REBELLION : "Struggle Of Heart"
Suasana saat Hujan mulai reda. Hawa Dingin mulai merembet masuk. Sepi suasana Kafe Malam ini. Terlihat satu atau dua meja saja orang duduk. AC dimatikan karena Hawa dingin ini sudah sama dinginnya.
Jalanan aspal yang basah. Halaman dengan beberapa genangan Air. Aliran kecil tampak di daun - daun. Ternyata di luar masih Hujan dengan bulir - bulir Halus.
Sepasang Orang masuk ke dalam Kafe. Aku tengok siapa mereka, aku sangat terkejut melihat seorang Pria yang bersama Wanita itu. Aku menebak apakah Wanita itu....Ah Bukan,Bukan. dia bukan wanita yang selalu terlihat bersamanya di foto - foto Instagramnya.
Aku sedikit menarik diriku ke dalam. Namun,aku tidak mau melepas kedua mataku untuk mengamati mereka. Aku tahu Pria itu,aku tahu Pemuda itu. Aku tahu segalanya tentang Pemuda itu.
Aku sengaja bersembunyi karena suatu alasan. Aku tetap mengamati mereka yang memesan dua cangkir Cappucino Hangat. Mereka bercengkrama dan sesekali Bercanda. sekejap muncul ribuan tanya bagai Hujan yang kembali turun di dalam fikiranku.
aku tetap mengamati mereka untuk menjawab rintihan tanya yang semakin menderas di fikiranku. Sambil menata dan mengelap Gelas - gelas dan cangkirku. Tak Lupa aku memakai Maskerku untuk menyembunyikan Identitasku.
***
Mereka datang lagi. Mereka tampak lebih mesra. Mereka selalu tertawa seolah - olah yang mereka rasakan di hidup ini adalah Keceriaan.
aku selalu sigap ketika mereka tiba - tiba datang,langsung memakai maskerku dan berlagak seolah - olah tak terjadi apa - apa meski aku kenal pemuda itu.
Kali ini mereka datang sore hari. Kafe lumayan rame. Jadi Aku harus membantu teman Waiter mengantar pesanan. Aku sempat bertemu pandang dengan Pemuda itu. Namun aku bersikap biasa saja,seperti orang lain yang tak pernah saling mengenal.
Kali ketiga mereka datang, akhir pekan. Aku baru saja selesai mencuci semua perabot sekaligus menatanya di rak. Aku selalu mengamati mereka seperti mata - mata meski aku bukan siapa - siapa.
Mereka tetap mesra dan selalu tertawa. Mataku menangkap detik - detik jemari pemuda itu menggerayami tangan Gadis itu. Tangan Gadis itu diraih kemudian Perlahan Pemuda itu menciumnya.
Oke,aku tahu aku seorang Bujang. kalian berpikir aku terbawa perasaan ketika melihat adegan ini. TIDAK !!! Aku sudah menyaksikan Adegan teramat romantis ini di Kafe ini.
Aku yakin Kafe,tempatku bekerja ini,punya nuansa magis yang kuat sehingga mampu menciptakan energi dan gairah romansa Anak muda.
Tiba - tiba Pemuda itu meninggalkan Gadis itu setelah menerima Telefon yang sepertinya Penting sekali. Ia sempat menggenggamkan beberapa lembar uang merah ke tangan Gadis itu.
Firasatku kuat,aku yakin mereka teman satu kantor. Gadis dengan penampilan yang Wah,lumayan seksi,Make Up yang mampu mengikat pandangan siapa saja,Sikap bersahaja namun agak kemayu yang mungkin aku saja bisa terpikat olehnya.
Namun,sekali lagi,TIDAK !!! aku akan memberi kalian kisahku sendiri dengan Versi yang lebih hebat dari Kisah Mereka ini.
Si Gadis itu datang ke Kasir untuk membayar. Aku duduk di sebelah kasir untuk mendampinginya. Kulihat cara jalannya,aku yakin dia juga hobi modelling atau dia tidak cuma pekerja kantoran bahkan dia salah satu anggota Agensi model terkenal.
