal yang sama.
Putriku,Ikhsan akan membuatmu bangga meski setiap hari membuatmu marah karena perilakunya,namun waktu akan memperbaiki dirinya.Putriku,Indri akan senantiasa menjaga ibunya di saat kedua kakaknya membuat masa depan yang cerah,dia akan memberikan semangat pada kalian berdua,Indri akan sangat menyayangimu karena ia sangat manja pada dirimu sebelumnya
Ibu,Ikhsan dan Indri,aku titipkan pada dirimu,putriku,putri terbaikku,Indira....",sesaat kemudian,nafas terakhir itu sudah terlepas.Ya,bersama ruh yang lelah dan rasa sakit itu lepas dari sekujur badan yang lemah dan pucat itu.Tampak dua tetes air mata di tangan itu,air mata Indira.
Rombongan Indra sudah tiba di rumah sakit.Indra mencari Indira.Resepsionis rumah sakit memberi tahu tempat di mana Ayah Indira di rawat.Indra bergegas menemui keluarga Indira.
Indra mendapati Indira sedang berdiri di dekat jendela.Tubuh yang tampak lesu dengan pandangan wajah yang kosong.Ibu Nawang melihat Ibu Harum menangis di kursi dekat pintu ruangan memeluk Indri.Arjun melihat Ikhsan berdiri di dekat kursi,ia hanya menunduk dan membisu.merasakan kedatangan seseorang,ikhsan mengangkat pandangannya.
Indra berada di sisi Indira.Perlahan tangannya mengusap bahu Indira.Indira menoleh,tatapan rasa ingin tahu terpancar jelas di kedua mata Indra.Namun,Indira hanya menatap mata indra dalam - dalam,mencoba membuat gambaran tentang kesedihan yang ia alami.
Pak Yudi mencoba menengok ke arah dalam ruangan lewat kaca pintu.seorang dokter ada di situ dan beberapa perawat tampak menutupi Tubuh Pak Bara.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un....",kata Pak Yudi pelan mengusap dadanya.
Tangis Ikhsan langsung pecah di hadapan Arjun.sama apa yang dirasakan kakaknya.Kehilangan sosok seorang ayah sangat menyakitkan bagi Ikhsan.Arjun memeluk Ikhsan untuk menenangkannya.
Bu Nawang duduk di hadapan Bu Harum.Ia meraih tangan Bu Harum.Kedua ibu ini saling berbagi kesedihan.Ibu Nawang membisikkan Kata Istighfar pada Bu Harum dengan tetap mengusap lengan Bu Harum.
Indra bisa merasakan jelas kesedihan Indira.Ia pun mengajak indira ke suatu tempat.Indra meminta pamannya mengantarnya ke suatu tempat,bersama Indira.Tempat yang sudah lama tak ia kunjungi,tempat terakhir kali menatap wajah Ivana.
Tiba di tempat,Indra langsung meminta temannya,empunya kafe ini,tempat yang ia maksud.Temannya memberikan ijin dan merasa senang sekali atas kedatangan Indra,dan seseorang yang ia sangka adalah Ivana,bukan Ivana namun Indira.Keduanya memiliki wajah yang mirip.
Indra meminta Indira duduk di hadapannya,dan seperti waktu itu,duduk berhadapan dengan Ivana.Indra tersenyum pada Indira.Indira membuang muka dan berdiri,sedikit menjauhi Indra.Tangis Indira pun pecah.Tangan Indira memegang pagar balkon yang menghadap ke pemandangan kota ini.Ia menumpahkan semuanya di sini.
Indra berdiri dan hanya memandang Indira yang terus menumpahkan kesedihannya,ia merasakan kehadiran seseorang yang di dahului hembusan angin halus ini.Seseorang tampak muncul dari belakang Indra.Tangan halus yang meraba bahunya,Ivana.Indra menoleh ke samping.
Ivana melihat Indra berkaca - kaca.Indra ingat kata - kata Ivana saat Ia melihat wajah Ivana yang cerah dan bersih,seperi cahaya terpancar dari badannya.
"....kau tidak melihat indira adalah wanita tegar yang bekerja keras...aku yakin Indira adalah wanita yang sama sepertiku...cinta bukan masalah keadaanmu susah atau senang.Cinta adalah masalah mengubah susah menjadi senang di berbagai keadaan yang tengah kamu berada...",
Ivana berdiri hadapan Indra.Ia membelai pipi Indra.dan berbisik",Aku mencintaimu sayang,aku mencintaimu Indra,aku mencintaimu...",sosok Ivana menghilang berganti Indira yang memutar badannya ke arah Indra.
Perlahan Indra mendekati Indira.Indra menghapus air mata Indira.Indira menunduk menangis di hadapan Indra.Indra berlutut di hadapan Indira.Ia mengambil sesuatu dari saku celananya.
Indra menggenggamkan benda yang ia ambil itu ke tangan Indira.
Indira berhenti menangis membuka tangannya.Ia melihat Indra menatapnya penuh harap.Indira membuka apa yang ia genggam,sebuah kotak kecil berisi sepasang cincin emas dengan berlian kecil di atasnya.
Seperti mendapatkan angin segar dan sejuk,seperti mendapat cahaya matahari yang hangat dan memberikan semangat,seperti membangkitkan nadi - nadi dengan alirannya yang lemah.Indira membelai kedua pipi Indra,pertama kali belaian itu,sama rasanya belaian tangan Ivana.
