Salaam-E-dostana Bab 8


Setelah Makan Malam,Ia membereskan dan membersihkan meja makan .Dan Ia ingat sesuatu,sebuah Undangan untuk Adiknya.Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya.

Ia mengambil undangan yang ia taruh di dalam tasnya.Lalu Ia mengantarkannya ke kamar Adiknya.

"Adek,ada titipan untukmu,aku hampir lupa memberikannya padamu karena aku kekenyangan setelah makan tadi...",Indra membuka pintu dan masuk ke kamar Arjun",tampak seperti sebuah Undangan ?",Indra membolak - balik kertas itu.

Arjun tampak duduk mengerjakan tugas",Undangan Acara perayaan Ulang Tahun Bapak Rektor kami...di Hotel Grand Niu Internasional,di mulai jam 8 malam...",Kata Arjun tanpa membalik badan.

"Hei...kau sudah tahu rupanya,padahal kau belum melihat isi undangannya.o ya,Marvin memberikannya padaku saat bertemu di Mall tadi...",

"Setengah jam yang lalu,Niel menelfonku untuk memberi tahu undangan ini. ia khawatir kalau Marvin sampai lupa mengantarkan undangan ini padaku.Yah,yang namanya Marvin,ia kadang lupa.Kalau Niel tahu Marvin sampai lupa,dia bakal uring - uringan dan Akhirnya aku harus turun tangan..."

"Emh...",Indra duduk di atas Meja Arjun dan bersandar di dinding",Sepertinya ini akan menjadi acara yang spesial...",

"Oh tentu,semua orang harus hadir,wajib hadir ! karena akan diberlakukan Absen,dan yang melaksanakan tugas ini adalah Pak Samsul,dosen laki - laki yang terkenal cerewet,ribet,dan suka bikin ribut....",

"Sampai seperti itu ?Tertib sekali...",

"Inilah yang membuat menarik.Dan lebih menarik lagi,setiap mahasiswa boleh mengajak satu anggota keluarga ke acara ini sebagai pendamping",Jelas Arjun bersemangat",Aku akan mengajak Kakak...",Arjun menepuk lutut Indra pelan",kakak harus mau...",

"lalu aku harus bertemu dosen yang 
seperti ini ?",

"Ayolah Kak,kakak tidak harus melihat wajahnya",Arjun tertawa ringan

"Kalau begitu,kau pakaikan Kakakmu ini topeng saja...",

Arjun tertawa ",aku mendengar kabar bahwa Pak Samsul ditunjuk sebagai MC acara ini.Ooh,betapa beruntungnya...kebayangkan gimana hebohnya,gimana girangnya,gimana oh rempongnya,jika orang tua ini jadi MC ",

"Kau wajib datang Adikku,bayangkan saja acara ini terjadi seperti itu...",Indra mencubit pipi Arjun sedikit

"Dan Kakak wajib mendampingiku...tidak mungkin aku mengajak Ayah atau Ibu ?",
Indra mengangkat bahunya dan menarik nafas.

***

Ia melihat Jam tangannya,Sudah jam delapan kurang lima belas menit.Mereka sudah berada di area parkir.Arjun langsung mengajak masuk kakaknya menuju Aula Hotel Grand Niu Internasional.Hotel kelas bintang lima di kota ini.

Suasana ruangan terlihat begitu mewah dengan dominasi warna emas dan merah.Sebenarnya Acara ini tidak hanya perayaan ulang tahun saja,namun ulang tahun pernikahan Bapak Rektor dan Istri.

Dekorasi sudah dibuat demikian indah dan cantik.Kursi - kursi spesial yang sudah tertata rapi dengan balutan warna kain putih,emas dan Merah.Jejeran Meja Hidangan yang siap menyediakan santapan - santapan lezat.Tampak tangga - tangga di hias dengan rangkaian bunga,begitu pun meja - meja tamu.Terlihat menawan,kuntum bunga - bunga berwarna ungu muda,merah,putih dan pink.

Masih tampak lalu lalang beberapa pelayan menyiapkan perlengkapan acara ini.

Beberapa tamu tampak sudah hadir di aula ini.Arjun sebagai Mahasiswa harus melewati bagian Absen dulu untuk menuliskan nama dan menerima souvenir.Tentunya Pak Samsul ada di situ.Arjun dan Indra menemui Pak Samsul.

"Selamat Malam,Pak...",sapa Arjun dengan ramah.

