KAU DAN AKU






"Dari mereka aku belajar tentang apa itu Posesif,apa itu kebencian,apa itu kebaikan dan apa itu kesetiaan. Jika aku diberi kemampuan untuk menaklukkan siapa pun dengan mudah hanya dengan menatap saja,maka aku akan cukup menaklukkan mereka berdua. kenapa harus mereka berdua ? apakah tidak ada orang selain mereka ?

Jawabannya terletak pada rasa kesan pertama. Semua berhak atas rasa pada setiap orang yang mereka temui,bahkan pertama kali. aku tidak ingin muluk - muluk dari mereka,aku tidak ingin menjadi seorang yang spesial di mata mereka meski nyatanya aku hanyalah selingan pandangan yang membuat tidak nyaman dipandang mata.

Aku selalu menahan diri dan mengikuti alur hidup ini,apa yang terjadi di hidupku mengiringi perjalanan setiap hidup dari mereka. rasa jera tak membuatku tak berdaya meski membuatku terhina di hadapan siapa pun aku berada.

Aku tahu aku sudah menjadi orang paling ia benci bahkan yang selalu ia hindari,namun aku yakin dibalik rasa dan peristiwa yang ada pada jiwamu tersembunyi sosok baik hati dan pemaaf bahkan berjiwa besar hanya saja waktu menahan keadaan ini dan membiarkannya cepat berlalu. aku tahu semua itu ada pada dirimu,Daru.

Di pandang sebelah mata tak membuatku begitu rendah diri,masih bersyukur bisa berada dekat dengannya bersama teman - temannya yang lain itu sudah cukup bagiku,tapi aku selalu berharap aku bisa menjadi sosok yang spesial,Sahabat salah satu contoh nyatanya bagi dirimu,namun aku selalu mencoba mengikutimu meski keadaan diriku tak bisa menyamaimu,tetapi aku selalu ingin berterima kasih padamu,Moko."

***

Aku ingin sedikit berfantasi lewat serangkaian kisah ini,andai saja aku bisa mewujudkan apa yang aku inginkan bersama Daru dan Moko,aku ingin melakukan apa yang seperti yang terjadi pada khayalanku ini.

Tentunya kembali pada Masa - masa seragam Putih Biru dulu...

Seperti saat Pagi hari Upacara Hari Senin selalu rutin dilaksanakan,Lagu Indonesia Raya terdengar khidmat dinyanyikan. Seluruh siswa dengan tegap hormat ke arah Sang Saka Merah Putih. Suasana mulai terik,bulir - bulir peluh mulai menetes di setiap kening Siswa kulihat. Titik - titik embun di lapangan nun hijau ini sementara menguap menyebarkan bau khasnya.

Sesekali aku mencari wajah seseorang di barisan kelas A. ternyata ia tetap hormat ke arah bendera meski sesekali bercanda dengan temannya karena kepanasan. aku sejenak menoleh ke arah belakang,ternyata sama halnya dengan Moko. Saat - saat paling menyejukkan adalah bubar Upacara kemudian kami kembali ke kelas masing - masing.

Angin - angin sejuk yang hadir dari pepohonan filisium menyejukkan tatapanku ketika menatap Canda Daru bersama temannya. wajah yang berpeluh dengan senyum cerahnya. Namun,aku tak tergerak untuk menyapanya,bukan tak tergerak namun tak berani.

Suatu ketika,aku hendak keluar menuju lapangan,Daru baru saja tiba di jalan depan Sekolah,kebetulan diantar ibunya. kami tak sengaja bertemu pandang,aku selalu menghitung entah itu dalam waktu dua atau tiga detik kemudian ia selalu mengalihkan mukanya. Sikap yang aku dapat ketika kami berpapasan,dan itulah salah satu bentuk hukuman yang tepat untukku karena suatu kesalahan yang terjadi di antara kami dan itu aku yang menyebabkannya.

Aku selalu membiarkan itu terjadi,tidak tahu entah sampai kapan,hanya saja entah kenapa aku selalu menjelma seorang paling bodoh dan tak berdaya ketika berada di hadapannya. namun,aku selalu berharap suatu saat...

***

Gosipnya santer terdengar kalau Daru sedang dekat dengan seorang cewek yang masih satu sekolah ini,aku tak tergerak membesarkan rasa ingin tahuku karena cepat atau lambat aku akan tahu dia akan selalu berjalan ke mana saja dengan siapa.