Wajahnya selalu cerah dan ramah. Ia sekejap melihatku.
"Hai,Terima kasih atas pelayanan yang baik...",
Aku sekejap berubah Grogi"Oo ya...sama - sama, sudah tugas kami memberikan pelayanan terbaik. Kami harap anda selalu berkenan mampir ke kafe kami"
"Ya selalu,aku suka kafe ini. aku suka nuansa kafe ini. aku suka kopi yang ada di kafe ini...aku akan mengajak teman - temanku nongkrong di kafe ini...",
Aku menyelutuk tanpa sadar" termasuk dengan yang barusan ?"
Gadis itu melihat gelagatku" Hei....ada apa ? kenapa kamu seperti itu ? apa kamu kenal dia ?"
"Tidak terlalu...",
"Tidak terlalu,tapi kau selalu melihatnya. kau selalu mengintainya. apa ada yang salah dengannya ? atau apa ada sesuatu dengan dia ? O...jangan - jangan ada sesuatu di antara kalian...",
"Dia teman Sekolahku waktu SMA. Maklum kan tiba - tiba saja dia muncul di hadapanku. Setelah sekian lama,kau pasti tau juga ketika kau tiba - tiba bertemu teman lama..",
"Kau teman SMAnya tapi kenapa kau tidak menemuinya ? tidak menyapanya,atau setidaknya memberi kami sedikit diskon untuk kami dengan begitu kami bisa jadi pelanggan tetapmu...",
"Tidak....Aku takut...Aku tidak ingin menemuinya karena sesuatu hal. Kau mengajaknya sudah beberapa kali saja aku sudah bahagia...",
"Hei...hei...ada apa ya ? kau membuatku penasaran,aku bisa membaca wajahmu sepertinya kau sangat ingin tahu segala hal tentang Aryaan...",
"Panjang ceritanya,namun aku tidak mau cerita pada sembarangan Orang...",
Gadis itu mengajakku berkenalan.
"Liana....Liliana,kamu ?",
"Aku...sebut saja James",aku tak menyebutkan namaku yang sebenarnya",tapi aku boleh minta sesuatu hal padamu Liana...",
"O apa itu ? kita baru kenalan kau mau minta sesuatu padaku,apa itu ? hadiah tanda jadi Teman,tanda tangan,atau kenang - kenangan....",
"Aku minta tolong jika kau bersamanya dan bertemu denganku,atau kau ke kafe ini,anggap saja aku orang lain,anggap saja kita tidak pernah berkenalan.
Jangan pernah bercerita pada Aryaan tentang keberadaanku di Kafe ini. Jangan pernah bercerita bahwa kita pernah berkenalan.
Aku akan menceritakan semuanya padamu tentang masa laluku dan Aryaan sewaktu sekolah. Bantu aku untuk menutupi identitasku di hadapannya. Abaikan saja keberadaanku jika kalian berada di kafe ini....",
Liana langsung mengiyakan permintaan dan Aku langsung menggali lebih jauh informasi tentang Aryaan lebih jauh.
***
Telefon itu dari Aini. Ia pun meninggalkan Liana demi Aini,Tunagannya. Aini sudah menunggunya di rumahnya.
Ada sedikit penyesalan untuk Momen ulang tahun Aini kali ini,Ada sedikit ketakutan dalam hatinya,Ia tak ingin ada Prasangka tidak baik Kedua Calon Mertuanya untuk ini. Terutama Keterlambatannya kali ini.
Ia mempercepat laju mobilnya. Aini sudah memakluminya,Aryaan akhir - akhir ini banyak Meeting dan Kepentingan ke luar Kota. Aryaan takut Aini akan merasa kesepian tanpanya.
Meski sayangnya tidak,Liana lah yang menjadi rekan kerja saat urusan ke luar kota. Aryaan hanya takut jika suatu saat Aini tahu Calon Suaminya ternyata mempunyai rekan kerja Wanita dengan penampilan dan Attitude yang Wah, terlebih hubungan Spesial yang terjadi di antara dirinya dan Liana.