"Oh Yah selamat malam...ayo ayo tuliskan namamu dan nama orang yang datang bersamamu di buku ini...",Pak Samsul langsung menyerahkan pena untuk Arjun

"Ini Kakak saya Pak,namanya Indra...",Arjun membuat Indra maju mendekati Pak Samsul",dan Kakak membawakan satu hadiah untuk Bapak rektor,semoga Bapak dan Ibu senang menerimanya...",

"Owh manis sekali,Hadiah apa ini ?agak besar kelihatannya...",Pak Samsul menerima barang pemberian Indra.Indra tampak grogi,ia terus melirik Arjun,"Kau memberikan hadiah untuk bapak rektor,lalu apa kakakmu ini juga membawakan hadiah untuk bapak ?kalian,anak - anak pasti sangat mengidolakan bapak bukan di kampus,iya kan ? iya kan ?,"

Arjun menoleh ke Indra,lalu Ia tersenyum jahil.Indra agak melotot dan merasa malu.

"Ah maaf pak,saya lupa memberi tahu kakak soal ini...aduh maaf ya pak,maaf...",
Wajah Pak Samsul agak berubah lesu dan judes",Duh,kamu ini,sok lupa atau pelit...buat dosen paling populer di kampusnya saja sampai lupa...",

Indra melihat ke arah aula,Ia melihat Marvin dan seseorang Anak yang lebih muda darinya.Akhirnya Ia berhasil mendapat jalan untuk keluar dari saat - saat yang memalukan ini.sementara Arjun meladeni ocehan Pak Samsul

"E...maaf pak...Arjun...",Indra menyela Mereka.Arjun dan Pak Samsul diam",ada teman Arjun yang memanggil kami,tapi kami terlalu lama di sini,dia sudah melambai kami dari tadi,maaf pak kami lanjut saja menemui temannya Arjun,mari...",Indra menggerakkan badan Arjun.

"Kakak ?!",

"Marvin...",Indra menunjuk Ke arah Marvin.Mata Indra kembali agak melotot

"Oh ya...Akhirnya,Kak...",Arjun tahu maksud Indra",Mari Pak...",

"Oh ya sudahlah...",

Arjun dan Indra beralih dari tempat itu.Arjun tertawa cekikikan melihat apa yang terjadi barusan.Indra menarik nafas.

"Untung Ayah tidak memasukkan aku kuliah di kampusmu...",

"Sepertinya Pak Samsul berusaha merayu Kakak...",kata Arjun pelan - pelan.

"Eh !!!!",Arjun terus tertawa.
Arjun dan Indra menyambangi Marvin dan Marvel,adiknya Marvin.Keduanya sudah berada di dekat tangga dari tadi.

"Ku kira kau belum datang Marvin,malahan kau sudah duluan rupanya,"Arjun menyapa Marvinn

"Oh Arjun,Kak Indra.Ku kira malah kalian yang sudah dari tadi ?",

"Tidak Marvin,kalau kami pegawai dekorasinya mungkin dari sore tadi aku sudah berada di tempat ini...bukan begitu Kak ?",Arjun menoleh ke Indra.

"Kau lihat temanmu ini,Marvin.dari tadi ia menggoda Kakaknya terus menerus...".
Marvin tertawa.

"Kau juga mengajak Marvel ?",Arjuh meraih tangan Marvel dan menariknya.Marvel mencium tangan Arjun.Arjun selalu membelai pipi Marvel ketika bertemu.

"Yah,harus dengan siapa lagi.Dengan Papa ?Ah,tidak mungkin lah.Beliau pikir nanti yang ada hanyalah Anak - anak muda saja.Mama agak kurang enak badan malam ini,ada Bibi yang menemaninya di rumah.

Akhirnya dengan Marvel,tapi untuk bisa mengajak anak ini harus dengan satu syarat...".

"Kakak harus menyelesaikan PR Matematika sampai selesai...",sela Marvel

"Oh Marvin,kau ?!",Arjun melihat Marvin",Kenapa kau malah yang mengambil alih tugas adikmu ?".

"Yah itulah syaratnya,agar ia mau dibujuk untuk menemani.Tapi,aku tidak menjamin ya kalau jawaban tugas ini akan benar semua...",

"Ah,Kakak ?!aku pikir Kakak bisa mengerjakan betulan...payah.. ",Marvel tampak gusar.

Arjun dan Indra tertawa melihat tingkah Kakak beradik ini.

"Setidaknya aku tidak pernah merepotkan kakakku untuk urusan PR,bagaimana aku bisa memintanya untuk membantuku mengerjakan PR,kalau ia selalu ketiduran setelah beberapa membaca soal saja...",sindir Arjun

"Eh...masih beruntung aku mau membantumu,Arjun...",

"Beruntung sekali,Kakakku yang pekerja keras ini selalu menyempatkan waktunya untuk menunggui adiknya belajar...",Arjun menyiku lengan Indra",dia kakak yang paling manis kan Marvin?...",Arjun melirik Indra.Indra bernafas lega,tak sengaja matanya menangkap kedatangan seseorang.