Dan benar,aku pernah sekali memergokinya jajan bersama di Kantin belakang sekolah. aku selalu diam tanpa menegurnya. dan selalu bersabar mendengar ketika temannya menggoda Daru dengan berkata " itu pacarmu(aku) datang...",

Sekejap itu pun muka masam Daru langsung menjadi pemandangan rutin buatku,namun aku sadar diri kemudian menyingkir. Selalu begitu ketika waktu istirahat.

Kembali ke kelas,aku terkejut mendapat sikap yang berbeda dari Moko. begitu aku duduk,ia langsung duduk di sampingku. Ia mendekat.

"eh gimana sih caranya deketin cewek ?",tanya Moko dengan tatapan menyala.

Aku mengangkat alisku sebelah kanan,sekejap menoleh.

"haloooo...kamu nggak tanya sama teman kamu yang itu duluan ?pasti mereka malah lebih ngerti dari pada aku?...",aku berusaha sedikit mengelak

"eleh....ngerti apaan ? mereka malah ngetawain aku,bilang aku kok bisa suka sama cewek,dari kemaren - kemaren begitu lama - lama jengkel juga diketawain mereka...",

"terus kamu kepikiran sampai mau tanya ke aku gitu ?",

"ya kali aja kamu tahu...",

"Seriously ?",

"Ya iyalah....ayo kamu tahu nggak gimana caranya ?tapi kamu jangan ikut ngetawain aku kayak mereka...",

"Oke.....",

Obrolan pun dimulai, di situ aku merasa seperti insan paling beruntung di dunia ini pada hari itu. aku berusaha menolong Moko dengan permasalahannya.

Hari Pertama,Moko memintaku untuk menyampaikan surat kepada Cewek Incarannya,Rhena. Satu permintaan yang menantang karena aku harus masuk ke kelas lain dengan resiko kehebohan yang tak bisa aku bayangkan.

Ternyata Rhena sedang berkumpul dengan teman - teman ceweknya sedang mengoles Kutek dan mengobrol segala hal pubertas  hanya mereka yang tahu. aku dengan polosnya mendekati Rhena,menyapanya,kemudian menaruh surat itu di hadapan Rhena,aku memberi tahunya bahwa itu dari Moko.

Rasa bawah sadarku menangkap pandangan - pandangan jijik dan heran tertuju padaku dari sekian teman Rhena. aku secepat kilat kembali ke Moko. kami bernafas lega.

"Adi....",Seseorang memanggilku,aku berbalik ternyata Rhena", Thanks Ya....",

"he eh....",

Rhena berkedip ke arah mata orang lain. aku menoleh ke Moko ternyata bola matanya bergetar,dia sekejap berubah gagu. cepat Moko sadar,ia langsung menarikku dan lari ke kelas.

"uffff....",Moko terengah - engah,

"Okey ?", aku menepuk - nepuk punuk Moko dengan halus.

"Oh yess...",wajah lega itu memberi kesejukan kepada mataku.

"Trus besok rencananya apa ?",

Kami kembali menyusun rencana menarik untuk yang akan datang. Dan satu waktu aku mendapatkan waktu longgar bersama Moko. Moko mempersilahkanku berbicara apa pun. aku tak ingin menyia - nyiakan kesempatan ini.

Tak lain adalah aku curhat tentang Daru. aku tak bermaksud mengikut sertakan Moko dalam masalahku,hanya saja aku ingin ia mendengar keluh kesahku dan siapa tahu ia bisa mengerti atau bahkan mau saling bertukar pikiran.

Aku tak bisa berbohong soal ini,aku sampai merasa berada di titik paling terendahku,titik di mana aku merasa dipandang hina oleh siapa saja sebab masalahku dengan Daru.

Selesai bercerita,Moko tak berkata apa - apa,ia hanya menatapku agak lama,perlahan tersenyum. Tangannya menggenggam tanganku kemudian merangkul bahkan mengusap bahuku yang lain tanpa meredakan senyumnya.

Serasa tak percaya mendapat reaksi ini,yang ada hanya ada rasa nyaman dan sejenak kesedihan itu tertutup oleh suasana reaksi ini.

"Okey ? sudah ?",pertanyaan ini seolah menjadi kode dari Moko.

Mungkin Moko tidak bisa berkomentar tentang masalahku saat ini atau belum bisa memberi reaksi atau saran yang tepat,ia hanya saja memberi Penghiburan yang luar biasa ini.

Ia perlahan berbisik "rencana B ?",

Aku terbelalak namun sedikit merasa salah paham. apapun yang terjadi aku selalu bersyukur dan berbahagia pada apa yang telah aku terima.  kami melanjutkan pembicaraan.