Indira langsung memeluk Indra.cinta,cinta itu terhubung,cinta itu menyatu.Indra mengusap kepala Indira.Perlahan,ketenangan hadir di hati Indira.Paman Indra tampak terharu menyaksikan peristiwa ini.Indra dan Indira berdiri.
Perlahan Indra menyibak rambut Indira lalu mencium kening Indira.cinta,cinta itu sudah bersemayam pada diri mereka,dan sepasang cincin itu akan menjaganya.Indra melihat sosok Ivana hadir kembali,perlahan mendekati Indira,perlahan mendekati mereka,Ivana tampak tersenyum haru.
Ivana pun merasuk dalam tubuh Indira.Ivana dan Indira,kedua sosok ini sudah melebur menjadi satu.Indra mendapatkan Indira,cinta Indira.Tidak hanya itu,Indra juga mendapatkan Ivana dalam raga Indira,cinta pertamanya,cinta Ivana.Perlahan Senyum terbentuk di bibir Indira.
"Aku mencintaimu,sayang....",kata - kata itu terdengar seperti Ivana yang mengatakannya.Indra kembali memeluk Indira sejenak.Indra,Indira dan Ivana.Mereka pun bersatu dalam cinta.
***
Suatu sore,Malika berkunjung ke rumah Arjun untuk menanyakan sesuatu hal.tiba di depan pintu rumah,Ia mengetuknya tiga kali.Tak lama,seseorang membukakan pintu,Indira.
"Selamat sore,Kak Indira ya...",
"Selamat sore...kamu Malika kan ?",tanya Indira.
"iya kak...apa Arjun ada di rumah?aku ingin bertemu dengannya..."tanya Malika melihat ke dalam rumah,
"Ada,ayo silahkan masuk...",
Malika masuk ke dalam rumah Arjun.Indira memanggil Arjun.Arjun hadir bersama Indira.
"Aku sudah menelpon dia,Arjun.tapi nomornya sudah tidak aktif lagi.apa dia mengganti nomornya yang lama ?",
"Ya,Malika.Sebulan yang lalu ia mengganti nomornya",
"Pasti karena alasan diriku ?",tanya Malika tampak risau.
"tidak Malika,Marvin lupa saat nomornya sudah masuk masa tenggangnya hingga melewati masa aktifnya.Jadi,ia harus mengganti nomornya..",
Indira menyajikan teh untuk Malika,lalu duduk di samping Arjun.
"bisa kau memberikan nomor baru milik Marvin padaku,Arjun?.Kumohon...",pinta Malika penuh harap.
"bisa...",Arjun mengeluarkan Hpnya
"oh syukurlah,terima kasih,Arjun...",Malika mengeluarkan hpnya juga.
Arjun menyebutkan nomor Marvin sementara Malika mencatatnya ke dalam Hp.Malika yang berwajah murung sedari tadi,mulai menampakkan wajah bahagianya.Malika langsung menelpon nomor itu,namun panggilannya tidak segera di angkat.Tiga kali mencoba panggilannya tetap tak diangkat oleh Marvin.
"Arjun,aku sudah menghubungi nomor ini berkali - kali,tapi Marvin tidak menjawabnya,ada apa dengan Marvin ?ada di mana dia sekarang ?",
Arjun melihat ekspresi lain pada Wajah Malika.Sebelumnya Malika terkesan acuh tak acuh pada Marvin,hingga terakhir kali Ia ketakutan pada Marvin hingga mendorongnya.
tapi kali ini,Ia sangat ingin bertemu Marvin,berubah drastis.Malika sedang menghadapi masalah namun ia tidak mau menceritakannya pada Arjun,dan yang ia inginkan adalah Marvin ada di hadapannya saat ini.
"Marvin baru saja dari sini,Malika.Ia berpamitan padaku setengah jam yang lalu,kakeknya memintanya untuk menengoknya.Jadi,Ia mungkin sudah berada di stasiun sekarang...dia bilang keretanya satu jam lagi akan tiba,ia cepat - cepat berpamitan padaku",
"Jadi,Marvin di stasiun sekarang.Aku harus menyusulnya sekarang",Malika meraih tasnya",Arjun terima kasih sudah memberiku nomor baru Marvin.Aku akan menyusul Marvin sekarang,aku mohon pamit,Kak Indira ,permisi,terima kasih...",Malika bangkit dan merapikan jaket jeans hitamnya itu.
"Iya...",Arjun berdiri bersama Indira.
Malika langsung bergegas menuju stasiun.Ia berharap bisa menyusul Marvin.
***

Ia membeli segelas kopi untuk mengusir rasa ngantuk.Ia melihat jam di tangannya,beberapa menit lagi keretanya tiba.Ia menunggu datangnya kereta dengan melihat - lihat hiruk pikuk stasiun ini.ia menyusuri peron ini hingga beberapa meter.
Sementara itu,Malika sudah tiba di stasiun.Ia langsung mencari keberadaan Marvin.rasa khawatir dan takutlah yang sebenarnya ia rasakan.Ia berpikir bahwa Marvin sajalah yang bisa mengerti dirinya.
Hanya Marvinlah yang mau mendengarkan segala keluh kesahnya.Namun,apa kah itu akan terjadi setelah Marvin mendapat perlakuan darinya saat setelah rapat panitia di kampus waktu itu ?ini yang Malika khawatirkan.
Sudah sampai di peron,Malika menebarkan pandangannya untuk melacak keberadaan Marvin.Ia mendapatkan Marvin berada tak jauh di sebelah kanannya.Marvin sedang berdiri menunggu datangnya kereta.