"O Arjun,Marvin,coba lihat...ada satu tamu lagi yang datang...ini ketua geng kalian...",Indra menunjuk Orang itu.

"Niel...",Kata Marvin

"Kenapa dia datang sendirian ?o kasian...",kata Arjun melihat Niel.

Arjun meminta Marvel untuk memanggil Niel.Niel dan Marvel datang bergabung ke kumpulan orang - orang ini.

"Kau datang sendiri,Niel ?",tanya Arjun

"Yah...sayangnya..",Jawab Niel lesu

"sayangnya ?",tanya Marvin

"Ayah,ibu dan adikku lagi tidak punya mood untuk mendampingi.Huffff...padahal ini adalah acara yang sangat spesial....",jelas Niel dengan kata - kata yang berat.

"Mereka kecapekan pasti Niel ?",tanya Arjun

"Yah,aku juga...",

"Kau tidak kecapekan,Niel...kau hanya terpaksa bangun tidur untuk hadir ke acara ini...mukamu jelas sekali...",Arjun memijit kedua pundak Niel.

"Hehe...kalian tahu kan kebiasaanku apa ?",

***

Dan acara pun di mulai dan Pak Samsul yang ditunjuk menjadi Pembawa Acaranya.Untuk urusan ini,Pak Samsul sudah berpengalaman dan sangat luwes.Gayanya yang sangat lincah,Antusias dan selalu ceria.Ini yang membuat acara ini sangat menarik.

Bapak dan Ibu empunya acara sangat terhibur,begitu juga seluruh tamu.Sambutan demi sambutan 
dihaturkan untuk keduanya,dan khususnya bapak Rektor.Ibu terlihat sangat cantik dan selalu mendapat sanjungan karena keramahannya.Begitu juga Bapak,tak sedetik pun senyumnya hilang dari wajahnya.Semua bergemberi malam ini.

suasana lebih meriah saat acara peniupan lilin ulang tahun.Ada dua buah kue ulang tahun yang cukup besar,keduanya bersusun tiga lapis.Keduanya serba merah,putih dan emas.Seluruh tamu tampak tergiur melihat kue ulang tahun ini.Tepuk tangan riuh tercipta saat ibu dan bapak meniup lilin bersama.Seluruh Tamu berdiri ikut merasakam kebahagiaan pasangan ini.

tiba saatnya acara lain - lain yang diisi dengab hiburan.Ada beberapa tamu yang turut memberikan spontanitasnya,mengisi acara ini,tak ketinggalan ada beberapa mahasiswa yang memberikan sumbangan lagu untuk mengisi acara ini juga.

dan disuatu sisi,Arjun dan Indra tampak menikmati snack.Arjun melihat Pak Samsul yang tengah berbincang - bincang dengan seseorang agak jauh dari tempatnya berada.Ia melihat Niel di dekatnya.

Dan kebetulan juga,tampak Malika 
bersama saudara perempuannya yang satu kampus dengan Arjun.Arjun berbicara pada Indra.

Indra menarik nafas",oh lagu kenangan lagi,lagu kenangan lagi...aku mulai bosan Arjun",

"Yaaah...maklum lah Kak,yang punya acara ini orang tua,tamu - tamu juga banyak orang tua,jadi wajarlah mereka terus menyanyi lagu - lagu lama....",

"Dan lagu lama itu slow semua,Arjun...bikin ngantuk tahu ?!",

Arjun ingat sesuatu",Bagaimana Kakak ikut mengisi Acara ini dengan menyumbang lagu dengan genre lain?",
Indra agak tersedak",Apa ?!Arjun,kau ingin membuat malu kakakmu ini lagi...",

"aku bertanya seperti ini bukannya tanpa alasan kak...",

"Maksudmu ?"

"Kakak lihat Niel dan tahu masalahnya yang kapan hari Arjun ceritakan pada Kakak ?",

"Yah...kakak tahu,mengenai Nira...",

"tepat...bagaimana kita membuat pertunjukkan untuk menggoda mereka dan menghibur mereka,siapa tahu mereka bisa melupakan masalah mereka dan...",Arjun menepuk tangannya pelan

"aku tahu!oh...tapi aku malu Arjun,kau lihat kakakmu ini...tak punya modal tampang Artis sedikit pun,nanti malah merusak suasana lagi...",

"Pak Samsul yang dosen yang seperti itu saja bisa membuat tamu terhibur tanpa harus berjingkrak - jingkrak seperti orang gila...",

"uh....kau memaksa ",desah indra lesu
Arjun merangkul Indra"Ayolah Kak ?!Oh lihat...kita bisa mengajak Marvin....dan lihat,aku akan merayu Malika juga untuk ikut bersama kita...",

"sepertinya Malika tampak menjanjikan dengan penampilannya malam ini ?",Indra melihat menyipitkan matanya.

