Salaam E dostana Bab 15



Niel mengangkat Panggilan Telefonnya dari Nira.Suara Nira tampak berat,sesekali terdengar isakan tangis.Hal ini membuat Niel penasaran.Nira meminta Niel untuk menjemputnya di Taman pinggiran Jembatan.Niel segera menemui Nira.Ada apa lagi dengan Nira ?

Sementara itu,Nira masih duduk sambil menangis di salah satu Kursi panjang ini.Pertengkarannya barusan dengan Dandi.Pertengkaran yang terjadi setelah Keduanya menghadiri Acara Pernikahan Teman Dandi.Sering kali,Nira dan Dandi bertengkar setelah menghadiri sebuah Acara.Penyebabnya Dandi selalu mengacuhkan Nira selama Acara,Ia hanya berbincang - bincang dengan temannya dan orang yang Ia kenal saja.

Namun,kali ini tidak,Justru sebaliknya.Nira mengingat Bagaimana sengitnya pertengkaran keduanya tadi.Hingga Keduanya beradu mulut hingga di saksikan Ayahnya Dandi.Nira merasa tidak terima dengan sikap Dandi,yang notabene adalah anak dari Ayahnya Nira.






"Aku tidak menyangka,dan ini jadi sebuah kejutan bagiku,sayang",Kata Nira menutup Pintu.

"Ya,Surprize untukku juga !Pengantin Wanita,Nindi adalah temanku waktu kami SMA,satu kelas.Kami teman sangat akrab",Dandi menghentikan langkah


"Robi,si pengantin Pria,dia adalah teman akrabku waktu SMP,namun lain kelas.Malam ini menjadi malam Reuni dadakan,aku belum mendapat kabar bahwa Robi akan menikah sebelumnya",Nira mendekati Dandi,


"Nindi mengabariku tentang Pernikahannya beberapa hari sebelumnya.Aku lupa juga memberi tahumu",


"Tidak apa - apa.Terima Kasih,Sayang",Nira hadir di samping Dandi",Terima Kasih untuk Malam ini.Pestanya sangat Meriah dan berkesan.Aku bisa bertemu dengan teman - teman lamaku.Senang rasanya.


Oh ya,Aku juga bertemu dengan teman - teman kampusku tadi.Sudah lama aku tidak berbicara dengan mereka.Selama ini mereka mengacuhkanku,entah kenapa aku tidak tahu.Mereka menghindariku dulu.Tapi tadi,Aku mulai bisa mengajak mereka bicara kembali,senang rasanya",


"Lalu,karena apa mereka mengacuhkanmu,Nira ?",Tanya Dandi dengan ekspresi muka yang perlahan berubah.


Nira terdiam,Ia menyembunyikan sesuatu,Ia sedikit gugup.Tentunya,Sebab Sikap Dandi yang sombong dan terkesan overprotektif pada Nira,hingga Dandi membatasi pergaulan Nira dengan teman Kampusnya.


"Ah,bukan karena apa - apa,Sayang.Lupakan saja...",Nira berusaha menyamarkan kegugupannya.

"Bagaimana aku bisa melupakan hal sepele ini?dan karena hal sepele ini membuatmu seperti tampak lain.Kau tampak berbeda akhir - akhir ini.Seperti kau menyembunyikan sesuatu dariku.Apa ini sebuah Masalah ?dan masalah ini mungkin saja ada sangkut pautnya dengan diriku ?",Dandi terkesan mulai menyindir Nira dengan pertanyaan ini",Dan mungkin saja hal sepele ini lah yang membuat bersikap lain padaku di sepanjang waktu Pesta tadi.Kau terkesan menghindariku.Kenapa?",

Nira menarik Nafas,Ia menyiapkan diri untuk mencurahkan semuanya",yah.memang aku menyimpan masalah saat ini,dan kau ada sangkut pautnya"


"Oh,Diam- diam kau seperti ini rupanya padaku.Ceritakan semuanya padaku sekarang juga",tandas Dandi",Kau punya masalah padaku namun kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku .Kenapa kau begitu ?dan apa masalahnya hingga kau bersikap seperti ini padaku ?",


"Masalahnya adalah Waktu,Dandi.Aku tidak pernah mendapatkan waktu ataupun kesempatan darimu.Setiap kali aku ingin bicara padamu,selalu ada saja permintaanmu yang membuatku untuk mengurungkan niatku untuk berbicara.Sering kali terjadi.Bahkan kau pernah mengabaikanku untuk ini.Aku merasa apa yang kurasakan dalam hubungan ini tidak ada pentingnya bagi kita dan untukku",Kata - kata Nira bermaksud membalas sindiran untuk Dandi.


"Dan sekarang waktunya untukmu berbicara",


"Aku sudah bicara padamu tadi.Teman - teman Kampusku,Mereka sudah lama mengacuhkanku dan menghindariku saat aku berpapasan dengan mereka.Kau juga pasti punya teman - teman,kan Dandi ?dan kau tahu pastinya bagaimana rasanya jika berada di Posisiku ?


Sudah lama mereka bersikap seperti itu padaku.Aku selalu berharap,aku punya waktu sesaat saja untuk bertemu mereka dan memperbaiki keadaan dan hubungan Kami ini.Dan Akhirnya,tadi,Aku bertemu mereka,Aku mencoba untuk mendekati dan menyapa mereka.


Awalnya,sikap mereka dingin padaku,mereka terkesan sinis padaku,Namun aku berusaha melakukan pendekatan pada mereka,meminta Maaf pada Mereka.