Tiba di Rumah Aini. Aini tampak bahagia dengan kehadiran Aryaan. Namun ada roman - roman tersembunyi di balik sambutan hangat Keluarga ini.
Ekspresi Ayah Aini sangat kontras,enggan tersamarkan melihat Kehadiran calon mantunya,kecewa. Mata Aini sembab seperti Ia baru saja menangis. Aini beralasan habis menonton drama Korea saat menunggu kehadiran Aryaan.
Pasangan ini meniup lilin dalam Suasana Bahagia dengan bayang - bayang suasana yang membuat Aryaan masih khawatir dan Bertanya - tanya.
****
Aini diam - diam memeluk tubuh Aryaan dari belakang. Aryaan melihat kehadiran kedua tangan ini di dadanya. Wangi parfum ini selalu menjadi Pemikat dirinya untuk Aini.
Pelukan ini semakin erat. Aini menaruh Kepalanya di punggung Aryaan. Perasaan yang bercampur ini kembali menebar bibit kekacauan dalam fikirannya.
Bulan bersinar terang namun Acuh tentang keadaannya. Angin dingin menyibak helai - helai ujung rambutnya. Namun Rasa Takut ini seolah telah menjadi akar yang mencengkram kuat dalam Bumi Kalbunya.
"Ijinkan aku memelukmu lebih lama....",Kata - kata Aini terdengar berat seperti kerinduannya pada Raga dan Bau Tubuh Aryaan.
Cincin emas dengan permata bening kecil itu masih tersemat di jari Manis Aini. Ia terkesiap,seperti diingatkan. Ia meraba tangan Aini sehingga kedua cincin mereka bersandingan.
"Amanah,Jangan Ingkari Amanah yang telah kau ucapkan !!! Jangan berkhianat pada Hati yang Cintamu telah kau tambatkan !! Karma Tuhan siap menimpamu jika Kau lancang berbuat demikian.
Ada dosa yang berat bahkan sulit terampunkan Karena ada hati yang telah kau beri lara dan luka....",Bisikan Ini seperti Ancaman dan Pengingat bagi dirinya. Ia menenangkan dirinya. Ia menuntun Aini ke ranjang. Keduanya menghabiskan malam ini bersama.
***
Liana mengunjungiku di Kafe petang ini. Ia penasaran tentang Apa yang terjadi diantara Aku dan Aryaan di masa lalu. Aku tak ingin bercerita pada sembarang orang.
Kebetulan ada Seorang Wanita yang menjalin hubungan spesial dengan Aryaan,tak mengapa aku membagi cerita masa laluku.
Dandanan Liana menunjukkan dia adalah sosok yang Elegan dan Cantik. Paduan busana,Make Up yang tak terlalu berlebihan,gaya rambut dan yang terpenting adalah Sikap tutur katanya.
Aku tak bisa membayangkan seumpama Aku dipertemukan dengan Aryaan. Dia langsung mengajak Liana pergi dan pasti Ia melarang Liana untuk kembali ke Kafe. Tapi ini tidak ada kaitannya masalah masa lalu kami, Kami seorang Pengusaha,Penjual juga butuh konsumen dari berbagai kalangan.
Sayangnya,Ego manusia yang buruk dapat merusak segalanya. Liana menyimak baik - baik cerita yang aku sampaikan padanya. Panjang,lebar,dan berurutan karena aku masih benar - benar mengingatnya.
Aku tak ingin menarik simpati Liana. Aku tak berniat sama sekali meminta Liana untuk bersekongkol balas dendam terhadap Aryaan atau bahkan pelan - pelan menjatuhkan Aryaan.
Tidak !!! Aku bukan manusia Bangsat ! Justru Aku bahagia Liana mampu menjadi penghubung bagi kami. Meski Aku dan Aryaan belum tepat saatnya dipertemukan. Aku tak. ingin mengganggu Aryaan dan Liana.