****

Aku tertarik untuk mencari di mana tempat tinggal Daru,di kampung mana ia tinggal. aku sudah tahu nama kampungnya. Suatu waktu di hari yang begitu terik,aku bertanya ke beberapa orang yang aku temui tentang di mana Kampung yang aku maksud.

Dapat ! aku pun bersemangat mengayuh sepedaku untuk menjumpai bagaimana suasana kampung di mana Daru tinggal. aku tertarik pada suasana tempat ini. Kampung nun asri di pinggir pegunungan di sebelah selatan.

Tak jadi masalah aku belum tahu di mana letak rumahnya secara persis. setelah sering berpetualang mencari jalan terdekat dari rumahku untuk menuju tempat ini akhirnya aku mendapat jalur tercepat untuk menuju kampung ini.

Pagi hari di lain waktu,satu keberuntungan,aku melihat seorang pemuda keluar hendak berlari pagi. aku hafal postur badan itu bahkan wajah itu dari kejauhan,Daru ! aku meninggalkan sepedaku di gubuk yang tak jauh dari rumah Daru berada.

Aku mengikuti ke mana Daru lari pagi dari jarak yang cukup jauh. aku memakai topi sebagai penyamaran sederhanaku. Hawa dingin yang hadir jalan dengan kanan kiri tanaman Tebu yang menjulang tinggi. Pohon - pohon jati tertanam rapi di sisi - sisi jalan.

Cukup jauh rute lari pagi kali ini,hingga melewati pinggir kampung yang berada di sebelah selatan,ada bangunan Sekolah Dasar dan Balai Desa di situ,bersebelahan.

Daru masuk ke rumahnya. aku beristirahat sejenak di dudukan batu yang berada di seberang rumahnya. aku sedikit terengah - engah. setelah cukup beristirahat,aku kembali ke gubuk untuk mengambil sepeda.

Namun,tiba - tiba seseorang menahanku dari belakang,aku terkesiap dan penasaran siapa dia. saat berbalik ia menyodorkan sebotol air putih. aku spontan memandangnya,Daru.

Daru agak terkejut melihatku,ketakutanku seperti biasa tumbuh dan rasa bersalahku menghantui di pagi itu,aku merasa malu membuka topiku. tanganku bergetar menerima air minum itu.

"Terima kasih...",aku mengangguk malu dan takut

"sama - sama...",

Aku pikir dia akan langsung meninggalkanku namun tidak ,ia masih berdiri mengamatiku meneguk air minum itu.

"kamu ngapain di sini ?", Nada pertanyaan yang tak kuduga darinya. aku pikir dia akan mengintrogasiku soal mungkin aku membuntutinya.

"aku...aku..aku cuma pengen liat  kamu...",aku menunduk seperti Seorang murid kena setrap. aku tergerak menengadah.

"Emh....",seakan tak percaya,itu adalah senyum walau samar untukku pagi ini. Daru menggeleng. Ia mengulurkan tangannya.

Aku melihatnya dengan penuh tanya.

"Ayok...ikut aku...",

"Ke mana ?", aku segera meraih tangan itu.

Daru mengajakku berkeliling kampungnya. kami berjalan tanpa beban. aku seolah lupa apa yang terjadi di antara kita. Sesekali Daru menjelaskan tempat yang ia tunjuk.

"Thanks ya...", ucapan itu seakan - akan menghipnotisku untuk tak percaya apa yang telah aku lalui bersamanya pagi ini.

Dan di lain kesempatan,aku kembali ke kampung ini. siapa tahu aku bisa kembali mendapat keberuntungan bisa bertemu dengan Daru. Namun,kali ini tidak, dari jauh aku melihat Daru hendak bersepeda dengan Seorang Cewek,kulihat Nita ternyata.

Hmmm....inikah yang dinamakan dua anak insan yang sedang pacaran ? aku melihat Daru bersepeda sementara Nita membonceng di depan,hari ini begitu cerah. Tak terasa terik karena berangin.

Aku tergerak membuntuti mereka dari kejauhan dengan penyamaran yang sama sederhananya dengan waktu itu. jalan mereka tak terlalu cepat karena mereka sembari bercengkrama dan bercanda di sepanjang jalan. aku menyaksikan bagaimana suasana keceriaan dua anak manusia ini.

Mereka bersepeda ke arah pegunungan yang daun - daun pohonnya meranggas di musim kemarau. Hamparan sawah di sebelah timur kampung ini kering,terdapat bekas - bekas Tebu yang telah dipanen.