Beberapa dari Mereka memaafkan dan menerimaku kembali,Aku merasa senang,setidaknya aku bisa menegur mereka kembali dalam keadaan baik - baik saja,meski harus dengan sedikit berusaha dan memaksakan diri....",


"O bagus,bagus,usaha yang bagus", Dandi bertepuk tangan berjalan mondar mandir di hadapan Nira",selamat,selamat atas keberhasilanmu ini. dengan begini aku tahu,entah kenapa ada yang kurang di undangan pestaku malam kali ini ?


Seseorang yang aku ajak ke acara malah menemui orang lain,orang yang lain tidak penting...",kata - kata Dandi sangat menyinggung Nira", aku mengajak ke acara ini untuk menemui temanku yang sedang berbahagia. Kau tahu ?


Ya,menemui temanku yang sedang berbahagia namun ternyata di sepanjang pesta aku tidak turut merasa bahagia,karena apa ?",Dandi menatap Wajan Nira dengan tajam. Nira sampai terkejut",karena Kau,temanmu dan Orang - orang yang tidak penting bagiku itu..",Bentak Dandi menunjuk - nunjuk Nira",aku mengajakmu bukan untuk melepasmu bisa bertemu dengan teman - temanmu.


Malam ini malam yang menyebalkan. aku kira aku bisa ikut bahagia dengan pernikahan temanku,dan ini semua gara - gara kau....",


kali ini Nira tak ingin takluk pada emosi Dandi. Ia merasa bisa melawan Dandi kali ini. Ia tak ingin selamanya dikekang dan ditekan oleh Dandi karena Emosinya",Bukan,Tuan Egois. ini semua karena Kau,keegoisanmu dan sifatmu. andai saja jadinya memang seperti ini,kenapa kau harus mengajakku ?


kau selalu bertanya tentang perasaanku,apa kau bahagia bersama diriku ?",Tatapan Mata Nira yang nanar",dan sekarang lihat,aku berusaha untuk memperbaiki hubungan persahabatanku dan itulah kebahagiaan buatku. kebahagiaan yang sudah lama hilang sejak lama dari diriku. aku seperti kehilangan sosok sejati dari diriku.


apa pengetahuanmu tentang Kebahagiaan,Tuan tinggi hati ?",


"Bahagia adalah keadaan di mana kau bisa mendapatkan segalanya yang kau mau,termasuk dirimu. namun,kau berusaha melawanku. bagaimana kau bisa mengujiku bahwa aku tahu tentang kebahagiaan itu...",


"Bahagia itu tidak seperti kau mengikat binatang dan menyeretnya ke mana saja sesuka hatimu...",kata - kata Nira membuat Dandi benar - benar tersinggung",kau boleh memiliki segala yang kau mau termasuk diriku,


tetapi satu hal yang perlu kau tahu,aku juga butuh tahu bagaiman caranya aku mencari kebahagiaan untuk diriku sendiri tanpa paksaan dan tekanan dari siapa pun termasuk dirimu...",


Dandi geram dan hendak memukul Nira,namun Nira dengan sigap menahan tangan Dandi dan menghempaskannya dengan kuat. Nira memandang Dandi.


"Kebahagiaan adalah bagaimana caranya kau bisa mengerti perasaan satu sama lain...",satu tetes air mata turun dari Mata Kanan Nira",temanmu merasa bahagia, kau mengerti dan  sama merasakan apa yang terjadi,kau akan merasa bahagia.emosi dan egoisme yang tidak bisa dikontrol akan memperburuk keadaan...",Nira sekuat tenaga menahan kelemahannya.


"kau berpikir aku sedang memperburuk keadaan ?!",Dandi memperkeras suaranya.


"terkadang seorang pengecut bersembunyi di balik seberapa besar amarahnya....",Kata - kata Nira yang terdengar ringan bersama hembusan nafasnya.


"jadi begitu ! kau sudah tidak membutuhkanku ?kau mulai menghianatiku dan hubungan ini ?",Dandi menunjuk - nujuk wajah Nira dengan emosi yang tak bisa terbendung.


Mendengar suara keributan,Ayah Dandi yang berada di ruang keluarga segera memeriksa apa yang terjadi. Dandi dan Nira sedang bertengkar,dia mengamati apa yang terjadi tanpa menengahi keduanya terlebih dahulu.


"hubungan apa ? aku hanya menghormati hubungan persahabatan orang tuaku dan orang tuamu. aku hanya menjalankan apa yang ayahku mau terhadap keinginannya untuk menjalin hubungan baik denganmu,tidak lebih...",tak sengaja mata

Nira menangkap keberadaan Ayah Dandi,

''kau tidak malu ! wanita penghianat

!",sekali lagi Dandi mendapati Nira melawan dirinya. Nira bisa dengan sigap menahan tangannya",kau sudah menyia - nyiakan kebaikanku padamu....",

"tapi kau tidak pernah menghargai perasaaku,Tuan baik hati...",

Dandi terdiam.

"kau bisa saja memiliki segalanya,dan memberiku apapun yang menurutmu baik untukku sehingga kau merasa berhak untuk menguasai diriku. namun tidak untuk kebahagiaan pribadiku....",Nira langsung dengan cepat melangkah meninggalkan Dandi", Camkan itu !...",


Dandi segera mengejar Nira. Namun,Nira bergegas dan berlari keluar rumah. Nira meninggalkan Dandi secepat mungkin. Dandi tak mau kalah. Nira akhirnya mencegat taksi dan meminta sopir untuk bergegas.



kembali ke Niel....


Niel sudah menemukan keberadaan Nira. Ia mendekat. Nira masih menangis di kursi itu. Sebenarnya Ia merasa lega,Ia bisa melakukan perlawanan terhadap Dandi.