Perlahan Malika mendekati Marvin.Ia berharap Marvin mau mendengarkan keluhannya meski dalam waktu yang tidak lama.Ia sangat terbebani dengan masalah ini.
"Marvin...",panggil Malika",kau mau pergi ke mana ?",
Marvin berbalik",aku mau pergi ke rumah kakekku,Beliau sakit dan ia ingin aku menengoknya",
"kau mengganti nomormu yang lama Marvin ?",
"Ya,karena aku kelupaan kalau sudah masuk masa tenggang sampai lewat batas masa aktif,jadi nomorku hangus.aku mengganti nomorku...",jawab Marvin dengan tanggapan yang dingin
"aku sudah punya nomor barumu,Marvin.aku memintanya pada Arjun,barusan.Apa kau baru saja singgah di rumah Arjun untuk pamitan ?",
"ya...jika aku akan pergi dalam waktu beberapa hari,aku selalu memberi tahu Arjun,agar Arjun memberi tahunya pada Niel...",Marvin meminum kopinya sedikit.
"Marvin,bisa kita bicara sebentar ?",Malika maju selangkah.
"bicara ?sebentar ?masalah apa ?",
"Tapi sebelumnya Maafkan aku,Marvin.apa kau marah setelah aku mendorongmu hingga jatuh waktu itu?aku ketakutan sekali waktu itu,bukan takut padamu tapi pada orang lain...",
"Aku tidak marah Malika,lupakan saja....",kata - kata Marvin tetap terdengar datar.Itu membuat Malika merasa lega.
"Lalu bagaimana sikap sinisku sebelumnya,apa kau tersinggung aku bersikap seperti itu padamu ?maafkan aku Marvin,aku sadar dan merasa tidak tenang karena sudah melakukan ini padamu.aku benar - benar tertekan mendapat masalah ini...",Mata Malika berkaca - kaca,hatinya seolah - olah menggerakkan dirinya untuk menangis di hadapan Marvin,namun Ia menahan diri.
"dan sekarang,tenangkan dirimu Malika,yang sudah berlalu biarkan berlalu.aku tidak perlu mengungkit - ungkitnya padamu...",Marvin melihat ada yang lain dengan sikap Malika.
Malika menarik nafas",dan sekarang,di waktu yang tidak lama ini,kumohon kau mau mendengarkan ceritaku Marvin,hal yang membuatku sudah berperilaku kasar padaku beberapa waktu lalu.ku mohon,Marvin...",
"ya...mungkin beberapa menit,ceritalah...",
"Baiklah.ini soal Rino,mantan pacarku,beberapa waktu lalu ia menemuiku.Kami bertemu di kafe 'Hitz' sebulan yang lalu,ia masih menyimpan dendamnya padaku,ia membuatku takut dengan kata - katanya yang sangat membuatku khawatir",
"Jadi,Masalah Mantan pacarmu ?",Marvin memutar badan ke samping.Marvin merasa tidak perlu mendengar cerita Malika kali ini,karena ia tidak mau terlibat dalam masalah Malika.
"Iya,Marvin.dan ia menyerangku dengan pertanyaan tentang laki - laki yang bersamaku sekarang ini,laki - laki yang selalu ada buat diriku ini,apakah sama dengan dirinya ?apa ia sudah memanjakan diriku seperti dia memanjakan aku dulu",kata - kata ini sangat menyinggung Marvin.
Kereta yang ditunggu Marvin akhrinya sudah tiba.Setelah berhenti,Banyak penumpang yang turun dan memenuhi peron.Penumpang yang naik dari stasiun ini lumayan banyak,tampak beberapa orang membawa barang bawaan yang berat.Marvin dan Malika masih berada di suasana ini.
"Lalu,apa yang kau katakan ?kau menjelaskan tentang diriku semuanya pada laki - laki itu",Mulai tumbuh rasa emosi dalam diri Marvin.
"Tidak,Marvin.aku hanya bilang aku belum mendapatkan seseorang",
"Lalu ?"Namun rasa emosi itu malah berubah menjadi rasa simpati.
"dia lalu mengejekku perempuan yang payah,seharusnya aku bisa mendapat beberapa laki - laki dengan mudah",Malika berharap Marvin tahu apa yang sedang ia rasakan",ia terus merendahkan dan memojokkanku Marvin.
sampai ia mendekatiku dan memegang tanganku dengan erat.Ia berkata padaku sekali lagi,cari laki - laki secepatnya atau aku akan memaksamu untuk kembali padaku.
Aku takut sekali dengan ancaman ini,Marvin.akhirnya aku terpaksa mengatakan aku sudah mempunyai laki - laki yang lebih darinya,dan aku menjawab Kamu lah orangnya,Marvin",
"Apa ?!",Marvin terkesiap dan menatap Malika dengan tatapan tajam.
"aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,Marvin.kurasa hanya kau lah yang akan mengerti masalahku ini",
"Lalu bagaimana dengan teman - temanmu?,atas dasar apa kau melibatkanku dalam masalah ini,Malika.Apa kau tidak berpikir sebelumnya bahwa aku akan senang atau tidak kau melakukan hal ini",
"Mungkin teman - teman akan membenciku,Marvin.aku khawatir mereka akan berubah sikap padaku.Maafkan aku Marvin sebelumnya,aku sangat bingung waktu itu",
Marvin merasa sudah saatnya untuk masuk ke dalam kereta.Beserta rasa kecewa atas tindakan Malika terhadapnya.Marvin melangkah meninggalkan Malika tanpa meladeni pembicaraan Malika.