Rasa posesif itu jelas masih ada. Aku berharap bisa meraih Kebaikan yang ada di dalam Hati kecil Aryaan yang tertutup Ego dan Rasa Bencinya terhadapku selama ini yang belum reda.
Liana juga akan membantuku untuk membuka Mata Aryaan. Tidak ada yang manusia sempurna di dunia ini.Tidak selamanya Hati Nurani Manusia dikuasai Amarahnya.
Handphone Liana berdering. Panggilan Masuk dari Aryaan. Aryaan meminta Liana untuk menemaninya mencari suatu barang sebagai Kado. Kado Ulang Tahun Aini.
Liana tak keberatan untuk ini. Liana juga tak ingin merusak hubungan yang hendak lanjut ke jenjang yang lebih serius itu. Sebenarnya Liana menyukai Aryaan. Namun Tujuan utama Liana ingin selalu berada di samping Aryaan bukanlah Cinta.
Namun jika suatu saat Aryaan berubah perasaan dan nasib membuat Aryaan dan Aini berpisah kemudian Liama menjadi Tujuan selanjutnya Harapan Aryaan maka Ia tak menutup Hatinya.
***
Malam harinya Aryaan dan Liana bertemu di pusat kota. Liana menyarankan Agar Aryaan memberi Jam Tangan sebagai Hadiah Ulang Tahun Aini tahun ini.
Aryaan menyetujui saran ini. Mereka langsung menuju ke Toko Jam tangan. Nuansa setelah Hujan gerimis malam ini dengan Hawa dingin.
Mata Aryaan melirik Wajah Liana yang tetap tenang namun Keanggunannya selalu menyita perhatian. Tangannya mencari keberadaan tangan lembut Liana kemudian menggenggamnya.
Liana menoleh ke arah Wajah Aryaan. Senyuman ini sedikit menghangatkan Kalbu Aryaan yang masih terselimuti Atmosfir kegelisahan.
Aryaan mengangkat tangan Liana,Nafsunya menggerakkan dirinya untuk mencium Tangan Liana. Namun Liana berhenti dan menahan tangannya. Aryaan memandang Liana heran.
"Aku tahu dia sangat mencintaimu,dan kau sangat takut jika hal buruk terjadi karena hubungan kita ini akan merusak segalanya. Akan ada Hati yang terluka jika Karma buruk menimpa kita. Aku sangat takut jika saja kau berani selangkah lebih maju dengan perasaanmu terhadapku....",
"Semuanya akan baik - baik saja,Aku masih menjaga cinta untuknya. sekarang aku bersamamu,tidak ada salahnya jika aku membagi perasaan yang sama untukmu..",
Liana melepas genggaman tangan Aryaan "Sebenarnya aku mencintaimu, dan pada siapa pun dengan begitu saja. Namun,tak selamanya,Kisah cinta yang tercipta bukan kisah yang indah.
Aku tak ingin membuat tragedi yang menumbalkan kebahagiaan seseorang. Kesetiaan ketika telah menjadi bagian dari Nafas akan sangat terasa sakitnya jika diberi luka....",Sentuhan Lembut Liana membelai pipi Kiri Aryaam",Silahkan kau minta diriku untuk menemanimu kapan saja,aku akan melakukannya...",
Aryaan tersenyum "Jangan berpikir Cinta akan menjadi sebuah Noda yang mengotori Kesucianmu. Setiap Orang berhak atas Cinta dan dicintai. Aku mencintaimu,tak mengapa kau tak aku jadikan tujuan hidupku. Aku tahu kau tidak sakit hati atau keberatan
Tapi,setidaknya...",Aryaan mendekati wajahnya. Nafasnya terasa di sekujur pipi Liana",Cinta yang kuberikan bisa mengusir kesepianmu. Ijinkan aku singgah pada dirimu.
Namun,seandainya aku terlena,jangan salahkan diriku jika aku terlanjur nyaman dan aku sampai gelap mata berputar haluan kepadamu...",Ciuman halus itu membuat Bulu Roma Liana berdiri.