Namun,satu hal yang ia dapatkan  adalah Dandi benar - benar seorang yang egois.

Niel berlutut di hadapan Nira,seperti waktu itu. perlahan tangannya mengusap lutut Nira. Nira menghentikan tangisnya dan melihat siapa yang ada di hadapannya,Niel. Nira meraih tangan Niel dan menggenggamnya. Mata  Nira yang tak berhenti mengalirkan air mata.

"Jika apa yang kudapatkan ini,adalah hukuman untukku karena aku sudah menyia - nyiakann kebaikanmu, ketulusanmu dan perasaanmu padaku. maka,sekali lagi,maafkan aku atas kesalahanku....",Nira mencium tangan Niel.


Niel tersentuh melihat sikap Nira,Niel berbisik " ini bukan masalah perasaan bersalahmu padaku,namun ketakutanmu pada perasaanku,aku tahu bagaimana perasaanmu padaku sejak dulu. aku berterima kasih padamu,inilah yang aku dapatkan darimu....Cinta....",


Mendengar  kata - kata itu,Nira langsung memeluk Niel. Angin lalu menerpa mereka. Guguran daun yang berlalu. Niel mengajak Nira berdiri. Ia menyibak wajah sembab Nira. tangan menghapus bekas - bekas aliran air mata.


"Arjun pernah berkata padaku bahwa kau tulus mencintaiku,dan ia menyindirku apakah dengan air matamu itu membuatku diriku  belum cukup yakin pada dirimu. dan sekarang,aku yakin padamu. Air mata ini pertanda bahwa kau tulus mencintaiku...",


"tapi,Arjun berkata padaku bahwa ia tidak ingin melihat kau merasa patah hati sekali lagi karena cinta. dari situ aku tahu,aku belajar,tidak ada orang lain lagi sebaik dan setulus dirimu...",


"tapi,Arjun tidak berkata bahwa suatu saat aku akan menikahimu suatu saat...",

Nira tertawa di tengah isak tangisnya,begitu juga Niel.

"Arjun akan mengatakan hal itu setelah aku meminta padanya untuk itu...seperti apa yang dikatakan itu adalah Mantra yang membuat semua terjadi dan menjadi nyata. aku sampai heran menyadarinya..",


"kau menganggap temanmu sebagai penyihir atau tukang sulap...",


"Oh tidak,dia hanya seorang yang paling cerewet di antara kita...",

sekali lagi Mereka tertawa dan saling berpelukan. Niel mengajak Nira pulang.

***



Pagi ini di kamarnya. Ia berdiri menghadap Cermin yang ada di lemarinya. Ia mengangkat punggung tangannya. Sebuah Cincin sudah melingkar di jari manisnya. Ia melihat wajahnya yang ada di cermin.

Matanya penuh dengan air mata yang siap menetes. Ia terdiam melihat sekujur badannya,Ia sudah memakai gaun pengantin. Ada duka yang sangat mendalam di hatinya. Ia tidak menyangka,akhirnya Ia akan melewati satu masa penting dalam hidupnya tanpa ada sosok yang sangat disayanginya. Menikah.

Seseorang masuk ke kamar ini,Indra. Indra melihat Indira berdiri di depan cermin dengan raut muka yang tak bahagia gdi hari berbahagia ini. Indra mendekat.

"Ayah pernah bercerita tentang mimpinya, Ia melihat putrinya berdiri dengan seorang pemuda yang sedang menikahinya. Namun,Ia tak menampakkan kebahagiaannya...",Indira berbalik dan menatap wajah Indra. Indra meraih tangan Indira", tapi,Ayah yakin bahwa bersama pemuda ini,Ia akan mendapat perubahan dalam hidupnya. hidup yang lebih baik dan bahagia.
apa yang Ayah katakan itu terjadi saat ini. Lalu,bagaimana aku bisa merasa bahagia tanpa keberadaan ayahku saat ini ?",

"Tapi ayahmu meyakinkanmu bahwa kau akan mendapat hidup yang lebih baik dan bahagia bersama Pemuda yang menikahimu,apa kau tidak menaruh harapan untuk hal ini ?",kata Indra dengan suara pelan", apa kau yakin dan percaya pada Pemuda yang akan menikahi dirimu ini ?",

Indira tersenyum haru. setetes air mata menjejal di mata kanannya. Ia menggenggam tangan Indra.

Sementara itu, di luar kamar...

Semua orang sedang mempersiapkan acara akad nikad Indra dan Indira. Seseorang tampak sibuk memberi arahan kepada orang - orang yang sedang membantu persiapan acara ini.

" bagaimana dengan sound system nya ?apa sudah dipersiapkan dengan baik ?aku percayakan pada kalian....",dia,Arjun sedang berbicara di hadapan saudara -saudaranya. Ia menyadari satu hal", Oh astaga,lihat  ! mengapa meja untuk akad nanti belum dipersiapkan ? Ayo...ayo,segera ambil meja tamu yang ada di sebelah meja kamarku. Tolong bersihkan dan hias sebaik mungkin....",
dua orang bergerak melaksanakan perintah Arjun. Arjun melihat ke arah lain. 

Ia melihat dua orang sudah berdiri di hadapannya.