Malika menahan lengan Marvin,"Kumohon Marvin,beri waktu sedikit lagi padaku untuk bicara.Maafkan aku,aku tidak bisa berbuat apa - apa waktu itu.aku takut,Marvin.
Kurasa hanya kau yang bisa mengerti masalahku,jangan pergi dulu Marvin",Malika mengatupkan kedua tangannya,memohon pada Marvin.
"kau tahu apa yang lebih ku takutkan,Malika ?",
"Apa itu,Marvin?",
"Resiko dari tindakanmu itu.Tidak cukupkah kau melihatku babak belur seperti waktu itu?,Tidak hanya dirimu,bahkan mungkin aku juga akan dipermalukan oleh laki - laki ini,laki - laki yang selalu mengganggumu",Marvin meninggalkan Malika.Namun Malika tak berdaya untuk menahan Marvin lebih lama lagi.
"Kau membelaku waktu itu Marvin,bersama Arjun dan Niel.Kumohon sekali lagi,Marvin.Coba pikirkan,jika nanti sampai Rino datang padaku dan bertindak apa yang di luar apa yang kau bayangkan,yang mungkin akan merubah diriku,perubahan yang mungkin akan membuat perasaanmu berubah terhadapku saat kau melihatku,Marvin.
bersamamu selama ini,waktu mulai memberiku isyarat,isyarat sebuah perasaan padaku.Marvin,aku tahu apa yang kau rasakan padaku,aku mulai tahu Marvin.untuk itu, aku mengatakan dirimu lah,bukan orang lain,pada Rino,Andai kau mengerti?",pertama kali Malika meneteskan air mata di hadapan Marvin.tulus dari hati yang paling dalam.Marvin berhenti sejenak,namun ia tetap masuk ke dalam kereta untuk pergi ke rumah Kakeknya.
Sampai kereta bergerak meninggalkan stasiun,Malika tetap berdiri di peron ini.Ia memikirkan apa yang akan Marvin rasakan jika ia mendengar apa yang sudah ia katakan.
Dan benar !,di luar dugaan Marvin,akhirnya saat - saat ini datang pada Marvin,dan ia sudah mendapat jawaban terhadap kebingungannya,perubahan sikap Malika.Namun,kenapa ia harus terlibat dalam masalah Malika yang benar - benar tidak ia harapkan,benar - benar tidak ia sukai?
"aku tahu apa yang kau rasakan padaku...bersamamu selama ini,waktu memberiku isyarat...isyarat perasaan,isyarat perasaan...",Marvin termenung di sepanjang perjalanan.pada apa yang ia harapkan terhadap Malika,kata - kata Malika yang terngiang - ngiang di telinganya seperti memberi harapan padanya,harapan terhadap perasaannya pada Malika.inilah mungkin saatnya.
Gerimis turun setelah Malika sampai rumah.Ia duduk di atas dipan bambu yang ada di teras belakang.Belum sempat mengganti bajunya.Ia benar - benar dikuasai masalahnya saat ini.Ketakutan dan harapan pada Marvin.keduanya bercampur dan berkecamuk dalam diri Malika.
Rambutnya basah,ia melepas tasnya.Ia membayangkan saat - saat Marvin babak belur dihajar Rino sewaktu membela dirinya.Marvin benar - benar tak berdaya waktu itu.ia merenungi semua sikap yang sudah ia lakukan terhadap Marvin.
Ia membayangkan kembali saat - saat pertama kali ia bertemu.ingatannya begitu saja memutar kembali kata - kata Marvin.
"karena aku belum tahu caranya menyakiti hati seorang cewek,dan aku belum tahu atas tujuan apa orang menjadi jahat",dan di saat inilah rasa sombong yang samar - samar ia tampilkan pada Marvin mulai memudar.
keadaannya yang seperti sekarang ini membuatnya berpikir memakai perasaan.Jujur,Malika selalu meremehkan kepolosan,ketulusan dan kebaikan Marvin,itu terlihat dari sikapnya yang menyamarkan kesombongannya dan rasa gengsinya terhadap Marvin.Dan inilah sebab dasar Malika merasa menyesal.
Dan,perkenalan Mereka lewat jabatan tangan dulu membuka mata Malika dan kata - kata Marvin yang menanyakan padanya bahwa apa dia juga termasuk orang jahat seperti apa yang Malika anggapkan bahwa semua laki - laki itu sama jahatnya.
namun,Malika membuat pengecualian untuk Marvin.Senyum di antara lelehan dua air mata itu,Malika merasa sedikit lega bisa melakukan hal ini untuk Marvin.Satu pelajaran penting buat Malika,sebuah Penghargaan dan Sikap Baik itu perlu,tidak semua laki - laki mempunyai sifat jahat.
Malika masuk ke rumah.Ia membersihkan dirinya dan mengganti pakaian.Ia duduk di depan meja riasnya.Tangannya tergerak untuk mengambil Hpnya,ia membuka galeri.Satu per satu muncul foto Marvin,cukup banyak.Terkadang,tanpa sadar,hati kecilnya menggerakkan tangannya untuk memfoto Marvin secara diam - diam.
Dan Senyuman Marvin,Senyuman pertama kali dari seorang cowok yang benar - benar meninggalkan kesan di hatinya.Ia selalu mengabaikannya namun itu malah menimbulkan sedikit konflik batin dalam dirinya.Egonya menggerakkan untuk menaruh rasa kagum pada Marvin.