"Yah...Malika akan menjadi artis malam ini,dan kakak akan menguasai acara ini...bersama Marvin...bukan begitu Marvin ?",Arjun beralih ke Marvin.

"Ada apa Arjun ?"

"ini Marvin,Kak Indra ingin ikut mengisi acara ini,ia ingin mengajakmu juga,kak indra bosan mendengar lagu - lagu lama ini,kau dengarkan Marvin ?seperti orang - orang ini ingin membuat semua orang tertidur dengan suara - suara sengau dan layu mereka...",

"Yah...Marvel mulai merengek - rengek minta pulang",

"O kasian..."

"tapi aku agak malu Arjun,aku takut tidak bisa memberikan penampilan yang bagus nanti...",

Arjun mulai berakting,ia menyandarkan sikunya ke bahu Marvin"bagaimana kau bisa malu jika primadona malam ini akan ikut juga bersamamu dan Kakak ?lihat siapa di sana...",Arjun menunjuk ke arah Malika.Wajah Marvin seketika berubah melihat kehadiran Malika.Wajahnya tampak bergairah.",tenang teman,aku akan merayunya untuk ikut bersama kita...",

"Ah kau tidak usah repot - repot Arjun,bilang pada Kak indra untuk menungguku merayu Malika,dia pasti mau !",

"Oh beruntung sekali...",Tatapan Arjun memberikan sebuah Isyarat",Tidak hanya itu Marvin,aku ingin menghibur Niel juga,kau tahu kan ?"

"Tenang...tenang...tenang...serahkan semuanya pada Marvin,aku tidak akan mengecewakanmu dan Kakak...okey?!",

"sip !!kau memang sahabat yang bisa diandalkan....o ya Nira berdiri di sebelah sana...lihatlah...",

"Ah,tenanglah Arjun!kau lihat,sekejap kemudian mereka akan saling mendekat setelah Marvin bertindak bersama sang primadona...tunggu aku ke Malika dulu...",

"weitzzz!!!ini yang kusebut sahabat.."

Musik pun mulai diputar,Indra mulai beraksi.Ia mengajak semua orang bertepuk tangan,begitu juga Marvin.Indra perlahan mendekati Nira saat ia mulai menyanyi,memuji cewek ini,menyanjungnya dan menunjukkan pada semua orang tentang kecantikannya.Nira tampak tersipu malu dan takut.Marvin mendekati Niel,ia juga menggoda Niel,Ia berusaha mengalihkan pandangan Niel ke arah Nira.

Niel tampak menghindar dan sama - sama malunya.Ia selalu berusaha membuang muka.Niel dan Nira tidak sedikit pun bisa terbujuk untuk ikut menari dan menyanyi.Indra dan Marvin mengajak semua tamu bernyanyi dengan irama santai namun menghentak.

Arjun berusaha mengajak Pak Samsul,dan beruntung,Pak Samsul tanpa canggung ikut dalam penampilan mereka.Apa yang ditampilkan Indra,Marvin dan Arjun benar - benar menyedot perhatian seluruh tamu.Rencana Arjun berhasil,namun tidak untuk usaha membujuk dan menggoda Niel dan Nira.

Pak Samsul tampak bersemangat menari bersama Indra.Tingkah konyolnya dalam bergoyang membuat semua orang tertawa dan terhibur.Malika hadir di samping Nira sambil menari - nari,ia juga menggoda Nira untuk mengarahkan pandangannya ke Niel.Malika juga melakukan hal yang sama kepada Niel.Ia juga ikut menari bersama Indra,Arjun,Marvin dan Pak Samsul.Suasana bertambah meriah.Dan malam ini,anak - anak muda itu berhasil menguasai pesta ulang tahun Bapak Rektor.

***

Pagi ini Ia sudah tiba di Rumah Malika,ia mematikan mesin motornya.Ia melihat jam di tangannya,lebih cepat lima menit dari waktu biasanya.

Beberapa detik kemudian,Malika keluar Rumah.Penampilannya selalu cantik dan stylish.Malika membuat rambutnya tergulung dan menjuntai ke bawah.Make up yang tidak terlalu tebal.Pagi ini,ia mengenakan Blazer putih,dengan kaos hitam.Celana jeans hitam.Tak lupa tas kulitnya berwarna putih gading.Sempurna !!