"Oh hai,selamat datang dan selamat pagi....",

" Oh hai,selamat pagi,tuan super sibuk...Coba lihat tempat ini,sudah seberapa baik persiapan yang dilakukan,kau terlihat sibuk pagi ini...",Mereka,Niel dan Nira menyapa Arjun", semua tampak rapi dan sempurna,kerja bagus,aku yakin kau akan cocok jika kau menjadi seorang pengusaha even organizer..",

"terima kasih,Niel. semua tampak baik - baik saja. kau tahu,kak Indra menanyakan kedatanganmu. kau lama sekali kali ini...",

"Yah,lama sekali sepertinya,tapi kau tahu kenapa alasannnya", Niel melirik Nira", Wanita tidak bisa dikejar - kejar soal urusan make up."bisik Niel mendekatkan Wajahnya.

" Ahahaha...",Arjun dan Niel tertawa",aku tahu....",

"Arjun,di mana Kak Indira ?", sela Nira melihat ke segala arah.

"kakak ada di kamarnya. mungkin kak Indra juga. O iya, Kak Indira juga menanyakanmu padaku juga dari tadi. ya ampun,seperti semua orang bertanya padaku pagi ini",Arjun menepuk dahinya", cepat temui dia,mungkin make up nya sudah selesai",

"baiklah,aku akan menemuinya",Nira melepas tangan Niel.

"Well,so,Marvin ?",tanya Niel mengangkat bahunya.

"Marvin?seharusnya aku yang bertanya padamu,Niel ?apa kau sudah menemuinya dan membujuknya untuk datang ke sini",


"kemarin aku menelponnya,dia bilang dia akan datang,kapan waktunya aku 
tidak tahu ?",

"aku harap kita bertiga tidak akan melewatkan acara akad nikah kakakku,Niel. ini akan menjadi momen bahagia yang akan kita saksikan. kau pasti juga menginginkannya bukan ?",

Niel mengangguk"tentu...tentu,aku kau dan tanpa Marvin,keadaan tidak akan terasa lengkap",

"Of Course,ngomong ngomong kau bisa membantuku ?",

"ya tentu,apa saja yang kau mau untuk acara ini ?ayo katakan...",

"ayo kita menyiapkan tempat untuk akad nikah nanti,di sebelah sana",Arjun 
menunjukkan tempat,

"baiklah,sekalian kau memintaku jadi Penghulunya sekalian,boleh...",
Arjun terkesiap,Niel tertawa cekikikan",hah,apa yang kau pikirkan NIel ?kau terlalu muda untuk ini,belum tentu kau bisa mengucapkan akad nikah nanti dengan lancar...",

Niel merangkul Arjun",hei,jangan remehkan aku,Arjun. setidaknya,aku akan meminta kak Indra nanti bagaimana cara melakukannya,bagaimana ?",

"Ah,sudahlah. Ayo Niel,acara satu jam lagi...",Arjun dan Niel menuju ke tempat akad akan dilaksanakan.


kembali ke Indra dan Indira...

"aku tahu bagaimana rasanya kehilangan sosok yang paling kita sayangi. dan jujur saja,aku sebenarnya mencintai orang lain...",Kata Indra pelan membuat Indira terkejut.

"apa maksudmu,Indra ?apa kau....",

"aku sudah mengatakannya padamu dulu,saat di pernikahan Haikal,kau mengingatkan pada seseorang,karena kemiripan wajahmu dengannya. kau ingat,aku berkata dia sudah tidak ada di dunia ini lagi...",

"lalu,apa dia sudah meninggal ?",

Indra membuka almarinya dan mengambil selembar foto. Ia menunjukkan pada Indira. Indira tahu ternyata wajah wanita yang ada di foto ini mirip dengannya"namanya Ivana. kecelakaan waktu itu menjadi saat - saat terakhir bersama kami....",

"kau pasti sangat mencintainya ?",

"untuk itulah aku juga sangat mencintaimu,Indira",

"hingga kau ingin menikahiku...",

"kau tahu,kau dan Ivana seperti tidak ada bedanya. aku sempat berpikir,Ivana seperti hidup kembali,namun dalam dirimu. dan,aku juga menyayangkan aku tidak akan mendapat restu dari ayah mertuaku,aku tahu kau sedih kehilangan Pria yang kau sayangi,tapi lihatlah sekarang,Indira....",Indra menggenggam tangan Indira",ada Pria - pria lain,yang menjadi anggota keluarga baru,yang siap memberimu kebahagiaan yang mungkin sama dengan kebahagiaan saat bersama Ayahmu.

Lihatlah,ada Ayahku,aku,adikmu,Ikhsan dan ah siapa lagi ?aku seperti melupakannya..",

"adik Iparku,Arjun,Indra....", Indira tertawa ringan.

"yaah,kita akan menempuh baru sebentar lagi. aku akan mengucap janji,untukmu...",

Indira mengangguk yakin. Kehadiran Nira menyela momen haru ini.

***


Sesaat, sebelum melakukan Akad Nikah, Arjun masuk ke kamar untuk memperbaiki Penampilannya. Tak Lupa Arjun mengoleskan Parfum ke tengkuknya, Memakai pomade sedikit ke rambutnya untuk merapikan Rambut. 

Seseorang masuk ke kamarnya, Indra. Indra masuk dengan membawa dasi coklat. Arjun menyambut kehadiran Kakaknya. 

“ Kakak Indira sudah siap, Kakak? “, 

“ Yah. Kau juga sudah siap sepertinya. Parfum yang aku belikan minggu lalu untukmu, kau suka wanginya ? “,
 
" Ya. Kenapa kau selalu tepat memilih tipikal wangi parfum yang adikmu suka,Kakak ?",
" Emh,Aku yang paling tahu Bagaimana Adikku",

Arjun mengambil dasi itu dari tangan Indra. Ini salah satu Kebiasaan Kakak beradik ini. Meski sering bisa memakai Dasi sendiri, Tapi Bagi Indra , saat Ia meminta Arjun untuk memakaikan dasi miliknya Ia merasakan saat - saat terbaik untuk menjaga Ikatan Emosional Persaudaraan mereka dari waktu ke waktu. 