Ia teringat saat - saat Marvin babak belur di hajar mantan pacarnya yang cemburu saat itu.Penyesalan mulai timbul kembali.Sekali lagi,Keadaan ini membuka mata hatinya dan meyakinkannya bahwa Marvin bukanlah orang jahat dan dia bisa dipercaya.
Dan dengan membuat pengecualian untuk Marvin akan memberinya harapan dan Firasat baik.sampai ia berpikir ulang,dia berteman dan bersama Marvin selama ini,keadaannya baik - baik saja dan aman - aman saja.Ia tidak pernah merasa sedih atau mendapat usikan keresahan sedikit pun.
Hingga akhirnya,Foto - foto Marvin itu menghiasi dinding kamar Malika.Malika mencetak dan menempatkan setiap foto dalam bingkai.Setiap senyuman Marvin yang ia tatap dalam foto itu memberikan semangat untuknya,memberikan rasa bahagia untuknya,dan mulai menyadarkan dirinya akan sebuah perasaan yang ingin Marvin tunjukkan pada dirnya lewat pengorbanan dan kebaika Marvin selama ini.
Ia mengusap foto Marvin.Terlihat sebulir air mata di ujung kelopak Mata Malika.Ia membalas senyuman foto Marvin.Ia mengucapkan kembali kata - kata itu yang dulu ia katakan di hadapan Marvin setelah perdebatannya di suatu pagi.
"Emmhhh...Kau bukan pria yang jahil.Namun,Kau tidak perlu jadi seorang gentlemen.Apa yang ada pada dirimu sudah membuatku takjub.Kau tidak perlu berlebihan Marvin.
Kau tidak harus mengambil cara yang rumit untuk membuatku tertarik padamu....".Ia mengusap dadanya,senyuman yang sudah memberikan kelegaan dalam hatinya.Senyuman milik Marvin.
***
Malam ini di rumah Arjun,Indra,Indira,Arjun,Niel dan Nira sedang membahas Persiapan Acara Pernikahan Indra dan Indira,yang akan dilaksanakan seminggu lagi.Persiapan mulai dilakukan.Orang tua Indra sudah memesan gedung untuk penyelenggaraan Acara.
Mereka membicarakan tentang Penyebaran Undangan.Setumpuk Undangan ada di hadapan Mereka.Yang mereka perbincangkan adalah Malika dan Marvin.
"...Okey,Malika menemuiku di rumah ini beberapa saat setelah Marvin berpamitan pada Arjun",Kata Indira menoleh ke Arjun.
"aku memberikan nomor milik Marvin yang baru.Keadaan Malika tampak lain saat itu.Masih dalam keadaan yang sama,sama seperti insiden Malika mendorong Marvin.
Ia stress,dan yang ia inginkan hanyalah Marvin,bagaimana cara menemui Marvin dan menghubungi Marvin",Arjun melirik Niel.Niel dan Nira duduk berdampingan.
"Masalahnya sekarang,aku khawatir pada Marvin.Keadaan yang tak terduga bisa saja terjadi padanya.Seperti aku mengamuk setelah Nira menamparku",Niel menoleh ke arah Nira.Nira tersenyum pada Niel,ia mengusap lengan Niel",dan Arjun,Kak Indra harus menenangkanku.
Aku dan Arjun benar - benar tidak tahu apa yang terjadi di antara Mereka.inti masalahnya terletak pada Malika,Marvin pergi ke rumah Kakeknya sekarang dan entah Malika sudah menemui Marvin kah belum untuk membicarakan masalah mereka ?",Niel membenahi posisi duduknya.
"Tentu saja Malika sudah menemui Marvin,Niel.Setelah ia mendapatkan Nomor barunya,Malika langsung bergegas menuju stasiun.Dan semoga Ia tidak ketinggalan keberangkatan Marvin",Tambah Indira.
Mereka terdiam.
"Aku ingin kalian bisa berkumpul dalam acaraku nanti,"Indra memandang Niel,Nira,dan adiknya",aku sangat berharap",Indra menggenggam tangan Indira",undangan untuk Malika dan Marvin harus ada dan diberikan,aku harap ada yang bisa menyampaikannya",
"Marvin akan kembali lusa,kakak.dia sudah mengirimiku SMS tadi",
"Kau yang datang menemui Marvin",
"Alangkah lebih baiknya jika Saudara Niel yang menemuinya",Arjun melihat Niel dengan sedikit menghidupkan canda.
"Oh tidak,tidak.Lebih baik anda saudara Arjun,aku yakin Marvin masih dalam keadaannya yang galau dan aku yakin anda bisa mengatasi masalahnya.Anda sudah seperti Psikiater pribadinya,bukan begitu ?,Niel tahu maksud Arjun yang ingin mencairkan suasana.
"Oh tidak,tidak.anda yang lebih baik,saudara Niel.kau adalah tetua kami.kau yang paling bijaksana diantara Kami.
Kau yang menjadi pemimpin kami.seorang pemimpin akan bisa bertindak lebih tepat",sanggah Arjun.
Indira melirik Nira,Mereka tampak heran melihat sikap konyol dua pemuda ini.
"Aku takut nanti kami malah bertengkar karena kami saling mencari kesalahan masing - masing.dan...",
potong Indra",dan jika Niel dan Marvin bertengkar adikku yang paling baik akan mendamaikan kalian",Indra menyinggung Arjun dengan senyum ringannya",seperti biasa yang ia lakukan",
Arjun tak bisa berkutik mendengar kata - kata Kakaknya.Karena ia selalu melakukan apa yang kakaknya ucapkan.Arjun dan Niel saling memandang.Arjun mengulurkan tangannya dan tersenyum.Niel menjabat tangan Arjun tersenyum juga.Mereka seperti membuat kesepakatan.