"Marvin,selamat pagi...",Malika melihat jamnya",oh...kau lebih awal lima menit pagi ini...",

"Yah...kau sangat cantik Malika...",

"Kau mengatakannya setiap pagi untukku 
Marvin...",Malika mengusap tangan 

Marvin yang memegang stang Motor.
"Tapi aku tidak pernah merasa bosan mengatakannya untukmu...",

"Mmm...kau sahabat yang baik sekali,Marvin..",Senyum Malika membuat detak jantungnya lebih cepat.Namun,ada sesuatu yang Marvin sembunyikan,Ia berandai - andai Malika mengatakan Kau pacarku yang baik sekali.

"o ya,apa kau terburu - buru pagi ini...",

"Tidak Marvin...ada apa ?",

"Kita jalan - jalan sebentar,gimana ?"

"Bolehlah...sekali - kali,mungkin bisa untuk refreshing sedikit...ayo..",Malika langsung naik di jok belakang Motor Marvin.Mereka langsung meluncur.





Mereka berhenti di sebuah lapangan sekolah yang tak jauh dari Kampus Malika.Banyak Anak sekolah yang melaksanakan kegiatan olahraga pagi di situ.Mulai dari Taman Kanak - kanak hingga SMP.Lapangan ini sangat luas dengan rumput hijau yang masih basah.

Matahari mulai melelehkan embun pagi ini dengan kehangatannya.Malika duduk di sebuah bangku di sisi pinggir lapangan.Marvin datang dengan dua gelas kecil teh hangat yang ia beli dari sebuah warung kecil di seberang lapangan.Ia menyerahkan satu gelas untuk Malika.

Dengan senang hati,Malika menerima teh pemberian Marvin.Marvin duduk di samping Malika.
"Tehnya sangat enak Marvin dan masih hangat..kebetulan sekali,aku lupa membuat teh sebelum sarapan tadi...",

"yah...nikmati saja Malika,masih lama kan jam kuliahmu di mulai ?",Marvin meminum tehnya pelan - pelan

"masih lama Marvin,jangan khawatir...",Malika kembali menikmati tehnya sedikit.

Marvin melihat anak - anak SMP yang bermain sepak bola,dan ia ingat sesuatu",Aku jadi ingat saat dulu waktu masih SMP,saat aku bermain sepak bola bersama Arjun,kami satu kelas dulu Malika...",

"Oh...pantas kalian sangat akrab,Persahabatan kalian dari masa - masa SMP ?",

"Ya...seringkali aku dan Arjun bermain sepakbola berada dalam satu tim...soal main bola dia kurang mahir.Tapi kalau aku",Marvin menoleh ke arah Malika",aku selalu mencetak hatrik berkali - kali,tapi Arjun tidak pernah minder karena kekurangannya dalam bermain sepak bola...",

"Mmmhh...kenapa kau tidak ikut bermain saja bersama - sama anak itu ?kau pasti merindukan saat - saat itu...",

"Tidak Malika.O ya,aku dulu juga pernah menjadi juara dalam turnamen sepakbola antar SMP se-kecamatan.Aku bangga sekali saat itu bersama teman - teman..",

"Hebat sekali,kau suka sepak bola rupanya...",

"Yaaa...kalau kau mau ke rumahku,aku membuat suasana kamarku penuh dengan sepak bola.banyak poster - poster pemain sepak bola kutempel di dinding kamarku,bahkan aku memasang sprei dan sarung bantalku dengan gambar tim sepak bola,kau tahu ?",Malika tertawa ringan

"bagus...pecinta sepak bola..",
Marvin melihat Mata Malika,ia merasakan perasaan lain.Tatapan Malika seperti membawanya dalam halusinasi.

"Tapi,kenangan bermain sepak bola dan juara turnamen itu dulu Malik,sekarang aku tidak mempunyai apa - apa lagi...",Marvin merendahkan suaranya.

Malika mendekati Marvin",jangan berkata - kata seperti itu Marvin,kau boleh tidak punya apa - apa sekarang,tapi coba lihat,kau dan aku duduk bersama sekarang,bukankah saat - saat ini akan membuat lebih terkesan daripada kenanganmu saat SMP dulu...",Perlahan tangan Malika membelai pipi Marvin.Jantung Marvin tetap berdegup kencang.

"Akan tertulis kenangan baru di dalam benak dan hatiku bersamamu mulai saat ini,lalu bagaimana aku bisa melupakan saat ini,saat bersamamu?ku kira akan sulit...",

"Kau boleh Mahir bermain sepak bola hingga menjadi juara turnamen.Tapi,ayolah Marvin,tunjukkan padaku bahwa kau mahir merebut hatiku dan jiwaku hingga kau mendapat piala cinta dari diriku,kau pasti bisa ?",Malika mendekatkan wajahnya ke arah Marvin dengan nada yang rendah berusaha memikat Marvin.