Lama - lama bosan membuntuti mereka,akhirnya aku memutuskan kembali pulang,namun aku sempat berhenti di depan rumah Daru,pemandangan rangkaian Gunung di sudut barat itu selalu menjadi pemandangan terindah.

***

Suatu hari,Sekolah melakasanakan rutinitas Senam bersama. Semua murid berkumpul di lapangan luas ini. Pagi yang muram dengan rerumputan hijau ini masih basah. Suara bapak guru Olahraga berteriak mengatur barisan kami terseru melalui Toa yang diselingi suara lengkingan michropone.

Rentangkan tangan,Semua merapikan barisan. Tiba - tiba ada yang menepuk ujung tanganku dengan keras. Moko ! entah apa yang membuatnya bersuasana tak seperti biasanya. Polahnya yang salah tingkah. dia sesekali menari - nari sendiri padahal gerakan senam belum dimulai.

"udah ketemu Rhena tadi ?",

"Yah yah",Moko merinding dan mengangkat bahunya

"trus ?",

"dia senyum ke aku...",Senyum lebarnya itu dipermanis dengan tah lalat kecilnya di sebelah kiri bawah bibirnya.

"itu aja?...",Musik senam dimulai kami mengikuti gerakan senam.

"iyaaah...",

"eh tau nggak,aku tuh pengen apa sama Rhena ?", Moko kali ini tumben bersemangat senam hingga ia sangat luwes bergerak.

"Apa ?",

"aku bisa dansa aja sama Rhena...",

"Eh !",

"Eh ?",Moko memicingkan satu matanya

"bisa kamunya ?",

"demi Rhena apa sih yang nggak bisa...",

"kalo gitu coba gantiin pak guru
pimpin senam sana bisa nggak ?",

"tapi sama Rhena ...",lirikan matamnya yang meledek,

"haeeeh...terserahlah...",

Pagi dengan kejadian konyol yang tak terduga. aku selalu memperhatikan Moko selama senam. yang jelas,aku juga merasa semangat dan bahagia dengan tetap mendukung apa yang dia inginkan.

Entah apa ia akan memperhatikan aku balik juga atau tidak. setidaknya aku cukup bangga aku bisa diikutkan dalam sebagian kisah hidup Moko. aku tak ingin mengambil alih dia dari temannya yang lain. keadaanku tak sama dengan lainnya. entah kenapa ? yang jelas aku seperti mempunyai duniaku sendiri,dunia fantasiku sendiri.

Rencana B !!!

Gila ! Anak cowok satu yang bernama Moko ini benar - benar gila ! di jam istirahat kedua ini ia langsung menemui Rhena di kelasnya. aku berusaha membuntutinya dengan sigap.

Namun pintu kelas Rhena terlanjur tertutup,mungkin Moko yang menutupnya hingga terdengar sorakan terkejut gadis - gadis itu dari dalam kelas. aku perlahan mengintip dari balik jendela.

Ah !! apa aku tidak salah lihat ?! Serasa mulutku menjadi barang paling berdosa saat itu,ya tapi tidak ada salahnya kan tetap menyemangati dan menghibur seorang Moko yang terkadang Moodnya naik turun menderita asmara ABG yang membara.

Moko menjadi bulan - bulanan Gadis - gadis itu. Rhena sesekali mengelus - elus mukanya kemudian menyuruh teman - temannya yang beringas mencubiti wajah pipi dan seluruh wajahnya. bahkan hidungnya yang mancung itu,Ah....aku tidak bisa membayangkannya. aku pun kembali ke kelas dan berakting seolah - olah tidak pernah melihat kejadian aneh dan konyol
barusan.

GUBRAKK !! Suara bel masuk ini kalah seru oleh suara pintu yang tertabrak seseorang. Aku terbelalak,ternyata Moko dengan badan loyonya menabrak pintu,dia bertingkah seperti orang gila. seluruh wajahnya memerah,kulihat coretan coretan berbagai macam warna dari berbagai barang,entah itu lipstik,kutek,bahkan debu - debu kapur yang tercoreng di ujung Hidung Mancungnya.

Aku bergidik melihatnya,aku merasa menjadi orang paling berdosa saat itu. tapi lucu juga bisa membantu menumbuhkan keberanian seseorang yang semoga tak keberatan jika aku menyebutnya seorang sahabat. Teman - temannya Moko dan temen - teman sekelas lainnya terpingkal - pingkal melihat ulah Moko.

Saat pulang,aku menepuk  bahu Moko dan berjalan mengiringinya. Aku mengacungkan jempolku dihadapannya dan mengangkat - angkat alisku. aku bertanya padanya dengan menatapnya.