Indra yang mengajarkan Arjun memakaikan Dasi seragam milik Arjun. Arjun cepat belajar dari Indra. 
Setelah Arjun bisa memakai Dasi sendiri,Tak ada salahnya meminta Sang Adik untuk selalu memakaikan Dasi, Indra jadikan ini Kebiasaan. 

“ Apa kau sudah sarapan pagi ini ? Kulihat Kau sangat sibuk dari tadi”, Indra sedikit menengadah, membiarkan Arjun melilit lehernya dengan Dasi. 

“ Ya. Setelah Sholat Subuh , Aku membuat Susu dan Makan Roti yang Ibu beli kemarin dari Supermarket”, Arjun membuat simpul dasi, kemudian menarik Sisi Dasi yang lebih pendek ke bawah,

“ Arjun, Apa Aku perlu Nervous untuk saat ini ? “, 

“ Nervous ? Ada yang Kakak takutkan ? Ada yang Kakak khawatirkan ? “, 

“ Setelah memulai Hidup Baru, Aku harus bisa membagi Perhatianku dan Kasih Sayangku untuk Satu Anggota baru keluarga lagi. 

Aku berkata seperti ini bukan berarti Aku tak menyayangi Indira”, Indra menatap Mata Arjun,

“ Apa Kakak takut tidak akan bisa memberi Kasih sayang Pada Ibu dan Ayah seperti sebelumnya ? 

Kakak, Bukankah Kita bisa berdo’a pada Tuhan, Yang Maha Kuasa untuk memberi Kita kekuatan, untuk memberi kita keluasan Kasih dan Sayang pada diri kita ? 

Masih ada Aku , Aku akan berusaha lebih menyayangi Ibu dan Ayah. Juga tetap Menjaga Niel dan Marvin”, 

Indra menghirup Nafas, Rongga dadanya terasa longgar. Ia merasakan Kebanggaan lain dengan mendengar Kata - kata Luar biasa dari Adiknya. 

“ Aku perlu membesarkan Rasa Syukurku pada Tuhan, melebihi Rasa Bahagiaku melewatkan momen ini “, Indra membelai Pipi Arjun “, Tuhan memberiku Saudara Kandung yang luar biasa. Aku sangat bangga mendengar kata - kata ini. Tapi, Aku juga merasakan kekhawatiran lain, Arjun. Aku mengkhawatirkanmu.

Aku takut jika Aku tidak bisa menyayangimu seperti sebelumnya”, 

“ Apa kakak berniat menciptakan Jarak di antara kita ? “, Arjun selesai dengan Dasi Indra kemudian merapikan Kemeja Indra, dan mengusap Dada Kakaknya “, Aku justru melihat Kakak akan menjadi Sosok yang lebih baik. 

Kakak akan menjadi Seorang Suami. Kakak akan belajar menjadi Pribadi yang lebih baik. Kakak akan menjadi Role Model terbaik bagiku di masa depan”, 

“ Aku akan tetap menyayangimu Arjun. Aku tidak akan pernah membuatmu merajuk padaku saat kau membutuhkanku. Aku akan menjadi sosok yang lebih peka dan lebih baik untuk keluarga kita “, Indra menatap Arjun agak lama. 

“ Kakak, masih Nervous ? Atau Justru kakak merasa lapar ? “, 

Indra seketika memeluk Arjun “ Aku hanya butuh pelukan dari Adikku, yang selalu menenangkanku”, 

Arjun memeluk Badan Kakaknya “Aku akan siapkan Makan dan Minum untuk Kakak berdua setelah Akad. Tenang saja “, 

“ Iya. Terima Kasih , Arjun ",

....

Tiba saatnya untuk melaksanakan akad nikah. Indra dan Indira duduk bersandingan di depan Penghulu. Keduanya dikelilingi anggota keluarga dan sanak saudara masing - masing. Proses akad pun dimulai,Indra menjabat tangan Pak Penghulu dengan tenang.

Di sisi lain...

"Oh,akhirnya,mereka...",Arjun terisak - isak menyandarkan tubuhnya di Pintu Kamarnya dan melihat Kakaknya dari kejauhan. dia mermilih membantu  semua orang untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya,dia tak bergabung ke tempat akad nikah.

Niel hadir di di samping Arjun"Oeh..Oeh,kakakmu sedang duduk untuk akad nikah,bukan duduk menghadapi sidang perceraian. So,jangan terlalu berlebihan seperti ini...",

Arjun langsung menoleh ke Niel tajam dan tiba - tiba hingga Niel terhenyak.
"Kau tidak tahu apa itu emosianal ?apa kau tidak merasakan suasana yang sangat mengharukan ini ?",

"Kurasa biasa saja ",kata Niel ringan.

"Apa ?!biasa saja ?!

"Hei,Arjun,apa yang membuat bersikap berlebihan seperti ini ?kurasa ini sama dengan pernikahan orang lain pada umumnya...",

"kakak Ivana,Niel. kakak ivana,kecelakaan itu,rasa kehilangan kakak,dan menyaksikan hubungan kakak dan kakak ipar dari awal hingga akhir. tidak semua orang mendapat keberuntungan seperti kakak. kurasa ini cukup membuatmu berpikir...",

Wajah Niel hadir di bahu Arjun sambil menggerayami lengan Arjun,Niel bertingkah konyol",uh uh uh,aku perlu menangis dan meratap sejadi - jadinya sepertinya...Oh ini sangat sangat emosional...",

Arjun menjewer telinga,Niel berteriak kesakitan. Niel merajuk minta ampun.
"dan ini akan membuatmu menangis sejadi - jadinya,iya kan ?",

"Ah ah,auw...lepaskan!ampun!ampun !...",

Lalu,seseorang datang dan mendatangi Arjun dan Niel.