***
Malam Esoknya Aryaan menemui Aini. Aini sedang berada di Kamar. Ia tengah menyelesaikan suatu pekerjaan. Akan ada beberapa Proyek foto Pre-Wedding di berbagai lokasi terpisah.
Ia menyiapkan segela keperluan untuknya bersama tim nanti. Ia teringat sesuatu. Buku Album foto Pre-Weddingnya dan Aryaan tak jauh dari jangkauannya.
Ia mengambil buku itu. Ia melihat foto - foto itu. Setiap tarikan nafasnya ada hawa - hawa Kebahagiaan. Ia melihat foto Candid Aryaan. Senyum dengan tatapan pemikat itu membuat relung - relung hatinya berbunga.
Ia melirik Jari manisnya. Selangkah lagi menuju Kebahagiaan selamanya bersama Kekasih tercinta. samar - samar Rasa Cemas berkelabat di fikirannya. Ia sediki menyesali keterlambatan Aryaan di perayaan Ulang tahunnya kemarin.
Aryaan hadir dengan membawa sesuatu. Ia langsung duduk di sebelah Aini. Ia menyaksikan Aini melihat Buku foto itu. Ia menggenggam tangan Aini.
"Waktu ternyata telah cepat berlalu...",
"Ya. Semenjak aku bersamamu,aku mengabaikan seberapa cepat waktu berlalu. Aku hanya menikmati kebersamaan denganmu.
Apa kau masih tetap bahagia bersamaku setelah sekian lama ?",
"Sepuluh Tahun, kau tahu...",Aryaan menunjukkan Cincin yang ada di Jari Manisnya"dan ini menjadi tanda Pencapaianku dan kau setelah sekian lama menempuh waktu bersama. Cinta. ini jawaban pertanyaanmu...",
Aryaan memberikan Tas kertas berisi kado itu. Aini menerima dan membuka isinya. Sebuah Jam tangan. Aini terkesima melihat Hadiah ini. Ia melihat Aryaan dengan rona - rona wajah bahagia begitu terang.
"Aku mengabaikan waktu sehingga membuatku terlena,aku sampai lupa hari bahagiamu kemarin. Aku merasa bersalah dan menyesal....",Aryaan memakaikan Jam itu ke tangan Kanan Aini",dan ini menjadi tanda Permohonan Maafku. Aku tahu apa yang kau rasakan...",
Aini langsung memeluk Aryaan dengan perasaan haru. Penyesalan yang ada di dalam hati Aryaan seperti Luluh. Aryaan mengusap kepala Aini dengan sentuhan terlembut.
"Aku tak bisa menghentikan waktu dan kesabaran keluargaku untuk bisa menanti kehadiranmu. Aku tahu apa yang kau rasakan. Tidak apa - apa. Dengan ini",Aini menunjukkan Jam hadiah dari Aryaan",aku akan selalu memakainya,ini akan mengingatkanku tentang kapan saatnya kau bisa siap untuk diriku,dengan begitu aku akan lebih mengerti tentang kesibukanmu. Aku mencintaimu. Kau berjuang demi aku....",
Aryaan tersenyum.
***
Liana ada janji untuk menerima kejutan dari Aryaan. Aryaan akan mengajak Liana makan siang di hari Spesial Liana. Hari Ulang Tahun Liana.
Aku sudah menyaksikan Liana berulang kali menolak panggilan yang masuk ke Handphonenya. Semua panggilan itu dari Aryaan.
Liana bercerita banyak hal padaku. Sebenarnya Liana tahu Aryaan dalam dilema. Hubungan gelap diantara dirinya dan Aryaan. Perjuangan Aryaan untuk tetap menjaga Aini dan Ketakutan Aryaan yang timbul karena Kekcewaan Ayah Aini terhadapnya mulai terlihat kontras.