Ia merangkulku hingga menekanku,Ia menindis jempolku dengan rasa bahagia dan puas. Ia geleng - geleng kepala seperti menjelma sebagai seorang Juara.

***

Sekolah mengadakan Jalan Sehat dengan rute yang ditempuh sangat jauh,hingga melewati Polsek. Dan akan berbelok arah ke selatan melewati Mesjid Jami'. Sayup - sayup aku mendengar seseorang bermain gitar dari arah belakang.

Aku tengok sebentar,Ooh...Romansa Remaja sekali lagi aku saksikan. Daru dan kawan - kawan ,yang seharusnya berada di barisan depan karena kelas A duluan,kencan On The Street di acara jalan sehat ini.

Teman - temannya bermain Gitar dengan santainya dan sesekali terdengar Harmonika. Daru bernyanyi di samping kanan - kiri Nita secara bergantian. Daru merajuk agar bisa bermesraan dengan Nita,namun kali ini Nita sangat jaga sikap.

Daru tak memperdulikannya,sekali diabaikan ia malah sesekali berdendang dengan temannya. melihat peristiwa ini ,kebetulan tiba tak jauh dari kompleks masjid jami' berada,aku melihat kubah masjid itu seraya mengucap rasa syukur dalam hati.

Meski aku tidak bisa bersenang - senang dan bersenda gurau bersama Daru dan temannya,setidaknya menyaksikan tingkahnya aku bisa merasakan atmosfir yang sama.
Permainan Harmonika yang lincah ini menambah keceriaan polah mereka. terik matahari tak terasa.

Pengalaman menarik lain datang saat - saat sekolah mengadakan kegiatan kemah di suatu lapangan sekolah militer. aku dan Moko serta teman yang biasa bersamanya berada dalam satu regu. kami berada dalam satu tenda,dan di even itulah aku belajar hidup mandiri jauh dari rumah dan orang tua,meski tak sejauh seperti  orang merantau,dan berkegiatan yang kuketahui ternyata lapangan itu bersinggungan dengan salah satu tempat angker.

Dan,sebelumnya mohon maaf,nyaliku tak segagah seperti Ayam jago berkokok setiap pagi,saat Acara Jurit malam ,seluruh siswa diajak beruji nyali mengelilingi barak - barak militer hingga tempat mandi yang kabarnya angker,soal ada apa yang di situ aku tidak tahu,sedangkan aku tidak ikut dan beralasan aku tidak enak badan,Yaaa.....tidak enak badan karena ciut nyali sebelum ikut berkeliling.

Selama jurit malam,aku hanya mendengar serangkaian jeritan gadis - gadis,yang entah siapa dan dari kelas apa, tidak tahu,aku hanya meringkuk di tenda pembina dengan bau - bau minyak kayu putih di gelap malam yang pekat. sementara musik yang tidak ku kenal ini terus berisik membuat hati tak karuan.

Malam saat acara api unggun,kami tak menyangka akan ada pertunjukkan spontanitas sebagai hiburan,kami sempat panik dan tidak tahu apa yang dilakukan. aku melihat api unggun yang menyala,aku menunjukkan api itu ke Moko.

Api itu sebenarnya tak berpindah,dia menyala dan bergerak namun menjadi pusat perhatian. aku mendapat ide,jika api bisa menyita perhatian dengan nyala dan gerak,bagaimana tidak dengan Kita manusia.

Awalnya Moko tidak mau kuajak untuk melakukan penampilan gerak dan lagu,tapi Sosok Rhena menjadi senjata andalanku,aku mengompori Moko supaya mau ikut aku . aku meyakinkan Rhena akan terkesan dan tekagum jika Moko bisa menari dengan bagus,aku tidak melarang jika Moko sampai menarik Rhena untuk ikut dalam penampilan kami.

Kami sepakat,aku yang mengarahkan gerakan mereka. Perlahan tapi pasti,Moko mulai bersemangat hingga membuat Improvisasi. sesekali mataku melihat bagaimana reaksi Rhena. Moko sampai berani menarik Rhena ke regu kami. bahkan teman - teman Gadis Rhena lainnya.

Sekejap kehebohan tercipta,dan harap - harap cemas kami tidak didiskualifikasi karena ulah spontanitas dan kekonyolan anak muda yang polos dan tak berdosa ini. tapi kulihat mereka yang berada di barisan pembina bertepuk tangan dan menyoraki kami,bahkan bapak ibu guru ,yang bercap killer,pun ikut melambai - lambaikan tangannya.Moko semakin semengat menari duet bersama Rhena.