"Marvin...",

"hai,teman - teman,bagaimana acaranya apa sudah dimulai ?maaf aku baru bisa datang sekarang,aku terlalu lama berada di rumah kakek sepertinya...",

"Oh ya,acara barusan dimulai...", Arjun menunjuk tempat proses akad nikah.

"kau tahu,Marvin. acara baru saja dimulai,dia sudah menangis secara sembunyi - sembunyi di sini,dia bilang ini sangat emosional,ini sangat mengharukan...",kata - kata Niel membuat Arjun terusik. Marvin tertawa mendengarnya.

Tangan Arjun langsung membungkam Mulut Niel yang semakin lama mengoceh.

"jangan dengarkan dia,Marvin. dia tukang pembuat berita palsu yang paling piawai,kau tahu kebiasaannya,bukan ?", kali ini Arjun berhasil membuat Niel terdiam,Niel melepaskan Tangan Arjun.

"Oh ya,sarapan ? apa kau sudah sarapan Marvin? ",

"Ya,sarapan, benar sekali",Niel menyela Arjun dan Marvin",menyaksikan  Orang menangis tersendu - sendu membuat asam lambungku naik dan..", Niel menarik tangan Marvin dan Arjun ", Ayo kita sarapan,semua orang menyediakan banyak makanan di rumah ini..",

"lihat dia Marvin. setidaknya dia tidak mengacaukan proses akad nikah kakak dengan ulahnya yang seperti ini",Arjun menepuk dahinya.

Marvin tak berhenti tertawa.

Acara akad Nikah selesai. Indira dan Indra sudah resmi menjadi pasangan suami Istri. untuk mengabadikan momen bahagia ini,Indira meminta Ihsan untuk mengambilkan kamera milik Indra di kamar. Ihsan bergegas mengambilnya.

Seseorang tak sengaja menabraknya saat Ia sudah sampai di depan pintu kamar Indra. beruntung keduanya tak jatuh. Ihsan melihat siapa dia.

"Rama....",panggil Ihsan dengan muka yang bahagia.

"Oh,Ihsan...sorry,,aku nggak liat jalan tadi..",keduanya langsung berpelukan

"nggak apa - apa lagi,aku buru - buru. kamu datang sama siapa ?mana bibi ?",tanya Ihsan pada Rama. Rama adalah anak dari Adik Ibu Harum,Ibu Indira dan Ihsan.

"ibu, ?tadi dia uang masuk duluan",Rama melihat ke segara arah untuk mencari ibunya",tapi kok nggak keliatan...",

"Ya udah,paling bibi ikut bantu bantu di dalam. Eh,ayo temenin aku ambil kamera ke kamar kakak ipar,trus kita foto bareng sama merek. Kakak pasti seneng kalo liat kamu dateng ke sini...",

"Okey,by the way,aku liat followers kamu mulai banyak,ciye ciye,bakalan jadi selebgram baru nih...",

"ah, apaan sih ?! biasa aja,aku liat kamu udah lebih banyak daripada aku punya. Fine,kita bakalan jadi selebgram,sama - sama..",

"Okey,okey,aku udah nggak sabar buat LIve lewat Insta nanti,pasti nanti pada mikir aku tiba - tiba merried lagi,hahah pasti seru..",

"Ye !!kamu ini,ada - ada aja....",

***


Esok harinya adalah acara resepsi
pernikahan Indra dan Indira. Acaranya akan di selenggarakan di suatu gedung. Haikal,sahabat Indralah yang membantu Indra untuk menyewa gedung ini,hal ini Ia lakukan sebagai kado darinya untuk sahabat karibnya itu.

Tamu yang diundang lumayan banyak. Rekan kerja indra,rekan kerja Ayah Indra,dan sanak saudara kedua belah piha Pengantin. Acara sudah dimulai sedari tadi. wajah berseri - seri menyambut kedatangan tamu.

Sementara itu,Arjun sibuk menyambut tamu. Marvin sibuk mengarahkan tamu untuk mendapat tempat duduk,Gedung yang disewa lumayan besar. Niel dan Nira juga ikut menyambut tamu. Ihsan dan Rama berada di bagian penerimaan bagian kado.

Arjun melihat kedatangan seseorang. Seorang Gadis yang membawa kado tampak kebingungan mencari seseorang. karen tamu yang hadir cukup banyak,Ia tampak kesulitan mencari orang yang ia maksud.

Arjun mencari Marvin. Marvin berada di tengah - tengah tamu. Arjun mendekatinya dan memintanya untuk menyambut gadis yang baru saja datang di acara ini,khusus dan harus Marvin lah yang menyambutnya.

Marvin melihat siapa gadis yang ditunjuk Arjun itu. Gadis itu hanya tampak punggungnya. Marvin pun mendekati Arjun. Sejurus kemudian Arjun mendekati Niel dan Nira.

"Oeh,Niel...",Arjun mengagetkan Niel.

"Iya...kau membuatku terkejut,Arjun. ada apa ?",

"coba lihat Marvin,Niel. dia sedang mendekati siapa ?",Arjun mengarahkan
Muka Niel ke arah Marvin berjalan. Niel berusaha menebak.

