Risalah Cinta


Hujan pada petang ini,

Titik - titik Air yang berurai bagaikan Perasaan dalam Hatinya,luluh tetes demi tetes setiap relungnya. Bergaung selalu sebuah tanya,

"Mengapa waktu baru mengantarku pada perasaan seperti ini saat ini ?",

Malang tiada bisa ditolak siapa pun dia,bahkan Hati adalah Muara pertemuan dari segala hal ini,Penyesalan,Kerisauan yang terjawab,Kegundahan yang berkesudahan,Kesedihan terasa di setiap luluhan perasaan di setiap relung hati, dan ,sebentar,kehampaan yang siap - siap membuat hidup tiada berdaya.

Namun,meski begitu,Masih ada keberuntungan,Yakni tetap masih ada kesempatan untuk menatap Paras di kala Rasa Rindu Melanda,tetapi dibalik itu akan ada peringatan yang terasa,Waktu tak akan bisa diputar ulang,Segala sesuatunya,mungkin,tak akan bisa terulang,Bahkan Cinta.

***
Sepucuk Surat ia temukan di M eja kamarnya. Ia buka dan baca. Perlahan Ia paham maksud dari rangkaian kalimat - kalimat ini.

Ia menerawang ke arah luar jendela. Rasa yang tersampaikan lewat selembar surat ini,namun,sayangnya,Jera masih terasa dalam Jiwa.

Belum sirna bekas bekas Kekalutan Jiwa dan Perasaan terombang ambing dalam Masalah yang kemarin melanda.

Ia menyibak jendela,Halaman seluas itu ternyata masih menyimpan rangkaian kenangan.

Canda tawa masih terasa gaungnya dibalik jera yang masih terasa. Ia berusaha tetap menguatkan jiwa.

Namun,hampir saja goyah juga,Satu teriakan panggilan tertangkap oleh telinganya. Pasti dia,

Ia tak dapatkan apapun ketika Batinnya menggerakkannya untuk kembali memeriksa halaman.

Sepi dan Sunyi suasana,bahkan hampa dalam jiwa. Ia berbalik.

"Zidan....",panggilan ini menguat terdengar bersama Angin yang menerpanya.

Ia kembali berbalik bagai kilat,namun sayangnya,tidak ada apa - apa. Tertinggal,jiwa tetap merana.

***




Memori Pada Pengayuh Gondola,

Masa memang tak bisa diputar ulang,namun mengenangnya dengan berada di tempat terjadinya akan sama memberikan kesan.

Gelombang Air kecil tercipta oleh hempasan halus Sampan. Pengayuh sampan telah siap. Kursi kecil memang terasa empuk dan nyaman,meski tak sama seperti sedia kala.

Langit terang benderang,Warna yang mulai memberi ketenangan. Sampan melaju perlahan tanpa menggoyahkan keanggunan.

Ia menikmati Pemandangan sejenak.Kanal yang bersambung dengan rumah - rumah berdiri kokoh. Namun,menyimpan kisah tersendiri di setiap lorongnya.

Jembatan - jembatan dengan nuansa Klasik yang menambah kesan. Rongga - rongganya tetap menjaga kisah setiap kali terlewati oleh siapa saja,bahkan kisah miliknya. 

Sang Pengayuh Gondola belum menampakkan kepayahan. Ia pun membentangkan selembar kertas. Ia mulai merangkai kata hingga kalimat. 
Kalimat tersarat satu pesan dan Perasaan.

Kisah tak mungkin lagi akan sama,namun perasaan yang sedikit masih terjaga akan tetap saja.Hanya saja,butuh sedikit masa untuk menyembuhkan jiwa.

Dan,sirna sudah Gundah,Sembuhlah kembali jiwa,Penyesalan ? Mungkin akan pudar terurai di atas putihnya kertas melalui setiap goresan tinta hingga menjadi sebuah Risalah,

Hati tak mungkin menolak,Jiwa mungkin bisa 
bergolak namun Cinta adalah Anugrah terindah yang akan mengatasi segalanya.

Ia percaya,Imannya pada Tuhan tentang Cinta,bahwa Cinta Ibarat Kalam - kalam Tuhan yang menenangkan Jiwa. Barang siapa ia tetap memeliharanya,maka dia akan tetap mendapatkan dan merasakan kedamaian Jiwa,

***

Kuntum - kuntum Penyejuk Jiwa,

Selembar Surat kemarin ternyata disertai dengan satu foto,Foto yang membangkitkan kenangan,Foto Ujung Sampan dengan Pemandangan Air biru bening dan tenang,
begitu jelas terasa,berhasil sampai tersampaikan padanya,benar - benar paham apa yang dimaksudkan.