Tak sengaja kutebar pandangan,Daru dari kejauhan bertepuk tangan menyoraki kehebohan polah Moko dan teman - temannya. aku tidak berharap perhatiannya terpusat padaku.

Aku hanya mendapat ide dari bagaimana Satu buah api unggun. aku berusaha untuk membakar semangat teman - temanku layaknya api menghidupkan suasana malam gelap gulita ini. yang jelas,kami GILA malam ini.

***

Musibah besar itu terjadi,Gempa besar saat itu telah merusak Sekolahku. Gedung sebagian besar rubuh dan hancur. Pagi itu aku tiba lapangan depan sekolah,telah berdiri tenda darurat.

Aku segera mencari - cari Moko. aku bersyukur dia baik - baik saja. aku teringat satu orang lagi,Daru. aku pun bergegas mencari keberadaannya. aku melihatnya tak jauh dari tempatku berdiri,dia berada di sebelah selatan.

Aku bergegas mendekatinya,namun aku berhenti saat melihat teman - temannya bersama dirinya,bercerita pengalamannya saat Gempa Melanda. Daru melihatku,kami bertatapan. ia mengangguk sebagai tanda baik - baik saja bagiku. aku mengangguk pelan membalasnya. aku kembali ke teman - teman sekelasku dan Moko.

Suatu ketika aku berpapasan dengan Cewek Daru,Nita. aku selalu diam bahkan mengabaikannya ketika kami berpapasan. kali ini dia menahanku di sela - sela tenda darurat ini.

"sebenarnya kamu sama Daru tuh kenapa ? kok kalian kayaknya diem - dieman...",

"ah nggak kenapa - napa kok ? emangnya kenapa ?",

"Nggak kenapa - napa kok kalian diem aja kalo ketemu,malah Daru buang muka dari kamu,coba kayak yang lain biasa aja...atau kamu yang gaya sok - sok cari perhatian Daru kayak yang dibilang teman - temannya Daru ?",sikap Nita terkesan memojokkanku.

Aku menceritkan semua yang terjadi di antara kami untuk membungkam kesinisan ini. Orang punya cara sendiri untuk menghadapi masalah yang terjadi,tak perlu menunjukkan pada semua orang sehingga terkesan membesar - besarkan.

Memang terjadi salah paham hingga buntutnya sikap teman - teman Daru selalu mempermalukanku dengan menyangkutkan masalah kami hingga membuat Daru malu pada akhirnya ia selalu muak melihatku.

Masa Pubertas dengan segala sesuatu yang belum pada posisi dewasa. segala fantasi dan Main Hakim julukan seenaknya sendiri untuk membully seseorang itulah dinamika remaja yang sedang beranjak tumbuh dewasa.

"Setiap kali aku selalu mendapatkan sikap acuh dan kebenciannya,namun sekali - kali aku tidak akan pernah menjelekkannya meski secara diam - diam. aku bisa saja membisu menerima sikapnya,namun aku bisa membuat dia seolah - olah tuli ketika semua orang diam - diam tahu keburukannya lewat diriku,aku bisa saja membuat nama baiknya jatuh begitu saja.

Namun,aku sadar diri,aku ini siapa,kekuatanku seberapa. kau bahkan seluruh murid di sekolah ini tahu aku ini terkenal dengan sosok yang bagaimana. sebaik apa pamor atau namaku di mata kalian ,sementara kalian sekali melihatku saja tak bisa lepas untuk membullyku dengan sesuatu yang telah akrab dengan telingaku.

Aku tidak pernah melarang siapa pun menghinaku di hadapan Daru,apalagi hinaan itu menyangkut diri Daru,karena aku sadar akan kesalahanku,kecerobohanku,itulah hukumanku. aku pun tak ingin mengemis simpati atau belas kasih darimu atau kalian untuk sedikit membelaku.

bahkan aku tidak pernah melawan kalian membullyku,mungkin dengan cara ini nanti di masa depan kalian akan mengingat sosok diriku,tapi aku pun tidak menuntut kalian untuk mengingat diriku.

hanya saja,aku tidak bisa menentukan nasib baik atau buruk seseorang di masa depan,coba rasakan dan fikirkan jika suatu saat kau atau kau menyaksikan salah satu dari mereka yang membullyku berada di posisi yang tak jauh berbeda dariku saat ini di masa depan,di situlah kau akan tahu bagaimana rasanya menjadi diriku saat ini.