"Siapa dia Arjun ?",

sementara itu,Marvin sudah berada di belakang gadis itu.

"Permisi,selamat datang...",Marvin menyentuh bahu gadis itu dengan ujung telunjuknya",ada yang bisa saya bantu ?",

Gadis itu berbalik dan terkesiap saat melihat Marvin.

"Malika !',pekik Nira menyela Arjun dan Niel.

"Oh,akhirnya,mereka bertemu...",kata Niel

"kuharap mereka baik - baik saja Niel...",harapan Arjun melihat Marvin dan Malika yang tampak kaku.

"kurasa tidak,sepertinya keadaan berbalik sekarang ?",

"berbalik ?maksudmu?",tanya Arjun menoleh

"maksudmu ?maksudmu ?ah,kau ini pura pura lupa,apa kau lupa saat pesta ulang tahun Bapak Rektor?ulah apa yang kau lakukan padaku hingga semua orang melihatku,menggodaku dan oh,Arjun,kau tahu aku malu setengah hati..",kata Niel gusar

"aha ! benar...aku kasian melihat Marvin,teman",

"kau juga kasian melihat keadaanku waktu itu ?",tanya Niel dengan gusar yang reda

"Yup !so,apa kau tidak tergerak untuk melakukan hal gila sama seperti apa yang kau lakukan waktu itu terhadap Marvin ?",

"What ?!",Arjun menoleh Niel",ini acara keluargaku Niel,tidak mungkin aku melakukannya,tidak mungkin juga Kak Indra mau melakukan apa yang kau mau...",

"Haeeeh....payah,itu berarti kau tidak kasian dengan Marvin....",Niel berbalik membelakangi Arjun.

"eh,bukan begitu,aku kasian pada Marvin,bukan berarti aku harus melakukan hal yang sama padanya,pasti ada caranya untuk menghibur Marvin,Niel,bukan begitu ?",kata Arjun merajuk,Niel tampak melotot.

Niel berbalik dan menarik kedua pipi Arjun denga rasa gemas "Oh,oh,kau paling pandai mencari alasan,dan merekayasa keadaan",Niel melepas tangannya,Arjun meringis kesakitan",huh,coba saja waktu itu aku tidak sabar dan hilangan kesadaranku bahwa kau sahabatku,aku akan membunuh kalian semua,kalian benar - benar membuatku kesal...",

Arjun pun mengeluarkan jurusnya. Ia merangkul Niel dan mengusap punggungnya",Oh,Niel,sahabat karibku,teman terbaikku,aku selalu menyayangiku,aku,kau dan kak Indra sudah seperti keluarga sendiri",Arjun berusaha menurunkan tensi Niel,Niel tak bisa berkutik", Sorry,Maafkan aku,jika kamu berlebihan waktu itu.

Coba bayangkan,jika saja aku tidak berulah seperti waktu itu,apa yang akan terjadi ?Nira akan mengacuhkanmu sepanjang waktu,Nira akan menjaga jarak denganmu,beruntunglah ada kami,kau dan Nira tidak akan pernah berdekatan selama kalian saling diam,setuju ?",

Niel melirik Arjun"kau tahu apa yang membuatku sebal padamu ?",

"apa itu ?",

"kata - katamu manis sekali....",

"ya,jika saja kata - kataku tidak manis,kau pasti tidak suka dan merasa nyaman saat aku menjadi orang yang suka menghujat,menghina atau menyakiti hati seseorang dengan perkataanku,bukan begitu ?",

"Emhh,kau tahu,kau tahu apa yang membuatku selalu menyayangimu ,melebihi Marvin ?",

"apa itu ?",

"kau tidak pernah menjadi orang lain,dan berpura - pura baik dibalik sifat jahat yang orang lain dengan mudahnya melakukan hal itu...",

"karena aku tulus menyayangimu,Tuan Paling piawai berkompromi....",
Niel merangkul Arjun dan menepuk pipi Arjun sekali"aku akan bantu anak - anak mengatur kado,ahahahahaha....",

"Hah..hei dasar kau !!!",

Niel berlari sementara Arjun mengejarnya.

Nira mendekati Malika yang sedang berdiri sendiri. Ia lalu mengajaknya mendekati pelaminan. Keduanya menemui Indra dan Indira. kebetulan Mereka berpapasan dengan Marvin yang membawakan minuman untuk Indra dan Indira.

Indra melihat pertemuan ini. Malika dan Marvin saling diam,Nira yang berada di tengah - tengah mereka tampak grogi. Indra mendekati ketiga anak ini bersama Indira. indra meraih tangan Marvin,Marvin melihatnya. Sama halnya dengan Indira terhadap Malika.

"ini yang kuharapkan dari kalian",Indra membawa Marvin dan Malika saling berdekatan",kemarin kami sempat pesimis kalian tidak bisa datang di hari yang paling membahagiakan ini...",

"aku sudah membuat perjanjian dengan kedua gadis ini,Mereka harus datang ke acara kami ini,kami tidak ingin siapa pun melewatkan hari yang bahagia ini,karena kalian bukanlah orang asing bagi kami",Indira melihat Niel dan adik iparnya sudah berkumpul bersama Nira",dan pemandangan inilah yang kuharapkan,Kita adalah satu bagian dari keluarga baru,"Indira mengusap punggung tangan Malika,ia meraih tangan Marvin.

"satu permintaan kami untuk kalian berdua,"kata Indra,Malika dan Marvin memandang Indra",jadilah bagian dari kebahagiaan kami ini,tunjukkanlah pada wajah kalian bahwa kalian turut berbahagia hari ini..",

"luluhkan ego kalian sejenak dan mari,kita rayakan hari penuh rasa cinta ini...",

''Aku yakin kalian juga mempunyai rasa yang sama,saling mencintai ?",Indra menepuk bahu Marvin. Malika menatap Marvin kemudian mengangguk.