"Bagus,kalian lebih baik tampak seperti itu.Lalu,bagaimana dengan Malika ?",
"aku akan mencoba menemuinya,Kak Indra.aku akan mencoba berbicara pada Malika dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya masalah Mereka",Nira mengajukan dirinya.
"aku akan mendampingimu,sayang",tambah Indira",Orang yang lebih tua akan lebih tahu mencarikan solusi untuk masalahnya.aku juga ingin tahu masalah Malika.Boleh kan Indra ?",Indira menoleh ke Indra.
"Yah.Sudah semestinya Orang tua menjadi Penasihat",
"Dan Malik dan Nira pasti tidak akan membuat perdebatan karena kekurang pahaman masing - masing dari mereka",kata Niel ringan membelakangi Nira.
"Setidaknya ada orang yang lebih tua yang menjadi Penengah,Niel.kau jangan khawatir,Nira pasti akan berhasil membujuk Malika",Sanggah Indira dengan bahasa yang halus.
Arjun mengangkat alisnya melihat Niel.sekali lagi,ia mengajak Niel berjabat tangan.
"Sukses !!",kata Arjun lirih.
"Ya...sukses !!Ganbate !",tambah Niel.
Mereka pun tertawa bersama.Canda dan tawa itu berhasil dibuat oleh Niel dan Arjun.Indira tertawa memasrahkan kepalanya di bahu Indra.Nira menepuk tangannya setengah kuat.
***
Malam ini,Nira bersama Indira mengunjungi rumah Malika.Mereka bermaksud memberikan Undangan Pernikahan Indira dan membicarakan Masalah yang tengah di hadapi Malika.
Saat ini,Nira duduk mendampingi Malika dan Indira duduk di kursi sebelahnya.Selembar Undangan sudah ada di atas meja ruang tamu ini.Indira membujuk Malika untuk menceritakan masalah yang dialaminya dengan Marvin.
Malika pun menceritakan dengan nada yang berat.
"...aku sudah menemui Marvin malam itu,Kak Indira,Nira.Setelah aku mendapatkan nomer baru Marvin dari Arjun,aku langsung menyusul Marvin ke stasiun dan beruntung Keretanya belum berangkat.Padahal tinggal beberapa saat lagi.
Di saat yang tak lama itu,aku menjelaskan semuanya pada Marvin.Mulai dari Penyebab Perubahan sikapku,Penyebab aku hingga gelap mata mendorong Marvin,dan Kejadian yang aku alami",Mata Malika berkaca - kaca.
"Apa yang terjadi Malika ?apa Marvin berbuat satu kesalahan terhadapmu ?",tanya Indira.
"Bukan Marvin yang membuat Kak,Namun dirikulah...",Malika menunduk
"Apa yang kau lakukan Malika ?pasti masalah ini sangat berat hingga membuatmu tampak cukup tertekan seperti ini...",
"Masalahnya datang dari Mantan Pacarku,Rino.dia bertanya padaku apakah aku sudah punya seorang laki - laki sebagai penggantinya,ia juga mengancam jika aku belum mendapatkan seorang pun,maka ia akan memaksaku untuk kembali menerimanya sebagai Pacar.
Awalnya aku menjawab belum,namun ia menyindirku dengan mengatakan Cewek seperti diriku seharusnya bisa saja mendapat Beberapa Laki - laki sekaligus dengan cepat untuk menjadi pacarku.
Tidak hanya menyindirku ia juga terus memaksaku untuk mengatakan siapa laki - laki yang sudah bersamaku saat ini.
Hingga ia tega meremas lenganku
Akhirnya,dengan terpaksa,aku menyebutkan nama Marvin.Ia pun melepas tangannya dan berkata Kuharap dia bukan laki - laki pengecut yang sudah kuhajar habis - habisan waktu itu.Jika Memang dia,kuharap dia bisa membuktikan bahwa dia bukan laki - laki pengecut dan tidak tahan banting.
Aku merasa dengan menyebut nama Marvin membuatku cukup untuk menjawab rasa penasarannya.Namun,Ia merasa yakin bahwa Marvin lah orangnya.
Aku sudah menyampaikan masalah ini pada Marvin.Namun,Marvin malah kesal dan kecewa padaku.dia tidak suka aku menyebutkan namanya di hadapan Rino tanpa sepengetahuan dirinya sebelumnya.",Mata Malika berkaca - kaca",
padahal aku benar - benar dalam keadaan terdesak waktu itu",
"Apa yang membuat Marvin merasa kesal dan Kecewa,Malika ?",tanya Indira
"dia tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali,Kak.Kejadian di mana Marvin dihajar habis - habisan saat Ia membelaku dari gangguan Rino.Niel dan Arjun datang menolong Marvin waktu itu.
Aku sudah berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan jujur.Tapi Marvin hanya diam dengan rasa kecewa dan Kesalnya padaku.Ini yang aku khawatirkan,dan terjadi.
Aku sangat berharap Marvin mau mengerti keadaanku.Aku sadar selama ini aku hanya meremehkan Marvin.Dari Awal bertemu,Aku mengira Marvin adalah cowok yang sama dengan cowok lain,sama jahatnya,namun aku membuat pengecualian untuknya.Aku sudah salah menilai Marvin.