Sepanjang waktu Aryaan dihantui perasaan takut itu. Ia harus berusaha untuk mengambil kembali hati Ayah Aini. Ayah Aini adalah Seorang Sensitif dan Emosional. Terjadi perubahan Sikap Ayah Aini yang mulai dingin dan terkesan Acuh terhadap Aryaan.
Aku hanya menjadi pendengar yang baik bagi Liana. Aku menyimak setiap Cerita yang disampaikan padaku. Aku tak ingin ikut campur untuk masalah Aryaan. Aku hanya memperingatkan Liana agar Keberadaan Liana dan hubungan itu tidak sampai tercium oleh Keluarga Aini.
Setiap Orang boleh berhubungan dengan siapa pun selama itu tak melewati batas kewajaran. Tapi untuk kasus Aryaan dan Liana jikalau sampai melewati batas itu urusan mereka. semenjak Pertemuanku dengan Liana waktu itu. Kami semakin Akrab.
Aku tak berniat sedikit pun mencampuri hubungan Aryaan dan Liana. Hanya saja aku tak ingin Liana akan bernasib sama denganku di hadapan Aryaan. Tak dianggap ada keberadaanku di dunia ini sebagai Manusia yang bernafas.
Keluar dari Kafe,Liana menjawab telefon Aryaan. Mereka mengobrol di telefon sepanjang jalan. Di sisi lain,muncul Aini dari arah lain,Ia baru saja keluar dari Toko Hijab.
Liana sudah tampak dari Ujung Jalan oleh Aryaan. Aryaan mengangkat - angkat satu buah rangkaian yang akan ia berikan untuk Liana. Aryaan berlagak salah tingkah namun Liana mengkode untuk tidak bertingkah demikian.
Liana mencapai bahu jalan. Seseorang menyapa Aryaan hingga membuat perhatian Aryaan beralih,ternyata rekan kerja dari kantor yang lain. Namun ketika Aryaan kembali ke arah semula,ia mendapati pemandangan yang membuatnya terkejut dan tersentak.
Di seberang Jalan sudah berjejer dua Wanita. Pemandangan yang mencengangkan ! Liana dan Aini,kedua wanita yang tak saling mengenal bisa berjejer dalam waktu bersamaan.
Kedua wanita ini mulai berjalan. Degup jantung Aryaan semakin kencang. Kekhawatiran Aryaan semakin terpacu. Keduanya mulai berjalan menuju satu pria yang sama,Aryaan.
Sementara,Aryaan berusaha menyembunyikan kepanikannya. Senyum Liana terasa melemahkan kekuatan jiwanya. Senyum Aini terasa menyejukkan hati.
"Aini....",panggil Aryaan kepada tunangannya dengan suara mantap. Sontak Liana berhenti dan berbalik. Aini mencapai Aryaan dengan rona - rona wajah ceria yang tak sirna.
"Sayang,kamu ? kenapa ada di sini ?",
"Hari ini aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat,jadi aku bisa pulang cepat...",
"dan bunga ini ?",
"Oh...Bunga ini untukmu ?",Aryaan menyerahkan Bunga itu pada Aini dengan rasa sesal yang menggumpal.
"Oo...Sweet,terima kasih. Aku akan langsung pulang,ibu pasti sudah menunggu belanjaanku di rumah. Bye....",
"Ya. Bye...",
Aryaan bernafas lega. Aini pulang dengan hati yang berbunga - bunga dengan membawa Satu karangan Bunga mawar merah ini.
Aryaan segera mencari Liana. Liana memberi tahu kalau ia ke kafe biasa. Aryaan bergegas.
***
Liana tak bersedih karena Ia tak menjadi pemilik karangan bunga itu. Namun,Ia meminta Aryaan untuk menemaninya ke suatu tempat. Aryaan menyanggupinya. Tak hanya itu sebagai Ganti karangan Bunga itu,Aryaan akan meluangkan waktunya sehari hanya demi Liana.
Pagi hari,Bangun tidur Liana di sambut satu tangkai Mawar Merah di meja lampu. Bunga itu di atas selembar kertas
"Sun Rise seem Less Beautyfull when I get your first Opened Eye in the Morning.....",surat sambutan pagi ini dari Aryaan.