Marvin tersenyum dengan hati yang berat.

"mmmm...Niel,teman ku",

"Yah,kita perlu melakukannya terhadap Marvin...",

Wajah Niel berubah bersemangat"yah yah yah,aku setuju...",

"tunjukkan kemesraanmu bersama Nira,tunjukkan pada mereka bahwa setiap orang berhak atas sebuah cinta...",

"yeah,yeah,yeah oke oke",Niel menarik tangan Nira ",ayo sayang tunjukkan pada mereka dan semuanya,seberapa besar cinta kita,seberapa dalam kita saling menanam rasa cinta..",

"Okey,Niel...Arjun nyalakan musik !!",

"siap tuan dan nyonya !",

Niel dan Nira menari berpasangan,mereka menghidupkan kemeriahan suasana,Niel terus memburu dan menggoda Nira. Nira pun tak mau kalah,Nira pun berlagak kemayu namun tanpa menunjukkan rasa canggungnya.

"Kedua matamu,pertama kali yang aku tuju. sekilas tatapan membuat hati tak karuan. bukan birahi namun rasa kagum serasa aku ingin menyampaikan salaam. salaam,bolehkah aku mencuri dan memliki kedua tatapan mata yang menarik ini,

rambut yang terurai dengan tubuh yang melenggang. serasa kalbu dan raga terguncang. bukan birahi namun rasa kagum yang datang,sekali lagi aku ingin menyampaikan salaam. salaam,bolehkan aku menaklukkan tubuh yang membuatku terguncang dan membawamu melayang dalam cinta yang besar tiada kepalang...."kata Niel membuat Nira tak mau menjauh darinya ,Niel dan

Nira semakin hebat dan meriah.

Marvin yang berada di tengah - tengah tamu yang berdansa dan menari,berdiri tanpa ekspresi. Malika lalu muncul dari balik badannya. dan sedikit menarik perhatian Marvin.

"orang asing yang mencuri perhatian di awal. dengan kata - kata yang memikat dan sikap yang menguasai hati yang tak karuan. bukan bualan atau perkataan dusta namun Ibarat rangkain syair yang membangkitkan kekaguman,serasa aku ingin menyampaikan salam.salaam,orang asing ini rupanya penyair yang penuh kepiawaian.

mimpi - mimpi yang diceritakan,kegilaan yang ditunjukkan,perasaan yang diam - diam di tanamkan. wahai Pemuda tampan,pada setiap pesona dan isyarat yang kau tunjukkan membisikkan sebuah salaam. salaam,pemuda ini lah yang berhak menjadi dambaan",


Indra mengajak Indira menari di atas pelaminan. Indra juga tak mau kalah dengan Niel dan Malika. Indra pun merangkaikan kalimat rayuan untuk Indira.

" pandangan ini dan pandanganmu yang kemudian bertemu. terjadi dan terjadilah sebuah pertunjukkan tentang betapa indahnya yang dirasakan. cinta yang hamba menjadi tuan. apa yang terjadi dengan hati ini,entahlah...."Indra berbisik manja pada Indira

"Hanya padamu,pasrah hidup dan Matiku. Hanya padamu,permohonan Harapan dan pasrah segenap hidupku. Setiap detang jantung penuh hasrat dan kasih hanya milikmu. Setiap wajah yang muncul di setiap mimpiku hanyalah wajahmu."Indira membalas Indra.

"Bahkan kau pasti sudah tahu,setiap apa yang kuinginkan pada dirimu akan menjadi milikmu,Cintamu menjadi milikku. Cinta,Cinta,Cinta yang kau tahu. Selalu ada rasa hormat,kasih dan sayang untukmu. Salaam Untuk Cinta....",

Melebihi indahnya bunga - bunga yang menghiasi pelaminannya,momen ini terasa bagi Mereka,Indra dan indira. Melebihi meriahnya kebahagiaan setiap orang yang ada di acara ini,segenap kebahagiaan itu dihaturkan untuk mereka,Tuan dan Puan yang tengah berbahagia. Terikat mantap seperti cincin yang tersemat di setiap jari mereka,cinta mereka telah tersatukan.

Mata yang menangkap wajah - wajah haru,bahagia dan suka cinta. Kakak dan Kakak iparnya yang sedang berdansa menikmati saat berbahagia kali ini. Niel dan Nira yang tak kalah apik menari seakan - akan mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga tengah berbahagia atas Bersatunya cinta mereka.

Namun,pemandangan lain tak sama terjadi pada Malika dan Marvin. Malika selalu membujuk dan merayu Marvin untuk berdansa dan menari,namun Marvin tak bergeming dan tak sedikit pun tergoda. Tidak seperti biasanya. Ia tahu apa yang dirasakan oleh sahabatnya yang satu ini.

Malika mulai menunjukkan roman - roman putus asanya menarik perhatian Marvin. Dalam lautan bisa diketahui,namun dalam hati seseorang siapa yang tahu ? Apa yang terjadi pada Marvin ?tidak ada yang tahu. Jelas tampak pada wajah ia memendam sesuatu.

Arjun akan membereskan sedikit ganjalan ini di kemudian hari. Ia tidak ingin melihat sedikit kecacatan pada sahabatnya meski sekali pun pada hati dan perasaan sahabatnya.


Sincerely,
Salaam E dostana



Fajar Adi

Komentar

Postingan Populer