Dia adalah seorang yang polos dan tulus.Ia sempat membelaku hingga dihajar Rino.Marvin ingin membuktikan bahwa dia bukan seperti cowok pada umumnya,yang mudah menyakiti hati seorang cewek.dia selalu menemaniku,dia selalu menjemput dan mengantarku ke kampus.
Namun,sikapku selama ini adalah memandang Marvin sebelah Mata.Aku selalu bertanya dalam hati,Apa yang bisa kudapatkan dari seorang Marvin ?apa yang bisa diharapkan dari seorang Marvin yang lugu itu ?",
Indira menyela",Marvin selalu menjagamu Malika,itu yang kau dapat.lalu apa yang kau harapkan dari seorang Marvin ?",
"Apa yang kuharapkan dari Seorang Marvin adalah Marvin dia sendiri dan seutuhnya.Ketulusan,Keluguannya dan Kebaikannya sudah mengubah pandanganku terhadapnya.
Marvin selalu memandangku dalam waktu yang lama,entah apa yang ia pikirkan aku tidak tahu,awalnya aku tidak mengetahuinya.
Kami menjalin satu hubungan Persahabatan.Marvin selalu menjagaku di mana saja.dan di setiap Pembicaraan,di setiap canda yg ia ciptakan,dia setiap tatapan matanya yang selalu saja memandangku,aku mulai tahu apa yang Marvin sembunyikan dalam hatinya",Malika menoleh ke Nira",
Satu Perasaan untukku.Kebaikan Marvin itu ternyata ada satu harapan dan perasaaan untukku.Dan sekarang,baru kusadari,Perasaan yang sama muncul dalam hatiku...",
"Itulah Cinta,sayang...",Nira menggenggam tangan Malika
"Iya,Nira.Namun sayangnya,aku belum bisa menyatakan perasaanku ini pada Marvin.aku masih mengkhawatirkan keadaan ini,keadaan di mana Marvin masih kecewa padaku.aku ingin menemuinya dan menceritakan semuanya pada Marvin.
Namun,dia mungkin masih Kesal dan Kecewa padaku.Entahlah,apa dia nanti akan bicara padaku atau tidak saat aku berada di acara pernikahan Kak Indra nanti ?",
"Malika,Andai kau tahu kelebihan kita sebagai Seorang Wanita ?pasti kau tidak akan pantang menyerah melakukannya...",kata Indira.
"Apa itu Kakak ?",
"Semua manusia diciptakan untuk memiliki pasangan,karena mereka sudah memiliki perasaan yang sama di hati masing - masing.Dan kekuatan terbesar kita adalah Kesabaran untuk Menaklukan Hati Laki - laki,mungkin jika dia diliputi Emosi sekali pun.
Terlebih dengan melihat bagaimana dirimu,kau pasti akan bisa menaklukan Hati Marvin dan menyingkirkan Kekecewaan Marvin.Hanya saja,bagaimana caranya dirimu menumbuhkan semangat dalam dirimu untuk tetap menghidupkan Perasaanmu terhadap Marvin,tunjukkanlah pada Marvin bahwa Kau juga mempunyai perasaan yang sama
Malika.
Bersemangatlah...dan berbahagialah,Karena Perasaan itu telah datang padamu,dan mungkin orang lain tidak akan seperti dirimu...",
Malika diam dan memikirkan apa yang Indira katakan.Untuk Tidak pantang menyerah,Untuk tidak membohongi diri sendiri,untuk tidak lebih lama berdiam diri.Tidak ada yang perlu diragukan lagi.Jika ini saatnya,Malika akan mengikuti apa yang Indira katakan.
Semua manusia diciptakan berpasangan dengan perasaan di hati masing - masing dan kecocokan satu sama lain.Ini bukan masalah bermain dengan hati manusia,ini bukan masalah bermain dengan cinta dan perasaan seseorang.
Mungkin Jika memainkan perasaan seseorang dengan keegoisan diri sendiri,akan menghasilkan akibat yang tidak baik dan Membuatnya berpikir bahwa Cinta bisa menjadi sebuah bentuk hukuman,inilah yang sedang terjadi pada Malika.
Malika terus termenung.Ia sadar,selama ini ia hanya bermain - main dengan Marvin.Marvin selalu memperhatikannya namun Malika selalu memperlakukan Marvin seenaknya sendiri.Tanpa ada sebuah penghargaan dan rasa hormat pada diri Malika terhadap Marvin.
Ya,Dalam Persahabatan sekali pun,Rasa Hormat dari masing - masing pribadi dan penghargaan antar sesama harus selalu diingat dan diterapkan kapan pun dan di mana pun.Karena Awalnya,Kita tidak bisa hidup tanpa sahabat.
Kasih sayang dan Cinta,itulah yang membuat Satu Persahabatan dan Hubungan akan menjadi terasa Hidup dan Indah.Rasa Hormat dan Penghargaan,bagaimana caranya mewujudkannya,akan membuat satu Hubungan terasa lebih berkesan dan bermakna,mungkin tidak akan menemukan hingga kapan waktunya berakhir.
Kedua Perasaan yang sama telah ada.Namun Keduanya belum disatukan,karena belum ada Pernyataan satu sama lain.Malika merasa inilah saatnya,tak perlu menunggu Marvin merasa kecewa lebih lama padanya.
Ia akan berusaha bagaimana pun.Kata - Kata Indira juga menyemangatinya.Demi Perasaannya,Demi Harapannya,Demi Cinta yang sudah memberinya Isyarat,Malika akan bersemangat untuk meluluhkan Hati Marvin.