Aroma Gurih Kopi tercium masuk ke dalam Kamar Liana. Seseorang tengah menyeduh kopi di dapur. Liana bergegas menuju ke dapur.
Ternyata sudah siap Dua gelas Kopi dan Kue menyambut pagi ini. Aryaan membuat semua ini Khusus untuk Liana. Liana duduk di Kursi dapur ini.
Aryaan melihat kehadiran Liana. Ia berhenti mencuci tangannya. Keduanya bertatapan dengan pandangan yang sangat dalam. Liana tersenyum tipis.
"I'm sorry....",Aryaan berbisik.
"Sorry for What ?",
"Seharusnya bunga kemarin menjadi milikmu,tapi kehadiran Aini mengubah segalanya....",
"Tapi,kau tidak berubah untuk tetap menyayangiku...",Liana mengusap Dagu hingga Pipi Aryaan dengan telunjuknya.
"Aku takut mengecewakanmu....",
"Aku takut Kau mengecewakan dia hingga dia bisa mulai curiga tentang apa yang kau lakukan semuanya selama ini...",
"Apa kau pernah mengecewakan seseorang ? sehingga keadaan sedikit berubah...",
"Aku bukan manusia sempurna,Aku bukan manusia yang mampu menjaga kenyamanan seseorang selama waktu sampai kapan pun. Aku pernah mengecewakan seseorang hingga mengubah semua keadaan",
"Kau pernah mencintainya ?",
"Rasa terbaik ketika Seseorang mampu membuatku nyaman adalah Cinta. Tapi takdir berkata lain,Aku berfikir Cinta yang aku berikan mungkin tak sama berharganya dengan Cinta milik Orang Lain yang belum ia rasakan. Jadi,Ia meninggalkanku...",
"Kau pasti kecewa ?",
"Aku percaya memelihara rasa cinta yang terbaik adalah Jalan terbaik untuk memperbaiki segalanya",
"Apa kau sudah merasa memberikan Cinta terbaik untukku ?',
Liana terdiam sejenak.
"Jangan pernah membuat perbandingan Cinta antara diriku dengan dia. Setiap Pria sejati datang untuk satu Cinta. Setiap Pria akan menjaga Cintanya bagaikan barang berharga"Tangan Lembut Liana membelai pipi Aryaan ",Jika kau masih mendua,jangan pernah bersiap untuk menjaga keduanya. kau akan tau rasanya.
Aku takut akan ada hati yang tersisih dan terluka. Namun,Jika aku yang tersisih,aku sudah terbiasa,masalahnya Apa kau bisa melupakan Bagaimana rasanya kau memberikanku Luka ?",Liana perlahan mencium pipi Kiri Aryaan.
***
Liana dan Aryaan sedang berada di Kafe ini. Aku berani keluar di Meja Bartender dengan menutupi Mulutku dengan masker.
Aryaan tak mengenaliku namun Liana tetap mengenaliku. Aku sempat mengangguk pada Liana sebagai tanda salamku.
Aku menangkap Gelagat mencurigakan seseorang yang berada di Pojok Kanan ruangan. Liana duduk di sebelah Kiri Pertengahan,agak dekat dengan meja kasir.
Seorang Wanita yang ku perhatikan memantau Aryaan dan Liana. Wanita ini tampak serius mengamati mereka. Wanita ini sempat memfoto Aryaan dan Liana dengan Handphonenya tanpa disadari oleh Mereka.
Apakah Wanita itu dikenal Oleh Aryaan atau Liana ? atau Wanita kenal dengan Aryaan atau Liana ? tapi aku tebak,dilihat dari penampilannya yang satu style pakaiannya dengan Aini,pasti dia adalah salah satu teman Aini.
Aku sempat sedikit Khawatir. Semoga tidak terjadi Apa - apa....
*Bersambung Ke Bagian Ke dua...

Komentar
Posting Komentar