Sekejap Mata Marvin berkedip,halusinasi Marvin buyar.Malika masih berada di tempatnya duduk.Ia merasa aneh.

"Ada apa Marvin ?apa tehnya terlalu manis ?",tanya Malika menaruh gelasnya.

"Ah tidak Malika,tehnya enak kok,kau 
pasti menikmatinya...",

"Yah,ini tinggal sepertiga gelas...",
Marvin tersenyum dan membuang muka.Ia menarik nafas dan berkata lirih",Andai yang barusan tadi benar - benar terjadi...",

Suasana lapangan masih ramai.Dan tak lama kemudian,Marvin mengantar Malika ke kampus.

***
Niel dan Arjun sedang berada di Mall sekarang.Waktu menunjukkan jam tiga lebih lima belas menit.Matahari masih tampak bercahaya terang.

Niel mengajak Arjun melihat - lihat Kamera.Niel sedang ingin membeli kamera namun ternyata uang yang ia punya masih kurang.Ia pun mengurungkan niatnya untuk membeli satu kamera.Niel mengajak Arjun makan di restoran yang terletak di lantai dasar Mall.

"Aku pengen sekali kamera yang aku tanyakan harganya tadi Arjun...kau lihatkan ?",Niel menyenduk makanannya.

"Ya...kamu keliatannya ingin membelinya ?",Arjun mengunyah pelan.

"Hehe...tapi Uangku belum cukup.Tapi,betul !aku pengen membeli kamera yang tadi...",

"Kau sudah bilang sama mbak penjaganya tadi untuk menyimpankannya ?",

"Yah...lusa aku akan kembali...",

"Kau benar - benar gila fotografi sekarang,Niel...",

"hobi baru ini mulai terasa 
menyenangkan...",

Sementara keduanya makan.di sisi lain,tampak Nira berjalan terburu - buru meninggalkan Dandi,pacarnya.Ia barus saja menghadiri sebuah acara di gedung auditorium yang berada di sebelah Mall ini.

Dandi berhasil mencengkram tangan Nira.Namun,Nira malah memberontak.Ia berusaha melepaskan tangan Dandi.Tapi Dandi mencengkram tangannya dengan sangat kuat.Nira pun menambah kekuatannya untuk memukul tangan Dandi.

Wajah Nira tampak basah,seperti sedang menangis.Kejadian ini terus berlanjut hingga Nira terus mendorong Dandi agar ia melepas dirinya.

Tak sengaja Mata Niel menangkap kejadian ini.Spontan,Niel pun berdiri hendak menolong Nira.Saat ia hendak melangkah,Arjun menahan tangannya.

"A a !!jangan lakukan ini Niel...",

"Hei,ada apa denganmu Arjun ?apa kau tidak lihat apa yang terjadi pada Nira di sana ?",tanya Niel mulai emosi

"Kau melihat ke sana,aku pun juga dari tadi...Kumohon duduklah,Niel...ayolah...",
"Tidak,tidak,aku tidak mau !aku akan menolong Nira...",

"Tidak,Niel,kau akan memperburuk keadaan Nira...",kata Arjun tenang

"Apa maksudmu ?",tanya Niel mengernyitkan dahinya.

"Duduklah Niel,sebentar saja...",pinta Arjun halus dengan sesekali melihat Nira dan Dandi.

"Haaah,terserah...",Niel pun duduk dengan semangat yang padam",ayo jelaskan padaku kenapa kau menahanku ?",

"Apa kau masih ingat janjimu pada Nira untuk menjauhinya ?",

"Yaaah...",Niel membuang muka

"Pasti Nira sudah memberitahu Dandi.Maka Dandi akan berpikir bahwa kalian bermusuhan.Mengerti ?",

Niel mulai tahu maksud Arjun",tapi...",Niel melihat Arjun."

"kaitannya apa yang terjadi sekarang,dan yang kita lihat di sana,coba bayangkan Niel,Andai saja aku tidak menahanmu,lalu kau berkelahi dengan Dandi untuk menyelamatkan Nira,apa kau yakin Nira akan baik - baik saja setelah kau menyelamatkannya ?

coba bayangkan,apa yang akan terjadi pada Nira ?,pasti Dandi akan lebih menyakiti  dan menyiksa Nira untuk dua alasan,kau tahu ?",jelas Arjun pelan - pelan.