Jangan pernah mengecewakan seseorang,apalagi Daru. jangan pernah menghianati kepercayaan atau perasaan seseorang ,terlebih perasaan Daru padamu. Tidak ada manusia yang jahat,terkadang mereka lengah hingga akhirnya mereka mampu diperalat amarah mereka untuk berbuat satu kekacauan atau ketidak baikan.
aku,atau mungkin kau tidak akan menemukan sosok orang baik lagi,Selain Daru....",aku menutup mulutku dan sekejap meninggalkan Nita. Mulutnya seperti terbungkam mendengar kata - kataku. aku tidak menghiraukan pada apa yang telah aku lakukan barusan. aku hanya membela diri.

Ketika seseorang tergerak untuk menjadi seorang munafik,di saat itulah tak selamanya teguran yang baik bisa  didapatkan oleh orang tersebut,namun saat ini Tuhan masih sayang pada salah satu Hamba-Nya.

Setiap orang berpeluang untuk menjadi Antagonis atau bahkan paling kejam sekalipun,namun jangan sampai terjebak dalam sifat Munafik. kau tidak akan pernah tau seberapa cepat atau lama ludah yang kau jilat berulang kali itu berbau busuk.

***

Akhirnya gedung yang baru sekolah kami selesai dibangun ulang,kali ini kami mendapat gedung bertingkat. kami kembali bersekolah seperti biasanya. semua kembali seperti semula meski kami sudah menginjak kelas tiga.

Kuamati beberapa kali,sepertinya Daru sudah tidak bersama Nita lagi. padahal waktu telah berlalu sekian lama. kami sempat mengungsi ke suatu Sekolah Dasar untuk melanjutkan Kegiatan Belajar Mengajar,dan selama itu kehidupan kami biasa saja.

Namun kali ini,kutebak,apakah hubungan Daru dan Nita telah berakhir. ketika aku sekali bertatapan dengan Daru,selalu ia membuang muka,namun kudapati nuansa lain di wajahnya. dia seolah - olah malu di antara keceriaan canda tawa temannya.

Penasaran dan Tumbuh rasa ingin tahu,di balik itu ada rasa bersalah yang mendalam. apakah karena perkataanku dulu hingga Nita....Ah,aku menepis semua itu,timbul satu konklusi dari semua rangkaian kisah perjalanan hidup ini yaitu Karma.

Kita bisa memilih untuk selalu menjadi Protagonis. Kita juga bisa memilih untuk menjadi Protagonis atau Antagonis ketika menghadapi keadaan atau pilihan sulit yang mungkin mampu mengubah hidup atau sudut pandang terhadap hidup kita. Kita juga berhak untuk tidak dipaksa menjadi Antagonis namun kita berpeluang menjadi Antagonis. Tak selamanya Seorang Tritagonis mampu bisa memparbaiki keadaan atau mengembalikan keadaan seperti semula.

Menjadi Antagonis dari Protagonis terkadang semudah membalikkan telapak tangan. Namun,Seorang Tritagonis tak bisa luput dari watak Munafik. muasalnya dari manajemen jiwa kita saja,apapun perannya semua masih harus sadar bahwa kita masih bisa waras dan punya akal pikiran.

***

Satu Even spesial saat itu,Pameran seni lukis oleh Bapak Guru Seni Lukis dan Pemilihan Mas dan Mbak Sekolah. Daru terpilih sebagai Mas di sekolah kami. Bersamaan dengan lomba Tumpeng saat itu,Daru dan Si Mbak Sekolah duduk manis seperti pengantin yang duduk di pelaminan dengan dandanan baju adat lengkap di depan pintu kantor.

Sontak semua siswa mengerumuni pasangan manis ini,aku pun mendekatinya di dekat Tangga yang berada di depan gedung sekolah. Mereka ini seperti melihat seorang raja dan ratu dari negeri mana,tidak tahu.

Namun,kusadari,tiba - tiba seluruh murid perlahan mundur serentak menjauh dari teras kantor. mereka melihatku dengan tatapan yang membuat perasaanku tidak enak. apakah karena diriku mereka menjauhi Daru dan Si Mbak sekolah ini ?

Jelas !!! bisik - bisik yang terpekik di telingaku itu jelas membicarakanku. sebab itulah mereka menjauh,namun tak semuanya menjauhi Daru. kulihat keceriaan wajah Daru hilang. suasana hening sejenak. aku panik melihat semua memandang sini kepadaku,tak sedikit menatap muak diriku. sama halnya dengan Daru.

Tiba - tiba Daru mendekatiku,sembari mencengkram tanganku,ia berbisik "Nanti ke rumahku...". Daru menarik tanganku menerobos kerumunan siswa - siswa ini. Mereka membuat jalan untuk Kami. Daru sempat menyentak tanganku hingga tasku jatuh dan terseret. apakah ini yang dinamakan Prosesi "Dipermalukan" ?