Malika perlahan tersenyum dan menghela Nafas",Yah.Aku mengerti sekarang Kak Indira.Terima Kasih atas Nasihat dari Kakak.Ini sangat memberiku semangat.Mungkin Marvin akan menjadi Cinta sejatiku...",
"Kau sudah menyatakannya,Sayang.Jangan membuat sebuah Kemungkinan.Perasaan itu sudah ada di hatimu dan Pasti sama halnya Marvin.Sekali lagi,Jangan terhenti pada satu keraguan karena waktu tak kan ikut berhenti juga saat itu",
"Iya,Kak.Tentu.Ini akan menjadi Kebahagiaanku,selamanya.Aku tidak akan melepaskan Marvin",
"Aku juga,Kakak,Malika",Nira menyela dengan Halus",Aku ikut bahagia melihat Malika bisa bersemangat.Andai Kau tahu hal yang terpenting untuk memantapkan Semangat itu,Malika",Malika menoleh ke Nira saat Nira menggenggam tangannya.
"Apa itu ?",
"Kepercayaan,Temanku.Aku menggenggam tanganmu,aku percaya Kau akan berhasil mendapatkan Marvin.Aku percaya dan berdoa Kalian akan bersatu.Cinta kalian akan bersatu...",Kata - kata Nira menyentuh Malika,hingga membuatnya mengusap punggung tangan Nira",
Sama halnya denganku,Aku percaya pada Niel.
Aku percaya pada Niel.Niel sangat mencintaiku,namun Awalnya aku ragu akan diriku sendiri,karena aku harus terpaksa mencintai orang lain,dan dia adalah anak dari teman ayahku.Niel mencintaiku,aku juga pada awalnya namun dia,Dandi,juga mencintaiku.
Aku dihadapkan pada pilihan yang sulit.Dengan berat hati,aku memenangkan Dandi tanpa membuat pertimbangan terlebih dahulu.
Mungkin karena keteledoranku,aku baru menyadari kebodohanku,aku sudah salah memberikan rasa cinta dan perhatianku pada Dandi.Ibarat Susu dibalas dengan Air tuba.Aku hanya mendapatkan perlakuan dan sikap kasar dari Dandi.
Sekali Ia menyakitiku,lalu ia mengatakan Cinta padaku setelah aku merasa terluka karena sikapnya.Apakah ini yang dimaksud sebuah Penghargaan dan bentuk rasa hormat untuk seorang Wanita ?
Niel sangat mencintaiku tanpa pantang menyurutkan perasaannya padaku.Kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahanku yang kedua kalinya.Aku menyadari kesalahanku pada Niel.
Andai saja Dandi akan memberikan Semua barang - barang mewah sekalipun padaku dan Niel akan memberikan Maaf untuk kesalahanku padanya,Aku akan memilih Satu kata Maaf yang keluar dari bibir Niel.
Karena itu adalah Awal dari keyakinanku,kepercayaanku dan harapanku.
Hanya saja yang menjadi ketakutanku adalah Dandi.Jika saja ia sampai memergokiku bersama Niel sekali saja,aku tidak bisa membayangkan Sikap yang bagaimana menyakitkan lagi yang akan kuterima darinya...",
"Tapi,kau bersama Niel dan Cinta kalian sudah bersatu.Kenapa Kau masih menyisihkan perhatianmu untuk ketakutan ini ?",
"ini yang sedang aku lakukan kakak.Belajar dari Keadaan ini aku mendapat pelajaran yang paling berharga yaitu Kepercayaan.
Jika ditanya apa yang paling tajam,aku akan menjawab bukan pedang,namun Lidah Manusia yang dengan mudahnya menyakiti Hati Manusia.Rasa sakit yang tak terlihat namun terasa setiap saat.
Namun,jika ditanya apa yang paling kuat dan kokoh,aku menjawab bukanlah tembok dengan beberapa lapis sekalipun,Namun Kepercayaanlah yang paling kuat.
Aku percaya pada Niel,Niel percaya padaku.Aku merasa sudah bisa mengatasi ketakutanku ini.Bagaimana pun Niel akan tetap bersamaku.",
Mereka bertiga saling memandang dan diam sejenak.Indira melirik Undangan yang ada diatas meja.
Indira sedikit memajukan Undangan itu",Dan Pernikahanku besok Lusa,Calon Suamiku berharap kalian berdua bisa hadir dan berkumpul bersama",Pinta Indira",dan Adik Iparku akan mengumpulkan Pasangan Kalian.kurasa dia akan melakukannya dengan Mudah",Indira melihat
Malika.Malika tahu maksud Indira,ia membuang muka malu - malu.
"Tentu,Kakak sudah mempercayakanku sebagai Penerima Tamu...",Kata Nira.
"Mungkin aku akan menjadi Pelayan yang akan menjamu seluruh tamu Kakak,percayalah padaku,kakak.",
"Aku percaya padamu,Sayang.Aku percaya pada Kalian.Pernikahanku akan berlangsung meriah",
Ya,Pernikahan Indra dan Indira akan dilangsungkan besok lusa.Seluruh keluarga Indra sedang menyiapkan keperluannya.Haikal,teman Indra,memberi tahukan pada Indra bahwa ia sudah memesankan gedung untuk acara Pernikahan itu.
Momen yang sangat dinantikan....
Sincerely,
Salaam E dostana
Fajar Adi.
Komentar
Posting Komentar