"Apa itu ?",

"Pertama,untuk alasan kenapa ia tidak mau menuruti apa mau Dandi sekarang yang menyebabkan mereka bertengkar.
Kedua,ini yang akan memperparah,Jika kau menyelamatkan Nira,Dandi pasti akan menganggap Nira sebagai Penipu,karena ia tahu kalian masih saling berhubungan,ini juga akan membuat Nira merasa was - was jika kau tidak menepati janjinya.karena ini menyangkut keamanannya bersama Dandi yang berwatak seperti itu.ini yang bisa kujelaskan,mengerti Niel ?",

"Yaah...aku terlalu cepat terpancing emosi...",

"Yang terpenting sekarang adalah mengalah dan tetap mengamati keadaan Nira.Kau tahu kan Niel,batu karang saja akan terkikis oleh gelombang air laut yang setiap saat datang padanya.Besi pun akan berkarat jika terkena air,dan lama - kelamaan akan menjadi lapuk dan hancur.

Buat perumpaan ini untuk hati Nira.Hanya masalah waktu saja Niel,kau mengalah dan menyabarkan dirimu.Semua orang pasti punya saatnya untuk tiba pada titik jenuh merasakan sakit hati.

Ketika Nira sudah tiba di titik jenuh itu,pasti ia akan menjauhi Dandi,dan kau tahu apa yang harus kau lakukan jika saat ini benar - benar terjadi?ini kesempatan emas untukmu Niel,untuk cintamu pada Nira...",

"Lalu,bagaimana dengan sakit hati yang Nira rasakan ?apa kau juga tidak merasakannya juga ?",

"Kau sahabatku,kau mencintai Nira,aku merasa bahagia kau bisa mencintai seseorang.kau melihat Nira merasakan kesedihan,kau juga pasti merasakan apa yang Nira rasakan,dan sahabat pasti saling berbagi apa yang tengah mereka rasakan....bukan begitu ?

dan dengan rasa sakit itu akan semakin membuat Nira mengerti,ia akan membuat perbandingan antara kau dan Dandi,itu pasti !dan dengan perbandingan itu akan membuat Nira tahu dan sadar, ini juga akan membuat Nira tidak akan menjatuhkan pada pilihan yang salah,pada seorang cowok yang salah....ada lagi ?",

"speechless...",

"Nah...",



Akhirnya Nira berhasil lepas dari Dandi,Ia langsung berlari sekencang mungkin.Ia langsung naik taksi yang .Ia berusaha menguasai dirinya saat berada dalam taksi.Tapi,Matanya terus melelehkan Air mata dan perasaanya terus bergejolak.Sesekali Nira mengusap air matanya.

Mengetahui Nira pergi dari tempat itu,Niel juga langsung mengikuti Nira bersama Arjun.Nira berhenti di jalan sepanjang pinggir Sungai yang menuju taman kota.Semua orang biasa mengunjungi tempat ini.Kursi - kursi panjang hitam itu tertata rapi di setiap beberapa meter.

Nira duduk di kursi ke lima,Ia langsung menumpahkan tangis dan kesedihannya.Ia sudah tak bisa membendung air matanya lagi.Wajahnya memerah karena merasakan syok atas apa yang terjadi padanya baru saja.Ia terus mengingat - ingat perlakuan apa yang saja yang ia terima dari Dandi.semakin banyak ia mengingat,hatinya semakin terasa sakit.

Ia merasakan kehadiran seseorang yang sudah berdiri di samping kirinya.Ia menahan tangisnnya sejenak dan melihat orang itu,Niel.Niel berdiri beberapa langkah dari kursi tempat Nira duduk.Niel melihat wajah basah itu,bekas - bekas aliran air mata,dan guratan kesedihan yang jelas.Niel melihat mata Nira basah,entah kenapa ia merasakan sakit dan sedih juga melihat mata Nira yang perlahan meneteskan air mata.

Nira memutar hadapannya perlahan.Ia melihat sungai yang mengalir tenang.Tapi,hatinya seperti merasakan aliran sungai yang sangat deras.Ia terisak - isak dan berusaha menahan tangisnnya karena adanya Niel.

"Kau tidak apa - apa Nira ?",Niel memberanikan diri untuk bertanya.

"Yah...yah..a..aku baik - baik saja...",Nira mengangguk dan membuang muka.

"Apa yang terjadi padamu ?",perlahan Niel mendekati Nira.

"Tidak ada yang terjadi padaku,semua baik - baik saja...",Nira mengepalkan kedua tangannya untuk menahan tangis.

"Apa yang kau lakukan di gedung auditorium barusan bersama Dandi ?boleh aku tahu ?",pertanyaan Niel membuat Niel terkesiap,Ia tidak menyangka bahwa Niel tahu di mana ia sebelumnya.Ia juga berpikir Niel pasti tahu apa yang terjadi padanya baru saja.Nira melihat wajah Niel yang ingin tahu.