"Mungkin arah boleh salah,kesialan bisa membuat kita tersesat,Namun Rasa yang telah dinyatakan dan pernah diungkapkan,beserta Hubungan yang pernah dijalinkan tidak akan menunjukkan pada Sebuah Kesalahan.

Badan bisa payah,akal mungkinbisa lengah,malangnya,Kekhilafan tidak akan bisa terelakkan,Namun Pemakluman dan Maaf akan menumbuhkan Harap,Harap akan Rasa yang masih terpelihara,Hati akan tetap tersingkap,dan Sambutan begitu hangat akan tetap didapatkan,

Alvira...",

Wewangian ini datang dari kuntum - kuntum bunga yang tertata rapi di sampingnya,Wangi ini membuat jiwa menjadi lega,
Akhirnya,Jelas terjadinya,dan Akhir sedih atau bahagia jelas ada di tangannya.

Udara murni bercampur wangi kuntum - kuntum ini jelas membuatnya lega,Semakin dalam menghirupnya semakin merindu akan wangi badan anggunnya.

Kuntum telah merekah,suasana jiwa telah berubah,tak perlu banyak masa rindu akan membuat banyak perhatian dan penantian tersita,

***

Bila rintik hujan mempersatukan,kembali,Rasa...

Seekor Burung Gereja hinggap di ranting pohon.Di situ telah menunggu Burung Gereja sejolinya. Keduanya menyatukan Paruhnya dan mematuk - matukkan paruh pelan. Keduanya menggetarkan Badannya untuk meluluhkan air - air hujan di sekujur bulu badannya. 

Tiada Perumpaan lain akan satu pertemuan,Namun,yakinlah setiap makhluk telah dikarunia Perasaan dan Cinta di setiap Jiwanya.

Titik - titik Air berbentuk embun halus berterbangan. Namun,dinding - dinding bisu ini tetap tak memperhatikan hawa dinginnya. Tak seperti dirinya,tanpa peduli bagaimana keadaannya,embun hujan ini tiada berarti baginya.

Tapi,demi pertemuan dan Cinta diabaikan segalanya. Hati dan Jiwa telah diatur dan dipersiapkan sebagai mestinya. 

Tentu Harapan yang menggebu sejadi - jadinya masih dibawah kendalinya,beserta debar jantung ketidak sabaran sebagai pertanda.

Waktu mungkin sudah terlalu lama berlalu,namun ia tetap juga enggan. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan,Karena Hati bukan ibarat Batu Karang.

Tidak ada yang perlu ditakutkan,Karena Perasaan tidak selaksana Api yang kapan pun bisa membakar jiwa.

Tidak ada yang perlu disesalkan,Karena Waktu tidak selalu mampu membuat setiap halnya jelek maupun Indah.

Tidak ada yang perlu diluapkan,meski setitik emosi pada akhirnya akan diluluhkan oleh Nuansa Wajah ini.

Mata bergetar menyampaikan keadaan hati dan Jiwa yang bergetar. Perasaan mulai merambat pada klimaksnya. Bukan menerka Bagai Menjawab Teka teki,Bukan Merana bagai sekejap membuat prasangka. Namun,harapan masih kuat dan terasa muskil untuk ditakwilkan.

Buaian tangan ini menjawab semuanya,akhirnya. Bagai kesejukan terasa setiap sela helai rambutnya. bersambung pada Senyum yang meluluhkan gejolak jiwa dan tatapan teduh terasa sama dengan dinginnya hawa.

Pertemuan ini,dan jembatan kokoh ini menjadi saksi. Bukan karena embun hujan ini kedua mata membasah. Haru bukan bagai rasa pilu menyelimuti hati bagai embun hujan jatuh dengan halusnya pada bumi ini menjadi Anti klimaks dan perwujudan harapan yang ia inginkan.

"Bersama dirimu selamanya,mempersatukan Jiwa,Cinta yang ternyata kau sampaikan pada risalah,Waktu biarkan melunturkan khilaf dan berlalu,
dan,pada tanganku dan tanganmu,ada hak untuk membuka lembaran baru...",
Genggaman tangan menyatu,Perasaan pun menyatu,dan Embun hujan dan segenap hawa ini menjadi Saksi Bisu...


Risalah Cinta,
Dunia Di Kala Fajar

Fajar Adi,




Komentar

Postingan Populer