Sekilas Kulihat Nita melihat kami di antara murid yang berdiri di teras. Daru begitu saja mengayunkan tanganku hingga badanku sedikit ikut terayun. sekilas kulihat adik perempuanku,yang berdiri bersama teman - temannya di barisan belakang penonton,menyaksikanku tak berdaya mendapat perlakuan ini. Daru meninggalkanku tanpa berkata - kata. aku tidak tahu apa maksud perlakuan ini,namun aku justru ingin tahu apa maksud Daru menemuinya di rumahnya setelah ini.

Mungkin dengan perlakuan ini bisa membuat hati seluruh hadirin siswa yang menyaksikan Pasangan manis itu puas aku dipermalukan. itu saja fikirku. aku tak merasa sedih atau apapun. Malu ? itu sudah menjadi topeng yang aku gunakan ketika aku menginjakkan sekolahku untuk menuntut ilmu. kembali ke rumah,aku hanyalah sosok anak ingusan,miskin,seorang penggembala kambing,bau,tak punya apa - apa.

***

Aku memenuhi permintaan Daru saat itu,aku hanya duduk di dudukan batu seperti saat itu. aku tidak seperti anak lain yang sudah diamanati barang mewah serupa handphone,namun aku selalu berangan - angan untuk menabung dalam jangka waktu sekian lama,meski tak kunjung bisa.

Adzan 'asar mulai sirna gemanya,sore dengan panas yang berangsur,angin yang seolah - olah memberiku hawa segar seperti biasa aku hadir di tempat ini. aku setia menunggu untuk beberapa waktu. hampir leherku merasa pegal menoleh ke teras rumah Daru dengan pintu yang tertutup.

Sekali ku menoleh ternyata pintu ,sepertinya itu pintu ke arah sumur,atau garasi,telah terbuka. namun Daru tak kunjung muncul. aku berada di ujung sabarku menunggu. aku mulai meraih sepedaku untuk kembali,dan bersiap - siap menerima omelan dari bapak karena telat melepas kambingku untuk cari makan.

Tidak !! penantianku tak sia - sia. seseorang menahan sepedaku,kulihat ternyata Daru. kali ini muncul perasaan jera dan takut. aku tak bergeming sedikit pun. tapi wajah itu tak kalah terang cahaya matahari sore ini.

Tangan kananku diraih,Daru menyerahkan sesuatu,seperti tumpukan kertas. kulihat,aku terkesiap,itu adalah tumpukan surat yang sesekali kuselipkan di sedel sepeda Daru setiap pulang,kutaruh di laci Daru ,satu waktu pas di hari ulang tahun Daru,dan lainnya aku lupa.
Aku melihat Daru,Ia mengangguk.

"Terima kasih...untuk semua ini..",Daru menepuk halus tumpukan surat dariku ini.

Ia mengajakku duduk di dudukan batu itu. ia mengajakku ngobrol. ia menjelaskan maksud dari sikap dan perlakuannya kemarin saat Acara Mas dan Mbak.

Hati tidak pernah membohongi jiwa yang gundah dalam diriku bahwa dia adalah sosok yang baik hati. meski aku tak merasa pantas menyebut diriku untuknya sebagai teman atau lebih terhormat sebagai Seorang Sahabat,setidaknya aku selalu menjaga nama baiknya.

Aku memang tak sehebat dia,tapi dia tak pernah merendahkanku. keadaan kami berbeda tapi kami sama tinggal di kampung atau desa. aku tak punya pamor sebaik dia,tapi nasib menjadi orang yang terhina atau terbully selama itu aku harap tak membuatnya ikut menanggung dosa.

Aku memang tak sepintar dia,tapi aku tidak pernah menyaksikan dia mendeklarasikan kepintarannya seperti seorang Proklamator,terlebih dengan jiwa  kesombongan. kau dan aku ,memang tak sama. tapi yang aku tahu kau tetap baik hati dan berjiwa besar.





*Memori Espedisi(SMP N 1 WEDI), Terima Kasih untuk Almamater Terbaik,Terima Kasih untuk Kenangan terbaik,tak pernah terlupakan. Tak bisa panjang lebar namun hanya bisa berkata ''HEBAT !!! dan menjadi Sekolah Terbaik",


*Karang Turi akan tetap asri,tetaplah pelihara sosok yang baik hati itu,kebaikannya akan berkesan pada siapa saja,termasuk pada hati saya...

Komentar

Postingan Populer