"Dandi mengajakku pergi untuk menghadiri acara temannya dan...",Nira terus mengulang kejadian barusan,rasa sakitnya terus berulang ia rasakan",Dandi...Dandi...dia...Dandi...dia...",Nira merasa kehabisan daya untuk terus menahan perasaannya.Ia menunduk dan kembali menangis.

Niel beralih ke hadapan Nira.Perlahan ia berlutut di hadapan Nira.Tangis Nira seperti mengikis perasaannya.Mata Niel berkaca - kaca.

"aku sakit Niel....aku....sakit...kenapa aku harus menerima perlakuan kejam seperti tadi ?",Air mata Nira kembali mengalir",aku...sakit hati..Niel...",

Niel ingin membelai rambut Nira,namun ia tahan tangannya karena Ia ingat janjinya kepada Nira.Ia mengurungkan niatnya.

"bagaimana sebenarnya yang terjadi. ?",tanya Niel halus.

"Ayahku menelfonku,Beliau bilang kakak laki - laki sepupuku akan datang menengokku,empat bulan sekali ia menengokku,dan aku selalu berusaha untuk berada di rumah saat ia datang,karena ia sudah banyak membantu keluargaku....Ia juga sangat menyayangiku,Ia anak tunggal dalam keluarganya,jadi ia menganggapku seperti adik kandungnya sendiri...Ia akan datang nanti jam lima,,dan ayah mengajakku untuk menjemputnya di bandara...

aku pun meminta Dandi...untuk mengantarku pulang,namun...dia..,"samar - samar Nira ingin kembali menangis",dia menolak permintaanku,aku merayunya berkali - kali tapi ia tetap menolak,bahkan ia marah padaku di hadapan teman - temannya...ia juga mempermalukanku di hadapan teman - temannya...akhirnya,aku memutuskan pulang sendirian,namun Dandi menahanku...ia sampai menancam akan memukulku...dia ingin menam....parku",Nira terisak - isak."aku tidak menyangka Dandi sampai bersikap seperti...aku tidak menyangka Dandi,mempunyai sifat seperti itu.

ia selalu memberi apa yang aku mau,ia selalu mengajakku pergi ke mana saja.Ia selalu berkata 'Kau akan selalu merasa bahagia bersamaku'.Namun,apa yang aku terima baru saja darinya...",Nira sesekali menyeka air matanya",di luar bayangkan.beginikah seorang cowok memperlakukan seorang cewek ?,begini kah ?

sekejam ini perlakuan seorang cowok terhadap seorang cewek,aku tidak terima....aku...aku..aku sakit hati.kenapa dia,cowok sampai memperlakukanku seperti ini ?,bagaimana jadinya diriku jika ia terus memperlakukanku seperti ini,Niel ?Bagaimana ?

Andai ada seorang cowok yang lebih mengerti keadaan dan perasaan,aku akan merasa...",Nira terkesiap dan sadar terhadap kata - kata yang tengah ia katakan",Nyaman dan bahagia bersamanya...",Ia sadar bahwa Niel ada di hadapannya.Ia merasakan perasaan yang lain.Dan keadaan ini malah menambah kekacauan pikirannya.

Nira berdiri dan meninggalkan Niel.Niel berdiri tanpa memanggil Nira.Nira meninggakan Niel sendiri di tempat itu.Ia merasakan dirinya dalam kebingungan,kekacauan dan kesedihan setelah ia mengeluarkan kata - kata yang seperti baru saja.Angin menerpa Nira.Angin membuat Rambut Nira melambai.Angin seolah - olah ingin tahu kebingungan apa yang tengah terjadi pada Nira.

Niel memutar hadapannya.Ada Arjun di situ,baru saja ia berdiri di situ.Arjun tersenyum.Niel merasa tak berdaya melihat keadaan Nira.Ia ingin menolongnya namun tidak bisa.

Arjun meraih Lengan Niel.Perlahan panas Matahari mulai memudar.Arjun mengajak Niel menepi pada pagar yang di pinggir sungai sambil mengusap punggung Niel.Tak perlu susah payah untuk menguasai keadaan Niel yang seperti ini bagi Arjun.Arjun berusaha menghibur Niel.

Sementara Nira,Ia berhenti di ujung pagar taman ini.Ia kembali menangis untuk menumpahkan kesedihannya.Ia mengelus dadanya.Sebuah perasaan takut dalam dadanya.Ketakutan terhadap Niel,terhadap perasaan Niel yang mungkin tersinggung setelah ia mendengar kata - katanya barusan.Nira berpegangan pada pagar.Ia biarkan Air matanya menetes ke sungai.Ia terus menangis hingga terasa matanya kering.


Sincerely,
Salaam-E-dostana

Fajar Adi

Komentar

Postingan Populer